Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In


Perangkat pembelajaran untuk menunjang Proses Belajar Mengajar(PBM) ini sesuai dengan kurikulum Merdeka. Informasi tentang CP dengan meng-KLIK gambar di atas. Perangkat pembelajaran Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan Bangunan pada Mata Pelajaran Mekanika Teknik


INSTAGRAM :@sarastiana1
        RECENT POST

Ketidakpastian Adalah Keniscayaan

Refleksi Pendidikan

Setiap bulan Mei, masyarakat Indonesia memperingati momentum penting dalam dunia pendidikan melalui Bulan Pendidikan Nasional. Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga waktu yang tepat untuk merenungkan kembali arah pendidikan kita: apakah pendidikan benar-benar sudah mempersiapkan manusia menghadapi kehidupan yang penuh ketidakpastian? Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, teknologi berkembang tanpa jeda, dunia kerja berubah drastis, dan tantangan sosial semakin kompleks. 
Dalam situasi seperti ini, sebuah pesan penting dari Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) layak menjadi bahan refleksi bersama: “Kita mungkin tidak bisa menghilangkan seluruh ketidakpastian dalam hidup. Tapi kita bisa memastikan bahwa setiap manusia memiliki bekal untuk menghadapinya melalui pendidikan.” Kalimat tersebut menyimpan makna mendalam. Pendidikan bukan hanya soal nilai rapor, hafalan teori, atau sekadar lulus ujian. Pendidikan seharusnya menjadi proses membentuk manusia agar mampu berpikir, bertahan, beradaptasi, dan memberi manfaat di tengah perubahan zaman.  

Ketidakpastian Adalah Keniscayaan 

Hari ini, anak-anak tumbuh di era yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Banyak pekerjaan lama mulai hilang, sementara pekerjaan baru muncul dengan keterampilan yang sebelumnya tidak pernah diajarkan di sekolah. Belum lagi tantangan lain seperti: perubahan sosial, perkembangan kecerdasan buatan, krisis lingkungan, tekanan mental, hingga derasnya arus informasi digital. Tidak ada yang benar-benar bisa memprediksi masa depan secara pasti. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan “apa yang harus dihafal”, tetapi juga “bagaimana cara menghadapi perubahan”. Di sinilah pentingnya pendidikan yang memanusiakan manusia. 
Apakah Pendidikan Kita Sudah Membentuk Manusia yang Berdaya? Pertanyaan besar yang perlu dijawab bersama adalah: apakah sistem pendidikan kita hari ini sudah melahirkan manusia yang berdaya? Berdaya bukan hanya pintar secara akademik. Manusia yang berdaya adalah mereka yang: mampu berpikir kritis, memiliki karakter kuat, mampu bekerja sama, memiliki empati, kreatif dalam menyelesaikan masalah, dan tetap memiliki nilai moral di tengah perubahan zaman. Sayangnya, dalam praktiknya pendidikan kita masih sering terjebak pada angka dan formalitas. Banyak peserta didik yang akhirnya: takut salah, hanya mengejar nilai, kurang percaya diri, minim ruang bertanya, dan belum terbiasa berpikir mandiri. Padahal kehidupan nyata tidak selalu menyediakan soal pilihan ganda.  

Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Ilmu  

Selama ini, pendidikan sering dipahami sebatas proses transfer pengetahuan dari guru kepada murid. Padahal hakikat pendidikan jauh lebih luas daripada itu. Pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia. Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Artinya, sekolah bukan pabrik pencetak nilai. Sekolah adalah ruang tumbuh. Di dalamnya, anak-anak semestinya belajar: mengenal dirinya, memahami potensi, belajar mengambil keputusan, belajar menghadapi kegagalan, dan belajar menjadi manusia yang utuh.  

Hal yang Perlu Dimunculkan dalam Pendidikan Kita  

Jika ingin melahirkan generasi yang benar-benar siap menghadapi masa depan, ada beberapa hal penting yang perlu lebih dimunculkan dalam pendidikan kita.  
1. Kemampuan Berpikir Kritis Anak perlu dibiasakan bertanya, berdiskusi, dan mencari solusi, bukan hanya menerima jawaban. Pendidikan yang baik bukan membuat murid takut salah, tetapi berani mencoba.  
2. Pendidikan Karakter dan Adab Kemajuan teknologi tanpa karakter justru bisa menjadi ancaman. Karena itu, pendidikan moral, adab, tanggung jawab, dan empati harus menjadi pondasi utama. Ilmu yang tinggi tanpa akhlak hanya akan melahirkan manusia cerdas tetapi kehilangan arah.  
3. Kreativitas dan Kemandirian Dunia masa depan membutuhkan manusia yang mampu menciptakan solusi baru. Pendidikan harus memberi ruang bagi kreativitas, eksplorasi, dan keberanian untuk berkarya.  
4. Kesehatan Mental dan Emosi Tekanan hidup modern semakin berat. Anak-anak perlu dibekali kemampuan mengelola emosi, menghadapi tekanan, dan membangun mental yang sehat.  
5. Kemampuan Adaptasi Di era perubahan cepat, kemampuan belajar ulang (relearning) menjadi sangat penting. Pendidikan harus membentuk manusia yang siap terus belajar sepanjang hidup.  

Pendidikan yang Membebaskan dan Memberdayakan  

Pendidikan yang ideal bukan pendidikan yang menakutkan, melainkan pendidikan yang membangkitkan semangat belajar. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi fasilitator pertumbuhan manusia. Sekolah bukan tempat yang hanya mengejar ranking, tetapi tempat anak merasa aman untuk berkembang. Ketika pendidikan mampu menghadirkan rasa ingin tahu, keberanian berpikir, dan karakter yang baik, maka di situlah pendidikan sedang membentuk manusia yang berdaya. 

Momentum Bulan Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa tantangan masa depan tidak bisa dihindari. Ketidakpastian akan selalu ada. Namun melalui pendidikan yang tepat, manusia bisa dipersiapkan untuk menghadapinya dengan lebih matang. Pendidikan sejati bukan hanya menghasilkan lulusan yang pandai menjawab soal, tetapi manusia yang mampu menghadapi kehidupan. Karena pada akhirnya, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki teknologi maju, tetapi bangsa yang manusianya memiliki karakter, daya pikir, dan kemampuan untuk terus bertumbuh.
Sumber: WA Grup GSM Kab.Purbalingga

Read More »
07 May | 0komentar

Sekolah Banyak, Tapi Kenapa Belum Maju? Ini yang Sebenarnya Perlu Diubah!

Wisuda Program S2 UGM Taun 2013

Kalau dipikir-pikir, hampir semua negara sekarang punya sekolah. Bahkan anggaran pendidikan tiap tahun juga nggak kecil. Tapi anehnya, kemajuan tiap negara beda-beda banget. Ada yang melesat cepat, ada juga yang jalan di tempat. Jadi, sebenarnya apa sih yang bikin beda?  
Masalahnya Bukan di Jumlah, Tapi Arah Sering kali kita mikir: “Kalau sekolah diperbanyak, pasti negara jadi maju.” Nggak salah… tapi juga nggak sepenuhnya benar. Karena faktanya, kemajuan sebuah negara bukan cuma soal jumlah sekolah atau besarnya anggaran, tapi lebih ke arah atau orientasi pendidikannya. Apakah pendidikan itu: Cuma bikin siswa hafal? Atau benar-benar melatih mereka untuk berpikir?  
Nah, di sinilah letak masalah utamanya. Belajar, Tapi Nggak Dilatih Berpikir.  Jujur aja, banyak sistem pendidikan masih fokus ke: Nilai Ranking Ujian Padahal, dunia nyata nggak nanya: “Nilai kamu berapa?”  
Dunia nyata lebih peduli:  
Kamu bisa mikir nggak?  
Bisa nyelesain masalah nggak?  
Bisa adaptasi nggak?  
Kalau pendidikan belum sampai ke situ, wajar banget kalau kemajuan terasa lambat. Karena kita sebenarnya sibuk belajar, tapi belum benar-benar berpikir.  

Yang Perlu Diubah Itu 
Cara Belajarnya  
Pertanyaannya sekarang: Apa yang harus diubah? Jawabannya bukan sekadar kurikulum atau fasilitas. Yang paling penting adalah cara belajar manusianya. Beberapa hal yang perlu mulai digeser:  
1. Dari Hafalan ke Pemahaman Bukan cuma tahu “apa”, tapi juga ngerti “kenapa”.  
2. Dari Takut Salah ke Berani Mencoba Kalau takut salah terus, kapan berkembangnya?  
3. Dari Pasif ke Aktif Belajar itu bukan duduk diam, tapi ikut mikir, diskusi, bahkan debat sehat.  
4. Dari Jawaban Tunggal ke Banyak Perspektif  
Masalah di dunia nyata jarang punya satu jawaban benar. Pendidikan itu soal “Cara Berpikir”, Bukan Sekadar Ilmu Ilmu itu penting, tapi cara berpikir jauh lebih penting. Karena dengan cara berpikir yang benar: Ilmu bisa berkembang Ide baru bisa muncul Solusi bisa ditemukan . Negara yang maju biasanya bukan yang paling banyak sekolahnya, tapi yang warganya terbiasa berpikir kritis, kreatif, dan terbuka.  

Jadi, Mulai dari Mana? Nggak perlu nunggu sistem berubah total. Bisa mulai dari hal kecil: Biasakan bertanya, bukan cuma menerima Cari tahu “kenapa”, bukan cuma “apa” Diskusi, bukan cuma dengar Berani beda pendapat, tapi tetap santun Karena perubahan besar selalu dimulai dari cara kita berpikir. 

Upgrade Cara Belajar, Bukan Cuma Sistemnya Kalau kita ingin melihat negara ini benar-benar maju, maka yang perlu di-upgrade bukan cuma gedung sekolah atau anggaran… Tapi cara manusia di dalamnya belajar dan berpikir. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah negara selalu berawal dari cara berpikir warganya.

Read More »
27 April | 0komentar

Kisah Muhammad bin Sirin: Keteladanan Ulama dalam Kejujuran dan Kesabaran


Dalam sejarah Islam, nama Muhammad bin Sirin dikenal sebagai salah satu ulama besar dari kalangan tabi’in. Beliau hidup di kota Basrah, sebuah pusat ilmu di masa itu, dan terkenal karena keahliannya dalam menafsirkan mimpi serta keteguhan akhlaknya.

Ulama Besar dari Basrah

Muhammad bin Sirin adalah sosok yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sangat menjaga integritas. Ia belajar dari para sahabat Nabi dan dikenal luas sebagai ahli ilmu yang wara’ (berhati-hati dalam perkara halal dan haram).

Di tengah kesibukannya menuntut ilmu dan mengajar, beliau juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, seperti manusia pada umumnya, beliau pun diuji dengan kesulitan ekonomi.

Ujian Berat: Terjerat Utang

Suatu ketika, Muhammad bin Sirin mengalami kerugian dalam usahanya hingga terlilit utang. Kondisi ini sangat berat, bahkan membuatnya harus menghadapi risiko dipenjara.

Dalam keadaan terdesak, datanglah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan besar dengan cara yang tidak jelas kehalalannya. Banyak orang mungkin tergoda, tetapi tidak bagi beliau.

"Aku lebih memilih hidup dalam kesempitan daripada harus mempertanggungjawabkan sesuatu yang haram di hadapan Allah."

Kalimat tersebut menjadi bukti betapa kuatnya prinsip hidup yang dipegang oleh Muhammad bin Sirin.

Kesabaran di Dalam Penjara

Karena utangnya, beliau akhirnya harus menjalani masa di dalam penjara. Namun, penjara tidak menghentikan dakwah dan ilmunya. Justru di tempat itulah, kesabaran dan keteguhannya semakin terlihat.

Orang-orang tetap datang untuk meminta tafsir mimpi. Beliau melayani mereka dengan penuh keikhlasan, tanpa mengeluh sedikit pun.

Kecerdasan dalam Menafsirkan Mimpi

Salah satu keistimewaan Muhammad bin Sirin adalah kemampuannya dalam memahami mimpi secara mendalam. Beliau tidak hanya melihat isi mimpi, tetapi juga kondisi orang yang bermimpi.

Pernah ada dua orang yang bermimpi hal yang sama, yaitu mengumandangkan adzan. Namun, beliau memberikan tafsir yang berbeda karena latar belakang keduanya berbeda.

  • Bagi orang yang saleh, mimpi itu ditafsirkan sebagai pertanda akan berhaji.
  • Sementara bagi yang lain, mimpi itu bisa menjadi peringatan atas perbuatannya.

Hal ini menunjukkan bahwa ilmu beliau bukan sekadar hafalan, melainkan penuh hikmah dan ketajaman analisis.

Hikmah dan Pelajaran

Dari kisah Muhammad bin Sirin, kita dapat mengambil banyak pelajaran berharga:

  • Kejujuran adalah prinsip yang tidak boleh ditawar, meskipun dalam keadaan sulit.
  • Kesabaran dalam menghadapi ujian akan berbuah kemudahan.
  • Ilmu yang bermanfaat akan tetap bersinar dalam kondisi apa pun.
  • Integritas lebih berharga daripada keuntungan sesaat.

Penutup

Kisah Muhammad bin Sirin adalah cermin bagi kita semua bahwa hidup bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang cara mencapainya. Kejujuran, kesabaran, dan keteguhan iman adalah kunci utama menuju keberkahan hidup.

Semoga kita dapat meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.




Read More »
24 April | 0komentar

Kartini dan Pendidikan Budi: Misi yang Belum Selesai

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali mengenang jasa Raden Ajeng Kartini sebagai simbol perjuangan emansipasi perempuan. Berbagai perayaan budaya digelar dari lomba busana tradisional hingga pentas seni seakan menjadi bentuk penghormatan atas warisan pemikiran beliau. Namun di balik kemeriahan itu, ada satu cita-cita Kartini yang kerap luput dari perhatian: pendidikan yang tidak hanya mengasah akal, tetapi juga membentuk budi dan jiwa. Kartini tidak sekadar menginginkan perempuan untuk bersekolah. Ia memimpikan manusia Indonesia yang utuh yang cerdas secara intelektual, namun juga halus budi pekertinya, kuat jiwanya, dan memiliki kepekaan sosial.  

Dalam berbagai suratnya, Kartini menekankan bahwa pendidikan sejati adalah yang mampu “memanusiakan manusia,” bukan sekadar mengisi kepala dengan pengetahuan. Sayangnya, arah pendidikan kita hari ini masih cenderung bertumpu pada aspek kognitif. Ukuran keberhasilan siswa sering kali direduksi menjadi angka, nilai ujian, dan capaian akademik semata. Sementara itu, dimensi budi dan jiwa yang justru menjadi fondasi karakter perlahan terpinggirkan. Sekolah menjadi ruang transfer informasi, bukan lagi ruang transformasi manusia. 

Ironisnya, di tengah perkembangan pesat teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), dominasi pengetahuan sebagai tolok ukur utama semakin dipertanyakan. Informasi kini tersedia dalam hitungan detik. Mesin dapat menghitung, menganalisis, bahkan menghasilkan karya. Jika pendidikan hanya berfokus pada pengetahuan, maka manusia akan kalah cepat dan kalah presisi dibanding teknologi. Di sinilah letak urgensi kembali pada cita-cita Kartini.  

Pendidikan budi dan jiwa adalah wilayah yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Empati, integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan makna hidup semua itu lahir dari proses pembinaan manusiawi yang mendalam. Namun pertanyaannya, di tengah padatnya kurikulum, tuntutan administrasi, dan tekanan target capaian, siapa yang masih memiliki ruang untuk mendidik budi dan jiwa? Jawabannya sesungguhnya sederhana, meski tidak mudah: kita semua. Guru memang berada di garis depan, tetapi pendidikan budi tidak bisa dibebankan hanya kepada mereka. Orang tua, lingkungan masyarakat, bahkan budaya digital yang kita bangun bersama, semuanya berperan dalam membentuk jiwa generasi. Setiap interaksi adalah proses pendidikan.  

Setiap teladan adalah kurikulum hidup. Namun ada satu hal yang perlu ditegaskan: pendidikan budi dan jiwa tidak lahir dari ceramah, melainkan dari keteladanan. Anak-anak tidak belajar dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang kita lakukan. Ketika mereka melihat kejujuran dipraktikkan, mereka belajar jujur. Ketika mereka merasakan empati, mereka belajar peduli. Inilah pendidikan yang hidup yang tidak tercatat dalam modul, tetapi membekas dalam diri. Maka, memperingati Kartini seharusnya tidak berhenti pada simbol dan seremoni. 

Ia perlu diterjemahkan menjadi refleksi: apakah pendidikan kita hari ini sudah menyentuh dimensi kemanusiaan yang paling dalam? Ataukah kita justru terjebak dalam rutinitas yang menjauhkan kita dari esensi pendidikan itu sendiri? Kartini telah menyalakan api kesadaran lebih dari seabad yang lalu. Tugas kita hari ini bukan sekadar menjaga nyalanya, tetapi memastikan api itu tetap menghangatkan jiwa-jiwa yang sedang tumbuh. Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar generasinya, tetapi oleh seberapa kuat budi dan jiwanya.

Sumber: WA Grup GSM Kab. Purbalingga

Read More »
22 April | 0komentar

Ruang Kelas: Transfer Energi atau Sekadar Transaksi?

Ruang Kelas: Transfer Energi atau Sekadar Transaksi? Refleksi Dunia Pendidikan

Sudahkah Ruang Kelas Kita Menjadi Ruang Transfer Energi, atau Masih Sekadar Tempat Bertransaksi?

Suasana kelas inspiratif dengan guru dan siswa aktif berdiskusi sebagai ruang transfer energi

Di banyak sekolah, ruang kelas sering kali masih dipahami sebagai tempat sederhana: guru datang, materi disampaikan, siswa mencatat, tugas diberikan, lalu waktu pelajaran selesai. Semua berjalan seperti rutinitas yang berulang. Tidak salah, tetapi ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama.

Sudahkah ruang kelas kita menjadi ruang transfer energi, atau masih sebatas tempat bertransaksi?

Seperti yang juga dibahas dalam artikel tentang sekolah bukan sekadar transfer ilmu , pendidikan sejatinya bukan hanya tentang memindahkan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir dan makna hidup siswa.

Ketika Kelas Hanya Menjadi Tempat Transaksi

Ruang kelas disebut sebagai tempat transaksi ketika hubungan yang terjadi hanya sebatas formalitas.

  • Guru hadir untuk menyampaikan materi
  • Siswa hadir untuk mendapatkan nilai
  • Tugas dikerjakan untuk memenuhi kewajiban
  • Pembelajaran dilakukan demi menyelesaikan kurikulum

Kondisi ini sering terjadi ketika pembelajaran hanya berfokus pada hasil, bukan proses. Padahal dalam praktik seperti kelas blok berbasis proyek EBK , siswa justru lebih aktif dan terlibat secara nyata.

Ruang Kelas Sebagai Ruang Transfer Energi

Berbeda dengan transaksi, transfer energi terjadi ketika guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menyalakan semangat dalam diri siswa.

  • Menyalakan rasa ingin tahu
  • Membangun keberanian bertanya
  • Menumbuhkan semangat mencoba
  • Memberikan keyakinan bahwa siswa mampu berkembang

Pendekatan ini selaras dengan pembelajaran kontekstual seperti pada project work RAB dalam mata pelajaran EBK yang mengedepankan pengalaman nyata.

Mengapa Transfer Energi Itu Penting?

Di era digital, informasi bisa didapatkan dari mana saja. Namun ada satu hal yang tidak bisa digantikan teknologi, yaitu energi manusia dalam pendidikan.

Energi ini tercermin dalam sikap guru saat membimbing siswa, seperti dalam pembelajaran analisa harga upah tenaga kerja (OH) yang tidak hanya berhenti pada hitungan, tetapi juga pada pemahaman makna kerja di lapangan.

Tanda Kelas Sudah Menjadi Ruang Transfer Energi

  • Siswa berani bertanya tanpa takut salah
  • Suasana kelas terasa hidup
  • Guru dan siswa saling menghargai
  • Pembelajaran terasa bermakna
  • Siswa pulang membawa semangat, bukan hanya catatan

Penutup

Ruang kelas seharusnya tidak hanya menjadi tempat transaksi ilmu, tetapi menjadi ruang hidup yang penuh energi dan inspirasi. Untuk memperkaya wawasan, Anda juga dapat membaca artikel pendidikan dan EBK lainnya di Sarastiana.com .

Karena pada akhirnya, siswa mungkin lupa apa yang diajarkan, tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana seorang guru membuat mereka merasa.


Read More »
17 April | 0komentar

Belajar dari Project Nyata

Kelas Blok EBK 13–17 April 2026: Proyek Analisa Harga Satuan Rumah Tipe 21

Kelas Blok EBK: Proyek Nyata Analisa Harga Satuan Pekerjaan Rumah Tipe 21 (13–17 April 2026)

Siswa SMK mengerjakan analisa harga satuan pekerjaan rumah tipe 21 pada kelas blok EBK

Pembelajaran tidak lagi sekadar teori di dalam kelas. Melalui Kelas Blok Mata Pelajaran EBK (Estimasi Biaya Konstruksi), siswa diajak untuk terjun langsung dalam pengalaman belajar berbasis proyek yang aplikatif dan relevan dengan dunia kerja. Untuk memahami dasar-dasarnya, siswa juga telah mempelajari pengertian AHSP dan RAB dalam konstruksi .

Pada tanggal 13 s.d. 17 April 2026, kegiatan kelas blok dilaksanakan dengan fokus utama pada Project Work Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) untuk pembangunan rumah tipe 21. Kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk mengasah keterampilan teknis sekaligus kemampuan berpikir kritis dalam bidang konstruksi.

Belajar dari Proyek Nyata

Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep, tetapi langsung mempraktikkan proses penyusunan analisa harga satuan pekerjaan secara sistematis. Sebelumnya, siswa juga telah berlatih melalui contoh analisa harga satuan pekerjaan bangunan .

  • Mengidentifikasi item pekerjaan konstruksi
  • Menghitung kebutuhan bahan dan tenaga kerja
  • Menentukan koefisien pekerjaan
  • Menyusun analisa harga satuan berdasarkan standar yang berlaku

Rumah tipe 21 dipilih sebagai objek proyek karena merupakan tipe hunian sederhana yang umum dibangun di masyarakat. Proses ini terintegrasi dengan penyusunan RAB (Rencana Anggaran Biaya) rumah tinggal .

Meningkatkan Kompetensi dan Kesiapan Kerja

Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk memiliki kompetensi sebagai berikut:

  • Memahami struktur penyusunan RAB
  • Mampu menghitung biaya pekerjaan secara akurat
  • Terbiasa bekerja dalam tim proyek
  • Memiliki tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan

Pembelajaran ini juga diperkuat dengan materi sebelumnya seperti analisa harga upah tenaga kerja (OH) dalam konstruksi.

Penutup

Kelas Blok EBK pada tanggal 13–17 April 2026 menjadi bukti bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam pengalaman nyata. Untuk memperdalam pemahaman, siswa juga dapat membaca artikel EBK lainnya di blog ini .


Read More »
16 April | 0komentar