Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts with label GSM. Show all posts
Showing posts with label GSM. Show all posts

Micro interaction : Cara kita menyapa murid Di Awal Semester


Semester genap akhirnya datang.Pintu kelas kembali terbuka. Bangku-bangku yang sempat kosong kini terisi lagi oleh wajah-wajah yang sama dengan cerita yang mungkin sudah berbeda.
Namun sering kali, yang ikut masuk ke kelas di awal semester genap bukan hanya semangat baru, tapi juga keluhan lama. 
 “Anak sekarang susah diatur.” 
“Motivasinya rendah.” 
“Isinya main HP terus.” 
“Zamannya memang beda, Pak…”  

Kadang murid yang disalahkan. 
Kadang guru. Kadang sistem pendidikan itu sendiri. Lalu muncul satu pertanyaan penting:
Jika kita terus saling menyalahkan, kapan pendidikan benar-benar bergerak maju? 
Di awal semester genap ini, aku teringat satu peristiwa kecil di akhir semester lalu. Seorang murid duduk di bangku paling belakang. Matanya kosong. Bukunya rapi, tapi tak pernah dibuka. Biasanya, kalimat spontan yang keluar adalah teguran cepat, “Wong kok bengong ae? Fokus dong!” 
Tapi hari itu, aku memilih berhenti sejenak. 
Aku mendekat. Jongkok. Menyamakan posisi mata. Lalu bertanya pelan, “Capek ya hari ini?” Dia terkejut. Lalu mengangguk. “Jujur, Pak… saya ngerasa bodoh di pelajaran ini.” Kalimat itu menyadarkanku: pendidikan sering kali tidak runtuh oleh kebijakan besar, tetapi bocor perlahan lewat interaksi-interaksi kecil yang kita anggap sepele. 

Micro interaction. 
Cara kita menyapa murid di awal masuk kelas. Nada suara saat menegur di hari pertama. Pilihan kata ketika murid salah menjawab. Respons kita saat mereka gagal mencoba. Hal-hal kecil. Namun dampaknya bisa sangat panjang. 
Bayangkan perbedaannya. Bukan: “Kenapa kamu telat lagi sih?!” Tapi: “Kamu telat. Ada yang bisa Bapak bantu supaya besok lebih siap?” Bukan: “Kok nilaimu jeblok semua?” 
Tapi: 
“Bagian mana yang paling bikin kamu mentok? Kita coba bareng-bareng.” Bukan: “Sudah berapa kali saya jelaskan!” Tapi: “Mungkin cara jelasku belum sampai. Kita cari cara lain.” 
Micro interaction bukan berarti memanjakan murid. Bukan berarti tidak tegas. Bukan menurunkan standar pembelajaran. Ini tentang menaikkan martabat manusia di dalam kelas. Karena sering kali murid bukan malas. Mereka lelah. Takut salah. Atau kehilangan percaya diri sejak semester lalu. Dan satu kalimat dari guru di awal semester genap bisa menjadi vonis atau justru harapan.

Read More »
05 January | 0komentar

Jika Cinta Adalah Bahan Bakar, Apa yang Kita Nyalakan di Kelas?

Keluhan tentang murid yang sulit diatur atau motivasi yang rendah seringkali menjadi "menu utama" obrolan kita. Agar tidak terjebak dalam rasa gagal, berikut adalah langkah praktis untuk reinvent yourself dan mengubah kelelahan menjadi energi cinta: 

1. Ubah Narasi: "Guru & Murid vs Masalah" 
Seringkali kita merasa kelelahan karena memposisikan diri melawan murid (Guru vs Murid). Cobalah geser sudut pandang Anda. Saat ada murid bermasalah, posisikan Anda dan murid tersebut berada` di tim yang sama untuk melawan masalahnya. 
Prakteknya: Alih-alih berkata "Kamu nakal sekali," cobalah "Ada masalah apa yang buat kamu sulit fokus hari ini? Ayo kita cari solusinya bareng-bareng." 

2. Terapkan "Pintu Keluar Emosional" 
Guru adalah profesi yang memikirkan murid sampai ke tempat tidur. Untuk menjaga kesehatan mental, buatlah batasan tegas. 
Prakteknya: Saat Anda memutar kunci pintu rumah atau melangkahi gerbang sekolah saat pulang, katakan pada diri sendiri: "Tugas profesional saya selesai di sini. Sekarang waktunya saya menjadi diri saya sendiri." Jangan biarkan sisa masalah di kelas mencuri waktu istirahat Anda. 

3. Cari "Bahan Bakar" di Luar Angka Rapor 
Jika indikator keberhasilan Anda hanya angka di raport, Anda akan mudah kecewa. Carilah kemenangan-kemenangan kecil yang berbasis kasih sayang. 
Prakteknya: Catat satu hal baik yang dilakukan murid setiap hari, sekecil apa pun itu (misalnya: seorang murid yang biasanya terlambat, hari ini datang tepat waktu). Energi cinta tumbuh dari apresiasi terhadap proses, bukan cuma hasil akhir. 

4. Rutinitas "Self-Check" (Bertanya pada Diri Sendiri) 
Jangan menunggu orang lain bertanya "Kamu nggak apa-apa?". Jadilah sahabat bagi diri sendiri. Prakteknya: Luangkan 5 menit sebelum masuk kelas untuk bernafas dalam dan bertanya: "Apa tujuan saya masuk kelas hari ini? Apakah sekadar menggugurkan kewajiban, atau ingin menanamkan satu kebaikan?" Mengingat kembali moral value akan mengubah kualitas energi Anda. 

5. Fokus pada Apa yang Bisa Dikendalikan 
Banyak stres muncul karena kita ingin mengubah sesuatu yang di luar kendali kita (seperti latar belakang keluarga murid atau kebijakan kurikulum). 
Prakteknya: Fokuslah pada respon Anda terhadap masalah. Menurut teori Hawkins, saat kita merespon dengan cinta dan penerimaan, masalah tidak lagi menjadi musuh, tapi menjadi sarana kita untuk bertumbuh sebagai manusia yang lebih bijak. 
Mengajar memang bukan hanya soal metode, tapi soal apa yang kita "nyalakan" di hati mereka. Jika bahan bakar kita adalah cinta, maka langkah kita akan terasa lebih ringan, meski beban di pundak tetap sama.

Read More »
01 January | 0komentar

Ruang Paling Penting untuk Mengajar Itu Bernama Rumah

25 Ramadhan 1446H, Shodaqoh Pendaftaran Haji Untuk 3 Anak Kami

Di sekolah, gelar saya adalah Guru. Tugasnya jelas: mentransfer hard skill dan karakter (softskill) agar siswa siap menghadapi kerasnya dunia industri. Sebagai guru SMK, saya terbiasa bicara soal target, efisiensi, dan kompetensi. Tapi belakangan, saya tersadar akan satu hal yang fundamental. Ternyata, laboratorium pendidikan yang paling nyata, paling sulit, sekaligus paling krusial, bukanlah ruang kelas atau bengkel praktik, melainkan ruang tamu dan meja makan di rumah sendiri. 
Rumah kami adalah "sekolah kecil" yang unik. Istri saya juga seorang guru, yang artinya kami berdua adalah praktisi pendidikan. Namun, mendidik anak kandung sendiri ternyata jauh lebih menantang daripada menghadapi satu kelas berisi 36 siswa. 

Tiga Anak, Tiga Fase, Satu Pelajaran 
Melihat ketiga anak kami tumbuh adalah seperti melihat kurikulum kehidupan yang berjalan secara paralel: 
Si Sulung yang Sudah Bekerja: 
Ia adalah "produk" yang sudah terjun ke dunia nyata. Melalui dia, saya belajar bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya soal ia bekerja di mana, tapi bagaimana ia menjaga integritas dan etika di tengah tekanan profesional. 

Anak Kedua, Mahasiswa Arsitektur: 
Dari dia, saya belajar soal proses. Arsitektur mengajarkan presisi dan ketahanan mental saat harus "begadang" demi sebuah rancangan. Di sini, peran saya bukan lagi instruktur, melainkan pendukung yang memastikan fondasi mentalnya tetap kokoh. 

Si Bungsu, Kelas XII SMA: 
Ini adalah fase kritis. Masa depan sedang di depan mata. Dari dia, saya belajar untuk lebih banyak mendengar daripada mendikte. Mengarahkan anak di kelas XII tidak bisa lagi memakai sistem "perintah", melainkan harus lewat "pendekatan personal". 

Menurunkan Oktaf di Balik Pintu Rumah 
Ada sebuah ironi yang sering menghampiri kami para guru. Di sekolah, kata-kata kami tertata, halus, dan penuh kesabaran. Namun saat pulang, menghadapi anak yang asyik dengan gadget atau sulit dibangunkan saat subuh, nada bicara seringkali naik beberapa oktaf. Saya sering mengingatkan diri sendiri: "Anak-anakmu bukan robot yang bisa di-input algoritma perintah." 
Jari kita seringkali lebih sakti untuk menunjuk daripada merangkul. Padahal, pendidikan di rumah bukan soal instruksi, tapi soal koneksi. 

Rumah: Tempat Belajar yang Sesungguhnya 
Sebagai pasangan guru, saya dan istri sering berdiskusi bahwa profesi kami tidak berhenti saat bel pulang sekolah berbunyi. Rumah adalah sekolah yang tidak mengenal kata libur. Di rumah, kita tidak hanya mengajar tentang mata pelajaran, tapi tentang nilai kehidupan (moral value). Jika di sekolah kita mengejar angka rapor, di rumah kita mengejar "angka" kebermaknaan. Kita belajar bahwa: Mengajar itu bukan cuma soal metode, tapi seni menumbuhkan cinta. Anak tidak butuh banyak tekanan, mereka butuh ruang dan tantangan yang tepat. Cara bicara yang berubah bisa membuka potensi anak yang selama ini terpendam. 
Pada akhirnya, saya sadar. Sejauh apa pun saya mengajar di sekolah, ruang paling penting untuk saya tetaplah bernama RUMAH. Karena di sanalah, saya bukan hanya sedang membentuk masa depan siswa, tapi sedang membentuk sejarah hidup anak-anak saya sendiri. Ternyata, untuk menjadi guru yang baik di sekolah, saya harus bersedia menjadi "murid" yang baik di rumah yang selalu mau belajar memahami hati anak-anaknya.

Read More »
31 December | 0komentar

Berdamai di Ruang Ketiga: Masa-Masa Sebelum "Raportan"

Ada satu musim yang hampir selalu membuat dada saya sebagai guru SMK terasa lebih sesak dari biasanya: musim penilaian rapor. Di meja ada rekap absensi yang bolong seperti baut hilang di mesin lama, tugas praktik yang tak pernah dikumpulkan, job sheet kosong, dan catatan kecil yang menusuk: tidak ikut ujian semester.
Dulu, di kepala saya, ceritanya sederhana dan kaku: ini salah murid.
Saya guru, saya benar.
Mereka lalai, mereka harus menerima konsekuensinya.
Tanpa sadar, relasi pun berubah jadi arena: guru vs murid.
Yang disiplin, lulus.
Yang tertinggal, gugur.
Sampai suatu hari saya tersandung pada satu kalimat dari 8 Rules of Love karya Jay Shetty: dalam hubungan apa pun, jangan saling berhadapan, berdirilah berdampingan menghadapi masalah.
Kalimat itu menggeser cara pandang saya.

Sejak itu, saya mencoba memindahkan posisi:
dari berhadap-hadapan menjadi sejajar,
dari mengadili menjadi mendampingi,
dari berperang menjadi bekerja sama.
Saya mengajak seorang murid duduk.
Bukan di kursi interogasi, tapi di ruang ketiga ruang yang tak mengenal pangkat, tak butuh pembenaran. Saya mulai dengan jujur, bukan menghakimi.

“Kondisimu begini,” kata saya pelan.
“Absenmu banyak kosong, tugas praktik belum selesai, ujian juga tidak ikut. Secara sistem, ini berat.”
Saya berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Nilai bukan satu-satunya ukuran bagi Bapak. Tapi keberanian untuk sadar dan bertanggung jawab, itu bekal penting di dunia kerja nanti.”
Awalnya sunyi.
Ia menunduk.
Saya memilih mirroring, memastikan ia tahu bahwa saya tidak sedang melawannya.
“Bapak tidak berdiri di seberangmu,” kata saya.
“Kita satu tim. Lawan kita cuma satu: masalah ini.”
Dan di titik itu, tembok yang selama ini berdiri pelan-pelan runtuh.
Ia mulai bicara. Suaranya bergetar.
Ternyata ia juga bingung.
Ternyata ia juga lelah.
Ternyata beban itu tidak hanya ada di pundak saya sebagai guru, ia memikulnya sendirian terlalu lama.
Ketika perasaannya sudah tervalidasi, saya bertanya,
“Kalau begitu, apa yang bisa kamu lakukan supaya semua ini pelan-pelan teratasi?”
Ia menarik napas.
“Saya mau menerima dan mengerjakan tugas-tugasnya, Pak.”
“Akan mulai kapan?”
“Segera, Pak.”
Di situlah saya melihat sesuatu yang lahir: kesadaran. Bukan karena ancaman nilai, tapi karena kepercayaan.
Soal absensi, bahkan sebelum saya mengusulkan apa pun, ia berkata, “Pak, boleh nggak saya menggantinya dengan piket di bengkel? Bersih-bersih, bantu inventaris, atau tugas pengganti atas waktu yang sudah saya tinggalkan?”
Saya terdiam.
Bukan karena ragu, tapi karena belajar.
Ternyata yang bisa diremidi bukan hanya angka di rapor.
Kehadiran, tanggung jawab, etos kerja, dan komitmen pun bisa dipulihkan—seperti mesin rusak yang diberi kesempatan diperbaiki, bukan langsung dibuang.
Di momen itu saya sadar, kami tidak sedang mencari siapa yang menang. Kami sedang mencari jalan yang paling manusiawi, paling adil, dan paling mendidik untuk kami berdua.
Guru SMK tidak harus selalu berdiri di podium otoritas. Murid SMK tidak harus selalu duduk di kursi kegagalan.
Tentu saja, saya tidak selalu berhasil.
Ada hari-hari ketika lelah, lapar, dan urusan pribadi membuat saya kembali tergelincir ke relasi kuasa: saya harus benar, saya harus menang. Namanya juga manusia.
Tapi setiap kali itu terjadi, saya mencoba berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat ulang satu hal penting: murid saya bukan musuh saya, dan saya bukan hakim kebenaran mutlak. Dari situ, langkah kembali terasa lebih ringan. 
Hari itu saya belajar, pendidikan terutama di SMK, bukan tentang siapa yang lulus dan siapa yang tertinggal, melainkan tentang dua manusia yang memilih berdamai, lalu berjalan bersama menghadapi masalah.

Read More »
31 December | 0komentar

Refleksi Guru SMK: Menghidupkan Link and Match Melalui PBL dan Teaching Factory

Di penghujung semester gasal ini, aku mencoba berhenti sejenak untuk melakukan refleksi. Sebagai guru SMK, keseharianku lekat dengan target kompetensi, praktik kejuruan, serta tuntutan link and match dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Namun di tengah berbagai program tersebut, aku mulai bertanya pada diri sendiri: sejauh mana pembelajaran yang kulaksanakan benar-benar mencerminkan dunia kerja yang akan dihadapi peserta didik?
Selama bertahun-tahun, aku meyakini bahwa kedisiplinan, ketepatan prosedur, dan kepatuhan terhadap standar kerja adalah fondasi utama pendidikan vokasi. Nilai-nilai ini memang menjadi ruh industri. Namun ketika berhadapan dengan Generasi Z dan Generasi Alpha, aku menyadari bahwa pendekatan instruksional semata tidak lagi cukup. Mereka membutuhkan konteks, makna, dan keterlibatan langsung dalam proses belajar.
Peserta didik SMK hari ini tumbuh di dunia yang bergerak cepat, ditandai oleh digitalisasi dan perubahan teknologi yang masif. Dunia kerja berada dalam situasi TUNA (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity). Oleh karena itu, industri tidak hanya menuntut lulusan yang terampil secara teknis, tetapi juga individu yang adaptif, mampu bekerja sama, serta siap belajar sepanjang hayat.
Kesadaran ini mendorongku untuk lebih serius menerapkan pembelajaran berbasis industri, salah satunya melalui Project Based Learning (PBL). Dalam beberapa mata pelajaran kejuruan, aku mulai merancang proyek yang menyerupai permasalahan nyata di industri. Peserta didik tidak lagi sekadar menyelesaikan tugas praktik, tetapi diminta mengerjakan proyek secara berkelompok, mulai dari perencanaan, pembagian peran, pelaksanaan, hingga evaluasi hasil kerja. Di sini, mereka belajar tidak hanya tentang keterampilan teknis, tetapi juga komunikasi, tanggung jawab, dan manajemen waktu—kompetensi yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.
Selain PBL, konsep Teaching Factory (TeFa) menjadi pengalaman pembelajaran yang sangat bermakna. Melalui TeFa, bengkel dan ruang praktik di sekolah diposisikan sebagai miniatur industri. Peserta didik dilibatkan dalam proses kerja berbasis pesanan atau standar industri, dengan alur kerja yang menyerupai kondisi nyata di lapangan. Aku melihat bagaimana peserta didik menjadi lebih serius, lebih disiplin, dan lebih bertanggung jawab ketika hasil kerjanya tidak hanya dinilai oleh guru, tetapi juga harus memenuhi standar kualitas tertentu.
Dalam proses tersebut, peranku sebagai guru pun mengalami pergeseran. Aku tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pengawas mutu. Peserta didik diberi ruang untuk berdiskusi, mencoba, bahkan melakukan kesalahan, lalu memperbaikinya. Justru dari proses itulah sikap kerja dan etos profesional mulai terbentuk.
Pengalaman menerapkan PBL dan Teaching Factory menyadarkanku bahwa link and match bukan sekadar kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri di atas kertas. Link and match harus hidup di ruang kelas dan bengkel praktik, tercermin dalam cara belajar, cara bekerja, dan cara berpikir peserta didik.
Refleksi ini menegaskan bahwa pendidikan SMK tidak cukup hanya menyiapkan lulusan yang “siap kerja” secara teknis, tetapi juga siap beradaptasi dengan perubahan dunia industri. Ketika guru bersedia belajar kembali, membuka diri terhadap pendekatan baru, dan memahami karakter generasi peserta didik, maka pembelajaran vokasi akan menjadi lebih relevan dan bermakna.
Menjadi guru SMK hari ini berarti menjadi penghubung antara sekolah dan dunia industri, antara generasi muda dan masa depan mereka. Dan untuk menjalankan peran itu, aku pun terus belajar—sebab guru yang bertumbuh adalah guru yang mampu menyiapkan peserta didik untuk dunia yang terus berubah.
#GuruSMK #VokasiKuat #TeachingFactory #LinkAndMatch #RefleksiGuru #PendidikanIndonesia #SMKBisaSMKHebat

Read More »
30 December | 0komentar

Tantangan Guru Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Ruang Kelas

Perkembangan zaman membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, terutama terkait karakteristik peserta didik. Di penghujung semester gasal ini, refleksi terhadap praktik pembelajaran menjadi penting, khususnya dalam menyikapi kehadiran Generasi Z dan Generasi Alpha yang kini mendominasi ruang kelas.
Bagi guru generasi sebelumnya, pengalaman mengajar sering kali menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai karakter murid. Jam terbang yang panjang membentuk intuisi pedagogik: mengenali murid pendiam, murid aktif, hingga murid dengan perilaku menantang. Namun, pola-pola yang selama ini dianggap mapan ternyata tidak selalu relevan ketika berhadapan dengan generasi baru peserta didik.
Perubahan Karakter Peserta Didik
Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam konteks sosial dan teknologi yang sangat berbeda. Mereka lahir dan berkembang di era digital, di mana informasi mudah diakses, komunikasi berlangsung cepat, dan batas ruang serta waktu semakin kabur. Kondisi ini membentuk cara berpikir, cara belajar, dan cara memaknai pendidikan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka tidak sekadar membawa perangkat digital ke dalam kelas, tetapi juga membawa perspektif baru terhadap proses belajar. Fleksibilitas sering kali menjadi ciri utama mereka. Namun, fleksibilitas ini bukan berarti tanpa arah. Justru, Generasi Z dan Alpha cenderung menghargai pembelajaran yang memiliki tujuan jelas, relevan dengan kehidupan, serta memberikan makna bagi perkembangan diri mereka.

Konteks Dunia TUNA dan Implikasinya bagi Pendidikan
Peserta didik saat ini tumbuh dalam dunia yang dapat digambarkan dengan istilah TUNA (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity). Dunia yang penuh ketidakpastian, perubahan cepat, kebaruan, dan ambiguitas ini memengaruhi orientasi belajar mereka. Fokus tidak lagi semata pada capaian nilai akademik, tetapi juga pada pertumbuhan personal, kesejahteraan mental, dan relevansi pembelajaran dengan realitas kehidupan.
Jika generasi sebelumnya lebih menekankan pada kepatuhan terhadap aturan atau panduan yang baku, Generasi Z cenderung menampilkan pola berpikir yang lebih eksploratif dan kreatif. Pola ini terkadang dipersepsikan sebagai ketidakteraturan, padahal sesungguhnya merupakan bentuk pencarian jati diri dan cara belajar yang sesuai dengan zamannya.

Peran Guru dalam Lanskap Pedagogik Baru
Dalam konteks ini, peran guru mengalami pergeseran. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai sumber utama pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator, pendamping, dan mitra belajar. Pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting dibandingkan instruksi satu arah.
Hal ini tidak berarti metode pembelajaran lama keliru. Setiap pendekatan memiliki relevansi sesuai dengan konteks zamannya. Namun, pendidikan bersifat dinamis. Kelas bukanlah ruang statis, melainkan ruang hidup yang terus berubah mengikuti perkembangan peserta didik dan lingkungan sosialnya.

Refleksi dan Arah Pengembangan Profesional Guru
Kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberlangsungan peran guru di era ini. Guru yang efektif adalah guru yang bersedia terus belajar, merefleksikan praktik pembelajarannya, dan menyesuaikan pendekatan pedagogik dengan karakter peserta didik.
Perubahan dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau teknologi, tetapi juga oleh kesiapan mental dan sikap profesional guru. Ketika guru membuka diri untuk memahami generasi baru, mengembangkan empati, dan menggeser cara pandang, maka proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan kontekstual.
Dengan demikian, tantangan menghadapi Generasi Z dan Alpha sejatinya bukan hambatan, melainkan peluang untuk menumbuhkan praktik pendidikan yang lebih relevan, humanis, dan berorientasi pada masa depan.

Read More »
29 December | 0komentar

Bukan Perusak: Refleksi Luka Alam di Serambi Mekkah dan Ranah Minang

Kita sering menyebut diri kita sebagai puncak peradaban. Namun, ada ironi besar yang terselip di balik gedung-gedung tinggi dan teknologi mutakhir: kita ditunjuk sebagai perawat bumi, namun sering kali justru menjadi perusak paling besar. 
Hari ini, alam sedang mengirimkan "surat cinta" yang getir. Saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini harus menanggung beban berat akibat kelalaian kolektif kita. Banjir bandang, tanah longsor, dan anomali cuaca bukan sekadar fenomena alam biasa; mereka adalah cermin dari keseimbangan yang telah kita koyak. 
Amanah yang Terlupakan Dalam perspektif spiritual, manusia diciptakan sebagai Khalifah (pemimpin/pengelola) di muka bumi. Tugas utamanya bukanlah mengeksploitasi tanpa batas, melainkan menjaga harmoni. Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur'an: 
 "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41) 
 Ayat ini dengan gamblang menjelaskan bahwa bencana sering kali merupakan resonansi dari tindakan kita sendiri. Ketika hutan digunduli dan sungai dijadikan tempat sampah raksasa, kita sedang menanam benih duka bagi generasi mendatang. 

Pendidikan: Lebih dari Sekadar Angka dan Ijazah 
Di tengah dunia yang kian maju namun kehilangan arah, kita perlu bertanya kembali: Untuk apa kita bersekolah? Pendidikan hari ini tidak cukup hanya mencerdaskan otak. Jika kecerdasan hanya melahirkan inovasi untuk mengeruk kekayaan alam tanpa nurani, maka pendidikan tersebut telah gagal. Pendidikan sejati harus mampu menghidupkan kembali kemanusiaan dan rasa cinta terhadap semesta. Rasulullah SAW bersabda: 
 "Dunia ini hijau dan manis. Sesungguhnya Allah menjadikan kamu sebagai pengelola di dalamnya, maka Dia melihat bagaimana kamu berbuat." (HR. Muslim) 
Memulihkan Luka, Mengembalikan Arah Luka yang dialami saudara-saudara kita di Sumatera adalah pengingat bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Menghidupkan kembali kemanusiaan berarti: 
  • Empati yang Berwujud: Tidak hanya merasa iba, tapi bergerak meringankan beban korban bencana. 
  • Etika Lingkungan: Menyadari bahwa setiap pohon yang kita tanam dan setiap sampah yang kita kelola adalah bentuk ibadah. 
  • Kesadaran Ekologis dalam Pendidikan: Menanamkan pada anak cucu bahwa merawat bumi adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Jangan sampai kita menjadi golongan yang ditegur Allah dalam Al-Qur'an karena melampaui batas:  "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya..." (QS. Al-A'raf: 56) 
Kemajuan tanpa arah hanya akan membawa kita pada kehancuran yang lebih cepat. Mari kita jadikan momentum duka di Aceh dan Sumatera sebagai titik balik. Sudah saatnya kita kembali ke peran fitrah kita: menjadi perawat bumi yang penuh kasih, bukan perusak yang haus materi. Sebab pada akhirnya, bumi akan tetap ada, namun kitalah yang mungkin tidak lagi punya tempat untuk pulang jika terus merusaknya.

Read More »
29 December | 0komentar

Ribuan Ujian Sejak SD: Apakah Hanya Melahirkan Penghafal, Bukan Pemikir Kritis?

Pernahkah kita menghitung sejak hari pertama masuk SD hingga kelulusan SMA/SMK, bahkan saat kuliah sudah berapa banyak ujian dan ulangan yang kita tempuh?
Angkanya mungkin mengejutkan. Bayangkan saja: Ujian Harian/Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ujian Akhir Semester, Ujian Sekolah/USBN, hingga Ujian Nasional (di masa lalu), dan mungkin juga try out yang tak terhitung jumlahnya. Setiap jenjang (SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA/SMK 3 tahun) dipenuhi siklus ujian yang berulang, minimal 4-5 kali ujian besar setiap tahun (UTS, UAS, US/UN).
Jika dihitung kasar, kita telah melalui ratusan, bahkan mungkin ribuan kali duduk di kursi dengan selembar kertas soal, pena, dan detak jantung yang berpacu.
Namun, yang jauh lebih penting dari angka itu adalah: Apa yang sebenarnya diwariskan dari rentetan ujian tersebut?

🧐 Ujian: Sekadar Menguji Ingatan, atau Membentuk Keahlian Abad 21?
Pertanyaan besar muncul: Apakah semua ujian dan ulangan selama belasan tahun itu benar-benar mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan kehidupan saat ini yang sangat menuntut keahlian seperti:
  • Berpikir Kritis (Critical Thinking) 
  • Kreatif (Creativity) 
  • Memecahkan Masalah (Problem Solving) 
  • Kolaborasi (Collaboration) 
Jawabannya adalah: Tergantung pada jenis ujiannya.

🌟 Sisi Positif dari "Tekanan" Ujian
Ujian, pada dasarnya, adalah sebuah simulasi tekanan dan batas waktu. Ini adalah "arena tempur" kecil di mana kita diasah untuk:
Disiplin dan Manajemen Waktu: Belajar membagi waktu antara persiapan materi yang banyak dalam waktu yang terbatas.

Ketahanan Mental: Mengatasi rasa takut, kecemasan, dan kegagalan—kemampuan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.

Penguasaan Konsep Dasar: Memastikan kita setidaknya menguasai fondasi ilmu yang akan menjadi pijakan untuk pemikiran yang lebih kompleks.

🚀 Transformasi: Dari Ujian Ingatan Menuju Ujian Kompetensi
Ujian tradisional yang hanya menguji hafalan (misalnya, pilihan ganda definisi) memang tidak secara langsung mengembangkan kemampuan 4C (Kritis, Kreatif, Kolaborasi, Komunikasi/Problem Solving).
Namun, terjadi pergeseran besar dalam pendidikan:

Ujian Berbasis Proyek (Project-Based Assessment): Model ujian berbasis proyek (seperti yang banyak diterapkan pada Kurikulum Merdeka) secara eksplisit menuntut keahlian 4C. Ketika siswa harus membuat produk, presentasi, atau karya inovatif, mereka dipaksa untuk:
Berpikir Kritis: Menganalisis masalah, mengevaluasi sumber, dan mempertanyakan asumsi. 
Kreatif: Merancang solusi unik atau menghasilkan karya baru. 
Kolaborasi: Bekerja dalam tim, membagi tugas, dan menyatukan ide. 
Problem Solving: Mengatasi kendala di tengah proses proyek.

Soal Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS): 
Jenis soal yang tidak hanya menanyakan "apa" tetapi juga "mengapa" dan "bagaimana" suatu konsep diterapkan. Ini melatih kita untuk menghubungkan berbagai informasi dan membuat kesimpulan yang logis.
Intinya: Jumlah ujian yang banyak adalah sebuah fakta, tetapi nilai sejatinya terletak pada bagaimana kita menyikapi dan memaknai proses ujian tersebut. Bukan skor yang dihitung, melainkan pertumbuhan diri di balik setiap angka.

🌈 Pelajaran Paling Berharga yang Kita Dapatkan
Mungkin nilai mata pelajaran tertentu telah kita lupakan, namun ada "harta karun" lain yang kita bawa hingga dewasa, yang merupakan hasil dari "latihan" menghadapi ujian:
Kemampuan Coping dengan Kegagalan: Setiap kali nilai tidak sesuai harapan, kita belajar bahwa kegagalan adalah guru. Kita belajar bangkit, merefleksi, dan mencoba lagi di kesempatan berikutnya.
Keterampilan Mengelola Informasi: Kita dilatih untuk memilah mana materi esensial dan mana yang hanya detail, sebuah keahlian penting di era banjir informasi saat ini.
Resiliensi (Ketangguhan): Belasan tahun menghadapi tantangan akademik membuat kita menjadi pribadi yang tangguh, siap menghadapi tantangan hidup yang jauh lebih besar.
Jadi, ketika kita melihat kembali rentetan ujian itu, jangan hanya melihatnya sebagai tumpukan kertas soal. Lihatlah sebagai tangga yang telah kita daki—setiap anak tangganya, yang disebut "ujian," telah membentuk fondasi intelektual dan mental kita untuk menjadi pemecah masalah, pemikir kritis, dan kolaborator ulung di masa depan.

Read More »
05 November | 0komentar

Dari Tugas Administratif ke Panggilan Jiwa: Kunci Transformasi Guru

Menjadi guru adalah panggilan jiwa yang menuntut kesadaran tiada henti. Di tengah tantangan kurikulum dan tuntutan administratif, guru sejati dituntut untuk memahami esensi unik setiap manusia di hadapannya, terus belajar, dan tak lelah memperbaiki diri. 
Refleksi mendalam inilah yang menjadi fondasi Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), sebuah gerakan yang menyerukan revolusi kecil di setiap ruang kelas.Workshop Pendidikan Terpadu yang diadakan oleh GSM, dengan Muhammad Nur Rizal dan Novi Candra sebagai founder dan co-founder, menawarkan kesadaran baru: tugas guru adalah memanusiakan manusia. Beberapa bulan ini hanya mengikuti dari grup Whattsapp GSM Kab. Purbalingga. 
GSM mengingatkan bahwa setiap anak adalah individu yang unik, dianugerahi rasa ingin tahu yang tinggi, dan memiliki daya imajinasi yang tak terbatas. Dengan kesadaran ini, cara mengajar harus bergeser drastis: 
  • Dari Menjelaskan ke Memfasilitasi: Guru bukan lagi sekadar penyalur informasi yang meminta murid menyalin, melainkan fasilitator yang menciptakan pengalaman berkesan. 
  • Dari Paksaan ke Keinginan: Pembelajaran harus memungkinkan anak didik menemukan cara belajarnya sendiri—dari melihat, mendengar, hingga mempraktikkan—tanpa rasa tertekan. 
  • Menumbuhkan Minat, Bukan Menjejalkan Materi: Peran guru adalah memantik rasa penasaran dan menumbuhkan minat, sehingga proses belajar menjadi sebuah petualangan yang otentik. 
 Dengan kata lain, pendidikan harus berfokus pada proses cara belajar dan interaksi yang dibangun, bukan hanya hasil akhir di atas kertas.
Menjaga komunitas bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan refleksi harian agar setiap guru terus termotivasi untuk bangkit dan berbuat kebaikan. Setiap langkah, sekecil apa pun, yang dilakukan di dalam komunitas adalah awal dari perubahan besar yang akan mendefinisikan masa depan generasi penerus bangsa. Guru yang berani berproses dan berkolaborasi adalah pahlawan sejati yang membangun peradaban dari dalam kelas.

Read More »
04 November | 0komentar

Monster Senyap Pembunuh Nalar: Ketidakberpikiran, Ancaman Nyata Krisis Moral Bangsa!


Di tengah hiruk pikuk modern, sebuah monster senyap mengintai: Ketidakberpikiran. Ini adalah kondisi saat manusia terjebak dalam pusaran rutinitas tanpa jeda untuk refleksi mendalam, sekadar menjadi pengikut setia alur birokrasi dan algoritma digital. Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) melalui Pendirinya, Muhammad Nur Rizal, secara lantang memperingatkan bahwa fenomena ini adalah ancaman nyata bagi nalar, moral, dan kesejatian diri bangsa.

🕰️ Waktu yang Tersita dan Nalar yang Tumpul
Rizal menyoroti bagaimana waktu yang seharusnya dialokasikan untuk pengembangan diri justru tersedot habis oleh hal-hal administratif dan digital.
“Waktu kita banyak tersita oleh algoritma, oleh rutinitas administratif, tetapi justru sedikit sekali untuk perkara yang penting, yakni, berpikir, berdialog dengan nurani, dan memelihara imajinasi,” ungkap Muhammad Nur Rizal.
Konsekuensinya fatal: nalar kritis tumpul, imajinasi moral terkikis, dan manusia makin jauh dari esensi dirinya. Kita bergerak, tapi tanpa makna; berinteraksi, tapi tanpa kedalaman; dan menjalankan tugas, tapi tanpa jiwa.
📉 Manifestasi Ketidakberpikiran dalam Realitas Sosial-Politik
Ketidakberpikiran bukan hanya masalah individu atau ruang kelas, tetapi telah meresap ke dalam sendi-sendi kehidupan sosial dan politik, menciptakan krisis peradaban. Kesenjangan yang Menganga: Sulitnya lapangan kerja, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan akses pendidikan yang timpang adalah indikasi bahwa negara ini menghadapi tantangan serius yang tak tersentuh oleh solusi berbasis nalar kritis.
Krisis Etika Publik: Perilaku para wakil rakyat yang mengusulkan kenaikan tunjangan dan pajak di tengah kesulitan rakyat, korupsi yang merajalela, serta sikap arogan kelas atas yang melukai nurani, adalah cerminan dari hilangnya empati dan imajinasi moral. Bahkan, aksi aparat yang represif hingga menimbulkan kematian menunjukkan bahwa tindakan-tindakan diambil tanpa refleksi mendalam terhadap rasa keadilan.
Semua gejala ini adalah produk dari pikiran yang beku, yang gagal melihat di luar kepentingan diri sendiri dan rutinitas kekuasaan. Mereka adalah bukti nyata betapa berbahayanya hidup tanpa jeda untuk mempertimbangkan dampak moral dan sosial dari setiap tindakan.
🏛️ Pendidikan: Benteng Terakhir Peradaban
Menghadapi situasi ini, GSM mengingatkan bahwa Pendidikan harus menjadi benteng peradaban, bukan sekadar pabrik penghasil tenaga kerja teknis. Tujuan utama pendidikan sejati haruslah melahirkan manusia yang mampu berpikir merdeka, berimajinasi moral, dan bertindak autentik. Ini adalah antidote terhadap racun ketidakberpikiran. Jika di sekolah guru hanya fokus pada buku teks dan kurikulum, serta melarang murid untuk bertanya kritis karena dianggap mengganggu alur pelajaran, maka yang lahir hanyalah generasi:
  • Pengikut (Followers), bukan pencipta.
  • Pelaksana, bukan visioner.
Rizal menekankan, “Padahal bangsa ini membutuhkan generasi yang autentik, berani, dan visioner.”

💡 Jalan Keluar
Menghidupkan Kembali Ruang Refleksi
Tantangan bagi seluruh pemangku kepentingan pendidik, orang tua, dan pemimpin adalah merebut kembali waktu yang tersita dari algoritma dan birokrasi, lalu mengalihkannya untuk perkara penting: berpikir. Ini membutuhkan perubahan radikal dalam paradigma pendidikan:
  • Prioritaskan Nalar Kritis: Jadikan ruang kelas sebagai arena dialog, perdebatan ide, dan mempertanyakan status quo, bukan sekadar transfer informasi. 
  • Kembangkan Imajinasi Moral: Ajarkan anak didik untuk merasakan dan membayangkan dampak tindakan mereka terhadap orang lain, membangun empati sebagai fondasi etika. 
  • Dorong Keotentikan: Beri ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri secara jujur dan berani, menumbuhkan jiwa pencipta, bukan peniru. 
Hanya dengan menjadikan pendidikan sebagai rumah bagi pikiran merdeka dan hati nurani yang hidup, kita bisa membentengi diri dari monster ketidakberpikiran dan membangun kembali peradaban yang didasari oleh keadilan, kemanusiaan, dan kesejatian diri.

Sumber : https://sekolahmenyenangkan.or.id/

Read More »
03 November | 0komentar

Metabolisme Jiwa Seorang Guru Sejati

Ada kegelisahan yang menyelinap di lorong-lorong sekolah. Sebuah rutinitas yang terstruktur rapi, namun terasa hampa. Murid datang, duduk, mencatat, lalu pulang. Guru datang, absen, masuk kelas, menjelaskan, memberi tugas, lalu selesai. Semuanya bergerak seolah mengikuti panduan mekanis, seperti mesin pabrik yang memproduksi pengetahuan tanpa melibatkan ‘rasa’ dan jiwa. Kita menyaksikan sebuah alur yang terasa sibuk, padat, dan ramai, namun diwarnai kesunyian dan kehampaan.
Kegelisahan ini semakin dalam saat melihat budaya yang terkadang masih kental dengan nuansa feodalistik di mana yang dominan adalah tumpukan tuntutan alih-alih semangat penuntun. Sekolah, alih-alih menjadi taman tumbuh kembang, seolah berubah menjadi ruang pertunjukan yang memamerkan kesibukan tanpa esensi.
Pendidikan sebagai Perjalanan Batin
Di tengah kemonotonan ini, Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) datang menyadarkan satu hal fundamental: bahwa pendidikan sejati adalah sebuah perjalanan batin, bukan sekadar tumpukan administratif. Tujuan utamanya bukan semata capaian akademik, melainkan hati yang gembira. GSM bercita-cita melihat murid-murid tersenyum karena belajar itu sungguh-sungguh menyenangkan dan membahagiakan.
Namun, GSM tidak hanya fokus pada murid. Gerakan ini juga menyoroti ‘metabolisme jiwa’ seorang guru.
Seringkali kita bertanya-tanya, mengapa ada individu dengan kapasitas luar biasa, ilmu tinggi, dan prestasi hebat, namun enggan untuk berbagi? Padahal, seperti yang ditekankan oleh Fullan (2012), guru yang bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman justru memiliki professional capital yang jauh lebih kuat, dan yang terpenting: hidupnya terasa lebih bermakna.
Kehampaan dan Kebutuhan untuk Berbagi
Mungkin benar, ilmu yang disimpan rapat-rapat akan membuat hidup menjadi tidak seimbang. Fenomenanya mirip dengan tubuh yang terus menerus diberi asupan namun tak pernah bergerak lambat laun, metabolisme jiwa kita akan terganggu. Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk memberi kontribusi pada sesama. Ketika dorongan ini ditahan, akan muncul rasa hampa dan kehilangan arah.
Inilah mengapa muncul hipotesis yang menyentuh: kehampaan yang dirasakan guru bukan melulu karena kurangnya penghargaan finansial, melainkan karena kurangnya kesempatan untuk berbagi.
“Berbagi adalah panggilan jiwa terdalam manusia,” ujar Bu Novi (CoFounder GSM), dan esensinya terasa begitu nyata. Setiap kali berbagi, ada perasaan pemulihan, bukan pada fisik, melainkan pada batin yang terasa lebih sehat dan sembuh.
Lumbung Pengetahuan: Menyembuhkan Diri dengan Memberi
Saat ini, GSM sedang menghidupkan kembali semangat berbagi itu melalui inisiasi Lumbung Pengetahuan. Ini adalah ruang di mana para guru saling berbagi, saling belajar, dan saling menguatkan. Beberapa komunitas GSM telah mendaftar untuk mendapatkan penguatan, lalu dengan sukarela membagikannya lagi kepada saudara-saudara guru lain.
Model ini sejajar dengan konsep Learning Organization yang digagas oleh Peter Senge (1990). Senge menjelaskan bahwa sebuah organisasi (termasuk sekolah) akan tumbuh lebih adaptif dan berkelanjutan jika setiap anggotanya mau terus menerus belajar dan, yang paling penting, berbagi pengetahuan.
Pada titik inilah, banyak guru merasa hidupnya kembali menemukan arah. Berbagi dilakukan bukan karena harus menunggu undangan, bukan karena surat tugas, dan bukan karena berharap imbalan. Sebab, setiap kali berbagi, seorang guru tahu bahwa ia sedang menyembuhkan dirinya sendiri. Dan setiap kali ada hati lain yang mendengarkan dan ikut tergerak, ia tahu bahwa ia tidak sendirian di jalan sunyi perubahan ini.
Maka, bagi teman-teman seperjuangan yang mungkin sedang merasa lelah, merasa kehilangan makna, atau tersesat dalam rutinitas mekanistik, marilah bergabung menempuh perjalanan batin ini.
Pada akhirnya, kebahagiaan sejati kita sebagai pendidik tidak diukur dari berapa banyak murid yang mendapatkan nilai sempurna, melainkan dari berapa banyak hati yang kita nyalakan.
Dan siapa tahu, dari Lumbung Pengetahuan ini akan lahir generasi guru-guru yang tidak hanya cerdas dalam ilmu, tapi juga penuh cinta, peduli, dan sadar bahwa belajar adalah proses seumur hidup.
Khoirunnas anfa‘uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Dan mungkin, itulah metabolisme jiwa seorang guru sejati.

Sumber: WA Grup GSM Kab. Purbalingga

Read More »
28 October | 0komentar

Mengapa Anak Kita Dicetak Seragam, Bukan Dibiarkan Tumbuh Utuh?


“Pendidikan sudah mati…”
Kalimat itu, yang pernah dilontarkan oleh kritikus media dan budayawan legendaris, Neil Postman, kini terasa bukan lagi sekadar pernyataan pesimis. Ia menjelma menjadi sebuah kabar duka yang pura-pura tak terdengar, terbungkus rapi dalam formalitas dan keriuhan sistem.
Apa yang kita saksikan hari ini di institusi bernama sekolah, adalah sebuah kematian perlahan. Jiwanya telah hilang, menyisakan kerangka kaku yang masih tegak berdiri—megah, tetapi hampa.

Sekolah, alih-alih menjadi taman tempat benih-benih kemanusiaan disemai, kini menyerupai pabrik. Sebuah tempat di mana anak-anak dicetak seragam, diseragamkan pikirannya, dipacu oleh waktu, dan diburu oleh angka. Nilai seorang anak tidak lagi diukur dari "cahaya dalam dirinya" dari rasa ingin tahu, empati, atau kebijaksanaan melainkan dari seberapa tinggi angkanya di lembar ujian.

Lihatlah kontrasnya: 
Gedungnya masih berdiri kokoh, mungkin dengan arsitektur modern. Spanduk programnya berderet indah, menjanjikan masa depan gemilang. Laporannya tersusun rapi dengan angka miliaran dana dan tanda tangan basah para petinggi.

Namun, di mana jiwanya?
Ia hilang. Terselip di balik tumpukan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) yang siap diintai pemeriksa, di antara rapat-rapat sibuk yang sibuk memoles angka capaian. Kebisingan yang mendominasi bukan lagi tawa bahagia anak-anak yang belajar dengan hati, melainkan suara program, proyek, dan formalitas yang kini seakan menjadi dewa baru.

Hilangnya Tujuan Transenden
Sekolah seharusnya memiliki tujuan transenden: memanusiakan manusia, membimbing ke arah kebijaksanaan, dan mengajarkan makna hidup yang lebih dalam. Tanpa tujuan itu, sekolah hanya menjadi rumah tahanan yang berpagar kurikulum. Manusia tumbuh di dalamnya tanpa arah, dan kebijaksanaan mati pelan-pelan di ruang guru yang dingin.

Dampak dari matinya jiwa ini merasuk hingga ke akar budaya sekolah:
  • Hubungan Guru-Murid: Sikap saling dukung dan memihak kini berubah menjadi saling hujat, bahkan kekerasan menjadi hal yang bisa dimaklumi seolah itu cara cepat untuk menertibkan. 
  • Penghakiman Siswa: Anak yang "bodoh" atau "tak beradab" tak lagi kita peluk dengan sabar dan tuntunan. Kita melabeli mereka, menyingkirkannya, seolah kegagalan itu sepenuhnya milik mereka, bukan karena sistem yang kehilangan makna dan gagal memberi arti. 

Kita lupa bahwa tugas pendidikan bukanlah menyingkirkan yang lemah, tetapi membimbing semua menuju potensi terbaik mereka. Di tengah hiruk pikuk formalitas itu, kita bisa melihatnya:
Wajah-wajah guru yang lelah, terbebani oleh administrasi dan target capaian semu. Anak-anak yang matanya kehilangan cahaya, semangat belajarnya dipadamkan oleh tekanan angka. Kepala sekolah yang bingung harus menyelamatkan apa dulu: rasa kemanusiaan, atau sistem birokrasi?
Kita haus, haus akan nilai, akan kasih, akan makna yang dulu menjadi alasan suci kita datang ke sekolah. Kini, angin yang lewat di wajah kita tak lagi sejuk, ia hanya menyapu debu kelelahan, meninggalkan rasa panas dan kering.
Sekolah belum hilang secara fisik, tetapi jiwanya sedang sekarat. Ia adalah sistem yang terlalu sibuk—sibuk dengan laporan, sibuk dengan proyek, sibuk dengan pembenaran—hingga lupa dengan inti tugasnya: mengajar manusia cara menjadi manusia yang utuh.
Jika kita diam saja, membiarkan jiwa pendidikan ini meredup, bisa jadi esok yang tersisa hanyalah bangkai sistem yang berisik, dan manusia-manusia yang lupa caranya menjadi manusia sejati. Inilah saatnya menghentikan irama pabrik, dan mulai mencari kembali cahaya yang hilang di ruang-ruang kelas.
Sumber: WA Grup GSM Kab. Purbalingga

Read More »
23 October | 0komentar

Dari Gaduh Medsos ke Nalar Kritis

Sumber Gambar : https://www.islampos.com/


Kasus viral siswa merokok dan penamparan kepala sekolah adalah “hadiah” yang tak terduga bagi sebuah proses pembelajaran. Dengan menggunakannya sebagai fenomena nyata dalam PBL, kita berhasil mematahkan siklus perdebatan tak berujung dan menguap.
Kita tidak lagi melihat siswa sebagai pelanggar yang harus dihukum, atau kepala sekolah sebagai pelaku kekerasan yang harus dihakimi. Sebaliknya, kita melihat mereka sebagai manusia dalam sebuah ekosistem sosial-pendidikan yang kompleks.
Hasilnya? Anak-anak tidak hanya mendapatkan nilai akademik dari mata pelajaran, tetapi juga sebuah kesadaran baru, nalar kritis, dan keterampilan empati untuk membedah masalah yang hidup di sekitar mereka. Inilah esensi sejati dari Phenomenon-Based Learning: membuat pendidikan relevan, nyata, dan transformatif. 
Phenomenon-Based Learning (PBL), sebuah model pembelajaran yang menjadikan fenomena nyata, yang hidup di tengah masyarakat, sebagai titik tolak eksplorasi multidisiplin di kelas.
PBL menolak konsep belajar di ruang hampa; ia mengajak siswa menyelami dunia, mengidentifikasi masalah autentik, dan mencari solusinya dengan menggabungkan berbagai disiplin ilmu.
Nah, belakangan ini, ada berita yang begitu hangat dan viral di media sosial: seorang siswa SMA kedapatan merokok di lingkungan sekolah, yang kemudian berujung pada tindakan penamparan oleh kepala sekolahnya.
Bagi sebagian orang, kasus ini langsung menjadi bahan perdebatan sengit di belakang layar, memecah belah kubu “disiplin keras” versus “perlindungan anak”, dan pada akhirnya seperti banyak isu viral lainnya menguap begitu saja tanpa menghasilkan solusi jangka panjang.
Namun, sebagai seorang pendidik, “Mengapa tidak saya jadikan bahan pembelajaran yang autentik saja?” 
Membawa peristiwa ini ke kelas, bukan untuk menghakimi siapa yang salah atau benar, tetapi untuk membangun nalar kritis dan kesadaran baru pada anak-anak didik. 
Ini adalah implementasi PBL yang sesungguhnya. Dalam PBL, fenomenanya harus kaya dan kompleks dan kasus ini menawarkan kompleksitas yang luar biasa. Tidak hanya menayangkan berita, tetapi menyajikan fenomena yang utuh: 
  • Fakta Kasus: Siswa merokok di sekolah. Kepala sekolah melakukan kontak fisik (menampar). 
  • Reaksi Publik: Komentar pro dan kontra, pihak sekolah dinonaktifkan, orang tua melapor polisi, siswa lain mogok belajar sebagai bentuk solidaritas. 
  • Hukum dan Etika: Pertanyaan tentang batasan disiplin guru, hak anak, dan kode etik pendidikan.

Tangkapan layar Sumber Gambar :






Read More »
18 October | 0komentar

"Laundry Karakter ?"

Praktik Pembelajaran Mendalam (PM)
Orang tua mengharapkan kepada sekolah seperti nyuci di loundry saja, rapih itu barang (Rapi, pintar, sopan dan lainnya, berkarakter). Dalam prosesnya jika ada kotaran yang membandel pokoknya taunya wangi itu pakaian. Kalau sampai ada treamen lain meski membandel (baca: merokok disekolah) tidak boleh diapa-apakan. Sekolah. Dulu, ia adalah taman. Tempat menumbuhkan budi. Hari ini, bagi sebagian besar orang tua, sekolah seperti telah bertransformasi menjadi "Mesin Cuci Karakter Premium."
Anak-anak masuk, ditaruh, kemudian harapan besarnya: keluar harus kinclong. Rapi, pintar, sopan, hafal Pancasila, bisa mengaji, nilai sempurna, dan—yang paling penting—"laku" di dunia kerja. Wah, kayak mesin cuci premium sing bisa nyalonin anak sekalian, biar nyenengke kalo dilihat.
Benar, sekolah seolah diposisikan sebagai "laundry" di mana kita cukup memasukkan kotoran (karakter yang belum matang) dan mengambilnya kembali dalam keadaan bersih total, wangi, dan terlipat rapi.

Padahal, mari kita jujur: sekolah itu ya bukan tempat nyuci karakter.

Karakter Digodok di Rumah, Bukan di Sekolah
Karakter, moral, dan budi pekerti itu adalah masakan rumahan. Ia:
Digodok soko rumah (dimasak dari rumah).
Direbus karo teladan (direbus dengan keteladanan).
Dikukus karo kasih sayang (dikukus dengan kasih sayang).
Digoreng karo obrolan setiap malam sebelum tidur (digoreng dengan obrolan intim setiap malam).

Namun, berapa banyak orang tua hari ini yang berpikir: "Pokoknya anakku tak sekolahkan di tempat paling mahal, paling bagus, paling modern... beres!"
Lalu, bagaimana peran orang tua? Kita seperti menyerahkan motor rusak ke bengkel terus ditinggal dolan (diserahkan ke bengkel lalu ditinggal bermain). Motor mungkin bisa diservis, tapi anak? Anak itu jiwa, Mas. Bukan sparepart!
Sikap ini adalah bentuk delegasi tanggung jawab yang paling berbahaya. Kita berharap institusi pendidikan menambal lubang yang kita ciptakan di rumah.

Yang Kudu Sekolah , Ya Kita Kabeh
Terus terang jujur saja, yang sesungguhnya kudu sekolah ki ya kita kabeh kita semua. Orang tua perlu menempuh sekolah kehidupan yang tiada akhir. Sekolah termahal bagi anak adalah perilaku orang tuanya. Anak belajar bukan dari teori, tapi dari cara kita hidup.

Kita harus belajar menerima keunikan anak, bukan cuma menuntut kesempurnaan.
Kita harus belajar sabar, bukan cuma menuntut kecepatan hasil.
Kita harus belajar jadi teladan, belajar ngomong sing empuk (berbicara dengan lembut), bukan cuma nyuruh dan ngomel.
Jika kita ingin anak saleh, ya kita yang harus menjadi teladan kesalehan. Jika kita ingin anak jujur, ya kita yang harus jujur dalam segala hal, bahkan dalam hal-hal kecil.

Guru: Bukan Sekadar Penggugur Tugas
Pesan ini juga berlaku bagi para pendidik di sekolah. Jangan pernah puas hanya menjadi "penggugur tugas." Datang–mengajar-pulang–setor nilai. Yo wes, kayak barang-barang pajangan (Ya sudah, seperti barang pajangan).
Guru sejati hadir ketika ia merasakan dirinya juga sebagai orang tua (meskipun bukan biologis). Ketika itulah guru hadir bukan sebagai birokrat pendidikan, melainkan sebagai cahaya.
Mengutip perkataan bijak, esensi mendidik yang terpenting justru adalah mentransfer rasa, cinta, dan makna. Makna tentang kehidupan yang jujur, tentang perjuangan, dan tentang kemanusiaan.

Sekolah: Taman, Bukan Pabrik Produk
Ki Hajar Dewantara (KHD) sudah lama mengingatkan kita. Sekolah seharusnya menjadi Taman Siswa, bukan pabrik, dan bukan pula laundry.
Sekolah harusnya menjadi tempat anak tumbuh, bukan dibentuk. Anak adalah benih yang harus disiram, bukan adonan yang harus dicetak.
Tempat anak mencari jati diri, bukan dipaksa seragam, baik seragam penampilan maupun seragam pemikiran.
Anak kita itu bukan semacam produk. Jika cacat (gagal ujian) lantas dibuang. Bukan juga obyek proyek yang harus sempurna dalam deadline nilai. Mereka adalah proses tumbuh yang panjang, kadang mbulet (berliku), tapi penuh harapan.

Read More »
16 October | 0komentar

Pembelajaran Mendalam Yang Saintifik

Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sangat diharapkan sebagai bagian dari pembelajaran yang bermakna/ mendalam. Pada awal pelaksanaan kurikulum K13 ada istilah pembelajaran dengan menggunakan metode saintifik,sebagai ruh dari kurikulum ini. Sebenarnya metode pembelajaran pendekatan ini bisa sebagai replika pembelajaran dengan menggunakan metode pendekatan pembelajaran mendalam, yang sekarang sedang digaungkan oleh Kemdikdasmen. Kita lihat pendekatan saintifik ini dengan langkah-langkah yang mendukung pada salah satu kerangkan pembelajaran mendalam yaitu pada kerangka pengalaman belajar. yaitu pada pembelajaran kolaboratif yang berbasis inkuiri (mengajukan pertanyaan, menyelidiki, dan menemukan jawaban sendiri). 
Dimana langkah-lakang pendekatan saintifik adalah mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan. Pembelajaran mandalam akan terwujud jika terjadi situasi pembelajaran yang paling ideal, yaitu keaktifan siswa maksimal guru sangat siap mengajar dengan metode dan persiapan yang matang dalam mengajar. Untuk bisa mewujudkan pembelajaran mandalam, maka tidak cukup jika siswa hanya mendengarkan informasi dari guru atau hanya melihat tayangan yang diberikan oleh guru. Siswa perlu melakukan aktifitas yang mendukung terjadinya proses belajar. Sehingga harapan agar pembelajaran bisa menjadi perilaku dan karakter diri bisa diwujudkan. Peran guru berubah dari “memberi/mengajar” menjadi “fasilitator, pendiagnosis, pendorong, pengarah, dan pembentuk inisiator” . Guru juga menjadi pembangkit belajar dan pemicu berpikir. 

Praktik Meaningfull dalam DPIB
DPIB (Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan) DPIB memiliki Mapel yang menyiapkan peserta didik untuk memiliki kompetensi perencanaan untuk menghitung rencana anggaran biaya (RAB) pada Mapel Konsentrasi Keahlian pada Sub Materi Estimasi Biaya Konstruksi (EBK). Pada materi ini siswa telah memahami berkaitan dengan perencanaan berupa gambar rumah (lengkap dengan denah,tampak,potongan dan detail) dan juga perencanaan gedung. 
Guru menyajikan beberapa contoh Gambar perencanaan yang lengkap dalam bentuk slide, Gambar dan Maket. Dengan metode saintifik guru mempersilahkan kepada siswa untuk mengamati media-media gambar tersebut. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik sistem penyajiannya salah satu bentuk metode saintifik. 
Langkah-langkah saintifik tersebut adalah sebagai berikut:

A. Mengamati 
Keunggulan melalui langkah mengamati ini adalah dapat menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Langkah mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Contoh siswa sedang mengamati gambar perencanaan rumah yang akan digunakan sebagai pembuatan maket.






B. Menanya

Langkah menanya dimaksudkan untuk a) membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatianpeserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran; b) mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri; c) Disamping itu juga membangkitkan ketrampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar; d) mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan; e) membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok; f) membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul; dan selanjutnya g) melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.


C. Menalar

Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar.



D. Mengkomunikasikan Hasil 
Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan; (3) mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan; (5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data; (6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7) membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal. Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap, yaitu, persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. 



E. Pembelajaran Kolaboratif 
Pembelajaran kolaboratif sebagai satu falsafah peribadi, maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain atau guru. Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman, sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama. Kebermaknaan kegiatan pembalajaran sangat berhubungan antara metode mengajar guru dan keaktifan siswa. Interaksi tersebut dapat dilihat pada bagan di bawah ini.


Metode Mengajar Guru

Keaktifan Siswa

Tidak Ada

Ada,Insidental

Ada, Tinggi

Tidak Ada

A

B

C

Ada,Insidental

D

E

F

Ada,Berkualitas

G

H

I

      Tabel interaktif siswa

Dari tabel di atas tampak sembilan situasi pembelajaran yang berbeda-beda. Dilihat dari segi metode mengajar guru dan keaktifan siswa, maka: 
  • Situasi A, kedua pihak guru dan siswa sama-sama tidak mempunyai minat mengajar dan belajar, maka sebenarnya tidak ada kegiatan pembalajaran. 
  • Situasi B, guru tidak siap mengajar karena belum menyiapkan metode mengajar, sedangkan siswa hanya memiliki sedikit niat belajar. 
  • Situasi C, siswa memiliki niat belajar yang sangat tinggi, tetapi guru tidak siap mengajar. 
  • Situasi D, guru belum terlalu siap mengajar, jadi hanya insidental, sedangkan siswa tidak memiliki niat belajar, maka akan terjadi situasi pembelajaran tanpa respon dari siswa.
  • Situasi E, situasi pembelajaran hanya bersifat insidental, Hasilnya hanyalah tujuan yang tercapai secara tidak sadar. Tujuan diperoleh hanya melalui peniruan, penularan atau perembesan secara tidak sadar. 
  • Situasi F, guru mengajar hanya insidental, yaitu hanya persiapan sekedarnya, tetapi minat siswa dalam belajar tinggi, sehingga pembalajaran masih disadari oleh siswa. 
  • Situasi G, walaupun guru sangat siap mengajar tetapi pada pihak siswa tidak terdapat minat belajar sama sekali. Pada situasi ini tidak tercipta situasi pembalajaran sama sekali. 
  • Situasi H, walaupun guru sangat siap mengajar, tetapi minat siswa dalam belajar hanya bersifat insidental, sehingga tujuan pembelajaran hanya disadari oleh guru. 
  • Situasi I, adalah situasi pembelajaran yang paling ideal, keaktifan siswa maksimal, sedangkan guru sangat siap mengajar dengan metode dan persiapan yang matang dalam mengajar, sehingga kedua belah pihak melakukan peranannya masing-masing.

Read More »
10 October | 0komentar

Stop 'Gumunan'! Darah Para Pencipta Peradaban Mengalir di Tubuhmu.

Kita berdiri di atas anugerah yang tak habis-habisnya. Tanah ini, yang kita sebut Indonesia, adalah museum hidup kemegahan masa lampau dan gudang harta karun masa depan.
Lihatlah ke agungan Borobudur. Leluhur kita, tanpa smartphone, tanpa gelar doktor arsitektur, tanpa pasokan listrik modern, mendirikan mahakarya yang kokoh melawan ribuan tahun. Atau renungkan Prambanan, di mana setiap ukiran batu bukan sekadar dekorasi, melainkan bahasa visual tentang keindahan, doa, dan kebijaksanaan. Bahkan di Muaro Jambi, tersembunyi kompleks candi delapan kali lebih luas, sebuah bisikan lirih dari peradaban yang berteriak: “Kami pernah menjadi bangsa yang besar dan hebat!”
Kekayaan kita tak berhenti di warisan batu. Di bawah tanah, terpendam emas, nikel, uranium, dan batu bara. Di atasnya, terhampar hutan, sawah, dan keindahan alam yang tak cukup alasan bagi kita untuk tidak berdecak kagum.
Lalu, kita punya para pendiri bangsa: Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, Kartini, Tan Malaka, Sjahrir. Mereka adalah intelektual dunia yang berbicara dengan bahasa pengetahuan, menguasai lebih dari satu bahasa asing, menulis, berpikir, dan bertindak melampaui zamannya. Mereka adalah bukti bahwa di urat nadi bangsa ini mengalir darah para pencipta peradaban, bukan sekadar pengikut.

Ironi Bangsa "Gumunan"
Pertanyaannya kini: Di mana narasi kebesaran itu?
Di tengah kemegahan warisan yang luar biasa, kita justru tampak lelah dan kehilangan semangat di ruang-ruang sekolah, atau lebih buruk lagi, kita menjadi bangsa yang "gumunan"—terlalu mudah terkesima oleh hal-hal yang sensasional, dangkal, dan sering kali tak substantif.
Kita cepat terdecak melihat orang yang secara dramatis naik ke panggung politik, entah dari gorong-gorong atau melalui jogetan di media. Kita "gumun" pada pejabat yang baru menjabat lantas berlagak seperti koboi di depan kamera dan seketika dianggap sebagai pemimpin yang cocok. Kita kagum pada yang marah-marah, yang menenggelamkan kapal dengan gimmick penuh drama, atau yang secara membarakan memarahi murid di depan umum.
Kita sibuk berdecak kagum, bukan sibuk berkarya. Kita lebih senang menonton panggung daripada menaiki panggung itu sendiri.
Narasi besar tentang kehebatan leluhur dan kekayaan alam tidak lagi menjadi bahan bakar ledakan untuk membangun peradaban baru. Di sekolah-sekolah, kisah Borobudur seringkali hanya sebatas materi hafalan, bukan kisah yang diajarkan dengan dada yang bergetar dan mata yang berbinar penuh kebanggaan.

Nyala Kecil di Pelosok Negeri
Namun, di sudut-sudut paling pelosok negeri, masih ada harapan yang bersinar. Harapan itu dibawa oleh guru-guru hebat yang bekerja tanpa sorotan kamera, tanpa janji kenaikan jabatan, dan bahkan dengan gaji yang tak layak.
Ada guru honorer yang gajinya tak cukup membeli sepatu baru, tetapi tetap datang dengan senyum, menyalakan semangat di wajah anak-anak kampungnya. Ada guru di perbatasan yang harus menyeberangi sungai dan berjalan berkilo-kilometer melewati lumpur, semata-mata untuk memastikan anak-anak tidak kehilangan harapan. Mereka adalah lentera-lentera kecil perubahan, yang berani turun dan bergerak tanpa menunggu surat penugasan dari pusat.
Mereka inilah nyala-nyala arang kecil yang menjaga bara api pendidikan Indonesia agar tidak padam.
Tetapi bara kecil itu tidak akan cukup. Diperlukan lebih banyak lagi nyala. Dibutuhkan guru, orang tua, dan anak muda yang mau menjadi percikan api pergerakan dan perubahan.

Saatnya Bangkit dari Keterpukauan
Mari kita renungkan: Ada apa dengan bangsa kita, terutama pendidikannya?
Mengapa kita lebih memilih gumun (terpukau tanpa makna mendalam) daripada kagum (menghargai dan meneladani kebesaran)? Mengapa kita lebih suka menjadi penonton yang sibuk mengomentari sensasi "koboi baru" daripada menjadi pencipta peradaban baru seperti yang leluhur kita lakukan?
Jawabannya mungkin sederhana: Kita sudah terlalu lama lupa bahwa darah yang mengalir di tubuh kita adalah darah para pencipta peradaban.
Ketika kesadaran itu lahir kembali, ketika narasi kehebatan leluhur diajarkan dengan semangat membara, dan ketika nyala-nyala kecil dari pelosok menyatu menjadi api besar pergerakan, saat itulah Indonesia benar-benar BANGKIT.
Bangkit, bukan karena gumun pada tontonan sesaat, tetapi karena sadar dirinya memang hebat. Bukankah sudah saatnya kita berhenti menonton dan mulai kembali mewarisi takhta sebagai bangsa pencipta?
Sumber: Grup WA GSM Kab.Purbalingga

Read More »
05 October | 0komentar