Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In

Pendampingan Individu 6 CGP Angkatan 6 Kab. Purbalingga

Dalam pendampingan guru penggerak ini, kita juga belajar bagaimana melakukan evaluasi kegiatan yang diawali dengan menganalisis rantai hasil, manajemen resiko, monev, sampai ke perancangan laporan. Program yang dibuat ini pun awalnya berdasarkan pada BAGJA. Memang, CGP diberi pengetahuan-pengetahuan praktis dalam merencakan, melaksanakan, serta pelaporan kegiatan. Tentunya disamping praktik-praktik pembuatan keputusan serta pemetaaan aset serta pengelolaannya.Dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2023.









Read More »
29 March | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 3.3 
Oleh 
Sarastiana,SPd,MBA 
CGP Angkatan 6 Kab.Purbalingga 

MULAI DARI DIRI MODUL 3.3
28 /2/ 2023
CGP melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar mereka di masa lalu untuk menyimpulkan apa yang dimaksud dengan program yang berdampak pada murid.

EKSPLORASI KONSEP MODUL 3.3
06 /03/ 2023
Eksplorasi Konsep 1: Melalui kegiatan membaca, diskusi, dan refleksi, CGP dapat mengkonstruksi pemahaman mereka tentang:1) Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan murid (students agency).2) Apa yang dimaksud dengan suara, pilihan dan kepemilikan murid dalam konsep kepemimpinan murid.3)Lingkungan yang mendukung tumbuhkembangnya kepemimpinan murid. 4) Bagaimana melibatkan komunitas untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid. Eksplorasi Konsep 2: 1) CGP akan melakukan diskusi asinkron untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang suara, pilihan dan kepemilikan murid.2) CGP akan menemukenali aspek suara, pilihan dan kepemilikan murid dalam sebuah contoh program atau kegiatan sekolah yang menjadi fokus diskusi.
RUANG KOLABORASI MODUL 3.3
7 /3/ 2023
CGP akan bekerja dalam kelompok untuk membuat dan mempresentasikan sebuah contoh (gambaran umum) dari sebuah program atau kegiatan sekolah yang mempromosikan kepemimpinan murid)

RUANG KOLABORASI PRESENTASI KELOMPOK
8/3/2023
Presntasi hasil diskkusi berkaitan dengan kasus yang disepakati berkaitan dengan kepemimpinan siswa. Diskusi dengan Peran 1. Host : Sarastiana, Presenter : Caroli Fika, Notulen : Wahyu, Penjawab : Anto K
     
DEMONTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.3
9/3/2023
CGP akan membuat sebuah prakarsa perubahan dalam bentuk rencana program/kegiatan yang memanfaatkan model manajemen perubahan BAGJA

ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 3.2
13/3/2023
CGP akan berdiskusi dan melakukan tanya jawab dengan instruktur untuk mengelaborasi pemahaman mereka terkait dengan program atau kegiatan pembelajaran yang menumbuhkan kepemimpinan murid. Instruktur : Lestia Primayanti

KONEKSI ANTAR MATER
13/3/2023
CGP akan melakukan koneksi antar materi yang telah dipelajari dari modul-modul sebelumnya untuk membuat sintesa pemahaman tentang program sekolah yang berdampak pada murid.
PENDAMPINGAN INDIVIDU 5
17/3/2023
Mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih telah berbagi praktik baik yang sudah dilakukan dari pembelajaran daring. Mendorong untuk terus memetakan sumber daya dalam melakukan perubahan dan perbaikan pembelajaran. Melakukan penilaian terhadap proses refleksi Calon Guru Penggerak berdasarkan rubrik pada lampiran. Mengisi Jurnal Pendampingan dalam LMS, mengisi daftar hadir, dan rencana pendampingan selanjutnya. Jika ada hal-hal terkait pembelajaran daring yang perlu diketahui oleh fasilitator, maka perlu dicatat dalam Jurnal Komunikasi di LMS.

LOKAKARYA 5
18/3/2023
Lokakarya 5 CGP Angkatan 6 Kab.Purbalingga dilaksanakan di SMA negeri 1 Padamara Kab.Purbalingga pada tanggal 18 Maret 2023.Pada kegiatan lokakarya ke 5 yaitu menjalankan tahapan inkuiri apresiasif (BAGJA)Yaitu merancang program berorentasi pada kepemimpinan murid (Student Agency ) dengan mengoptimalkan aset yang di miliki sekolah .Dalam kegiatan lokakarya ke 5 ini mempunyai tujuan belajar yaitu CGP Mampu memaknai data yang di peroleh dalam tahapan B(Buat pertanyaan ) dan A ( Ambil Pelajaran ) untuk menjadi informasi dalam merancang fase Gali mimpi. dan menyusun program rencana perubahan.


AKSI NYATA MODUL 3.3
15-20/3/2023
CGP menjalankan tahapan B (Buat Pertanyaan) & A (Ambil Pelajaran) berdasarkan model prakarsa perubahan B-A-G-J-A yang telah dibuat sebelumnya pada tahapan Demonstrasi Kontekstual dalam sebuah aksi nyata.

Read More »
26 March | 0komentar

Kompetensi Inti Coaching



Berdasarkan ICF (International Coaching Federation) ada 8 kompetensi inti namun untuk kebutuhan Pendidikan Guru Penggerak, terdapat 3 kompetensi inti yang penting dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada teman sejawat di sekolah. 
Kompetensi inti coaching: 
  1. Kehadiran Penuh/Presence 
  2. Mendengarkan Aktif 
  3. Mengajukan Pertanyaan Berbobot (Mendengarkan dengan RASA)
Kehadiran penuh/presence adalah kemampuan untuk bisa hadir utuh bagi coachee, atau di dalam coaching disebut sebagai coaching presence sehingga badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan percakapan coaching. 
Kehadiran penuh ini adalah bagian dari kesadaran diri yang akan membantu munculnya paradigma berpikir dan kompetensi lain saat kita melakukan percakapan coaching. Menghadirkan diri sepenuhnya atau presence penting dilatih agar kita bisa selalu fokus untuk bersikap terbuka, sabar, ingin tahu lebih banyak tentang coachee. 
Kompetensi ini penting untuk dihadirkan sebelum dan selama percakapan coaching dilakukan . Contoh kegiatan untuk melatih menghadirkan presence yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan kegiatan STOP dan Mindful Listening yang telah kita pelajari pada modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional yang lalu. 
Penting diingat tidak ada satu cara yang terbaik untuk semuanya karena setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk dapat menghadirkan presence. 

Mendengar dengan aktif
Salah satu keterampilan utama dalam coaching adalah keterampilan mendengarkan dengan aktif atau sering kita sebut dengan menyimak. Seorang coach yang baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit berbicara. Dalam percakapan coaching, fokus dan pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra bicara. Dalam hal ini, seorang coach harus dapat mengesampingkan agenda pribadi atau apa yang ada di pikirannya termasuk penilaian terhadap coachee. Kemampuan mendengarkan aktif atau menyimak perlu dilatih untuk fokus pada apa yang dikatakan oleh coachee dan memahami keseluruhan makna yang bahkan tidak terucapkan.

Mengajukan Pertanyaan Berbobot
Dalam melakukan percakapan coaching ketrampilan kunci lainnya adalah mengajukan pertanyaan dengan tujuan tertentu atau pertanyaan berbobot. Pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi.

Pertanyaan berbobot memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 
  • Hasil mendengarkan aktif: Menggunakan kata kunci yang didapat dari mendengarkan 
  • Membantu coachee: Membuat coachee mengingat, merenung, dan merangkai fakta sehingga dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya 
  • Bersifat terbuka dan eksploratif: Struktur kalimat terbuka, membuat coachee harus menjawab sambal berpikir 
  • Diajukan di momen yang tepat: Tidak terburu-buru dalam mengajukan pertanyaan dan ditanyakan di waktu yang coachee sudah siap memprosesnya 

Setelah kita mengetahui ciri-ciri pertanyaan berbobot, tentunya kita perlu mengetahui bagaimana kiat-kiat untuk mengajukan pertanyaan berbobot. Kiat-kiat yang dapat kita coba adalah sebagai berikut:
  • Merangkum pernyataan-pernyataan coachee dari hasil mendengarkan aktif. 
  • Menggunakan kata: Apa, Bagaimana, Seberapa, Kapan dan Dimana, dalam bentuk pertanyaan terbuka
  • Menghindari penggunaan kata tanya “mengapa” - karena bisa terasa ada “judgement”. Ganti kata “mengapa” dengan “apa sebabnya” atau “apa yang membuat” 
  • Mengajukan satu pertanyaan pada satu waktu, jangan memberondong Mengizinkan ada “jeda” atau “keheningan” setelah coachee selesai bicara, tidak buru-buru bertanya. Juga izinkan ada keheningan saat coachee memproses pertanyaan 
  • Menggunakan nada suara yang positif dan memberdayakan

Read More »
26 March | 0komentar

Paradigma Berpikir Among

Paradigma berfikir Coaching

Pada reflrksi diri paradigma berfikir coaching terdapat beberapa komponen dan telah di tulis pada postingan sebelumnya, klik disini. Dalam ruang kemerdekaan belajar, proses coaching juga merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak coach dan coachee. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat coachee melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga mendorong coachee berpikir secara kritis dan mendalam yang bermuara pada coachee dapat menemukan kekuatan diri dan potensinya untuk terus dikembangkan secara berkesinambungan atau menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat.
Pengembangan kekuatan dan potensi diri inilah yang menjadi tugas seorang coach (pendidik/pamong). Apakah pengembangan diri seorang coachee cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang coachee. Pengembangan diri baik seorang coach atau coachee dapat dimaksimalkan dengan proses coaching. 
Coaching, sebagaimana telah dijelaskan pengertiannya dari awal memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi diri sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Proses coaching yang berhasil akan menghasilkan kekuatan bagi coach dan coachee untuk mengembangkan diri secara berkesinambungan.


Sumber: Modul Pendidikan Guru Penggerak

Read More »
25 March | 0komentar

Tentang Pendampingan Individu Guru Penggerak (PI Ku)

Guru Indonesia yang diharapkan tersebut mencirikan lima karakter yaitu berjiwa nasionalisme Indonesia, bernalar, pembelajar, profesional, dan berorientasi pada peserta didik. Berbagai kebijakan dan program sedang diupayakan untuk hal tersebut dengan melibatkan berbagai pihak menjadi satu ekosistem pendidikan yang bergerak dan bersinergi dalam satu pola pikir yang sama antara masyarakat, satuan pendidikan, dan pemangku kebijakan. Program tersebut dinamakan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sejatinya mengembangkan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru sebagai bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar melalui pendidikan guru. 
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pengembangan pengalaman guru maka diperlukan pembimbingan dalam bentuk pendampingan individu kepada guru penggerak. Pendampingan individu adalah proses coaching dan mentoring Pengajar Praktik kepada Calon Guru Penggerak.
Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan  pendampingan individu yang dilakukan oleh Pengajar Praktik. 

Tujuan 
Pendampingan individu bertujuan untuk membantu Calon Guru Penggerak menerapkan hasil pembelajaran daring dan lokakarya sehingga Calon Guru Penggerak mampu: 
  • mengembangkan diri sendiri dan juga guru lain dengan cara melakukan refleksi, berbagi, dan kolaborasi; 
  • memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik;
  • merencanakan, menjalankan, merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua. 

Berikut Pendampingan individu saya selama menjadi CGP dalam masa Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 6 Kabupeten Purbalingga:

foto Pendampingan Individu :


PI 1

PI 2


PI 3


PI 4


PI 5

PI 6


Read More »
25 March | 0komentar

Pendampingan Individu 5


Pendampingan Individu 5 dilaksanakan pada Hari Jumat, 17 Maret 2023.

Bagian inti pendampingan Individu 5 adalah PP (Pengajar Praktik) menjelaskan tujuan khusus pendampingan. Diskusi hasil pemetaan sumber daya dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan: 
Apa yang Bapak/Ibu temukan ketika melakukan proses pemetaan sumber daya? 
Adakah hal-hal menarik dan khusus yang ditemukan? 
Perubahan apa yang Bapak/Ibu harapkan dapat terjadi di lingkungan sekolah setelah Bapak/Ibu mengetahui sumber daya yang ada dan bagaimana Bapak/Ibu mewujudnyatakan perubahan tersebut?
Bagaimana Bapak/Ibu akan menggunakan hasil pemetaan yang diperoleh untuk memaksimalkan potensi sekolah? 
Refleksi proses pembuatan peta sumber daya dengan menggunakan pertanyaan: 
Bagaimana proses Bapak/Ibu dalam menemukan/mengidentifikasi sumber daya yang ada di sekolah?
Apa saja kendala dan tantangan yang Bapak/Ibu hadapi saat melakukan identifikasi sumber daya sekolah dan bagaimana Bapak/Ibu mengatasinya? 
Bagaimana perasaan Bapak/Ibu ketika berhasil mengidentifikasi sumber daya sekolah? 
Apa pertimbangan Bapak/Ibu dalam menentukan sumber daya sekolah? 
Apakah terdapat hal lain yang dapat dijadikan sumber daya sekolah yang belum Bapak/Ibu temukan dalam proses yang sudah berlangsung? 

Refleksi proses pengambilan keputusan dengan menggunakan pertanyaan: 
Berdasarkan hasil pemetaan yang Bapak/ Ibu lakukan, bagaimana hal tersebut memengaruhi proses pengambilan keputusan yang dilakukan Bapak/ Ibu? 
Apa hal yang menurut Bapak/ Ibu masih perlu dikembangkan atau perlu dievaluasi? 
Apa hal yang menurut Bapak/ Ibu mendukung keberhasilan dari keputusan yang diambil? 
Adakah pengalaman yang terjadi (baik dalam waktu dekat ataupun sebelum mengikuti Pendidikan Guru Penggerak) yang mencerminkan dilema etika, baik itu terkait murid maupun rekan sejawat? 
Menurut Bapak/Ibu, apakah proses pengambilan keputusan yang dilakukan sudah sesuai dengan prinsip dan langkah yang dipelajari di modul 3.1? 
Apa hal yang menurut Bapak/ Ibu masih perlu dikembangkan atau perlu dievaluasi dari proses pengambilan keputusan tersebut? 

Refleksi pencapaian kompetensi bulan ke-5 berdasarkan Lembar Pengecekan Mandiri Kompetensi pada Lokakarya 5 dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: 
Apa saja pencapaian Bapak/Ibu pada pembelajaran bulan ini? 
Apakah terdapat tantangan dan kesulitan selama proses pembelajaran dan bagaimana Bapak/Ibu menanggapi tantangan dan kesulitan tersebut? 
Bagaimana Bapak/Ibu akan menggunakan pencapaian tersebut untuk proses pembelajaran selanjutnya?

Bagian akhir pendampingan 
Mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih telah berbagi praktik baik yang sudah dilakukan dari pembelajaran daring. Mendorong untuk terus memetakan sumber daya dalam melakukan perubahan dan perbaikan pembelajaran. Melakukan penilaian terhadap proses refleksi Calon Guru Penggerak berdasarkan rubrik pada lampiran. Mengisi Jurnal Pendampingan dalam LMS, mengisi daftar hadir, dan rencana pendampingan selanjutnya. Jika ada hal-hal terkait pembelajaran daring yang perlu diketahui oleh fasilitator, maka perlu dicatat dalam Jurnal Komunikasi di LMS.

Read More »
24 March | 0komentar

Lokakarya 5 CGP Angkatan 6 Kabupaten Purbalingga

 


Lokakarya 5 CGP Angkatan 6 Kab.Purbalingga dilaksanakan di SMA negeri 1 Padamara Kab.Purbalingga pada tanggal 18 Maret 2023.Pada kegiatan lokakarya ke 5  yaitu menjalankan tahapan inkuiri apresiasif (BAGJA)Yaitu merancang program berorentasi pada kepemimpinan murid (Student Agency )  dengan mengoptimalkan aset yang di miliki sekolah .Dalam kegiatan lokakarya ke 5 ini mempunyai tujuan belajar yaitu 
1. CGP Mampu memaknai data yang di peroleh dalam tahapan B(Buat pertanyaan ) dan A ( Ambil Pelajaran ) untuk menjadi informasi dalam merancang fase Gali mimpi . 
2. CGP Dapat menentukan actor --aktor yang akan di libatkan dalam fase gali mimpi sekaligus menyusun  strategi pelibatan actor. 
3) Membuat rencana program berkaitan dengan Perubahan yang ditawarkan pada kepemimpinan murid






Read More »
23 March | 0komentar

Pendampingan Individu 3 CGP

 


Di Pendampingan Individu ke-3 ini, PP bersama CGP focus pada: 
1) Refleksi hasil survey (feedback 360) dan penialaian sendiri tentang kompetensi guru penggerak; 
2) Diskusi rencana menerapkan pembelajaran sosial-emosional; 
3) Diskusi hasil Lokakarya 2 (keterlaksanaan dari tahapan BAGJA); 
4) Refleksi 

Hal-hal yang dibahas/dibicarakan selama proses pendampingan individu ke-3 berlangsung: 
 a) Di bagian Awal Pendampingan 
 PP menyapa dan menanyakan kabar para CGP dan menjelaskan bahwa Aktivitas pendampingan kali ini, tentang kompetensi CGP dari hasil umpan balik, kemudian praktik baik di kelas dan di sekolah terkait dari Modul 2.2. Dan kelanjutan dari PI 2 tentang prakarsa perubahan dan visi sekolah. PP mengingatkan dan memastikan para CGP telah meng-input instrumen lembar umpan balik (Lampiran 5)  ke LMS sesuai dengan responden yang telah ditetapkan. 

b) Bagian Inti Pendampingan
 PP dan CGP berdiskusi dan merefleksi hasil survei (umpan balik 360 derajat) dan asesmen mandiri tentang kompetensi guru penggerak, PP menggali CGP untuk menyampaikan hasil analisis dan refleksi dari umpan balik 3600(Lampiran 2) dan asesmen mandiri tentang kompetensi guru penggerak. PP dapat memberikan pertanyaan lanjutan kepada CGP dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik kepada CGP tentang kompetensi guru penggerak, apa yang kurang baik/ perlu ditingkatkan menurut responden terhadap kompetensi bapak/Ibu? Jelaskan menurut masing-masing responden (kepala sekolah, rekan sejawat, dan murid). 
Apa rencana Bapak/Ibu ke depannya untuk semakin mengasah kompetensi guru penggerak yang harus Bapak/Ibu miliki? Siapa saja yang akan Bapak/Ibu libatkan untuk meningkatkan kompetensi guru penggerak yang harus Bapak/Ibu miliki? Diskusi PP dengan CGP tentang Rencana penerapan pembelajaran sosial-emosional. PP mengajak CGP berdiskusi terkait rencana penerapan pembelajaran sosial-emosional, dengan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang mengarah ke implementasi CGP setelah mempelajari modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional muai dari perencanaan dan pelaksanaanya.



Read More »
23 March | 0komentar

Pendampingan Individu 1


Pendampingan 1 dilaksanakan tanggal 27 Oktober 2022 bersama Pengajar Praktik Bp. Muhammad Syaefurohman. Fokus pendampingan individu-1 pada Pendidikan Guru Penggerak terdiri dari hal yang berkaitan dengan tugas-tugas CGP. Kegiatannya meliputi tindak lanjut hasil belajar, tindak lanjut hasil lokakarya orientasi, pembuatan kerangka portofolio digital serta posisi diri dan rencana pengembangan kompetensi. 
Pada kegiatan ini Pengajar Praktik (PP) melalukan pendampingan dengan PP berusaha memberikan pertanyaan terbuka terkait permasalahan yang dihadapi oleh CGP. 
  • Apa yang mendorong Anda melakukan perubahan tersebut?
  • Bagaimana respons peserta didik Anda atas perubahan yang dilakukan? 
  • Bagaimana Anda memandang respons tersebut?
  • Apa hal yang sudah baik dari perubahan tersebut? 
  • Apa hal yang akan Anda lakukan/ rencanakan setelah pendampingan ini terkait perubahan praktik pembelajaran di kelas sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.
Pada akhir coaching, CGP mampu merumuskan sendiri solusi dari permasalahan yang dihadapinya. Secara umum aktivitas pembelajaran selama pendampingan individu-1 berjalan lancar. Hal ini karena adanya komunikasi awal dengan CGP sebelum PP melakukan pendampingan. Pada tahap awal pendampingan, pendamping terlebih dahulu menanyakan kabar. Setelah itu menyampaikan tujuan dan fokus pendampingan. Tidak lupa meminta CGP menyiapkan dokumen yang dibutuhkan dalam pendampingan. 
Dokumen tersebut meliputi Lembar Kerja 2 Posisi Diri, Kerangka Portofolio Digital, dan dokumentasi aksi nyata.  Pada tahap tindak lanjut hasil belajar, Solusi yang berhasil ditemukan terkait upaya mengembangkan diri dan orang lain. Melalui diskusi CGP mendapat gambaran tentang teknis implementasi aksi nyata sub modul 1.4. 
Tahap selanjutnya adalah Pembuatan Kerangka Portofolio Digital. Sesi ini dijalankan dengan model mentoring. CGP memperoleh bimbingan dalam mengunggah aksi nyata dan dokumen lainnya ke portofolio digital yang sudah dibuat. CGP juga memperoleh masukan dari PP terkait menu wajib dalam portofolio digital. Pada tahap ini, terjadi perkembangan kompetensi CGP dalam mengelola portofolio digital sehingga tampilannya lebih menarik.  
Diakhir pendampingan, CGP melakukan refleksi terkait pendampingan. Hasil refleksi menunjukkan bahwa pendampingan individu-1 telah berjalan dengan baik. 




Read More »
23 March | 0komentar

Roadmap Calon Guru Penggerak

 



Read More »
19 March | 0komentar

Tema Pendampingan Individu CGP Angkatan 6

 

Tema Pendampingan

Fokus Pendampingan

PI-1: Refleksi awal kompetensi guru penggerak

  1. Diskusi tantangan belajar daring 
  2. Refleksi penerapan perubahan kelas sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara
  3. Diskusi pembuatan kerangka portofolio
  4. Diskusi peta posisi diri dan rencana pengembangan diri dalam dalam kompetensi guru penggerak

    PI-2: Perubahan paradigma pemimpin pembelajaran



    1. Diskusi refleksi diri tentang lingkungan belajar di sekolah 
    2. Diskusi refleksi perubahan diri setelah mempelajari modul 1.1, 1.2 dan 1.3
    3. Diskusi rencana merintis komunitas praktisi di sekolah, berdasarkan hasil pemetaan di lokakarya 1
    4. Mengkomunikasikan visi dan prakasra perubahan ke KS dan warga sekolah dengan dimoderasi oleh PP

      PI-3: Implementasi Pembelajaran yang Berpihak pada Murid

      1. Refleksi hasil survei (feedback 360) + penilaian sendiri tentang kompetensi guru penggerak
      2. Diskusi rencana menerapkan pembelajaran sosial-emosional
      3. Diskusi hasil lokakarya 2 (keterlaksanaan dari tahapan BAGJA)

        PI-4: Evaluasi dan Pengembangan Proses Pembelajaran

        1. Observasi kelas CGP untuk melihat penerapan dari modul budaya positif, pembeljaaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial-emosional 
        2. Penilaian Observasi Praktik Pembelajaran. 

        PI-5: Rancangan Program yang Berpihak pada Murid

        1. Refleksi penerapan aksi nyata modul 3.1 
        2. Diskusi rancangan program yang berdampak pada murid
        3. Diskusi perkembangan komunitas praktisi yang dijalankan di sekolah serta implementasi dari rencana di lokakarya 3 untuk berbagi ke rekan sejawat

        PI-6: Refleksi perubahan diri dan dampak pendidikan

        1. Persiapan panen hasil belajar
        2. Pengumpulan survei umpan balik dan refleksi hasil survei tentang kompetensi guru penggerak (feedback 360)
        3. Refleksi perubahan dalam pembelajaran yang sudah diterapkan selama 6 bulan, diskusikan dampak pada diri guru dan murid yang terjadi
        4. Penilaian pemetaan aset; diskusi apakah tujuan program sudah dikomunikasikan ke warga sekolah

        Read More »
        19 March | 0komentar

        Contoh Notulen Pemetaan Aset


        Notulen rapat adalah catatan yang dibuat untuk merekam kejadian/ kegiatan selama rapat. Notulen menyoroti isu-isu kunci yang dibahas, mosi yang diusulkan atau dipilih, dan kegiatan yang akan dilakukan. Notulen rapat biasanya dibuat oleh anggota kelompok yang ditunjuk. Tugas mereka adalah memberikan catatan akurat tentang apa yang terjadi selama pertemuan. Dalam pengaturan informal, catatan pertemuan dibuat untuk memberikan catatan diskusi untuk referensi di masa mendatang. Dalam pengaturan yang lebih formal, misalnya, untuk rapat penelusuran aset sekolah. 
        Berikut contoh notulen rapat yang dilakukan saat penelusuran dan identifikasi aset pada tugas Aksi Nyata Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Semoga bermanfaat.


        Read More »
        19 March | 0komentar

        Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3

        Calon Guru Penggerak Angkatan 6 Kab. Purbalingga 
        Oleh : Sarastiana, S.Pd, MBA 



         MODEL 4F (FACTS, FEELINGS, FINDINGS, FUTURE) 
        Jurnal refleksi adalah untuk menuangkan perasaan, gagasan dan pengalaman praktik baik yang telah dilakukan dengan memilih model refleksi Model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). Sebagai refleksi pembelajaran dan aktivitas yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali dengan mempelajari konsep modul 3.3 Modul Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid mulai dari diri, Eksplorasi Konsep dilanjut kegiatan ruang kolaborasi, demostrasi kontekstual, Elaborasi Konsep dan koneksi antar materi dan Aksi nyata. 

        1.Facts (Peristiwa) 
        Modul 3.3 Pengelolaan program berdampak positif bagi siswa. Ini adalah paket modul terakhir untuk calon guru di Angkatan 6 Kabupaten Purbalingga melalui LMS. Kegiatan dimulai pada hari Rabu tanggal 1 Februari 2023 Mulai dari diri, di Ruang Kolaborasi 1 dan pada hari Rabu tanggal 9 Februari 2023 di Ruang Kolaborasi 2 dengan guru pendamping CGP Muhamad Syaefudin,SPd. Kemudian dilanjutkan dengan refleksi terbimbing dan demonstrasi kontekstual. Demonstrasi kontekstual merupakan rancangan program yang mempengaruhi siswa melalui pelaksanaan langkah-langkah BAGJA. BAGJA berarti mengajukan pertanyaan, mengambil pelajaran, mengeksplorasi mimpi, membuat rencana dan mengatur eksekusi. Setelah demonstrasi terkait konteks selesai, dampak positif dari modul pemahaman manajemen program 3.3 pada siswa diikuti pada hari Jumat, 11 November 2022. Kami CGP angkatan 6 Kabupaten Purbalingga menjelaskan kaitan antar materi pada Modul 3.3. Modul ini memberikan penjelasan tentang latar belakang judul dan kaitannya dengan modul sebelumnya. Kaitan dengan materi sebelumnya pada modul 3.2 Pemetaan Aset Sekolah dalam Pengelolaan Sumber Daya. Dimana aset milik sekolah harus dikelola dengan baik untuk menggali potensi peserta didik agar tercapai maksimalisasi pendidikan sesuai dengan karakter dan usia peserta didik, sebagaimana cita-cita Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan nasional. Aset sekolah meliputi modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan, modal ekonomi, modal politik, modal agama dan budaya. 

        2.Feelings (Perasaan) 
        Perasaan saya saat mempelajari modul ini yaitu membahagiakan sekaligus menyedihkan. Membahagiakan meskipun banyak tugas yang harus dikerjakan, Alhamdulillah, dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Jika pikiran diibaratkan sebuah gelas, berusaha saya kosongkan supaya saya bisa menerima ilmu yang saya pelajari dari PGP ini. Saya berupaya akan adanya perubahan sebagai guru sebelum dan sesudah mengikuti PGP karena tugas sebagai Guru Penggerak sangatlah luar biasa yaitu untuk mengimplementasikan Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid. Adapun hal yang menyedihkan adalah vicon terakhir kami dengan Fasilitator kami yaitu Ibu Sulastri yang selama kami menjalani program guru penggerak selalu sabar dan juga telaten membimbing kami dalam mengerjakan tugas-tugas di LMS. Meskipun kami belum pernah bertemu dengan beliaunya secara langsung, akan tetapi kedekatan beliau dengan kami, diibaratkan Ibu dengan anak. 

        3.Findings (Pembelajaran) 
        Modul 3.3 melengkapi pemahaman saya bahwa program yang dirancang dan dibuat harus memuat contents voice/suara, choice/pilihan dan ownership/kepemilikan murid. Membuat program yang berdampak pada siswa dilakukan melalui alokasi yang tepat dari sumber daya/peluang yang dimiliki oleh sekolah. Pemetaan aset yang benar memudahkan pengoptimalan program agar berjalan dengan lancar dan, tentu saja, membantu meminimalkan hambatan. Optimalisasi aset yang tepat tentu akan memudahkan terwujudnya visi dan misi sekolah. Modul ini juga akan menambah pengetahuan kita tentang CGP dalam mengelola program yang mempengaruhi siswa melalui strategi MELR (Monitoring, Evaluation, Learning and Reporting). Selain itu, kami juga diajarkan pentingnya analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dalam rencana program yang dibuat. Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats) ini juga berguna untuk memitigasi risiko pelaksanaan program yang berdampak pada siswa di SMK Negeri 1 Bukateja Modul pembelajaran 3.3 merupakan poin yang harus dimiliki oleh kepala sekolah agar lebih kreatif, inovatif dan sinergis untuk mengembangkan sumber daya yang ada di sekolah. Program yang dikelola dengan baik mempengaruhi kemandirian belajar dan tentunya menghasilkan siswa yang berprofil siswa pancasila. 

        4.Future (Penerapan) 
        Rencana ke depan dengan materi yang diperoleh sebagai CGP dibagikan dengan rekan kerja dan menerapkan apa yang saya pelajari di sekolah. Dalam penyusunan program yang direncanakan, tentunya perlu dicantumkan contents voice/suara, choice/pilihan dan ownership/kepemilikan murid. Saat menghadapi Purbalinggaa, CGP sudah tahu bagaimana meminimalkan risikonya.

        Read More »
        17 March | 0komentar

        Aksi Nyata Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

        Setelah itu CGP Mengundang Semua Unsur dalam satu Komunikasi Diskusi

        Pada Aksi Nyata di Modul 3.2 ini CGP mengidentifikasi Sumber Daya dengan melakukan survey kepada Kepala Sekolah, Guru, Siswa Tokoh Masyarakat, Komite sekolah dan Masyarakat Lingkungan sekolah.
        Sumber daya sebagai suatu komunitas sekolah adalah suatu kesatuan yang tidak bisa berdiri sendiri. Dalam pengelolaan sumber daya oleh Pemimpin Pembelajaran dalam pemanfaatan pada aset-aset sekolah yang dimiliki dikelola dengan baik oleh seorang pemimpin pembelajaran. Pemanfaatan sumber daya yang ada di sekolah menjadi modal utama dalam membangun kekuatan atau potensi dalam ruang lingkup warga sekolah, lingkungan dan masyarakat, yang bermuara pada kebermanfaatan bagi peserta didik. Sebagai sebuah ekosistem di sekolah sumber daya yang ada saling berhubungan/ interaksi atau hubungan timbal balik atau saling ketergantungan antara komponen dalam ekosistem, yaitu dalam hal ini adalah komponen biotik yaitu unsur yang hidup dan komponen abiotik, yaitu unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. 
        Faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup) ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya, seperti hubungan antara Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua dan Masyarakat sekitar sekolah. Sedangkan faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah: Keuangan dan Sarana dan prasarana termasuk media pembelajaran dan sarana teknologi informasi.



        Read More »
        11 March | 0komentar

        3.3.a.6 Demonstrasi kontekstual Modul 3.3



        Oleh 
        Sarastiana,SPd,MBA 
        CGP Angkatan 6 Kab.Purbalingga 

        Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid 


        Tujuan Pembelajaran Khusus: 
        CGP dapat mengembangkan ide dari ruang kolaborasi menjadi sebuah prakarsa perubahan dalam bentuk rencana program/kegiatan yang memanfaatkan model manajemen perubahan BAGJA. 


        Dasar filosofi KHD 
        Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat) 


        Poin Komponen Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan 
        • Bernalar kritis, mengembangkan pelajar yang mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi, dan menyimpulkannya. 
        • Kreatif mengembangkan pelajar menghasilkan gagasan yang orisinal dan menghasilkan karya serta tindakan yang orisinal. 


        Karakteristik Lingkungan Pendukung Tumbuhnya Kepemimpinan Murid yang Akan Dikembangkan :
        Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan. 

        PRAKARSA PERUBAHAN 


        Raih Mimpi melalui Literasi Digital 
        • Peserta didik membiasakan diri dengan kegiatan literasi secara digital mengenai kompetensi keahliannya masing-masing, 
        • Peserta didik membuat ringkasan yang telah dibaca pada kegiatan literasi digitalnya 
        • Peserta didik dapat memanfaatkan kegiatan literasi digitalnya dengan membuat mind map tentang kompetensi keahliannya secara mendalam 
        Literasi digital telah bergeser dari literasi baca tulis konvensional dengan menggunakan media cetak ke media elektronik yang lazim disebut literasi digital. Mengupayakan peserta didik mampu membangun kebiasaan baik yakni literasi digital. Kegiatan ini bertujuan memahami dan menerapkan Literasi digital dalam kehidupan sehari-harinya dikarenakan orientasi siswa lulus sekolah adalah bekerja dan telah memahami kompetensi keahliannya secara mendalam.

        TAHAPAN BAGJA








        Read More »
        11 March | 4komentar

        7 Karakteristik Lingkungan Yang Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid

        Literasi Digital Menumbuhkan Kepemimpinan Murid

        Di dalam panduan Program Guru Penggerak (PGP) dari filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan anak adalah bahawa padi yang hanya akan tumbuh subur pada lingkungan yang tepat, maka kepemimpinan murid pun akan tumbuh dengan lebih subur jika sekolah dapat menyediakan lingkungan yang mendukung. Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah lingkungan di mana guru, sekolah, orangtua, dan komunitas secara sadar mengembangkan wellbeing atau kesejahteraan diri murid-muridnya secara optimal. Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah: 
        1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, hingga berkemampuan dan berkeinginan untuk memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya. 
        2. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana.
        3. Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya. 
        4. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. 
        5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan. 
        6. Lingkungan tersebut berkomitmen untuk menempatkan murid sedemikian rupa sehingga aktif menentukan proses belajarnya sendiri. 
        7. Lingkungan tersebut menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
        Penjelasannya:
        1. Pola pikir positif ini didapatkan oleh murid melalui pengalaman emosi positif di sekolah. Murid merasa aman, nyaman, dan merasa menjadi bagian dari komunitas sekolah, Murid merasakan keselarasan antara kebutuhan dan harapannya terhadap sekolah dan lingkungannya dengan pengalaman belajar yang didapatnya di sekolah. Lewat pengalaman emosi positif ini, murid akan mampu mengembangkan keterampilan inkuiri, menunjukkan sikap gembira, penuh syukur, saling mengapresiasi. Mereka memiliki kesadaran diri, sikap optimis sehingga dapat berperan aktif dan membuat perbedaan yang positif baik untuk dirinya sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitarnya.
        2. Di dalam lingkungan yang seperti ini, nilai-nilai tersebut kemudian akan mewujud menjadi atmosfer sekolah yang positif, di mana hubungan dan interaksi sosial yang terjalin di antara para murid, guru, orang tua maupun seluruh komunitas yang terkait akan terasa sangat positif dan kontributif.
        3. Dalam lingkungan ini, murid akan belajar tentang nilai-nilai ketekunan serta kerja keras. Murid akan belajar untuk mampu melihat sejauh mana kemajuan proses belajarnya. Murid mampu mengerjakan tugas sekolahnya secara mandiri, memiliki pemahaman yang benar dan cakap sehingga berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
        4. Lingkungan yang seperti ini akan membantu murid untuk dapat menerapkan dan mempergunakan apa yang menjadi kekuatan dirinya dan memanfaatkan serta menerapkannya dalam berbagai konteks yang berbeda-beda.
        5. Lingkungan yang seperti ini akan memberikan kesempatan bagi murid untuk melihat dirinya sebagai bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar di luar dirinya. Lingkungan ini akan memberikan peluang bagi murid untuk belajar melalui pelayanan kepada masyarakat dan komunitas di mana mereka akan dapat terus mengasah rasa kemanusiaan, kepedulian, dan rasa cinta kasih.
        6. Lingkungan yang seperti ini akan menyediakan berbagai kegiatan belajar yang menarik, menantang, dan bermakna, di mana dalam prosesnya murid akan merasa senang hati dan menikmati setiap momen pembelajarannya.
        7. Lingkungan ini akan membantu murid untuk berani menerima tantangan, berjiwa besar, dan selalu bangkit lagi dan berusaha mencari solusi bila menemui kegagalan. Lingkungan ini akan memungkinkan murid untuk selalu mengambil pelajaran dari setiap kegagalan kegagalan yang dijumpainya dan berusaha untuk menemukan cara-cara alternative atau cara yang paling tepat. 
         (disadur dari Noble, T. & H. McGrath, 2016)

        Read More »
        07 March | 4komentar

        Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid, Student Agency

        Studen Agency, Pilketos Kansika 2022

        Sesuai dengan postingan sebelumnya berkaitan dengan student agency,  murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka. 

        Read More »
        03 March | 0komentar

        Kepemimpinan Murid (Student Agency)



        "Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat" (Ki Hadjar Dewantara).


        Melalui filosofi dan metafora “menumbuhkan padi”, Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, kita harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian, saat kita merancang sebuah program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama. Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana kita dapat menempatkan murid dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan program/kegiatan pembelajaran tersebut? Kita semua tentu sepakat bahwa murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Mereka secara alami adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Lewat rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, murid-murid kita sebenarnya memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri. 
        Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran kita adalah: 
        1. Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya. 
        2. Mengurangi kontrol kita terhadap mereka


        Saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan “agency”. Agency dapat diartikan sebagai kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui tindakan-tindakan yang dibuatnya. Albert Bandura dalam artikelnya, Toward a Psychology of Human Agency (2006) mengatakan, bahwa menjadi seorang agent (seseorang yang memiliki agency) berarti orang tersebut secara sengaja mempengaruhi fungsi dan keadaan hidup dirinya. Dalam pandangan ini, pengaruh pribadi merupakan bagian dari struktur kausal. Orang-orang sebenarnya dapat mengatur diri sendiri, bersikap proaktif, meregulasi diri sendiri, dan merefleksikan diri. Mereka bukan hanya dapat menjadi penonton dari perilaku mereka sendiri, tetapi adalah kontributor untuk keadaan hidup mereka sendiri.
        Lebih lanjut, dalam artikel yang sama Bandura juga mengatakan bahwa ada empat sifat inti dari human agency, yang dalam modul ini kita singkat dengan akronim IVAR untuk memudahkan mengingat, yaitu: 1. I - Intensi = Kesengajaan (intentionality). Seseorang yang memiliki agency bukan hanya memiliki sekedar niat, tetapi di dalam niat mereka sudah termasuk rencana tindakan dan strategi untuk mewujudkannya. Orang yang memiliki agency akan memahami bahwa dalam mewujudkan niatnya, ia juga harus mempertimbangkan keinginan pihak lain, sehingga berupaya untuk menemukan niatan bersama dan mengelola kesaling-tergantungan rencana. 
        2. V - Visi = Pemikiran ke depan (forethought). Pemikiran ke depan di sini bukan hanya sekedar rencana yang mengarahkan masa depan. Mereka yang berpikiran ke depan menjadikan visi (representasi kognitif dari visualisasi masa depan) sebagai pemandu dan memotivasi tindakan-tindakan mereka saat ini. Hal ini membuat mereka menjadi individu yang bersemangat dan bertujuan. 
        3. A - Aksi = Kereaktifan-diri (self-reactiveness). Seseorang yang memiliki agency, bukan hanya seorang perencana dan pemikir ke depan. Mereka juga seorang pengendali diri (self-regulator). Setelah memiliki niat dan rencana, ia tidak akan duduk diam dan menunggu. Mereka memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi aksi atau tindakan yang tepat dan untuk memotivasi serta mengatur eksekusinya.
        4. R - Refleksi = Kereflektifan-diri (self-reflectiveness). Seseorang yang memiliki agency akan memiliki kesadaran yang baik akan fungsi dirinya. Mereka akan melakukan refleksi terhadap efikasi dirinya, kecemerlangan dan ketepatan pikiran dan tindakannya, dan kebermaknaan dari upaya yang mereka lakukan dalam pencapaian tujuan, serta akan melakukan perbaikan jika diperlukan. Kemampuan metakognitif untuk melakukan refleksi diri sendiri dan kecukupan pemikiran dan tindakan seseorang adalah sifat yang paling jelas dari orang yang memiliki agency.


        Murid mendemonstrasikan “student agency” ketika mereka mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya. Mengingat bahwa kata agency ini belum ada padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, maka untuk kepentingan pembahasan di dalam modul ini, maka istilah student agency ini selanjutnya akan diterjemahkan sebagai “kepemimpinan murid”. 
        Mengacu pada OECD (2019:5), ‘kepemimpinan murid’ berkaitan dengan pengembangan identitas dan rasa memiliki. Ketika murid mengembangkan agency, mereka mengandalkan motivasi, harapan, efikasi diri, dan growth mindset (pemahaman bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan) untuk menavigasi diri mereka menuju kesejahteraan lahir batin (wellbeing). Hal inilah yang kemudian memungkinkan mereka untuk bertindak dengan memiliki tujuan, yang membimbing mereka untuk berkembang di masyarakat.

        Konsep kepemimpinan murid sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid memiliki kemampuan dan keinginan untuk secara positif mempengaruhi kehidupan mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka. Kepemimpinan murid dapat dilihat sebagai kapasitas untuk menetapkan tujuan, melakukan refleksi dan bertindak secara bertanggung jawab untuk menghasilkan perubahan. Kepemimpinan murid adalah tentang murid yang bertindak secara aktif, dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab, daripada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain. Ketika murid menunjukkan agency dalam pembelajaran mereka sendiri, yaitu ketika mereka berperan aktif dalam memutuskan apa dan bagaimana mereka akan belajar, maka mereka cenderung menunjukkan motivasi yang lebih besar untuk belajar dan lebih mampu menentukan tujuan belajar mereka sendiri. Lewat proses yang seperti ini, murid-murid akan secara alamiah mempelajari keterampilan belajar (belajar bagaimana belajar). 

        Keterampilan belajar ini adalah sebuah keterampilan yang sangat penting, yang dapat dan akan mereka gunakan sepanjang hidup mereka dan bukan hanya untuk saat ini. Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat kemitraan.

        Dalam hubungan yang bersifat kemitraan ini, saat murid belajar mereka akan: 
        - berusaha untuk memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapainya 
        - menunjukkan keterlibatan dalam proses pembelajaran 
        - menunjukkan tanggung jawab dalam proses pembelajaran 
         - menunjukkan rasa ingin tahu 
        - menunjukkan inisiatif 
        - membuat pilihan-pilihan tindakan 
        - memberikan umpan balik kepada satu sama lain. 

        Di sisi lain, guru yang akan mengambil peranan sebagai mitra murid dalam belajar akan: 
        - berusaha secara aktif mendengarkan, menghormati, dan menanggapi ide-ide, pendapat, pertanyaan, aspirasi dan perspektif murid-murid mereka
        - memperhatikan kemampuan, kebutuhan, dan minat murid-murid mereka untuk memastikan proses pembelajaran sesuai untuk mereka 
        - mendorong murid untuk mengeksplorasi minat mereka dengan memberi mereka tugas-tugas terbuka 
        - menawarkan kesempatan kepada murid untuk menunjukkan kreativitas dan mengambil risiko 
        - mempertimbangkan sejauh mana tingkat bantuan yang harus diberikan kepada murid berdasarkan informasi yang mereka miliki 
        - menunjukkan minat dan keingintahuan untuk mendengarkan dan menanggapi setiap aktivitas murid untuk memperluas pemikiran mereka.

        Untuk lebih memahami konsep kepemimpinan murid, Ibu/Bapak dapat membaca tabel berikut ini:


        Sumber: Modul 3.3 Guru Penggerak Angkatan 6 Kab. Purbalingga

        Read More »
        02 March | 0komentar