Dalam hiruk-pikuk dunia digital saat ini, kata "membaca" sering kali tereduksi hanya sebatas memindai informasi di layar ponsel. Namun, jika kita kembali menengok sejarah melalui buku "Muhammad: A Prophet for Our Time" karya Karen Armstrong, kita akan menemukan bahwa perintah membaca (Iqra) memiliki kedalaman makna yang mampu mengubah peradaban.
Kehampaan di Gua Hira
Karen Armstrong menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang sangat peka terhadap krisis sosial dan moral di Mekkah saat itu. Di tengah ketidakadilan dan kesenjangan yang tajam, beliau memilih untuk menyendiri di Gua Hira.
Armstrong menekankan bahwa wahyu pertama tidak turun dalam suasana yang tenang dan puitis, melainkan sebuah pengalaman yang mendalam dan mengguncang.
Perintah "Iqra!" (Bacalah!) yang disampaikan Malaikat Jibril adalah sebuah paksaan kreatif. sebuah dorongan untuk melahirkan sesuatu yang baru dari dalam diri yang sebelumnya "buta" huruf dan makna.
Makna "Iqra": Lebih dari Sekadar Mengeja Huruf
Armstrong mengajak kita melihat bahwa saat wahyu itu turun, Muhammad SAW menjawab, "Ma ana bi qari" (Aku tidak bisa membaca). Namun, perintah itu terus diulang.
Menurut Armstrong, Iqra dalam konteks ini bukan sekadar mengeja teks tertulis, melainkan:
- Membaca Tanda-Tanda Zaman: Kepekaan terhadap penderitaan sesama dan ketimpangan sosial.
- Membaca Diri: Menemukan hakikat kemanusiaan di hadapan Sang Pencipta.
- Menyuarakan Kebenaran: Mengubah keheningan menjadi pesan yang menggerakkan.
Bagi kita di era modern, Iqra adalah perintah untuk melakukan literasi kritis. Bukan hanya menelan informasi, tapi memahami esensi dan dampak dari setiap pengetahuan yang kita peroleh.
Wahyu yang Mengubah Paradigma
Salah satu poin menarik yang diangkat Armstrong adalah bagaimana wahyu ini mengubah masyarakat Arab yang saat itu sangat membanggakan tradisi lisan dan kesukuan menjadi masyarakat yang sangat menghargai ilmu pengetahuan dan persaudaraan universal.
Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca, yang secara tidak langsung meletakkan fondasi bahwa pendidikan dan pengetahuan adalah kunci utama perubahan.
Sebagai seorang pendidik (seperti di jurusan DPIB), pesan ini sangat relevan: bahwa setiap desain bangunan atau struktur yang kita buat, harus diawali dengan kemampuan kita "membaca" kebutuhan dan kebermanfaatannya bagi manusia.
Melalui karya Armstrong, kita diingatkan bahwa menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW berarti menjadi pribadi yang literat. Pribadi yang tidak pernah berhenti belajar, yang matanya tajam membaca realitas, dan yang hatinya terbuka terhadap bimbingan wahyu.
Mari kita tanya pada diri sendiri: Di bulan yang mulia ini, sudah sejauh mana kita menjalankan perintah Iqra? Sudahkah bacaan kita membawa perubahan bagi karakter dan kontribusi kita di dunia?
Read More »
19 February | 0komentar























