Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In

Merancang MPLS Impian Versi Murid

Student Voice
Selama bertahun-tahun, setiap kali tahun ajaran baru dimulai, narasi tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selalu didominasi oleh sudut pandang orang dewasa. Kita mendengar instruksi kepala sekolah, arahan dinas pendidikan, hingga pidato para pejabat kementerian. Mereka sibuk merumuskan regulasi, menetapkan apa yang boleh dan tidak boleh, serta mendefinisikan seperti apa orientasi sekolah yang "ideal."  
Namun, di tengah hiruk-pikuk suara orang dewasa itu, ada satu pertanyaan mendasar yang sering terlupa: Kapan anak-anak mendapat ruang untuk didengar? Bagaimanapun, mereka adalah aktor utama dari proses ini. Mereka yang menjalani hari-hari pertama dengan perut mulas karena gugup, menatap gerbang sekolah baru dengan campur aduk antara cemas dan antusias. Bukankah aneh jika desain masa depan mereka dirancang sepenuhnya tanpa melibatkan suara mereka?  
Kita turunkan ego orang dewasa, lalu duduk bersama dan membuka telinga lebar-lebar untuk mendengarkan celoteh, cerita, harapan, hingga kritik paling jujur langsung dari anak-anak kita. Apa yang Sebenarnya Mereka Rasakan? Untuk membangun sekolah yang memanusiakan manusia, kita perlu tahu titik berangkatnya. Lewat Student Voice ini, mari kita cari tahu: Apa pengalaman paling berkesan saat MPLS?  
Apakah momen saat menemukan teman sebangku yang klop, atau permainan seru yang membuat tawa pecah di aula? Apa yang membuat mereka merasa nyaman dan diterima? Apakah senyum ramah guru di gerbang depan, atau sapaan hangat kakak kelas yang tidak lagi memakai sekat senioritas? Apa yang justru kurang menyenangkan? Apakah tugas-tugas rumit yang bikin begadang, durasi duduk yang terlalu lama mendengarkan ceramah, atau instruksi yang membingungkan?  

Merancang MPLS Impian Versi Murid 

Bayangkan jika kendali itu diberikan kepada mereka. Kalau diberi kesempatan merancang sendiri, seperti apa MPLS impian versi mereka? Mungkin mereka ingin MPLS yang formatnya seperti festival seni, petualangan mencari jejak (RPG) untuk mengenal sudut sekolah, atau sesi diskusi santai di bawah pohon tanpa sekat meja-kursi yang kaku. Harapan-harapan kreatif seperti inilah yang sering kali tidak terpikirkan oleh cetak biru kurikulum orang dewasa.  

Sekolah Menyenangkan Dimulai dari Ruang Dengar  

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) selalu percaya bahwa perubahan ekosistem pendidikan tidak bisa berjalan satu arah. Sekolah yang menyenangkan tidak akan pernah terbangun jika pondasinya hanya disusun dari sudut pandang orang dewasa yang merasa paling tahu segalanya. Sekolah menyenangkan lahir dari keberanian kita sebagai guru, orang tua, dan pembuat kebijakan untuk memberi ruang bagi suara murid (student voice). Mari kita simak suara mereka. Karena setiap anak bukan sekadar angka di buku absen, bukan pula objek pasif peserta MPLS. Mereka adalah pemilik sah dari pengalaman belajar mereka sendiri, dan suara mereka sangat layak untuk didengar. Bagaimana dengan sekolah Anda? Apa cerita MPLS paling jujur yang pernah Anda dengar dari murid tahun ini?
Share this article now on :

Post a Comment