Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In


Perangkat pembelajaran untuk menunjang Proses Belajar Mengajar(PBM) ini sesuai dengan kurikulum Merdeka. Informasi tentang CP dengan meng-KLIK gambar di atas. Perangkat pembelajaran Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan Bangunan pada Mata Pelajaran Mekanika Teknik


INSTAGRAM :@sarastiana1
        RECENT POST

Makna "Iqra": Lebih dari Sekadar Mengeja Huruf

Dalam hiruk-pikuk dunia digital saat ini, kata "membaca" sering kali tereduksi hanya sebatas memindai informasi di layar ponsel. Namun, jika kita kembali menengok sejarah melalui buku "Muhammad: A Prophet for Our Time" karya Karen Armstrong, kita akan menemukan bahwa perintah membaca (Iqra) memiliki kedalaman makna yang mampu mengubah peradaban. 

Kehampaan di Gua Hira 
Karen Armstrong menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang sangat peka terhadap krisis sosial dan moral di Mekkah saat itu. Di tengah ketidakadilan dan kesenjangan yang tajam, beliau memilih untuk menyendiri di Gua Hira. Armstrong menekankan bahwa wahyu pertama tidak turun dalam suasana yang tenang dan puitis, melainkan sebuah pengalaman yang mendalam dan mengguncang. 
Perintah "Iqra!" (Bacalah!) yang disampaikan Malaikat Jibril adalah sebuah paksaan kreatif. sebuah dorongan untuk melahirkan sesuatu yang baru dari dalam diri yang sebelumnya "buta" huruf dan makna.

Makna "Iqra": Lebih dari Sekadar Mengeja Huruf 
Armstrong mengajak kita melihat bahwa saat wahyu itu turun, Muhammad SAW menjawab, "Ma ana bi qari" (Aku tidak bisa membaca). Namun, perintah itu terus diulang. Menurut Armstrong, Iqra dalam konteks ini bukan sekadar mengeja teks tertulis, melainkan: 
  • Membaca Tanda-Tanda Zaman: Kepekaan terhadap penderitaan sesama dan ketimpangan sosial. 
  • Membaca Diri: Menemukan hakikat kemanusiaan di hadapan Sang Pencipta. 
  • Menyuarakan Kebenaran: Mengubah keheningan menjadi pesan yang menggerakkan. 
Bagi kita di era modern, Iqra adalah perintah untuk melakukan literasi kritis. Bukan hanya menelan informasi, tapi memahami esensi dan dampak dari setiap pengetahuan yang kita peroleh. 

Wahyu yang Mengubah Paradigma 
Salah satu poin menarik yang diangkat Armstrong adalah bagaimana wahyu ini mengubah masyarakat Arab yang saat itu sangat membanggakan tradisi lisan dan kesukuan menjadi masyarakat yang sangat menghargai ilmu pengetahuan dan persaudaraan universal. Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca, yang secara tidak langsung meletakkan fondasi bahwa pendidikan dan pengetahuan adalah kunci utama perubahan. 
Sebagai seorang pendidik (seperti di jurusan DPIB), pesan ini sangat relevan: bahwa setiap desain bangunan atau struktur yang kita buat, harus diawali dengan kemampuan kita "membaca" kebutuhan dan kebermanfaatannya bagi manusia. 
Melalui karya Armstrong, kita diingatkan bahwa menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW berarti menjadi pribadi yang literat. Pribadi yang tidak pernah berhenti belajar, yang matanya tajam membaca realitas, dan yang hatinya terbuka terhadap bimbingan wahyu. Mari kita tanya pada diri sendiri: Di bulan yang mulia ini, sudah sejauh mana kita menjalankan perintah Iqra? Sudahkah bacaan kita membawa perubahan bagi karakter dan kontribusi kita di dunia?

Read More »
19 February | 0komentar

Jalur Langit: Saat Ridha Orang Tua Menembus Logika Masa Depan


Ustadz Usep Badruzzaman
Mungkid, 14 Februari 2026 – Suasana khidmat menyelimuti SMAIT Ihsanul Fikri Mungkid. Di antara doa yang dipanjatkan, para siswa Kelas XII bersama wali murid bersimpuh dalam kegiatan doa bersama bertajuk "Jalur Langit yang Berakar Ridha Orang Tua". Bersama Ustadz Usep Badruzzaman, kita diingatkan kembali bahwa di atas segala strategi manusia, ada satu penentu utama: Ridha Allah SWT. 

Antara Logika dan Iman 
Dalam hidup, kita sering kali terjebak pada perhitungan matematis manusiawi (logika) dan melupakan kekuatan iman. Ustadz Usep memberikan perumpamaan yang sangat tajam: 
  • Soal Hutang: Secara logika, hutang sebesar Rp2.000 jauh lebih cepat lunas dibandingkan 1 Miliar. Namun, jika Allah tidak menolong, hutang sekecil itu pun bisa tak terbayar sampai mati. Sebaliknya, dengan pertolongan Allah, hutang 1 Miliar bisa lunas lebih dulu. 
  • Soal Penyakit: Secara logika, penyakit ringan harusnya sembuh lebih cepat daripada penyakit berat. Namun kenyataannya, jika Allah berkehendak, penyakit yang secara medis dianggap berat justru sembuh lebih awal melalui pertolongan-Nya. 

Pesan ini sangat relevan bagi siswa kelas XII dan kita
Secara logika, mungkin ada yang merasa nilainya kecil atau kemampuannya terbatas dibandingkan teman yang lain. Namun, jangan berkecil hati. Jika Allah sudah menolong, jalan yang sulit akan menjadi mudah, dan pintu yang tertutup akan terbuka lebar. 

Bagaimana Cara Agar Kita Ditolong Allah? 
Ini adalah pertanyaan besar yang menjadi inti pertemuan kita. Ustadz Usep menegaskan bahwa fokus utama kita saat ini bukanlah sekadar hasil ujian, melainkan: Bagaimana cara agar Allah menolong kita? Jawabannya ada dalam janji Allah: 

 وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

 "...Dan Kami berkewajiban menolong orang-orang yang beriman." (QS. Ar-Rum: 47) 

Kita dibekali dua perangkat oleh Allah: Logika dan Iman. 
Logika digunakan untuk menyusun strategi belajar dan ikhtiar maksimal, namun Iman digunakan untuk menjemput pertolongan Allah. Fokus utama kita adalah menguatkan keimanan. Karena ketika iman sudah kokoh, pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka. 
Akar Ridha: Kunci Pembuka Pintu Langit Jalur langit ini tidak akan terbuka tanpa ridha orang tua. Ustadz Usep mengingatkan bahwa ridha Allah terletak pada ridha ayah dan ibu. Momen sungkem dan doa bersama kemarin adalah upaya kita untuk menyiram "akar" tersebut. Tanpa ridha mereka, perjuangan mengejar cita-cita hanya akan menjadi lelah yang tanpa berkah. 

  "Yang paling perlu dipersiapkan saat ini bukanlah sekadar seberapa keras kita belajar, melainkan bagaimana cara agar Allah berkenan menolong kita.



Pesan Ustadz untuk anak-anakku kelas XII Tahun Pelajaran 2025/2026, maksimalkan logika dalam belajar, namun kuatkan imanmu dalam berharap. Ketika engkau sudah mendapatkan ridha orang tuamu dan meraih pertolongan Allah, maka tidak ada satu pun rintangan di bumi yang mampu menghalangimu. Semoga Allah senantiasa menolong dan meridhai setiap langkah kita.




Read More »
16 February | 0komentar

Mengetuk Pintu Langit di Tengah Rutinitas Duniawi

Sebagai seorang pendidik di bidang teknik, hari-hari saya sering kali dipenuhi dengan hitungan RAB, menghitung volume pekerjaan, kurva S, dan desain arsitektur digital. Namun, saya menyadari sepenuhnya bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer angka dan logika. Ada satu dimensi yang jauh lebih fundamental bagi masa depan siswa: Dimensi Spiritual. Menu "Catatan Keagamaan" di blog www.sarastiana.com ini hadir sebagai oase. Sebuah ruang untuk merefleksikan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap langkah perjuangan kita sebagai pendidik dan pembelajar. 

1. Pendidikan Karakter Berbasis Iman 
Dalam setiap interaksi di kelas, saya selalu berupaya menyelipkan pesan bahwa setinggi apa pun ilmu yang kita miliki, ia tidak akan membawa keberkahan tanpa landasan iman yang kokoh. Catatan di menu ini merangkum intisari pengingat bagi diri saya pribadi dan para siswa bahwa kejujuran saat mengerjakan tugas proyek jauh lebih berharga daripada hasil akhir yang sempurna namun diperoleh dengan cara yang salah. 
 "Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh." Sebuah pengingat bahwa kompetensi teknis (DPIB/EBK) harus berjalan beriringan dengan ketaatan

2. Tadabbur Ayat dalam Keseharian 
Di sini, Bapak/Ibu dan para siswa akan menemukan ulasan ringan mengenai ayat-ayat pilihan seperti refleksi atas Surah As-Saffat atau pengingat tentang syukur. Saya ingin mengajak kita semua untuk melihat bahwa setiap kesulitan dalam belajar dan mengajar adalah bagian dari ujian kesabaran yang pahit di awal namun manis di ujungnya. 

3. Literasi Religi: 
Menulis Sebagai Ibadah Menulis di kategori Catatan Keagamaan bagi saya adalah bentuk dakwah literasi. Saya percaya bahwa setiap huruf yang kita tuliskan untuk mengajak pada kebaikan adalah amal jariyah yang akan terus mengalir. Melalui tulisan, kita bisa menyentuh hati siswa di saat kata-kata di kelas mungkin tidak lagi terdengar. 

4. Koneksi Hati: Hablun Minallah & Hablun Minannas 
Pesan utama dari seluruh catatan di menu ini adalah keseimbangan hubungan. Bagaimana kita memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta (Hablun Minallah) agar urusan dunia kita, termasuk KBM dan pengelolaan blog ini, dimudahkan. Sekaligus bagaimana kita memperbaiki hubungan dengan sesama (Hablun Minannas) melalui etika berkomunikasi yang santun di ruang digital. 

Saya mengundang para siswa dan rekan sejawat untuk tidak hanya mampir di menu tugas, tapi juga menyempatkan diri membaca satu atau dua catatan di menu keagamaan ini. Mari kita luangkan waktu sejenak untuk menundukkan kepala, membasuh hati dengan nasihat-nasihat bijak, agar langkah kita selalu dalam rida-Nya. 

 "Karena kesuksesan yang sesungguhnya bukan saat kita berhasil membangun gedung yang megah, tapi saat kita berhasil membangun jiwa yang tawadhu di hadapan Penciptanya."

Saya sering berpesan kepada siswa, bahwa ketelitian kita dalam menjaga shaf yang lurus dan rapat saat shalat adalah cerminan ketelitian kita dalam bekerja. Seorang calon arsitek atau pelaksana konstruksi yang terbiasa disiplin dengan waktu shalat, insya Allah akan menjadi profesional yang jujur dalam menghitung volume beton dan presisi dalam menarik garis desain. Karena pada akhirnya, integritas seorang mukmin tidak dipisahkan oleh dinding kelas; ia hadir dalam sujud kita, dan terbawa hingga ke meja gambar kita.

Read More »
13 February | 0komentar

Jejak Pendidik: Menenun Makna di Ruang Kelas

Bagi banyak orang, mengajar adalah sebuah profesi yang dibatasi oleh bel masuk dan bel pulang. Namun bagi saya, menjadi pendidik adalah sebuah perjalanan spiritual untuk meninggalkan jejak yang tak terhapus oleh waktu. Menu "Jejak Pendidik" di blog ini bukan sekadar portofolio digital, melainkan sebuah rekam jejak evolusi pemikiran saya dalam menghadapi tantangan zaman. 

 "Suara guru di kelas hanya bertahan hingga bel pulang, namun tulisan guru di buku akan terus mengajar melampaui usia sang pendidik itu sendiri." 

1. Memanusiakan Teknologi (High Tech, High Touch) 
Dunia pendidikan hari ini sering kali terjebak pada digitalisasi yang "dingin". Kita memberikan link tugas, kita menggunakan aplikasi, tapi sering kali kita kehilangan "ruh" pendidikan itu sendiri. Dalam jejak saya, saya berusaha membuktikan bahwa teknologi bukan pengganti guru, melainkan penguat resonansi kasih sayang guru. Meja kerja saya boleh bersih dari kertas karena semua tugas tersimpan rapi di sistem cloud, namun ruang percakapan dengan siswa justru semakin hangat. 

 "Meja kerja yang bersih bukan berarti tanpa tugas, melainkan bukti bahwa kreativitas siswa telah rapi tersusun di awan (cloud), menunggu untuk dikoreksi dengan hati." 

2. Literasi: Cara Guru "Melawan" Lupa 
Mengapa saya begitu gigih menulis hingga melahirkan empat buku ber-ISBN? Karena saya menyadari bahwa menulis adalah cara saya melakukan refleksi. Setiap kali saya menemui kendala dalam mengajar materi EBK atau DPIB, saya menuliskannya. Dari kegelisahan itulah lahir ide-ide kreatif yang kemudian dibukukan. Menulis menjadikan saya pendidik yang tidak hanya "pemakai" ilmu, tapi juga "produsen" ilmu. 

3. Koneksi Sebelum Instruksi 
Di era kecerdasan buatan, saya tetap memegang teguh prinsip bahwa hubungan manusia adalah kunci. Link-link tugas yang saya sertakan di blog sarastiana.com adalah simulasi dunia kerja nyata bagi siswa. Namun, sebelum mereka menyentuh layar, saya harus memastikan mereka merasa didengar dan dibimbing. 

 "Di era kecerdasan buatan, teknologi hanyalah alat. Ruh pendidikan yang sesungguhnya tetaplah koneksi hati antara guru dan siswa sebelum instruksi diberikan." 

4. Sebuah Harapan untuk Rekan Sejawat
Jejak ini saya buka lebar-lebar bukan untuk pamer pencapaian, melainkan untuk mengajak rekan-rekan guru lainnya: Ayo, tuliskan ceritamu. Kita perlu mendokumentasikan praktik baik kita agar menjadi lentera bagi guru-guru muda yang baru memulai perjalanannya. 

 "Kita tidak hanya sedang mengajarkan cara menggambar garis atau menghitung volume beton; kita sedang membangun pondasi karakter agar masa depan mereka tidak retak oleh tantangan zaman."

Jejak yang Tak Akan Usai Pensiun mungkin akan menghentikan status kepegawaian saya suatu hari nanti, namun "Jejak Pendidik" ini akan terus berjalan. Tulisan-tulisan ini adalah saksi bahwa saya pernah berjuang, pernah gagal, dan terus belajar demi tunas-tunas bangsa. Mari terus melangkah, terus menulis, dan terus menginspirasi.

Read More »
11 February | 0komentar

"Meja Kosong, Tapi Tugas Bergunung: Menjadi Guru di Era Digital"

"Pak, kok mejanya bersih sekali? Ndak ada tumpukan kertas atau buku tugas siswa? Memangnya bapak ndak pernah kasih tugas ya?" Pertanyaan salah satu rekan, membuat saya tersenyum. Memang benar, jika dilihat secara fisik, meja kerja saya jarang sekali dihiasi oleh "gunung" buku tulis atau lembaran folio tugas siswa yang biasanya menjadi pemandangan wajib bagi seorang guru. Apalagi guru teknik/ kejuruan. Namun, apakah itu berarti siswa saya tidak mengerjakan tugas? Tentu tidak. 
Sebagai guru di era digital, saya memilih untuk memindahkan "meja kerja" saya ke ruang yang tak terbatas: Blog dan Cloud. 

Meja Tidak Ada Tumpukan Tugas?, Tugas Tetap Ada 
Saya percaya bahwa pembelajaran di kelas (KBM) harus tetap berjalan efektif, namun administrasi pengumpulan tugas harus bertransformasi. Saya memanfaatkan personal blog saya di www.sarastiana.com sebagai pusat kendali pembelajaran. Di sana, saya menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS) secara digital. Contohnya seperti tugas perencanaan waktu (Kurva S) yang baru saja saya rilis. Di dalam blog tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan instruksi tugas, tapi juga akses langsung ke materi pendukung, tutorial, hingga referensi teknik yang mereka butuhkan. Semuanya dalam satu genggaman ponsel mereka. Contoh Link:




Mengapa Pilih Pengumpulan Via Link? 
Mengapa saya meminta siswa mengumpulkan hasil produk atau tugas mereka melalui link upload? Ada tiga alasan utama: 
Efisiensi dan Kerapian: Tidak ada lagi drama tugas hilang, terselip, atau rusak karena tumpahan air. Semua tersimpan rapi berdasarkan folder nama dan kelas di sistem. 
Literasi Digital: Dengan mengupload tugas, siswa belajar cara mengelola file, memberi nama file yang benar, hingga memahami konsep penyimpanan cloud. Ini adalah soft skill wajib di dunia kerja nantinya. 
Koreksi Tanpa Batas Ruang: Saya bisa memeriksa tugas siswa kapan saja dan di mana saja tanpa harus membawa beban buku fisik yang berat saat pulang sekolah. 


Meja Bersih, Pikiran Fokus 
Jadi, jika meja saya terlihat kosong, itu karena semua kreativitas dan kerja keras siswa saya telah tersusun rapi di "awan". Hal ini justru memudahkan saya untuk lebih fokus pada substansi materi dan memberikan umpan balik (feedback) yang lebih cepat kepada mereka. Zaman berubah, cara kita mengajar pun harus beradaptasi. Meja boleh kosong, tapi pastikan "ruang belajar" siswa kita penuh dengan karya.

Blog Saya di www.sarastiana.com



Read More »
10 February | 0komentar

Tugas Membuat Perencanaan Waktu Pekerjaan (Kurva S)


A. PENDAHULUAN 
Dalam dunia konstruksi, seorang perencana tidak hanya dituntut mampu menggambar, tetapi juga harus presisi dalam menghitung biaya (RAB) dan mengatur waktu pelaksanaan agar proyek berjalan efektif dan efisien. Tugas ini akan menguji kemampuan analisis teknis dan manajerial Anda. 
Berikut dilampirkan Gambar kerja dan form file Excel RAB sebagai acuan mengerjakan tugas. Ikuti langkah-langkah tugas di bawah ini.
Diharapkan untuk membaca materi pendukung untuk memperkuat pemahaman pada link di bawah.



B. LANGKAH-LANGKAH TUGAS 
  • Download Gambar Kerja (Pdf) 
  • Download File RAB(Excel)
  • Hhitung Volume pekerjaan
  • Buat perencanaan Waktu Pelaksanaan (Kurva S)
  • Pastikan distribusi bobot pekerjaan logis dan membentuk grafik Kurva S yang ideal. 

Pengumpulan: Tugas dikumpulkan dalam format file (PDF) melalui tautan berikut: 


C. MATERI PENDUKUNG (REFERENSI) 
Untuk membantu Anda menyelesaikan tugas ini, silakan pelajari kembali materi-materi berikut: 
1: Memahami Konsep Kurva S [Materi]
2: Langkah Praktis Menyusun Kurva S di Excel [Materi ]
3: Unsur-Unsur Penting Pengelolaan Proyek [Materi]
4: Teknik Dasar Perencanaan Gedung Bertingkat] [Materi ]
5: Standar Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP)[Materi]

D. KRITERIA PENILAIAN 
Ketepatan Volume: Sejauh mana akurasi perhitungan berdasarkan gambar. 
Logika Penjadwalan: Kesesuaian urutan pekerjaan pada Kurva S. 
Kerapian Dokumen: Kebersihan dan keterbacaan laporan tugas.

"Pendidikan bukan soal apa yang anak hafal, tetapi siapa mereka saat dunia membutuhkan. Jadilah perencana yang presisi dan berintegritas!"

Read More »
08 February | 0komentar