Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In


Perangkat pembelajaran untuk menunjang Proses Belajar Mengajar(PBM) ini sesuai dengan kurikulum Merdeka. Informasi tentang CP dengan meng-KLIK gambar di atas. Perangkat pembelajaran Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan Bangunan pada Mata Pelajaran Mekanika Teknik


INSTAGRAM :@sarastiana1
        RECENT POST

Kembali ke Akar: Menggugat Makna di Balik Angka dan Nilai

Dalam dunia pendidikan yang semakin bising dengan tuntutan kurikulum, administrasi, dan skor ujian, kita seringkali kehilangan arah. Kita terjebak dalam rutinitas "mentransfer materi" tanpa sempat bertanya: Sebenarnya, apa yang sedang kita bangun dalam diri anak-anak kita? Mari kita sejenak berhenti dan menggunakan First Principle Thinking, sebuah cara berpikir dari dasar untuk membedah esensi pendidikan kita hari ini. Ada satu prinsip dasar yang harus kita sadari: “Jika sekolah gagal membuat anak merasa hidupnya bermakna, maka setinggi apa pun nilainya, kita sedang mencetak kehampaan.

"Pabrik" Kehampaan 
Kita sering membanggakan nilai raport yang tinggi, kelulusan 100%, atau sertifikat kompetensi yang berderet. Namun, jika di balik angka-angka itu ada anak yang tidak tahu untuk apa dia hidup, anak yang merasa dirinya hanyalah sekadar angka di buku absen, maka sesungguhnya kita sedang gagal. Pendidikan yang hanya berfokus pada hafalan dan kepatuhan tanpa makna hanyalah sebuah proses mekanis. Kita tidak sedang mendidik manusia; kita sedang memprogram robot. Dampaknya? Kita melihat generasi yang cerdas secara kognitif, namun rapuh secara mental dan kehilangan empati. Mereka memiliki "alat" (skill), tapi tidak memiliki "tujuan" (purpose). 
Kita harus berani mengakui bahwa dunia luar tidak akan bertanya berapa nilai ulangan harian kita sepuluh tahun yang lalu. Dunia tidak butuh anak yang hanya mampu menghafal rumus tanpa tahu cara menggunakannya untuk memecahkan masalah kemanusiaan. Sebab, pendidikan bukan soal apa yang anak hafal, tetapi SIAPA mereka saat dunia membutuhkan. Saat dunia dilanda krisis, yang kita butuhkan bukanlah penghafal teks, melainkan manusia yang memiliki: 
Integritas: Siapa mereka saat tidak ada yang melihat? 
Resiliensi: Bagaimana mereka bangkit saat gagal? 
Kasih Sayang: Bagaimana mereka memperlakukan sesama yang sedang kesulitan? 
Tugas Kita: 
Menghidupkan Makna Sebagai guru, tugas utama kita bukan sekadar menghabiskan bab dalam buku paket. Tugas kita adalah membantu setiap anak menemukan "api" di dalam dirinya. Menunjukkan bahwa apa yang mereka pelajari di lab DPIB, di depan komputer, atau di ruang kelas, memiliki kaitan erat dengan peran mereka di masyarakat nanti. 
Sekolah harus menjadi tempat di mana anak merasa berarti. Tempat di mana mereka sadar bahwa kehadiran mereka di dunia ini membawa sebuah misi penting. 
Mari kita kembali ke prinsip dasar itu. Jangan biarkan ruang kelas kita menjadi pabrik kehampaan yang dingin. Mari kita bangun koneksi, hadirkan makna, dan bantu mereka menjadi manusia yang utuh. Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak dilihat dari daftar nilai di meja kantor, melainkan dari binar mata anak didik yang merasa hidupnya berharga dan siap memberikan karya terbaiknya bagi dunia.
Referensi : grup WA GSM Kab.Purbalingga

Read More »
03 February | 0komentar

Sinopsis Karya Buku

Sinopsis Karya Literasi (Buku ber-ISBN) oleh Sarastiana, S.Pd., M.B.A. 
Untuk memberikan gambaran/ringkasan singkat, padat, dan jelas yang menggambarkan garis besar isi sebuah buku hasil karya saya, dari awal hingga akhir. Fungsi utamanya adalah memberikan gambaran umum mengenai isi, materi, tujuan atau poin penting. 
1. Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket (ISBN: 978-623-7703-19-8) 
Inovasi Pembelajaran Teknik. Banyak siswa merasa kesulitan membayangkan volume bangunan hanya dari gambar 2D. Buku ini hadir memberikan solusi konkret: menggunakan media maket sebagai jembatan visual. Pembaca akan dipandu bagaimana mengonversi wujud fisik maket menjadi perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang akurat, menjadikannya panduan wajib bagi guru DPIB yang ingin kelasnya lebih dinamis dan mudah dipahami. 



2. Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog (ISBN: 978-623-320-202-2) 

Digitalisasi Pendidikan & Literasi. Blog bukan sekadar catatan harian, melainkan ekosistem belajar yang tanpa batas. Buku ini merangkum pengalaman saya bertahun-tahun mengelola blog pendidikan hingga memenangkan berbagai penghargaan. Di dalamnya, dibahas tuntas cara membangun blog sebagai media ajar yang interaktif, tempat menyimpan portofolio siswa, sekaligus sarana aktualisasi diri bagi guru di era digital. 


3. Mengenal Rangka Atap Baja Ringan (ISBN: 978-602-0793-54-2) 

Pengetahuan Teknis Konstruksi. Industri konstruksi bergerak cepat menuju material yang praktis dan efisien. Buku ini menyajikan dasar-dasar pengetahuan tentang rangka atap baja ringan, mulai dari jenis material, keunggulan, hingga prinsip pemasangannya. Disusun dengan bahasa yang lugas, buku ini sangat cocok menjadi referensi dasar bagi siswa SMK bangunan maupun masyarakat umum yang ingin mengenal teknologi atap modern. 


4. 1001 Desain Rumah Minimalis (ISBN: 978-623-8729-87-6) 

Inspirasi Desain & Arsitektur. Rumah minimalis tetap menjadi primadona, namun tantangannya adalah bagaimana memaksimalkan fungsi di lahan terbatas. Buku ini adalah kumpulan ide dan eksplorasi desain yang saya susun untuk memberikan inspirasi bagi siapa saja yang ingin merancang hunian estetis, sehat, dan fungsional. Sebuah karya yang menggabungkan sisi teknis DPIB dengan seni arsitektur. 

Read More »
02 February | 0komentar

Koneksi Sebelum Instruksi

Gambar by AI
Masalah utama di kelas kita seringkali bukan pada teknik atau metode mengajar. Bukan pula sepenuhnya salah anak-anak. Masalahnya ada pada konektivitas. Sebagai pendidik, kita adalah sumber energi belajar. Jika energi di dalam diri kita rendah, redup, atau bahkan kosong, maka jangan heran jika anak-anak di depan kita ikut meredup. Ing Ngarso Sung Tulodho apa yang ada di depan, itulah yang menjadi teladan. 
Energi kita mengalir ke mereka. Bonding (membangun koneksi) bukanlah sesi yang berlebihan atau sekadar basa-basi. Bonding adalah tentang membangun konektivitas: 
  • Hadir secara utuh: Bukan hanya raga yang di kelas, tapi pikiran dan hati juga ada di sana. 
  • Menyapa sebagai manusia: Mengenali mereka bukan sebagai nomor absen, tapi sebagai individu yang punya rasa. 
  • Menciptakan ruang aman: Ruang di mana mereka merasa nyaman untuk berpendapat tanpa takut salah. 
  • Buat anak termotivasi: sekali-kali tunjukan prestasi kita sebagai guru/ anggota masyarakat.

Koneksi Sebelum Instruksi 
Ilmu akan menemukan jalannya sendiri jika koneksi sudah terbentuk. Tanpa koneksi, instruksi sehebat apa pun hanya akan memantul di dinding kelas. Mari kita coba mengubah pendekatan kita. Hadirkan diri kita sepenuhnya sebelum menghadirkan materi. Bangun koneksi yang tulus sebelum memberikan instruksi yang kaku. Ketika jembatan hati sudah terbangun, pelan-pelan kita akan melihat perubahan itu: 
  • Wajah anak-anak yang mulai "hidup". 
  • Mata yang kembali bersinar karena merasa diperhatikan. 
  • Kelas yang kembali "bernapas" dan dinamis. 
Menjadi guru berarti siap untuk belajar dua kali lipat. Dan pelajaran terberat sekaligus terpenting yang harus kita pelajari bukanlah materi pelajaran kita, melainkan belajar menghadirkan diri. Karena pada akhirnya, guru yang hebat tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi mengajar manusia melalui kehadiran yang bermakna.

"Bagaimana cara memulai bonding jika waktu kita terbatas oleh kurikulum?" Jawabannya adalah konsistensi, bukan durasi. Coba luangkan 3 menit pertama sebelum membuka buku teks dengan langkah-langkah ini: 
  • Menyapa dengan Mata dan Nama (1 Menit) Jangan masuk kelas sambil menunduk melihat HP atau buku absen. Berdirilah di depan, tatap mata mereka satu per satu dengan senyum tulus. Sebut beberapa nama secara acak dan tanyakan kabar spesifik (misal: "Gimana pertandingan futsalmu kemarin, Andi?"). Ini membuat mereka merasa "terlihat". 
  • Cek Suasana Hati / "Check-in" (1 Menit) Gunakan teknik sederhana seperti Emoji Check-in. Mintalah mereka menunjukkan jempol ke atas jika merasa semangat, jempol ke samping jika biasa saja, atau jempol ke bawah jika sedang lelah/sedih. Ini adalah cara cepat untuk memvalidasi perasaan mereka sebelum dipaksa berpikir keras. 
  • Hadirkan Cerita Singkat atau Tebakan (1 Menit) Bagikan satu cerita singkat tentang apa yang Bapak alami pagi ini atau berikan satu teka-teki receh. Tujuannya adalah memecah kekakuan dan memicu tawa kecil. Tawa adalah cara tercepat untuk membuka "pintu" otak yang tertutup. 
Ingatlah prinsip ini: "Connection before Content" (Koneksi sebelum Materi). Jika jembatan hatinya sudah terbangun, maka materi sesulit apa pun akan lebih mudah diseberangkan.

Read More »
31 January | 0komentar

Daftar Buku Saya: Jejak Literasi dalam Empat Karya Ber-ISBN

Oleh: Sarastiana, S.Pd., M.B.A. 
Menjadi seorang pendidik bukan hanya soal menyampaikan materi di depan kelas, melainkan tentang bagaimana kita mewariskan pemikiran yang dapat diakses melampaui sekat ruang dan waktu. Bagi saya, menulis buku adalah cara terbaik untuk mengabadikan pengalaman, riset, dan pengabdian selama menjadi guru di SMKN 1 Bukateja. 
Hingga saat ini, alhamdulillah, saya telah berhasil menerbitkan empat buah buku yang telah terdaftar resmi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Karya-karya ini adalah buah dari konsistensi untuk terus belajar dan berbagi. 
Berikut adalah potret literasi yang telah terbit dan ber-ISBN: 


1. 1001 Desain Rumah Minimalis 
ISBN: 978-623-8729-87-6 
Penerbit: CV. Mitra Edukasi Negeri 

Fokus: 
Buku ini merupakan wujud aktualisasi saya dalam bidang Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), memberikan inspirasi desain hunian yang fungsional namun estetis. 



2. Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog 
ISBN: 978-623-320-202-2 
Penerbit: Haura Publishing 
Fokus: Sebagai praktisi yang mencintai dunia digital, buku ini merangkum strategi bagaimana mengintegrasikan blog sebagai media pembelajaran yang interaktif dan mendalam.



3. Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket 
ISBN: 978-623-7703-19-8 
Penerbit: CV. Trik Jitu Purbalingga 

Fokus: Inovasi dalam pembelajaran teknik. Buku ini membantu siswa maupun praktisi untuk memahami estimasi biaya konstruksi secara lebih konkret melalui bantuan media maket. 



4. Mengenal Rangka Atap Baja Ringan 
ISBN: 978-602-0793-54-2 
Penerbit: CV. Badan Penerbitan PGRI Provinsi Jawa Tengah 
Fokus: Karya ini disusun untuk memudahkan pemahaman teknis mengenai konstruksi baja ringan yang kini menjadi standar dalam dunia pembangunan modern. 



Mengapa Menulis? 
Setiap nomor ISBN dalam buku-buku di atas adalah simbol tanggung jawab intelektual. Seperti slogan yang selalu saya pegang sejak 2010, "Guru Menulis Itu Memberi Kejutan!". Kejutan itu bukan hanya untuk diri sendiri dalam bentuk prestasi, tetapi kejutan bagi dunia pendidikan bahwa seorang guru SMK dari daerah mampu memberikan kontribusi nyata bagi literasi nasional. 
Bagi rekan-rekan pendidik dan siswa yang ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai konten buku-buku di atas, atau tertarik untuk memiliki karyanya, silakan hubungi saya melalui kolom komentar atau email yang tertera di blog ini. Mari terus menulis, karena tulisan adalah satu-satunya cara kita "berbicara" kepada masa depan.

Read More »
29 January | 0komentar

Blog Sebagai "Lemari Digital"

Bagi banyak rekan pendidik, blog sering kali dianggap sebagai "lemari digital" tempat praktis untuk menyimpan RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam), Lembar Kerja (LK) dan berkas perangkat ajar lainnya agar mudah diakses saat akreditasi atau supervisi. Namun, jika kita melihat lebih jauh ke dalam esensi pengabdian, blog memiliki potensi yang jauh lebih besar. Blog adalah kanvas kosong yang menunggu kita untuk melukiskan jati diri dan jejak langkah kita sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran mendalam.

1. Blog sebagai Rekam Jejak Literasi
Perjalanan saya mengenal blog dari "nol kecil" pada tahun 2011 hingga memenangkan berbagai lomba media website tingkat provinsi membuktikan bahwa blog adalah saksi bisu pertumbuhan profesional kita. Blog bukan sekadar tempat menyimpan file, melainkan bukti nyata dari slogan "Guru Menulis Itu Memberi Kejutan!". Di sana, kita tidak hanya membagikan materi, tetapi juga gagasan dan refleksi yang tidak ditemukan dalam buku teks mana pun.
2. Melukis Jati Diri di Ruang Digital
Sebagai pendidik yang mendalami bidang Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), saya menyadari bahwa mengajar adalah sebuah seni. Melalui blog www.sarastiana.com, saya melukiskan pemikiran-pemikiran tentang manajemen pendidikan, perencanaan gedung, hingga pengalaman sebagai Guru Penggerak. Ini adalah bentuk aktualisasi diri: sebuah ruang di mana identitas kita sebagai ahli di bidangnya dan sebagai pembelajar sepanjang hayat (long-life learner) terpampang nyata.

3. Wadah Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Pembelajaran mendalam terjadi ketika seorang guru berani melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan di kelas. Blog memfasilitasi hal ini melalui artikel-artikel reflektif, seperti: 
  • Bagaimana media visual maket membantu siswa menghitung RAB secara lebih intuitif. 
  • Bagaimana pemanfaatan media digital blog dapat meningkatkan keterlibatan siswa. 
  • Bagaimana pengalaman mendampingi rekan sejawat sebagai Pengajar Praktik memperkaya perspektif kita tentang kepemimpinan pembelajaran.
4. Dari Berbagi Menjadi Menginspirasi
Ketika blog dikelola dengan hati, ia bertransformasi dari sekadar media penyimpanan menjadi media inspirasi. Prestasi-prestasi yang saya raih, mulai dari Juara Blog Guru hingga lulus S2 di UGM dengan program beasiswa tugas belajar. kategori "Lulus Amat Baik" pada Program Guru Penggerak, didokumentasikan bukan untuk kesombongan, melainkan untuk memberi semangat kepada rekan guru lainnya bahwa kita semua memiliki ruang untuk bersinar.
Berhenti menjadikannya sekadar gudang penyimpanan file yang kaku. Mulailah menjadikannya sebagai kanvas tempat kita menorehkan tinta emas pengabdian. Biarlah dunia mengenal siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan bagaimana cara kita mendidik, melalui jejak digital.
Sebab pada akhirnya, perangkat ajar bisa berganti kurikulum, namun narasi pengabdian yang kita tulis di blog akan abadi menginspirasi generasi yang akan datang.Sharing Knowledge.

Read More »
29 January | 0komentar

Mengubah Lelah Menjadi Tulisan: Aktualisasi Diri Menyehatkan Mental.


Dalam era digital yang demikian membuat bising, setiap orang membutuhkan "rumah" untuk pulang. Bukan rumah fisik, melainkan ruang digital di mana suara, ide, dan karya kita bisa menetap dan bertumbuh. Bagi saya, rumah itu adalah Blog.
Mengubah lelah menjadi tulisan adalah bentuk aktualisasi diri yang menyehatkan mental. Banyak yang menganggap blog hanyalah media untuk sharing informasi atau sekadar pengganti mading sekolah. Namun, jika kita menyelami lebih dalam seperti perjalanan saya sejak belajar "nol kecil" dari Master Blog Pak Hermawan di tahun 2011 hingga kini, blog memiliki fungsi yang jauh lebih luhur: sebagai alat Aktualisasi Diri.

Apa itu Aktualisasi Diri Melalui Blog? 
Abraham Maslow menempatkan aktualisasi diri pada puncak tertinggi kebutuhan manusia. Ini adalah momen di mana seseorang bisa mengembangkan seluruh potensi dan minatnya. Melalui blog www.sarastiana.com, saya menemukan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan proses "menemukan diri". Sekarang terbantu dengan AI dari Gemini dan ChatGPT

1. Blog Sebagai Laboratorium Kreativitas 
Di blog, tidak ada batasan kurikulum yang kaku. Sebagai guru DPIB (Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan), saya bisa mengekspresikan sisi arsitektural saya melalui tulisan tentang 1001 desain rumah, sekaligus menuangkan pemikiran manajemen hasil pendidikan S2 di UGM. Blog memfasilitasi "multipotensi" kita untuk muncul ke permukaan. 

2. Rekam Jejak (Digital Portfolio) 
Aktualisasi diri berkaitan erat dengan pengakuan atas kompetensi. Blog menjadi saksi bisu perjalanan saya: dari memenangkan Juara III Lomba Blog Guru tahun 2011 hingga Juara II Media Ajar Website tahun 2015. Dengan mendokumentasikan prestasi dan karya tulis di blog, kita sedang membangun otoritas diri di mata dunia. 

3. Media Katarsis dan Ekspresi Emosional 
Tugas sebagai pendidik terutama dengan tanggung jawab sebagai Kurikulum atau Guru Penggerak dan sekarang di SPMI tentu melelahkan. Blog menjadi media ekspresi di mana kita bisa menumpahkan keresahan, ide-ide segar tentang pendidikan, hingga refleksi diri. Mengubah lelah menjadi tulisan adalah bentuk aktualisasi diri yang menyehatkan mental.

Saya selalu percaya bahwa "Guru menulis itu bukan biasa", sebagaimana judul karya tulis saya di Majalah Swara tahun 2010 terbitan VEDC Bandung. Menulis di blog memaksa kita untuk terus belajar (long-life learner). Ketika kita menulis, kita sedang mengikat ilmu. Dan ketika tulisan itu dibaca serta bermanfaat bagi orang lain, di situlah puncak kebermaknaan kita sebagai manusia. bentuk dari sharing knowlegde. 
Jangan menunggu menjadi "ahli" untuk mulai mengekspresikan diri. Mulailah dari apa yang kita cintai. Jika saya yang awalnya tidak tahu apa-apa bisa meraih juara lewat blog, Bapak dan Ibu juga pasti bisa. Mari jadikan blog bukan hanya sebagai tempat menyimpan file perangkat ajar, tapi sebagai kanvas untuk melukis jejak pengabdian dan jati diri kita sebagai pendidik yang merdeka.

Read More »
25 January | 0komentar