Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by relevance for query membentuk karakter peserta didik. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query membentuk karakter peserta didik. Sort by date Show all posts

Materi MPLS Tahun Ajaran 2024/2025

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai salah satu kegiatan wajib bagi sekolah untuk menjematani siswa-siswa baru. Tujuan utama MPLS adalah membantu siswa mengenal lingkungan sekolah, membiasakan diri dengan jadwal dan kegiatan sekolah, serta mengenal guru dan staf. Selain itu, MPLS juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, komunikasi, dan kepemimpinan.
MPLS sebagai periode penting bagi siswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. MPLS bertujuan memperkenalkan siswa pada budaya, norma, dan tata tertib sekolah, serta membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru.
Perencanaan yang matang adalah kunci untuk menyelenggarakan MPLS yang sukses. Sekolah perlu membentuk tim khusus yang bertanggung jawab atas pelaksanaan MPLS. Tim ini harus terdiri dari guru, staf, dan siswa lama/kelas atas yang terlatih untuk membimbing siswa baru khususnya untuk menemani masa transisi. Langkah pertama dalam perencanaan adalah menyusun jadwal kegiatan yang jelas dan terstruktur. Kegiatan harus dirancang sedemikian rupa sehingga memberikan informasi yang dibutuhkan siswa tanpa membuat mereka merasa terbebani atau stres. 


Berikut materi MPLS yang wajib disampaikan dan dipahami oleh semua pihak yang terlibat termasuk guru, siswa dan orang tua:
1. profil satuan pendidikan
 
Pengenalan Lingkungan Sekolah: Guru dan peserta didik harus mengenal fasilitas dan lingkungan sekolah, termasuk ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, kantin, dan area olahraga Hal ini bertujuan agar peserta didik baru dapat merasa nyaman dan familiar dengan lingkungan barunya. 
 a. Pengenalan Kurikulum: 
Materi ini meliputi pengenalan terhadap kurikulum yang diterapkan di sekolah, termasuk mata pelajaran, jadwal pelajaran, serta metode pembelajaran yang akan digunakan. Informasi ini penting agar peserta didik dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk kegiatan belajar mengajar. 
b. Pengenalan Tata Tertib: 
Guru wajib menjelaskan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah, seperti jam masuk dan pulang, peraturan tentang seragam, serta sanksi bagi yang melanggar. Tata tertib ini penting untuk menjaga disiplin dan keteraturan di lingkungan sekolah. 
c. Prestasi Sekolah: 
Informasi tentang prestasi yang telah diraih oleh sekolah, baik di bidang akademik maupun non-akademik, dapat memotivasi peserta didik baru untuk berprestasi dan bangga menjadi bagian dari sekolah tersebut.


2. Pembentukan karakter
 Profil Pelajar Pancasila: Materi ini menekankan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, kreatif, berintegritas, dan berwawasan kebangsaan. Pembentukan karakter ini diharapkan dapat membentuk pribadi yang tangguh dan berakhlak mulia. Penguatan Pendidikan Karakter: Guru harus memberikan materi yang berkaitan dengan penguatan pendidikan karakter, termasuk sikap jujur, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab. Pendidikan karakter ini sangat penting untuk membangun fondasi moral peserta didik.


3. Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Pendidikan Lingkungan Hidup: Materi ini mencakup edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah, pengelolaan sampah, dan penghijauan. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan nyaman. b.Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkotika (P4GN): Pengenalan tentang bahaya narkotika dan cara pencegahannya merupakan bagian penting dari MPLS. Peserta didik harus dibekali pengetahuan untuk menghindari penyalahgunaan narkotika dan menjaga diri dari pergaulan negatif. c. Pembinaan Dasar-dasar Bencana dan Pertolongan Pertama: Materi ini meliputi pengetahuan dasar tentang penanggulangan bencana dan keterampilan pertolongan pertama. Hal ini penting agar peserta didik siap menghadapi situasi darurat dengan tenang dan sigap.
4. Penguatan Kesadaran Bela Negara
a. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara: Guru harus mengajarkan pentingnya cinta tanah air, penghormatan terhadap lambang negara, dan semangat nasionalisme. Kesadaran berbangsa dan bernegara ini penting untuk membangun rasa kebanggaan dan tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia. b. Tiga Dosa Besar Pendidikan: Peserta didik harus diberi pemahaman tentang tiga dosa besar dalam pendidikan, yaitu perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi. Pengenalan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua.
5. Pengenalan Budaya Daerah
Guru dan peserta didik harus memahami dan menghargai kebudayaan lokal di daerahnya termasuk bahasa, kesenian, dan adat istiadat. Pengenalan budaya ini penting untuk menjaga kearifan lokal dan memperkaya wawasan peserta didik tentang keberagaman budaya. [ permen no 6 tahun 2023]
6. Literasi Digital dan Literasi Keuangan
Literasi Digital: Materi ini mencakup penggunaan teknologi informasi secara bijak dan bertanggung jawab, serta pemahaman tentang keamanan digital Literasi digital ini penting di era teknologi untuk menghindari dampak negatif dari penggunaan internet dan media sosial. Literasi Keuangan: Peserta didik harus dibekali dengan pengetahuan dasar tentang pengelolaan keuangan, seperti menabung, membuat anggaran, dan mengelola uang saku. Literasi keuangan ini penting untuk membentuk kebiasaan finansial yang baik sejak dini.

Read More »
17 July | 0komentar

Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam

 Materi Pembelajaran Mendalam




Pendidikan terus berkembang, dan di era yang serba cepat ini, tuntutan terhadap kualitas lulusan semakin tinggi. Bukan hanya sekadar menguasai materi, lulusan kini diharapkan memiliki kompetensi holistik yang relevan dengan tantangan masa depan. Di sinilah konsep pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi krusial. Pembelajaran mendalam adalah pendekatan yang mendorong peserta didik untuk tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami konsep secara mendalam, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan pengetahuannya dalam konteks nyata. Artikel ini akan membahas berbagai dimensi penting dalam kerangka pembelajaran mendalam.

Dimensi Profil Lulusan
Profil lulusan dalam kerangka pembelajaran mendalam jauh melampaui sekadar nilai akademis. Ada beberapa dimensi kunci yang menjadi fokus, yaitu: Penguasaan Konsep Mendalam: Lulusan tidak hanya tahu "apa", tetapi juga "mengapa" dan "bagaimana". Mereka mampu menjelaskan konsep-konsep kompleks dengan bahasa mereka sendiri dan menghubungkannya dengan berbagai ide. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah: Lulusan mampu menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, mengidentifikasi masalah, dan merumuskan solusi inovatif. Mereka tidak takut menghadapi tantangan dan mampu mencari berbagai perspektif. Kolaborasi dan Komunikasi Efektif: Di dunia yang semakin terhubung, kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi secara efektif adalah fundamental. Lulusan diharapkan mampu berinteraksi, berbagi ide, dan membangun konsensus dengan beragam individu. Kreativitas dan Inovasi: Lulusan didorong untuk berpikir di luar kotak, menghasilkan ide-ide baru, dan menerapkan solusi kreatif untuk masalah yang ada. Mereka tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga menciptakan. Karakter dan Kewarganegaraan Global: Pembelajaran mendalam juga menekankan pada pengembangan integritas, empati, ketahanan, dan tanggung jawab sosial. Lulusan diharapkan menjadi warga negara yang sadar dan berkontribusi positif bagi masyarakat global. Literasi Digital dan Belajar Sepanjang Hayat: Di era informasi, kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dan terus belajar sepanjang hidup adalah suatu keharusan. Lulusan diharapkan proaktif dalam mengembangkan diri dan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Prinsip Pembelajaran
Untuk mencapai profil lulusan yang diinginkan, pembelajaran mendalam didasarkan pada beberapa prinsip utama: Fokus pada Makna dan Relevansi: Pembelajaran harus bermakna dan relevan bagi peserta didik. Mereka harus melihat hubungan antara apa yang mereka pelajari dengan kehidupan mereka dan dunia nyata. Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik: Peserta didik bukan objek pasif, melainkan aktor aktif dalam proses pembelajaran. Mereka didorong untuk mengambil kepemilikan atas pembelajaran mereka sendiri. Penekanan pada Pemahaman Konseptual: Bukan sekadar menghafal fakta, tetapi membangun pemahaman yang kokoh tentang konsep-konsep dasar dan hubungan di antaranya. Pembelajaran Berbasis Proyek dan Masalah Nyata: Peserta didik terlibat dalam proyek-proyek yang menantang dan memecahkan masalah-masalah nyata, yang menuntut mereka untuk mengaplikasikan berbagai pengetahuan dan keterampilan. Lingkungan Belajar yang Mendukung Eksplorasi dan Risiko: Guru menciptakan suasana yang aman di mana peserta didik merasa nyaman untuk bertanya, bereksperimen, dan bahkan membuat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Umpan Balik yang Konstruktif dan Berkelanjutan: Umpan balik tidak hanya tentang nilai, tetapi juga tentang memberikan arahan yang jelas untuk perbaikan dan pengembangan.

Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar dalam kerangka pembelajaran mendalam dirancang untuk memfasilitasi pencapaian profil lulusan dan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran. Ini mencakup: Pembelajaran Kolaboratif: Peserta didik sering bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah, melakukan proyek, dan saling belajar. Pembelajaran Berbasis Inkuiri: Peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan, menyelidiki, dan menemukan jawaban sendiri, daripada hanya menerima informasi dari guru. Pemanfaatan Teknologi untuk Pembelajaran Aktif: Teknologi digunakan sebagai alat untuk eksplorasi, kreasi, dan kolaborasi, bukan hanya sebagai sumber informasi pasif. Asesmen Formatif yang Berkelanjutan: Asesmen tidak hanya untuk menilai hasil akhir, tetapi juga untuk memantau kemajuan peserta didik dan memberikan umpan balik yang relevan selama proses pembelajaran. Koneksi dengan Dunia Luar: Pembelajaran dihubungkan dengan komunitas, industri, dan isu-isu global melalui kunjungan lapangan, narasumber ahli, atau proyek-proyek yang melibatkan pihak eksternal. Ruang untuk Refleksi dan Metakognisi: Peserta didik diajak untuk merenungkan proses belajar mereka sendiri, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, serta merencanakan langkah selanjutnya.

Kerangka Pembelajaran (Struktur Implementasi)
Kerangka pembelajaran mendalam tidak hanya berhenti pada filosofi, tetapi juga membutuhkan struktur implementasi yang jelas. Ini bisa mencakup: Desain Kurikulum yang Fleksibel dan Terintegrasi: Kurikulum dirancang untuk memungkinkan koneksi antar-mata pelajaran dan memberikan ruang bagi pembelajaran yang berpusat pada minat peserta didik. Pengembangan Profesional Guru yang Berkelanjutan: Guru membutuhkan pelatihan dan dukungan untuk mengembangkan kapasitas mereka dalam memfasilitasi pembelajaran mendalam. Lingkungan Fisik yang Mendukung: Ruang kelas dan fasilitas lainnya dirancang untuk memfasilitasi kolaborasi, eksplorasi, dan kreativitas. Kemitraan dengan Orang Tua dan Komunitas: Orang tua dan komunitas menjadi mitra dalam mendukung proses pembelajaran mendalam, menciptakan ekosistem yang terpadu. Sistem Asesmen yang Komprehensif: Mengukur tidak hanya pengetahuan, tetapi juga keterampilan, sikap, dan karakter sesuai dengan dimensi profil lulusan. Ini bisa melibatkan portofolio, proyek, dan observasi. Budaya Sekolah yang Inovatif: Seluruh ekosistem sekolah mendorong eksperimen, pembelajaran dari kesalahan, dan suasana yang mendukung pertumbuhan bagi semua warganya. Dengan mengimplementasikan kerangka pembelajaran mendalam secara komprehensif, institusi pendidikan dapat menciptakan lingkungan yang memberdayakan peserta didik untuk menjadi individu yang kompeten, berdaya saing, dan siap menghadapi kompleksitas dunia abad ke-21. Ini bukan hanya tentang mengisi kepala dengan informasi, tetapi juga tentang membentuk pribadi yang mampu berpikir, berkreasi, berkolaborasi, dan berkontribusi secara bermakna.

Read More »
23 June | 0komentar

Tantangan Guru Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Ruang Kelas

Perkembangan zaman membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, terutama terkait karakteristik peserta didik. Di penghujung semester gasal ini, refleksi terhadap praktik pembelajaran menjadi penting, khususnya dalam menyikapi kehadiran Generasi Z dan Generasi Alpha yang kini mendominasi ruang kelas.
Bagi guru generasi sebelumnya, pengalaman mengajar sering kali menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai karakter murid. Jam terbang yang panjang membentuk intuisi pedagogik: mengenali murid pendiam, murid aktif, hingga murid dengan perilaku menantang. Namun, pola-pola yang selama ini dianggap mapan ternyata tidak selalu relevan ketika berhadapan dengan generasi baru peserta didik.
Perubahan Karakter Peserta Didik
Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam konteks sosial dan teknologi yang sangat berbeda. Mereka lahir dan berkembang di era digital, di mana informasi mudah diakses, komunikasi berlangsung cepat, dan batas ruang serta waktu semakin kabur. Kondisi ini membentuk cara berpikir, cara belajar, dan cara memaknai pendidikan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka tidak sekadar membawa perangkat digital ke dalam kelas, tetapi juga membawa perspektif baru terhadap proses belajar. Fleksibilitas sering kali menjadi ciri utama mereka. Namun, fleksibilitas ini bukan berarti tanpa arah. Justru, Generasi Z dan Alpha cenderung menghargai pembelajaran yang memiliki tujuan jelas, relevan dengan kehidupan, serta memberikan makna bagi perkembangan diri mereka.

Konteks Dunia TUNA dan Implikasinya bagi Pendidikan
Peserta didik saat ini tumbuh dalam dunia yang dapat digambarkan dengan istilah TUNA (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity). Dunia yang penuh ketidakpastian, perubahan cepat, kebaruan, dan ambiguitas ini memengaruhi orientasi belajar mereka. Fokus tidak lagi semata pada capaian nilai akademik, tetapi juga pada pertumbuhan personal, kesejahteraan mental, dan relevansi pembelajaran dengan realitas kehidupan.
Jika generasi sebelumnya lebih menekankan pada kepatuhan terhadap aturan atau panduan yang baku, Generasi Z cenderung menampilkan pola berpikir yang lebih eksploratif dan kreatif. Pola ini terkadang dipersepsikan sebagai ketidakteraturan, padahal sesungguhnya merupakan bentuk pencarian jati diri dan cara belajar yang sesuai dengan zamannya.

Peran Guru dalam Lanskap Pedagogik Baru
Dalam konteks ini, peran guru mengalami pergeseran. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai sumber utama pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator, pendamping, dan mitra belajar. Pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting dibandingkan instruksi satu arah.
Hal ini tidak berarti metode pembelajaran lama keliru. Setiap pendekatan memiliki relevansi sesuai dengan konteks zamannya. Namun, pendidikan bersifat dinamis. Kelas bukanlah ruang statis, melainkan ruang hidup yang terus berubah mengikuti perkembangan peserta didik dan lingkungan sosialnya.

Refleksi dan Arah Pengembangan Profesional Guru
Kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberlangsungan peran guru di era ini. Guru yang efektif adalah guru yang bersedia terus belajar, merefleksikan praktik pembelajarannya, dan menyesuaikan pendekatan pedagogik dengan karakter peserta didik.
Perubahan dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau teknologi, tetapi juga oleh kesiapan mental dan sikap profesional guru. Ketika guru membuka diri untuk memahami generasi baru, mengembangkan empati, dan menggeser cara pandang, maka proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan kontekstual.
Dengan demikian, tantangan menghadapi Generasi Z dan Alpha sejatinya bukan hambatan, melainkan peluang untuk menumbuhkan praktik pendidikan yang lebih relevan, humanis, dan berorientasi pada masa depan.

Read More »
29 December | 0komentar

Capaian Pembelajaran SMK sesuai Kep.Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025

Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dirancang untuk membekali peserta didik dengan keterampilan dan pengetahuan yang relevan dengan dunia kerja. Kurikulum SMK terbagi menjadi dua kelompok mata pelajaran utama yang saling melengkapi: Mata Pelajaran Umum dan Mata Pelajaran Kejuruan. Pembagian ini bertujuan untuk memastikan lulusan SMK tidak hanya memiliki kompetensi teknis yang mumpuni, tetapi juga pondasi pengetahuan dan karakter yang kuat.

Kelompok Mata Pelajaran Umum
Kelompok Mata Pelajaran Umum bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik, menumbuhkan wawasan kebangsaan, serta membekali mereka dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan yang esensial. Mata pelajaran dalam kelompok ini memiliki peran krusial dalam mengembangkan soft skills dan kemampuan berpikir kritis yang dibutuhkan di segala bidang.

Mata pelajaran yang termasuk dalam kelompok ini antara lain:
  1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti: Membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. 
  2. Pendidikan Pancasila: Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan memahami nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. 
  3. Bahasa Indonesia: Mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar untuk berkomunikasi secara efektif. 
  4. Matematika: Melatih kemampuan berpikir logis, analitis, dan problem-solving. 
  5. Sejarah: Membekali peserta didik dengan pemahaman tentang peristiwa-peristiwa penting di masa lalu untuk mengambil pelajaran dan membangun masa depan. 
  6. Seni Budaya: Mengembangkan apresiasi terhadap seni dan budaya serta mengekspresikan kreativitas. 
  7. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan: Meningkatkan kebugaran fisik dan kesadaran akan pentingnya hidup sehat.

Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan
Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan (Muatan Peminatan Kejuruan) adalah inti dari pendidikan vokasi di SMK. Mata pelajaran ini secara spesifik membekali peserta didik dengan kompetensi teknis sesuai dengan Bidang Keahlian, Program Keahlian, dan Konsentrasi Keahlian yang dipilih. Fokus utamanya adalah aplikasi praktis dan relevansi dengan kebutuhan industri.
Mata pelajaran dalam kelompok kejuruan dapat meliputi:
  1. Dasar-dasar Keahlian: Memperkenalkan konsep dasar dan prinsip-prinsip yang melandasi suatu bidang keahlian. 
  2. Mata Pelajaran Kejuruan: Mata pelajaran inti yang berfokus pada kompetensi spesifik sesuai dengan program keahlian yang diambil. Ini bisa berupa pelajaran teori maupun praktik di laboratorium atau bengkel. 
  3. Proyek Kreatif dan Kewirausahaan: Mendorong peserta didik untuk mengembangkan ide-ide inovatif, merencanakan proyek, dan memahami dasar-dasar kewirausahaan. 
  4. Praktek Kerja Lapangan (PKL): Pengalaman langsung di dunia industri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari serta beradaptasi dengan lingkungan kerja nyata.

Struktur kurikulum SMK, termasuk pembagian kelompok mata pelajaran dan capaian pembelajarannya, diatur secara rinci dalam Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 046/H/KR/2025. Keputusan ini menjadi landasan bagi satuan pendidikan dalam menyusun kurikulum operasional dan melaksanakan proses pembelajaran untuk memastikan lulusan SMK memiliki standar kompetensi yang relevan dan dibutuhkan oleh dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Bagi Anda yang ingin mengunduh salinan lengkap dari Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025, Anda dapat mencarinya di situs web resmi Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atau melalui portal resmi BSKAP.

Read More »
28 July | 0komentar

Memahami Capaian Pembelajaran (CP)


Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase, dimulai dari fase fondasi pada PAUD. Jika dianalogikan dengan sebuah perjalanan berkendara, CP memberikan tujuan umum dan ketersediaan waktu yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut (fase). Untuk mencapai garis finish, pemerintah membuatnya ke dalam enam etape yang disebut fase. Setiap fase lamanya 1-3 tahun. Berikut ini adalah beberapa contoh pemanfaatan fase-fase Capaian Pembelajaran dalam perencanaan pembelajaran: 
■ Pembelajaran yang fleksibel. Ada kalanya proses belajar berjalan lebih lambat pada suatu periode (misalnya, ketika pembelajaran di masa pandemi COVID-19) sehingga dibutuhkan waktu lebih panjang untuk mempelajari suatu konsep. Ketika harus “menggeser” waktu untuk mengajarkan materi-materi pelajaran yang sudah dirancang, pendidik memiliki waktu lebih panjang untuk mengaturnya. 
■ Pembelajaran yang sesuai dengan kesiapan peserta didik. Fase belajar seorang peserta didik menunjukkan kompetensinya, sementara kelas menunjukkan kelompok (cohort) berdasarkan usianya. Dengan demikian, ada kemungkinan peserta didik berada di kelas III SD, namun belajar materi pelajaran untuk Fase A (yang umumnya untuk kelas I dan II) karena ia belum tuntas mempelajarinya. Hal ini berkaitan dengan mekanisme kenaikan kelas yang disampaikan dalam Bab VII (Mekanisme Kenaikan Kelas dan Kelulusan). 
■ Pengembangan rencana pembelajaran yang kolaboratif. Satu fase biasanya lintas kelas, misalnya CP Fase D yang berlaku untuk Kelas VII, VIII, dan IX. Saat merencanakan pembelajaran di awal tahun ajaran, guru kelas VIII perlu berkolaborasi dengan guru kelas VII untuk mendapatkan informasi tentang sampai mana proses belajar sudah ditempuh peserta didik di kelas VII. Selanjutnya ia juga perlu berkolaborasi dengan guru kelas IX untuk menyampaikan bahwa rencana pembelajaran kelas VIII akan berakhir di suatu topik atau materi tertentu, sehingga guru kelas IX dapat merencanakan pembelajaran berdasarkan informasi tersebut.
Ada beberapa hal yang perlu dipahami tentang kekhasan CP sebelum memahami isi dari capaian untuk setiap mata pelajaran. 
• Dalam CP, kompetensi yang ingin dicapai ditulis dalam paragraf yang memadukan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau disposisi untuk belajar. Sementara karakter dan kompetensi umum yang ingin dikembangkan dinyatakan dalam profil pelajar Pancasila secara terpisah. Dengan dirangkaikan sebagai paragraf, ilmu pengetahuan yang dipelajari peserta didik menjadi suatu rangkaian yang berkaitan. 
• CP dirancang dengan banyak merujuk kepada teori belajar Konstruktivisme dan pengembangan kurikulum dengan pendekatan “Understanding by Design” (UbD) yang dikembangkan oleh Wiggins & Tighe (2005). Dalam kerangka teori ini, “memahami” merupakan kemampuan yang dibangun melalui proses dan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk dapat menjelaskan, menginterpretasi dan mengaplikasikan informasi, menggunakan berbagai perspektif, dan berempati atas suatu fenomena. Dengan demikian, pemahaman bukanlah suatu proses kognitif yang sederhana atau proses berpikir tingkat rendah. 
• Memang apabila merujuk pada Taksonomi Bloom, pemahaman dianggap sebagai proses berpikir tahap yang rendah (C2). Namun demikian, konteks Taksonomi Bloom sebenarnya digunakan untuk perancangan pembelajaran dan asesmen kelas yang lebih operasional, bukan untuk CP yang lebih abstrak dan umum. Taksonomi Bloom lebih sesuai digunakan untuk menurunkan/ menerjemahkan CP ke tujuan pembelajaran yang lebih konkret. 
• Naskah CP terdiri atas rasional, tujuan, karakteristik, dan capaian per fase. Rasional menjelaskan alasan pentingnya mempelajari mata pelajaran tersebut serta kaitannya dengan profil pelajar Pancasila. Tujuan menjelaskan kemampuan atau kompetensi yang dituju setelah peserta didik mempelajari mata pelajaran tersebut secara keseluruhan. Karakteristik menjelaskan apa yang dipelajari dalam mata pelajaran tersebut, elemen-elemen atau domain (strands) yang membentuk mata pelajaran dan berkembang dari fase ke fase. Capaian per fase disampaikan dalam dua bentuk,yaitu secara keseluruhan dan capaian per fase untuk setiap elemen. Oleh karena itu, penting untuk pendidik mempelajari CP untuk mata pelajarannya secara menyeluruh. Memahami CP adalah langkah pertama yang sangat penting. Setiap pendidik perlu familiar dengan apa yang perlu mereka ajarkan, terlepas dari apakah mereka akan mengembangkan kurikulum, alur tujuan pembelajaran, atau silabusnya sendiri atau tidak. Beberapa contoh pertanyaan reflektif yang dapat digunakan untuk memandu guru dalam memahami CP, antara lain: 
• Kompetensi apa saja yang perlu dimiliki peserta didik untuk sampai di capaian pembelajaran akhir fase? 
• Kata-kata kunci apa yang penting dalam CP? 
• Apakah ada hal-hal yang sulit saya pahami? 
• Apakah capaian yang ditargetkan sudah biasa saya ajarkan? 

Selain untuk mengenal lebih mendalam mata pelajaran yang diajarkan, memahami CP juga dapat memantik ide-ide pengembangan rancangan pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk memantik ide: 
• Bagaimana capaian dalam fase ini akan dicapai anak didik? 
• Materi apa saja yang akan dipelajari dan seberapa luas serta mendalam? 
• Proses belajar seperti apa yang akan ditempuh peserta didik?

Read More »
18 October | 0komentar

Struktur Kurikulum SMK Pada Kurikulum Merdeka Belajar


Perubahan kurikulum SMK/MAK diawali dengan penataan ulang Spektrum Keahlian SMK/MAK. Spektrum Keahlian adalah daftar bidang dan program keahlian SMK yang disusun berdasarkan kebutuhan dunia kerja yang meliputi: dunia usaha, dunia industri, badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, instansi pemerintah atau lembaga lainnya serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya. Spektrum Keahlian SMK/MAK merupakan acuan penyusunan struktur kurikulum serta pembukaan dan penyelenggaraan bidang dan program keahlian pada SMK. Setiap program keahlian terdiri atas minimum 1 (satu) konsentrasi keahlian. Konsentrasi keahlian diselenggarakan dalam program 3 (tiga) tahun atau program 4 (empat) tahun diatur lebih lanjut dalam keputusan pemimpin unit utama yang membidangi kurikulum, asesmen, dan perbukuan
Struktur kurikulum mengatur beban belajar untuk setiap muatan atau mata pelajaran dalam jam pelajaran (JP) tahunan dan/atau per 3 (tiga) tahun atau per 4 (empat) tahun atau dikenal dengan sistem blok. Oleh karena itu, satuan pendidikan dapat mengatur pembelajaran secara fleksibel di mana alokasi waktu setiap minggunya tidak selalu sama dalam 1 (satu) tahun. 

Struktur kurikulum SMK/MAK terbagi menjadi 2 (dua), yaitu: 
  • pembelajaran intrakurikuler; dan 
  • projek penguatan profil pelajar Pancasila yang dialokasikan sekitar 30% (tiga puluh persen) total JP per tahun. 

Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel, baik secara muatan maupun secara waktu pelaksanaan. Secara muatan, projek profil harus mengacu pada capaian profil pelajar Pancasila sesuai dengan fase peserta didik, dan tidak harus dikaitkan dengan capaian pembelajaran pada mata pelajaran. Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama.

Keterangan: 
* Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan sekurang-kurangnya selama 10 (sepuluh) bulan 27 (dua puluh tujuh) sampai dengan 28 (dua puluh depalan) minggu di kelas XIII. 
Berikut merupakan penjelasan dari struktur kurikulum merdeka SMK/MAK di atas. 
  1. Struktur kurikulum dibagi menjadi 2 (dua) bagian utama yaitu Kelompok Mata Pelajaran Umum (A) dan Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan (B). 
  2. Kelompok Mata Pelajaran Umum (A) merupakan kelompok mata pelajaran yang berfungsi membentuk peserta didik menjadi pribadi utuh, sesuai dengan fase perkembangan, berkaitan dengan norma-norma kehidupan baik sebagai makhluk yang Berketuhanan Yang Maha Esa, individu, sosial, warga negara Kesatuan Republik Indonesia maupun sebagai warga dunia. 
  3. Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan (B) merupakan kelompok mata pelajaran yang berfungsi membentuk peserta didik sebagai individu agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja serta ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya. 
  4. Mata Pelajaran Informatika berisi berbagai kompetensi untuk menunjang keterampilan berpikir kritis dan sistematis guna menyelesaikan beragam permasalahan umum. 
  5. Mata Pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial berisi muatan tentang literasi ilmu pengetahuan alam dan sosial yang diformulasikan dalam tema-tema kehidupan yang kontekstual dan aktual. 
  6. Mata Pelajaran Kejuruan yang dipelajari di kelas X merupakan mata pelajaran dasar-dasar Program Keahlian. 
  7. Pada program 3 (tiga) tahun, Mata Pelajaran Kejuruan yang dipelajari di kelas XI sampai dengan kelas XII merupakan mata pelajaran dalam konsentrasi keahlian tertentu.
  8. Pada program 4 (empat) tahun, Mata Pelajaran Kejuruan yang dipelajari di kelas XI sampai dengan kelas XIII merupakan mata pelajaran dalam konsentrasi keahlian tertentu.

Mata pelajaran ini berisi elemen-elemen pembelajaran minimum dan dapat ditambah oleh satuan pendidikan bersama mitra dunia kerja sesuai kebutuhan dunia kerja. 
  1. Mata Pelajaran Projek Kreatif dan Kewirausahaan merupakan wahana pembelajaran bagi peserta didik melalui pendekatan pembelajaran berbasis projek untuk mengaktualisasikan dan mengekspresikan kompetensi yang dikuasai pada kegiatan pembuatan produk/pekerjaan layanan jasa secara kreatif dan bernilai ekonomis. 
  2. Pada program 3 (tiga) tahun, Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan mata pelajaran yang dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XII selama 6 (enam) bulan atau 18 (delapan belas) minggu dengan asumsi 46 (empat puluh enam) JP per minggu. 
  3. Pada program 4 (empat) tahun, PKL merupakan mata pelajaran yang dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XIII selama 10 (sepuluh) bulan atau 27 (dua puluh tujuh) – 28 (dua puluh depalan) minggu dengan asumsi 46 (empat puluh enam) JP per minggu. 
  4. Mata Pelajaran ini merupakan wahana pembelajaran di dunia kerja untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik meningkatkan penguasaan kompetensi teknis (technical skills) sesuai dengan konsentrasi keahliannya serta menginternalisasi karakter dan budaya kerja (soft skills). 
  5. Pelaksanaan mata pelajaran PKL mengacu pada panduan yang ditetapkan oleh pemimpin unit utama yang membidangi pendidikan vokasi. 
  6. Mata Pelajaran Pilihan merupakan mata pelajaran yang dipilih oleh peserta didik berdasarkan renjana (passion) untuk pengembangan diri, baik untuk berwirausaha, bekerjapada bidangnya, maupun melanjutkan pendidikan. Contohnya: Mata pelajaran Bahasa Asing selain Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, atau mata pelajaran kejuruan lain di luar konsentrasi keahliannya. 
  7. Pelaksanaan mata pelajaran pilihan mengacu pada panduan yang ditetapkan oleh pemimpin unit utama yang membidangi kurikulum, asesmen, dan perbukuan. 
  8. h. Satuan pendidikan dan/atau pemerintah daerah dapat menambahkan muatan tambahan sesuai kebutuhan peserta didik, dunia kerja dan karakteristik satuan pendidikan dan/atau daerah secara fleksibel 
  9. Muatan pelajaran kepercayaan untuk penganut Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai layanan pendidikan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 
  10. Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif di SMK/MAK menyediakan layanan program kebutuhan khusus sesuai kondisi peserta didik.

Read More »
18 May | 0komentar

Implikasi Nilai-Nilai Religius Dalam Pendidikan Karakter

1400 tahun yang lalu Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa misi utama dalam mendidik manusia adalah menyempurnakan adalah akhlak dan menyempurnakan karakter yang baik.Akhlak dan karakter yang baik jika bersinergi akan menghasilkan insan yang memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual yang mumpuni.Disinilah ranah pendidikan nasional dibawa untuk membentuk manusia yang bermoral dan berakhlak mulia.
Kita sepakat bahwa nilai-nilai karakter harus diberikan kepada anak pada usia dini. Nilai religius adalah termasuk dalam salah satu nilai dalam pendidikan karakter.Nilai religius menjadi dasar karakter agar tidak berubah terhadap perkembangan/ pengaruh negatif dari lingkungan yang selalu berubah.
Keyakinan agama adalah sebagai upaya pembangunan karakter terhadap nilai-nilai ketuhanan. Bagaimana anak didik mensyukuri nikmat segala yang diberikan Allah SWT. Dalam konteks pendidikan formal nilai religius mengantarkan anak dengan potensi yang dimilikinya menjadi insan-insan yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, disiplin, sopan santun dan peduli terhadap lingkungannya. 
Apakah nilai-nilai ini akan dibebankan terhadap guru pendidikan Agama? jawabannya tentu saja tidak. Nilai-nilai rilegius harus dikembangkan oleh semua guru. Untuk membangun manusia yang memiliki nilai-nilai karakter yang agung seperti dirumuskan dalam tujuan pendidikan nasional dibutuhkan sistem pendidikan yang memiliki materi yang lengkap (kaffah), serta ditopang oleh pengelolaan dan pelaksanaan yang benar. Oleh semua elemen pendidik.
Pada pendidikan Islam memiliki tujuan yang seiring dengan tujuan pendidikan nasional. Secara umum pendidikan Islam mengemban misi utama memanusiakan manusia, yakni menjadikan manusia mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya sehingga berfungsi maksimal sesuai dengan aturan-aturan yang digariskan oleh Allah Swt dan Rasulullah saw. yang pada akhirnya akan terwujud manusia yang utuh (insan kamil). 
Pendidikan akhlak (karakter) adalah jiwa pendidikan dalam Islam. Mencapai akhlak yang karimah (karakter mulia) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan Islam. Di samping membutuhkan kekuatan dalam hal jasmani, akal, dan ilmu, peserta didik juga membutuhkan pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa, dan kepribadian (al-Abrasyi, 1987: 1). Sejalan dengan konsep ini maka semua mata pelajaran yang diajarkan kepada peserta didik haruslah mengandung muatan pelajaran akhlak (karakter) dan setiap guru haruslah memerhatikan sikap dan tingkah laku peserta didiknya.
Pengembangan karakter yang ditawarkan oleh para tokoh etika Islam dan para tokoh lain, terlihat jelas perbedaannya. Para tokoh etika Islam mendasari pengembangan karakter manusia dengan fondasi teologis (aqidah) yang benar, meskipun pemahaman teologi mereka berbeda-beda. Dengan fondasi teologis itulah mereka membangun ide bagaimana seharusnya manusia dapat mencapai kesempurnaan agamanya sehingga menjadi orang yang benar-benar berkarakter mulia. Sedang para tokoh lain lebih menekankan para proses apa yang harus ditempuh oleh seseorang dalam rangka mencapai tujuan itu. Proses ini sama sekali mengabaikan landasan teologi (aqidah). Proses inilah yang sekarang banyak dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan baik formal, nonformal, maupun informal, karena hasilnya lebih mudah dan cepat terlihat. Namun, harus diakui ketiadaan fondasi teologis (aqidah) tidak bisa menjamin untuk terwujudnya karakter mulia dalam diri seseorang yang sebenarnya, terutama dalam perspektif Islam.
Referensi:
1. Dr. Marzuki,MAG.Implementasi Pendidikan Karakter berbasis agama.Makalah
2. Hanni Junaniah. Penerapan Nilai-Nilai Religus pada Siswa Kelas V dalam Pendidikan Karakter di MIN Bawu Jepara.Skripsi.


Read More »
08 July | 2komentar

Sekolah sebagai Institusi Moral

Menjadi Model Pembelajaran KSE

“Pada abad ke 21, di mana masyarakat semakin menjadi beragam secara demografi, maka pendidik akan lebih lagi perlu mengembangkan, membina, dan memimpin sekolah-sekolah yang toleran dan demokratis. Kami meyakini bahwa, melalui pembelajaran tentang etika, pemimpin-pemimpin pendidikan masa depan akan lebih siap dalam mengenali, berefleksi, serta menghargai keberagaman.”. Sebagai sebuah institusi moral, sekolah adalah sebuah miniatur dunia yang berkontribusi terhadap terbangunnya budaya, nilai-nilai, dan moralitas dalam diri setiap murid. Perilaku warga sekolah dalam menegakkan penerapan nilai-nilai yang diyakini dan dianggap penting oleh sekolah, adalah teladan bagi murid. 
Kepemimpinan kepala sekolah tentunya berperan sangat besar untuk menciptakan sekolah sebagai institusi moral. Dalam menjalankan perannya, tentu seorang pemimpin di sekolah akan menghadapi berbagai situasi dimana ia harus mengambil suatu keputusan dimana ada nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar, namun saling bertentangan. Situasi seperti ini disebut sebagai sebuah dilema etika. Disaat itu terjadi, keputusan mana yang akan diambil? Tentunya ini bukan keputusan yang mudah karena kita akan menyadari bahwa setiap pengambilan keputusan akan merefleksikan integritas sekolah tersebut, nilai-nilai apa yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan keputusan-keputusan yang diambil kelak akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah dan lingkungan sekitarnya. Sebelum kita bahas modul ini lebih dalam, kita akan mempelajari apa arti etika. Apa arti moral, sehingga sekolah disebut sebagai suatu institusi ‘moral’. Apakah arti etiket? Apakah sama dengan etika, adakah perbedaan antara etika dan etiket? Etika sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno, Ethikos yang berarti kewajiban moral. Sementara moral berasal dari bahasa Latin, mos jamaknya mores yang artinya sama dengan etika, yaitu, ‘adat kebiasaan’. Moralitas sebagaimana dinyatakan oleh Bertens (2007, hal. 4) adalah keseluruhan asas maupun nilai yang berkenaan dengan baik atau buruk. Jadi moralitas merupakan asas-asas dalam perbuatan etik. Istilah lain yang mirip dengan etika, namun berlainan arti adalah etiket. Etiket berarti sopan santun. Setiap masyarakat memiliki norma sopan santun. Etiket suatu masyarakat dapat sama, dapat pula berbeda. Lain halnya dengan etika, yang lebih bersifat ‘universal’ etiket bersifat lokal (Rukiyanti, Purwastuti, Haryatmoko, 2018).

Kepala sekolag sebagai pemimpin menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal perlu memperhatikan masukan dari berbagai pihak. Keputusan-keputusan yang kepala sekolah ambil merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut. Mengingat posisi guru berada di garda terdepan yang langsung berhadapan dengan peserta didik dalam pembelajaran, meskipun katakanlah teknologi informasi begitu pesat berkembang sehingga begitu banyak menyediakan sumber pengetahuan yang berlimpah, namun tugas guru merencanakan, melaksanakan, menilai, membimbing dan mengarahkan.

Sekolah sebagai 'institusi moral' dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Tanggungjawab pemimpin sekolah menjadi sangat penting, pemimpin sekolah akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. Guru sebagai sosok panutan yang digugu dan ditiru, banyak harapan besar dialamatkan kepadanya untuk membawa majunya bangsa melalui pembangunan SDM yang dihasilkan dari proses pendidikan. Mengingat posisi guru berada di garda terdepan yang langsung berhadapan dengan peserta didik dalam pembelajaran, meskipun katakanlah teknologi informasi begitu pesat berkembang sehingga begitu banyak menyediakan sumber pengetahuan yang berlimpah, namun tugas guru 5M (merencanakan, melaksanakan, menilai, membimbing dan melaksanakan tugas), terutama fungsi pembimbingan tetap tidak tergantikan oleh teknologi informasi. Artinya fungsi guru tidak sebatas hanya menstransfer ilmu semata, akan tetapi justru yang lebih utama pada peran pendidiknya sebagai ciri khas yang melekat pada jatidiri guru dalam membentuk integritas kepribadian peserta didik yang berbasis pendidikan karakter.




Read More »
16 June | 0komentar

Ketidakpastian Adalah Keniscayaan

Refleksi Pendidikan

Setiap bulan Mei, masyarakat Indonesia memperingati momentum penting dalam dunia pendidikan melalui Bulan Pendidikan Nasional. Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga waktu yang tepat untuk merenungkan kembali arah pendidikan kita: apakah pendidikan benar-benar sudah mempersiapkan manusia menghadapi kehidupan yang penuh ketidakpastian? Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, teknologi berkembang tanpa jeda, dunia kerja berubah drastis, dan tantangan sosial semakin kompleks. 
Dalam situasi seperti ini, sebuah pesan penting dari Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) layak menjadi bahan refleksi bersama: “Kita mungkin tidak bisa menghilangkan seluruh ketidakpastian dalam hidup. Tapi kita bisa memastikan bahwa setiap manusia memiliki bekal untuk menghadapinya melalui pendidikan.” Kalimat tersebut menyimpan makna mendalam. Pendidikan bukan hanya soal nilai rapor, hafalan teori, atau sekadar lulus ujian. Pendidikan seharusnya menjadi proses membentuk manusia agar mampu berpikir, bertahan, beradaptasi, dan memberi manfaat di tengah perubahan zaman.  

Ketidakpastian Adalah Keniscayaan 

Hari ini, anak-anak tumbuh di era yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Banyak pekerjaan lama mulai hilang, sementara pekerjaan baru muncul dengan keterampilan yang sebelumnya tidak pernah diajarkan di sekolah. Belum lagi tantangan lain seperti: perubahan sosial, perkembangan kecerdasan buatan, krisis lingkungan, tekanan mental, hingga derasnya arus informasi digital. Tidak ada yang benar-benar bisa memprediksi masa depan secara pasti. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan “apa yang harus dihafal”, tetapi juga “bagaimana cara menghadapi perubahan”. Di sinilah pentingnya pendidikan yang memanusiakan manusia. 
Apakah Pendidikan Kita Sudah Membentuk Manusia yang Berdaya? Pertanyaan besar yang perlu dijawab bersama adalah: apakah sistem pendidikan kita hari ini sudah melahirkan manusia yang berdaya? Berdaya bukan hanya pintar secara akademik. Manusia yang berdaya adalah mereka yang: mampu berpikir kritis, memiliki karakter kuat, mampu bekerja sama, memiliki empati, kreatif dalam menyelesaikan masalah, dan tetap memiliki nilai moral di tengah perubahan zaman. Sayangnya, dalam praktiknya pendidikan kita masih sering terjebak pada angka dan formalitas. Banyak peserta didik yang akhirnya: takut salah, hanya mengejar nilai, kurang percaya diri, minim ruang bertanya, dan belum terbiasa berpikir mandiri. Padahal kehidupan nyata tidak selalu menyediakan soal pilihan ganda.  

Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Ilmu  

Selama ini, pendidikan sering dipahami sebatas proses transfer pengetahuan dari guru kepada murid. Padahal hakikat pendidikan jauh lebih luas daripada itu. Pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia. Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Artinya, sekolah bukan pabrik pencetak nilai. Sekolah adalah ruang tumbuh. Di dalamnya, anak-anak semestinya belajar: mengenal dirinya, memahami potensi, belajar mengambil keputusan, belajar menghadapi kegagalan, dan belajar menjadi manusia yang utuh.  

Hal yang Perlu Dimunculkan dalam Pendidikan Kita  

Jika ingin melahirkan generasi yang benar-benar siap menghadapi masa depan, ada beberapa hal penting yang perlu lebih dimunculkan dalam pendidikan kita.  
1. Kemampuan Berpikir Kritis Anak perlu dibiasakan bertanya, berdiskusi, dan mencari solusi, bukan hanya menerima jawaban. Pendidikan yang baik bukan membuat murid takut salah, tetapi berani mencoba.  
2. Pendidikan Karakter dan Adab Kemajuan teknologi tanpa karakter justru bisa menjadi ancaman. Karena itu, pendidikan moral, adab, tanggung jawab, dan empati harus menjadi pondasi utama. Ilmu yang tinggi tanpa akhlak hanya akan melahirkan manusia cerdas tetapi kehilangan arah.  
3. Kreativitas dan Kemandirian Dunia masa depan membutuhkan manusia yang mampu menciptakan solusi baru. Pendidikan harus memberi ruang bagi kreativitas, eksplorasi, dan keberanian untuk berkarya.  
4. Kesehatan Mental dan Emosi Tekanan hidup modern semakin berat. Anak-anak perlu dibekali kemampuan mengelola emosi, menghadapi tekanan, dan membangun mental yang sehat.  
5. Kemampuan Adaptasi Di era perubahan cepat, kemampuan belajar ulang (relearning) menjadi sangat penting. Pendidikan harus membentuk manusia yang siap terus belajar sepanjang hidup.  

Pendidikan yang Membebaskan dan Memberdayakan  

Pendidikan yang ideal bukan pendidikan yang menakutkan, melainkan pendidikan yang membangkitkan semangat belajar. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi fasilitator pertumbuhan manusia. Sekolah bukan tempat yang hanya mengejar ranking, tetapi tempat anak merasa aman untuk berkembang. Ketika pendidikan mampu menghadirkan rasa ingin tahu, keberanian berpikir, dan karakter yang baik, maka di situlah pendidikan sedang membentuk manusia yang berdaya. 

Momentum Bulan Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa tantangan masa depan tidak bisa dihindari. Ketidakpastian akan selalu ada. Namun melalui pendidikan yang tepat, manusia bisa dipersiapkan untuk menghadapinya dengan lebih matang. Pendidikan sejati bukan hanya menghasilkan lulusan yang pandai menjawab soal, tetapi manusia yang mampu menghadapi kehidupan. Karena pada akhirnya, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki teknologi maju, tetapi bangsa yang manusianya memiliki karakter, daya pikir, dan kemampuan untuk terus bertumbuh.
Sumber: WA Grup GSM Kab.Purbalingga

Read More »
07 May | 0komentar

Ketika Politik Masuk Ruang Kelas: Menjaga Independensi Guru

Dalam perjalanan panjang sejarah pendidikan Indonesia, guru selalu dipandang sebagai sosok mulia yang mengemban tugas mendidik, membimbing, dan membentuk karakter generasi penerus bangsa. Namun, di era otonomi daerah seperti sekarang, tantangan yang dihadapi para guru menjadi semakin kompleks. Kebijakan pendidikan yang kini berada di bawah kewenangan pemerintah daerah membuka ruang partisipasi lokal yang lebih luas, tetapi sekaligus membawa risiko besar: intervensi dan tarik-menarik kepentingan politik yang kerap kali mengganggu independensi guru.
Ancaman Terhadap Profesionalisme Guru
Independensi guru sebagai pendidik seharusnya berarti kebebasan profesional untuk mengajar, menilai, dan membimbing siswa berdasarkan prinsip keilmuan dan nilai-nilai moral. Ini berarti guru harus bebas dari tekanan politik atau kepentingan kekuasaan apa pun. Sayangnya, praktik di lapangan seringkali memperlihatkan hal yang berbeda. Ada guru yang merasa harus ikut arus politik lokal demi keamanan posisi dan kelancaran karier. Tak jarang pula, mereka menghadapi tekanan untuk mendukung kebijakan daerah tertentu yang belum tentu berpihak pada mutu pendidikan yang sesungguhnya.
Fenomena ini mengikis esensi profesionalisme guru. Ketika seorang guru harus mempertimbangkan afiliasi politik atau arahan kekuasaan dalam menjalankan tugasnya, fokus utama pada kepentingan peserta didik akan tergeser. Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat netral untuk menumbuhkan pemikiran kritis dan nilai-nilai luhur, berisiko menjadi arena propaganda atau perpanjangan tangan kepentingan sesaat.
Menjaga Keteguhan Hati di Arus Dinamis Politik Lokal
Di tengah arus politik daerah yang dinamis, menjaga independensi menuntut keberanian, integritas, dan kesadaran kolektif dari para guru. Guru harus tetap menjadi teladan yang netral, memegang teguh etika profesi, dan memprioritaskan kepentingan peserta didik di atas kepentingan kelompok atau partai mana pun.
Upaya ini bukan hanya soal keteguhan hati individu, tetapi juga memerlukan dukungan kuat dari berbagai pihak. Masyarakat perlu lebih peduli dan kritis terhadap kebijakan pendidikan di daerah mereka. Organisasi profesi guru memiliki peran vital dalam melindungi anggotanya dari intervensi yang tidak profesional. Terlebih lagi, regulasi yang tegas sangat dibutuhkan untuk menjamin perlindungan hukum bagi guru yang menolak intervensi politik dan memilih untuk tetap independen.
Independensi Guru: Fondasi Pendidikan yang Merdeka
Independensi guru adalah pondasi penting bagi pendidikan yang merdeka dan berkeadilan. Tanpa kebebasan berpikir dan bertindak secara profesional, pendidikan mudah berubah menjadi alat propaganda dan kepanjangan kepentingan penguasa lokal. Oleh karena itu, sangat penting untuk terus memperjuangkan ruang aman bagi guru agar mereka tetap bisa menjalankan peran sebagai pendidik yang mendidik dengan nurani, bukan dengan arahan politik.
Dengan kesadaran dan keberanian kolektif, guru dapat tetap berdiri tegak sebagai pilar peradaban. Meskipun berada di tengah badai kepentingan politik yang tak pernah reda, keteguhan mereka dalam menjaga independensi akan memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi mercusuar yang menerangi masa depan bangsa, bebas dari bias dan kepentingan sesaat.

Read More »
17 July | 0komentar

Kejujuran yang Tidak Tercetak dalam Nilai

Siswa, Guru dan Orang tua

Setiap akhir semester, pemandangan yang sama selalu terulang di banyak sekolah. Orang tua datang mengambil rapor, menerima lembar hasil belajar anaknya, lalu pulang. Prosesnya sering berlangsung cepat dan formal. Guru menyampaikan informasi, orang tua mendengarkan, kemudian semuanya selesai. Namun, apakah rapor hanya tentang angka dan peringkat? Pertanyaan itulah yang menginspirasi saya untuk mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam pembagian rapor kali ini. Alih-alih menjadikan pembagian rapor sebagai percakapan satu arah antara guru dan wali murid, kami menciptakan sebuah ruang kecil untuk saling mendengar. 
Pendekatan seperti ini sejalan dengan konsep pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sebagaimana dijelaskan dalam artikel Pembelajaran Mendalam, di mana peserta didik diberi ruang untuk merefleksikan pengalaman belajarnya secara utuh.
Segitiga Kecil yang Mengubah Percakapan Satu per satu siswa datang bersama orang tuanya. Kami duduk membentuk segitiga sederhana: guru, orang tua, dan anak. Di tengah terdapat sebuah meja kecil dengan rapor yang terletak di atasnya. Menariknya, rapor tidak langsung saya jelaskan kepada orang tua. Saya justru menyodorkannya kepada siswa. Saya meminta mereka mengamati hasil belajarnya sendiri, lalu menjawab beberapa pertanyaan sederhana. 
 "Mata pelajaran apa yang menurutmu masih kurang? Mengapa?" 
 "Mata pelajaran apa yang sudah baik? Mengapa bisa baik?" 
 Anak-anaklah yang kemudian bercerita langsung kepada orang tuanya. Di situlah saya menyadari bahwa sering kali ada banyak cerita yang tidak terlihat di balik deretan angka dalam rapor.Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan kepada siswa sesungguhnya memiliki kemiripan dengan pendekatan Coaching dalam Konteks Pendidikan, yaitu membantu peserta didik menemukan kesadaran, kekuatan, dan solusi dari dalam dirinya sendiri. 
Kejujuran yang Tidak Tercetak dalam Nilai Ada orang tua yang berpura-pura memarahi anaknya. 
 "Lho, kok nilainya begini?" Sang anak menjawab spontan sambil tersenyum, 
 "Lha aku memang nggak suka pelajarannya kok." Semua tertawa. 
 Ada pula siswa yang dengan jujur mengatakan, 
 "Pak, tugasnya susah ngumpulkannya. Gurunya susah ditemui." Ruangan kembali dipenuhi tawa hangat. Saat itu saya menyadari bahwa rapor ternyata bukan hanya tentang capaian akademik. 
Rapor juga bisa menjadi ruang aman bagi anak untuk menyampaikan pengalaman belajarnya secara jujur. Kadang-kadang, keberanian untuk berkata apa adanya jauh lebih berharga daripada angka yang tercetak pada lembar penilaian. Pertumbuhan yang Tidak Selalu Terlihat dalam Nilai Percakapan kemudian berlanjut. 
 Saya bertanya kepada para siswa, "Selama satu tahun ini, apa yang paling meningkat dalam dirimu?" Jawaban yang muncul sungguh menarik. Ada yang merasa kini lebih berani berbicara di depan umum. Ada yang merasa lebih disiplin mengatur waktu. Ada yang merasa lebih percaya diri dibandingkan sebelumnya. Yang membuat suasana semakin hangat adalah ketika orang tua ikut memberikan pengakuan atas perubahan tersebut. 
 "Iya, sekarang kamu memang lebih rajin membantu di rumah."
 "Iya, sekarang kamu lebih bertanggung jawab." Kalimat-kalimat sederhana itu menjadi bentuk apresiasi yang mungkin selama ini jarang terucapkan. Pada momen tersebut, saya melihat bagaimana pendidikan sesungguhnya tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga tumbuh dalam hubungan antara sekolah dan keluarga. 
Saat Guru Justru Belajar 
Jika tidak dibatasi waktu, mungkin percakapan-percakapan itu bisa berlangsung berjam-jam. Namun, bagian yang paling berkesan justru terjadi di akhir sesi. Saya meminta siswa dan orang tua memberikan penilaian kepada saya sebagai wali kelas, baik secara lisan maupun tertulis. Saat itulah saya merasa sedang belajar menjadi guru. Seorang wali murid menyampaikan sesuatu yang membuat saya terdiam. "Selama sebelas tahun mendampingi anak sekolah, baru kali ini saya benar-benar merasakan wali kelas seperti orang tua kedua bagi anak saya." Kalimat itu membuat saya kehilangan kata-kata. Bukan karena merasa sempurna sebagai guru, tetapi karena saya menyadari betapa besar harapan orang tua terhadap sosok yang mendampingi anak-anak mereka setiap hari di sekolah. 
Peran guru sebagai pendamping tumbuh kembang peserta didik juga menjadi salah satu semangat utama dalam Program Pendidikan Guru Penggerak, yaitu menghadirkan pembelajaran yang berpusat pada murid dan membangun kolaborasi dengan orang tua. 

Rapor Bukan Hanya Milik Siswa 

Pada akhirnya, rapor bukan hanya tentang nilai siswa. Rapor juga menjadi cermin hubungan antara guru, anak, dan orang tua. Angka-angka memang penting sebagai indikator pencapaian belajar. Namun, ada hal-hal yang jauh lebih berharga yang tidak dapat diukur oleh angka. Kejujuran. Keberanian. Kepercayaan. Kedekatan. Dan rasa saling memahami. Jumat kemarin, saya pulang dengan sebuah keyakinan baru: pembagian rapor dapat menjadi momen yang sangat bermakna ketika semua pihak diberi ruang untuk saling mendengar, saling memahami, dan saling bertumbuh. 
Mungkin beberapa tahun lagi anak-anak tidak lagi mengingat berapa nilai matematika atau bahasa Indonesia yang mereka peroleh. Tetapi mereka akan mengingat percakapan hangat yang terjadi di sekeliling rapor itu. Karena pada akhirnya, pendidikan yang membekas bukanlah tentang angka yang tertulis di atas kertas, melainkan tentang hubungan manusia yang tumbuh di dalamnya. Artikel inspiratif lainnya tentang pendidikan, pembelajaran, dan refleksi guru dapat dibaca di Sarastiana.com, sebuah ruang berbagi gagasan yang mengajak kita melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih manusiawi dan bermakna. Kunjungi juga Sarastiana.com untuk mendapatkan tulisan-tulisan terbaru seputar dunia pendidikan dan pengembangan karakter.
Informasi lebih lanjut tentang penulis dapat dibaca pada halaman Profil Penulis
Referensi: Grup WA GSM Kab.Purbalingga

Read More »
20 June | 0komentar

Tugas Mulai Dari Diri Modul 1.4, Budaya Positif

Mulai dari diri pada modul 1.4 CGP adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di LMS, tentunya setelah mempelajari Modul 1.1, 1.2 dan 1.3 


Apa urgensi dari menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah Anda? 
Budaya Positif di sekolah sangat penting untuk mengembangkan anak-anak yang memiliki karakter yang kuat, sesuai profil pelajar Pancasila dan filosofi dari Ki Hadjar Dewantara, nilai-nilai peran guru penggerak dan visi guru penggerak. Pentingnya membangun budaya positif di sekolah sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan yang berpihak pada murid untuk membantu mencapai visi guru penggerak.Seorang pemimpin harus bisa menggerakkan dan memotivasi warga sekolah agar memiliki, meyakini, dan menerapkan visi atau nilai-nilai kebajikan yang disepakati, sehingga tercipta budaya positif yang berpihak pada murid. Dalam membangun budaya positif perlu strategi menumbuhkan lingkungan yang positif. Perlu melakukan refleksi atas penerapan disiplin yang dilakukan selama ini di lingkungan. 


Bagaimanakah strategi Anda dalam praktik disiplin tersebut? Apakah selama ini Anda sungguh-sungguh menjalankan disiplin, atau Anda melakukan sebuah hukuman? Bagaimana Anda sendiri sebagai seorang pendidik dapat menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah Anda selama ini? 
Saya seorang pendidik/pimpinan sekolah dalam menciptakan suasana positif diawali dari diri sendiri selalu berperasangka baik (positif) atas semua kejadian yang ada disekitar kita, mengambil hikmah dari kejadian untuk ditelaah menjadi hal yang positif. Konsisten atas usaha dan upaya saya dalam melaksanakan tugas dan menjalani kehidupan sebagai manusia dengn berprinsip pada Positif Thingking, maka akan menemukan kebahagian dan keselamatan selamanya. 


Apa hubungan antara menciptakan suasana yang positif dengan proses pembelajaran yang berpihak pada murid? 
Hubungan antara menciptakan suasana yang positif dengan proses pembelajaran yang berpihak kepada murid adalah saling mendukung dan melengkapi antara satu dengan yang lain, karena dengan suasana positif yang tercipta akan otomatis menciptakan proses pembelajaran yang aman dan nyaman di lingkungan sekolah. Dengan demikian guru sudah mampu menjalankan perannya sebagai pemimpin pembelajaran yang baik dan murid akan merasa senang dan nyaman dalam mengikuti pembelajaran. Jadi suasana yang positif akan menumbuhkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman yang mengakibatkan pembelajaran sesuai dengan kodrat anak akan terwujud dengan baik, karena dalam suasana positif ini proses pembelajaran akan menyenangkan dan berpihak kepada murid.


Bagaimana penerapan disiplin saat ini di sekolah Anda, apakah sudah diterapkan dengan efektif, bila belum, apa yang menurut Anda masih perlu dikembangkan? penerapan disiplin efektif dilakukan dengan keteladanan. belajar disiplin tidak dapat dilakukan dengan menyuruh atau memberi hukuman kepada siswa. Guru harus dapat menjadi panutan dan juga contoh dalam berperilaku disiplin. Untuk siswa tepat waktu. Guru dengan menunjukkan kepada siswa bahwa gurunya selalu tepat waktu dan tidak terlambat kecuali ada hal yang sangat mendesak. Bagaimana siswa akan memiliki sikap disiplin jika melihat gurunya tidak disiplin. 


Refleksi Bagaimana Menciptakan Budaya Positif Visi saya adalah“Mewujudkan Peserta didik yang memiliki karakter Pancasila dan memiliki kompetensi yang unggul dalam Bingkai Kebhinekaan”. Memulai penerapannya di kelas dan sekolah, dengan membiasakan budaya positif. Untuk mewujudkan lingkungan belajar yang positif, lingkungan, suasana pembelajaran harus nyaman, aman, dan kondusif. Berpusat kepada siswa tanpa membedakan antar siswa dari fisik,golongan, kepandaian sebagai membentuk mewadahi keberagaman. Untuk mewujudkan kelas impian sesuai visi yang telah kita buat langkah saya adalah berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah terutama dengan rekan sejawat dan siswa saya di dalam kelas untuk segera mewujudkan visi tersebut dengan langkah kecil yang konsisten dan terarah. 


Apa saja harapan-harapan yang ingin Anda lihat berkembang pada diri Anda, sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini? Harapan saya setelah mempelajari modul 1.4 tentang budaya positif di sekolah adalah pertama mengawali untuk menjadi guru yang bisa memimpin diri sendiri harapan setelah bisa memimpin diri sendiri untuk dapat menjadi contoh bagi murid dalam upaya menuntun dan membimbing siswa untuk meraih masa depan 

Apa saja harapan-harapan yang ingin Anda lihat berkembang pada murid-murid Anda setelah mempelajari modul ini? Harapan-harapan pada murid-murid yang ingin dilihat berkembang, setelah mempelajari modul ini adalah terwujudnya suasana belajar yang aman dan nyaman bagi siswa karena terciptanya budaya positif di sekolah 


Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini? 
Kegiatan yang dilakukan yaitu mengusahakan sekolah menjadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid agar selalu dalam lingkungan dalam budaya positif. Dengan demikian, karakter murid tumbuh dengan baik. Sebagai contoh, murid yang tadinya malas menjadi semangat, bukan kebalikannya. Murid akan mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran bila lingkungan di sekelilingnya terasa aman dan nyaman.


Read More »
13 May | 2komentar

1.4.a.4.1. Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal


Tujuan Pembelajaran Khusus CGP dapat menjelaskan makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol. CGP dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol dengan 3 Motivasi Perilaku Manusia. CGP menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif.
Halaman 1
Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai. Jadi Kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut.. 
Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya dan mencoba untuk menolak bujukan kita, atau bisa jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha.Makna ‘kontrol’ pada dasarnya adalah kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut. Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai. Sedangkan makna Disiplin Positif adalah menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut. Sedangkan 3 Motivasi Perilaku Manusia adalah 1)Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, 2)Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. 3)Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan adalah tercipta sebuah budaya positif.
Halaman 2
Anda dan teman Anda akan melakukan kegiatan ‘Cobalah Buka’. Anda adalah A , tugas Anda adalah mengepalkan salah satu tangan Anda. Coba Anda bayangkan bahwa Anda menyimpan sesuatu yang sangat berharga di dalam kepalan tangan Anda. Anda perlu menjaga benda tersebut sekuat tenaga Anda karena begitu pentingnya untuk kehidupan Anda. Tugas B (rekan Anda), adalah mencoba dengan segala cara untuk membuka kepalan tangan Anda. Teman Anda B boleh membujuk, menghardik, mengintimidasi, memarahi, menggoda, menggelitik, bahkan menawari Anda uang agar Anda bersedia membuka kepalan tangan Anda. Cobalah lakukan kegiatan ‘Cobalah Buka’ di atas dengan B secara bergantian, masing-masing A dan B memiliki waktu 30 detik saja. Sesudah itu diskusikan kegiatan ini dan coba jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini secara mandiri, dan diskusikan kembali dengan rekan Anda B. Bandingkan jawaban Anda, apakah berbeda, atau sama. Bilamana berbeda, kira-kira mengapa? Apakah Anda atau B membuka kepalan tangan Anda? Mengapa, apa alasan Anda atau B membuka kepalan tangan Anda? Apakah Anda atau B menutup kepalan tangan Anda? Mengapa, apa alasan Anda atau B tetap menutup kepalan tangan Anda? Dalam kegiatan ini, sesungguhnya siapa yang memegang kendali atau kontrol untuk membuka atau menutup kepalan tangan?Suatu pertanyaan yang menurut saya akan menimbulkan berbagai variasi jawaban. Seseorang akan membuka atau menutup kepalannya dan seseorang akan selalu berusaha untuk membuka kepalan tangan orang lain. Semua itu tergantung dari kekuatan kontrol yang kita milikBagaimana kita rela menyerahkan sesuatu yang mungkin sangat berharga buat kita untuk dapat bermanfaat buat orang lain ataupun merayu orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Dalam peritiwa ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa setiap orang memiliki posisi kontrol yang berbeda pada suatu peristiwa. Suatu pertanyaan yang menurut saya akan menimbulkan berbagai variasi jawaban. Seseorang akan membuka atau menutup kepalannya dan seseorang akan selalu berusaha untuk membuka kepalan tangan orang lain. Semua itu tergantung dari kekuatan kontrol yang kita milik, Bagaimana kita rela menyerahkan sesuatu yang mungkin sangat berharga buat kita untuk dapat bermanfaat buat orang lain ataupun merayu orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. 
Dalam peritiwa ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa setiap orang memiliki posisi kontrol yang berbeda pada suatu peristiwa.Secara naluri manusia akan selalu bertahan/ mengontrol diri terhadap apa yang datang dari luar. Pada kasus diatas tentu awalnya kita akan melakukan pertahanan diri dengan tetap mengepalkan tangan kita. Demikian juga dengan B akan tetap mempertahankan untuk selalu mengepalkan. Sehingga pada pertanyaan satu (1) dan dua (2) masing-masing dari A dan B akan mengepalkan tangan. Pada pertanyaan tiga (3) tentu bahwa yang memiliki kendali adalah kita.
Halaman 3
Kemungkinan jawaban kita terhadap: Pertanyaan-pertanyaan pertama dan kedua bervariasi, antara yang bersedia membuka, dan yang tetap bertahan menutup kepalan tangannya. Pertanyaan ketiga, siapakah yang sesungguhnya memegang kontrol, yang menutup kepalan tangan atau yang berusaha dengan segala cara untuk membuka kepalan tangan rekannya? Jawabannya tentu kita sendiri yang memegang kontrol atas kepalan tangan kita, apakah kita membuka atau menutup kepalan tangan kita, itu bergantung pada diri kita masing-masing, sesuai dengan kebutuhan dasar kita saat itu.Berkaitan dengan Case diatas maka kontrol atas diri seseorang adalah berbeda, bagaimana kita melakukan bembimbing, mengatur dan mengarahkan perilaku, emosi serta dorongan-dorongan atau keinginan dalam dirinya pada perilaku yang sesuai dengan kelompok maupun lingkungan.
Halaman 4
Selanjutnya psikiater dan pendidik, Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan beberapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’.

Disiplin positif dan nilai - nilai kebijakan universal perlu diberlakukan di sekolah agar mereka dapat menjadi individu yang baik, disiplin. Namun hal yang perlu dilakukan sekolah dalam penerapan disiplin positif adalah melibatkan siswa dalam penyusunan disiplin tersebut, membuat kesepakatan melalui musyawarah dan diskusi. Dengan demikian murid akan melakukan kesepakatan tentang tata tertib atau disiplin positif itu dengan kesadarannya sendiri tanpa rasa terpaksa dan mereka sendirilah yang memegang kendali kontrol atas dirinya.Memaksakan sesuatu kepada murid memang kurang berdampak baik khususnya pada diri murid. karena pada hakekatnya murid belajar sesuai dengan kodratnya dan kita harus dadpat memotivasi agar mereka mampu mengembangkan bakat dan minat dengan penguatan positif. Dengan demikian akan disadari secara baik akan pentingnya sesuatu hal yang dilakukan oleh diri sendiri
Halaman 5
Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol? (Stephen R. Covey) Terdapat perbedaan yang sangat nyata antara teori stimulus respon dengan teori kontrol. Dalam Stimulus Respon seolah-olah orang lain dapat kita kontrol, dapat kita kendalikan, sehingga kita dapat merubah seseorang menjadi apa yang kita inginkan. Tetapi pada Teorikontrol sangat bertolak belakang, sesuatu yang sedang kita kontrol sebetulnya tidak dapat kita kendalikan, karena yang dapat mengontrol adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Sesungguhnya setiap orang berperilaku memiliki tujuannya sendiri-sendiri. Kita harus memiliki suatu pola pikir yang lebih tertata agar kita mampu berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia. KItapun harus memahami jika seseorang berbeda pandangan dengan kita, serta tidak memaksakan pandangan kita kepada orang lain.
Halaman 6, Makna Disiplin
Salah satu strategi dalam rangka menciptakan lingkungan yang positif adalah dengan penerapan disiplin di sekolah. Disiplin sering di maknai kepatuhan terhadap peratutan dan tata tertib yang berlaku, bahkan ada juga yang dikaitkan dengan hukuman jika melanggarnya. Siapakah yang akan berperan mendisiplinkan seseorang atau murid? sebenarnya diri kita yang seharusnya mendisiplinkan sendiri. Jika kita menyadari apa manfaat disiplin bagi diri, bagi lingkungan sekitar dan bagi masa depan kita maka kita akan mendisiplinkan diri kita sendiri dengan penuh kesadaran. Namun jika kita tidak mampu mendisiplinkan diri kita sendiri maka butuh orang lain sebagai motivator untuk menanamkan kedisiplinan. Karena sikap disiplin ternyata sangat berguna bagi masa depan murid.Disiplin merupakan salah satu kunci kesuksesan seseorang. Disiplin yang kita terapkan kepada murid, maka harus diawalai dari diri kita sebagai pendidik dengan menciptakan perilaku disiplin dalam setiap hal terutama kinerja kita . Menjadikan murid displin tidak semudah yang kita banyangkan, akan tetapi mebutuhkan proses dan waktu yang cukup agar kedisiplinan menjadi suatu bentuk kesadaran yang muncul dari amsing-masing individu
Halaman 7, Makna Kata Disiplin
Salah satu tugas guru sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun anak. Dalam konteks disiplin diri, kita sebagai pendidik harus dapat menuntun siswa untuk menjadikannya siswa yang disiplin, mencapai manfaat dan kebahagiaan karena motivasi intrinsiknya (dari dalam), bukan motivasi ekstrinsik (dari luar). Jika telah terbentuk motivasi disiplin dari dalam dirinya maka siswa tersebut sudah sadar dan bukan lagi karena paksaan ataupun hukuman.Untuk mencapai kemerdekaan atau untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat yaitu disiplin diri, yang diantara memiliki motivasi internal yang tinggi, mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai.
Halaman 8, Nilai-Nilai Kebajikan
disiplin merupakan suatu bentuk perbuatan kontrol diri, yaitu belajar untuk mengontrol diri agar dapat mencapai suatu tujuan mulia yakni nilai-nilai kebajikan yang merupakan sifat-sifat positif manusia. Nilai-nilai kebajikan merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Dengan kata lain bahwa nilai-nilai kebajikan merupakan salah satu motivasi instrinsik. Artinya seseorang yang berperilaku disiplin akan mendapatkan nilai-nilai kebajikan yang merupakan tujuan mulia setiap individu.Nilai-nilai kebajikan yang harus ada pada diri guru penggerak sudah seharusnya diterapkan. Karena dengan menerapkan nilai-nilai kebajikan tersebut sebagai pendidik akan mendapatkan motivasi internal untuk terus berdisiplin dalam segala bentuk kebajikan. Bukan hanya pendidik yang memiliki nilai-nilai kebajikan. siswapun memiliki nilai-nilai kebajikan yaitu dengan menerapkan dan sadar akan Profil Pelajar Pancasila yang harus ia terapkan agar mendapatkan motivasi internal dari dalam dirinya dan sadar untk melaksanakan disiplin diri.
Halaman 9, Nilai-nilai Kebajikan dari enam institusi/organisasi
Nilai-nilai Kebajikan Profil Pelajar Pancasila IBO Primary Years Program (PYP) Sembilan Pilar Karakter (Indonesian Heritage Foundation/IHF) Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup (LIfelong Gu... The Seven Essential Virtues (Building Moral Intelligence,... The Virtues Project (Proyek Nilai-nilai Kebajikan)

Salah satu nilai kebajikan yang paling menarik adalah Profil Pelajar Pancasila. Nilai-nilai kebajikan tersebut sudah mulai diterapkan disekolah kami secara keseluruhan. Salahsatunya kebajikan tentang Beriman dan bertaqwa hingga menjadi siswa yang berakhlak mulia. Untuk mencapai beriman dan bertaqwa haruslah ada kegiatan yang terkontrol dan berkesinambungan, salah satu strateginya dengan buku prestasi. Buku prestasi tersebut berisi daftar melaksanakan kegiatan solat, kegiatan belajar, dan kegiatan positif lainnya yang dilaksanankan oleh siswa. Hal tersebut dilaksanakan terus secara berkesinambungan hingga menjadi suatu budaya yang positif.
Halaman 10
Mungkin pada awalnya motivasi Anda mengikuti Program Guru Penggerak ini karena ingin mendapatkan suatu penghargaan tertentu. Namun seiring Anda mengikuti program ini dan kemudian menikmatinya, mungkinkah motivasi Anda berubah menjadi sebuah keinginan untuk menjadi guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini? Bila itu terjadi, apa dampaknya untuk diri Anda? Apa yang Anda dapatkan, mengapa hal itu penting untuk Anda?
Jawaban
Lecutan ilimu baru yang didapat dari modul2 yang telah dipelajari menjadikan tersadar bahwa mengikuti guru penggerak memiliki dampak yang signifikan. Dampak yang dirasakan oleh saya metode mengajar saya semakin bervariatif dan berpihak pada murid dengen mengedepankan pembelajaran berdiferensiasi juga lebih aktif mengajak rekan guru dalam komunitas praktisi untuk mersama bergerak memajukan pendidikan baik dilingkup sekolah ataupun daerah. Ilmu baru wawasan baru paradigma baru dalam dunia pendidikan yaitu pendidikan yang berpihak pada murid yang senantias membimbing murid unutk mencapai kebahagiaannya dengan memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh murid tersebut.
Halaman 11
Sebagai seorang pendidik, saat Anda perlu hadir di suatu pelatihan, motivasi apakah yang mendasari tindakan Anda? Apakah Anda hadir karena tidak ingin ditegur oleh pihak panitia atau pengawas Anda, dan mendapatkan surat teguran (menghindari ketidaknyamanan dan hukuman), atau Anda ingin dilihat dan dipuji oleh lingkungan Anda, atau mendapat penghargaan sebagai kepala sekolah berprestasi? (mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain), atau Anda ingin menjadi pemelajar sepanjang hayat, menjadi orang yang berusaha dan bertanggung jawab serta menghargai diri Anda sendiri sebagai teladan bagi murid-murid Anda, guru-guru Anda, serta lingkungan Anda karena Anda percaya, tindakan Anda sebagai pemimpin pembelajaran akan jadi panutan oleh lingkungan Anda (menghargai nilai-nilai kebajikan diri sendiri). Manakah motivasi yang paling kuat mendasari tindakan Anda, atau adakah suatu proses perubahan motivasi antara dua motivasi?
Jawaban
Motivasi hadir pada pelatihan adalah bahwa melalui pelatihan sebagai bentuk pengembangan diri, melalui kegiatan ini kita mengupgrade ilmu,kemampuan dan kompetensi melalui sehingga mengingatkan kembali bahkan menambah kembali terkait tujuan hingga peran Anda dalam dunia pendidikan. Hal tersebut mampu mengembalikan semangat dalam mengajar seperti saat pertama kali Anda mulai dalam mengajar.
Halaman 12
Bila di sekolah Anda tidak ada aturan yang memberikan surat teguran bagi karyawan yang sering datang terlambat, atau tidak ada atasan yang memberikan Anda penghargaan menjadi karyawan terbaik, karena sering tepat waktu, apakah Anda akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid Anda? Jelaskan alasan Anda.
Jawaban
Disiplin pada diri seseorang adalah sebagai sebuah habit (pembiasaan) diri maka apapun yang saya lakukan tidak terpengaruh ada dan tidaknya penghargaan. Datang tepat waktu sudah menjadi kebiasaan tidak terpengaruh pada diberi penghargaan atau tidak. Komitmen dan telah menjadi habit untuk datang tepat waktu.
Halaman 13
Menurut Anda, dari ketiga jenis motivasi yang disebutkan pada pertanyaan sebelumnya, motivasi manakah yang saat ini paling banyak mendasari perilaku murid-murid Anda di sekolah? Jelaskan.
Jawaban
Motivasi yang mendasari perilaku peserta didik di sekolah yakni menghargai nilai-nilai kebajikan diri sendiri. Hal ini dimungkinkan karena usia peserta didik kami yakni remaja dimana setelah mereka lulus mereka dihadapkan pada pilihan bekerja, wirausaha dan melanjutkan kuliah. Karena kami SMK Sebagian besar siswa kami setelah lulus langsung bekerja. Sehingga motivasi mereka saat berperilaku khususnya dalam pembelajaran yakni bagaimana mereka memiliki kecakapan kompetensi mereka yang menunjang saat mereka terjun di masyarakat. Selain itu mereka juga menyadari bahwa kondisi sosial mereka yakni hampir sebagian besar siswa kami berasal dari keluarga yang tingkat perekonomiannya kurang, sehingga apabila mereka ingin memperbaiki tingkat sosial mereka agar dapat pekerjaan yang baik mereka harus belajar dengan sungguh-sungguh.
Halaman 14
Strategi apa yang selama ini Anda terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid Anda, bagaimana hasilnya pada perilaku murid-murid Anda?
Jawaban
Menanamkan disiplin positif pada siswa melalui strategi punishmen and reward. Penghargaan untuk siswa yang mengerjakan atau mengumpulkan tugas tepat waktu dan memberikan bentuk teguran/hukuman bagi siswa yang mengulur-ulur waktu mengerjakan tugas.
Halaman 15
Nilai-nilai kebajikan apa yang Anda rasakan penting saat ini untuk ditanamkan pada murid-murid Anda di kelas/sekolah Anda? Mengapa?
Jawaban
Nilai-nilai kebajikan yang saya rasakan penting saat ini untuk ditanamkan pada murid-murid saya di kelas/sekolah adalah nilai kejujuran,keadilan, peduli, integritas, kesabaran, tanggung jawab, mandiri, berprinsip, keselamatan, kesehatan. Hal itu karena nilai tersebut merupakan nilai-nilai yang universal dalam wadah kebhinekaan
Halaman 16
Semoga dapat membentuk murid-murid yang berkarakter,berdisiplin, santun, jujur, peduli, bertanggung jawab, dan merupakan pemelajar sepanjang hayat sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang diharapkan.

Read More »
25 May | 5komentar