Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In


Perangkat pembelajaran untuk menunjang Proses Belajar Mengajar(PBM) ini sesuai dengan kurikulum Merdeka. Informasi tentang CP dengan meng-KLIK gambar di atas. Perangkat pembelajaran Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan Bangunan pada Mata Pelajaran Mekanika Teknik


INSTAGRAM :@sarastiana1
        RECENT POST

Halal Bi Halal adalah budaya Indonesia penuh makna

Makan setelah Halal Bi Halal

Pendahuluan 

Fenomena budaya Indonesia yang selalu hadir setelah pelaksanaan ibadah puasa Ramadan adalah tradisi halal bi halal. Kegiatan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, bahkan melekat kuat sebagai identitas budaya bangsa. Selain itu, tradisi mudik Lebaran juga memiliki keterkaitan erat dengan halal bi halal. Setelah kembali ke kampung halaman, masyarakat memanfaatkan momen tersebut untuk bersilaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat hubungan kekeluargaan. 

Pengertian Halal Bi Halal 

Halal bi halal adalah sebuah tradisi khas Indonesia yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, dengan tujuan utama saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antar sesama. Tradisi ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi merupakan refleksi dari ajaran Islam yang menekankan: Persaudaraan (ukhuwah) Persatuan Kasih sayang antar sesama manusia Halal bi halal juga menjadi simbol bahwa Islam adalah agama yang toleran dan damai, serta mengajarkan kehidupan yang rukun, meskipun dalam keberagaman. Halal Bi Halal sebagai Budaya Bangsa Indonesia Seiring waktu, halal bi halal telah berkembang menjadi budaya yang mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Tradisi ini diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti: Kunjungan antar keluarga Acara di sekolah, kantor, atau instansi Pertemuan masyarakat atau komunitas Pengajian dan tausiyah Budaya ini mencerminkan nilai luhur bangsa Indonesia, yaitu: Saling memaafkan Saling mengunjungi Saling berbagi kasih sayang Tidak hanya dalam lingkup umat Islam, halal bi halal juga sering menjadi ajang mempererat hubungan lintas agama, sehingga memperkuat harmoni sosial. 

Makna Toleransi dalam Halal Bi Halal 

Perbedaan agama bukanlah alasan untuk saling memusuhi atau mencurigai. Justru, perbedaan tersebut menjadi sarana untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Halal bi halal menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia mampu: Hidup berdampingan secara damai Menjunjung tinggi toleransi Mengedepankan persatuan di atas perbedaan Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).  

Asal Usul Istilah Halal Bi Halal  

Meskipun terdengar seperti berasal dari bahasa Arab, istilah halal bi halal sebenarnya tidak dikenal dalam bahasa Arab. Istilah ini juga tidak ditemukan pada zaman Nabi Muhammad SAW maupun para sahabat. Dalam praktik Islam pada masa Rasulullah SAW, yang dikenal adalah konsep silaturahmi, yaitu menjalin dan menjaga hubungan baik antar sesama manusia.  

Menurut berbagai referensi:  
  • Ensiklopedi Islam (2000) menyebutkan bahwa tradisi halal bi halal tidak ditemukan di negara-negara Arab maupun negara Islam lainnya, kecuali di Indonesia.  
  • Ensiklopedi Indonesia (1978) menjelaskan bahwa istilah halal bi halal merupakan serapan lafadz Arab yang tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa Arab (ilmu nahwu).  

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), halal bi halal diartikan sebagai: “Hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di suatu tempat oleh sekelompok orang, dan merupakan kebiasaan khas Indonesia.” Dengan demikian, halal bi halal adalah produk budaya Indonesia yang mengadopsi nilai-nilai Islam dalam bentuk tradisi sosial. 

Perbedaan Halal Bi Halal dan Silaturahmi 

Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mempererat hubungan antar manusia, namun berbeda dalam konteks dan pelaksanaannya.  

Perbedaan Silaturahmi dan Halal Bi Halal

Hikmah dan Manfaat Halal Bi Halal 

Tradisi halal bi halal memberikan banyak manfaat, di antaranya:  
❤️ Membersihkan hati dari dendam dan kesalahan  
🤝 Mempererat tali persaudaraan  
🏡 Menciptakan keharmonisan dalam keluarga dan masyarakat  
🌍 Menumbuhkan sikap toleransi antar umat beragama  
🌿 Memberikan ketenangan batin 

Halal bi halal bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi merupakan warisan budaya yang sarat makna dan nilai-nilai luhur. Tradisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia mampu mengharmoniskan ajaran agama dengan budaya lokal. Di tengah perbedaan yang ada, halal bi halal hadir sebagai jembatan yang menyatukan hati, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan toleransi.

Read More »
04 April | 0komentar

Halal Bi Halal: Pengertian, Sejarah, Tujuan, dan Manfaatnya dalam Islam

Ikrar Halal Bi Halal
Halal bi halal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri. Istilah ini berasal dari kata “halal” yang berarti terbebas dari dosa atau kesalahan, sehingga halal bi halal dimaknai sebagai momen untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antar sesama. Tradisi ini tidak hanya sekadar berjabat tangan dan mengucapkan maaf, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun instansi. 
Halal bi halal mulai dikenal luas di Indonesia sejak masa kemerdekaan. Tradisi ini dipopulerkan oleh tokoh-tokoh nasional sebagai upaya mempererat persatuan bangsa setelah masa konflik. Seiring waktu, halal bi halal berkembang menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya setelah bulan Ramadan dan Idul Fitri. 
Meskipun istilah halal bi halal tidak secara langsung disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits, namun esensi dari kegiatan ini sangat sesuai dengan ajaran Islam, yaitu: Anjuran untuk saling memaafkan “... 

dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada...” (QS. An-Nur: 22) 

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Halal bi halal memiliki banyak tujuan mulia, di antaranya: Membersihkan hati dari rasa dendam Mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan Membangun kembali komunikasi yang sempat renggang Menumbuhkan sikap rendah hati dan saling menghargai Manfaat Halal Bi Halal 

Melaksanakan halal bi halal memberikan dampak positif, baik secara spiritual maupun sosial: 
🌿 Ketenangan batin karena telah saling memaafkan 
🤝 Memperkuat ukhuwah Islamiyah 
🏡 Menciptakan suasana harmonis dalam keluarga dan masyarakat 
❤️ Menghilangkan prasangka dan konflik 

Bentuk Kegiatan Halal Bi Halal 

Halal bi halal dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti: Kumpul keluarga besar Acara di sekolah atau kantor Pengajian atau tausiyah Silaturahmi dari rumah ke rumah Biasanya kegiatan ini diisi dengan sambutan, doa bersama, tausiyah, dan diakhiri dengan saling bersalaman. 
Agar kegiatan halal bi halal lebih bermakna, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan: Ikhlas dalam memaafkan Mengucapkan maaf dengan tulus Tidak mengungkit kesalahan lama Menjaga sopan santun dan etika Memperbanyak doa dan dzikir 
Halal bi halal bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan wujud nyata dari ajaran Islam yang mengedepankan kasih sayang, persaudaraan, dan kedamaian. Di tengah kehidupan yang penuh kesibukan dan perbedaan, momen ini menjadi kesempatan berharga untuk kembali menyatukan hati. Dengan halal bi halal, kita tidak hanya membersihkan diri dari dosa kepada sesama, tetapi juga memperkuat ikatan sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Read More »
03 April | 0komentar

Salam dalam Islam

Salam
Salam dalam Islam adalah ucapan doa keselamatan, keberkahan, dan rahmat kepada sesama muslim. 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” 

Artinya: Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu.

Ucapan salam di atas bukan sekadar sapaan, tetapi bentuk ibadah yang bernilai pahala dan mempererat ukhuwah. Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk menyebarkan salam dan menjawabnya dengan lebih baik atau setara.  

Firman Allah: 
 “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam, maka balaslah salam itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa: 86).

Ayat ini menunjukkan bahwa: Mengucapkan salam adalah sunnah yang dianjurkan Menjawab salam adalah wajib. Dianjurkan membalas dengan yang lebih baik 

Dalil Salam dalam Hadits 
Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya menyebarkan salam: 

a. Salam sebagai kunci masuk surga  
Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak sempurna iman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)  
b. Salam adalah hak sesama muslim “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam…” Salah satunya: “Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam.” (HR. Muslim) 

Urutan Memberi Salam 
Sesuai Hadits Islam mengatur adab dalam memberi salam agar tercipta tata krama sosial yang indah. Rasulullah ﷺ bersabda: 
 “Hendaklah yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” (HR. Bukhari & Muslim)  

Urutannya:  
Yang muda → kepada yang lebih tua  
Yang berjalan → kepada yang duduk  
Yang sedikit → kepada yang lebih banyak  
Yang berkendara → kepada yang berjalan 

Ini menunjukkan nilai: Penghormatan Kerendahan hati Adab dalam interaksi sosial  

Tata Cara Salam yang Benar Ucapan salam: 
Minimal: Assalamu’alaikum 
Lebih sempurna: Assalamu’alaikum warahmatullah 
Paling lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Jawaban salam: 
Wa’alaikumussalam (minimal) 
Wa’alaikumussalam warahmatullah Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh (paling utama) 

Manfaat Mengucapkan Salam 
a. Mendapat pahala Setiap salam bernilai pahala yang berlipat.  
b. Menumbuhkan kasih sayang Salam menjadi pembuka hati dan menghilangkan permusuhan.  
c. Menjadi ciri khas umat Islam Salam adalah identitas muslim yang membedakan dengan budaya lain.  
d. Mendatangkan keberkahan Ucapan salam membawa doa keselamatan dan rahmat Allah.  
e. Menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ 

Semakin sering mengucapkan salam, semakin kita dekat dengan sunnah. 

Keutamaan Menyebarkan Salam  
Dalam hadits disebutkan: 
 “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikan makanan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi) 

Salam bukan hanya sekadar ucapan, tetapi ibadah yang ringan namun berdampak besar. Ia mempererat persaudaraan, menumbuhkan cinta, dan menjadi jalan menuju surga. Mari kita biasakan: Mengucapkan salam terlebih dahulu Menjawab dengan lebih baik Menyebarkannya kepada siapa saja sesama muslim Karena dari salam, lahir kedamaian. Dari kedamaian, tumbuh keberkahan.

Read More »
31 March | 0komentar

2 Kunci Surga untuk Laki-Laki dan 5 Keistimewaan Wanita

Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa dalam kegiatan Halal Bi Halal SMK Panca Bhakti Banjarnegara. Namun di balik canda tawa, terselip pesan yang sangat dalam tentang bekal hidup menuju surga sesuatu yang sederhana, tapi sering dianggap sepele. Dalam kajian tersebut disampaikan bahwa sejatinya, laki-laki dan perempuan memiliki “senjata” masing-masing untuk meraih ridha Allah. 
Bukan harta, bukan jabatan, tapi amal yang mungkin terlihat biasa namun luar biasa di sisi-Nya. Dua Senjata Laki-Laki Menuju Surga Bagi seorang laki-laki, ada dua amalan utama yang menjadi “senjata” kuat:  
1. Sholat Wajib 5 Waktu Berjama’ah di Masjid  
Sholat bukan sekadar kewajiban, tapi juga bukti keimanan. Terlebih bagi laki-laki, berjama’ah di masjid memiliki keutamaan yang sangat besar.  
Rasulullah ﷺ bersabda: “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari & Muslim)  
Bahkan dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ hampir memberikan hukuman bagi laki-laki yang meninggalkan sholat berjamaah tanpa alasan yang jelas. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga sholat di masjid. Selain itu, Allah berfirman:  
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43) 
 Ayat ini menegaskan pentingnya shalat berjama’ah, bukan sekadar sendiri.  
2. Sholat Jumat Tepat Waktu, Tidak Terlambat  
Sholat Jumat adalah kewajiban mingguan yang tidak boleh diremehkan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mandi pada hari Jumat, kemudian berangkat lebih awal, berjalan kaki… maka setiap langkahnya bernilai pahala puasa dan shalat setahun.” (HR. Tirmidzi)  

Namun sebaliknya, bagi yang meremehkan: 

 “Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jumat karena meremehkannya, maka Allah akan menutup hatinya.” (HR. Abu Dawud) 
 
MasyaAllah… hanya karena sering terlambat atau meremehkan, hati bisa menjadi keras dan tertutup dari kebenaran.  

Lima Kemuliaan Wanita: Jalan Mudah Menuju Surga Sementara itu, wanita memiliki kemuliaan luar biasa yang sering tidak disadari. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan: 
 
Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.” (HR. Ahmad)  

MasyaAllah… betapa luasnya rahmat Allah bagi wanita. Berikut “senjata” wanita tersebut:  
1. Hamil Kehamilan bukan hanya proses biologis, tapi juga ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Wanita yang meninggal karena melahirkan, maka ia mati syahid.” (HR. Abu Dawud) Setiap rasa lelah, mual, bahkan sakit… semuanya bernilai pahala.  
2. Melahirkan Proses melahirkan adalah perjuangan antara hidup dan mati. Tidak heran jika Islam memuliakannya sebagai bentuk jihad seorang wanita.  
3. Menyusui Allah berfirman: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh…” (QS. Al-Baqarah: 233) Menyusui bukan sekadar memberi makan, tapi juga membangun generasi dengan cinta dan pengorbanan.  
4. Merawat Bayi Begadang, lelah, mengurus anak tanpa henti—semua itu tidak sia-sia. Dalam Islam, setiap kelelahan seorang ibu menjadi ladang pahala yang terus mengalir.  
5. Taat kepada Suami (dalam kebaikan) Ketaatan istri kepada suami selama dalam kebaikan adalah jalan cepat menuju surga. Rasulullah ﷺ bersabda:  

Apabila seorang istri shalat lima waktu, puasa Ramadhan, menjaga kehormatan, dan taat kepada suaminya, maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad) 

Sederhana Tapi Berat Jika direnungkan, amalan-amalan ini terlihat sederhana. Namun justru di situlah letak ujiannya. Laki-laki diuji dengan konsistensi ke masjid Wanita diuji dengan keikhlasan dalam pengorbanan Tidak perlu menunggu jadi ustadz, tidak perlu jadi orang besar. Cukup jaga yang Allah wajibkan dan muliakan. 
Surga tidak selalu diraih dengan amalan besar yang terlihat hebat. Kadang justru dengan hal-hal sederhana yang dilakukan dengan istiqomah dan ikhlas. Maka hari ini, mari kita tanyakan pada diri: Sudahkah kita menjaga “senjata” kita? Atau justru kita sibuk mencari yang jauh, tapi lalai dari yang dekat? Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang dimudahkan jalan menuju surga. Aamiin. Kalau mau, saya bisa bantu: Buatk

Read More »
30 March | 0komentar

Ciri Orang Bertakwa: Bukan Sekadar Ramadhan Sentris

Ramadhan telah berlalu. Takbir kemenangan sudah lama menggema. Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita bahwa bagi para sahabat Nabi, Ramadhan bukanlah akhir dari ibadah, melainkan awal dari perjalanan yang lebih serius. 
Diriwayatkan bahwa para sahabat justru enam bulan setelah Ramadhan terus berdoa agar amal ibadah mereka diterima oleh Allah. Bukan soal sudah selesai, tapi justru mereka diliputi rasa khawatir: apakah puasa, shalat, dan amal mereka benar-benar sampai kepada-Nya? Sementara kita? Seringkali setelah “lari sprint” selama Ramadhan, justru langsung berhenti total.  
Ibadah yang dulu terasa ringan, kini mulai ditinggalkan. Masjid yang dulu ramai, kini kembali lengang. Padahal sejatinya, Ramadhan adalah latihan, bukan tujuan akhir.  

Sprint Sudah Selesai, Saatnya Menjaga Ritme  
Ramadhan ibarat lari cepat (sprint) yang menguras energi. Kita berusaha maksimal: bangun malam, menahan diri, memperbanyak amal. Namun setelah sprint itu selesai, bukan berarti kita berhenti bergerak. Justru kita perlu mengatur napas, menjaga langkah, dan melanjutkan perjalanan dengan konsisten. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan: 

 “Wasāri‘ū ilā maghfiratin min rabbikum…” “Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian…” (QS. Ali Imran: 133) 

Ayat ini bukan hanya untuk Ramadhan. Ini adalah panggilan sepanjang hidup. Panggilan bagi orang-orang bertakwa (lil muttaqin), yang tidak menunda kebaikan. 
Ciri Orang Bertakwa: Bukan Sekadar Ramadhan-Sentris Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk bersegera, tetapi juga menjelaskan siapa saja yang termasuk orang bertakwa itu. Ada tanda-tanda nyata yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari:  

1. Tetap Berinfak, Baik di Saat Lapang Maupun Sempit  
Orang bertakwa tidak menunggu kaya untuk berbagi. Mereka memberi saat punya, bahkan tetap memberi saat terasa kekurangan. Karena mereka paham, nilai bukan pada jumlahnya tetapi pada keikhlasan dan konsistensi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” Ini menjadi tamparan halus bagi kita yang semangat di awal, tapi cepat redup setelahnya.  
2. Mampu Menahan  
Amarah Ramadhan melatih kita menahan lapar dan haus. Tapi sejatinya, yang lebih sulit adalah menahan emosi. Orang bertakwa bukan yang tidak pernah marah, tetapi yang mampu mengendalikan marahnya. Di dunia yang penuh provokasi—media sosial, perdebatan, ego—kemampuan menahan amarah adalah tanda kekuatan sejati.  
3. Segera Memohon Ampunan kepada Allah  
Ciri lainnya adalah tidak menunda taubat. Saat terjatuh dalam kesalahan, mereka tidak berlama-lama tenggelam dalam dosa. Mereka segera kembali, mengetuk pintu ampunan Allah. Bukan karena mereka sempurna, tapi karena mereka sadar: yang membedakan orang baik dan buruk adalah seberapa cepat ia kembali. 

Apakah Ramadhan Mengubah Kita?  
Pertanyaan penting setelah Ramadhan bukanlah: “Seberapa banyak ibadah yang sudah kita lakukan?” Tetapi: “Apakah kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa setelahnya?” Jika setelah Ramadhan: Kita masih ringan bersedekah Kita lebih sabar dalam menghadapi emosi Kita lebih cepat kembali kepada Allah saat salah Maka itu tanda Ramadhan kita berhasil. Namun jika semua itu hilang begitu saja, mungkin kita hanya mendapatkan lapar dan haus. 
Doa yang Tak Pernah Berhenti Mari kita belajar dari para sahabat. Mereka tidak pernah merasa cukup dengan amalnya. Mereka terus berdoa: “Ya Allah, terimalah amal ibadah kami.” Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita lakukan tetapi apakah Allah menerimanya. Ramadhan boleh saja telah pergi. Namun jalan menuju Allah masih panjang. Dan orang-orang bertakwa… tidak pernah benar-benar berhenti berlari.

Read More »
29 March | 0komentar

Legacy Para Sesepuh: Jangan Sampai Kita Gagal Nerusin

Dari Kiri Ke Kanan : Siwo Karto, Mbah Wir, Siwo Parto, Mbah Daryati, Mbah Rakonah 

WAKTU banyak yang terbuang begitu saja dan berlalu. Bahkan tak jarang mengisi waktu dengan rentetan kesia-siaan. Padahal menjaga waktu merupakan sebuah kewajiban. Kehidupan ini amatlah singkat, maka haruslah seorang muslim menjaga waktu dengan hal-hal bermanfaat.  Bagaimana para Sesepuh kita telah memanfaatkan waktu dengan mengelolanya membimbing, mengasuh tak kenal lelah untuk kesuksesan anak, cucu dan cicit.  
Semangat yang para sesepuh kita/ Panjer wujudkan melalui berbagai gemblengan kepada kita semua  sebagai anak, cucu dan cicit. Dalam mendidik mereka berdasarkan pada kasih sayang, satu kata yaitu keberhasilan. Meski para Panjer Trah Djaja Wikarta telah berpulang Kehadiratnya semua. Kita sebagai penerusnya wajib untuk mewarisi semangat yang Beliau-Beliau tanamkan kepada kita. Memanfaatkan waktu agar hidup kita tidak sia-sia termakan oleh perputaran roda kehidupan.  
Berikut beberapa petuah dari para ulama yang bisa menjadi nasihat dan juga pengingat bagi kita untuk menjaga waktu.  

1. Waktu Pasti akan Berlalu,  
Beramallah  “Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah." Kita tidak pernah tahu berapa banyak lagi sisa waktu kita, entah sampai hari ini, besok atau kapan pun itu. Yang jelas kita harus menjaga waktu tersebut dengan berbagai macam hal baik dan bermanfaat. Jangan biarkan waktu berlalu tapi diri tidak ada perubahan sedikit pun. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pernah mengungkapkan (wallahu a’lam).  “Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”   

2. Waktu Bagaikan Pedang. 
  “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.” Kita perlu sekali lebih menjaga waktu dengan baik, terlebih di masa pandemi hari ini. Karena kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kalau kita tidak isi dengan hal-hal yang baik maka waktu tersebut akan terisi dengan kesia-siaan dan berlalu begitu saja.  
Kita bisa menjaga waktu di rumah saja dengan melakukan berbagai macam amal soleh seperti solat, tilawah Al-Qur’an, menuntut ilmu dan masih banyak lagi. ika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari karena enggan menjaga waktu yang Allah berikan. Dan jangan sampai kita menyesal di alam kubur karena belum sempat bermalah soleh. 

3. Janganlah Sia-siakan Waktumu  
Selain untuk Mengingat Allah Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami,  ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”  Menjaga waktu memanglah tidak mudah, tapi semua bisa kita usahakan bila selalu ada keinginan di dalam diri. Semoga kita semua selalu menjaga waktu yang sudah Allah berikan. Menjaganya dengan melakukan amal soleh dan menjauhi kemaksiatan.

Read More »
26 March | 0komentar