Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts with label Wisata Rohani. Show all posts
Showing posts with label Wisata Rohani. Show all posts

Salam dalam Islam

Salam
Salam dalam Islam adalah ucapan doa keselamatan, keberkahan, dan rahmat kepada sesama muslim. 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” 

Artinya: Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu.

Ucapan salam di atas bukan sekadar sapaan, tetapi bentuk ibadah yang bernilai pahala dan mempererat ukhuwah. Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk menyebarkan salam dan menjawabnya dengan lebih baik atau setara.  

Firman Allah: 
 “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam, maka balaslah salam itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa: 86).

Ayat ini menunjukkan bahwa: Mengucapkan salam adalah sunnah yang dianjurkan Menjawab salam adalah wajib. Dianjurkan membalas dengan yang lebih baik 

Dalil Salam dalam Hadits 
Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya menyebarkan salam: 

a. Salam sebagai kunci masuk surga  
Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak sempurna iman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)  
b. Salam adalah hak sesama muslim “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam…” Salah satunya: “Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam.” (HR. Muslim) 

Urutan Memberi Salam 
Sesuai Hadits Islam mengatur adab dalam memberi salam agar tercipta tata krama sosial yang indah. Rasulullah ﷺ bersabda: 
 “Hendaklah yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” (HR. Bukhari & Muslim)  

Urutannya:  
Yang muda → kepada yang lebih tua  
Yang berjalan → kepada yang duduk  
Yang sedikit → kepada yang lebih banyak  
Yang berkendara → kepada yang berjalan 

Ini menunjukkan nilai: Penghormatan Kerendahan hati Adab dalam interaksi sosial  

Tata Cara Salam yang Benar Ucapan salam: 
Minimal: Assalamu’alaikum 
Lebih sempurna: Assalamu’alaikum warahmatullah 
Paling lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Jawaban salam: 
Wa’alaikumussalam (minimal) 
Wa’alaikumussalam warahmatullah Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh (paling utama) 

Manfaat Mengucapkan Salam 
a. Mendapat pahala Setiap salam bernilai pahala yang berlipat.  
b. Menumbuhkan kasih sayang Salam menjadi pembuka hati dan menghilangkan permusuhan.  
c. Menjadi ciri khas umat Islam Salam adalah identitas muslim yang membedakan dengan budaya lain.  
d. Mendatangkan keberkahan Ucapan salam membawa doa keselamatan dan rahmat Allah.  
e. Menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ 

Semakin sering mengucapkan salam, semakin kita dekat dengan sunnah. 

Keutamaan Menyebarkan Salam  
Dalam hadits disebutkan: 
 “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikan makanan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi) 

Salam bukan hanya sekadar ucapan, tetapi ibadah yang ringan namun berdampak besar. Ia mempererat persaudaraan, menumbuhkan cinta, dan menjadi jalan menuju surga. Mari kita biasakan: Mengucapkan salam terlebih dahulu Menjawab dengan lebih baik Menyebarkannya kepada siapa saja sesama muslim Karena dari salam, lahir kedamaian. Dari kedamaian, tumbuh keberkahan.

Read More »
31 March | 0komentar

2 Kunci Surga untuk Laki-Laki dan 5 Keistimewaan Wanita

Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa dalam kegiatan Halal Bi Halal SMK Panca Bhakti Banjarnegara. Namun di balik canda tawa, terselip pesan yang sangat dalam tentang bekal hidup menuju surga sesuatu yang sederhana, tapi sering dianggap sepele. Dalam kajian tersebut disampaikan bahwa sejatinya, laki-laki dan perempuan memiliki “senjata” masing-masing untuk meraih ridha Allah. 
Bukan harta, bukan jabatan, tapi amal yang mungkin terlihat biasa namun luar biasa di sisi-Nya. Dua Senjata Laki-Laki Menuju Surga Bagi seorang laki-laki, ada dua amalan utama yang menjadi “senjata” kuat:  
1. Sholat Wajib 5 Waktu Berjama’ah di Masjid  
Sholat bukan sekadar kewajiban, tapi juga bukti keimanan. Terlebih bagi laki-laki, berjama’ah di masjid memiliki keutamaan yang sangat besar.  
Rasulullah ﷺ bersabda: “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari & Muslim)  
Bahkan dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ hampir memberikan hukuman bagi laki-laki yang meninggalkan sholat berjamaah tanpa alasan yang jelas. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga sholat di masjid. Selain itu, Allah berfirman:  
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43) 
 Ayat ini menegaskan pentingnya shalat berjama’ah, bukan sekadar sendiri.  
2. Sholat Jumat Tepat Waktu, Tidak Terlambat  
Sholat Jumat adalah kewajiban mingguan yang tidak boleh diremehkan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mandi pada hari Jumat, kemudian berangkat lebih awal, berjalan kaki… maka setiap langkahnya bernilai pahala puasa dan shalat setahun.” (HR. Tirmidzi)  

Namun sebaliknya, bagi yang meremehkan: 

 “Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jumat karena meremehkannya, maka Allah akan menutup hatinya.” (HR. Abu Dawud) 
 
MasyaAllah… hanya karena sering terlambat atau meremehkan, hati bisa menjadi keras dan tertutup dari kebenaran.  

Lima Kemuliaan Wanita: Jalan Mudah Menuju Surga Sementara itu, wanita memiliki kemuliaan luar biasa yang sering tidak disadari. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan: 
 
Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.” (HR. Ahmad)  

MasyaAllah… betapa luasnya rahmat Allah bagi wanita. Berikut “senjata” wanita tersebut:  
1. Hamil Kehamilan bukan hanya proses biologis, tapi juga ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Wanita yang meninggal karena melahirkan, maka ia mati syahid.” (HR. Abu Dawud) Setiap rasa lelah, mual, bahkan sakit… semuanya bernilai pahala.  
2. Melahirkan Proses melahirkan adalah perjuangan antara hidup dan mati. Tidak heran jika Islam memuliakannya sebagai bentuk jihad seorang wanita.  
3. Menyusui Allah berfirman: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh…” (QS. Al-Baqarah: 233) Menyusui bukan sekadar memberi makan, tapi juga membangun generasi dengan cinta dan pengorbanan.  
4. Merawat Bayi Begadang, lelah, mengurus anak tanpa henti—semua itu tidak sia-sia. Dalam Islam, setiap kelelahan seorang ibu menjadi ladang pahala yang terus mengalir.  
5. Taat kepada Suami (dalam kebaikan) Ketaatan istri kepada suami selama dalam kebaikan adalah jalan cepat menuju surga. Rasulullah ﷺ bersabda:  

Apabila seorang istri shalat lima waktu, puasa Ramadhan, menjaga kehormatan, dan taat kepada suaminya, maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad) 

Sederhana Tapi Berat Jika direnungkan, amalan-amalan ini terlihat sederhana. Namun justru di situlah letak ujiannya. Laki-laki diuji dengan konsistensi ke masjid Wanita diuji dengan keikhlasan dalam pengorbanan Tidak perlu menunggu jadi ustadz, tidak perlu jadi orang besar. Cukup jaga yang Allah wajibkan dan muliakan. 
Surga tidak selalu diraih dengan amalan besar yang terlihat hebat. Kadang justru dengan hal-hal sederhana yang dilakukan dengan istiqomah dan ikhlas. Maka hari ini, mari kita tanyakan pada diri: Sudahkah kita menjaga “senjata” kita? Atau justru kita sibuk mencari yang jauh, tapi lalai dari yang dekat? Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang dimudahkan jalan menuju surga. Aamiin. Kalau mau, saya bisa bantu: Buatk

Read More »
30 March | 0komentar

Ciri Orang Bertakwa: Bukan Sekadar Ramadhan Sentris

Ramadhan telah berlalu. Takbir kemenangan sudah lama menggema. Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita bahwa bagi para sahabat Nabi, Ramadhan bukanlah akhir dari ibadah, melainkan awal dari perjalanan yang lebih serius. 
Diriwayatkan bahwa para sahabat justru enam bulan setelah Ramadhan terus berdoa agar amal ibadah mereka diterima oleh Allah. Bukan soal sudah selesai, tapi justru mereka diliputi rasa khawatir: apakah puasa, shalat, dan amal mereka benar-benar sampai kepada-Nya? Sementara kita? Seringkali setelah “lari sprint” selama Ramadhan, justru langsung berhenti total.  
Ibadah yang dulu terasa ringan, kini mulai ditinggalkan. Masjid yang dulu ramai, kini kembali lengang. Padahal sejatinya, Ramadhan adalah latihan, bukan tujuan akhir.  

Sprint Sudah Selesai, Saatnya Menjaga Ritme  
Ramadhan ibarat lari cepat (sprint) yang menguras energi. Kita berusaha maksimal: bangun malam, menahan diri, memperbanyak amal. Namun setelah sprint itu selesai, bukan berarti kita berhenti bergerak. Justru kita perlu mengatur napas, menjaga langkah, dan melanjutkan perjalanan dengan konsisten. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan: 

 “Wasāri‘ū ilā maghfiratin min rabbikum…” “Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian…” (QS. Ali Imran: 133) 

Ayat ini bukan hanya untuk Ramadhan. Ini adalah panggilan sepanjang hidup. Panggilan bagi orang-orang bertakwa (lil muttaqin), yang tidak menunda kebaikan. 
Ciri Orang Bertakwa: Bukan Sekadar Ramadhan-Sentris Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk bersegera, tetapi juga menjelaskan siapa saja yang termasuk orang bertakwa itu. Ada tanda-tanda nyata yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari:  

1. Tetap Berinfak, Baik di Saat Lapang Maupun Sempit  
Orang bertakwa tidak menunggu kaya untuk berbagi. Mereka memberi saat punya, bahkan tetap memberi saat terasa kekurangan. Karena mereka paham, nilai bukan pada jumlahnya tetapi pada keikhlasan dan konsistensi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” Ini menjadi tamparan halus bagi kita yang semangat di awal, tapi cepat redup setelahnya.  
2. Mampu Menahan  
Amarah Ramadhan melatih kita menahan lapar dan haus. Tapi sejatinya, yang lebih sulit adalah menahan emosi. Orang bertakwa bukan yang tidak pernah marah, tetapi yang mampu mengendalikan marahnya. Di dunia yang penuh provokasi—media sosial, perdebatan, ego—kemampuan menahan amarah adalah tanda kekuatan sejati.  
3. Segera Memohon Ampunan kepada Allah  
Ciri lainnya adalah tidak menunda taubat. Saat terjatuh dalam kesalahan, mereka tidak berlama-lama tenggelam dalam dosa. Mereka segera kembali, mengetuk pintu ampunan Allah. Bukan karena mereka sempurna, tapi karena mereka sadar: yang membedakan orang baik dan buruk adalah seberapa cepat ia kembali. 

Apakah Ramadhan Mengubah Kita?  
Pertanyaan penting setelah Ramadhan bukanlah: “Seberapa banyak ibadah yang sudah kita lakukan?” Tetapi: “Apakah kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa setelahnya?” Jika setelah Ramadhan: Kita masih ringan bersedekah Kita lebih sabar dalam menghadapi emosi Kita lebih cepat kembali kepada Allah saat salah Maka itu tanda Ramadhan kita berhasil. Namun jika semua itu hilang begitu saja, mungkin kita hanya mendapatkan lapar dan haus. 
Doa yang Tak Pernah Berhenti Mari kita belajar dari para sahabat. Mereka tidak pernah merasa cukup dengan amalnya. Mereka terus berdoa: “Ya Allah, terimalah amal ibadah kami.” Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita lakukan tetapi apakah Allah menerimanya. Ramadhan boleh saja telah pergi. Namun jalan menuju Allah masih panjang. Dan orang-orang bertakwa… tidak pernah benar-benar berhenti berlari.

Read More »
29 March | 0komentar

Legacy Para Sesepuh: Jangan Sampai Kita Gagal Nerusin

Dari Kiri Ke Kanan : Siwo Karto, Mbah Wir, Siwo Parto, Mbah Daryati, Mbah Rakonah 

WAKTU banyak yang terbuang begitu saja dan berlalu. Bahkan tak jarang mengisi waktu dengan rentetan kesia-siaan. Padahal menjaga waktu merupakan sebuah kewajiban. Kehidupan ini amatlah singkat, maka haruslah seorang muslim menjaga waktu dengan hal-hal bermanfaat.  Bagaimana para Sesepuh kita telah memanfaatkan waktu dengan mengelolanya membimbing, mengasuh tak kenal lelah untuk kesuksesan anak, cucu dan cicit.  
Semangat yang para sesepuh kita/ Panjer wujudkan melalui berbagai gemblengan kepada kita semua  sebagai anak, cucu dan cicit. Dalam mendidik mereka berdasarkan pada kasih sayang, satu kata yaitu keberhasilan. Meski para Panjer Trah Djaja Wikarta telah berpulang Kehadiratnya semua. Kita sebagai penerusnya wajib untuk mewarisi semangat yang Beliau-Beliau tanamkan kepada kita. Memanfaatkan waktu agar hidup kita tidak sia-sia termakan oleh perputaran roda kehidupan.  
Berikut beberapa petuah dari para ulama yang bisa menjadi nasihat dan juga pengingat bagi kita untuk menjaga waktu.  

1. Waktu Pasti akan Berlalu,  
Beramallah  “Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah." Kita tidak pernah tahu berapa banyak lagi sisa waktu kita, entah sampai hari ini, besok atau kapan pun itu. Yang jelas kita harus menjaga waktu tersebut dengan berbagai macam hal baik dan bermanfaat. Jangan biarkan waktu berlalu tapi diri tidak ada perubahan sedikit pun. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pernah mengungkapkan (wallahu a’lam).  “Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”   

2. Waktu Bagaikan Pedang. 
  “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.” Kita perlu sekali lebih menjaga waktu dengan baik, terlebih di masa pandemi hari ini. Karena kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kalau kita tidak isi dengan hal-hal yang baik maka waktu tersebut akan terisi dengan kesia-siaan dan berlalu begitu saja.  
Kita bisa menjaga waktu di rumah saja dengan melakukan berbagai macam amal soleh seperti solat, tilawah Al-Qur’an, menuntut ilmu dan masih banyak lagi. ika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari karena enggan menjaga waktu yang Allah berikan. Dan jangan sampai kita menyesal di alam kubur karena belum sempat bermalah soleh. 

3. Janganlah Sia-siakan Waktumu  
Selain untuk Mengingat Allah Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami,  ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”  Menjaga waktu memanglah tidak mudah, tapi semua bisa kita usahakan bila selalu ada keinginan di dalam diri. Semoga kita semua selalu menjaga waktu yang sudah Allah berikan. Menjaganya dengan melakukan amal soleh dan menjauhi kemaksiatan.

Read More »
26 March | 0komentar

Mengungkap Dahsyatnya Umroh dari Iman dan Sains

Mendapatkan pengalaman ruhani yang penuh makna dari Ir. Reza Aulia Akbar,S.T.,M.T., MBA dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang membawakan tema “Menelisik Keutamaan Umroh dan Menjemput Panggilan-Nya”. Kajian ini tidak hanya mengupas sisi keagamaan, tetapi juga mengaitkannya dengan pendekatan ilmiah yang membuka wawasan baru bagi para jamaah. 

Umroh: Bukan Sekadar Soal Mampu 
Pertanyaan mendasar yang mengawali kajian ini adalah: apakah umroh dan haji hanya untuk orang yang mampu secara fisik dan finansial? Melalui hadits Rasulullah ﷺ, dijelaskan bahwa orang yang berhaji dan berumroh adalah tamu Allah. Mereka yang datang memenuhi panggilan-Nya akan mendapatkan keistimewaan: doa yang dikabulkan dan ampunan yang diberikan. 
Hal yang menarik, pemateri menekankan bahwa umroh bukan sekadar soal kemampuan, tetapi tentang “panggilan”. Banyak orang yang secara materi mampu, namun belum juga berangkat. Sebaliknya, tidak sedikit yang secara logika belum mampu, tetapi Allah mudahkan jalannya.  

Panggilan umroh bisa hadir dari berbagai arah: Kebiasaan atau aktivitas yang kita jalani Dorongan keluarga terdekat Hadiah atau apresiasi Bahkan dari pihak yang tak disangka Di sinilah pentingnya menjaga prasangka baik kepada Allah. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa 

Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba mendekat, Allah akan mendekat lebih cepat.  

Keutamaan Luar Biasa Tanah Suci 
Kajian ini juga mengungkap keutamaan ibadah di Tanah Haram. Salah satunya adalah pahala shalat yang berlipat ganda hingga 100.000 kali lipat di Masjidil Haram. Jika dihitung secara sederhana, satu kali shalat di sana setara dengan puluhan tahun shalat di tempat biasa. Ini menunjukkan betapa luar biasanya nilai ibadah di Tanah Suci sebuah “investasi akhirat” yang tak ternilai. 
Selain itu, tempat seperti Raudhah di Masjid Nabawi disebut sebagai taman surga. Di sanalah Rasulullah ﷺ dimakamkan bersama para sahabat mulia, menjadikan tempat tersebut penuh keberkahan dan kerinduan bagi umat Islam. 

Keajaiban Tawaf dalam Perspektif Sains  
Salah satu bagian menarik dari kajian ini adalah keterkaitan antara ibadah dan sains. Gerakan tawaf yang dilakukan berlawanan arah jarum jam ternyata selaras dengan fenomena alam: Elektron mengelilingi inti atom dengan arah yang sama Planet mengorbit matahari dengan pola serupa Galaksi berputar dalam bentuk spiral Hal ini menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya ritual, tetapi juga selaras dengan hukum alam semesta.  

Umroh: Ibadah Fisik yang Penuh Makna  
Secara fisik, ibadah umroh juga tidak ringan. Jamaah menempuh: 
 Tawaf sejauh ±1,5–3,5 km  
Sa’i sejauh ±2,8–3,15 km  
Total jarak sekitar 5,5–7 km  

Semua dilakukan dalam kondisi penuh keikhlasan dan penghambaan. Angka “7” yang digunakan dalam tawaf dan sa’i pun memiliki makna, sejalan dengan konsep tujuh lapis langit dalam Al-Qur’an.  

Pemateri juga mengajak jamaah melihat umroh dari sudut pandang “matematika Allah”. Dengan biaya rata-rata Rp25–30 juta, mungkin terasa besar. Namun jika dibandingkan dengan pahala yang didapat penghapusan dosa, peningkatan derajat, hingga nilai ibadah yang berlipat ganda maka nilai tersebut menjadi sangat kecil.  
Bahkan ada amalan-amalan lain yang pahalanya setara umroh, seperti shalat di Masjid Quba setelah bersuci dari rumah. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya. 

Diakhir kajian di sampaikan bahwa jangan pernah merasa jauh dari panggilan Allah. Jika hati mulai rindu ke Tanah Suci, bisa jadi itu adalah tanda awal panggilan tersebut. Tugas kita adalah menjaga niat, memperbaiki diri, dan terus mendekat kepada-Nya. Semoga setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini menjadi bagian dari perjalanan besar menuju undangan Allah ke Baitullah.

Read More »
19 March | 0komentar

Belajar Husnudzon dari Sebungkus Roti

Pelajaran hidup yang tak terduga tentang betapa seringnya kita terjebak dalam prasangka buruk (su'udzon) terlukis pada sebuah kisah sederhana namun menohok. Olah Hati dan Olah Rasa melalui sebuah ilustrasi cerita pendek yang sarat makna. 

1. Kejadian di Ruang Tunggu Bandara  
Kisah bermula dari seorang wanita yang sedang menunggu jadwal penerbangannya di sebuah bandara. Karena masih memiliki waktu luang, ia memutuskan untuk membeli sebungkus roti dan sebuah buku untuk menemaninya menunggu. Ia duduk di kursi ruang tunggu, meletakkan bungkus rotinya di atas meja di sampingnya. Di kursi sebelah, duduk seorang pria yang tidak ia kenal.  
2. Prasangka yang Mulai Membakar Hati 
Saat wanita itu mengambil satu potong roti dari bungkusnya, ia terkejut karena pria di sampingnya juga mengulurkan tangan dan mengambil satu potong roti dari bungkus yang sama. Wanita itu merasa geram dan berkata dalam hati, "Berani sekali pria ini! Tidak kenal, tidak minta izin, malah ikut makan rotiku. Kalau bukan karena menjaga sopan santun di depan umum, sudah kuparahi dia!" Setiap kali si wanita mengambil roti, si pria juga mengambilnya. Hingga akhirnya tersisa satu potong terakhir. Pria itu mengambilnya, membaginya menjadi dua, lalu memberikan separuhnya kepada si wanita dengan senyuman ramah. Wanita itu menyambarnya dengan kesal, lalu segera berdiri menuju pintu keberangkatan tanpa mengucapkan terima kasih.  
3. Tamparan di Balik Tas 
Keajaiban—atau lebih tepatnya "tamparan" keras bagi hati si wanita—terjadi saat ia sudah berada di dalam pesawat. Ketika ia merogoh tasnya untuk mengambil kacamata, tangannya menyentuh sesuatu yang akrab. Ia tertegun. Di dalam tasnya, masih terdapat sebungkus roti yang utuh dan belum terbuka. Seketika wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Ia menyadari bahwa roti yang ia makan di ruang tunggu tadi bukanlah miliknya, melainkan milik pria tersebut. Pria yang tadi ia maki-maki di dalam hati justru adalah orang yang sangat dermawan, yang rela berbagi rotinya dengan orang asing tanpa keberatan sedikit pun.  
4. Hikmah Olah Hati: 
Waspada Prasangka Bapak Suyadi menekankan bahwa kisah ini adalah cermin bagi kita semua. "Seringkali kita merasa paling benar dan paling dizalimi, padahal kitalah yang sedang salah paham. Itulah pentingnya Olah Hati," pesan beliau. 
Ramadhan adalah momentum untuk: 
  • Menata Rasa: Jangan biarkan emosi meledak sebelum mengetahui fakta sebenarnya.  
  • Berprasangka Baik (Husnudzon): Memberikan ruang bagi kemungkinan bahwa orang lain berniat baik.  
  • Menahan Diri: Bukan hanya menahan lapar, tapi menahan lisan dan hati dari menghakimi sesama.

Read More »
04 March | 0komentar

Musibah Bukan Azab, Tapi Upgrade

Kajian rutin Ahad Pagi



Musibah adalah bagian tak terpisahkan dari lembaran hidup seorang mukmin. Terkadang ia datang dalam bentuk kehilangan, penyakit, atau kegagalan. Namun, bagi seorang yang beriman, peristiwa-peristiwa ini bukanlah kejadian acak. Ia adalah ujian untuk mematangkan keimanan yang membawa pesan sangat fundamental: Segala sesuatu yang menimpa hamba, baik itu berupa kenikmatan maupun musibah, tidak akan terjadi melainkan atas izin dan kehendak mutlak Allah SWT.
Inilah sebuah konsep tauhid yang menjadi benteng. Inti pesan yang mendalam adalah:Barangsiapa yang benar-benar percaya pada ketentuan Allah dan menerima takdir-Nya dengan lapang dada, maka Allah akan memberinya petunjuk dalam menjalani hidup dan menganugerahinya kesabaran dalam menghadapi ujian.
Kepercayaan sejati pada takdir (Qada dan Qadar) inilah yang akan menumbuhkan ketenangan batin, menjauhkan diri dari rasa putus asa, dan mengarahkan hati kembali kepada Sang Pencipta dalam segala keadaan. Musibah, dalam perspektif ini, berfungsi sebagai alat ilahi untuk menguji, membersihkan, dan mematangkan keimanan kita.

🧭 Mengenal Dua Jenis Takdir
Untuk menempatkan musibah pada tempatnya yang benar dan memahami peran kita sebagai hamba, penting bagi umat Islam untuk memahami jenis-jenis takdir:
1. Takdir Mubram (Mutlak)Ini adalah ketetapan Allah yang bersifat mutlak dan tidak dapat diubah oleh usaha manusia, doa, atau ikhtiar. Ia pasti terjadi sesuai kehendak-Nya. Contoh: Kematian, Hari Kiamat, atau jenis kelamin saat kelahiran. Sikap Mukmin: Tawakal (berserah diri) total, meyakini bahwa di balik setiap ketetapan mutlak pasti ada hikmah terbaik dari Allah.
2. Takdir Mu'allaq (Bersyarat)Ini adalah ketetapan Allah yang dapat diubah atau dipengaruhi oleh usaha, doa, dan ikhtiar maksimal hamba-Nya. Konsep ini membuka ruang bagi optimisme dan motivasi. Contoh: Kesehatan, rezeki, atau keberhasilan dalam studi/karir. Sikap Mukmin: Ikhtiar maksimal, dibarengi dengan doa dan tawakal, meyakini bahwa "doa dapat mengubah takdir" yang jenis ini, sebagaimana Allah menjanjikan balasan atas usaha kita.
Pemahaman akan dua jenis takdir ini mengajarkan kita untuk mencapai keseimbangan yang sempurna antara tawakal pada Takdir Mubram dan ikhtiar maksimal dalam Takdir Mu'allaq. Kita diminta untuk berusaha sekuat tenaga (Mu'allaq) dan menyerahkan hasilnya kepada Allah (Mubram).

Hakikat Kehidupan Dunia dan Akhirat
Kesadaran akan musibah haruslah membawa kita untuk merenungi kembali hakikat kehidupan yang fana ini. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Kullu nafsin dzaaiqotul maut."(Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.)

Ayat ini adalah pengingat tegas bahwa dunia ini hanyalah sebuah persinggahan atau ladang ujian. Segala kenikmatan dunia harta, jabatan, atau pujian yang dikejar-kejar oleh manusia pada hakikatnya adalah kenikmatan yang semu, bersifat sementara, dan akan ditinggalkan.
Lalu, siapakah yang disebut sebagai orang yang beruntung sejati? Orang yang beruntung adalah mereka yang berhasil melalui ujian dunia ini dengan keimanan yang matang, beramal saleh, dan pada akhirnya dimasukkan ke dalam Surga oleh Allah SWT. Itulah puncak keberhasilan, kemenangan, dan kenikmatan yang abadi.
Musibah adalah panggilan untuk kita mengevaluasi kembali orientasi hidup. Mari kita jadikan setiap kesulitan sebagai cermin untuk melihat kekurangan diri dan sebagai jalan yang mempercepat langkah kita untuk mendekat kepada Allah.Dengan menanamkan keimanan yang kokoh pada Takdir-Nya (baik Mubram maupun Mu'allaq) dan mengalihkan fokus pada balasan abadi di Akhirat, kita akan memperoleh kesabaran dalam kesulitan, ketenangan dalam kehilangan, dan petunjuk dalam menjalani setiap episode kehidupan.

Read More »
23 November | 0komentar

Kisah Perubahan Kiblat: Ketika Iman Diuji dan Dibenarkan

Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Barra' bin 'Azib ini mengisahkan momen historis yang sangat krusial dalam sejarah Islam, yaitu peristiwa pemindahan arah kiblat salat dari Baitul Maqdis di Yerusalem ke Ka'bah di Makkah.
Peristiwa ini bukan sekadar perubahan arah fisik, melainkan ujian keimanan dan penegasan identitas umat Islam.

Awal Kedatangan di Madinah: Menghadap ke Baitul Maqdis
Ketika Rasulullah ﷺ pertama kali tiba di Madinah setelah hijrah, Beliau singgah di tempat paman-pamannya dari Kaum Anshar. Selama enam belas atau tujuh belas bulan pertama, salat kaum Muslimin menghadap ke Baitul Maqdis.
Meskipun demikian, jauh di lubuk hati, Rasulullah ﷺ sangat senang jika diperintahkan salat menghadap ke Baitullah (Ka'bah). Ka'bah adalah kiblat nabi-nabi terdahulu dan tempat di mana leluhur Beliau, Nabi Ibrahim, mendirikan pondasinya. Keinginan Beliau ini adalah kerinduan untuk menyempurnakan identitas keagamaan yang berdiri tegak di atas warisan Nabi Ibrahim.

Momen Perubahan: Shalat Asar yang Menjadi Sejarah
Perintah perubahan kiblat itu datang secara tiba-tiba dan dramatis. Perubahan pertama terjadi saat Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan shalat Asar.
Suatu hari, seorang sahabat yang telah ikut shalat Asar bersama Nabi ﷺ dan mengetahui perubahan arah kiblat, berjalan melewati masjid lain. Di sana, ia melihat sekelompok orang sedang shalat dan dalam posisi rukuk, masih menghadap ke Baitul Maqdis.
Sahabat itu segera bersaksi, "Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku ikut salat bersama Rasulullah ﷺ menghadap Makkah!"
Mendengar kabar yang sangat yakin dan penting itu, orang-orang yang sedang salat tersebut tidak ragu sedetik pun. Mereka melakukan gerakan luar biasa: berputar saat sedang rukuk untuk menghadap Ka'bah, menunaikan sisa shalat mereka ke arah kiblat yang baru. Ini adalah bukti nyata ketaatan mutlak para sahabat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

Reaksi Ahli Kitab: Ujian Bagi Umat
Perubahan mendadak ini menimbulkan keheranan, dan bahkan pengingkaran, dari orang-orang Yahudi dan Ahlul Kitab yang sebelumnya terbiasa melihat Muslimin shalat menghadap ke kiblat mereka. Mereka mempertanyakan mengapa Nabi ﷺ mengubah kiblat setelah sekian lama.
Penolakan mereka menjadi penanda bahwa perubahan kiblat adalah pembeda yang tegas antara Islam dan agama-agama terdahulu, sekaligus menjadi ujian bagi orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsu dan bukan petunjuk Allah.

Firman Allah: Penjamin Keselamatan Iman
Perubahan kiblat ini tidak hanya berdampak pada orang yang masih hidup, tetapi juga memunculkan keraguan di hati sebagian sahabat: Bagaimana nasib orang-orang yang meninggal dunia atau terbunuh pada masa arah kiblat belum dialihkan? Apakah salat dan amal ibadah mereka sia-sia?
Di sinilah kasih sayang dan jaminan Allah diturunkan. Menjawab kekhawatiran para sahabat, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya:
"Dan Allah tidaklah akan menyia-nyiakan iman kalian." (QS. Al-Baqarah: 143)
Ayat ini menegaskan bahwa segala ibadah yang dilakukan dengan iman yang tulus dan ketaatan kepada perintah yang berlaku pada saat itu, tidak akan pernah disia-siakan oleh Allah. Salat yang mereka lakukan menghadap Baitul Maqdis adalah sah dan diterima, karena itu adalah perintah Allah pada masa tersebut.

Pelajaran Penting
Kisah perubahan kiblat mengajarkan dua hal fundamental:
  • Ketaatan Total: Keimanan sejati adalah kesiapan untuk mengubah praktik ibadah seketika ketika perintah Allah datang, tanpa keraguan atau penundaan. 
  • Rahmat Allah: Allah menghargai iman dan ketaatan hamba-Nya pada setiap masa. Selama kita berpegang teguh pada petunjuk yang ada, amal ibadah kita dijamin aman di sisi-Nya. 

Peristiwa ini abadi sebagai pengingat bahwa Islam adalah agama yang dinamis, tunduk sepenuhnya pada kehendak Ilahi, dan senantiasa memberikan jaminan keselamatan bagi hamba-Nya yang beriman.

Read More »
07 October | 0komentar

Kisah Pengorbanan dan Persaudaraan Sejati: Kaum Anshor dan Muhajirin

Hadits Bukhari No.16
Kaum Anshar adalah penduduk asli Madinah, yang pada masa itu dikenal dengan nama Yatsrib. Mereka terdiri dari dua suku besar, yaitu Aus dan Khazraj. Sebelum kedatangan Islam, kedua suku ini sering kali terlibat dalam konflik dan peperangan yang berkepanjangan. Namun, ketika ajaran Islam sampai kepada mereka, mereka menyambutnya dengan tangan terbuka dan hati yang ikhlas. Mereka berjanji untuk melindungi Nabi Muhammad ﷺ dan para pengikutnya, yang dikenal sebagai kaum Muhajirin, dari penindasan kaum Quraisy di Mekah.

Peran Anshar dalam Hijrah 
Peristiwa Hijrah, perpindahan Nabi Muhammad ﷺ dan kaum Muhajirin dari Mekah ke Madinah menjadi titik balik dalam sejarah Islam. Saat itu, kaum Muhajirin meninggalkan seluruh harta benda, rumah, dan keluarga mereka demi menyelamatkan akidah. Ketika mereka tiba di Madinah, mereka disambut oleh kaum Anshar dengan kehangatan dan kemuliaan yang tak terlukiskan.
Kaum Anshar tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi mereka juga membagi harta, tanah, dan bahkan makanan secara adil dengan saudara-saudara Muhajirin mereka. Persaudaraan yang tercipta di antara kedua kelompok ini melampaui ikatan darah dan harta. Mereka saling menolong dan bahu-membahu dalam membangun masyarakat Islam yang baru. Al-Qur'an mengabadikan kemuliaan kaum Anshar dalam Surah Al-Hasyr ayat 9:

Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (kepada Allah) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan...”

Mengapa Cinta Anshar adalah Tanda Iman?
Hadis di atas mengajarkan bahwa mencintai kaum Anshar adalah tanda keimanan. Mengapa? Karena cinta ini bukan sekadar perasaan suka, melainkan pengakuan dan penghargaan terhadap peran besar mereka dalam mendukung dakwah Islam. Mencintai Anshar berarti mengagumi dan meneladani sifat-sifat mulia yang mereka miliki:
  • Pengorbanan: Mereka rela mengorbankan harta, waktu, dan bahkan nyawa untuk melindungi Nabi dan para Muhajirin.
  • Solidaritas: Mereka menunjukkan solidaritas yang kuat, menganggap saudara Muhajirin sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri.
  • Kerendahan Hati: Mereka tidak pernah merasa bangga atau meminta imbalan atas kebaikan yang mereka lakukan.
Membenci Anshar: Tanda Kemunafikan
Sebaliknya, hadis ini juga menyebutkan bahwa membenci Anshar adalah tanda kemunafikan. Kemunafikan (nifaq) adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, di mana seseorang menampakkan kebaikan di luar namun menyembunyikan keburukan di dalam. Membenci Anshar adalah tanda kemunafikan karena:
  • Mengabaikan Jasa Besar: Kebencian ini menunjukkan pengingkaran terhadap jasa besar yang telah mereka berikan dalam sejarah Islam.
  • Ciri Khas Penyakit Hati: Hanya hati yang sakit dan dipenuhi dengki yang bisa membenci orang-orang yang telah berkorban begitu besar demi Islam.

Pelajaran untuk Umat Masa Kini
Hadis ini mengajarkan kita tentang pentingnya persatuan dan solidaritas umat. Cinta kita kepada kaum Anshar seharusnya tidak hanya terbatas pada penghargaan historis, tetapi juga menjadi motivasi untuk meneladani sikap mereka.
Apakah kita sudah mampu berbagi dan berkorban untuk saudara seiman kita, terutama mereka yang sedang dalam kesulitan? 
 Apakah kita sudah menghilangkan kebencian dan iri hati dari hati kita, lalu menggantinya dengan cinta dan kasih sayang? 
Mencintai Anshar adalah ajakan untuk mencintai kebaikan, pengorbanan, dan persatuan. Ini adalah ajakan untuk menjadi bagian dari umat yang kokoh, di mana setiap anggotanya saling menopang dan mengasihi demi tegaknya agama Allah di muka bumi.

Read More »
22 September | 0komentar

Enggan Masuk Surga?

Surga, sebuah tempat yang dijanjikan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Setiap Muslim pasti mendambakannya. Namun, pernahkah kita mendengar bahwa ada sebagian orang yang "enggan" untuk memasukinya?
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menyampaikan sebuah pesan yang sangat mendalam:

"Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan."

Mendengar pernyataan ini, para sahabat keheranan dan bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapakah yang enggan?" Jawaban Nabi Muhammad ﷺ sungguh mengejutkan sekaligus menjadi peringatan keras bagi kita semua. Beliau bersabda, "Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga)."

Ketaatan sebagai Kunci Menuju Surga
Hadits ini dengan gamblang menjelaskan bahwa pintu surga terbuka lebar bagi setiap umat Nabi Muhammad ﷺ. Syaratnya hanya satu: ketaatan. Ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketaatan ini bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan manifestasi nyata dalam setiap aspek kehidupan.
Ketika kita membaca hadits ini, kita akan memahami bahwa "keengganan" yang dimaksud bukanlah penolakan secara terang-terangan. Tidak ada seorang pun yang akan berkata, "Saya tidak mau masuk surga."
Namun, keengganan itu termanifestasi dalam perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah ﷺ. Ketika seseorang: 
  • Menolak untuk melaksanakan shalat lima waktu. 
  • Mengabaikan puasa di bulan Ramadhan. 
  • Tidak peduli dengan perintah dan larangan agama. 
  •  Lebih memilih mengikuti hawa nafsu daripada sunnah Nabi.dll
Maka secara tidak langsung, ia telah menunjukkan sikap enggan untuk meraih anugerah terbesar, yaitu surga. Maksiat adalah bentuk nyata dari ketidaktaatan, dan setiap langkah yang menjauhi ajaran Nabi ﷺ adalah langkah yang menjauh dari surga.

Mengapa Ketaatan Begitu Penting?
Ketaatan kepada Rasulullah ﷺ bukanlah pilihan, melainkan pondasi utama keimanan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)

Rasulullah ﷺ adalah utusan Allah yang diutus untuk menyampaikan ajaran-Nya, membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran. Mengikuti beliau berarti mengikuti petunjuk Allah. Sebaliknya, menentang beliau sama saja dengan menentang Allah SWT.
Hadits ini menjadi pengingat yang sangat kuat. Tidak cukup hanya mengaku sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ, tetapi kita harus membuktikannya dengan mengikuti ajarannya. Setiap ibadah, setiap perbuatan baik, dan setiap sikap yang kita teladani dari beliau adalah investasi berharga untuk kehidupan di akhirat.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita termasuk golongan yang taat atau yang enggan? Apakah kita dengan sadar dan ikhlas menjadikan setiap sunnah Nabi sebagai pedoman hidup? Atau justru kita lebih sering mengabaikannya karena alasan kenyamanan atau kesibukan? Sungguh, surga itu dekat, hanya sejauh langkah ketaatan kita. Dan neraka itu juga dekat, sejauh langkah kita dari kemaksiatan. Pilihan ada di tangan kita masing-masing.

Read More »
21 September | 0komentar

Meraih Manisnya Iman: Pelajaran Penting dari Hadits Shahih Bukhari

Dalam koleksi hadits Shahih Bukhari, terdapat sebuah riwayat yang sangat masyhur dari Anas bin Malik, yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Hadits ini menjelaskan tentang tiga ciri utama yang menjadi tolok ukur "manisnya iman". Manisnya iman bukanlah rasa manis secara fisik, melainkan kenikmatan dan ketenangan batin yang dirasakan oleh seorang mukmin sejati.
Berikut adalah tiga kunci untuk meraih manisnya iman:
1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya Melebihi Segalanya
Kunci pertama adalah menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya. Ini adalah fondasi dari seluruh ajaran Islam. Cinta ini bukanlah sekadar ucapan, tetapi manifestasi dari ketaatan total. 
Ketika cinta kepada Allah dan Rasulullah SAW menjadi yang teratas, maka setiap keputusan dalam hidup akan didasarkan pada petunjuk-Nya. Implikasi: Cinta ini mewajibkan seorang mukmin untuk mendahulukan perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya di atas kepentingan pribadi, keluarga, harta, atau jabatan. Jika dihadapkan pada dua pilihan, pilihan yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya-lah yang akan diambil. 

2. Mencintai Seseorang Hanya Karena Allah
Kunci kedua adalah mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Cinta ini melampaui ikatan darah, kekerabatan, atau keuntungan duniawi. Cinta yang tulus dan murni ini terjalin atas dasar keimanan yang sama. Implikasi: Seseorang mencintai saudaranya karena melihat kebaikan dan ketakwaan pada dirinya. Jika cinta ini berlandaskan keuntungan, maka akan pudar seiring berjalannya waktu. Sebaliknya, cinta yang berlandaskan Allah akan abadi, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah, salah satunya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah. 

3. Benci Kembali kepada Kekufuran
Kunci ketiga adalah dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka. Ini adalah puncak dari keimanan. Keimanan yang telah mengakar kuat di dalam hati membuat seseorang membenci segala bentuk kesesatan dan kekufuran. Implikasi: Seseorang yang telah merasakan nikmatnya iman akan merasa jijik dan takut untuk kembali kepada kekufuran, sebagaimana ia takut akan azab neraka. Perasaan benci ini tidak hanya secara lisan, tetapi juga secara hati, yang mendorongnya untuk terus istiqamah di jalan Islam.
Ketiga perkara ini adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Mencintai Allah dan Rasul-Nya akan membimbing kita untuk mencintai orang lain karena-Nya. Dan kedua hal tersebut akan memperkuat keimanan kita hingga kita membenci segala bentuk kekufuran. Ketika ketiga hal ini ada pada diri seseorang, barulah ia dapat merasakan manisnya iman yang sejati, ketenangan jiwa, dan kebahagiaan yang tidak tergantikan.

Read More »
18 September | 0komentar

Saat Ketaatan Dicap Mabuk Agama: " Sok Suci"

Dalam Al-Qur'an, surat An-Nas ayat 4-6, Allah SWT menjelaskan tentang 'alladzi yuwaswisu fi sudurinnas,' yaitu setan yang membisikkan kejahatan dalam hati manusia, baik dari golongan jin maupun manusia itu sendiri. Fenomena ini bukanlah hal baru. Jauh sebelum kita, para nabi dan rasul juga menghadapi musuh serupa.

Allah berfirman dalam surat Al-An'am ayat 112:
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu manusia." (QS. Al-An'am: 112)
Ayat ini secara jelas menyebutkan bahwa musuh para nabi terdiri dari dua golongan: setan dari kalangan jin dan setan dari kalangan manusia. Mereka bekerja sama, saling membisikkan "zukhrufal qawl" (perkataan yang indah) yang tujuannya adalah "ghurur" (menipu dan menyesatkan).
Buzzer Maksiat dan Anti-Ketaatan
Jika kita amati realitas hari ini, pola yang sama terulang kembali. Kita melihat fenomena yang disebut "buzzer maksiat" atau "buzzer anti-taat". Mereka menyebarkan kalimat-kalimat yang terkesan menarik dan logis, namun tujuannya adalah melemahkan orang-orang dalam berbuat ketaatan.
Beberapa contoh kalimat yang sering kita dengar, misalnya:
"Sudahlah, jangan jadi orang yang mabuk agama." 
 "Jilbabi dulu hatimu, sebelum kau jilbabi kepalamu." 
 "Enggak usah sok suci."
Kalimat-kalimat ini terdengar seperti nasihat, padahal sejatinya adalah bisikan yang melemahkan. Bisikan ini menyerang semangat ketaatan dan mengajak manusia untuk menunda atau bahkan meninggalkan perbuatan baik.
Fenomena "Sok Suci" dari Masa ke Masa
Label "sok suci" adalah salah satu senjata andalan yang digunakan oleh setan dari golongan manusia. Kisah seorang pensiunan ASN yang diceritakan di atas adalah contoh nyata. Saat ia berusaha untuk jujur dan menolak korupsi, teman-temannya justru mencapnya "sok suci." Seolah-olah, berbuat baik dan menolak kejahatan adalah hal yang patut dicemooh.
Label ini bukan hal baru. Ia telah ada sejak zaman para nabi. Umat Nabi Luth 'alaihissalam, saat mereka diingatkan tentang perbuatan maksiat mereka, tidak dapat memberikan jawaban logis. Mereka lalu menggunakan serangan pribadi untuk membungkam Nabi Luth. 

 "Usirlah Lut dan keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang menganggap dirinya suci." (QS. An-Naml: 56)
Bisikan dari setan manusia ini membuat seseorang yang benar menjadi disalahkan. Nabi Luth yang mengajak kepada kebaikan justru dicap "sok suci" oleh kaumnya sendiri yang melakukan kemaksiatan. Sama halnya dengan orang yang memilih jalan taat dan jujur hari ini, mereka sering kali dicap "sok suci" oleh orang-orang yang merasa nyaman dengan kemaksiatan.
Dengan memahami ayat-ayat ini, kita bisa lebih waspada terhadap bisikan dari jin maupun manusia. Jangan biarkan kalimat-kalimat yang terkesan indah itu melemahkan kita. Jika ada yang mencap Anda "sok suci" karena memilih jalan ketaatan, maka berbahagialah. Itu pertanda Anda berada di jalan yang sama dengan para nabi.

Read More »
11 September | 0komentar

Menelaah Fatwa Akad Haji dari Dua Sudut Pandang

Ibadah Umroh
Kontroversi Fatwa Haji: Memahami Perbedaan Pendapat tentang Akad Haji di Indonesia Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan dengan perdebatan mengenai status akad haji di Indonesia. Hal ini bermula dari fatwa yang dikeluarkan oleh Ustaz Dr. Erwandi yang menyatakan bahwa akad haji yang dilakukan di Indonesia adalah batil. Pernyataan ini sontak memicu beragam reaksi dan perbedaan pendapat di kalangan para ustaz dan masyarakat. Untuk memahami duduk perkara ini, kita perlu menelusuri akar permasalahan dari sisi ilmiah dan fikih.
Ustaz Dr. Erwandi berpendapat bahwa akad haji di Indonesia, baik haji reguler, plus, maupun furoda, termasuk dalam kategori Ijarah Mausuf fi Zimmah (IMFD), yaitu akad sewa-menyewa jasa yang objeknya (jasa) belum dimiliki oleh pemberi jasa saat akad dilakukan, tetapi hanya disifati (dijelaskan kriterianya). Dalam konteks haji, ini berarti travel atau pemerintah menjual paket haji (jasa) seperti akomodasi hotel, tiket pesawat, dan transportasi, padahal semua fasilitas tersebut belum mereka miliki secara pasti saat pendaftaran. Menurut jumhur (mayoritas) ulama, akad IMFD hanya sah jika dilakukan secara tunai di muka. Jika pembayaran tidak dilakukan secara tunai, maka akad tersebut menjadi batil.

Praktik Pembayaran Haji di Indonesia

Praktik pembayaran haji di Indonesia, terutama untuk haji reguler dan plus, tidak dilakukan secara tunai. Calon jemaah hanya membayar sejumlah uang muka (sekitar 25 juta rupiah untuk haji reguler) saat pendaftaran, sementara sisa pembayaran dilakukan beberapa tahun kemudian, menjelang keberangkatan.
Berdasarkan pendapat jumhur ulama, praktik ini menjadikan akad haji tidak sah atau batil. Inilah yang menjadi dasar Ustadz Dr. Erwandi untuk meminta jemaah yang sudah mendaftar untuk menarik dananya, karena akadnya dianggap bermasalah secara syariah. 

Adanya Pendapat yang Berbeda (Khilafiyah)
Namun, ada pandangan lain yang perlu dipertimbangkan. Majma Fikih Islami di bawah Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), sebuah lembaga fikih internasional, mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa akad IMFD boleh dilakukan tidak secara tunai. Keputusan ini didasarkan pada pertimbangan terhadap praktik modern, seperti dalam transaksi sukuk.
Dengan adanya fatwa dari Majma Fikih Islami ini, status akad haji yang tidak tunai menjadi tidak batil. Oleh karena itu, bagi mereka yang berpegang pada fatwa ini, jemaah tidak perlu menarik dananya dan dapat mempertahankan pendaftarannya.
Perbedaan pendapat ini bukan hanya soal benar atau salah, melainkan didasarkan pada landasan ilmiah dan fikih yang berbeda. Pendapat pertama, yang dianut oleh Ustaz Dr. Erwandi, berpegang pada pendapat jumhur ulama yang mensyaratkan akad IMFD harus tunai. Dengan demikian, akad haji di Indonesia dianggap batil, dan dana pendaftaran harus ditarik. 

Pendapat kedua, yang berlandaskan fatwa Majma Fikih Islami, membolehkan akad IMFD tidak tunai. Berdasarkan pandangan ini, akad haji di Indonesia tidak batil, dan jemaah boleh melanjutkan pendaftarannya. Dengan memahami latar belakang ilmiah dari kedua pandangan ini, kita dapat bersikap lebih bijak dan saling menghormati. 
Setiap individu memiliki hak untuk memilih pendapat mana yang lebih meyakinkan bagi mereka, sambil terus berusaha menambah ilmu dan tidak terprovokasi oleh perdebatan di media sosial yang seringkali dangkal.

Sumber : Youtube https://youtu.be/V8EgruXFvfE?si=z2yjgXe5VA2naMtc

Read More »
06 September | 0komentar

Keutamaan Qiyamul Lail: Membuka Pintu-Pintu Kebaikan dan Menguatkan Iman

Pada hari Ahad Pon, 24 Agustus 2025, Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc., menyampaikan tausiyah yang mendalam mengenai keutamaan qiyamul lail dan kaitannya dengan semangat kemerdekaan Indonesia. Beliau mengawali dengan mengingatkan bahwa 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H, hari Jumat Manis. Beliau menyoroti signifikansi tanggal tersebut, yang dipilih karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Angka 17 juga memiliki makna khusus dalam Islam, identik dengan tanggal diturunkannya Al-Qur'an dan jumlah rakaat shalat fardhu dalam sehari.

Perbedaan Qiyamul Lail dan Tahajud
Ustadz Retno menjelaskan bahwa qiyamul lail dan tahajud sering dianggap sama, padahal memiliki makna yang berbeda.
Qiyamul Lail adalah istilah yang lebih umum, mencakup segala aktivitas untuk "menghidupkan malam" dengan mengingat Allah. Ini tidak hanya terbatas pada shalat, tetapi juga bisa berupa membaca Al-Qur'an, bersedekah di malam hari, merenung (tafakkur), dan ibadah lainnya di masjid.
Tahajud adalah bentuk shalat malam yang lebih spesifik, yaitu shalat yang dilakukan setelah seseorang tidur terlebih dahulu.

Fadilah-Fadilah Qiyamul Lail
Ustadz Retno menguraikan beberapa keutamaan (fadilah) dari qiyamul lail, yang semuanya merupakan pintu-pintu kebaikan bagi seorang Muslim.
1. Pembuka Pintu Kebaikan
Beliau mengutip sebuah hadits di mana Rasulullah ﷺ menunjukkan Mu'adz bin Jabal tentang pintu-pintu kebaikan. Hadits tersebut menyebutkan tiga amalan utama: puasa sebagai perisai, sedekah yang dapat memadamkan kemaksiatan, dan shalat malam yang membuka pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. As-Sajadah, "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya," yang menggambarkan betapa orang-orang yang dekat dengan Allah rela meninggalkan kenyamanan tidur demi beribadah.
Shalat malam adalah bentuk pengakuan atas dosa dan kelalaian kita. Sebagai balasannya, Allah akan memberikan kenikmatan yang begitu besar di surga kelak, yang akan membuat mata kita terbelalak saking gembiranya. Amalan yang dilakukan secara rahasia ini akan dibalas dengan pahala yang juga dirahasiakan oleh Allah, membuat hamba-Nya terkejut dengan kebahagiaan yang tak terduga.
2. Jalan Menuju Surga dan Terhindar dari Neraka
Ustadz Retno mengisahkan seorang hamba yang terakhir keluar dari neraka dan akhirnya masuk surga karena rahmat Allah. Meskipun pada awalnya hanya berada di pinggir surga, keinginannya untuk mendapatkan yang lebih baik mendorongnya untuk terus berdoa. Ini menunjukkan bahwa meskipun kenikmatan surga sudah terbayang, tabiat manusia adalah selalu menginginkan yang terbaik.
Qiyamul lail juga merupakan salah satu ciri dari hamba-hamba yang beribadah dengan ihsan, seolah-olah mereka melihat Allah. Mereka menghidupkan malam dengan shalat dan tilawah Al-Qur'an.
Ustadz Retno mengingatkan bahwa banyak orang yang mengetahui betapa mengerikannya siksa neraka, namun justru lebih memilih tidur daripada beribadah. Padahal, shalat tahajud adalah amalan para wali Allah.
Selain manfaat spiritual, tahajud juga memiliki manfaat fisik. Ustadz Retno menyebutkan bahwa tahajud dapat membuat badan lebih sehat. Beliau mengaitkannya dengan para sahabat Nabi yang dikenal sangat sehat dan kuat saat berperang melawan musuh Islam, yang tidak lepas dari kebiasaan mereka menghidupkan malam dengan ibadah.
Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari tausiyah Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc., dan semakin termotivasi untuk menghidupkan malam dengan qiyamul lail.





Read More »
25 August | 0komentar

Menghidupkan Sunnah, Meraih Ridha: Qiyamul Lail, Subuh Berjama'ah & Pengajian Ahad Pagi

Undangan Qiyamul Lail, Sholat Subuh Berjama'ah, dan Pengajian Rutin Ahad Pagi

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Saudara/i kaum muslimin dan muslimat warga Perumahan Gayam Permai yang dirahmati Allah SWT, Dalam upaya meningkatkan keimanan, mempererat tali silaturahmi, serta meraih keberkahan di waktu-waktu yang mulia, kami dari pengurus Masjid Al Mu'minun mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk hadir dalam kegiatan rutin warga Gayam Permai: Qiyamul Lail Berjama'ah, Sholat Subuh Berjama'ah, dan Pengajian Rutin Ahad Pagi Insya Allah kegiatan ini akan dilaksanakan pada: 


Hari/Tanggal: Ahad, 18 Mei 2025 


Adapun rangkaian acara adalah sebagai berikut: 

Qiyamul Lail Berjama'ah: 
Dimulai pukul 03.30 WIB Mari kita bersama-sama menghidupkan sepertiga malam terakhir dengan bermunajat, memohon ampunan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Keutamaan Qiyamul Lail sangatlah besar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: 
 
"Sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR. Muslim) 

Sholat Subuh Berjama'ah: 
Dilaksanakan pada waktu Subuh. Mari kita awali hari dengan menunaikan ibadah sholat Subuh secara berjama'ah di masjid. Keberkahan dan keutamaan sholat Subuh berjama'ah sangatlah besar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa shalat Subuh berjama'ah, maka ia berada dalam jaminan Allah." (HR. Muslim) 

Pengajian Rutin Ahad Pagi: 
Dimulai setelah Sholat Subuh berjama'ah (sekitar pukul 05.30 WIB). Pada kesempatan yang penuh berkah ini, kita akan bersama-sama menimba ilmu agama dan memperdalam pemahaman tentang Islam bersama: Ustadz H. Yusman SHI. Beliau akan menyampaikan kajian yang insya Allah akan memberikan pencerahan dan motivasi dalam menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. 
Kegiatan ini merupakan wadah yang baik bagi kita untuk meningkatkan kualitas ibadah, mempererat ukhuwah Islamiyah antar warga Perumahan Gayam Permai, serta menambah ilmu pengetahuan agama
Kami sangat mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i dalam kegiatan yang penuh berkah ini. Mari kita luangkan waktu sejenak untuk meraih ridha Allah SWT dan keberkahan dalam hidup kita. 
Atas perhatian dan kehadirannya, kami ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Hormat kami, Pengurus Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara






Read More »
17 May | 0komentar

Mengapa Mendaftar Haji Sebelum Umroh Lebih Utama

Alhamdulillah, mendaftar Haji di BSI
Sebagai umat Muslim, kita tentu memahami betul kedudukan ibadah haji dan umroh dalam agama Islam. Haji merupakan rukun Islam kelima yang hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang mampu secara fisik, materi, dan mental. Sementara itu, umroh adalah ibadah sunah yang sangat dianjurkan (sunah muakkadah) dan memiliki banyak keutamaan. Meskipun keduanya merupakan ibadah yang mulia dan mendatangkan pahala besar, terdapat perbedaan mendasar dalam hukum pelaksanaannya. Kewajiban haji bagi yang mampu menempatkannya pada prioritas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibadah umroh yang bersifat sunah. 

Prioritas wajib di Atas sunah

Dalam prinsip-prinsip fiqih Islam, ibadah yang wajib harus didahulukan pelaksanaannya daripada ibadah yang sunah. Hal ini didasarkan pada berbagai dalil dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Allah SWT telah secara tegas memerintahkan pelaksanaan ibadah haji bagi mereka yang memiliki kemampuan. Perintah ini termaktub dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 97:

 وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ 

 "Dan bagi Allah, atas manusia berkewajiban melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka 2 sesungguhnya Allah Mahakaya 3 (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam."  

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ibadah haji adalah kewajiban yang melekat pada setiap Muslim yang memenuhi syarat istitha'ah (kemampuan). Oleh karena itu, ketika seorang Muslim memiliki kemampuan untuk melaksanakan haji, maka kewajiban ini harus segera dipenuhi. 

Meskipun keinginan untuk segera mengunjungi Baitullah dan melaksanakan umroh sangatlah besar, ada beberapa hikmah mengapa mendaftar haji terlebih dahulu menjadi pilihan yang lebih bijak: 
  • Menunaikan Kewajiban Utama: Dengan mendaftar haji, seorang Muslim telah menunjukkan niat dan kesungguhannya untuk memenuhi rukun Islam yang kelima. Ini merupakan bentuk ketaatan dan kepatuhan yang lebih utama di sisi Allah SWT. 
  • Mengamankan Kesempatan: Kuota haji setiap tahunnya terbatas dan seringkali daftar tunggu keberangkatan bisa memakan waktu bertahun-tahun. Dengan mendaftar lebih awal, seorang Muslim memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dapat melaksanakan ibadah haji pada waktunya. 
  • Perencanaan Keuangan yang Lebih Baik: Biaya haji relatif lebih besar dibandingkan dengan umroh. Dengan mendaftar jauh-jauh hari, calon jamaah memiliki waktu yang lebih panjang untuk mempersiapkan dan mengelola keuangan dengan lebih baik. 
  • Menghindari Penyesalan di Kemudian Hari: Menunda pendaftaran haji, terutama bagi yang sudah mampu, dapat menimbulkan penyesalan di kemudian hari jika kondisi kesehatan atau finansial berubah. 
  • Menghormati Sistem dan Regulasi: Pemerintah telah mengatur sistem pendaftaran dan keberangkatan haji dengan tujuan untuk memastikan kelancaran dan keamanan pelaksanaan ibadah. Mendaftar haji sesuai prosedur berarti menghormati sistem yang telah ditetapkan. 

Lalu, Bagaimana dengan Umroh? 
Bukan berarti melaksanakan umroh sebelum haji dilarang. Namun, dalam konteks prioritas, menunaikan kewajiban haji bagi yang mampu adalah yang utama. Jika seseorang telah mendaftar haji dan masih memiliki kesempatan serta kemampuan finansial untuk melaksanakan umroh, maka hal tersebut tentu diperbolehkan dan bahkan dianjurkan. 
Umroh dapat menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menambah kekhusyukan dalam menanti panggilan untuk menunaikan ibadah haji. Kesimpulan Meskipun keduanya merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, hukum wajib pada ibadah haji menjadikannya prioritas utama bagi setiap Muslim yang mampu. 
Mendaftar haji terlebih dahulu sebelum melaksanakan umroh adalah langkah yang lebih bijak sebagai bentuk ketaatan dalam menunaikan kewajiban dan mengamankan kesempatan untuk meraih kemuliaan ibadah haji. Setelah mendaftar haji, jika Allah SWT memberikan keluasan rezeki dan kesempatan, melaksanakan ibadah umroh dapat menjadi pelengkap ibadah dan semakin memperkuat keimanan kita. Semoga Allah SWT memudahkan langkah kita semua untuk dapat menunaikan ibadah haji dan umroh di Baitullah.

Read More »
21 April | 0komentar

Langkah Syukur Menuju Baitullah: Pendaftaran Haji dan Prioritas Akhirat

Pendaftaran Haji di Kemenag RI untuk 3 Anak Kami

Alhamdulillah wa syukurillah 'ala ni'matillah. Rasa syukur yang tak terhingga kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas kemudahan yang telah dilimpahkan, sehingga kami sekeluarga dapat menunaikan niat suci untuk mendaftarkan Ibadah Haji. Sebuah perjalanan spiritual yang kami impikan sejak lama, kini selangkah lebih dekat untuk menjadi kenyataan. Saya dan istri telah terdaftar dan mendapatkan porsi Haji pada Tahun 2016. Sesuai dengan aplikasi dari Kemenag berangkat tahun 2034. 
Penantian yang cukup panjang, namun keyakinan akan janji Allah SWT senantiasa menghiasi hati kami. Kebahagiaan kami semakin lengkap di bulan suci Ramadhan tahun ini, tepatnya pada tanggal 25 Ramadhan 1446 Hijriyah (bertepatan dengan 25 Maret 2025), ketika ketiga buah hati kami turut serta mendaftarkan diri untuk menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Mereka menunggu daftar antrian 33 Tahun.
Melihat nama-nama anggota keluarga tertera dalam bukti pendaftaran haji, hati ini bergetar. Bukan hanya karena terbayang indahnya Baitullah dan Madinah Al-Munawwarah, namun juga karena betapa besar karunia Allah SWT yang telah memudahkan urusan ini. Kami menyadari, banyak saudara-saudara kita yang memiliki keinginan serupa namun belum mendapatkan kesempatan yang sama. Banyak dari saudara-saudara kami yang lebih tetapi belum digerakan untuk mendaftar Haji.
Keputusan untuk mendaftarkan haji bagi kami dan keluarga bukanlah keputusan yang diambil secara instan. Ada pertimbangan matang dan skala prioritas yang kami tetapkan dalam kehidupan ini. Kami menyadari bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara, dan sebaik-baik bekal adalah amalan saleh yang akan kita bawa menghadap Allah SWT di akhirat kelak. Mungkin bagi sebagian orang, memiliki kendaraan baru atau rumah yang lebih mewah menjadi prioritas utama. Namun, bagi kami, menunaikan ibadah haji bersama keluarga adalah investasi akhirat yang tak ternilai harganya. Ini adalah wujud ketaatan kepada Allah SWT, bentuk penghambaan diri yang mendalam, dan kesempatan untuk membersihkan diri dari segala dosa dan khilaf. 
Kami percaya, rezeki yang Allah SWT berikan kepada kami adalah amanah yang harus digunakan sebaik-baiknya. Menyisihkan sebagian rezeki untuk menunaikan ibadah haji adalah bentuk syukur atas nikmat-Nya dan upaya untuk meraih ridha-Nya. Kami meyakini, dengan memprioritaskan urusan akhirat, Allah SWT akan mencukupkan segala kebutuhan duniawi kami. 
Proses pendaftaran haji saat ini semakin mudah dengan adanya sistem yang terintegrasi. Namun, kemudahan administratif ini hendaknya tidak melunturkan esensi dari ibadah haji itu sendiri. Niat yang tulus, persiapan yang matang, baik secara fisik, mental, maupun ilmu pengetahuan tentang manasik haji, tetap menjadi kunci utama dalam meraih haji yang mabrur. 
Janganlah kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi hingga melupakan panggilan suci menuju Baitullah. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kelancaran dalam setiap tahapan persiapan haji kami dan keluarga, serta memberikan kesempatan kepada seluruh umat Islam yang memiliki kerinduan untuk mengunjungi tanah haram. Semoga niat suci ini menjadi langkah awal menuju haji yang mabrur, yang diterima di sisi Allah SWT. Amin ya rabbal 'alamin.

Buka Tabungan Haji Di BSI



Alhamdulillah semua telah mendapat porsi Haji



Read More »
20 April | 0komentar

Kota Lama Banyumas: Lebih dari Sekadar Bangunan Tua

Banyumas juga memiliki kawasan kota lama, tidak hanya di Semarang. Lokasi kota lama Banyumas berada di sekitar alun-alun Kecamatan Banyumas. Di sini terdapat bangunan yang dulu menjadi pusat pemerintahan kadipaten Banyumas, sebelum pindah ke kota Purwokerto. Selain itu ada sumur tua, museum wayang, rumah lengger, dan masjid Nur Sulaiman yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Kota Lama yang berada di belakang kompleks Kecamatan Banyumas telah selesai direvitalisasi. Kini kawasan tersebut jadi lebih hidup dan siap dijadikan destinasi wisata baru. Kawasan yang sudah dibangun itu membentang dari jalan Mruyung sampai Pungkuran. Trotoar dan jalan raya menggunakan paving block. Sangat menarik untuk didatangi apalagi di waktu malam hari. Penerangan jalan lebih banyak dan bernuansa kuning. Lebar jalan kurang lebih 5 meter, tempat orang jalan/trotoar/pedestrian sekitar 2,5- 3 meter.
Kota Lama Banyumas sendiri dulunya merupakan kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas sebelum di pindah ke Kota Purwokerto. Hal ini membuat Kota Lama Banyumas memiliki sejumlah cagar budaya yang memikat, termasuk gedung balai kota, sumur tua, museum wayang, Masjid Agung Nur Sulaiman hingga Kelenteng Boen Tek Bio. Di sini, wisatawan dapat merasakan atmosfer bersejarah serta menikmati kemewahan arsitektur zaman dulu yang menawan. 
Kota Lama Banyumas juga menawarkan pengalaman bersantai bagi para wisatawan untuk berjalan-jalan maupun duduk-duduk di area pedestrian atau menikmati hidangan kuliner yang lezat di warung sekitar. Keindahan bangunan-bangunan tempo dulu juga cocok untuk dijadikan latar belakang bagi para pecinta foto. Kota Lama Banyumas benar-benar memikat dengan nuansa kuno yang cantik. Suasana di tempat wisata ini menggambarkan di era 1930-an. 
Tata ruang kota yang tertata dengan rapi, terutama penggunaan paving block juga menambah kesan klasik dari tempat wisata ini.
Warga sekitar pun berinovatif misalkan dengan adanya layanan jasa foto seharga 10 ribu rupiah untuk 3 foto, dan persewaan sepeda serta scooter listrik yang bisa digunakan untuk menjelajahi Kota Lama jika tidak ingin berjalan kaki. Ini membuat Kota Lama jadi lebih menyenangkan untuk didatangi. 
Menjelajahi Kota Lama saat sore hari, ketika cahaya masih terang dan suasana tidak terlalu ramai sangat menarik. Akses untuk menjangkau ke Kota Lama Banyumas sangat mudah, baik dengan kendaraan pribadi maupun transportasi lain. Selain itu, tempat wisata ini juga dapat dikunjungi kapan saja sehingga para pengunjung dapat merasakan berbagai suasana kota ini. Meskipun begitu, suasana sore hingga malam hari masih menjadi waktu yang paling direkomendasikan untuk menikmati keindahan tempat wisata ini. 
Tentu ada masukan untuk pengelola kota ini untuk lebih menertibkan parkir mobil yang kadang tidak mengindahkan rambu-rambu, di larang parkir disepanjang jalan ini. Tetapi masih ada yang memarkir kendaraannya (mobil). dan para pengendara motor yang melaju dengan kencang bahkan ketika melewati perempatan Jl. Mruyung anak-anak muda cenderung menggunakan kendaraan bermotor yang berknalpot brong melaju bergerombol sangat sedikit mengganggu.

Read More »
28 January | 0komentar