Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Sinopsis Karya Buku

Sinopsis Karya Literasi (Buku ber-ISBN) oleh Sarastiana, S.Pd., M.B.A. 
Untuk memberikan gambaran/ringkasan singkat, padat, dan jelas yang menggambarkan garis besar isi sebuah buku hasil karya saya, dari awal hingga akhir. Fungsi utamanya adalah memberikan gambaran umum mengenai isi, materi, tujuan atau poin penting. 
1. Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket (ISBN: 978-623-7703-19-8) 
Inovasi Pembelajaran Teknik. Banyak siswa merasa kesulitan membayangkan volume bangunan hanya dari gambar 2D. Buku ini hadir memberikan solusi konkret: menggunakan media maket sebagai jembatan visual. Pembaca akan dipandu bagaimana mengonversi wujud fisik maket menjadi perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang akurat, menjadikannya panduan wajib bagi guru DPIB yang ingin kelasnya lebih dinamis dan mudah dipahami. 



2. Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog (ISBN: 978-623-320-202-2) 

Digitalisasi Pendidikan & Literasi. Blog bukan sekadar catatan harian, melainkan ekosistem belajar yang tanpa batas. Buku ini merangkum pengalaman saya bertahun-tahun mengelola blog pendidikan hingga memenangkan berbagai penghargaan. Di dalamnya, dibahas tuntas cara membangun blog sebagai media ajar yang interaktif, tempat menyimpan portofolio siswa, sekaligus sarana aktualisasi diri bagi guru di era digital. 


3. Mengenal Rangka Atap Baja Ringan (ISBN: 978-602-0793-54-2) 

Pengetahuan Teknis Konstruksi. Industri konstruksi bergerak cepat menuju material yang praktis dan efisien. Buku ini menyajikan dasar-dasar pengetahuan tentang rangka atap baja ringan, mulai dari jenis material, keunggulan, hingga prinsip pemasangannya. Disusun dengan bahasa yang lugas, buku ini sangat cocok menjadi referensi dasar bagi siswa SMK bangunan maupun masyarakat umum yang ingin mengenal teknologi atap modern. 


4. 1001 Desain Rumah Minimalis (ISBN: 978-623-8729-87-6) 

Inspirasi Desain & Arsitektur. Rumah minimalis tetap menjadi primadona, namun tantangannya adalah bagaimana memaksimalkan fungsi di lahan terbatas. Buku ini adalah kumpulan ide dan eksplorasi desain yang saya susun untuk memberikan inspirasi bagi siapa saja yang ingin merancang hunian estetis, sehat, dan fungsional. Sebuah karya yang menggabungkan sisi teknis DPIB dengan seni arsitektur. 

Read More »
02 February | 0komentar

Daftar Buku Saya: Jejak Literasi dalam Empat Karya Ber-ISBN

Oleh: Sarastiana, S.Pd., M.B.A. 
Menjadi seorang pendidik bukan hanya soal menyampaikan materi di depan kelas, melainkan tentang bagaimana kita mewariskan pemikiran yang dapat diakses melampaui sekat ruang dan waktu. Bagi saya, menulis buku adalah cara terbaik untuk mengabadikan pengalaman, riset, dan pengabdian selama menjadi guru di SMKN 1 Bukateja. 
Hingga saat ini, alhamdulillah, saya telah berhasil menerbitkan empat buah buku yang telah terdaftar resmi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Karya-karya ini adalah buah dari konsistensi untuk terus belajar dan berbagi. 
Berikut adalah potret literasi yang telah terbit dan ber-ISBN: 


1. 1001 Desain Rumah Minimalis 
ISBN: 978-623-8729-87-6 
Penerbit: CV. Mitra Edukasi Negeri 

Fokus: 
Buku ini merupakan wujud aktualisasi saya dalam bidang Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), memberikan inspirasi desain hunian yang fungsional namun estetis. 



2. Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog 
ISBN: 978-623-320-202-2 
Penerbit: Haura Publishing 
Fokus: Sebagai praktisi yang mencintai dunia digital, buku ini merangkum strategi bagaimana mengintegrasikan blog sebagai media pembelajaran yang interaktif dan mendalam.



3. Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket 
ISBN: 978-623-7703-19-8 
Penerbit: CV. Trik Jitu Purbalingga 

Fokus: Inovasi dalam pembelajaran teknik. Buku ini membantu siswa maupun praktisi untuk memahami estimasi biaya konstruksi secara lebih konkret melalui bantuan media maket. 



4. Mengenal Rangka Atap Baja Ringan 
ISBN: 978-602-0793-54-2 
Penerbit: CV. Badan Penerbitan PGRI Provinsi Jawa Tengah 
Fokus: Karya ini disusun untuk memudahkan pemahaman teknis mengenai konstruksi baja ringan yang kini menjadi standar dalam dunia pembangunan modern. 



Mengapa Menulis? 
Setiap nomor ISBN dalam buku-buku di atas adalah simbol tanggung jawab intelektual. Seperti slogan yang selalu saya pegang sejak 2010, "Guru Menulis Itu Memberi Kejutan!". Kejutan itu bukan hanya untuk diri sendiri dalam bentuk prestasi, tetapi kejutan bagi dunia pendidikan bahwa seorang guru SMK dari daerah mampu memberikan kontribusi nyata bagi literasi nasional. 
Bagi rekan-rekan pendidik dan siswa yang ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai konten buku-buku di atas, atau tertarik untuk memiliki karyanya, silakan hubungi saya melalui kolom komentar atau email yang tertera di blog ini. Mari terus menulis, karena tulisan adalah satu-satunya cara kita "berbicara" kepada masa depan.

Read More »
29 January | 0komentar

Blog Sebagai "Lemari Digital"

Bagi banyak rekan pendidik, blog sering kali dianggap sebagai "lemari digital" tempat praktis untuk menyimpan RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam), Lembar Kerja (LK) dan berkas perangkat ajar lainnya agar mudah diakses saat akreditasi atau supervisi. Namun, jika kita melihat lebih jauh ke dalam esensi pengabdian, blog memiliki potensi yang jauh lebih besar. Blog adalah kanvas kosong yang menunggu kita untuk melukiskan jati diri dan jejak langkah kita sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran mendalam.

1. Blog sebagai Rekam Jejak Literasi
Perjalanan saya mengenal blog dari "nol kecil" pada tahun 2011 hingga memenangkan berbagai lomba media website tingkat provinsi membuktikan bahwa blog adalah saksi bisu pertumbuhan profesional kita. Blog bukan sekadar tempat menyimpan file, melainkan bukti nyata dari slogan "Guru Menulis Itu Memberi Kejutan!". Di sana, kita tidak hanya membagikan materi, tetapi juga gagasan dan refleksi yang tidak ditemukan dalam buku teks mana pun.
2. Melukis Jati Diri di Ruang Digital
Sebagai pendidik yang mendalami bidang Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), saya menyadari bahwa mengajar adalah sebuah seni. Melalui blog www.sarastiana.com, saya melukiskan pemikiran-pemikiran tentang manajemen pendidikan, perencanaan gedung, hingga pengalaman sebagai Guru Penggerak. Ini adalah bentuk aktualisasi diri: sebuah ruang di mana identitas kita sebagai ahli di bidangnya dan sebagai pembelajar sepanjang hayat (long-life learner) terpampang nyata.

3. Wadah Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Pembelajaran mendalam terjadi ketika seorang guru berani melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan di kelas. Blog memfasilitasi hal ini melalui artikel-artikel reflektif, seperti: 
  • Bagaimana media visual maket membantu siswa menghitung RAB secara lebih intuitif. 
  • Bagaimana pemanfaatan media digital blog dapat meningkatkan keterlibatan siswa. 
  • Bagaimana pengalaman mendampingi rekan sejawat sebagai Pengajar Praktik memperkaya perspektif kita tentang kepemimpinan pembelajaran.
4. Dari Berbagi Menjadi Menginspirasi
Ketika blog dikelola dengan hati, ia bertransformasi dari sekadar media penyimpanan menjadi media inspirasi. Prestasi-prestasi yang saya raih, mulai dari Juara Blog Guru hingga lulus S2 di UGM dengan program beasiswa tugas belajar. kategori "Lulus Amat Baik" pada Program Guru Penggerak, didokumentasikan bukan untuk kesombongan, melainkan untuk memberi semangat kepada rekan guru lainnya bahwa kita semua memiliki ruang untuk bersinar.
Berhenti menjadikannya sekadar gudang penyimpanan file yang kaku. Mulailah menjadikannya sebagai kanvas tempat kita menorehkan tinta emas pengabdian. Biarlah dunia mengenal siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan bagaimana cara kita mendidik, melalui jejak digital.
Sebab pada akhirnya, perangkat ajar bisa berganti kurikulum, namun narasi pengabdian yang kita tulis di blog akan abadi menginspirasi generasi yang akan datang.Sharing Knowledge.

Read More »
29 January | 0komentar

Mengubah Lelah Menjadi Tulisan: Aktualisasi Diri Menyehatkan Mental.


Dalam era digital yang demikian membuat bising, setiap orang membutuhkan "rumah" untuk pulang. Bukan rumah fisik, melainkan ruang digital di mana suara, ide, dan karya kita bisa menetap dan bertumbuh. Bagi saya, rumah itu adalah Blog.
Mengubah lelah menjadi tulisan adalah bentuk aktualisasi diri yang menyehatkan mental. Banyak yang menganggap blog hanyalah media untuk sharing informasi atau sekadar pengganti mading sekolah. Namun, jika kita menyelami lebih dalam seperti perjalanan saya sejak belajar "nol kecil" dari Master Blog Pak Hermawan di tahun 2011 hingga kini, blog memiliki fungsi yang jauh lebih luhur: sebagai alat Aktualisasi Diri.

Apa itu Aktualisasi Diri Melalui Blog? 
Abraham Maslow menempatkan aktualisasi diri pada puncak tertinggi kebutuhan manusia. Ini adalah momen di mana seseorang bisa mengembangkan seluruh potensi dan minatnya. Melalui blog www.sarastiana.com, saya menemukan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan proses "menemukan diri". Sekarang terbantu dengan AI dari Gemini dan ChatGPT

1. Blog Sebagai Laboratorium Kreativitas 
Di blog, tidak ada batasan kurikulum yang kaku. Sebagai guru DPIB (Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan), saya bisa mengekspresikan sisi arsitektural saya melalui tulisan tentang 1001 desain rumah, sekaligus menuangkan pemikiran manajemen hasil pendidikan S2 di UGM. Blog memfasilitasi "multipotensi" kita untuk muncul ke permukaan. 

2. Rekam Jejak (Digital Portfolio) 
Aktualisasi diri berkaitan erat dengan pengakuan atas kompetensi. Blog menjadi saksi bisu perjalanan saya: dari memenangkan Juara III Lomba Blog Guru tahun 2011 hingga Juara II Media Ajar Website tahun 2015. Dengan mendokumentasikan prestasi dan karya tulis di blog, kita sedang membangun otoritas diri di mata dunia. 

3. Media Katarsis dan Ekspresi Emosional 
Tugas sebagai pendidik terutama dengan tanggung jawab sebagai Kurikulum atau Guru Penggerak dan sekarang di SPMI tentu melelahkan. Blog menjadi media ekspresi di mana kita bisa menumpahkan keresahan, ide-ide segar tentang pendidikan, hingga refleksi diri. Mengubah lelah menjadi tulisan adalah bentuk aktualisasi diri yang menyehatkan mental.

Saya selalu percaya bahwa "Guru menulis itu bukan biasa", sebagaimana judul karya tulis saya di Majalah Swara tahun 2010 terbitan VEDC Bandung. Menulis di blog memaksa kita untuk terus belajar (long-life learner). Ketika kita menulis, kita sedang mengikat ilmu. Dan ketika tulisan itu dibaca serta bermanfaat bagi orang lain, di situlah puncak kebermaknaan kita sebagai manusia. bentuk dari sharing knowlegde. 
Jangan menunggu menjadi "ahli" untuk mulai mengekspresikan diri. Mulailah dari apa yang kita cintai. Jika saya yang awalnya tidak tahu apa-apa bisa meraih juara lewat blog, Bapak dan Ibu juga pasti bisa. Mari jadikan blog bukan hanya sebagai tempat menyimpan file perangkat ajar, tapi sebagai kanvas untuk melukis jejak pengabdian dan jati diri kita sebagai pendidik yang merdeka.

Read More »
25 January | 0komentar

Menata Ulang Arah di Tengah Lelah Titik Lelah yang Menjauhkan

Dalam perjalanan panjang pendidikan di Indonesia, guru sering kali merasa seperti berjalan di dalam labirin administratif yang tak berujung. Tuntutan kurikulum yang terus berganti, beban dokumen yang menumpuk, hingga ekspektasi sosial yang berat, kerap kali menjadi beban yang melelahkan.
Tanpa disadari, rutinitas ini justru perlahan menjauhkan kita dari alasan paling dasar mengapa kita dulu memilih untuk mendidik: Cinta kepada ilmu dan kasih sayang kepada murid.

Menata Ulang Arah: Bukan Sekadar Mengajar, Tapi Mendidik
Lelah itu manusiawi, namun terjebak dalam kelelahan yang mematikan idealisme adalah sebuah kerugian. Saat ini adalah momentum yang tepat bagi kita untuk berhenti sejenak dan melakukan "refleksi radikal".
Menata ulang arah bukan berarti mengganti tujuan, melainkan membersihkan jalan yang tertutup semak belukar birokrasi. Kita perlu bertanya kembali pada hati kecil kita: Apakah hari ini saya sudah benar-benar menyentuh jiwa murid saya, atau hanya sekadar menggugurkan kewajiban di depan kelas?

Menemukan Kembali Kedaulatan dan Kebermaknaan
Seorang guru yang berdaulat adalah guru yang tidak membiarkan dirinya didikte sepenuhnya oleh keadaan. Kedaulatan guru lahir ketika kita: Memiliki Otoritas di Kelas: Menjadikan ruang kelas sebagai taman belajar yang merdeka, bukan penjara hafalan. Menemukan Pengharapan: Percaya bahwa sekecil apa pun ilmu yang kita tanam, ia akan tumbuh menjadi pohon kebaikan di masa depan. Merasakan Kebermaknaan: Menyadari bahwa senyum keberhasilan seorang murid adalah "gaji" yang tidak bisa dinilai dengan angka.

Kembali ke Marwah Pendidik
Mari kita ambil kembali kedaulatan kita. Mari kita tata kembali arah kompas pendidikan kita menuju kebermaknaan. Guru yang hebat bukan ia yang mampu menyelesaikan semua laporan tepat waktu dengan sempurna, melainkan ia yang tetap mampu menyalakan api harapan di mata murid-muridnya, meskipun ia sendiri sedang berjalan di tengah tuntutan yang melelahkan. Sebab, di tangan guru yang berdaulat, masa depan bangsa ini diletakkan.

Read More »
25 January | 0komentar

Eduwisata Kampung Gagot, Banjarnegara


Dari riset yang dilakukan oleh anak saya yang ada di SMAIT IF Mungkid Magelang. Melakukan riset bersama temannya di Kampung Gagot. lengkapnya di Dusun Gagot, RT.01/RW.05, Tinembang, Kutawuluh, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah 53472

Read More »
24 January | 0komentar

Micro interaction : Cara kita menyapa murid Di Awal Semester


Semester genap akhirnya datang.Pintu kelas kembali terbuka. Bangku-bangku yang sempat kosong kini terisi lagi oleh wajah-wajah yang sama dengan cerita yang mungkin sudah berbeda.
Namun sering kali, yang ikut masuk ke kelas di awal semester genap bukan hanya semangat baru, tapi juga keluhan lama. 
 “Anak sekarang susah diatur.” 
“Motivasinya rendah.” 
“Isinya main HP terus.” 
“Zamannya memang beda, Pak…”  

Kadang murid yang disalahkan. 
Kadang guru. Kadang sistem pendidikan itu sendiri. Lalu muncul satu pertanyaan penting:
Jika kita terus saling menyalahkan, kapan pendidikan benar-benar bergerak maju? 
Di awal semester genap ini, aku teringat satu peristiwa kecil di akhir semester lalu. Seorang murid duduk di bangku paling belakang. Matanya kosong. Bukunya rapi, tapi tak pernah dibuka. Biasanya, kalimat spontan yang keluar adalah teguran cepat, “Wong kok bengong ae? Fokus dong!” 
Tapi hari itu, aku memilih berhenti sejenak. 
Aku mendekat. Jongkok. Menyamakan posisi mata. Lalu bertanya pelan, “Capek ya hari ini?” Dia terkejut. Lalu mengangguk. “Jujur, Pak… saya ngerasa bodoh di pelajaran ini.” Kalimat itu menyadarkanku: pendidikan sering kali tidak runtuh oleh kebijakan besar, tetapi bocor perlahan lewat interaksi-interaksi kecil yang kita anggap sepele. 

Micro interaction. 
Cara kita menyapa murid di awal masuk kelas. Nada suara saat menegur di hari pertama. Pilihan kata ketika murid salah menjawab. Respons kita saat mereka gagal mencoba. Hal-hal kecil. Namun dampaknya bisa sangat panjang. 
Bayangkan perbedaannya. Bukan: “Kenapa kamu telat lagi sih?!” Tapi: “Kamu telat. Ada yang bisa Bapak bantu supaya besok lebih siap?” Bukan: “Kok nilaimu jeblok semua?” 
Tapi: 
“Bagian mana yang paling bikin kamu mentok? Kita coba bareng-bareng.” Bukan: “Sudah berapa kali saya jelaskan!” Tapi: “Mungkin cara jelasku belum sampai. Kita cari cara lain.” 
Micro interaction bukan berarti memanjakan murid. Bukan berarti tidak tegas. Bukan menurunkan standar pembelajaran. Ini tentang menaikkan martabat manusia di dalam kelas. Karena sering kali murid bukan malas. Mereka lelah. Takut salah. Atau kehilangan percaya diri sejak semester lalu. Dan satu kalimat dari guru di awal semester genap bisa menjadi vonis atau justru harapan.

Read More »
05 January | 0komentar

Menanamkan Karakter Presisi Lewat Hal-Hal Kecil

Di Laboratorium Komputer
Dunia Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) saat ini bergerak cepat. Dari meja gambar manual, kita beralih ke layar monitor. Aplikasi seperti AutoCAD dan SketchUp menjadi "senjata" utama. Namun, jangan salah, meskipun alatnya digital, prinsip ketelitian dan detail justru semakin krusial. Kalau Anda mampir ke lab komputer jurusan DPIB kami, mungkin Anda akan menemukan beberapa "ritual aneh" yang dilakukan siswa. Mereka mungkin terlihat berlebihan, tapi percayalah, di balik keanehan itu ada manfaat besar yang membentuk kompetensi mereka. 
1. "Ritual" Zoom-In Sampai Piksel Pecah di AutoCAD 
Pernah lihat siswa melototi layar, meng-klik zoom-in berkali-kali sampai objek terlihat pecah jadi piksel kotak-kotak? Hanya untuk memastikan dua garis yang jaraknya cuma 0.001 mm itu benar-benar menyatu (join) atau tidak overlap. 
Hal kecil yang dianggap aneh: Menginvestasikan waktu berharga untuk memastikan presisi garis yang tak kasat mata di layar AutoCAD. 
Manfaatnya: Ini bukan soal perfeksionis semata. 
Di dunia BIM (Building Information Modeling) dan konstruksi, ketidakpresisian 0.001 mm di gambar bisa berarti error di output cutting material, salah perhitungan volume, bahkan clash detection yang fatal di proyek besar. Kita melatih mereka untuk berpikir secara zero-error. 

2. "Obsesi" Layering dan Grup yang Rapi di SketchUp 
Siswa DPIB seringkali sangat cerewet soal "layering" di SketchUp. Setiap komponen, dari dinding, kusen, hingga furnitur, harus punya layer dan group yang terpisah dan terorganisir rapi. 
Hal kecil yang dianggap aneh: Menghabiskan waktu membuat layer dan group yang sistematis bahkan untuk objek sederhana. 
Manfaatnya: Ini adalah fondasi kerja kolaborasi di industri. Tim arsitek, struktur, MEP (Mekanikal, Elektrikal, Plumbing) harus berbagi model yang terstruktur. Layering yang rapi memudahkan revisi, rendering, analisis clash, dan workflow proyek. Ini melatih mereka berpikir sistematis seperti arsitek profesional. 

3. "Debat Kusir" Soal Material dan Rendering "Pak, material kayunya kenapa pakai yang tekstur ini? Lebih bagus pakai yang itu!" atau "Renderingnya kok belum maksimal ya?" 
Hal kecil yang dianggap aneh: Menghabiskan waktu ekstra untuk memilih tekstur material atau menyesuaikan parameter rendering hanya untuk mendapatkan "feel" yang pas. 
Manfaatnya: Di era digital, visualisasi adalah kunci presentasi. Rendering yang realistis dan pemilihan material yang tepat di SketchUp (atau software rendering lain) bisa memengaruhi keputusan klien, investor, hingga kualitas pemasaran properti. Kita mendidik mereka untuk bukan hanya membuat model, tapi juga "menjual" ide. 

4. Berkomunikasi dengan Model 3D (Simulasi Maket Digital) 
Mirip dengan maket fisik, siswa juga sering memutar-mutar model 3D di SketchUp, masuk ke dalam model (walkthrough), dan melihatnya dari berbagai sudut pandang yang tidak biasa. 
Hal kecil yang dianggap aneh: Berlama-lama "berjalan-jalan" di dalam model 3D yang mereka buat. 
Manfaatnya: Mereka sedang melakukan simulasi ruang dan fungsi. Mereka belajar merasakan skala, proporsi, dan interaksi pengguna dengan bangunan. Ini penting untuk mengembangkan spatial intelligence mereka. 

Dari Presisi Digital Lahirlah Kepercayaan 
Di DPIB, kita tidak hanya mengajar menggunakan software. Kita menanamkan nilai presisi digital dan tanggung jawab. Hal-hal yang dianggap aneh itu sebenarnya adalah mindset seorang profesional. Karena di industri konstruksi, setiap piksel, setiap garis, dan setiap layer di AutoCAD maupun SketchUp adalah representasi dari sebuah tanggung jawab besar. Dari ketelitian digital itulah, kepercayaan akan terbangun. Jadi, kalau ada siswa DPIB yang terlihat "aneh" dengan ritual presisi digitalnya, dukunglah. Karena dari "keanehan" itulah, karya-karya arsitektur yang kuat dan aman akan terbangun. Bagaimana, Pak Guru? Apakah dengan penambahan AutoCAD dan SketchUp ini sudah sesuai dengan yang Bapak harapkan? Saya usahakan bahasanya tetap luwes khas Bapak, tapi sentuhan teknisnya lebih kuat.

Read More »
02 January | 0komentar

Refleksi Guru SMK: Menghidupkan Link and Match Melalui PBL dan Teaching Factory

Di penghujung semester gasal ini, aku mencoba berhenti sejenak untuk melakukan refleksi. Sebagai guru SMK, keseharianku lekat dengan target kompetensi, praktik kejuruan, serta tuntutan link and match dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Namun di tengah berbagai program tersebut, aku mulai bertanya pada diri sendiri: sejauh mana pembelajaran yang kulaksanakan benar-benar mencerminkan dunia kerja yang akan dihadapi peserta didik?
Selama bertahun-tahun, aku meyakini bahwa kedisiplinan, ketepatan prosedur, dan kepatuhan terhadap standar kerja adalah fondasi utama pendidikan vokasi. Nilai-nilai ini memang menjadi ruh industri. Namun ketika berhadapan dengan Generasi Z dan Generasi Alpha, aku menyadari bahwa pendekatan instruksional semata tidak lagi cukup. Mereka membutuhkan konteks, makna, dan keterlibatan langsung dalam proses belajar.
Peserta didik SMK hari ini tumbuh di dunia yang bergerak cepat, ditandai oleh digitalisasi dan perubahan teknologi yang masif. Dunia kerja berada dalam situasi TUNA (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity). Oleh karena itu, industri tidak hanya menuntut lulusan yang terampil secara teknis, tetapi juga individu yang adaptif, mampu bekerja sama, serta siap belajar sepanjang hayat.
Kesadaran ini mendorongku untuk lebih serius menerapkan pembelajaran berbasis industri, salah satunya melalui Project Based Learning (PBL). Dalam beberapa mata pelajaran kejuruan, aku mulai merancang proyek yang menyerupai permasalahan nyata di industri. Peserta didik tidak lagi sekadar menyelesaikan tugas praktik, tetapi diminta mengerjakan proyek secara berkelompok, mulai dari perencanaan, pembagian peran, pelaksanaan, hingga evaluasi hasil kerja. Di sini, mereka belajar tidak hanya tentang keterampilan teknis, tetapi juga komunikasi, tanggung jawab, dan manajemen waktu—kompetensi yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.
Selain PBL, konsep Teaching Factory (TeFa) menjadi pengalaman pembelajaran yang sangat bermakna. Melalui TeFa, bengkel dan ruang praktik di sekolah diposisikan sebagai miniatur industri. Peserta didik dilibatkan dalam proses kerja berbasis pesanan atau standar industri, dengan alur kerja yang menyerupai kondisi nyata di lapangan. Aku melihat bagaimana peserta didik menjadi lebih serius, lebih disiplin, dan lebih bertanggung jawab ketika hasil kerjanya tidak hanya dinilai oleh guru, tetapi juga harus memenuhi standar kualitas tertentu.
Dalam proses tersebut, peranku sebagai guru pun mengalami pergeseran. Aku tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pengawas mutu. Peserta didik diberi ruang untuk berdiskusi, mencoba, bahkan melakukan kesalahan, lalu memperbaikinya. Justru dari proses itulah sikap kerja dan etos profesional mulai terbentuk.
Pengalaman menerapkan PBL dan Teaching Factory menyadarkanku bahwa link and match bukan sekadar kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri di atas kertas. Link and match harus hidup di ruang kelas dan bengkel praktik, tercermin dalam cara belajar, cara bekerja, dan cara berpikir peserta didik.
Refleksi ini menegaskan bahwa pendidikan SMK tidak cukup hanya menyiapkan lulusan yang “siap kerja” secara teknis, tetapi juga siap beradaptasi dengan perubahan dunia industri. Ketika guru bersedia belajar kembali, membuka diri terhadap pendekatan baru, dan memahami karakter generasi peserta didik, maka pembelajaran vokasi akan menjadi lebih relevan dan bermakna.
Menjadi guru SMK hari ini berarti menjadi penghubung antara sekolah dan dunia industri, antara generasi muda dan masa depan mereka. Dan untuk menjalankan peran itu, aku pun terus belajar—sebab guru yang bertumbuh adalah guru yang mampu menyiapkan peserta didik untuk dunia yang terus berubah.
#GuruSMK #VokasiKuat #TeachingFactory #LinkAndMatch #RefleksiGuru #PendidikanIndonesia #SMKBisaSMKHebat

Read More »
30 December | 0komentar

Tantangan Guru Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Ruang Kelas

Perkembangan zaman membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, terutama terkait karakteristik peserta didik. Di penghujung semester gasal ini, refleksi terhadap praktik pembelajaran menjadi penting, khususnya dalam menyikapi kehadiran Generasi Z dan Generasi Alpha yang kini mendominasi ruang kelas.
Bagi guru generasi sebelumnya, pengalaman mengajar sering kali menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai karakter murid. Jam terbang yang panjang membentuk intuisi pedagogik: mengenali murid pendiam, murid aktif, hingga murid dengan perilaku menantang. Namun, pola-pola yang selama ini dianggap mapan ternyata tidak selalu relevan ketika berhadapan dengan generasi baru peserta didik.
Perubahan Karakter Peserta Didik
Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam konteks sosial dan teknologi yang sangat berbeda. Mereka lahir dan berkembang di era digital, di mana informasi mudah diakses, komunikasi berlangsung cepat, dan batas ruang serta waktu semakin kabur. Kondisi ini membentuk cara berpikir, cara belajar, dan cara memaknai pendidikan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka tidak sekadar membawa perangkat digital ke dalam kelas, tetapi juga membawa perspektif baru terhadap proses belajar. Fleksibilitas sering kali menjadi ciri utama mereka. Namun, fleksibilitas ini bukan berarti tanpa arah. Justru, Generasi Z dan Alpha cenderung menghargai pembelajaran yang memiliki tujuan jelas, relevan dengan kehidupan, serta memberikan makna bagi perkembangan diri mereka.

Konteks Dunia TUNA dan Implikasinya bagi Pendidikan
Peserta didik saat ini tumbuh dalam dunia yang dapat digambarkan dengan istilah TUNA (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity). Dunia yang penuh ketidakpastian, perubahan cepat, kebaruan, dan ambiguitas ini memengaruhi orientasi belajar mereka. Fokus tidak lagi semata pada capaian nilai akademik, tetapi juga pada pertumbuhan personal, kesejahteraan mental, dan relevansi pembelajaran dengan realitas kehidupan.
Jika generasi sebelumnya lebih menekankan pada kepatuhan terhadap aturan atau panduan yang baku, Generasi Z cenderung menampilkan pola berpikir yang lebih eksploratif dan kreatif. Pola ini terkadang dipersepsikan sebagai ketidakteraturan, padahal sesungguhnya merupakan bentuk pencarian jati diri dan cara belajar yang sesuai dengan zamannya.

Peran Guru dalam Lanskap Pedagogik Baru
Dalam konteks ini, peran guru mengalami pergeseran. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai sumber utama pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator, pendamping, dan mitra belajar. Pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting dibandingkan instruksi satu arah.
Hal ini tidak berarti metode pembelajaran lama keliru. Setiap pendekatan memiliki relevansi sesuai dengan konteks zamannya. Namun, pendidikan bersifat dinamis. Kelas bukanlah ruang statis, melainkan ruang hidup yang terus berubah mengikuti perkembangan peserta didik dan lingkungan sosialnya.

Refleksi dan Arah Pengembangan Profesional Guru
Kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberlangsungan peran guru di era ini. Guru yang efektif adalah guru yang bersedia terus belajar, merefleksikan praktik pembelajarannya, dan menyesuaikan pendekatan pedagogik dengan karakter peserta didik.
Perubahan dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau teknologi, tetapi juga oleh kesiapan mental dan sikap profesional guru. Ketika guru membuka diri untuk memahami generasi baru, mengembangkan empati, dan menggeser cara pandang, maka proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan kontekstual.
Dengan demikian, tantangan menghadapi Generasi Z dan Alpha sejatinya bukan hambatan, melainkan peluang untuk menumbuhkan praktik pendidikan yang lebih relevan, humanis, dan berorientasi pada masa depan.

Read More »
29 December | 0komentar

Bukan Perusak: Refleksi Luka Alam di Serambi Mekkah dan Ranah Minang

Kita sering menyebut diri kita sebagai puncak peradaban. Namun, ada ironi besar yang terselip di balik gedung-gedung tinggi dan teknologi mutakhir: kita ditunjuk sebagai perawat bumi, namun sering kali justru menjadi perusak paling besar. 
Hari ini, alam sedang mengirimkan "surat cinta" yang getir. Saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini harus menanggung beban berat akibat kelalaian kolektif kita. Banjir bandang, tanah longsor, dan anomali cuaca bukan sekadar fenomena alam biasa; mereka adalah cermin dari keseimbangan yang telah kita koyak. 
Amanah yang Terlupakan Dalam perspektif spiritual, manusia diciptakan sebagai Khalifah (pemimpin/pengelola) di muka bumi. Tugas utamanya bukanlah mengeksploitasi tanpa batas, melainkan menjaga harmoni. Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur'an: 
 "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41) 
 Ayat ini dengan gamblang menjelaskan bahwa bencana sering kali merupakan resonansi dari tindakan kita sendiri. Ketika hutan digunduli dan sungai dijadikan tempat sampah raksasa, kita sedang menanam benih duka bagi generasi mendatang. 

Pendidikan: Lebih dari Sekadar Angka dan Ijazah 
Di tengah dunia yang kian maju namun kehilangan arah, kita perlu bertanya kembali: Untuk apa kita bersekolah? Pendidikan hari ini tidak cukup hanya mencerdaskan otak. Jika kecerdasan hanya melahirkan inovasi untuk mengeruk kekayaan alam tanpa nurani, maka pendidikan tersebut telah gagal. Pendidikan sejati harus mampu menghidupkan kembali kemanusiaan dan rasa cinta terhadap semesta. Rasulullah SAW bersabda: 
 "Dunia ini hijau dan manis. Sesungguhnya Allah menjadikan kamu sebagai pengelola di dalamnya, maka Dia melihat bagaimana kamu berbuat." (HR. Muslim) 
Memulihkan Luka, Mengembalikan Arah Luka yang dialami saudara-saudara kita di Sumatera adalah pengingat bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Menghidupkan kembali kemanusiaan berarti: 
  • Empati yang Berwujud: Tidak hanya merasa iba, tapi bergerak meringankan beban korban bencana. 
  • Etika Lingkungan: Menyadari bahwa setiap pohon yang kita tanam dan setiap sampah yang kita kelola adalah bentuk ibadah. 
  • Kesadaran Ekologis dalam Pendidikan: Menanamkan pada anak cucu bahwa merawat bumi adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Jangan sampai kita menjadi golongan yang ditegur Allah dalam Al-Qur'an karena melampaui batas:  "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya..." (QS. Al-A'raf: 56) 
Kemajuan tanpa arah hanya akan membawa kita pada kehancuran yang lebih cepat. Mari kita jadikan momentum duka di Aceh dan Sumatera sebagai titik balik. Sudah saatnya kita kembali ke peran fitrah kita: menjadi perawat bumi yang penuh kasih, bukan perusak yang haus materi. Sebab pada akhirnya, bumi akan tetap ada, namun kitalah yang mungkin tidak lagi punya tempat untuk pulang jika terus merusaknya.

Read More »
29 December | 0komentar

Create Website By Microsite s.id

Membuat microsite melalui S.id adalah salah satu cara termudah dan tercepat untuk merangkum berbagai link penting (seperti media sosial, toko online, atau portofolio) dalam satu halaman web sederhana. Layanan ini sangat populer bagi para content creator, pebisnis, dan instansi di Indonesia.
Berikut adalah panduan lengkap cara membuat microsite di S.id.
Apa itu Microsite S.id?
Microsite adalah halaman web ringkas yang biasanya diakses melalui satu link bio. S.id menyediakan layanan ini secara gratis dengan fitur-fitur yang cukup lengkap, mulai dari kustomisasi desain hingga analisis statistik pengunjung. Mengapa Menggunakan S.id?
Kecepatan: Proses pembuatan hanya butuh waktu kurang dari 5 menit. Lokal & Cepat: Karena merupakan produk Indonesia, servernya sangat stabil untuk akses dari dalam negeri. Analitik Terpadu: Kamu bisa melihat berapa banyak orang yang mengklik link kamu. Gratis: Fitur dasarnya sudah sangat mumpuni untuk kebutuhan personal maupun bisnis kecil.

 

Langkah-Langkah Membuat Microsite di S.id
1. Pendaftaran dan Login Buka situs resmi S.id. Jika belum punya akun, kamu bisa mendaftar menggunakan alamat email atau langsung login menggunakan akun Google agar lebih praktis. 
2. Memilih Menu Microsite Setelah masuk ke dashboard, pilih menu "Microsite" yang ada di bilah navigasi samping. Klik tombol "Create New" atau "Buat Baru". 
3. Tentukan Nama dan URL Kamu akan diminta memasukkan nama microsite dan menentukan URL unik (misalnya: s.id/namatokoanda). Pastikan nama URL mudah diingat dan relevan dengan brand atau nama kamu. 
4. Memilih Template S.id menyediakan berbagai pilihan template yang menarik. Kamu bisa memilih tema yang sesuai dengan kebutuhan, seperti:
Personal: Untuk portofolio atau CV digital. Business: Untuk jualan produk atau jasa. Social: Untuk merangkum semua media sosial (Instagram, TikTok, YouTube). 
5. Menambahkan Komponen (Link & Konten) Inilah bagian terpenting. Kamu bisa menambahkan berbagai elemen ke dalam halamanmu: Link: Tombol yang mengarah ke website lain. Text: Untuk memberikan deskripsi atau sambutan. Image/Video: Untuk mempercantik tampilan atau menampilkan katalog. Social Media Icons: Ikon khusus untuk menghubungkan akun sosmed secara rapi di bagian bawah atau atas. 
6. Kustomisasi Desain (Appearance) Ganti warna latar belakang (background), jenis font, hingga bentuk tombol agar sesuai dengan identitas visual kamu. Kamu juga bisa mengunggah foto profil atau logo brand. 
7. Publikasi Jika semua sudah sesuai, klik "Publish" atau simpan perubahan. Sekarang, link microsite kamu sudah aktif dan siap dibagikan di bio Instagram, TikTok, atau kartu nama digital.

Tips Agar Microsite Kamu Menarik Gunakan Foto Berkualitas: Foto profil yang jernih meningkatkan kepercayaan pengunjung. Prioritaskan Link Terpenting: Letakkan link yang paling ingin kamu klik oleh orang lain di posisi paling atas. Update Secara Berkala: Pastikan link yang kamu pasang tidak mati (broken link) dan selalu perbarui jika ada promo atau konten baru.

Read More »
25 December | 0komentar

Memaksimalkan Pengajaran dengan ChatGPT

Peserta Diklat kelas B

Baru saja menyelesaikan Diklat Fasilitator Pembelajaran Digital Menengah di BPSDMD Semarang (17-18 Desember 2025), saya merasa ada banyak ilmu 'daging' yang sayang jika hanya disimpan sendiri. Artikel kali ini akan mengulas poin-poin utama dari diklat tersebut, mulai dari cara menyusun konten digital yang menarik hingga tips menjadi fasilitator yang komunikatif bersama Mbak Astrid (saya panggil Mbak karena masih sangat muda) di ruang kelas virtual maupun hybrid. dimulai di hari pertama kegiatan membahas tentang :
  • Mengidentifikasi fitur-fitur aplikasi Chat Bot 
  • Menggunakan aplikasi Chat Bot
Pada pembahasan kali ini terkait dengan salah satu aplikasi chat bot dengan nama ChatGPT.
Di era digital ini, teknologi terus berkembang pesat, menghadirkan berbagai alat inovatif yang dapat membantu kita dalam proses belajar mengajar. Salah satunya adalah ChatGPT, sebuah aplikasi chatbot berbasis kecerdasan buatan yang tengah menjadi perbincangan hangat. ChatGPT bukanlah sekadar "robot" penjawab pertanyaan. Ia adalah asisten virtual cerdas yang mampu memahami, memproses, dan menghasilkan teks layaknya manusia. Bagi dunia pendidikan, khususnya para guru, 
ChatGPT menawarkan potensi luar biasa untuk meningkatkan efisiensi, kreativitas, dan kualitas pengajaran kita.
Banyak yang mengira ChatGPT akan menggantikan peran guru, padahal kenyataannya justru sebaliknya. ChatGPT adalah "asisten super" yang bisa membantu Bapak/Ibu menyiapkan materi berkualitas dalam waktu singkat, sehingga Bapak/Ibu memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa.


Apa itu ChatGPT? 
ChatGPT adalah model bahasa besar yang dikembangkan oleh OpenAI. Ia mampu menjawab pertanyaan, membuat teks kreatif (seperti puisi atau naskah drama), merangkum materi, hingga membantu menyusun rencana pembelajaran (RPP) hanya melalui percakapan teks sederhana.
Kelompok A


Alur Penggunaan ChatGPT untuk Guru Bagi Bapak/Ibu yang baru ingin mencoba, berikut adalah alur mudahnya: 
  1. Akses Situs Resmi: Kunjungi tautan resmi di https://chat.openai.com. Bapak/Ibu bisa masuk menggunakan akun Google (Gmail) agar lebih praktis. 
  2. Berikan Perintah (Prompt): Di kolom bagian bawah, ketikkan apa yang Bapak/Ibu butuhkan. Gunakan bahasa Indonesia yang jelas. 
  3. Evaluasi Jawaban: ChatGPT akan memberikan respon secara instan. Baca kembali hasilnya, lalu sesuaikan atau edit sesuai dengan kurikulum dan kondisi siswa di sekolah. 
  4. Tanya Lebih Lanjut: Jika jawaban kurang lengkap, Bapak/Ibu bisa membalasnya seperti sedang mengobrol, misalnya: "Bisa tolong buatkan versinya yang lebih sederhana untuk anak kelas 4 SD?"

Contoh Penerapan di Ruang Kelas 
  • Bapak/Ibu bisa menggunakan ChatGPT untuk berbagai kebutuhan praktis, seperti: 
  • Membuat Soal Ujian: "Buatkan 10 soal pilihan ganda tentang siklus air untuk kelas 5 SD beserta kunci jawabannya." 
  • Menyusun Ide Proyek: "Berikan ide proyek berkelompok yang seru untuk materi sejarah perjuangan kemerdekaan." 
  • Menyusun RPP: "Bantu saya membuat draf RPP satu lembar untuk materi Pancasila." 


Visualisasi: Guru dan Teknologi AI 
Penggunaan ChatGPT sangat cocok dilakukan saat Bapak/Ibu sedang merencanakan materi di meja guru atau saat memberikan tutorial singkat kepada siswa di depan kelas menggunakan layar proyektor.
Tips Penting untuk Guru Walaupun ChatGPT sangat pintar, ingatlah bahwa Bapak/Ibu adalah kendali utamanya. 
  • Verifikasi Data: ChatGPT terkadang bisa memberikan informasi yang kurang akurat. Selalu cek kembali fakta sejarah atau rumus yang diberikan. 
  • Sentuhan Manusia: ChatGPT memberikan data, tapi Bapak/Ibu yang memberikan empati dan pemahaman karakter kepada siswa.
Artikel berikutnya di hari kedua.

Read More »
20 December | 0komentar

Memahami Ektra,Ko dan Intrakurikuler

IntraKurikuler :
Kegiatan yang dilakukan dalam jam pelajaran dan merupakan kegiatan inti dari kurikulum sekolah
Contoh:
Kegiatan di ruang kelas
wawasan kebangsaan
upacara
kegiatan keagamaan
KoKurikuler:
Kegiatan pendukung pembelajaran intrakurikuler bersifat penguatan dan pengayaan materi. Berupa project
Contoh:
Field Study(study Lapangan),
outbond,study tour
bakti sosial,karya tulis
proyek karya siswa
Ektrakurikuler: Kegiatan diluar jam pelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan minat,bakat dan potensi siswa Contoh: Pramuka paskibraka paduan suara PMR Pencinta Alam Teater KIR Tari renang Club Bahasa dll

Read More »
27 November | 0komentar

Narasi Presentasi Project (Bahasa Jawa Krama Alus)

Topik: Perencanan Griya Tipe 36 Mawi Konsep Sangkan Paran
Tujuan: Memaparkan hasil desain arsitektur rumah tipe 36 ingkang ngginakaken filosofi Jawa.

Pambuka (Pembukaan)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 
Bapak/Ibu Guru ingkang satuhu kinurmatan, Saha para kanca-kanca saking DPIB ingkang kula tresnani.
Sugeng enjing. 
Ing kalodhangan menika, kula (sebutkan nama Anda) badhe ngaturaken asil kolaborasi antarane Mata Pelajaran Desain Pemodelan lan Informasi Bangunan (DPIB) kaliyan Mata Pelajaran Basa Jawi kanthi irah-irahan "Perencanaan Griya Tipe 36 Mawi Konsep Sangkan Paran." 

Mugi-mugi presentasi menika saged paring wawasan babagan caranipun nyawijekaken kawruh teknis modern kaliyan filosofi kabudayan Jawi. 

Isi 1: Filosofi (Konsep Budaya) 
Bapak/Ibu, griya ingkang kula rancang menika dhasaripun saking filosofi Jawi, inggih menika "Sangkan Paran" utawi asal lan tujuaning gesang. Kula mboten namung ngrancang papan kangge tilem, ananging ngrancang sawijining omah ingkang saged dados pusat keseimbangan lan ketentreman. 

Wosing Konsep: 
  • Arah Kiblat: Kamar sare (Papan Pasareyan) dipun rencanakaken supados sirah mboten madhep utawi malang kaliyan arah kiblat, minangka wujud pangajab dhumateng Gusti. 
  • Papan Dhayoh: Ruangan ngajeng (Paseban) kula damel langkung wiyar, punika dados simbol bilih manungsa kedah tansah ngurmati tamu saha gotong royong kaliyan sesami. 

Isi 2: Rerancangan Teknis (Desain DPIB) 
Sanajan ngginakaken filosofi Jawi, griya menika tetep kedah efisien lan miturut standar tipe 36. Ingkang kula rancang inggih menika: 
  • Dimenasi: Ukuranipun griya inggih menika (sebutkan ukuran) meter persegi. 
  • Gambar Teknis: Kula sampun damel denah (sketsa tata ruang), tampak ngajeng, lan potongan A-A, kanthi skala 1:100 ingkang bener. 
  • Fungsionalitas: Kanthi arsitektur modern, kula saged damel 2 kamar sare (Papan Pasareyan Alit lan Ageng), 1 kamar siram, saha dapur (Pawon) ingkang saged nyukupi kabetahan kaluwarga alit. (Saat poin ini, tunjukkan gambar denah atau maket Anda). 

Isi 3: Penamaan Ruangan (Aplikasi Bahasa Jawa) 
Supados asil kolaborasi menika langkung nyata, kula ngginakaken tembung-tembung Jawi kangge paring asma saben ruangan: 
  • Ruang Tamu kula paringi asma Paseban (Papan kangge ngajeng-ajeng lan rembagan). 
  • Kamar Tidur Utama kula sebat Papan Pasareyan Ageng (Papan kangge sare ingkang ageng). 
  • Dapur kula paringi asma Pawon (Papan kangge masak). 
  • Teras Ngajeng kula sebat Emper. 

Kanthi penamaan menika, kula ngajab bilih griya menika mboten namung wujud fisik, ananging saged dados pengeling-eling dhumateng kaendahan lan kaluhuran Basa Jawi. 

Pungkasaning atur, rancangan griya tipe 36 menika mujudaken bukti bilih Kawruh Bangunan lan Kabudayan Jawi saged nyawiji kanthi sae. Kawruh DPIB paring struktur lan kekiyatan, dene Basa Jawi paring jiwa lan makna ingkang jero. 
Cekap semanten atur kula, menawi wonten kalepatan saha kekirangan, kula nyuwun agunging pangapunten. Matur nuwun. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Read More »
18 November | 0komentar

Ribuan Ujian Sejak SD: Apakah Hanya Melahirkan Penghafal, Bukan Pemikir Kritis?

Pernahkah kita menghitung sejak hari pertama masuk SD hingga kelulusan SMA/SMK, bahkan saat kuliah sudah berapa banyak ujian dan ulangan yang kita tempuh?
Angkanya mungkin mengejutkan. Bayangkan saja: Ujian Harian/Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ujian Akhir Semester, Ujian Sekolah/USBN, hingga Ujian Nasional (di masa lalu), dan mungkin juga try out yang tak terhitung jumlahnya. Setiap jenjang (SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA/SMK 3 tahun) dipenuhi siklus ujian yang berulang, minimal 4-5 kali ujian besar setiap tahun (UTS, UAS, US/UN).
Jika dihitung kasar, kita telah melalui ratusan, bahkan mungkin ribuan kali duduk di kursi dengan selembar kertas soal, pena, dan detak jantung yang berpacu.
Namun, yang jauh lebih penting dari angka itu adalah: Apa yang sebenarnya diwariskan dari rentetan ujian tersebut?

🧐 Ujian: Sekadar Menguji Ingatan, atau Membentuk Keahlian Abad 21?
Pertanyaan besar muncul: Apakah semua ujian dan ulangan selama belasan tahun itu benar-benar mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan kehidupan saat ini yang sangat menuntut keahlian seperti:
  • Berpikir Kritis (Critical Thinking) 
  • Kreatif (Creativity) 
  • Memecahkan Masalah (Problem Solving) 
  • Kolaborasi (Collaboration) 
Jawabannya adalah: Tergantung pada jenis ujiannya.

🌟 Sisi Positif dari "Tekanan" Ujian
Ujian, pada dasarnya, adalah sebuah simulasi tekanan dan batas waktu. Ini adalah "arena tempur" kecil di mana kita diasah untuk:
Disiplin dan Manajemen Waktu: Belajar membagi waktu antara persiapan materi yang banyak dalam waktu yang terbatas.

Ketahanan Mental: Mengatasi rasa takut, kecemasan, dan kegagalan—kemampuan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.

Penguasaan Konsep Dasar: Memastikan kita setidaknya menguasai fondasi ilmu yang akan menjadi pijakan untuk pemikiran yang lebih kompleks.

🚀 Transformasi: Dari Ujian Ingatan Menuju Ujian Kompetensi
Ujian tradisional yang hanya menguji hafalan (misalnya, pilihan ganda definisi) memang tidak secara langsung mengembangkan kemampuan 4C (Kritis, Kreatif, Kolaborasi, Komunikasi/Problem Solving).
Namun, terjadi pergeseran besar dalam pendidikan:

Ujian Berbasis Proyek (Project-Based Assessment): Model ujian berbasis proyek (seperti yang banyak diterapkan pada Kurikulum Merdeka) secara eksplisit menuntut keahlian 4C. Ketika siswa harus membuat produk, presentasi, atau karya inovatif, mereka dipaksa untuk:
Berpikir Kritis: Menganalisis masalah, mengevaluasi sumber, dan mempertanyakan asumsi. 
Kreatif: Merancang solusi unik atau menghasilkan karya baru. 
Kolaborasi: Bekerja dalam tim, membagi tugas, dan menyatukan ide. 
Problem Solving: Mengatasi kendala di tengah proses proyek.

Soal Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS): 
Jenis soal yang tidak hanya menanyakan "apa" tetapi juga "mengapa" dan "bagaimana" suatu konsep diterapkan. Ini melatih kita untuk menghubungkan berbagai informasi dan membuat kesimpulan yang logis.
Intinya: Jumlah ujian yang banyak adalah sebuah fakta, tetapi nilai sejatinya terletak pada bagaimana kita menyikapi dan memaknai proses ujian tersebut. Bukan skor yang dihitung, melainkan pertumbuhan diri di balik setiap angka.

🌈 Pelajaran Paling Berharga yang Kita Dapatkan
Mungkin nilai mata pelajaran tertentu telah kita lupakan, namun ada "harta karun" lain yang kita bawa hingga dewasa, yang merupakan hasil dari "latihan" menghadapi ujian:
Kemampuan Coping dengan Kegagalan: Setiap kali nilai tidak sesuai harapan, kita belajar bahwa kegagalan adalah guru. Kita belajar bangkit, merefleksi, dan mencoba lagi di kesempatan berikutnya.
Keterampilan Mengelola Informasi: Kita dilatih untuk memilah mana materi esensial dan mana yang hanya detail, sebuah keahlian penting di era banjir informasi saat ini.
Resiliensi (Ketangguhan): Belasan tahun menghadapi tantangan akademik membuat kita menjadi pribadi yang tangguh, siap menghadapi tantangan hidup yang jauh lebih besar.
Jadi, ketika kita melihat kembali rentetan ujian itu, jangan hanya melihatnya sebagai tumpukan kertas soal. Lihatlah sebagai tangga yang telah kita daki—setiap anak tangganya, yang disebut "ujian," telah membentuk fondasi intelektual dan mental kita untuk menjadi pemecah masalah, pemikir kritis, dan kolaborator ulung di masa depan.

Read More »
05 November | 0komentar

Ringkasan Regulasi Baru : Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025

Pembina Upacara 
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menetapkan Peraturan Menteri Nomor 13 Tahun 2025 sebagai perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024. Perubahan ini merupakan bentuk penyesuaian administratif dan penguatan kebijakan dalam rangka mengoptimalkan implementasi kurikulum yang telah berlaku. Tujuan utama dari regulasi ini adalah untuk menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat kualitas pembelajaran tanpa melakukan perubahan substansial terhadap struktur kurikulum yang sudah ada.


Tidak Ada Perubahan Kurikulum
Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 menegaskan bahwa tidak ada pergantian kurikulum nasional. Satuan pendidikan pada tahun ajaran 2025/2026 tetap menggunakan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka, yang sejak awal dirancang dengan prinsip fleksibilitas dan penguatan kompetensi, tetap menjadi acuan dalam upaya membangun karakter dan kecakapan peserta didik sesuai konteks lokal dan kebutuhan masa depan. Kurikulum 2013 pun tetap digunakan secara berkelanjutan sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan.


Pendekatan Pembelajaran Mendalam
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menetapkan Peraturan Menteri Nomor 13 Tahun 2025 sebagai perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024. Perubahan ini merupakan bentuk penyesuaian administratif dan penguatan kebijakan dalam rangka mengoptimalkan implementasi kurikulum yang telah berlaku. Tujuan utama dari regulasi ini adalah untuk menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat kualitas pembelajaran tanpa melakukan perubahan substansial terhadap struktur kurikulum yang sudah ada.


Penambahan Mata Pelajaran Pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial
Salah satu perubahan penting dalam Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 adalah penambahan mata pelajaran pilihan baru berupa Koding dan Kecerdasan Artifisial. Pelajaran ini akan mulai diterapkan secara bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026, dimulai dari kelas 5 dan 6 jenjang pendidikan dasar, serta kelas 7 jenjang pendidikan menengah. Tujuan dari penambahan ini adalah untuk memberikan bekal keterampilan abad ke-21 kepada murid, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital dan perkembangan teknologi yang sangat pesat.


Profil Lulusan
Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 memperbarui profil lulusan dari enam dimensi Profil Pelajar Pancasila menjadi delapan Profil Lulusan, yaitu:
  1. Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 
  2. Kewargaan 
  3. Penalaran kritis 
  4. Kreativitas 
  5. Kolaborasi 
  6. Kemandirian 
  7. Kesehatan 
  8. Komunikasi
Perubahan ini mencerminkan pendekatan holistik dalam pengembangan kompetensi siswa, dengan penambahan aspek kesehatan dan komunikasi sebagai bagian dari profil lulusan.


Perubahan Kokurikuler
Kegiatan kokurikuler mengalami penyesuaian sebagai berikut:

Bentuk:
Semula: Minimal berupa Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Menjadi: Dapat dilakukan melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, atau cara lain yang relevan.

Kompetensi:
Semula: Enam dimensi Profil Pelajar Pancasila.
Menjadi: Delapan Profil Lulusan.

Muatan:
Semula: Tema ditetapkan oleh pemerintah.
Menjadi: Tema dapat ditetapkan oleh satuan pendidikan, memberikan fleksibilitas sesuai kebutuhan dan karakteristik lokal.

Kegiatan Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler dirancang untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian siswa secara optimal. Kegiatan ini dilakukan di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan, dengan pramuka atau kepanduan lainnya sebagai kegiatan wajib. Satuan pendidikan juga dapat menyediakan kegiatan ekstrakurikuler lain sesuai kebutuhan siswa.

Read More »
04 November | 0komentar

Pembelajaran Mendalam Yang Saintifik

Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sangat diharapkan sebagai bagian dari pembelajaran yang bermakna/ mendalam. Pada awal pelaksanaan kurikulum K13 ada istilah pembelajaran dengan menggunakan metode saintifik,sebagai ruh dari kurikulum ini. Sebenarnya metode pembelajaran pendekatan ini bisa sebagai replika pembelajaran dengan menggunakan metode pendekatan pembelajaran mendalam, yang sekarang sedang digaungkan oleh Kemdikdasmen. Kita lihat pendekatan saintifik ini dengan langkah-langkah yang mendukung pada salah satu kerangkan pembelajaran mendalam yaitu pada kerangka pengalaman belajar. yaitu pada pembelajaran kolaboratif yang berbasis inkuiri (mengajukan pertanyaan, menyelidiki, dan menemukan jawaban sendiri). 
Dimana langkah-lakang pendekatan saintifik adalah mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan. Pembelajaran mandalam akan terwujud jika terjadi situasi pembelajaran yang paling ideal, yaitu keaktifan siswa maksimal guru sangat siap mengajar dengan metode dan persiapan yang matang dalam mengajar. Untuk bisa mewujudkan pembelajaran mandalam, maka tidak cukup jika siswa hanya mendengarkan informasi dari guru atau hanya melihat tayangan yang diberikan oleh guru. Siswa perlu melakukan aktifitas yang mendukung terjadinya proses belajar. Sehingga harapan agar pembelajaran bisa menjadi perilaku dan karakter diri bisa diwujudkan. Peran guru berubah dari “memberi/mengajar” menjadi “fasilitator, pendiagnosis, pendorong, pengarah, dan pembentuk inisiator” . Guru juga menjadi pembangkit belajar dan pemicu berpikir. 

Praktik Meaningfull dalam DPIB
DPIB (Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan) DPIB memiliki Mapel yang menyiapkan peserta didik untuk memiliki kompetensi perencanaan untuk menghitung rencana anggaran biaya (RAB) pada Mapel Konsentrasi Keahlian pada Sub Materi Estimasi Biaya Konstruksi (EBK). Pada materi ini siswa telah memahami berkaitan dengan perencanaan berupa gambar rumah (lengkap dengan denah,tampak,potongan dan detail) dan juga perencanaan gedung. 
Guru menyajikan beberapa contoh Gambar perencanaan yang lengkap dalam bentuk slide, Gambar dan Maket. Dengan metode saintifik guru mempersilahkan kepada siswa untuk mengamati media-media gambar tersebut. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik sistem penyajiannya salah satu bentuk metode saintifik. 
Langkah-langkah saintifik tersebut adalah sebagai berikut:

A. Mengamati 
Keunggulan melalui langkah mengamati ini adalah dapat menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Langkah mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Contoh siswa sedang mengamati gambar perencanaan rumah yang akan digunakan sebagai pembuatan maket.






B. Menanya

Langkah menanya dimaksudkan untuk a) membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatianpeserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran; b) mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri; c) Disamping itu juga membangkitkan ketrampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar; d) mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan; e) membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok; f) membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul; dan selanjutnya g) melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.


C. Menalar

Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar.



D. Mengkomunikasikan Hasil 
Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan; (3) mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan; (5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data; (6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7) membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal. Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap, yaitu, persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. 



E. Pembelajaran Kolaboratif 
Pembelajaran kolaboratif sebagai satu falsafah peribadi, maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain atau guru. Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman, sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama. Kebermaknaan kegiatan pembalajaran sangat berhubungan antara metode mengajar guru dan keaktifan siswa. Interaksi tersebut dapat dilihat pada bagan di bawah ini.


Metode Mengajar Guru

Keaktifan Siswa

Tidak Ada

Ada,Insidental

Ada, Tinggi

Tidak Ada

A

B

C

Ada,Insidental

D

E

F

Ada,Berkualitas

G

H

I

      Tabel interaktif siswa

Dari tabel di atas tampak sembilan situasi pembelajaran yang berbeda-beda. Dilihat dari segi metode mengajar guru dan keaktifan siswa, maka: 
  • Situasi A, kedua pihak guru dan siswa sama-sama tidak mempunyai minat mengajar dan belajar, maka sebenarnya tidak ada kegiatan pembalajaran. 
  • Situasi B, guru tidak siap mengajar karena belum menyiapkan metode mengajar, sedangkan siswa hanya memiliki sedikit niat belajar. 
  • Situasi C, siswa memiliki niat belajar yang sangat tinggi, tetapi guru tidak siap mengajar. 
  • Situasi D, guru belum terlalu siap mengajar, jadi hanya insidental, sedangkan siswa tidak memiliki niat belajar, maka akan terjadi situasi pembelajaran tanpa respon dari siswa.
  • Situasi E, situasi pembelajaran hanya bersifat insidental, Hasilnya hanyalah tujuan yang tercapai secara tidak sadar. Tujuan diperoleh hanya melalui peniruan, penularan atau perembesan secara tidak sadar. 
  • Situasi F, guru mengajar hanya insidental, yaitu hanya persiapan sekedarnya, tetapi minat siswa dalam belajar tinggi, sehingga pembalajaran masih disadari oleh siswa. 
  • Situasi G, walaupun guru sangat siap mengajar tetapi pada pihak siswa tidak terdapat minat belajar sama sekali. Pada situasi ini tidak tercipta situasi pembalajaran sama sekali. 
  • Situasi H, walaupun guru sangat siap mengajar, tetapi minat siswa dalam belajar hanya bersifat insidental, sehingga tujuan pembelajaran hanya disadari oleh guru. 
  • Situasi I, adalah situasi pembelajaran yang paling ideal, keaktifan siswa maksimal, sedangkan guru sangat siap mengajar dengan metode dan persiapan yang matang dalam mengajar, sehingga kedua belah pihak melakukan peranannya masing-masing.

Read More »
10 October | 0komentar