Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In

Kejujuran yang Tidak Tercetak dalam Nilai

Siswa, Guru dan Orang tua

Setiap akhir semester, pemandangan yang sama selalu terulang di banyak sekolah. Orang tua datang mengambil rapor, menerima lembar hasil belajar anaknya, lalu pulang. Prosesnya sering berlangsung cepat dan formal. Guru menyampaikan informasi, orang tua mendengarkan, kemudian semuanya selesai. Namun, apakah rapor hanya tentang angka dan peringkat? Pertanyaan itulah yang menginspirasi saya untuk mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam pembagian rapor kali ini. Alih-alih menjadikan pembagian rapor sebagai percakapan satu arah antara guru dan wali murid, kami menciptakan sebuah ruang kecil untuk saling mendengar. 
Pendekatan seperti ini sejalan dengan konsep pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sebagaimana dijelaskan dalam artikel Pembelajaran Mendalam, di mana peserta didik diberi ruang untuk merefleksikan pengalaman belajarnya secara utuh.
Segitiga Kecil yang Mengubah Percakapan Satu per satu siswa datang bersama orang tuanya. Kami duduk membentuk segitiga sederhana: guru, orang tua, dan anak. Di tengah terdapat sebuah meja kecil dengan rapor yang terletak di atasnya. Menariknya, rapor tidak langsung saya jelaskan kepada orang tua. Saya justru menyodorkannya kepada siswa. Saya meminta mereka mengamati hasil belajarnya sendiri, lalu menjawab beberapa pertanyaan sederhana. 
 "Mata pelajaran apa yang menurutmu masih kurang? Mengapa?" 
 "Mata pelajaran apa yang sudah baik? Mengapa bisa baik?" 
 Anak-anaklah yang kemudian bercerita langsung kepada orang tuanya. Di situlah saya menyadari bahwa sering kali ada banyak cerita yang tidak terlihat di balik deretan angka dalam rapor.Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan kepada siswa sesungguhnya memiliki kemiripan dengan pendekatan Coaching dalam Konteks Pendidikan, yaitu membantu peserta didik menemukan kesadaran, kekuatan, dan solusi dari dalam dirinya sendiri. 
Kejujuran yang Tidak Tercetak dalam Nilai Ada orang tua yang berpura-pura memarahi anaknya. 
 "Lho, kok nilainya begini?" Sang anak menjawab spontan sambil tersenyum, 
 "Lha aku memang nggak suka pelajarannya kok." Semua tertawa. 
 Ada pula siswa yang dengan jujur mengatakan, 
 "Pak, tugasnya susah ngumpulkannya. Gurunya susah ditemui." Ruangan kembali dipenuhi tawa hangat. Saat itu saya menyadari bahwa rapor ternyata bukan hanya tentang capaian akademik. 
Rapor juga bisa menjadi ruang aman bagi anak untuk menyampaikan pengalaman belajarnya secara jujur. Kadang-kadang, keberanian untuk berkata apa adanya jauh lebih berharga daripada angka yang tercetak pada lembar penilaian. Pertumbuhan yang Tidak Selalu Terlihat dalam Nilai Percakapan kemudian berlanjut. 
 Saya bertanya kepada para siswa, "Selama satu tahun ini, apa yang paling meningkat dalam dirimu?" Jawaban yang muncul sungguh menarik. Ada yang merasa kini lebih berani berbicara di depan umum. Ada yang merasa lebih disiplin mengatur waktu. Ada yang merasa lebih percaya diri dibandingkan sebelumnya. Yang membuat suasana semakin hangat adalah ketika orang tua ikut memberikan pengakuan atas perubahan tersebut. 
 "Iya, sekarang kamu memang lebih rajin membantu di rumah."
 "Iya, sekarang kamu lebih bertanggung jawab." Kalimat-kalimat sederhana itu menjadi bentuk apresiasi yang mungkin selama ini jarang terucapkan. Pada momen tersebut, saya melihat bagaimana pendidikan sesungguhnya tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga tumbuh dalam hubungan antara sekolah dan keluarga. 
Saat Guru Justru Belajar 
Jika tidak dibatasi waktu, mungkin percakapan-percakapan itu bisa berlangsung berjam-jam. Namun, bagian yang paling berkesan justru terjadi di akhir sesi. Saya meminta siswa dan orang tua memberikan penilaian kepada saya sebagai wali kelas, baik secara lisan maupun tertulis. Saat itulah saya merasa sedang belajar menjadi guru. Seorang wali murid menyampaikan sesuatu yang membuat saya terdiam. "Selama sebelas tahun mendampingi anak sekolah, baru kali ini saya benar-benar merasakan wali kelas seperti orang tua kedua bagi anak saya." Kalimat itu membuat saya kehilangan kata-kata. Bukan karena merasa sempurna sebagai guru, tetapi karena saya menyadari betapa besar harapan orang tua terhadap sosok yang mendampingi anak-anak mereka setiap hari di sekolah. 
Peran guru sebagai pendamping tumbuh kembang peserta didik juga menjadi salah satu semangat utama dalam Program Pendidikan Guru Penggerak, yaitu menghadirkan pembelajaran yang berpusat pada murid dan membangun kolaborasi dengan orang tua. 

Rapor Bukan Hanya Milik Siswa 

Pada akhirnya, rapor bukan hanya tentang nilai siswa. Rapor juga menjadi cermin hubungan antara guru, anak, dan orang tua. Angka-angka memang penting sebagai indikator pencapaian belajar. Namun, ada hal-hal yang jauh lebih berharga yang tidak dapat diukur oleh angka. Kejujuran. Keberanian. Kepercayaan. Kedekatan. Dan rasa saling memahami. Jumat kemarin, saya pulang dengan sebuah keyakinan baru: pembagian rapor dapat menjadi momen yang sangat bermakna ketika semua pihak diberi ruang untuk saling mendengar, saling memahami, dan saling bertumbuh. 
Mungkin beberapa tahun lagi anak-anak tidak lagi mengingat berapa nilai matematika atau bahasa Indonesia yang mereka peroleh. Tetapi mereka akan mengingat percakapan hangat yang terjadi di sekeliling rapor itu. Karena pada akhirnya, pendidikan yang membekas bukanlah tentang angka yang tertulis di atas kertas, melainkan tentang hubungan manusia yang tumbuh di dalamnya. Artikel inspiratif lainnya tentang pendidikan, pembelajaran, dan refleksi guru dapat dibaca di Sarastiana.com, sebuah ruang berbagi gagasan yang mengajak kita melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih manusiawi dan bermakna. Kunjungi juga Sarastiana.com untuk mendapatkan tulisan-tulisan terbaru seputar dunia pendidikan dan pengembangan karakter.
Informasi lebih lanjut tentang penulis dapat dibaca pada halaman Profil Penulis
Referensi: Grup WA GSM Kab.Purbalingga
Share this article now on :

Post a Comment