Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In


Perangkat pembelajaran untuk menunjang Proses Belajar Mengajar(PBM) ini sesuai dengan kurikulum Merdeka. Informasi tentang CP dengan meng-KLIK gambar di atas. Perangkat pembelajaran Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan Bangunan pada Mata Pelajaran Mekanika Teknik


INSTAGRAM :@sarastiana1
        RECENT POST

Legacy Para Sesepuh: Jangan Sampai Kita Gagal Nerusin

Dari Kiri Ke Kanan : Siwo Karto, Mbah Wir, Siwo Parto, Mbah Daryati, Mbah Rakonah 

WAKTU banyak yang terbuang begitu saja dan berlalu. Bahkan tak jarang mengisi waktu dengan rentetan kesia-siaan. Padahal menjaga waktu merupakan sebuah kewajiban. Kehidupan ini amatlah singkat, maka haruslah seorang muslim menjaga waktu dengan hal-hal bermanfaat.  Bagaimana para Sesepuh kita telah memanfaatkan waktu dengan mengelolanya membimbing, mengasuh tak kenal lelah untuk kesuksesan anak, cucu dan cicit.  
Semangat yang para sesepuh kita/ Panjer wujudkan melalui berbagai gemblengan kepada kita semua  sebagai anak, cucu dan cicit. Dalam mendidik mereka berdasarkan pada kasih sayang, satu kata yaitu keberhasilan. Meski para Panjer Trah Djaja Wikarta telah berpulang Kehadiratnya semua. Kita sebagai penerusnya wajib untuk mewarisi semangat yang Beliau-Beliau tanamkan kepada kita. Memanfaatkan waktu agar hidup kita tidak sia-sia termakan oleh perputaran roda kehidupan.  
Berikut beberapa petuah dari para ulama yang bisa menjadi nasihat dan juga pengingat bagi kita untuk menjaga waktu.  

1. Waktu Pasti akan Berlalu,  
Beramallah  “Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah." Kita tidak pernah tahu berapa banyak lagi sisa waktu kita, entah sampai hari ini, besok atau kapan pun itu. Yang jelas kita harus menjaga waktu tersebut dengan berbagai macam hal baik dan bermanfaat. Jangan biarkan waktu berlalu tapi diri tidak ada perubahan sedikit pun. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pernah mengungkapkan (wallahu a’lam).  “Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”   

2. Waktu Bagaikan Pedang. 
  “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.” Kita perlu sekali lebih menjaga waktu dengan baik, terlebih di masa pandemi hari ini. Karena kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kalau kita tidak isi dengan hal-hal yang baik maka waktu tersebut akan terisi dengan kesia-siaan dan berlalu begitu saja.  
Kita bisa menjaga waktu di rumah saja dengan melakukan berbagai macam amal soleh seperti solat, tilawah Al-Qur’an, menuntut ilmu dan masih banyak lagi. ika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari karena enggan menjaga waktu yang Allah berikan. Dan jangan sampai kita menyesal di alam kubur karena belum sempat bermalah soleh. 

3. Janganlah Sia-siakan Waktumu  
Selain untuk Mengingat Allah Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami,  ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”  Menjaga waktu memanglah tidak mudah, tapi semua bisa kita usahakan bila selalu ada keinginan di dalam diri. Semoga kita semua selalu menjaga waktu yang sudah Allah berikan. Menjaganya dengan melakukan amal soleh dan menjauhi kemaksiatan.

Read More »
26 March | 0komentar

Mengungkap Dahsyatnya Umroh dari Iman dan Sains

Mendapatkan pengalaman ruhani yang penuh makna dari Ir. Reza Aulia Akbar,S.T.,M.T., MBA dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang membawakan tema “Menelisik Keutamaan Umroh dan Menjemput Panggilan-Nya”. Kajian ini tidak hanya mengupas sisi keagamaan, tetapi juga mengaitkannya dengan pendekatan ilmiah yang membuka wawasan baru bagi para jamaah. 

Umroh: Bukan Sekadar Soal Mampu 
Pertanyaan mendasar yang mengawali kajian ini adalah: apakah umroh dan haji hanya untuk orang yang mampu secara fisik dan finansial? Melalui hadits Rasulullah ﷺ, dijelaskan bahwa orang yang berhaji dan berumroh adalah tamu Allah. Mereka yang datang memenuhi panggilan-Nya akan mendapatkan keistimewaan: doa yang dikabulkan dan ampunan yang diberikan. 
Hal yang menarik, pemateri menekankan bahwa umroh bukan sekadar soal kemampuan, tetapi tentang “panggilan”. Banyak orang yang secara materi mampu, namun belum juga berangkat. Sebaliknya, tidak sedikit yang secara logika belum mampu, tetapi Allah mudahkan jalannya.  

Panggilan umroh bisa hadir dari berbagai arah: Kebiasaan atau aktivitas yang kita jalani Dorongan keluarga terdekat Hadiah atau apresiasi Bahkan dari pihak yang tak disangka Di sinilah pentingnya menjaga prasangka baik kepada Allah. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa 

Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba mendekat, Allah akan mendekat lebih cepat.  

Keutamaan Luar Biasa Tanah Suci 
Kajian ini juga mengungkap keutamaan ibadah di Tanah Haram. Salah satunya adalah pahala shalat yang berlipat ganda hingga 100.000 kali lipat di Masjidil Haram. Jika dihitung secara sederhana, satu kali shalat di sana setara dengan puluhan tahun shalat di tempat biasa. Ini menunjukkan betapa luar biasanya nilai ibadah di Tanah Suci sebuah “investasi akhirat” yang tak ternilai. 
Selain itu, tempat seperti Raudhah di Masjid Nabawi disebut sebagai taman surga. Di sanalah Rasulullah ﷺ dimakamkan bersama para sahabat mulia, menjadikan tempat tersebut penuh keberkahan dan kerinduan bagi umat Islam. 

Keajaiban Tawaf dalam Perspektif Sains  
Salah satu bagian menarik dari kajian ini adalah keterkaitan antara ibadah dan sains. Gerakan tawaf yang dilakukan berlawanan arah jarum jam ternyata selaras dengan fenomena alam: Elektron mengelilingi inti atom dengan arah yang sama Planet mengorbit matahari dengan pola serupa Galaksi berputar dalam bentuk spiral Hal ini menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya ritual, tetapi juga selaras dengan hukum alam semesta.  

Umroh: Ibadah Fisik yang Penuh Makna  
Secara fisik, ibadah umroh juga tidak ringan. Jamaah menempuh: 
 Tawaf sejauh ±1,5–3,5 km  
Sa’i sejauh ±2,8–3,15 km  
Total jarak sekitar 5,5–7 km  

Semua dilakukan dalam kondisi penuh keikhlasan dan penghambaan. Angka “7” yang digunakan dalam tawaf dan sa’i pun memiliki makna, sejalan dengan konsep tujuh lapis langit dalam Al-Qur’an.  

Pemateri juga mengajak jamaah melihat umroh dari sudut pandang “matematika Allah”. Dengan biaya rata-rata Rp25–30 juta, mungkin terasa besar. Namun jika dibandingkan dengan pahala yang didapat penghapusan dosa, peningkatan derajat, hingga nilai ibadah yang berlipat ganda maka nilai tersebut menjadi sangat kecil.  
Bahkan ada amalan-amalan lain yang pahalanya setara umroh, seperti shalat di Masjid Quba setelah bersuci dari rumah. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya. 

Diakhir kajian di sampaikan bahwa jangan pernah merasa jauh dari panggilan Allah. Jika hati mulai rindu ke Tanah Suci, bisa jadi itu adalah tanda awal panggilan tersebut. Tugas kita adalah menjaga niat, memperbaiki diri, dan terus mendekat kepada-Nya. Semoga setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini menjadi bagian dari perjalanan besar menuju undangan Allah ke Baitullah.

Read More »
19 March | 0komentar

Belajar Husnudzon dari Sebungkus Roti

Pelajaran hidup yang tak terduga tentang betapa seringnya kita terjebak dalam prasangka buruk (su'udzon) terlukis pada sebuah kisah sederhana namun menohok. Olah Hati dan Olah Rasa melalui sebuah ilustrasi cerita pendek yang sarat makna. 

1. Kejadian di Ruang Tunggu Bandara  
Kisah bermula dari seorang wanita yang sedang menunggu jadwal penerbangannya di sebuah bandara. Karena masih memiliki waktu luang, ia memutuskan untuk membeli sebungkus roti dan sebuah buku untuk menemaninya menunggu. Ia duduk di kursi ruang tunggu, meletakkan bungkus rotinya di atas meja di sampingnya. Di kursi sebelah, duduk seorang pria yang tidak ia kenal.  
2. Prasangka yang Mulai Membakar Hati 
Saat wanita itu mengambil satu potong roti dari bungkusnya, ia terkejut karena pria di sampingnya juga mengulurkan tangan dan mengambil satu potong roti dari bungkus yang sama. Wanita itu merasa geram dan berkata dalam hati, "Berani sekali pria ini! Tidak kenal, tidak minta izin, malah ikut makan rotiku. Kalau bukan karena menjaga sopan santun di depan umum, sudah kuparahi dia!" Setiap kali si wanita mengambil roti, si pria juga mengambilnya. Hingga akhirnya tersisa satu potong terakhir. Pria itu mengambilnya, membaginya menjadi dua, lalu memberikan separuhnya kepada si wanita dengan senyuman ramah. Wanita itu menyambarnya dengan kesal, lalu segera berdiri menuju pintu keberangkatan tanpa mengucapkan terima kasih.  
3. Tamparan di Balik Tas 
Keajaiban—atau lebih tepatnya "tamparan" keras bagi hati si wanita—terjadi saat ia sudah berada di dalam pesawat. Ketika ia merogoh tasnya untuk mengambil kacamata, tangannya menyentuh sesuatu yang akrab. Ia tertegun. Di dalam tasnya, masih terdapat sebungkus roti yang utuh dan belum terbuka. Seketika wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Ia menyadari bahwa roti yang ia makan di ruang tunggu tadi bukanlah miliknya, melainkan milik pria tersebut. Pria yang tadi ia maki-maki di dalam hati justru adalah orang yang sangat dermawan, yang rela berbagi rotinya dengan orang asing tanpa keberatan sedikit pun.  
4. Hikmah Olah Hati: 
Waspada Prasangka Bapak Suyadi menekankan bahwa kisah ini adalah cermin bagi kita semua. "Seringkali kita merasa paling benar dan paling dizalimi, padahal kitalah yang sedang salah paham. Itulah pentingnya Olah Hati," pesan beliau. 
Ramadhan adalah momentum untuk: 
  • Menata Rasa: Jangan biarkan emosi meledak sebelum mengetahui fakta sebenarnya.  
  • Berprasangka Baik (Husnudzon): Memberikan ruang bagi kemungkinan bahwa orang lain berniat baik.  
  • Menahan Diri: Bukan hanya menahan lapar, tapi menahan lisan dan hati dari menghakimi sesama.

Read More »
04 March | 0komentar

Makna "Iqra": Lebih dari Sekadar Mengeja Huruf

Dalam hiruk-pikuk dunia digital saat ini, kata "membaca" sering kali tereduksi hanya sebatas memindai informasi di layar ponsel. Namun, jika kita kembali menengok sejarah melalui buku "Muhammad: A Prophet for Our Time" karya Karen Armstrong, kita akan menemukan bahwa perintah membaca (Iqra) memiliki kedalaman makna yang mampu mengubah peradaban. 

Kehampaan di Gua Hira 
Karen Armstrong menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang sangat peka terhadap krisis sosial dan moral di Mekkah saat itu. Di tengah ketidakadilan dan kesenjangan yang tajam, beliau memilih untuk menyendiri di Gua Hira. Armstrong menekankan bahwa wahyu pertama tidak turun dalam suasana yang tenang dan puitis, melainkan sebuah pengalaman yang mendalam dan mengguncang. 
Perintah "Iqra!" (Bacalah!) yang disampaikan Malaikat Jibril adalah sebuah paksaan kreatif. sebuah dorongan untuk melahirkan sesuatu yang baru dari dalam diri yang sebelumnya "buta" huruf dan makna.

Makna "Iqra": Lebih dari Sekadar Mengeja Huruf 
Armstrong mengajak kita melihat bahwa saat wahyu itu turun, Muhammad SAW menjawab, "Ma ana bi qari" (Aku tidak bisa membaca). Namun, perintah itu terus diulang. Menurut Armstrong, Iqra dalam konteks ini bukan sekadar mengeja teks tertulis, melainkan: 
  • Membaca Tanda-Tanda Zaman: Kepekaan terhadap penderitaan sesama dan ketimpangan sosial. 
  • Membaca Diri: Menemukan hakikat kemanusiaan di hadapan Sang Pencipta. 
  • Menyuarakan Kebenaran: Mengubah keheningan menjadi pesan yang menggerakkan. 
Bagi kita di era modern, Iqra adalah perintah untuk melakukan literasi kritis. Bukan hanya menelan informasi, tapi memahami esensi dan dampak dari setiap pengetahuan yang kita peroleh. 

Wahyu yang Mengubah Paradigma 
Salah satu poin menarik yang diangkat Armstrong adalah bagaimana wahyu ini mengubah masyarakat Arab yang saat itu sangat membanggakan tradisi lisan dan kesukuan menjadi masyarakat yang sangat menghargai ilmu pengetahuan dan persaudaraan universal. Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca, yang secara tidak langsung meletakkan fondasi bahwa pendidikan dan pengetahuan adalah kunci utama perubahan. 
Sebagai seorang pendidik (seperti di jurusan DPIB), pesan ini sangat relevan: bahwa setiap desain bangunan atau struktur yang kita buat, harus diawali dengan kemampuan kita "membaca" kebutuhan dan kebermanfaatannya bagi manusia. 
Melalui karya Armstrong, kita diingatkan bahwa menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW berarti menjadi pribadi yang literat. Pribadi yang tidak pernah berhenti belajar, yang matanya tajam membaca realitas, dan yang hatinya terbuka terhadap bimbingan wahyu. Mari kita tanya pada diri sendiri: Di bulan yang mulia ini, sudah sejauh mana kita menjalankan perintah Iqra? Sudahkah bacaan kita membawa perubahan bagi karakter dan kontribusi kita di dunia?

Read More »
19 February | 0komentar

Jalur Langit: Saat Ridha Orang Tua Menembus Logika Masa Depan


Ustadz Usep Badruzzaman
Mungkid, 14 Februari 2026 – Suasana khidmat menyelimuti SMAIT Ihsanul Fikri Mungkid. Di antara doa yang dipanjatkan, para siswa Kelas XII bersama wali murid bersimpuh dalam kegiatan doa bersama bertajuk "Jalur Langit yang Berakar Ridha Orang Tua". Bersama Ustadz Usep Badruzzaman, kita diingatkan kembali bahwa di atas segala strategi manusia, ada satu penentu utama: Ridha Allah SWT. 

Antara Logika dan Iman 
Dalam hidup, kita sering kali terjebak pada perhitungan matematis manusiawi (logika) dan melupakan kekuatan iman. Ustadz Usep memberikan perumpamaan yang sangat tajam: 
  • Soal Hutang: Secara logika, hutang sebesar Rp2.000 jauh lebih cepat lunas dibandingkan 1 Miliar. Namun, jika Allah tidak menolong, hutang sekecil itu pun bisa tak terbayar sampai mati. Sebaliknya, dengan pertolongan Allah, hutang 1 Miliar bisa lunas lebih dulu. 
  • Soal Penyakit: Secara logika, penyakit ringan harusnya sembuh lebih cepat daripada penyakit berat. Namun kenyataannya, jika Allah berkehendak, penyakit yang secara medis dianggap berat justru sembuh lebih awal melalui pertolongan-Nya. 

Pesan ini sangat relevan bagi siswa kelas XII dan kita
Secara logika, mungkin ada yang merasa nilainya kecil atau kemampuannya terbatas dibandingkan teman yang lain. Namun, jangan berkecil hati. Jika Allah sudah menolong, jalan yang sulit akan menjadi mudah, dan pintu yang tertutup akan terbuka lebar. 

Bagaimana Cara Agar Kita Ditolong Allah? 
Ini adalah pertanyaan besar yang menjadi inti pertemuan kita. Ustadz Usep menegaskan bahwa fokus utama kita saat ini bukanlah sekadar hasil ujian, melainkan: Bagaimana cara agar Allah menolong kita? Jawabannya ada dalam janji Allah: 

 وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

 "...Dan Kami berkewajiban menolong orang-orang yang beriman." (QS. Ar-Rum: 47) 

Kita dibekali dua perangkat oleh Allah: Logika dan Iman. 
Logika digunakan untuk menyusun strategi belajar dan ikhtiar maksimal, namun Iman digunakan untuk menjemput pertolongan Allah. Fokus utama kita adalah menguatkan keimanan. Karena ketika iman sudah kokoh, pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka. 
Akar Ridha: Kunci Pembuka Pintu Langit Jalur langit ini tidak akan terbuka tanpa ridha orang tua. Ustadz Usep mengingatkan bahwa ridha Allah terletak pada ridha ayah dan ibu. Momen sungkem dan doa bersama kemarin adalah upaya kita untuk menyiram "akar" tersebut. Tanpa ridha mereka, perjuangan mengejar cita-cita hanya akan menjadi lelah yang tanpa berkah. 

  "Yang paling perlu dipersiapkan saat ini bukanlah sekadar seberapa keras kita belajar, melainkan bagaimana cara agar Allah berkenan menolong kita.



Pesan Ustadz untuk anak-anakku kelas XII Tahun Pelajaran 2025/2026, maksimalkan logika dalam belajar, namun kuatkan imanmu dalam berharap. Ketika engkau sudah mendapatkan ridha orang tuamu dan meraih pertolongan Allah, maka tidak ada satu pun rintangan di bumi yang mampu menghalangimu. Semoga Allah senantiasa menolong dan meridhai setiap langkah kita.




Read More »
16 February | 0komentar

Mengetuk Pintu Langit di Tengah Rutinitas Duniawi

Sebagai seorang pendidik di bidang teknik, hari-hari saya sering kali dipenuhi dengan hitungan RAB, menghitung volume pekerjaan, kurva S, dan desain arsitektur digital. Namun, saya menyadari sepenuhnya bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer angka dan logika. Ada satu dimensi yang jauh lebih fundamental bagi masa depan siswa: Dimensi Spiritual. Menu "Catatan Keagamaan" di blog www.sarastiana.com ini hadir sebagai oase. Sebuah ruang untuk merefleksikan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap langkah perjuangan kita sebagai pendidik dan pembelajar. 

1. Pendidikan Karakter Berbasis Iman 
Dalam setiap interaksi di kelas, saya selalu berupaya menyelipkan pesan bahwa setinggi apa pun ilmu yang kita miliki, ia tidak akan membawa keberkahan tanpa landasan iman yang kokoh. Catatan di menu ini merangkum intisari pengingat bagi diri saya pribadi dan para siswa bahwa kejujuran saat mengerjakan tugas proyek jauh lebih berharga daripada hasil akhir yang sempurna namun diperoleh dengan cara yang salah. 
 "Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh." Sebuah pengingat bahwa kompetensi teknis (DPIB/EBK) harus berjalan beriringan dengan ketaatan

2. Tadabbur Ayat dalam Keseharian 
Di sini, Bapak/Ibu dan para siswa akan menemukan ulasan ringan mengenai ayat-ayat pilihan seperti refleksi atas Surah As-Saffat atau pengingat tentang syukur. Saya ingin mengajak kita semua untuk melihat bahwa setiap kesulitan dalam belajar dan mengajar adalah bagian dari ujian kesabaran yang pahit di awal namun manis di ujungnya. 

3. Literasi Religi: 
Menulis Sebagai Ibadah Menulis di kategori Catatan Keagamaan bagi saya adalah bentuk dakwah literasi. Saya percaya bahwa setiap huruf yang kita tuliskan untuk mengajak pada kebaikan adalah amal jariyah yang akan terus mengalir. Melalui tulisan, kita bisa menyentuh hati siswa di saat kata-kata di kelas mungkin tidak lagi terdengar. 

4. Koneksi Hati: Hablun Minallah & Hablun Minannas 
Pesan utama dari seluruh catatan di menu ini adalah keseimbangan hubungan. Bagaimana kita memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta (Hablun Minallah) agar urusan dunia kita, termasuk KBM dan pengelolaan blog ini, dimudahkan. Sekaligus bagaimana kita memperbaiki hubungan dengan sesama (Hablun Minannas) melalui etika berkomunikasi yang santun di ruang digital. 

Saya mengundang para siswa dan rekan sejawat untuk tidak hanya mampir di menu tugas, tapi juga menyempatkan diri membaca satu atau dua catatan di menu keagamaan ini. Mari kita luangkan waktu sejenak untuk menundukkan kepala, membasuh hati dengan nasihat-nasihat bijak, agar langkah kita selalu dalam rida-Nya. 

 "Karena kesuksesan yang sesungguhnya bukan saat kita berhasil membangun gedung yang megah, tapi saat kita berhasil membangun jiwa yang tawadhu di hadapan Penciptanya."

Saya sering berpesan kepada siswa, bahwa ketelitian kita dalam menjaga shaf yang lurus dan rapat saat shalat adalah cerminan ketelitian kita dalam bekerja. Seorang calon arsitek atau pelaksana konstruksi yang terbiasa disiplin dengan waktu shalat, insya Allah akan menjadi profesional yang jujur dalam menghitung volume beton dan presisi dalam menarik garis desain. Karena pada akhirnya, integritas seorang mukmin tidak dipisahkan oleh dinding kelas; ia hadir dalam sujud kita, dan terbawa hingga ke meja gambar kita.

Read More »
13 February | 0komentar