Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In


Perangkat pembelajaran untuk menunjang Proses Belajar Mengajar(PBM) ini sesuai dengan kurikulum Merdeka. Informasi tentang CP dengan meng-KLIK gambar di atas. Perangkat pembelajaran Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan Bangunan pada Mata Pelajaran Mekanika Teknik


INSTAGRAM :@sarastiana1
        RECENT POST

Project Work EBK Semester Genap


Mata pelajaran EBK (Estimasi Biaya Konstruksi) Semester Genap. Menampilkan project work RAB dan menghitung jumlah kebutuhan bahan.

Pendahuluan 
Dalam dunia konstruksi, perencanaan biaya merupakan tahap yang sangat penting sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai. Pada mata pelajaran Estimasi Biaya Konstruksi (EBK) semester genap, siswa dituntut untuk mampu menyusun RAB (Rencana Anggaran Biaya) serta menghitung kebutuhan bahan secara tepat dan sistematis. Project work ini bertujuan untuk memberikan pemahaman nyata tentang bagaimana menghitung volume pekerjaan, menentukan kebutuhan material, serta menyusun anggaran biaya secara rinci.

Langkah kerja:
1. Download Analisa Harga satuan (RAB) bentuk File Excel di sini
2. Download Gambar Kerja di sini
3. Isilah table RAB (dalam File excel): vol, sat, Analisa, Harga Satuan, Jumlah Harga dan Total Harga


4. Hitung Volume Pekerjaan
5. Hitung Kebutuhan Material



Upload tugas di sini

Read More »
12 April | 0komentar

Analisa Harga Upah = OH (Orang Hari)

Analisa harga untuk upah OH (Orang Hari) adalah perhitungan biaya tenaga kerja dalam konstruksi yang didasarkan pada jumlah orang yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu satuan pekerjaan selama satu hari. OH merupakan koefisien yang menyatakan produktivitas tenaga kerja, yang menjadi standar dalam perhitungan AHSP (Analisa Harga Satuan Pekerjaan).

Definisi Penting OH (Orang Hari/Mandays): 
OH adalah singkatan dari Orang-Hari (dalam bahasa Inggris sering disebut Man-Day). 
Ini adalah satuan yang digunakan untuk mengukur produktivitas atau durasi kerja satu orang tenaga kerja dalam satu hari kerja standar (biasanya 7 atau 8 jam kerja) 

Artinya: 1 OH = 1 orang tenaga kerja bekerja selama 1 hari kerja (biasanya 8 jam).  

Contoh: Jika koefisien pekerja adalah 0,6 OH pada pemasangan dinding, artinya untuk menyelesaikan 1m2 dinding dibutuhkan 0,6 X 8 jam = 4,8 jam kerja oleh satu orang pekerja.

Komponen Analisa Upah (OH): 
  • Koefisien/Indeks Tenaga Kerja: Jumlah kebutuhan tenaga (misal: Pekerja, Tukang, Kepala Tukang, Mandor) per satuan pekerjaan (m³, m², m, kg). 
  • Harga Satuan Upah: Besar upah harian masing-masing tenaga kerja (Rp/Hari). 
  • Total Biaya Upah: Koefisien x Harga Satuan Upah. 

Jenis tenaga kerja biasanya terdiri dari: 
  • Pekerja 
  • Tukang 
  • Kepala Tukang 
  • Mandor
Dengan demikian, analisa OH digunakan untuk menghitung kebutuhan biaya upah tenaga kerja yang presisi agar sesuai dengan volume pekerjaan konstruksi.

Analisa harga upah OH (Orang Hari) merupakan metode penting dalam menghitung biaya tenaga kerja dalam proyek konstruksi. Dengan memahami konsep OH, koefisien tenaga kerja, serta harga satuan upah, perencanaan anggaran proyek dapat dilakukan secara lebih tepat dan efisien. Metode ini juga menjadi bagian utama dalam penyusunan AHSP, sehingga wajib dipahami oleh kontraktor, estimator, maupun pelaku konstruksi lainnya.

Read More »
12 April | 0komentar

Rohani Juga Bisa “Lapar”

Udara terasa sejuk, dan aktivitas belum benar-benar dimulai. Namun di tengah ketenangan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang justru terasa dalam maknanya: 
 “Bapak/Ibu, kita makan sehari berapa kali?” 
Sebagian besar dari kita pasti menjawab, tiga kali sehari. Sarapan, makan siang, dan makan malam. Kita begitu peduli dengan tubuh. Kita pastikan tidak telat makan. Kita pilih makanan yang enak, bahkan yang bergizi.  
Tapi… pernahkah kita bertanya:  
Sudahkah akal kita diberi makan hari ini?  
Sudahkah hati kita mendapatkan asupannya?   

Badan yang Dijaga, Akal yang Dilupakan Tubuh kita memang butuh energi. Tanpa makan, badan lemah, tidak bisa bekerja, bahkan bisa sakit. Namun ternyata, akal juga bisa “lapar”.  
Akal butuh ilmu. Akal butuh pengetahuan. Tanpa ilmu, akal menjadi tumpul. Tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mudah terombang-ambing oleh keadaan. Betapa banyak orang yang fisiknya kuat, tapi pikirannya kosong…  
Hati yang Sering Terabaikan Lalu ada satu bagian yang paling halus… paling sensitif… namun sering kita abaikan:  
Hati. Jika tubuh kita lapar, kita langsung mencari makan. Jika akal kita butuh, kita bisa belajar. Tapi jika hati kita lapar… seringkali kita tidak sadar.  
Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan: “Dalam hati mereka ada penyakit…” Penyakit hati itu nyata. Ia tidak terlihat, tapi terasa. Ia tidak berdarah, tapi menyakitkan.  
Hati yang sakit akan:  
Mudah iri Sulit menerima kebenaran  
Kehilangan ketenangan 
Dan semua itu berawal dari satu hal sederhana: Kurangnya “gizi” untuk hati. 

 Apa Makanan Hati? 

Jika badan butuh nasi, akal butuh ilmu, maka hati butuh: Dzikir Membaca Al-Qur’an Sholawat Istighfar Hati itu lebih peka daripada tubuh. Kalau tubuh cukup makan 3 kali sehari, hati justru butuh “makan” lebih sering. Memulai Hari dengan Menguatkan Ruhani Seringkali kita langsung sibuk dengan aktivitas fisik: bekerja, berangkat, mengejar target… Padahal seharusnya, sebelum itu semua… Kita kuatkan dulu hati kita. Dengan membaca Al-Qur’an… Dengan berdzikir… Dengan memohon ampun kepada Allah… Karena ketika hati kuat, maka badan dan akal akan ikut kuat. Pelajaran dari Al-Qur’an Allah berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 45–47: 
 Fasbutu → teguhkan langkahmu 
Taat kepada Allah dan Rasul-Nya 
Jangan berpecah belah 
Wasbiru → bersabarlah 

Semua itu menunjukkan satu hal penting: 
👉 Kekuatan sejati dimulai dari dalam (hati), bukan dari luar.  
Ikhlas: Kunci dari Segalanya Semua yang kita lakukan… ibadah, pekerjaan, kebaikan… akan terasa ringan jika dilakukan dengan satu hal: Ikhlas. Ikhlas membuat hati tenang. Ikhlas membuat langkah menjadi ringan. Ikhlas menjadikan hidup lebih bermakna. 

Jangan Sampai Hanya Badan yang Kenyang Hari ini… mungkin badan kita sudah kenyang. Mungkin kita sudah makan dengan cukup. Tapi coba tanyakan pada diri sendiri… Apakah hati kita juga sudah kenyang? Atau justru masih lapar… tanpa kita sadari? Mari mulai hari ini: Memberi makan badan dengan gizi Memberi makan akal dengan ilmu Memberi makan hati dengan dzikir Karena sejatinya… Hidup yang bahagia bukan hanya tentang tubuh yang sehat, tetapi tentang hati yang hidup dan dekat dengan Allah.

Read More »
05 April | 0komentar

Halal Bi Halal adalah budaya Indonesia penuh makna

Makan setelah Halal Bi Halal

Pendahuluan 

Fenomena budaya Indonesia yang selalu hadir setelah pelaksanaan ibadah puasa Ramadan adalah tradisi halal bi halal. Kegiatan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, bahkan melekat kuat sebagai identitas budaya bangsa. Selain itu, tradisi mudik Lebaran juga memiliki keterkaitan erat dengan halal bi halal. Setelah kembali ke kampung halaman, masyarakat memanfaatkan momen tersebut untuk bersilaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat hubungan kekeluargaan. 

Pengertian Halal Bi Halal 

Halal bi halal adalah sebuah tradisi khas Indonesia yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, dengan tujuan utama saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antar sesama. Tradisi ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi merupakan refleksi dari ajaran Islam yang menekankan: Persaudaraan (ukhuwah) Persatuan Kasih sayang antar sesama manusia Halal bi halal juga menjadi simbol bahwa Islam adalah agama yang toleran dan damai, serta mengajarkan kehidupan yang rukun, meskipun dalam keberagaman. Halal Bi Halal sebagai Budaya Bangsa Indonesia Seiring waktu, halal bi halal telah berkembang menjadi budaya yang mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Tradisi ini diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti: Kunjungan antar keluarga Acara di sekolah, kantor, atau instansi Pertemuan masyarakat atau komunitas Pengajian dan tausiyah Budaya ini mencerminkan nilai luhur bangsa Indonesia, yaitu: Saling memaafkan Saling mengunjungi Saling berbagi kasih sayang Tidak hanya dalam lingkup umat Islam, halal bi halal juga sering menjadi ajang mempererat hubungan lintas agama, sehingga memperkuat harmoni sosial. 

Makna Toleransi dalam Halal Bi Halal 

Perbedaan agama bukanlah alasan untuk saling memusuhi atau mencurigai. Justru, perbedaan tersebut menjadi sarana untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Halal bi halal menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia mampu: Hidup berdampingan secara damai Menjunjung tinggi toleransi Mengedepankan persatuan di atas perbedaan Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).  

Asal Usul Istilah Halal Bi Halal  

Meskipun terdengar seperti berasal dari bahasa Arab, istilah halal bi halal sebenarnya tidak dikenal dalam bahasa Arab. Istilah ini juga tidak ditemukan pada zaman Nabi Muhammad SAW maupun para sahabat. Dalam praktik Islam pada masa Rasulullah SAW, yang dikenal adalah konsep silaturahmi, yaitu menjalin dan menjaga hubungan baik antar sesama manusia.  

Menurut berbagai referensi:  
  • Ensiklopedi Islam (2000) menyebutkan bahwa tradisi halal bi halal tidak ditemukan di negara-negara Arab maupun negara Islam lainnya, kecuali di Indonesia.  
  • Ensiklopedi Indonesia (1978) menjelaskan bahwa istilah halal bi halal merupakan serapan lafadz Arab yang tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa Arab (ilmu nahwu).  

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), halal bi halal diartikan sebagai: “Hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di suatu tempat oleh sekelompok orang, dan merupakan kebiasaan khas Indonesia.” Dengan demikian, halal bi halal adalah produk budaya Indonesia yang mengadopsi nilai-nilai Islam dalam bentuk tradisi sosial. 

Perbedaan Halal Bi Halal dan Silaturahmi 

Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mempererat hubungan antar manusia, namun berbeda dalam konteks dan pelaksanaannya.  

Perbedaan Silaturahmi dan Halal Bi Halal

Hikmah dan Manfaat Halal Bi Halal 

Tradisi halal bi halal memberikan banyak manfaat, di antaranya:  
❤️ Membersihkan hati dari dendam dan kesalahan  
🤝 Mempererat tali persaudaraan  
🏡 Menciptakan keharmonisan dalam keluarga dan masyarakat  
🌍 Menumbuhkan sikap toleransi antar umat beragama  
🌿 Memberikan ketenangan batin 

Halal bi halal bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi merupakan warisan budaya yang sarat makna dan nilai-nilai luhur. Tradisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia mampu mengharmoniskan ajaran agama dengan budaya lokal. Di tengah perbedaan yang ada, halal bi halal hadir sebagai jembatan yang menyatukan hati, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan toleransi.

Read More »
04 April | 0komentar

Halal Bi Halal: Pengertian, Sejarah, Tujuan, dan Manfaatnya dalam Islam

Ikrar Halal Bi Halal
Halal bi halal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri. Istilah ini berasal dari kata “halal” yang berarti terbebas dari dosa atau kesalahan, sehingga halal bi halal dimaknai sebagai momen untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antar sesama. Tradisi ini tidak hanya sekadar berjabat tangan dan mengucapkan maaf, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun instansi. 
Halal bi halal mulai dikenal luas di Indonesia sejak masa kemerdekaan. Tradisi ini dipopulerkan oleh tokoh-tokoh nasional sebagai upaya mempererat persatuan bangsa setelah masa konflik. Seiring waktu, halal bi halal berkembang menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya setelah bulan Ramadan dan Idul Fitri. 
Meskipun istilah halal bi halal tidak secara langsung disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits, namun esensi dari kegiatan ini sangat sesuai dengan ajaran Islam, yaitu: Anjuran untuk saling memaafkan “... 

dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada...” (QS. An-Nur: 22) 

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Halal bi halal memiliki banyak tujuan mulia, di antaranya: Membersihkan hati dari rasa dendam Mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan Membangun kembali komunikasi yang sempat renggang Menumbuhkan sikap rendah hati dan saling menghargai Manfaat Halal Bi Halal 

Melaksanakan halal bi halal memberikan dampak positif, baik secara spiritual maupun sosial: 
🌿 Ketenangan batin karena telah saling memaafkan 
🤝 Memperkuat ukhuwah Islamiyah 
🏡 Menciptakan suasana harmonis dalam keluarga dan masyarakat 
❤️ Menghilangkan prasangka dan konflik 

Bentuk Kegiatan Halal Bi Halal 

Halal bi halal dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti: Kumpul keluarga besar Acara di sekolah atau kantor Pengajian atau tausiyah Silaturahmi dari rumah ke rumah Biasanya kegiatan ini diisi dengan sambutan, doa bersama, tausiyah, dan diakhiri dengan saling bersalaman. 
Agar kegiatan halal bi halal lebih bermakna, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan: Ikhlas dalam memaafkan Mengucapkan maaf dengan tulus Tidak mengungkit kesalahan lama Menjaga sopan santun dan etika Memperbanyak doa dan dzikir 
Halal bi halal bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan wujud nyata dari ajaran Islam yang mengedepankan kasih sayang, persaudaraan, dan kedamaian. Di tengah kehidupan yang penuh kesibukan dan perbedaan, momen ini menjadi kesempatan berharga untuk kembali menyatukan hati. Dengan halal bi halal, kita tidak hanya membersihkan diri dari dosa kepada sesama, tetapi juga memperkuat ikatan sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Read More »
03 April | 0komentar

Salam dalam Islam

Salam
Salam dalam Islam adalah ucapan doa keselamatan, keberkahan, dan rahmat kepada sesama muslim. 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” 

Artinya: Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu.

Ucapan salam di atas bukan sekadar sapaan, tetapi bentuk ibadah yang bernilai pahala dan mempererat ukhuwah. Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk menyebarkan salam dan menjawabnya dengan lebih baik atau setara.  

Firman Allah: 
 “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam, maka balaslah salam itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa: 86).

Ayat ini menunjukkan bahwa: Mengucapkan salam adalah sunnah yang dianjurkan Menjawab salam adalah wajib. Dianjurkan membalas dengan yang lebih baik 

Dalil Salam dalam Hadits 
Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya menyebarkan salam: 

a. Salam sebagai kunci masuk surga  
Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak sempurna iman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)  
b. Salam adalah hak sesama muslim “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam…” Salah satunya: “Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam.” (HR. Muslim) 

Urutan Memberi Salam 
Sesuai Hadits Islam mengatur adab dalam memberi salam agar tercipta tata krama sosial yang indah. Rasulullah ﷺ bersabda: 
 “Hendaklah yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” (HR. Bukhari & Muslim)  

Urutannya:  
Yang muda → kepada yang lebih tua  
Yang berjalan → kepada yang duduk  
Yang sedikit → kepada yang lebih banyak  
Yang berkendara → kepada yang berjalan 

Ini menunjukkan nilai: Penghormatan Kerendahan hati Adab dalam interaksi sosial  

Tata Cara Salam yang Benar Ucapan salam: 
Minimal: Assalamu’alaikum 
Lebih sempurna: Assalamu’alaikum warahmatullah 
Paling lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Jawaban salam: 
Wa’alaikumussalam (minimal) 
Wa’alaikumussalam warahmatullah Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh (paling utama) 

Manfaat Mengucapkan Salam 
a. Mendapat pahala Setiap salam bernilai pahala yang berlipat.  
b. Menumbuhkan kasih sayang Salam menjadi pembuka hati dan menghilangkan permusuhan.  
c. Menjadi ciri khas umat Islam Salam adalah identitas muslim yang membedakan dengan budaya lain.  
d. Mendatangkan keberkahan Ucapan salam membawa doa keselamatan dan rahmat Allah.  
e. Menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ 

Semakin sering mengucapkan salam, semakin kita dekat dengan sunnah. 

Keutamaan Menyebarkan Salam  
Dalam hadits disebutkan: 
 “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikan makanan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi) 

Salam bukan hanya sekadar ucapan, tetapi ibadah yang ringan namun berdampak besar. Ia mempererat persaudaraan, menumbuhkan cinta, dan menjadi jalan menuju surga. Mari kita biasakan: Mengucapkan salam terlebih dahulu Menjawab dengan lebih baik Menyebarkannya kepada siapa saja sesama muslim Karena dari salam, lahir kedamaian. Dari kedamaian, tumbuh keberkahan.

Read More »
31 March | 0komentar