Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts with label CGP. Show all posts
Showing posts with label CGP. Show all posts

Kumpulan Tugas Eksplorasi Konsep CGP

Pada Pendidikan Guru Penggerak Alur Eksplorasi Konsep, CGP di harapkan menunjukan pemahaman Tentang Materi, konsep-konsep materi yang menjadi topik.Sesi pembelajaran yang kedua ini terdiri dari 2 bagian yaitu eksplorasi konsep secara mandiri dan eksplorasi konsep melalui forum diskusi. Tugas Eksplorasi Konsep CGP

Tabel Kumpulan Tugas Eksplorasi Konsep CGP

No
Eksplorasi Konsep Modul
Link
1 Paradigma dan Visi Guru Penggerak
a. Modul 1.1 : Filosofi Ki Hajar Dewantara Link
b. Modul 1.2 : Nilai dan Peran Guru Penggerak Link
c. Modul 1.3. Visi-Misi CGP Link
d. Modul 1.4. Budaya Positif,Keyakinan Kelas dsb Link
2 Praktik Pembelajaran Yang Berpihak Pada Murid
a. Modul 2.1 : Filosofi Ki Hajar Dewantara Link
b. Modul 2.2 : Pembelajaran Berdiferensiasi yang Berpihak pada Murid Link
c. Modul 2.3. Coaching untuk Supervisi Akademik Link
3 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah
a. Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Link
b. Modul 3.2.Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Link
c. Modul 3.3.Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid, student Agency Link

Read More »
01 September | 0komentar

Tugas Ruang Kolaborasi Modul 1.1

Tradisi Nyadran


Hari ini, tanggal 1 September 2022 melaksanakan kegiatan ruang kolaborasi modul 1.1. kegiatan kali ini adalah presentasi tentang filosifi KHD yang berkaitan dengan sosio kultur di wilayah CGP. peserta CGP di ruang kolaborani ini adalah 10 orang dengan dua orang PP dan satu fasilitator sebagai narasumber. presentasi dari kelompok ini memberikan gambaran bahwa filosofi KHD yang berkaitan dengan sosio kultur. 
Pada kegiatan ini berupa diskusi dengan sesama CGP dalam menemukenali nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah asal yang relevan menjadi penguatan karakter murid sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat untuk menebalkan laku murid dan menuntun kekuatan kodrat murid yang dapat diimplementasikan pada konteks lokal (budaya) daerah asal Anda. 
Hasil kolaborasi dalam menemukenali nilai-nilai luhur kearifan budaya menjadi dasar pengetahuan dan pengalaman baru dalam merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.Pada kegiatan ini kita berdiskusi dengan 5 anggota kelompok untuk mengeksplorasi nilai-nilai luhur sosial budaya di daerah asal Anda dalam upaya menebalkan konteks diri (kekuatan kodrat) murid sebagai manusia dan anggota masyarakat. Indonesia memiliki keberagaman sosial budaya yang dapat menjadi kekuatan

Read More »
31 August | 0komentar

Kumpulan Tugas Jurnal Refleksi Dwimingguan CGP


Jurnal Refleksi dwimingguan ini merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh calon guru penggerak. Sebagai calon guru penggerak disini Penulis  akan merefleksi seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul Tugas Jurnal Refleksi Dwimingguan CGP

Tabel Tugas Jurnal Refleksi Dwimingguan CGP

No
Refleksi Dwimingguan Modul
Link
1 Paradigma dan Visi Guru Penggerak
a. Modul 1.1 : Filosofi Ki Hajar Dewantara Link
b. Modul 1.2 : Nilai dan Peran Guru Penggerak Link
c. Modul 1.3. Visi-Misi CGP Link
d. Modul 1.4. Budaya Positif,Keyakinan Kelas dsb Link
2 Praktik Pembelajaran Yang Berpihak Pada Murid
a. Modul 2.1 : Filosofi Ki Hajar Dewantara Link
b. Modul 2.2 : Pembelajaran Berdiferensiasi yang Berpihak pada Murid Link
c. Modul 2.3. Coaching untuk Supervisi Akademik Link
3 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah
a. Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Link
b. Modul 3.2.Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Link
c. Modul 3.3.Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid, student Agency Link

Read More »
31 August | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

Model 1 : Model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) Yang dikembangkan oleh Dr.Roger Greenaway. Refleksi ini menuliskan apa yang telah dilakukan selama satu minggu ini, hal apa yang menarik dan rencana selanjutnya yang akan dilakukan pada minggu selanjutnya. Jurnal refleksi ini menggunakan model 1 yaitu 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.
1. Facts (Peristiwa)
Yang saya rasakan pada minggu ke dua ini adalah minggu yang membahagiakan sekaligus menyedihkan.Membahagiakan karena meskipun banyak tugas yang harus saya kerjakan, dapat terselesaikan dengan tepat waktu dan saya senantiasa diberikan kesehatan oleh Alloh,Alhamdulillah… Jika pikiran diibaratkan sebuah gelas, berusaha saya kosongkan supaya saya bisa menerima ilmu yang saya pelajari dari PGP ini. 
Saya berupaya akan adanya perubahan sebagai guru sebelum dan sesudah mengikuti PGP karena tugas sebagai Guru Penggerak sangatlah luar biasa yaitu untuk mengimplementasikan Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid.Adapun hal yang menyedihkan adalah pada minggu ini merupakan vicon terakhir kami dengan Fasilitator kami yaitu Sulastri yang selama kami menjalani program guru penggerak selalu sabar dan juga telaten membimbing kami dalam mengerjakan tugas-tugas di LMS. Meskipun kami belum pernah bertemu dengan beliaunya secara langsung, akan tetapi kedekatan rasa persaudaraan antara Fasilitator dan semua CGP di kelas kami terasa mendalam. Semoga suatu saat nanti kami para CGP dari Kabupaten Purbalingga terutama kelas 118 dipertemukan dengan beliaunya secara langsung dalam keadaan sehat walafiat, Amin.
2. Feelings (Perasaan)
Yang saya rasakan pada minggu ke dua ini adalah minggu yang membahagiakan sekaligus menyedihkan.Membahagiakan karena meskipun banyak tugas yang harus saya kerjakan, dapat terselesaikan dengan tepat waktu dan saya senantiasa diberikan kesehatan oleh Alloh,Alhamdulillah… Jika pikiran diibaratkan sebuah gelas, berusaha saya kosongkan supaya saya bisa menerima ilmu yang saya pelajari dari PGP ini. Saya berupaya akan adanya perubahan sebagai guru sebelum dan sesudah mengikuti PGP karena tugas sebagai Guru Penggerak sangatlah luar biasa yaitu untuk mengimplementasikan Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid.
Adapun hal yang menyedihkan adalah pada minggu ini merupakan vicon terakhir kami dengan Fasilitator kami yaitu Sulastri yang selama kami menjalani program guru penggerak selalu sabar dan juga telaten membimbing kami dalam mengerjakan tugas-tugas di LMS. Meskipun kami belum pernah bertemu dengan beliaunya secara langsung, akan tetapi kedekatan rasa persaudaraan antara Fasilitator dan semua CGP di kelas kami terasa mendalam. Semoga suatu saat nanti kami para CGP dari Kabupaten Purbalingga terutama kelas 118 dipertemukan dengan beliaunya secara langsung dalam keadaan sehat walafiat, Amin.
3. Findings (Pembelajaran)
Modul 3.3 ini menambah pemahaman saya dan CGP lain bahwa sebuah program yang dirancang dan dibuat perlu termuat contents voice/suara, choice/pilihan dan ownership/kepemilikan murid. Step yang dilakukan dalam membuat program yang berdampak pada murid adalah dengan maping asset/ strengthness / potensi yang dimiliki oleh sekolah dengan tepat. Maping asset yang tepat akan memudahkan optimalisasi program berjalan dengan lancar tentunya membantu meminimalisir kendala. Optimalisasi asset yang benar tentunya memudahakan dalam mewujutkan visi-dan misi sekolah. Modul ini juga menambah wawasan kami CGP untuk mengelola sebuah program yang berdampak pada murid dengan strategi MELR( monitoring, evaluation, learning and reporting). 
Selain dari itu kami juga di ajarkan pentingnya mengkaji SWOT (strengths, weakness, opportunities, threats) pada rencana program yang dibuat. Analisis SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) ini pun bermamfaat untuk meminimalisir resiko dalam menjalankan program yang berdampak pada murid di SMKN 1 Bukateja. 
Pembelajaran modul 3.3 ini merupakan point yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin dalam pembelajaran dalam rangka lebih berkreasi dan berinovasi serta bersinergi untuk mengembangkan asset yang ada di sekolah. Program yang terkelola dengan baik akan berdampak pada merdeka belajar dan tentunya akan melahirkan murid yang berprofil pelajar Pancasila.
4 Future (Penerapan)
Rancana kedepan dengan materi yang sudah didapat sebagai CGP akan sharing dengan rekan sejawat dan mengimplementasikan yang saya dapat di sekolah. Dalam menyusun sebuah program yang dirancang tentunya perlu termuat contents voice/suara, choice/pilihan dan ownership/kepemilikan murid. Jika ada kendala yang didapat kami CGP sudah tahu bagaimana meminimalisir resiko yang didapat.

Read More »
30 August | 0komentar

Mulai Dari Diri Modul 3.3

"Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak"-Nadiem Makarim-

Mulai dari diri pada modul 3.3 ini berkaitan dengan tema besar bahwa pembelajaran yang berdampak pada peserta didik (student Agency). Pada pembelajaran ini dimulai dengan pertanyaan Pertanyaan Pemantik sebagai berikut: 
 Apa yang dimaksud dengan program yang berdampak pada murid? 
Bagaimana kaitan antara program yang berdampak pada murid dengan kepemimpinan murid (student agency)? 

 Jawaban:
 Program yang berdampak pada murid yaitu rancangan atau perencanaan satu unit atau kesatuan kegiatan yang berkesinambungan dalam proses pembelajaran, yang memiliki tujuan, dan melibatkan sekelompok orang (guru dan murid) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sehingga memberikan pengalaman bermakna bagai murid dan memberikan bekal untuk mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. 
Kaitan antara program yang berdampak pada murid dengan kepemimpinan murid (student agency adalah bahwa program yang berdampak pada murid akan mendorong student agency (kepemimpinan murid). Program-program sekolah memungkinkan murid untuk belajar menjadi individu yang lebih bertanggung jawab, berdaya, dan kontributif. Pengalaman dan kebermaknaan yang mereka dapatkan dari proses belajar mereka dalam program-program sekolah tersebut sesungguhnya akan memberikan bekal untuk mereka menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat. Dampak positif dari proses belajar yang dilalui oleh murid-murid kita saat ini tentunya akan dapat terus dirasakan oleh mereka di sepanjang hidupnya. 
Kita dulu, pernah mengikuti berbagai program/kegiatan di sekolah. Program/kegiatan itu dapat berupa program/kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Program/kegiatan intrakurikuler merupakan merupakan program/kegiatan utama sekolah yang dilakukan dengan menggunakan alokasi waktu yang telah ditentukan dalam struktur program sekolah. Program/Kegiatan ini dilakukan oleh guru dan murid dalam jam pelajaran setiap hari dan ditujukan untuk mencapai tujuan minimal dari setiap mata pelajaran dalam kurikulum. 
Sementara itu, program/kegiatan kokurikuler merupakan program/kegiatan yang dilaksanakan sebagai penguatan atau pendalaman kegiatan intrakurikuler. Program/kegiatan ini meliputi kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan budaya, dan/atau bentuk kegiatan lain yang dapat menguatkan karakter murid. 
Sedangkan program/kegiatan ekstrakurikuler adalah program/kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan sekolah, dan diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian murid. 


Sekarang kami ingin Ibu/Bapak mengingat kembali dan melakukan refleksi terhadap pengalaman Ibu/Bapak yang paling berkesan saat terlibat dalam berbagai program/kegiatan sekolah semasa menjadi murid. Refleksi dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini: 
  1. Apa kegiatan/programnya? 
  2. Siapa yang memprakarsai atau menggagas program tersebut? 
  3. Berperan sebagai apa Ibu/Bapak saat itu? 
  4. Bagaimana perasaan Ibu/Bapak saat itu? 
  5. Mengapa pengalaman tersebut berkesan untuk Ibu/Bapak? 
  6. Apa pembelajaran yang Ibu/Bapak ambil dari kegiatan/ program tersebut? 
  7. Bagaimana pengalaman tersebut berdampak pada Ibu/Bapak sekarang? 
  8. Apakah berdampak positif atau negatif? 
Jawaban: 
1. Kegiatan yang paling berkesan saat terlibat menjadi murid adalah kegiatan pramuka di SD, kegiatan yang dilakukan menumbuhkan kemandirian, masak,mencuci sendiri, bertahan hidup/ ditenda yang sewaktu SD menjadi hal pengalaman yang sangat membekas, tidak terlupakan.
2. Siapa yang memprakarsai atau menggagas program tersebut? 
Kegiatan pramuka diselenggarakan oleh gugus kecamatan dalam rangka jambore tingkat kecamatan. 
3. Saat itu saya berperan sebagai Sebagai murid yang mengikuti jambore tingkat kecamatan. Ditunjuk sebagai komandan regu. Regu Kancil. 
4. Perasaan saat itu Saya senang dan tertantang untuk memimpin teman-teman dalam satu kelompok. mengatur pembagian peran untuk jaga kemah, mengikuti kegiatan dan perlombaan.
5. Pengalaman tersebut berkesan karena Saya senang mengikutinya, banyak pengalaman di dapatkan, banyak teman didapatkan, kegiatannya sangat asyik, dan saya punya pengalaman tersendiri pada kegiatan tersebut. Saat itu saya belum tahu manfaatnya yang terbayang hanya susahnya saja, sehingga sempat ada penolakan dalam diri saya. 
6. Pembelajaran yang saya ambil dari kegiatan tersebut Melakukan kegiatan perkemaha memberikan pengalaman bermakna bagi murid. Usaha tidak menghianati hasil. Hasil yang memuaskan diperoleh dari usaha yang optimal. Ilmu bisa didapatkan dari pengalaman berkegiatan. Ilmu yang didapatkan melalui pengalamana tersendiri masih terasa hingga kini. Jangan hanya membayangkan susahnya saja. Kalau mendapatkan suatu amanah, maka jalani -- nikmati -- dan syukuri maka semuanya akan terasa mudah dan memberikan keberkahan tersendiri Lakukan yang terbaik lalu ikuti kata hati 
7. Pengalaman-pengalaman tersebut berdampak positif pada saya sehingga sekarang  mengambil pembelajaran dari hasil pembelajaran sebelumnya untuk dilakukan perbaikan. 
Ketika diberikan amanah sekarang saya berprinsip terima aja dulu, sambil pelajari, insyaAlloh Alloh memberikan amanah karena kita sanggup menjalaninya. 


Yang Diharapkan Dipelajari Setelah melakukan refleksi dan kemudian membaca judul modul ini, apa yang tergambar di benak Ibu/Bapak? 
Apa yang Ibu/Bapak harapkan dapat dipelajari pada modul ini? 
Setelah melakukan refleksi dan kemudian membaca judul modul ini, yang tergambar di benak saya adalah guru memfasilitasi pembelajaran yang membawa pada kepemimpinann murid. 
Yang saya harapkan dapat dipelajari pada modul ini yaitu kepemimpinan murid dan bagaimana menumbuhkembangkannya

Read More »
29 August | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.2

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.2 
PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Oleh Sarastiana,SPd CGP Angkatan 6 
Kab. Purbalingga

Materi dan kegiatan pada modul ini mengajarkan bagaimana mengelola kekuatan dan aset yang dimiliki sekolah untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid. Refleksi Modul 3.2 menggunakan model 4F (Facts, Feeling, Finding, Future).
1. Facts (Peristiwa)
Senin, 13 Februari 2023 - Mulai dari diri dan Ekplorasi konsep mandiri dimulai dengan mengingat kembali faktor-faktor yang memengaruhi ekosistem sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. CGP diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang bertujuan untuk mengaktifkan ulang pengetahuan awal Anda tentang ekosistem sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sekolah. Disamping itu CGP juga diminta mengisi 11 komentar pada kegiatan ekplorasi konsep – forum diskusi. Kamis, 16 Februari 2023 adalah jadwal Ekplorasi konsep - forum diskusi. 
Di menu ini CGP diminta untuk melihat ulang jawaban dari pertanyaan pemantik sebelumnya. Selanjutnya CGP diminta menjawab pertanyaan yang disajikan. CGP diminta untuk menanggapi 2 studi kasus dengan cara menghubungkan dengan materi pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis aset, serta Pengembangan Komunitas Berbasis Aset. Jumat, 17 Februari 2023 
Ruang Kolaborasi pertama. 
Setelah sebelumya kami diminta untuk berbagi dalam kelompok. kelompok tersebut terdiri atas 3-4 anggota. Masing-masing kelompok terdiri atas guru dengan jenjang yang berbeda namun berasal dari daerah yang sama atau berdekatan. Selanjutnya kami menentukan daerah sesuai dengan kondisi lingkungan yang serupa pada masing-masing peserta CGP. Dari masing-masing sumber daya tersebut, setiap kelompok akan membuat identifikasi aset/modal apa yang dimiliki oleh daerahnya dan menuliskan apa atau bagaimana pemanfataannya untuk dipresentasikan pada keesokan harinya. Selasa, 21 Februari 2023 adalah jadwal ruang kolaborasi babak kedua. 
Disini kami mempresentasikan hasil diskusi tentang aset yang ada didaerah kami secara bergantian. CGP dari kelompok lain menanggapi dengan memberian saran atau bertanya untuk memperbaiki hasil diskusi yang sudah dipresentasikan. Kegitan ditutup dengan mengunggah hasil diskusi ke LMS. Hari Selasa, 21 Februari 2023 saatnya Demonstrasi Kontekstual. Dalam sesi ini kami diminta untuk menganalisis tentang visi dan prakarsa perubahan dari tayangan video praktik baik yang disajikan. Identifikasii yang CGP lakukan disajikan dalam kegiatan- kegiatan yang berhubungan dengan masing-masing tahapan B - A - G - J - A dari tayangan video yang ada. 
Dari tayangan video tersebut akhirnya CGP dapat mengidentifikasi peran pemimpin pembelajaran yang ada dalam video. 
Hari Kamis, 23 Februari 2023 saatnya berjumpa dengan instruktur dalam Elaborasi Pemahaman. Selama kurang lebih dua setengah jam, Mendapatkan materi dan penjelasan lebih dari instruktur untuk menambah pemahaman saya mengenai Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Sungguh pengalaman yang luar biasa. 
Hari Jumat, 24 Februari 2023 adalah jadwalnya Koneksi Antar Materi. Dalam koneksi antar materi ini saya diminta membuat kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Di koneksi antar materi ini saya juga diminta pengkaitkan hubungan materi pada modul 3.2. dengan modul – modul sebelumnya. 
Hari Senin, 27 Februari 2023 saatnya aksi nyata. Disini saya diminta untuk mengidentifikasi secara kolaboratif bersama warga sekolah lainnya tentang aset/kekuatan/sumber daya yang dimiliki sekolah. Dengan melampirkan beberapa dokumen seperti: notulen pertemuan (mencakup siapa yang berbicara dan ide yang disampaikan, berikut kesimpulan pertemuan), foto proses pertemuan hasil pemetaan aset.
2. FEELING (PERASAAN)
Setelah saya mempelajari modul 3.2. ini saya merasa senang karena menjadi orang yang beruntung dan bisa bergabung dalam komunitas yang seindah ini. Karena melalui kegiatan ini saya jadi tahu bagaimana menjadi pemimpin yang mampu mengelola Sumber Daya yang ada di sekolah. Hal ini ridak hanya berguna bagi saya, namun berguna juga bagi murid, teman sejawat, kepala sekolah dan orang – orang di sekitar saya.
3. FINDING (PEMBELAJARAN)
Banyak hal – hal positif yang saya temukan dan pelajari dalam proses mengikuti pendidikan CGP utamanya di modul 3.2 ini. Karena di modul ini saya belajar apa itu sekolah sebagai sebuah ekosistem, pendekatan berbasis kekurangan dan kelebihan, pendekatan ABCD, mengetahui karakteristik komunitas yang sehat, dan bagaimana mengelola aset – aset dalam sebuah komunitas. Dari beberapa materi ini saya belajar bagaimana mengelola kekuatan atau aset yang dimiliki sebuah komunitas dalam satu ekosistem yang mampu memberdayakan komunitas itu sendiri.
4. FUTURE (PENERAPAN)
Setelah Setelah mempelajari keterampilan Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, kedepannya saya akan mencoba menerapkan dalam situasi nyata yang saya temukan saat saya menjalankan tugas sebagai pendidik. Bukan hanya untuk saya tapi saya akan menularkannya pada murid, teman sejawat, kepala sekolah dan orang – orang disekitar saya. Selanjutnya setelah saya mampu menerapkannya dalam situasi nyata saya akan melakukan refleksi dan kolaborasi untuk terus meningkatkan keterampilan saya dalam mengelola sumber daya yang dimiliki komunitas meskipun saat ini saya belum menjadi pemimpin komunita stersebut. 
Demikian refleksi dari perasaan saya selama mempelajari modul 3.2 yang coba saya ungkapkan dalam jurnal ini. Semoga jurnal ini dapat mengispirasi dan dapat memberikan manfaat orang lain. Terakhir saya minta maaf apabila dalam penulisan jurnal ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan.

Read More »
29 August | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.1


REFLEKSI MODUL 3.1 Refleksi minggu ini saya akan menuliskan apa yang telah saya lakukan dan saya alami selama satu minggu , apa yang menarik buat saya kemudian rencana selanjutnya yang akan saya lakukan dalam minggu selanjutnya jurnal refleksi minggu ini saya menggunakan model I yaitu 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) atau 4P yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.
1. Facts (Peristiwa)
Alhamdulillah minggu ini masih diberikan kesehatan sehingga masih bisa mengikuti pendidikan Guru penggerak.Hari Senin dan Selasa 1 Februari 2023 adalah tahap alur mulai dari diri, eksplorasi konsep di LMS. Rabu 6 dan 7 bersama teman CGP melaksanakan diskusi ruang kolaborasi. Pendampingan Individu ke 4 dilaksanakan pada Sabtu, 24 Februari 2023 dengan agenda praktik pembelajaran KSE. Sebelumnya melakukan Demontrasi kontekstual dilaksanakan pada 20 Februari dengan kegiatan mewawancarai Kepala Sekolah dan SPMI untuk merefleksi langkah pengambilan keputusan. Sesi Elaborasi dan Koneksi antar materi dilaksanakan Hari Jumat 10 Februari 2023, bersama instruktur Wahyu Ekawati,MPd.
2. Perasaan
Yang saya rasakan ketika saya melalui dua minggu ini adalah merasa tertantang untuk terus bersemangat mempelajari modul 3.1. Tantangan ketika mengerjakan tugas demonstrasi Kontekstual begitu tinggi ketika harus mempraktikkan wawancara dengan kepala sekolah. . Alhamdilillah karena teman teman yang sangat solid dalam berkolaborasi di ruang kolaborasi maka kegiatan terlaksana dengan lancar dan bisa mengunggah tugas sebelum due date.
3. Pembelajaran
Di minggu ini banyak sekali pembelajaran yang dapat saya ambil untuk modul 3.1 diantaranya adalah sebagai berikut: Secara umum ada POLA, MODEL, ATAU PARADIGMA yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: 
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community) 
Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. 
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. 
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain 
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) 
Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. 

PRINSIP BERPIKIR PENYELESAIAN DILEMMA ETIKA 
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) Suatu pengambilan keputusan, walaupun telah berlandaskan pada suatu prinsip atau nilai-nilai tertentu, tetap akan memiliki konsekuensi yang mengikutinya. Pada akhirnya kita perlu mengingat kembali hendaknya setiap keputusan yang kita ambil didasarkan pada rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal, serta berpihak pada murid. 

PENGAMBILAN PENGUJIAN KEPUTUSAN 
Terdapat 9 langkah yang harus dilakukan untuk pengambilan keputusan dan pengujian keputusan 
1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan 
2. menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini 
3. mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini 
4. pengujian benar dan salah 
  • uji legal adalah apakah ada pelanggaran hukum dalam situasi tersebut 
  • uji regulasi atau standar profesional adakah pelanggaran kode etik atau peraturan etik di dalam situasi ini 
  • uji intuisi yaitu mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi kita dalam merasakan apakah ada yang salah dalam situasi ini 
  • uji publikasi yaitu apakah yang akan kita rasakan jika keputusan ini di publikasikan 
  • uji panutan atau idola yaitu kita membayangkan apa yang dilakukan oleh seseorang yang kita idolakan 

Dari ketiga prinsip pengujian ada yang memiliki korelasi dalam prinsip pengambilan keputusan yaitu :
  •  uji intuisi berhubungan erat dengan berpikir berbasis peraturan yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam 
  • uji publikasi sebaliknya berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir yang mementingkan hasil akhir 
  • uji panutan atau idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta kita untuk meletakkan diri kita pada posisi orang lain 
5. Pengujian paradigma benar lawan salah 
  • Paradigma benar dan salah terdiri dari 
  • Individu lawan kelompok 
  • Rasa keadilan lawan rasa kasihan 
  • Kebenaran lawan kesetiaan 
  • Jangka pendek lawan jangka panjang 

6. Melakukan prinsip resolusi 
Yaitu menggunakan 3 prinsip penyelesaian dilema mana yang harus kita pakai apakah berpikir berbasis hasil ataukah, berpikir berbasis peraturan, ataukah berpikir berbasis rasa peduli. 
7. Investigasi opsi trilema dalam pengambilan keputusan seringkali ada dua pilihan yang sudah kita pilih namun terkadang kita juga memerlukan opsi lain di luar dua pilihan tersebut kita bertanya pada diri kita apakah ada cara yang berkompromi dalam situasi ini sehingga memunculkan pilihan baru itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema 
8. Buat keputusan 
9. Melihat lagi apakah keputusan itu sudah benar dan merefleksikannya
4. Penerapan ke depan ( Rencana)
Penerapan kedepan adalah saya akan memperdalam cara cara pengambilan keputusan yang bertanggung jawab berdasarkan nilai nilaikebajikan universal berdasarkan 4 pradigma 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan.

Read More »
28 August | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 2.3 : Coaching



Pada modul 2.3 ini, saya merefleksikan hasil dari kegiatan yang saya ikuti di LMS ini dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi dwi minggu ini membahas materi pada Modul 2.3 tentang Coaching. Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media yang mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan. Model refleksi yang saya pakai adalah Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) Kali ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan dimulai dari modul 2.3 sampai post tes modul 2.
1. Facts (Peristiwa)
Di minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali mulai dari 2.3 mulai dari diri diana saya membuat blog yang berisikan jawaban dari pertanyaan pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang supervise di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep, modul 2,3,a,4,1 yang membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara, selanjutnya masuk ke modul 2.3.a.4.2 tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. Selanjutnya di modul 2.3.a.4.3 di Bahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching. Alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, selain itu, modul ini juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching untuk melakukan refleksi, coaching untuk memecahkan masalah dan coaching melakukan kalibrasi. Diforum diskusi eksplorasi kami saling melakukan pemantapan pemahaman dengan berdiskusi antar CGP. Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi saya berpasangan dengan Bu Carolina melakukakn sebuah percakapan coaching untuk benar-benar memberikan pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesama CGP, dan hasil percakapan divideokan dan diunggah sebagai salah satu tagihan dari LMS, kemudian pada modul 2.3.a.6 demonstrasi kontekstual, kami dikelompokkan dengan beranggotakan 3 orang (Bu Carolina, saya, dan Bu Helmi, kami membuat video percakapan dengan 1 CGP menjadi observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee, kami melakukan secara bergiliran, kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang bagaimana seharusnya menjadi observer, apa yang perlu diperhatikan pada saat pra observasi, saat observasi dan pasca observasi. Selanjutnya saya belajar modul 2.3.a.7 yaitu elaborasi pemahaman bersama Ibu Mulida membahas tentang coaching dan supervisi akademik lebih dalam lagi. Dan kemudian saya membuat koneksi antar materi modul 2.3, dengan memberikan refleksi saya denga napa yang saya dapati dan bagaimana denganrencana dan Langkah ke depannya yang akan saya lakukan, selanjutnya yaitu membuat rancangan aksi nyata yang berkaitan dengan supervise akademik yang dilakukan dengan teman sejawat, dan pada hari jumat, 7 oktober saya melakukan test akhir modul 2.
2. Feelings (Perasaan)
Saya antusias dan sangat semangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya menjadi begitu penasaran di awalnya bagaimana menjadi coach yang baik, dan kemudian merasa senang sekali karena semuanya terjawab di modul ini ditambah dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul 2. Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik.
3. Findings (Pembelajaran)
Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. memberi saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coaching yang baik dan bagaimana melakukan supervise akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat, ada fase ini saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Modul 2:yang pernah saya dapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervise akademik, di modul ini juga saya mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantunya mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat.
4. Future (Penerapan)
Sebagai seorang guru, saya tentunya sering menjumpai banyak permasalahan di lapangan yang terkait dengan potensi para murid dan mungkin rekan sejawat. permasalahan tersebut seringkali menjadi salah satu penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan mereka bisa saja tidak sadar akan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya saya berharap praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehingga semua mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain.

Read More »
27 August | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 2.2 : Kompetensi Sosial dan Emosional

Sharing pengalaman pada jurnal refleksi dwi mingguan modul 2.2 yaitu tentang Pembelajaran Sosial Emosional dengan model refleksi 4F (Fact, Feeling, Finding, Future) konsep dari Robert Greenaway. Model ini lalu diadaptasi kedalam bahasa Indonesia menjadi 4P yaitu: Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Sehingga, kemudian yang kami jadikan pertanyaan pemantik dalam membuat refleksi ini adalah : 
1. Apa yang kami (CGP) lihat dalam proses tersebut? (Peristiwa) 
2. Apa yang kami (CGP) rasakan sehubungan dengan proses yang Anda alami? (Perasaan) 
3. Apa hal yang bermanfaat dari proses tersebut? (Pembelajaran) 
4. Apa umpan balik yang kami (CGP) dapatkan? (Pembelajaran) 
5. Apa yang ingin kami (CGP) perbaiki atau tingkatkan, agar ini berdampak lebih luas? (Penerapan)
   
1. Facts (Peristiwa)
Alhamdulillahirabbil 'aalamiin saya ucapkan terimakasih kepada Allah SWT karena atas karunia-Nya saya telah dapat menyelesaikan dan mempelajari modul 2.2 dengan bantuan Ibu Sulastri sebagai fasilitator saya dan Bp. Muh. syaefudin sebagai Pengajar Praktiknya. Sesuai tahapan MERDEKA yang dilaksanakan, pembelajaran Modul 2.2 ini dimulai dengan mulai dari diri, kami disuguhi materi dan video yang ada di LMS serta diberikan beberapa pertanyaan tentang pengalaman yang pernah kami alami yang berhubungan dengan tugas kami sebagai pendidik yang berkaitan dengan sosial dan emosional. Bagaimana kami mengahadapi krisis tersebut, bagaimana kami bisa bangkit dari krisis tersebut, serta apa yang kami pelajari dari krisis tersebut. 
Kemudian paparan dengan eksplorasi konsep yang berisi materi-materi tentang Kompetensi Sosial Emosional, Pembelajarannya serta Implementasinya di sekolah. Selain itu juga diselingi dengan tugas-tugas yang berisi refleksi dari tiap-tiap materi yang telah kami pelajari. Dengan mempelajari Pembelajaran Sosial Emosional ini diharapkan agar : 
1. Kami dapat menjelaskan urgensi Pembelajaran Sosial dan Emosional untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. 
2. Dapat menjelaskan konsep Pembelajaran Sosial dan Emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 
3. Dapat mendemonstrasikan pemahaman tentang konsep kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar pengembangan 5 kompetensi sosial emosional (KSE). 
4. Dapat menjelaskan bagaimana implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas dan sekolah melalui 4 indikator, yaitu: pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan pembelajaran sosial emosional pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah. 
Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Pembelajaran Sosial dan Emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran Sosial Emosional ini dapat diimplementasikan di kelas atau sekolah dengan 4 indikator yaitu, pembelajaran eksplisit, integrasi dalam pembelajaran guru dan kuirkulum akademik, melalui proses menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah, serta penguatan KSE Tenaga pendidik dan Tenaga Kependidikan. Untuk menambah pemahaman kami dalam mendalami modul tentang pembelajaran berdifernsiasi, kami juga melakukan tatap maya dengan fasilitator dalam ruang kolaborasi yang terbagi atas 2 sesi, yaitu sesi diskusi dan sesi presentasi. Pada hari selasa tanggal 28 Februari 2023, Bapak Muhtarom, M.Pd selaku fasilitator kami memberikan pemantapan tentang modul pembelajaran sosial emosional yang kemudian kami diminta untuk melakukan diskusi dengan menaganalisis tentang implementasi KSE. Pada hari berikutnya, 18 Nov 22 kami melakukan presentasi hasil dari diskusi kelompok yang sudah kami kerjakan.
2. Feeling (perasaan)
Selama kurang lebih dua minggu mempelajari modul 2.2 ini, banyak sekali hal yang dirasakan. senang, sedih, bahagia, semua bercampur aduk dengan keinginan dan tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikan Program Guru. Banyak sekali perasaan yang timbul dari diri saya, seperti perasaan senang, karena bertambah lagi ilmu saya terutama bagaimana tentang bagaimana saya mampu mengenali emosi yang sedang saya rasan serta bagaimana saya mampu mengelola emosi tersebut agar tidak melakukan tindakan yang mungkin akan berdampak negatif bagi murid saya. Karena ketidakmampuan saya mengelola emosi tersebut, murid saya yang akan menerima akibatnya. Selama ini saya merasa, apapun perasaan yang sedang saya rasakan itu tidak akan mempengaruhi diri saya ataupun orang lain dalam pelaksanaan tugas saya sebagai guru. 
Selain itu, perasaan cemas juga sedikit mengahampiri saya setelah mempelajari modul ini, saya cemas jika saya tidak mampu memahami perasaan murid saya. Dan perasaan yang sedang dialami mereka tentunya akan berpengaruh terhadap proses melaksanakan dan menerima pelajaran. Saya tidak ingin, ketidakmampuan saya memahami perasaan mereka, akan mengurangi kualitas hasil dari pembelajaran yang telah dilaksanakan. Sebenarnya sebelum mempelajari modul 2.2 rata-rata CGP sudah menerapkan pembelajaran Sosial Emosional di sekolahnya masing-masing, namun memang belum spesifik dan belum mengerti istilah pembelajaran sosial emosional, dan bagaimana mengatur pembelajaran sosial emosional tersebut dengan baik. Banyak ilmu Pengetahuan yang saya dapatkan selama menjalani proses ini, bagaimana menjadi guru yang seharusnya dapat memanjemen sosial emosional, bagaimana menerapkan pembelajaran sosial emosional di sekolah.
3. Finding (pembelajaran)
Dalam modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional banyak ilmu baru yang bisa saya dapatkan. Dari modul ini saya mendapatkan pelajaran bahwa mengenali emosi diri sebelum melakukan setiap tindakan itu harus, agar tindakan tersebut tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Selain mengenali emosi diri, kita juga dituntut untuk mampu mengelola emosi tersebut agar kita kembali ke keadaan semula yaitu dalam keadaan yang bahagia. Selain itu, banyak lagi ilmu yang saya dapatkan di modul ini seperti kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Semua materi tersebut bertujuan untuk menciptakan hubungan yang baik dan positif dengan sesama rekan kerja, dengan murid maupun dengan masyarakat disekitar kita. 
Beberapa kesimpulan dalam mempelajari modul ini antara lain: Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai 5 Kompetensi Sosial dan Emosional. 5 Kompetensi Sosial Emosianal diantaranya sebagai berikut : 
1. Kesadaran Diri (Self Awareness), 
2. Pengelolaan Diri (Self Management), 
3. Kesadaran Sosial (Social Awareness), 
4. Kemampuan Berinteraksi Sosial (Relationship Skills), 
5. Pengambilan Keputusan Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making). 
Kompetensi sosial emosional ini juga dapat diterapkan di kelas maupun disekolah. Penerapan PSE di kelas bisa dilakukan dengan pembelajaran secara eksplisit maupun terintegrasi dalam proses belajar guru dan kurikulum akademik. Juga dapat dilakukan dengan membentuk iklim kelas dan budaya sekolah serta dengan melakukan penguatan pada Tenaga pendidik maupun tenaga kepedidikan. Implementasi PSE dengan pengajaran eksplisit memastikan murid memiliki kesempatan yang konsisten untuk menumbuhkan, melatih, dan berefleksi tentang kompetensi sosial dan emosional dengan cara yang sesuai dan terbuka dengan keragaman budaya. Pengajaran eksplisit KSE dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. 
Pendidik dapat menggunakan berbagai proyek, acara atau kegiatan sekolah yang rutin untuk mengajarkan kompetensi sosial dan emosional secara eksplisit. Untuk mengintegrasikan KSE dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik, tujuan Kompetensi Sosial Emosional dapat diintegrasikan ke dalam konten pembelajaran dan strategi pembelajaran pada materi akademik, serta musik, seni, dan pendidikan jasmani. Indikator ketiga dalam implementasi pembelajaran sosial dan emosional adalah menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah. Lingkungan yang memprioritaskan kualitas relasi antara guru dan murid adalah salah satu indikator utama dalam penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah. 


Kualitas relasi guru dan murid yang tercermin dalam sikap saling percaya akan berdampak pada ketertarikan dan keterlibatan murid dalam pembelajaran. Sikap saling percaya akan menumbuhkan perasaan aman dan nyaman bagi murid dalam mengekspresikan dirinya. murid-murid akan lebih berani bertanya, mencari tahu, berpendapat, mencoba, berkolaborasi sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dirinya secara lebih optimal. Selain kualitas relasi guru dan murid, lingkungan kelas yang aman dan positif juga dapat diciptakan melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang dapat merangkul keberagaman dan perbedaan, melibatkan murid, dan menumbuhkan optimisme. Adapun tujuan utama PSE itu sendiri adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal.
4. Future (penerapan)
Dari pendalaman materi PSE pada modul 2.2 ini saya berencana untuk menerapkannya terlebih dahulu dalam lingkup kelas saya disekolah seperti melakukan Bernafas dengan kesadaran penuh sebelum memulai pembelajaran dengan teknik STOP, kemudian juga mengintegrasikan kompetensi tersebut dalam pembelajaran saya seperti menerapkan kompetensi kesadaran sosial dalam kegiatan diskusi di kelas, kemudian menerapkan keterampilan berelasi pada saat melakukan refleksi ataupun memberikan umpan balik terhadap hasil kerja teman maupun penjelasan guru dengan menggunakan kata-kata yang positif dan mudah dimengerti. Inilah sedikit hasil refleksi dwi mingguan saya pada modul 2.2 tentang pembelajaran sosial dan emosional pendidikan guru penggerak angkatan 6 Kab. Purbalingga

Read More »
26 August | 0komentar

Kumpulan Tugas Mulai dari Diri Guru Penggerak

Program pendidikan ini merupakan wujud komitmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berkolaborasi dengan berbagai pihak pemangku kepentingan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi murid-murid Indonesia. Melalui individu-individu yang proaktif dan memiliki kepedulian terhadap kemajuan dan mutu pendidikan di Indonesia, maka dibentuklah program pendidikan guru penggerak. 
Guru Penggerak menggali lebih dalam tentang jati diri, mengasah berbagai keterampilan manajemen sekolah serta memperkaya dan menunjang sumber daya manusia yang berkualitas dan mumpuni. Semua kegiatan ini akan dilakukan melalui pelatihan daring (dalam jaringan) maupun tatap muka dengan pemodelan pelatihan yang sudah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik/pelatihan. Semoga hal yang telah saya lalui dapat membantu Bapak/Ibu semua.


Download Mulai Dari Diri CGP

Tabel Mulai Dari Diri CGP

No
Mulai Dari Diri Modul
Link
1 Paradigma dan Visi Guru Penggerak
a. Modul 1.1 : Filosofi Ki Hajar Dewantara Link
b. Modul 1.2 : Nilai dan Peran Guru Penggerak Link
c. Modul 1.3. Visi-Misi CGP Link
d. Modul 1.4. Budaya Positif,Keyakinan Kelas dsb Link
2 Praktik Pembelajaran Yang Berpihak Pada Murid
a. Modul 2.1 : Filosofi Ki Hajar Dewantara Link
b. Modul 2.2 : Pembelajaran Berdiferensiasi yang Berpihak pada Murid Link
c. Modul 2.3. Coaching untuk Supervisi Akademik Link
3 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah
a. Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Link
b. Modul 3.2.Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Link
c. Modul 3.3.Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid, student Agency Link

Read More »
25 August | 0komentar

Jurnal Refleki Dwimingguan Modul 2.1 : Pembelajaran Berdiferensiasi

Konsisten dengan model 4F dalam membuat Jurnal Refleksi Dwi mingguan yaitu: 
1. Fact ( Peristiwa) 
2. Feelin(Perasaan) 
3. Finding(Pembelajaran) 
4. Future( Penerapan) 
Tentang semua hal yang telah dipelajari dalam modul ini. Saya akan mencoba merefleksikan kembali materi dalam modul 2.1 dan merefleksikan hasil dari kegiatan yang ada di LMS. Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media untuk mengungkapkan perasaan saya, gagasan dan praktik baik yang sudah saya lakukan. 
Mencoba merfekleksikan pembelajaran dan aktivitasnya yang telah saya lakukan dan lewati setiap langkahnya di Learning Mangement System(LMS). Dalam minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yang harus saya kerjakan. Pertama diawali dengan Test Awal Paket Modul 2.1 kemudian dilanjutkan dengan aktivitas pembelajaran. 
Modul 2.1.a.3 yaitu: Mulai dari Diri 
Modul 2.1.a. 4 yaitu Eksplorasi Konsep 
Modul 2.1 a. 5.1 yaitu tentang Ruang Kolaborasi 
Modul 2.1.a 5.2 yaitu tentang Ruang Kolaborasi 2 Google meet 
Modul 2.1.a.6 yaitu Refleksi Terbimbing 
Modul 2.1.a.7 yaitu tentang Demonstari Kontekstual


1. Facts (Peristiwa)
Aktivitas pertama yaitu dengan melakukan Test Awal Modul 2. Setiap memulai modul saya melaksanakan tes awal paket modul 2 dilanjutkan dengan pembelajaran di LMS dimulai dari diri, eksplorasi konsep, ruang kolborasi 1 dan 2. Yang pertama adalah diskusi Bersama kelompok keesokan harinya dilanjutkan dengn Ruang kolaborasi 2 kami harus mempresentasikan hasil diskusi kelompok tentang kasus dalam skenario yang diberikan. Kami mempresentasikan materi Pembelajaran Berdiferensiasi jenjang skenario SMP. Banyak sekali manfaat dari diskusi ini menjadi saya menambah wawasan, ilmu dan pengalaman. Saya jadi mengetahui bagaimana mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi ke dalam sebuah RPP sesuai mata pelajaran yang kita ampu, sehingga dapat mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik. 
Pertanyaan pemantik yang makin memperkuat kami meningkatkan pemahaman terkait pembelajaran berdiferensiasi. Di aktivitas ini tidak ada hambatan yang dirasakan karena di sesi ini bagaimana CGP menggali lebih dalam konsep pembelajaran berdiferensiasi. Aktivitas berikutnya yaitu demonstrasi kontekstual. Di aktivitas ini kami diminta membuat Rencana pembelajaran berdiferensiasi dan mengevaluasi efektivitas RPP yang dibuat oleh sesama rekan CGP. Disini, saya membuat RPP berdiferensiasi dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik ditinjau dari Profil Belajarnya.
Dalam mempelajari modul 2.1 ini merupakan serangkaian kelanjutan dari modul sebelumnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya kegiatan ini diawali dengan Pre Test tanggal 30 Oktober 2022. Kegiatan ini menggunakan alur MERDEKA yaitu, Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elabborasi pemahaman, Koneksi Antar materi dan Aksi nyata.
Kegiatan pertama setelah pre test adalah Mulai dari diri yang merupakan langkah awal untuk mempersiapkan diri menerima ilmu pengetahuan baru pada modul 2.1, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Eksplorasi Konsep tentang pemikiran kita seperti apa terhadap modul 2.1 yang kita pelajari, Berdiskusi dengan CGP lainnya dalam Ruang Kolaborasi untuk menemukan kesamaan persepsi serta saling memberikan masukan yang konstruktif dalam menyusun pembelajaran berdiferensiasi. 
Saya bersama teman di kelompok berdiskusi tentang skenario jenjang SMP dan kami buat dalam power point. Keesokan harinya saya dan tim dalam kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok, dan mendapatkan umpan balik baik dari teman di kelompok lain maupun dari Fasilitator. Dari hasil umpan balik kami rapikan kembali hasil diskusi dalam power point kami. Setelah rapi kami upload di LMS masing masing sebelum tenggat waktu. Setelah itu kami mengikuti Elaborasi Pemahaman dari narasumber hebat, mendapatkan ilmu dan pemantapan materi tentang Pembelajaran Berdiferensiasi. Setelah elaborasi pemahaman kami memnuat Demonstrasi Kontekstual dalam materi pembelajaran berdiferensiasi berupa RPP mapel yang berdiferensiasi. Setelah demonstrasi kontekstual kami akan mengaitkan materi dalam setiap bagian modul dengan KOneksi Antar Materi. Stelah koneksi Antar materi (KAN) maka akan kami lanjutkan dengan membuat Aksi Nyata.
2. PERASAAN/FEELING
Pada modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi membuat saya merasa sangat senang namun penasaran karena harus memperhatikan semua kebutuhan murid yang tentu satu sama lain berbeda kebutuhan. Selama ini saya hanya berfokus pada ketercapaian materi kurikulum, sehingga harus harus mengejar ketuntasan belajar. dampak yang ada adalah belum semua murid dapat belajar sesuai dengan kebutuhannya dan ada sedikit pengabaian tentang ternyata banyak keberagaman kebutuhan belajar murid dalam satu kelas. Hal ini tentunya harus kita kaitkan dengan nilai-nilai Filososfi Pendidikan menurut KH Dewantara bahwa belajar adalah menuntun murid untuk mencapai tujuan belajar dan dalam mencapai tujuan belajar tersebut diharapkan guru dapat menuntun murid dengan berbagai macama cara atau metode yang sesuai dengan kebutuhan murid. Saya sangat senang dan lebih memahami menjadi tahu dalam menyusun RPP dengan pembelajaran berdiferensiasi., saya sangat bahagia bisa Menyusun langkah-langkah pembelajran untuk menyelaraskan dengan karakteristik murid. Banyak hal yang saya dapatkan dari pelatihan ini dan siap saya terapkan di kelas serta berbagi dengan reksn sejawat dan disekolah ataupun lingkup yang lebih luas lagi.
3. Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran berdiferensiasi itu dibuat agar para guru dapat melaksanakan pembelajaran yang mampu untuk mengakomodir semua kebutuhan belajar murid. Guru harus mampu untuk memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan murid. Tentu dalam mememnuhi kebutuhan murid ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti : 1. Kesiapan belajar (Readiness) 2. Minat belajar 3. Profil belajar murid. Kemudian dalam pembelajaran berdiferensiasi kita juga harus memperhatikan beberapa strategi antara lain: 1. Diferensiasi proses 2. Diferensiasi konten 3. Diferensiasi produk Dalam proses penilaian , guru menggunakan penilaian berjenjang, dengan harapannya semua murid memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga murid akan mendapatkan lingkungan yang aman dan nyaman dalam proses pembelajaran. Kali ini saya mendapatkan pelajaran tentang bagaimana kita menyiapkan pembelajaran dengan model berdiferensiasi. Dan tentu saja ini sangat bermanfaat agar semua kebutuhan murid minimal dapat kita akomodir.
4. Future ( Penerapan)
Dalam modul ini, saya belajar untuk lebih memperhatikan kompetensi saya dalam memilih aktivitas belajar yang sesuai dengan gaya belajar murid. Hal ini tentu untuk menghindari dari pengalaman be3lajar yang kurang tepat, kurang berpihak pada murid dan kuang menyenankan. mencoba terapkan di kelas dan imbaskan kepada rekan sejawat di sekolah bahkan di lingkup yang lebih luas sehingga harapan saya semua guru dapat mengetahui seperti apa itu penvelajaran berdiferensiasi dan bagaimanakah penerapannya di kelas dalam pembelajaran. Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat terlaksana dengan baik dan efektif, maka perlu dilakukan pemetaan kebutuhan belajar murid yaitu berdasarkan kesiapan murid, minat murid dan profil belajar murid. Penilaian ini dilakukan yaitu dengan asesemen diagnostik non kogitif. 
Data pemetaan ini dapat diperoleh dari data tahun lalu atau pada semester sebelumnya. Bisa melalui angket, soal pilhan ganda, wawancara, pengamatan dan lainnya sessama rekan guru dan wali murid. Bagi saya ini merupakan materi yang sangat baik agar dapat kami terapkan di sekolah, berbagi dengan rekan guru ataupun dengan murid baik disekolah maupun di luar sekolah. Dalam proses ini tentu saja saya akan belajar dan terus belajar. Semoga saya dapat terus berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan ke arah byang lebih maju lagi sehingga kita dapat mempersiapkan murid menjadi pemimpin.

Read More »
25 August | 0komentar

Mulai Dari Diri Modul 2.2

Tujuan Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) 
Memahami, menghayati dan mengelola emosi (kesadaran diri) 
Menetapkan dan mencapai tujuan positif (manajemen diri) 
Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial) 
Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi) Membuat keputusan yang bertanggung jawab (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab) 

Capaian Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) 
  • Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal.
  • Meningkatkan kompetensi sosial dan emosional, terciptanya lingkungan belajar yang lebih positif, peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan sekolah
  • Menghasilkan murid-murid yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, responsif, proaktif, mendorong anak untuk memiliki rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan, sosial, budaya, dan humaniora.

Refleksi Sosial dan Emosional 
Selama menjadi pendidik, Anda tentu pernah mengalami sebuah peristiwa yang dirasakan sebagai sebuah kesulitan, kekecewaaan, kemunduran, atau kemalangan, yang akhirnya membantu Anda bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. 
Apa kejadiannya, kapan, di mana, siapa yang terlibat, apa yang membuat Anda memilih merefleksikan peristiwa tersebut, dan bagaimana kejadiannya? 
Saya ingin menceritakan kasus pertama yang saya hadapi ketika menjadi wali kelas. Hal ini terjadi di tempat kerja saya. Mengapa saya merefleksikan peristiwa ini karena menurut saya peristiwa ini secara langsung memberikan saya gambaran bagaimana kondisi murid yang harus saya didik dan bagaimana kita sebagai pendidik menyikapinya. 
Baru menjadi guru honor sekolah swasta di salah satu sekolah di Kab. Banjarnegara tepatnya tahun 2000, Sebagai guru baru saya menggantikan guru yang telah pensiun. Manajemen sekolah dan Yayasan  mempercayakan sebagai tugas wali kelas XII kepada saya. Baru lulus kuliah, Saya merasa masih awam akan tugas tambahan ini menyanggupinya karena berpikir bahwa ini adalah salah satu kepercayaan dan tantangan kerja. 
Sebelumnya saya memang mengajar di kelas tersebut namun baru beberapa bulan menggantikan guru yang sudah pensiun. Ketika saya baru seminggu menjadi wali kelas di sana, saya sudah menghadapi kasus yang menurut saya sangat berat di awal saya bertugas. Foto viral dari 2 siswa/i di kelas yang katanya sebagai pacar. Berita ini sampai pada Yayasan. Saya selaku wali kelas didampingi guru BK, Kepala Sekolah serta orang tua murid mendapat panggilan oleh Ketua Yayasan. 
Sebelum menghadap Ketua Yayasan, kami selaku pendidik di sekolah melakukan mediasi  dengan murid dan orang tuanya. Dalam mediasi ini, orang tua murid saling menyalahkan satu sama lain dan menganggap anak mereka adalah korban. Mediasi ini memang tidak bisa mendamaikan orang tua murid secara sepenuhnya, namun mereka setuju untuk saling bekerja sama mendidik anak mereka. 
Setelah melakukan mediasi, kami menghadap Ketua Yayasan. Ketua Yayasan memberikan arahan bahwa sosial media memberikan dampak positif dan negatif untuk semua, jadi diharapkan bijak dalam bersosial media. Bapak Ketua Yayasan menanyakan status saya yang guru baru menjadi walikelas kelas XII.

 Bagaimana Anda menghadapi krisis tersebut (coping)? Bagaimana Anda dapat bangkit kembali (recovery) dan bertumbuh (growth) dari krisis tersebut? 
Setelah mengalami insiden itu, saya yang masih merasa baru tidak langsung memarahi murid tersebut. Saya melakukan pendekatan yang lebih menjurus menjadi seorang teman karena saya merasa murid saya sudah sangat trauma dengan viralnya foto mereka yang berimbas pada kemarahan orang tua dan rasa malu dengan teman-temannya. Saya juga mengajak secara persuasif kepada murid-murid agar saling mengingatkan jika ada salah satu teman mereka memposting hal yang tidak sopan di sosial media. Saya juga mengadakan refleksi mengenai kejadian tersebut. Dengan kejadian ini, saya ingin menuntun murid saya dan tentunya diri saya sendiri selaku orang yang akan dicontoh murid agar lebih bijak lagi menggunakan sosial media. 


• Gambarkan diri Anda setelah melewati krisis tersebut. 
o Apa hal terpenting yang telah Anda pelajari dari krisis tersebut? 
o Bagaimana dampak pengelolaan krisis tersebut terhadap diri Anda dalam menjalankan peran sebagai pendidik? 
Hal penting yang saya pelajari dari krisis tersebut adalah semakin menguatnya pribadi saya dalam menghadapi kondisi sosial murid. Saya juga menjadi lebih percaya diri menghadapi beberapa kasus selanjutnya karena dari kasus ini saya belajar bagaimana saya harus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan BK, kesiswaan dan Kepala Sekolah. Sebagai pendidik saya merasa saya harus memberikan layanan terbaik kepada murid-murid saya. Saya harus lugas dan tidak bertele-tele jika seandainya ada permasalahan murid agar murid yang bermasalah menyadari sendiri kesalahannya dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. 

• Sebagai pendidik, Anda tentu pernah bertemu murid yang memiliki pemahaman diri, ketangguhan, atau kemampuan membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Setujukah Anda bahwa faktor-faktor tersebut membantu ia menjalani proses pembelajaran dengan lebih optimal di sekolah? Jelaskan jawaban Anda dengan bukti atau contoh yang mendukung. 
Saya sangat setuju. Murid yang memiliki pemahaman diri, ketangguhan atau kemampuan membangun hubungan yang positif dengan orang lain akan lebih mudah memahami arah hidupnya sehingga dia bisa lebih mudah dalam mengatur dirinya. Dia juga bisa mengidentifikasi kelemahannya sendiri sehingga dia bisa menjadikannya kekuatan untuk terus maju. Hubungan positif dengan orang lain akan membuat seorang mempunyai tingkat kepercayaan diri yang baik sehingga dapat menjalani proses pembelajaran yang baik di sekolah. 
Sebagai guru baru saat itu saya menjadi wali kelas XII, saya dipertahankan untuk tetap menjadi wali kelas, namun wali kelas X karena saya tidak mengajar kelas XII lagi. 


Dari kedua refleksi di atas, apa yang dapat Bapak/Ibu simpulkan tentang hubungan antara kompetensi sosial dan emosional dengan keberhasilan dalam pengelolaan krisis Anda dan pembelajaran murid Anda? 
Dengan menjalin hubungan atau relasi yang baik, komunikasi yang jelas, emosi yang terkontrol, seseorang akan memahami karakter diri dan orang-orang sekitarnya. Seseorang akan tahu apa yang dia inginkan dan apa kelebihan yang dapat ia sumbangsihkan kepada orang-orang sekitar dalam menyelesaikan suatu persoalan atau permasalahan dengan baik. 

• Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apa yang Anda harapkan untuk pembelajaran selanjutnya ? Silahkan kemukakan Harapan bagi diri sendiri ?' 
Saya berharap sebagai seorang pendidik, saya turut andil dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif dengan memperhatikan kondisi emosional dan sosial murid. Saya juga ingin menebarkan aura positif dan kebaikan dengan mengontrol emosi dengan siapapun yang saya temui. Ketika ada murid yang bermasalah, saya ingin tetap mengontrol emosi saya agar tidak terluapkan secara berlebihan. 

• Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apa yang Anda harapkan untuk pembelajaran selanjutnya ? Silahkan kemukakan Harapan bagi murid-murid Anda ?
 Saya berharap dapat menuntun murid saya yang sudah memasuki usia remaja agar bijak,paham sabar dalam menghadapi suatu permasalahan. Saya ingin murid saya berproses bahagia dan optimal dalam menjalankan perannya sebagai pelajar yang unggul, kompetitif dan kompeten dalam menghadapi dunia kerja dan keanekaragaman sifat-sifat orang-orang yang ditemuinya kelak.



Read More »
24 August | 0komentar

Mulai Dari Diri Modul 2.1

Tujuan Pembelajaran Khusus 
Tujuan pembelajaran Mulai dari Diri Modul 2.1 
Calon Guru Penggerak dapat berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana tindakan gurunya di masa lalu membantu dirinya untuk belajar dengan lebih baik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
 Kutipan untuk hari ini:
“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” (Ki Hajar Dewantara)
Pertanyaan Pemantik untuk Pembelajaran 
Bagaimana seorang guru dapat mengelola kelas dan memenuhi kebutuhan belajar murid-muridnya yang berbeda-beda? 

Refleksi Individu Mulai dari Diri - Modul 2.1 
Bayangkanlah kelas yang saat ini Anda ampu dengan segala keragaman murid-murid Anda. Keragaman murid bukan lagi sebuah bayangan, tetapi kenyataan. 
Murid yang saya ampu di kelas memiliki latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari lingkungan, sosial, emosional, finansial, dan lain-lain. 


 Apa yang telah Anda lakukan untuk melayani kemampuan murid yang berbeda? Apa yang Anda lakukan untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah untuk murid Anda? Apakah ada perlakuan yang berbeda yang Anda lakukan? Jika ada, perlakuan seperti apa? Jika tidak ada, apa dampaknya terhadap murid Anda? 
Hal yang telah saya lakukan untuk melayani kemampuan murid yang berbeda adalah membuat pembelajaran yang menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan siswa. Saya mendiagnosis kemampuan dan kebutuhan siswa dengan memperhatikan hasil belajar mereka selama ini, karakter mereka saat proses pembelajaran, dan asesmen diagnostik. 
Hal yang saya lakukan untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah adalah dengan berusaha membuat pembelajaran yang berpihak kepada siswa, di antaranya membuat kelompok belajar menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan mereka, memproduksi konten pembelajaran yang mudah dipahami siswa, mendorong kolaborasi dengan peran yang menyesuaikan kemampuan masing-masing siswa, dan menyisipkan permainan dalam pembelajaran agar siswa lebih rileks dalam belajar. 
Ada perlakuan berbeda yang saya terapkan karena menyesuaikan tingkat kemauan, kemampuan, dan kebutuhan belajar mereka. Perlakuan itu di antaranya adalah menyediakan beragam konten materi pembelajaran, penugasan kelompok dengan cara kerja sesuai dengan menggali kemampuan masing-masing siswa, dan memberikan tugas yang berbeda-beda. Jika mereka diperlakukan sama, dampaknya adalah siswa mereka tertekan dengan pembelajaran yang saya lakukan karena hasil akhir pembelajaran menuntut adanya hasil yang sama. 


 Sebutkan tantangan-tantangan yang Anda hadapi dalam proses pembelajaran di kelas yang disebabkan oleh keragaman murid-murid Anda tersebut? Tindakan-tindakan apa yang telah Anda lakukan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut? 
Tanyangan-tantangan yang saya hadapi karena keberagaman siswa adalah perlunya beberapa strategi pembelajaran agar siswa selalu antusias belajar, berkurangnya waktu pembelajaran karena ada yang kurang bersemangat dalam pembelajaran karena kurangnya minat dan motivasi dalam belajar. 
Tindakan-tindakan yang saya lakukan di antaranya adalah membagi kelompok dengan memperhatikan kemampuan dan kebutuhan belajar siswa, menyediakan konten pembelajaran yang beragam, menyederhanakan materi tanpa mengurangi esensi, dan mempraktikan permainan-permainan dalam pembelajaran dan penggunaan media interaktif (MPI) 


Menurut Anda, untuk mengakomodasi tantangan yang terkait dengan keragaman murid tersebut, bagaimana seharusnya pembelajaran itu dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi? 
Untuk mengakomodasi tantangan yang terkait dengan keragaman murid tersebut, seharusnya pembelajaran dirancang dengan memperhatikan keragaman, kemampuan, dan kebutuhan murid. Guru juga bisa merancang pembelajaran berdasarkan pendapat dari para siswa sehingga siswa bisa mengikuti pembelajaran sesuai dengan keinginannya. Pembelajaran juga seharusnya dilaksanakan sesuai dengan rencana yang sudah disusun yang mengakomodasi keberagaman murid. Setelah itu, pembelajaran dievaluasi dengan meminta umpan balik dari siswa dan guru juga harus membuat refleksi diri sebagai pedoman dalam mengevaluasi pembelajaran yang sudah dilakukan.




Read More »
24 August | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 1.4

Pada kesempatan ini saya akan menulis tentang apa yang sudah saya lakukan pada pendidikan Guru penggerak di materi Modul 1.4 yaitu tentang Budaya Positif. Jurnal Dwi mingguan ini harus saya tulis untuk menggambarkan refleksi saya setelah mempelajari Modul 1.4 dan ini merupakan tugas setelah berakhirnya modul yang dipelajari sebagai seorang Calon Guru Penggerak. Saya akan menuliskan semua pengalaman saya dan semua yang saya rasakan selama mempelajari modul 1. 4 ini dalam artikel ini dengan model refleksi 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway yaitu:

1. Facts (Peristiwa)
Setelah mempelejarai modul 1.3 tentang visi guru penggerak kami melanjutkan ke modul 1.4 tentang budaya positif. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan pembelajaran modul 1.4 sudah dimulai pada tanggal 10 Oktober 2022 dengan mempelajari materi tentang eksplorasi konsep yang kami pelajari secara mandiri. Pada modul 1.4 tentang Budaya Positif ini banyak ilmu baru yang saya pelajari. Dimulai dengan kegiatan Mulai Dari Diri, dengan mempelajari sub modul dengan tujuan pembelajaran khusus mengaktifkan pengetahuan awal apa yang telah dipelajari sebelumnya tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep lingkungan dan budaya positif di sekolah. Kemudian dilanjut ke sub modul Eksplorasi konsep yang mencakup beberapa bagian yaitu : Disiplin positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal, Lima Posisi Kontrol, Teori Motivasi, 
Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, dan yang terakhir Segitiga Restitusi. Pada tanggal 14 Oktober 2022 kami bertemu di ruang kolaborasi yang didampingi dengan fasilitator Ibu Sulastri membahas tentang beberapa kasus murid yang ada di sekolah. Kami dibagi menjadi 3 kelompok untuk memecahkan permasalahan yang ada dengan menyelesaikan kasus tersebut dengan segitiga restitusi, serta menjelaskan posisi kontrol. Ruang kolaborasi dilanjutkan pada hari berikutnya yaitu pada tanggal 17 Oktober 2022, pada pertemuan ini setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi pada pertemuan sebelumnya. 
Diskusi berjalan dengan baik dan lancar. Ada beberapa masukan dari teman dan Fasilitator untuk ditambahkan dalam persentasi kami. Dan selanjutnya kami upload di LMS. Setelah itu kami mendalami materi dalam kegiatan Elaborasi Pemahaman bersama instruktur pada tanggal 21 Oktober 2022. Pemahaman saya bertambah jelas setelah mendapat pencerahan dari instruktur. Kemudian saya diminta untuk membuat Koneksi antar materi, mengaitkan materi sebelumnya dengan materi sekarang. Dan di akhiri dengan membuat Aksi Nyata. Dengan harapan setelah mempelajari sub-sub modul tersebut calon guru penggerak akan mampu menjadi motor penggerak perubahan budaya positif di satuan Pendidikan masing-masing dengan berkolaborasi bersama para pemangku kepentingan agar tercipta ekosistem sekolah yang lebih berpihak pada murid sesuai dengan cita-cita luhur Ki Hadjar Dewantara.
2. PERASAAN/FEELING
Perasaan saya selama mempelajari modul 1.4 tentang Budaya Positif ini adalah senang dan semakin termotivasi untuk lebih bersemangat dalam menjalankan pendidikan guru penggerak. Selain itu saya juga berusaha semaksimal mungkin dalam menerapkan dan menjalankan budaya positif yang diterapkan di kelas dan di sekolah. Dimulai dari penetapan keyakinan dan kebijakan kelas yang disepakati dan ditaati oleh seluruh murid di kelas masing-masing. Penerapan posisi kontrol juga menjadi perhatian bagi saya, Yangg dulu saya memposisikan diri pada posisi control pemantau dan penghukum sekarang belajar berada posisi control manager dalam penyelesaian permasalahan murid.
3.PEMBELAJARAN/FINDING
Pembelajaran bermakna yang saya peroleh setelah mempelajari modul 1.4 adalah bahwa sebagai calon guru penggerak harus mampu menempatkan diri dalam posisi kontrol yang tepat dalam penerapan budaya positif disekolah yaitu posisi kontrol sebagai manajer dengan menerapkan segitiga restitusi sebagai solusi ketika ada murid yang melanggar keyakinan kelas. Kenapa dengan segitiga restitusi? karena restitusi menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Dan saya merasakan hal tersebut memang benar, menyelesaikan masalah dengan hukuman tidak menyelesaikan masalah justru membuat keadaan semakin rumit. Segitiga restitusi adalah penyelesaiannya. Dengan segitiga restitusi masalah selesai dengan damai dan anak-anak pun tidak kehilangan identitas mereka, justru mereka Kembali dengan karakter yang lebih kuat dan lebih baik.
4.PENARAPAN KE DEPAN (FUTURE)
Setelah mempelajari modul 1.4 ini yaitu tentang budaya posistif maka saya lebih paham tentang Disiplin positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal, Lima Posisi Kontrol, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Segitiga Restitusi. Perubahan yang saya rasakan adalah saya merasa harus tergerak, bergerak dan menggerakkan orang-orang yang ada di sekitar saya untuk segera mengetahui materi yang saya dapatkan ini. Hal yang akan saya lakukan untuk melakukan perubahan yang positif dengan lebih memperhatikan kebutuhan peserta didik, menggunakan posisi kontrol sebagai manager dalam menangani kasus siswa, menerapkan segitiga restitusi dan selalu menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif disekolah dengan berkolaborasi dengan warga sekolah dan berbagai pemangku kepentingan, meskipun hal tersebut memerlukan waktu yang tidak sebentar karena melakukan perubahan yang sudah menjadi kebiasaan tidak lah mudah. Tapi kita harus bergerak menuju perubahan yang lebih baik

Read More »
24 August | 0komentar