Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In


Perangkat pembelajaran untuk menunjang Proses Belajar Mengajar(PBM) ini sesuai dengan kurikulum Merdeka. Informasi tentang CP dengan meng-KLIK gambar di atas. Perangkat pembelajaran Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan Bangunan pada Mata Pelajaran Mekanika Teknik


INSTAGRAM :@sarastiana1
        RECENT POST

Tugas Membuat Perencanaan Waktu Pekerjaan (Kurva S)


A. PENDAHULUAN 
Dalam dunia konstruksi, seorang perencana tidak hanya dituntut mampu menggambar, tetapi juga harus presisi dalam menghitung biaya (RAB) dan mengatur waktu pelaksanaan agar proyek berjalan efektif dan efisien. Tugas ini akan menguji kemampuan analisis teknis dan manajerial Anda. 
Berikut dilampirkan Gambar kerja dan form file Excel RAB sebagai acuan mengerjakan tugas. Ikuti langkah-langkah tugas di bawah ini.
Diharapkan untuk membaca materi pendukung untuk memperkuat pemahaman pada link di bawah.



B. LANGKAH-LANGKAH TUGAS 
  • Download Gambar Kerja (Pdf) 
  • Download File RAB(Excel)
  • Hhitung Volume pekerjaan
  • Buat perencanaan Waktu Pelaksanaan (Kurva S)
  • Pastikan distribusi bobot pekerjaan logis dan membentuk grafik Kurva S yang ideal. 

Pengumpulan: Tugas dikumpulkan dalam format file (PDF) melalui tautan berikut: 


C. MATERI PENDUKUNG (REFERENSI) 
Untuk membantu Anda menyelesaikan tugas ini, silakan pelajari kembali materi-materi berikut: 
1: Memahami Konsep Kurva S [Materi]
2: Langkah Praktis Menyusun Kurva S di Excel [Materi ]
3: Unsur-Unsur Penting Pengelolaan Proyek [Materi]
4: Teknik Dasar Perencanaan Gedung Bertingkat] [Materi ]
5: Standar Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP)[Materi]

D. KRITERIA PENILAIAN 
Ketepatan Volume: Sejauh mana akurasi perhitungan berdasarkan gambar. 
Logika Penjadwalan: Kesesuaian urutan pekerjaan pada Kurva S. 
Kerapian Dokumen: Kebersihan dan keterbacaan laporan tugas.

"Pendidikan bukan soal apa yang anak hafal, tetapi siapa mereka saat dunia membutuhkan. Jadilah perencana yang presisi dan berintegritas!"

Read More »
08 February | 0komentar

Saatnya Loading Makna

Sebagai seorang pendidik di SMK, pernah menelorkan 4 buku yang ber ISBN, buku-buku teknis dan literasi digital, serta bagian dari keluarga besar SMKN 1 Bukateja, saya sering merenung tentang hakikat sejati dari apa yang kita sebut "pendidikan". Apakah ia sekadar transfer ilmu, hafalan teori, atau pencapaian angka-angka di atas kertas? Sebuah kalimat selalu membayang-bayangi setiap langkah pengabdian saya: “Jika sekolah gagal membuat anak merasa hidupnya bermakna, maka setinggi apa pun nilainya, kita sedang mencetak kehampaan.” Kalimat ini bukan sekadar kutipan, melainkan sebuah alarm yang terus berbunyi di benak saya. Ia mengingatkan bahwa di balik kurikulum yang padat, di balik target kompetensi yang harus dicapai, ada jiwa-jiwa muda yang mencari makna. Jika kita abai akan pencarian itu, maka kita, para pendidik, secara tidak sadar sedang meracuni masa depan dengan kecerdasan yang hampa. 

Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Kemanusiaan 
Di kelas Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), saya tidak hanya mengajarkan siswa cara menghitung volume RAB, merancang denah, atau memahami rangka atap baja ringan. Di balik setiap rumus dan sketsa, saya selalu mencoba menanamkan pertanyaan: Untuk apa semua ini? Siapa yang akan diuntungkan dari bangunan yang kalian desain? Bagaimana karya kalian bisa memberi manfaat bagi sesama? 
Buku-buku yang saya tulis, seperti "Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket" atau "Mengenal Rangka Atap Baja Ringan", lahir dari keresahan ini. Saya ingin bukan hanya sekadar memberi alat (ilmu teknis), tetapi juga membekali mereka dengan visi bahwa setiap goresan pensil di atas kertas adalah langkah awal menuju pembangunan yang bertanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat. Demikian pula dengan "Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog". Ini bukan hanya tentang mengajarkan teknologi, tapi tentang bagaimana siswa bisa menemukan suara mereka, membangun portofolio yang bermakna, dan mengaktualisasikan diri sebagai individu yang relevan di era digital. 
Karena pendidikan, pada intinya, bukan soal apa yang anak hafal, tetapi siapa mereka saat dunia membutuhkan. Dunia tidak butuh sekadar penghafal rumus Pythagoras, melainkan problem solver yang berintegritas. Dunia tidak butuh penemu yang egois, melainkan inovator yang peduli. Dunia tidak butuh pembangun gedung pencakar langit yang rapuh etika, melainkan arsitek peradaban yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. 
Sebagai seorang guru yang juga aktif menulis, saya meyakini bahwa pendidikan adalah jembatan menuju kehidupan yang bermakna. Tugas kita, para pendidik, adalah menjadi pemandu bagi anak-anak untuk menemukan "api" di dalam diri mereka, untuk memahami bahwa setiap ilmu yang mereka serap adalah bekal untuk berkontribusi. Mungkin kita tidak akan selalu melihat buah dari benih yang kita tanam. Namun, keyakinan bahwa kita sedang membentuk generasi yang utuh generasi yang tidak hanya cerdas tapi juga punya hati dan tujuan adalah bahan bakar abadi bagi setiap guru. Mari kita pastikan, bahwa di setiap nilai yang mereka raih, ada makna hidup yang terukir. Di setiap langkah kaki mereka keluar dari gerbang sekolah, ada bekal kemanusiaan yang akan mereka bawa untuk menjawab panggilan dunia. Karena masa depan Indonesia, sejatinya, ada di tangan mereka yang tidak hanya pintar, tapi juga merasa hidupnya bermakna.

Read More »
06 February | 0komentar

Pendidikan Bukan Soal Hari Ini Saja

Saat kita berdiri di depan kelas, memegang spidol, atau membimbing jemari siswa merakit maket bangunan, mengajari membuat kurva S, seringkali kita terjebak dalam pikiran "jangka pendek". Kita berpikir tentang bagaimana materi hari ini selesai, bagaimana ujian besok lancar, atau bagaimana nilai raport semester ini tuntas. Namun, jika kita menarik napas lebih dalam dan melihat lebih jauh, sesungguhnya tugas kita jauh lebih besar dari sekadar kurikulum. Pendidikan bukan soal apa yang terjadi di dalam ruang kelas hari ini saja, tetapi tentang bagaimana wajah Indonesia di masa depan. 

Siswa Kita Adalah Arsitek Peradaban 
Setiap anak yang duduk di bangku SMK hari ini, mereka yang sedang bergelut dengan rumus RAB atau detail rangka atap baja ringan, adalah orang-orang yang kelak akan membangun gedung-gedung di negeri ini. Mereka adalah orang-orang yang akan mengambil keputusan penting, yang akan memimpin keluarga, dan yang akan menentukan arah ekonomi bangsa. 
Jika hari ini kita hanya mengajar mereka cara menghitung RAB tanpa mengajarkan kejujuran, maka masa depan Indonesia akan dipenuhi oleh orang pintar yang culas. Jika hari ini kita hanya mengajar mereka teknis bangunan tanpa mengajarkan tanggung jawab, maka masa depan kita akan dipenuhi oleh infrastruktur yang rapuh.

Menanam Pohon yang Mungkin Tak Pernah Kita Nikmati Buahnya 
Mendidik adalah pekerjaan menanam pohon. Seringkali, kita sebagai guru tidak akan pernah sempat duduk di bawah rindang daunnya atau mencicipi manis buahnya. Hasil dari pendidikan yang kita berikan hari ini mungkin baru akan terlihat 10, 20, atau 30 tahun lagi. Namun, di situlah letak kemuliaannya. Kita sedang menitipkan nilai-nilai, karakter, dan semangat pantang menyerah kepada generasi yang akan memegang kendali Indonesia saat kita sudah purna tugas. Pendidikan Sebagai Investasi Peradaban Pendidikan yang visioner adalah pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman. 
Di era digital ini, kita tidak hanya mencetak tukang, tetapi mencetak inovator. Kita tidak hanya mencetak pekerja, tetapi mencetak pemimpin yang adaptif. Wajah Indonesia di tahun 2045, saat kita merayakan Indonesia Emas, ditentukan oleh interaksi antara kita dan siswa kita di pagi hari ini. 
Apakah kita menginspirasi mereka? 
Apakah kita memberi mereka ruang untuk bermimpi? 
Ataukah kita justru memadamkan binar mata mereka dengan tumpukan tugas yang tanpa makna? 

Setiap siswa sebagai "pesan" yang kita kirimkan ke masa depan, pesan tentang kerja keras, integritas, dan cinta pada tanah air, sebagai sebuah instruksi yang kita berikan hari ini adalah goresan tinta pada sketsa besar wajah Indonesia di masa depan. Mari kita lukis dengan penuh cinta dan kesungguhan.

Read More »
05 February | 0komentar

Kembali ke Akar: Menggugat Makna di Balik Angka dan Nilai

Dalam dunia pendidikan yang semakin bising dengan tuntutan kurikulum, administrasi, dan skor ujian, kita seringkali kehilangan arah. Kita terjebak dalam rutinitas "mentransfer materi" tanpa sempat bertanya: Sebenarnya, apa yang sedang kita bangun dalam diri anak-anak kita? Mari kita sejenak berhenti dan menggunakan First Principle Thinking, sebuah cara berpikir dari dasar untuk membedah esensi pendidikan kita hari ini. Ada satu prinsip dasar yang harus kita sadari: “Jika sekolah gagal membuat anak merasa hidupnya bermakna, maka setinggi apa pun nilainya, kita sedang mencetak kehampaan.

"Pabrik" Kehampaan 
Kita sering membanggakan nilai raport yang tinggi, kelulusan 100%, atau sertifikat kompetensi yang berderet. Namun, jika di balik angka-angka itu ada anak yang tidak tahu untuk apa dia hidup, anak yang merasa dirinya hanyalah sekadar angka di buku absen, maka sesungguhnya kita sedang gagal. Pendidikan yang hanya berfokus pada hafalan dan kepatuhan tanpa makna hanyalah sebuah proses mekanis. Kita tidak sedang mendidik manusia; kita sedang memprogram robot. Dampaknya? Kita melihat generasi yang cerdas secara kognitif, namun rapuh secara mental dan kehilangan empati. Mereka memiliki "alat" (skill), tapi tidak memiliki "tujuan" (purpose). 
Kita harus berani mengakui bahwa dunia luar tidak akan bertanya berapa nilai ulangan harian kita sepuluh tahun yang lalu. Dunia tidak butuh anak yang hanya mampu menghafal rumus tanpa tahu cara menggunakannya untuk memecahkan masalah kemanusiaan. Sebab, pendidikan bukan soal apa yang anak hafal, tetapi SIAPA mereka saat dunia membutuhkan. Saat dunia dilanda krisis, yang kita butuhkan bukanlah penghafal teks, melainkan manusia yang memiliki: 
Integritas: Siapa mereka saat tidak ada yang melihat? 
Resiliensi: Bagaimana mereka bangkit saat gagal? 
Kasih Sayang: Bagaimana mereka memperlakukan sesama yang sedang kesulitan? 
Tugas Kita: 
Menghidupkan Makna Sebagai guru, tugas utama kita bukan sekadar menghabiskan bab dalam buku paket. Tugas kita adalah membantu setiap anak menemukan "api" di dalam dirinya. Menunjukkan bahwa apa yang mereka pelajari di lab DPIB, di depan komputer, atau di ruang kelas, memiliki kaitan erat dengan peran mereka di masyarakat nanti. 
Sekolah harus menjadi tempat di mana anak merasa berarti. Tempat di mana mereka sadar bahwa kehadiran mereka di dunia ini membawa sebuah misi penting. 
Mari kita kembali ke prinsip dasar itu. Jangan biarkan ruang kelas kita menjadi pabrik kehampaan yang dingin. Mari kita bangun koneksi, hadirkan makna, dan bantu mereka menjadi manusia yang utuh. Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak dilihat dari daftar nilai di meja kantor, melainkan dari binar mata anak didik yang merasa hidupnya berharga dan siap memberikan karya terbaiknya bagi dunia.
Referensi : grup WA GSM Kab.Purbalingga

Read More »
03 February | 0komentar

Sinopsis Karya Buku

Sinopsis Karya Literasi (Buku ber-ISBN) oleh Sarastiana, S.Pd., M.B.A. 
Untuk memberikan gambaran/ringkasan singkat, padat, dan jelas yang menggambarkan garis besar isi sebuah buku hasil karya saya, dari awal hingga akhir. Fungsi utamanya adalah memberikan gambaran umum mengenai isi, materi, tujuan atau poin penting. 
1. Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket (ISBN: 978-623-7703-19-8) 
Inovasi Pembelajaran Teknik. Banyak siswa merasa kesulitan membayangkan volume bangunan hanya dari gambar 2D. Buku ini hadir memberikan solusi konkret: menggunakan media maket sebagai jembatan visual. Pembaca akan dipandu bagaimana mengonversi wujud fisik maket menjadi perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang akurat, menjadikannya panduan wajib bagi guru DPIB yang ingin kelasnya lebih dinamis dan mudah dipahami. 



2. Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog (ISBN: 978-623-320-202-2) 

Digitalisasi Pendidikan & Literasi. Blog bukan sekadar catatan harian, melainkan ekosistem belajar yang tanpa batas. Buku ini merangkum pengalaman saya bertahun-tahun mengelola blog pendidikan hingga memenangkan berbagai penghargaan. Di dalamnya, dibahas tuntas cara membangun blog sebagai media ajar yang interaktif, tempat menyimpan portofolio siswa, sekaligus sarana aktualisasi diri bagi guru di era digital. 


3. Mengenal Rangka Atap Baja Ringan (ISBN: 978-602-0793-54-2) 

Pengetahuan Teknis Konstruksi. Industri konstruksi bergerak cepat menuju material yang praktis dan efisien. Buku ini menyajikan dasar-dasar pengetahuan tentang rangka atap baja ringan, mulai dari jenis material, keunggulan, hingga prinsip pemasangannya. Disusun dengan bahasa yang lugas, buku ini sangat cocok menjadi referensi dasar bagi siswa SMK bangunan maupun masyarakat umum yang ingin mengenal teknologi atap modern. 


4. 1001 Desain Rumah Minimalis (ISBN: 978-623-8729-87-6) 

Inspirasi Desain & Arsitektur. Rumah minimalis tetap menjadi primadona, namun tantangannya adalah bagaimana memaksimalkan fungsi di lahan terbatas. Buku ini adalah kumpulan ide dan eksplorasi desain yang saya susun untuk memberikan inspirasi bagi siapa saja yang ingin merancang hunian estetis, sehat, dan fungsional. Sebuah karya yang menggabungkan sisi teknis DPIB dengan seni arsitektur. 

Read More »
02 February | 0komentar

Koneksi Sebelum Instruksi

Gambar by AI
Masalah utama di kelas kita seringkali bukan pada teknik atau metode mengajar. Bukan pula sepenuhnya salah anak-anak. Masalahnya ada pada konektivitas. Sebagai pendidik, kita adalah sumber energi belajar. Jika energi di dalam diri kita rendah, redup, atau bahkan kosong, maka jangan heran jika anak-anak di depan kita ikut meredup. Ing Ngarso Sung Tulodho apa yang ada di depan, itulah yang menjadi teladan. 
Energi kita mengalir ke mereka. Bonding (membangun koneksi) bukanlah sesi yang berlebihan atau sekadar basa-basi. Bonding adalah tentang membangun konektivitas: 
  • Hadir secara utuh: Bukan hanya raga yang di kelas, tapi pikiran dan hati juga ada di sana. 
  • Menyapa sebagai manusia: Mengenali mereka bukan sebagai nomor absen, tapi sebagai individu yang punya rasa. 
  • Menciptakan ruang aman: Ruang di mana mereka merasa nyaman untuk berpendapat tanpa takut salah. 
  • Buat anak termotivasi: sekali-kali tunjukan prestasi kita sebagai guru/ anggota masyarakat.

Koneksi Sebelum Instruksi 
Ilmu akan menemukan jalannya sendiri jika koneksi sudah terbentuk. Tanpa koneksi, instruksi sehebat apa pun hanya akan memantul di dinding kelas. Mari kita coba mengubah pendekatan kita. Hadirkan diri kita sepenuhnya sebelum menghadirkan materi. Bangun koneksi yang tulus sebelum memberikan instruksi yang kaku. Ketika jembatan hati sudah terbangun, pelan-pelan kita akan melihat perubahan itu: 
  • Wajah anak-anak yang mulai "hidup". 
  • Mata yang kembali bersinar karena merasa diperhatikan. 
  • Kelas yang kembali "bernapas" dan dinamis. 
Menjadi guru berarti siap untuk belajar dua kali lipat. Dan pelajaran terberat sekaligus terpenting yang harus kita pelajari bukanlah materi pelajaran kita, melainkan belajar menghadirkan diri. Karena pada akhirnya, guru yang hebat tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi mengajar manusia melalui kehadiran yang bermakna.

"Bagaimana cara memulai bonding jika waktu kita terbatas oleh kurikulum?" Jawabannya adalah konsistensi, bukan durasi. Coba luangkan 3 menit pertama sebelum membuka buku teks dengan langkah-langkah ini: 
  • Menyapa dengan Mata dan Nama (1 Menit) Jangan masuk kelas sambil menunduk melihat HP atau buku absen. Berdirilah di depan, tatap mata mereka satu per satu dengan senyum tulus. Sebut beberapa nama secara acak dan tanyakan kabar spesifik (misal: "Gimana pertandingan futsalmu kemarin, Andi?"). Ini membuat mereka merasa "terlihat". 
  • Cek Suasana Hati / "Check-in" (1 Menit) Gunakan teknik sederhana seperti Emoji Check-in. Mintalah mereka menunjukkan jempol ke atas jika merasa semangat, jempol ke samping jika biasa saja, atau jempol ke bawah jika sedang lelah/sedih. Ini adalah cara cepat untuk memvalidasi perasaan mereka sebelum dipaksa berpikir keras. 
  • Hadirkan Cerita Singkat atau Tebakan (1 Menit) Bagikan satu cerita singkat tentang apa yang Bapak alami pagi ini atau berikan satu teka-teki receh. Tujuannya adalah memecah kekakuan dan memicu tawa kecil. Tawa adalah cara tercepat untuk membuka "pintu" otak yang tertutup. 
Ingatlah prinsip ini: "Connection before Content" (Koneksi sebelum Materi). Jika jembatan hatinya sudah terbangun, maka materi sesulit apa pun akan lebih mudah diseberangkan.

Read More »
31 January | 0komentar