![]() |
| Aktifitas Guru awal Tahun Ajaran |
Template dibagikan. Guru-guru mulai mengetik.
Sebagian menyusun perangkat pembelajaran dari awal dengan penuh kesungguhan. Sebagian membuka dokumen tahun sebelumnya, memperbarui identitas, menyesuaikan tanggal, lalu menyempurnakan beberapa bagian. Ada pula yang memilih membeli paket perangkat pembelajaran karena waktu yang tersedia begitu sempit, sementara berbagai pekerjaan datang secara bersamaan. Bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena tuntutan administrasi sering kali berpacu dengan keterbatasan waktu.
Di ruang pelatihan, narasumber menjelaskan pendekatan kurikulum terbaru. Slide demi slide berganti. Indikator, tujuan pembelajaran, asesmen, hingga lampiran dibahas secara rinci. Laptop-laptop terbuka. Dokumen diperbaiki. Hari terasa panjang.
Lalu semua selesai.
Perangkat dicetak, dijilid, atau disimpan dalam folder digital. Direvisi, divalidasi, kemudian disahkan.
Sekolah pun dinyatakan siap menyambut tahun ajaran baru.
Setidaknya, di atas kertas.
Namun, ada satu pertanyaan yang sering kali tidak pernah masuk ke dalam agenda rapat.
Jika semua telah dirancang sedemikian rinci:
Mengapa masih banyak anak yang merasa sekolah bukan tempat yang ingin mereka datangi setiap pagi?
Mengapa ada murid yang lebih sering menghitung jam pulang daripada menikmati proses belajar?
Mengapa ada anak yang duduk tenang di bangkunya, tetapi pikirannya melayang entah ke mana?
Barangkali selama ini kita terlalu sibuk merancang apa yang akan diajarkan, tetapi belum cukup banyak meluangkan waktu untuk memikirkan bagaimana rasanya menjadi anak yang akan menerima semua itu.
Kita sering memandang belajar sebagai proses akademik semata.
Padahal, sebelum ada pelajaran, ada perasaan.
Sebelum ada materi, ada kondisi fisik dan emosional.
Sebelum ada kemampuan berpikir, ada kebutuhan untuk merasa aman.
Bayangkan seorang anak yang baru saja dimarahi di depan kelas, dibentak tanpa memahami kesalahannya, dibanding-bandingkan dengan temannya, atau dipermalukan karena nilai yang diperolehnya. Sesungguhnya ia sedang mengalami sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kehilangan semangat belajar.
Tubuhnya sedang membaca situasi sebagai sebuah ancaman.
Dalam berbagai kesempatan, Najeela Shihab, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), sering mengingatkan pentingnya melihat kebutuhan emosional peserta didik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses belajar.
Hal tersebut juga selaras dengan temuan neurosains pendidikan. Ketika seseorang merasa terancam, bagian otak yang disebut amigdala menjadi lebih aktif. Sistem saraf mengaktifkan respons bertahan hidup, sementara tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.
Akibatnya bukan hanya muncul rasa tidak nyaman.
Konsentrasi menurun.
Daya ingat melemah.
Kreativitas berkurang.
Energi mental habis hanya untuk berusaha merasa aman kembali.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres yang berkepanjangan mengganggu fungsi korteks prefrontal, yaitu bagian otak yang berperan dalam perhatian, pengambilan keputusan, pengendalian diri, dan proses belajar.
Ketika amigdala terus aktif, otak lebih siap bertahan daripada menerima pengetahuan baru.
Sederhananya, otak yang merasa terancam memang tidak dirancang untuk belajar.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara berpikir.
Bukan lagi memulai dengan pertanyaan,
"Apakah perangkat pembelajaran sudah lengkap?"
Tetapi lebih dahulu bertanya,
"Apakah ruang kelas kita cukup aman sehingga anak berani bertanya?"
"Apakah guru-gurunya lebih sering didengar karena kebijaksanaannya daripada ditakuti karena suaranya?"
"Apakah sekolah ini cukup hangat sehingga setiap anak merasa diterima, bahkan ketika ia belum sempurna?"
Tentu saja, kurikulum yang baik tetap penting.
Perencanaan yang matang juga tidak boleh diabaikan.
Namun semuanya hanyalah sebuah struktur.
Dan setiap struktur selalu membutuhkan pondasi.
Pondasi pendidikan bukan sekadar visi, misi, atau dokumen yang tersimpan rapi di lemari kepala sekolah.
Pondasi pendidikan adalah rasa aman.
Rasa nyaman.
Perasaan bahwa sekolah merupakan tempat di mana seorang anak boleh melakukan kesalahan tanpa kehilangan harga dirinya.
Tema See the Unseen mengingatkan kita bahwa masa depan sekolah sering kali ditentukan oleh hal-hal yang tidak tampak di atas meja rapat.
Yang menentukan justru hal-hal yang sering luput dari perhatian.
Ekspresi murid yang tiba-tiba menjadi diam.
Guru yang memilih mendengar sebelum menghakimi.
Sapaan hangat di depan gerbang sekolah.
Nada bicara yang menenangkan.
Senyuman yang membuat anak merasa diterima.
Semua itu mungkin tidak pernah tercantum dalam lampiran kurikulum.
Namun, justru di sanalah proses belajar yang sesungguhnya dimulai.
Maka, memasuki tahun ajaran baru ini, mungkin kita tidak cukup hanya bertanya,
"Apakah kurikulum kita sudah siap?"
Yang lebih penting adalah bertanya,
"Apakah hati sekolah kita sudah siap menerima anak-anak yang akan datang?"
Sebab pada akhirnya, sekolah tidak dikenang karena tebalnya dokumen yang dimiliki.
Sekolah dikenang karena bagaimana ia membuat setiap anak merasa ketika berada di dalamnya.
Sebagaimana ungkapan inspiratif dari Maya Angelou:
"People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel."
Mungkin kalimat itulah yang paling layak ditempatkan di halaman pertama setiap dokumen kurikulum.
Sebab sebelum anak mampu mengingat isi pelajaran, mereka terlebih dahulu mengingat bagaimana sekolah memperlakukan mereka.
Mendidik manusia selalu dimulai dari memanusiakan manusia.
Referensi : Grup WA GSM Kab. Purbalingga







Post a Comment