Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In


Perangkat pembelajaran untuk menunjang Proses Belajar Mengajar(PBM) ini sesuai dengan kurikulum Merdeka. Informasi tentang CP dengan meng-KLIK gambar di atas. Perangkat pembelajaran Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan Bangunan pada Mata Pelajaran Mekanika Teknik


INSTAGRAM :@sarastiana1
        RECENT POST

Jejak Pendidik: Menenun Makna di Ruang Kelas

Bagi banyak orang, mengajar adalah sebuah profesi yang dibatasi oleh bel masuk dan bel pulang. Namun bagi saya, menjadi pendidik adalah sebuah perjalanan spiritual untuk meninggalkan jejak yang tak terhapus oleh waktu. Menu "Jejak Pendidik" di blog ini bukan sekadar portofolio digital, melainkan sebuah rekam jejak evolusi pemikiran saya dalam menghadapi tantangan zaman. 

 "Suara guru di kelas hanya bertahan hingga bel pulang, namun tulisan guru di buku akan terus mengajar melampaui usia sang pendidik itu sendiri." 

1. Memanusiakan Teknologi (High Tech, High Touch) 
Dunia pendidikan hari ini sering kali terjebak pada digitalisasi yang "dingin". Kita memberikan link tugas, kita menggunakan aplikasi, tapi sering kali kita kehilangan "ruh" pendidikan itu sendiri. Dalam jejak saya, saya berusaha membuktikan bahwa teknologi bukan pengganti guru, melainkan penguat resonansi kasih sayang guru. Meja kerja saya boleh bersih dari kertas karena semua tugas tersimpan rapi di sistem cloud, namun ruang percakapan dengan siswa justru semakin hangat. 

 "Meja kerja yang bersih bukan berarti tanpa tugas, melainkan bukti bahwa kreativitas siswa telah rapi tersusun di awan (cloud), menunggu untuk dikoreksi dengan hati." 

2. Literasi: Cara Guru "Melawan" Lupa 
Mengapa saya begitu gigih menulis hingga melahirkan empat buku ber-ISBN? Karena saya menyadari bahwa menulis adalah cara saya melakukan refleksi. Setiap kali saya menemui kendala dalam mengajar materi EBK atau DPIB, saya menuliskannya. Dari kegelisahan itulah lahir ide-ide kreatif yang kemudian dibukukan. Menulis menjadikan saya pendidik yang tidak hanya "pemakai" ilmu, tapi juga "produsen" ilmu. 

3. Koneksi Sebelum Instruksi 
Di era kecerdasan buatan, saya tetap memegang teguh prinsip bahwa hubungan manusia adalah kunci. Link-link tugas yang saya sertakan di blog sarastiana.com adalah simulasi dunia kerja nyata bagi siswa. Namun, sebelum mereka menyentuh layar, saya harus memastikan mereka merasa didengar dan dibimbing. 

 "Di era kecerdasan buatan, teknologi hanyalah alat. Ruh pendidikan yang sesungguhnya tetaplah koneksi hati antara guru dan siswa sebelum instruksi diberikan." 

4. Sebuah Harapan untuk Rekan Sejawat
Jejak ini saya buka lebar-lebar bukan untuk pamer pencapaian, melainkan untuk mengajak rekan-rekan guru lainnya: Ayo, tuliskan ceritamu. Kita perlu mendokumentasikan praktik baik kita agar menjadi lentera bagi guru-guru muda yang baru memulai perjalanannya. 

 "Kita tidak hanya sedang mengajarkan cara menggambar garis atau menghitung volume beton; kita sedang membangun pondasi karakter agar masa depan mereka tidak retak oleh tantangan zaman."

Jejak yang Tak Akan Usai Pensiun mungkin akan menghentikan status kepegawaian saya suatu hari nanti, namun "Jejak Pendidik" ini akan terus berjalan. Tulisan-tulisan ini adalah saksi bahwa saya pernah berjuang, pernah gagal, dan terus belajar demi tunas-tunas bangsa. Mari terus melangkah, terus menulis, dan terus menginspirasi.

Read More »
11 February | 0komentar

"Meja Kosong, Tapi Tugas Bergunung: Menjadi Guru di Era Digital"

"Pak, kok mejanya bersih sekali? Ndak ada tumpukan kertas atau buku tugas siswa? Memangnya bapak ndak pernah kasih tugas ya?" Pertanyaan salah satu rekan, membuat saya tersenyum. Memang benar, jika dilihat secara fisik, meja kerja saya jarang sekali dihiasi oleh "gunung" buku tulis atau lembaran folio tugas siswa yang biasanya menjadi pemandangan wajib bagi seorang guru. Apalagi guru teknik/ kejuruan. Namun, apakah itu berarti siswa saya tidak mengerjakan tugas? Tentu tidak. 
Sebagai guru di era digital, saya memilih untuk memindahkan "meja kerja" saya ke ruang yang tak terbatas: Blog dan Cloud. 

Meja Tidak Ada Tumpukan Tugas?, Tugas Tetap Ada 
Saya percaya bahwa pembelajaran di kelas (KBM) harus tetap berjalan efektif, namun administrasi pengumpulan tugas harus bertransformasi. Saya memanfaatkan personal blog saya di www.sarastiana.com sebagai pusat kendali pembelajaran. Di sana, saya menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS) secara digital. Contohnya seperti tugas perencanaan waktu (Kurva S) yang baru saja saya rilis. Di dalam blog tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan instruksi tugas, tapi juga akses langsung ke materi pendukung, tutorial, hingga referensi teknik yang mereka butuhkan. Semuanya dalam satu genggaman ponsel mereka. Contoh Link:




Mengapa Pilih Pengumpulan Via Link? 
Mengapa saya meminta siswa mengumpulkan hasil produk atau tugas mereka melalui link upload? Ada tiga alasan utama: 
Efisiensi dan Kerapian: Tidak ada lagi drama tugas hilang, terselip, atau rusak karena tumpahan air. Semua tersimpan rapi berdasarkan folder nama dan kelas di sistem. 
Literasi Digital: Dengan mengupload tugas, siswa belajar cara mengelola file, memberi nama file yang benar, hingga memahami konsep penyimpanan cloud. Ini adalah soft skill wajib di dunia kerja nantinya. 
Koreksi Tanpa Batas Ruang: Saya bisa memeriksa tugas siswa kapan saja dan di mana saja tanpa harus membawa beban buku fisik yang berat saat pulang sekolah. 


Meja Bersih, Pikiran Fokus 
Jadi, jika meja saya terlihat kosong, itu karena semua kreativitas dan kerja keras siswa saya telah tersusun rapi di "awan". Hal ini justru memudahkan saya untuk lebih fokus pada substansi materi dan memberikan umpan balik (feedback) yang lebih cepat kepada mereka. Zaman berubah, cara kita mengajar pun harus beradaptasi. Meja boleh kosong, tapi pastikan "ruang belajar" siswa kita penuh dengan karya.

Blog Saya di www.sarastiana.com



Read More »
10 February | 0komentar

Tugas Membuat Perencanaan Waktu Pekerjaan (Kurva S)


A. PENDAHULUAN 
Dalam dunia konstruksi, seorang perencana tidak hanya dituntut mampu menggambar, tetapi juga harus presisi dalam menghitung biaya (RAB) dan mengatur waktu pelaksanaan agar proyek berjalan efektif dan efisien. Tugas ini akan menguji kemampuan analisis teknis dan manajerial Anda. 
Berikut dilampirkan Gambar kerja dan form file Excel RAB sebagai acuan mengerjakan tugas. Ikuti langkah-langkah tugas di bawah ini.
Diharapkan untuk membaca materi pendukung untuk memperkuat pemahaman pada link di bawah.



B. LANGKAH-LANGKAH TUGAS 
  • Download Gambar Kerja (Pdf) 
  • Download File RAB(Excel)
  • Hhitung Volume pekerjaan
  • Buat perencanaan Waktu Pelaksanaan (Kurva S)
  • Pastikan distribusi bobot pekerjaan logis dan membentuk grafik Kurva S yang ideal. 

Pengumpulan: Tugas dikumpulkan dalam format file (PDF) melalui tautan berikut: 


C. MATERI PENDUKUNG (REFERENSI) 
Untuk membantu Anda menyelesaikan tugas ini, silakan pelajari kembali materi-materi berikut: 
1: Memahami Konsep Kurva S [Materi]
2: Langkah Praktis Menyusun Kurva S di Excel [Materi ]
3: Unsur-Unsur Penting Pengelolaan Proyek [Materi]
4: Teknik Dasar Perencanaan Gedung Bertingkat] [Materi ]
5: Standar Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP)[Materi]

D. KRITERIA PENILAIAN 
Ketepatan Volume: Sejauh mana akurasi perhitungan berdasarkan gambar. 
Logika Penjadwalan: Kesesuaian urutan pekerjaan pada Kurva S. 
Kerapian Dokumen: Kebersihan dan keterbacaan laporan tugas.

"Pendidikan bukan soal apa yang anak hafal, tetapi siapa mereka saat dunia membutuhkan. Jadilah perencana yang presisi dan berintegritas!"

Read More »
08 February | 0komentar

Saatnya Loading Makna

Sebagai seorang pendidik di SMK, pernah menelorkan 4 buku yang ber ISBN, buku-buku teknis dan literasi digital, serta bagian dari keluarga besar SMKN 1 Bukateja, saya sering merenung tentang hakikat sejati dari apa yang kita sebut "pendidikan". Apakah ia sekadar transfer ilmu, hafalan teori, atau pencapaian angka-angka di atas kertas? Sebuah kalimat selalu membayang-bayangi setiap langkah pengabdian saya: “Jika sekolah gagal membuat anak merasa hidupnya bermakna, maka setinggi apa pun nilainya, kita sedang mencetak kehampaan.” Kalimat ini bukan sekadar kutipan, melainkan sebuah alarm yang terus berbunyi di benak saya. Ia mengingatkan bahwa di balik kurikulum yang padat, di balik target kompetensi yang harus dicapai, ada jiwa-jiwa muda yang mencari makna. Jika kita abai akan pencarian itu, maka kita, para pendidik, secara tidak sadar sedang meracuni masa depan dengan kecerdasan yang hampa. 

Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Kemanusiaan 
Di kelas Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), saya tidak hanya mengajarkan siswa cara menghitung volume RAB, merancang denah, atau memahami rangka atap baja ringan. Di balik setiap rumus dan sketsa, saya selalu mencoba menanamkan pertanyaan: Untuk apa semua ini? Siapa yang akan diuntungkan dari bangunan yang kalian desain? Bagaimana karya kalian bisa memberi manfaat bagi sesama? 
Buku-buku yang saya tulis, seperti "Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket" atau "Mengenal Rangka Atap Baja Ringan", lahir dari keresahan ini. Saya ingin bukan hanya sekadar memberi alat (ilmu teknis), tetapi juga membekali mereka dengan visi bahwa setiap goresan pensil di atas kertas adalah langkah awal menuju pembangunan yang bertanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat. Demikian pula dengan "Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog". Ini bukan hanya tentang mengajarkan teknologi, tapi tentang bagaimana siswa bisa menemukan suara mereka, membangun portofolio yang bermakna, dan mengaktualisasikan diri sebagai individu yang relevan di era digital. 
Karena pendidikan, pada intinya, bukan soal apa yang anak hafal, tetapi siapa mereka saat dunia membutuhkan. Dunia tidak butuh sekadar penghafal rumus Pythagoras, melainkan problem solver yang berintegritas. Dunia tidak butuh penemu yang egois, melainkan inovator yang peduli. Dunia tidak butuh pembangun gedung pencakar langit yang rapuh etika, melainkan arsitek peradaban yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. 
Sebagai seorang guru yang juga aktif menulis, saya meyakini bahwa pendidikan adalah jembatan menuju kehidupan yang bermakna. Tugas kita, para pendidik, adalah menjadi pemandu bagi anak-anak untuk menemukan "api" di dalam diri mereka, untuk memahami bahwa setiap ilmu yang mereka serap adalah bekal untuk berkontribusi. Mungkin kita tidak akan selalu melihat buah dari benih yang kita tanam. Namun, keyakinan bahwa kita sedang membentuk generasi yang utuh generasi yang tidak hanya cerdas tapi juga punya hati dan tujuan adalah bahan bakar abadi bagi setiap guru. Mari kita pastikan, bahwa di setiap nilai yang mereka raih, ada makna hidup yang terukir. Di setiap langkah kaki mereka keluar dari gerbang sekolah, ada bekal kemanusiaan yang akan mereka bawa untuk menjawab panggilan dunia. Karena masa depan Indonesia, sejatinya, ada di tangan mereka yang tidak hanya pintar, tapi juga merasa hidupnya bermakna.

Read More »
06 February | 0komentar

Pendidikan Bukan Soal Hari Ini Saja

Saat kita berdiri di depan kelas, memegang spidol, atau membimbing jemari siswa merakit maket bangunan, mengajari membuat kurva S, seringkali kita terjebak dalam pikiran "jangka pendek". Kita berpikir tentang bagaimana materi hari ini selesai, bagaimana ujian besok lancar, atau bagaimana nilai raport semester ini tuntas. Namun, jika kita menarik napas lebih dalam dan melihat lebih jauh, sesungguhnya tugas kita jauh lebih besar dari sekadar kurikulum. Pendidikan bukan soal apa yang terjadi di dalam ruang kelas hari ini saja, tetapi tentang bagaimana wajah Indonesia di masa depan. 

Siswa Kita Adalah Arsitek Peradaban 
Setiap anak yang duduk di bangku SMK hari ini, mereka yang sedang bergelut dengan rumus RAB atau detail rangka atap baja ringan, adalah orang-orang yang kelak akan membangun gedung-gedung di negeri ini. Mereka adalah orang-orang yang akan mengambil keputusan penting, yang akan memimpin keluarga, dan yang akan menentukan arah ekonomi bangsa. 
Jika hari ini kita hanya mengajar mereka cara menghitung RAB tanpa mengajarkan kejujuran, maka masa depan Indonesia akan dipenuhi oleh orang pintar yang culas. Jika hari ini kita hanya mengajar mereka teknis bangunan tanpa mengajarkan tanggung jawab, maka masa depan kita akan dipenuhi oleh infrastruktur yang rapuh.

Menanam Pohon yang Mungkin Tak Pernah Kita Nikmati Buahnya 
Mendidik adalah pekerjaan menanam pohon. Seringkali, kita sebagai guru tidak akan pernah sempat duduk di bawah rindang daunnya atau mencicipi manis buahnya. Hasil dari pendidikan yang kita berikan hari ini mungkin baru akan terlihat 10, 20, atau 30 tahun lagi. Namun, di situlah letak kemuliaannya. Kita sedang menitipkan nilai-nilai, karakter, dan semangat pantang menyerah kepada generasi yang akan memegang kendali Indonesia saat kita sudah purna tugas. Pendidikan Sebagai Investasi Peradaban Pendidikan yang visioner adalah pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman. 
Di era digital ini, kita tidak hanya mencetak tukang, tetapi mencetak inovator. Kita tidak hanya mencetak pekerja, tetapi mencetak pemimpin yang adaptif. Wajah Indonesia di tahun 2045, saat kita merayakan Indonesia Emas, ditentukan oleh interaksi antara kita dan siswa kita di pagi hari ini. 
Apakah kita menginspirasi mereka? 
Apakah kita memberi mereka ruang untuk bermimpi? 
Ataukah kita justru memadamkan binar mata mereka dengan tumpukan tugas yang tanpa makna? 

Setiap siswa sebagai "pesan" yang kita kirimkan ke masa depan, pesan tentang kerja keras, integritas, dan cinta pada tanah air, sebagai sebuah instruksi yang kita berikan hari ini adalah goresan tinta pada sketsa besar wajah Indonesia di masa depan. Mari kita lukis dengan penuh cinta dan kesungguhan.

Read More »
05 February | 0komentar

Kembali ke Akar: Menggugat Makna di Balik Angka dan Nilai

Dalam dunia pendidikan yang semakin bising dengan tuntutan kurikulum, administrasi, dan skor ujian, kita seringkali kehilangan arah. Kita terjebak dalam rutinitas "mentransfer materi" tanpa sempat bertanya: Sebenarnya, apa yang sedang kita bangun dalam diri anak-anak kita? Mari kita sejenak berhenti dan menggunakan First Principle Thinking, sebuah cara berpikir dari dasar untuk membedah esensi pendidikan kita hari ini. Ada satu prinsip dasar yang harus kita sadari: “Jika sekolah gagal membuat anak merasa hidupnya bermakna, maka setinggi apa pun nilainya, kita sedang mencetak kehampaan.

"Pabrik" Kehampaan 
Kita sering membanggakan nilai raport yang tinggi, kelulusan 100%, atau sertifikat kompetensi yang berderet. Namun, jika di balik angka-angka itu ada anak yang tidak tahu untuk apa dia hidup, anak yang merasa dirinya hanyalah sekadar angka di buku absen, maka sesungguhnya kita sedang gagal. Pendidikan yang hanya berfokus pada hafalan dan kepatuhan tanpa makna hanyalah sebuah proses mekanis. Kita tidak sedang mendidik manusia; kita sedang memprogram robot. Dampaknya? Kita melihat generasi yang cerdas secara kognitif, namun rapuh secara mental dan kehilangan empati. Mereka memiliki "alat" (skill), tapi tidak memiliki "tujuan" (purpose). 
Kita harus berani mengakui bahwa dunia luar tidak akan bertanya berapa nilai ulangan harian kita sepuluh tahun yang lalu. Dunia tidak butuh anak yang hanya mampu menghafal rumus tanpa tahu cara menggunakannya untuk memecahkan masalah kemanusiaan. Sebab, pendidikan bukan soal apa yang anak hafal, tetapi SIAPA mereka saat dunia membutuhkan. Saat dunia dilanda krisis, yang kita butuhkan bukanlah penghafal teks, melainkan manusia yang memiliki: 
Integritas: Siapa mereka saat tidak ada yang melihat? 
Resiliensi: Bagaimana mereka bangkit saat gagal? 
Kasih Sayang: Bagaimana mereka memperlakukan sesama yang sedang kesulitan? 
Tugas Kita: 
Menghidupkan Makna Sebagai guru, tugas utama kita bukan sekadar menghabiskan bab dalam buku paket. Tugas kita adalah membantu setiap anak menemukan "api" di dalam dirinya. Menunjukkan bahwa apa yang mereka pelajari di lab DPIB, di depan komputer, atau di ruang kelas, memiliki kaitan erat dengan peran mereka di masyarakat nanti. 
Sekolah harus menjadi tempat di mana anak merasa berarti. Tempat di mana mereka sadar bahwa kehadiran mereka di dunia ini membawa sebuah misi penting. 
Mari kita kembali ke prinsip dasar itu. Jangan biarkan ruang kelas kita menjadi pabrik kehampaan yang dingin. Mari kita bangun koneksi, hadirkan makna, dan bantu mereka menjadi manusia yang utuh. Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak dilihat dari daftar nilai di meja kantor, melainkan dari binar mata anak didik yang merasa hidupnya berharga dan siap memberikan karya terbaiknya bagi dunia.
Referensi : grup WA GSM Kab.Purbalingga

Read More »
03 February | 0komentar