Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by relevance for query Sumber belajar. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Sumber belajar. Sort by date Show all posts

Ketika Sumber Belajar berada di Bangku Sebelah

Ada satu hal yang sering luput ketika kita berbicara tentang pembelajaran: gagasan tidak selalu datang dari guru, dan sumber belajar tidak selalu berada di dalam buku. Kita sering merasa harus menyiapkan sesuatu yang istimewa agar pembelajaran menjadi bermakna. Mencari video yang menarik, menyiapkan presentasi, membuat lembar kerja, menghadirkan narasumber, atau membawa siswa keluar kelas. Semua itu baik. Tetapi mungkin kita lupa bahwa dunia di sekitar kita sebenarnya tidak pernah berhenti menyediakan bahan untuk belajar. Yang kita perlukan bukan selalu sumber belajar yang baru. Kadang-kadang, yang kita perlukan adalah kemampuan untuk melihat.  
Memeriksa Sebuah Gagasan Pembelajaran yang bermakna tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang terjadi?” Ia bergerak lebih jauh: Mengapa itu terjadi? Apa yang sebenarnya kita lihat? Apakah anggapan kita benar? Bukti apa yang mendukungnya? Adakah kemungkinan lain? Apa yang bisa kita pelajari dari fenomena tersebut? Di sinilah Phenomenon-Based Learning menjadi menarik. Pembelajaran dimulai dari fenomena. Bukan sekadar untuk membuat siswa tertarik, tetapi untuk mengajak mereka memeriksa sebuah gagasan. Siswa tidak hanya menerima jawaban. Mereka diajak mengamati, bertanya, mencari hubungan, membandingkan informasi, menguji dugaan, berdiskusi, dan akhirnya membangun pemahamannya sendiri. Dengan kata lain, fenomena menjadi pintu masuk untuk menyalakan nalar.  
Fenomena Tidak Harus Hebat  
Kita sering membayangkan fenomena sebagai sesuatu yang besar. Perubahan iklim. Bencana alam. Kecerdasan buatan. Pandemi. Perubahan sosial. Tentu semuanya bisa menjadi fenomena pembelajaran. Tetapi fenomena tidak harus selalu berupa peristiwa besar, viral, atau sesuatu yang kita ambil dari buku. Kadang-kadang, sumber belajar itu duduk di bangku sebelah kita. Kadang ia muncul dari obrolan dua bocah berumur sepuluh tahun. Kadang cukup dari sampah di halaman sekolah. Dari antrean kantin. Dari video TikTok. Dari pertengkaran teman. Dari pertanyaan polos seorang anak. Masalahnya bukan karena fenomena-fenomena itu tidak ada. Masalahnya adalah kita sering melewatinya tanpa bertanya.  
Sampah di Halaman Sekolah Misalnya, ada sampah berserakan setelah jam istirahat. Kita bisa saja mengatakan,  
"Anak-anak, jangan membuang sampah sembarangan."  
Selesai.  
Tetapi bagaimana jika kita berhenti sejenak dan menjadikan sampah itu sebagai fenomena?  
Mengapa sampah lebih banyak ditemukan di tempat tertentu?  
Siswa bisa mulai mengamati. Jenis sampah apa yang paling banyak?  
Dari mana asalnya?  
Mengapa siswa memilih membuang sampah di sana?  
Apakah jumlah tempat sampah berpengaruh?  
Apakah letak tempat sampah berpengaruh?  
Bagaimana kebiasaan membuang sampah terbentuk?  
Apakah poster larangan membuang sampah efektif?  
Bagaimana jika tempat sampah dipindahkan?  
Pertanyaan sederhana itu dapat membawa siswa ke berbagai disiplin ilmu. Matematika dapat berbicara tentang data. IPA tentang lingkungan. Bahasa tentang kemampuan menyampaikan gagasan. IPS tentang perilaku sosial. Informatika tentang pengolahan dan visualisasi data. Bahkan pendidikan karakter tentang tanggung jawab.  
Satu fenomena dapat menjadi pintu menuju banyak pengetahuan.  
Antrean di Kantin Begitu juga dengan antrean di kantin. Biasanya kita hanya melihat siswa yang sedang menunggu makanan. Tetapi seorang guru dapat bertanya:  
Mengapa antrean bisa menjadi panjang?  
Dari sana muncul pengamatan.  
Berapa lama rata-rata seorang siswa dilayani?  
Berapa banyak siswa yang datang dalam lima menit?  
Mengapa ada yang menyerobot?  
Apakah sistem pelayanan sudah efisien?  
Bagaimana cara membuat antrean lebih cepat dan adil?  
Tanpa sadar, siswa sedang belajar tentang matematika, sistem, perilaku manusia, keadilan, dan pemecahan masalah. Mereka tidak sedang sekadar belajar tentang antrean. Mereka sedang belajar memahami sebuah sistem.  
Bahkan TikTok Bisa Menjadi Bahan Belajar Begitu juga dengan video TikTok. Kita bisa langsung mengatakan: "Jangan terlalu sering bermain TikTok." Tetapi kita juga bisa bertanya:  
Mengapa video tertentu bisa viral?  
Apa yang membuat orang berhenti menggulir layar?  
Bagaimana algoritma bekerja?  
Apakah informasi dalam video tersebut benar?  
Bagaimana kita membedakan fakta dan opini?  
Mengapa orang mudah percaya pada informasi tertentu?  
Apa dampak sebuah video terhadap cara kita berpikir?  
Tiba-tiba sesuatu yang sering dianggap sebagai gangguan pembelajaran berubah menjadi objek pembelajaran. Bukan berarti sekolah harus membenarkan semua yang ada di media sosial. Justru sebaliknya. Sekolah hadir untuk membantu anak memeriksa apa yang mereka lihat.  
Dari Pertengkaran Menjadi Pembelajaran  
Bahkan pertengkaran dua orang siswa bisa menjadi fenomena. Alih-alih segera mencari siapa yang salah, guru dapat membantu mereka memahami apa yang terjadi. Apa yang memicu konflik? Apa yang masing-masing pihak rasakan? Apakah keduanya melihat peristiwa yang sama dengan cara yang berbeda? Informasi apa yang belum diketahui? Apakah sebuah masalah selalu memiliki satu sudut pandang? Bagaimana konflik dapat diselesaikan?  
Di sini pembelajaran tidak lagi hanya berbicara tentang teori. Anak sedang belajar tentang manusia. Tentang emosi. Tentang perspektif. Tentang komunikasi. Tentang konsekuensi. Tentang bagaimana hidup bersama orang lain. Dan bukankah salah satu tujuan pendidikan adalah membantu manusia memahami manusia lainnya?  
Pertanyaan Polos Seorang Anak Yang paling menarik sering kali justru datang dari pertanyaan yang menurut orang dewasa sangat sederhana. "Bu, kenapa langit warnanya biru?" "Pak, kenapa kalau kita lapar jadi marah?" "Kenapa orang kaya masih bekerja?" "Kenapa kita harus sekolah?" "Kalau semua orang sudah tahu internet, kenapa masih ada yang percaya berita palsu?" Pertanyaan seperti itu jangan buru-buru dimatikan dengan jawaban. Sebab di balik pertanyaan polos sering kali terdapat rasa ingin tahu yang besar.  Dan tugas guru bukan selalu memberikan jawaban secepat mungkin. Kadang tugas guru adalah mengatakan:  
"Pertanyaanmu menarik. Mari kita cari tahu." Kalimat sederhana itu mengubah posisi guru. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Guru menjadi teman berpikir. Dari "Apa Jawabannya?" Menjadi "Bagaimana Kamu Tahu?" Mungkin inilah perubahan kecil yang perlu kita lakukan dalam pembelajaran. Kita terlalu sering bertanya: "Apa jawabannya?"  
Padahal mungkin kita perlu lebih sering bertanya:  
"Bagaimana kamu tahu?"  
Apa buktinya?  
Dari mana informasi itu berasal? 
  Apakah sumbernya dapat dipercaya? 
 Apakah ada sudut pandang lain?  
Apakah dugaanmu bisa diuji?  
Apa yang membuatmu mengubah pendapat?  
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini melatih anak untuk tidak sekadar memiliki jawaban, tetapi mampu mempertanggungjawabkan cara berpikirnya. Dan di tengah dunia yang dipenuhi informasi, kemampuan semacam ini menjadi semakin penting.  
Guru Tidak Harus Menciptakan Dunia Baru  
Barangkali kita tidak perlu selalu menciptakan pengalaman belajar yang luar biasa. Kita hanya perlu belajar melihat bahwa kehidupan sehari-hari sudah penuh dengan fenomena. Anak-anak datang ke sekolah membawa pengalaman mereka. Mereka membawa percakapan. Mereka membawa kegelisahan. Mereka membawa video yang mereka tonton semalam. Mereka membawa pertanyaan yang belum terjawab. Mereka membawa konflik. Mereka membawa rasa ingin tahu. Semua itu sebenarnya adalah bahan bakar pembelajaran. Tugas guru adalah menangkapnya, mengolahnya, lalu mengubahnya menjadi ruang untuk berpikir. Sebab pembelajaran tidak selalu dimulai ketika guru membuka buku. Kadang pembelajaran dimulai ketika seorang anak menunjuk sesuatu dan berkata: "Bu, kenapa begitu?" Dan mungkin respons terbaik guru bukanlah memberikan jawaban.  
Tetapi tersenyum, berhenti sejenak, lalu berkata: "Saya juga penasaran. Mari kita periksa bersama." Karena pendidikan yang baik bukan hanya membuat anak tahu lebih banyak. Pendidikan yang baik membuat anak berani bertanya, mampu memeriksa, dan bersedia mengubah pikirannya ketika menemukan alasan yang lebih baik. Pada akhirnya, mungkin itulah makna terdalam dari Phenomenon-Based Learning: mengajarkan anak untuk melihat dunia bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan nalar. Dan ketika itu terjadi, kita akan menyadari satu hal:  
Sumber belajar ternyata tidak pernah jauh. Ia ada di halaman sekolah. Di kantin. Di layar ponsel. Di percakapan. Di konflik. Di pertanyaan. Bahkan mungkin ia sedang duduk di bangku sebelah kita.

Read More »
07 October | 0komentar

Mengenal Pembelajaran Flipped Classroom

Ilustrasi Flipped Classroom, Sumber Gambar: https://www.kajianpustaka.com/
Flipped classroom adalah salah satu model atau metode belajar yang meminimalkan pengajaran langsung dari guru, dimana dalam proses belajarnya siswa mempelajari materi pelajaran terlebih dahulu di rumah, sedangkan kegiatan belajar mengajar di kelas hanya berupa pengerjaan tugas,  Metode ini sangat relevan dengan kondisi pandemi seperti sekarang ini. Konsep model belajar flipped classroom pada dasarnya adalah apa yang dilakukan di kelas pada pembelajaran konvensional dikerjakan di rumah, sedangkan pekerjaan di rumah pada pembelajaran konvensional diselesaikan di kelas.
Model Flipped Classroom diartikan bahwa peserta didik mempelajari materi terlebih dahulu (beberapa hari sebelum pembelajaran tatap muka di kelas), melalui beragam media yang disediakan oleh pendidik. Sehingga, ketika pembelajaran di kelas berlangsung, pendidik tidak lagi memberikan materi dengan ceramah, tetapi peserta didik langsung melakukan aktivitas belajar sesuai petunjuk guru.
Beberapa kelebihan dalam penggunaan model pembelajaran flipped classroom:

  1. Peserta didik lebih aktif dan diberikan peran terhadap pola pembelajaran mereka.
  2. Sangat sesuai dengan gaya belajar peserta didik masa kini, dimana peserta didik sangat dekat dengan teknologi.
  3. Membantu peserta didik yang mau berusaha untuk memahami materi belajar secara lebih leluasa di rumah.
  4. Meningkatkan interaksi antara peserta didik dengan guru.


Beberapa alternatif penerapan Model Flipped Classroom saat peserta didik Belajar Dari Rumah (BDR), yakni Alternatif I an Alternatif II:


Berikut hal-hal yang dilakukan oleh Guru/Pendidik, Peserta Didik, Sekolah dan Orang Tua dalam proses pembelajaran model Flipped Classroom:

1. Sintaks Pembelajaran Flipped Classroom oleh Pendidik:

Sintaks
Peran Pendidik
Awal tahun pelajaran
•    Menganalisis materi, indikator pencapaian kompetensi, dan kebutuhan media, serta karakteristik peserta didik (sarana & kemampuan awal)
•    Mengidentifikasi konten/media pembelajaran yang tersedia di Rumah Belajar
(Sumber Belajar, TV Edukasi, serta sumber belajar lainnya)
•    Mempersiapkan bahan belajar dan panduan pembelajaran yang akan menjadi rujukan bagi peserta didik dalam melaksanakan aktivitas.

Daring (WAG/Kelas Digital/Sosmed)
Blended/Luring
Sebelum pembelajaran (kurang lebih 1 minggu)
•    Memberikan bahan belajar dan petunjuk belajar yang harus dipelajari peserta didik melalui WAG/Kelas Digital/Sosmed/ aplikasi lain.
•    Menjawab pertanyaan dari peserta didk terkait materi yang belum mereka pahami melalui WAG/Kelas Digital/Sosmed/ aplikasi lain.
•    Memberikan bahan belajar dan petunjuk belajar yang harus dipelajari peserta didik melalui WAG. Menginformasikan pada peserta didik untuk berbagi bahan belajar kepada temannya yang tidak memiliki WAG.
•    Memberikan daftar materi dan petunjuk belajar bagi peserta didik, sesuai jadwal tatap muka dari sekolah secara bergiliran (apabila peserta didik tidak memiliki sarana untuk pembelajaran daring)
Saat Pembelajaran
1.  Memfasilitasi diskusi peserta didik terkait materi dalam chat grup atau video conference.
2.  Memberikan arahan pada peserta didik yang sedang presentasi atau simulasi melalui video conference (WAG atau aplikasi lain).
3.  Membimbing peserta didik yang belum memahami materi yang sudah dipelajari.
4.  Memberikan ulasan atau umpan balik pada peserta didik yang telah melakukan presentasi.
5.  Memberikan evaluasi kepada semua peserta didik untuk mengetahui capaian tujuan pembelajaran menggunakan aplikasi kuis/Latihan.
1.  Memfasilitasi peserta didik yang tidak memiliki sarana untuk pembelajaran daring dengan home visit terjadwal. Peserta didik dikelompokkan sesuai jarak rumah mereka (4 – 5 orang).
2.  Kelompok peserta didik diberi kesempatan untuk berdiskusi atau mempresentasikan tugas yang telah dikerjakan sebelumnya.
3.  Memberikan umpan balik setelah peserta didik dalam kelompoknya selesai melakukan simulasi atau presentasi.
4.  Mengarahkan peserta didik untuk menuliskan kesimpulan terhadap materi yang baru dipelajari.
(semua aktivitas luring dilakukan dalam durasi 60 menit)
Setelah pembelajaran
Menggunakan sosial media sebagai wadah bagi peserta didik untuk berbagi proyek/praktik yang telah dilakukan.
Komentar dari pengunjung sosial media bisa dijadikan salah satu evaluasi hasil karya peserta didik.
(Konten yang diunggah peserta didik bisa materi remedial atau pengayaan)
Peserta didik dapat diberikan tugas untuk membuat poster atau bahan belajar sederhana. Tugas dapat dilakukan secara kolaborasi, antara peserta didik yang memiliki gawai dan tidak tetapi rumahnya saling berdekatan.
(Konten yang dibuat peserta didik bisa materi remedial atau pengayaan, kemudian diunggah ke sosial media)


2. Sintaks Pembelajaran Flipped Classroom oleh Peserta Didik:
Sintaks
Peran Peserta Didik
Daring (WAG/Kelas Digital/Sosmed)
Blended/Luring
Sebelum pembelajaran (kurang lebih 1 minggu)
•    Mempelajari bahan belajar dan petunjuk belajar yang diberikan pendidik melalui WAG/Kelas Digital/Sosmed/ aplikasi lain.
•    Mencatat materi yang belum dipahami dan berdiskusi melalui WAG/Kelas Digital/ Sosmed/ aplikasi lain.
•    Menyiapkan tugas atau presentasi sesuai petunjuk pendidik.
•    Mempelajari bahan belajar dan petunjuk belajar yang diberikan pendidik melalui WAG/Kelas Digital/Sosmed/ aplikasi lain.
•    Menginformasikan bahan belajar dan petunjuk belajar yang telah dipelajari kepada temannya yang tidak memiliki WAG.
•    (apabila peserta didik tidak memiliki sarana untuk pembelajaran daring dan tidak ada teman yang bisa berbagi, maka pendidik akan memberikan tugas & petunjuk belajar di sekolah sesuai jadwal)
Saat Pembelajaran
1.  Melakukan diskusi untuk menjawab permasalahan yang diberikan pendidik dalam chat grup atau video conference secara berkelompok.
2.  Melakukan simulasi atau mempresentasikan hasil diskusi/ tugas sesuai petunjuk pendidik, serta berdiskusi dengan kelompok lain.
3.  Mengerjakan kuis menggunakan aplikasi atau membuat resume/ kesimpulan.
Apabila peserta didik tidak memiliki sarana daring, pendidik melakukan home visit secara berkelompok dengan durasi 60 menit.

1.  Peserta didik berdiskusi terkait tugas yang diberikan pendidik dengan kelompoknya diarahkan dan difasilitasi oleh pendidik.
2.  Peserta didik membuat resume/ kesimpulan hasil diskusi dan mempresentasikan di depan pendidik.
3.  Setiap peserta didik membuat kesimpulan berdasarkan pemahaman mereka atau mengerjakan kuis yang diberikan pendidik.
Setelah pembelajaran
Menggunakan sosial media sebagai wadah bagi peserta didik untuk berbagi proyek/ praktik yang telah dilakukan. Komentar
dari pendidik, orang tua, dan teman, bisa dijadikan salah satu evaluasi hasil karya peserta didik.

(Konten yang diunggah peserta didik bisa materi remedial atau pengayaan)
Peserta didik dapat diberikan tugas untuk membuat poster atau bahan belajar sederhana. Tugas dapat dilakukan secara kolaborasi, antara peserta didik yang memiliki gawai dan tidak tetapi rumahnya saling berdekatan, atau sesuai kelompok belajarnya.

(Konten yang dibuat peserta didik bisa materi remedial atau pengayaan, kemudian diunggah ke sosial media)


3. Sintaks Pembelajaran Flipped Classroom oleh Sekolah:
 Langkah-langkah Sekolah saat BDR dengan Model Flipped Classroom

  1. Berkoordinasi dengan pendidik sebelum tahun ajaran baru dimulai, dalam rangka menyiapkan jadwal vicon apabila memungkinkan bagi peserta didik. 
  2. Memfasilitasi pendidik untuk menyiapkan konten/bahan belajar bagi peserta didik. 
  3.  Memfasilitasi peserta didik yang memiliki keterbatasan sarana untuk melakukan pembelajaran daring di rumah. Misalnya: Ketika ada pertemuan dengan guru secara tatap muka daring, ada siswa yang tidak memiliki sarana perlu difasilitasi oleh sekolah (guru home visit atau siswa datang ke sekolah). 
  4. Menyampaikan informasi kepada orang tua tentang system pembelajaran yang akan diterapkan oleh guru-guru dan memberikan alternatif pilihan cara belajar peserta didik kepada orang tua (jika memang sekolah memiliki kemampuan untuk mengakomodir beberapa alternatif yang disepakati antara sekolah dan pendidik). 


4. Sintaks Pembelajaran Flipped Classroom oleh Orang Tua:
Langkah-langkah Orang Tua saat BDR dengan Model Flipped Classroom. Persiapan di awal tahun pelajaran:

  1. Menyiapkan gawai (laptop atau handphone) dan jaringan internet di rumah, jika memungkinkan. Menyiapkan aplikasi pembelajaran yang akan digunakan sesuai petunjuk/ informasi dari sekolah, jika memungkinkan. 
  2. Mencatat jadwal kegiatan daring peserta didik. 
  3.  Mendampingi peserta didik, terutama pada jenjang dasar, ketika mempelajari materi, berdiskusi dengan guru dan temannya secara langsung melalui berbagai saluran yang tersedia, serta saat menyelesaikan tugas dari pendidik.


Sumber: Pusdatin/ Rumah Belajar

Read More »
03 September | 0komentar

Membedah RPP Berdiferensiasi

Model Mengajar RPP Berdiferensial

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodasi kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar. Yang pertama dipersiapkan adalah menggali karakteristik anak.
Ciri-ciri atau kerekteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain; lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif.

Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, yang perlu dilakukan adalaah:
Guru melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll) 
Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar) 
Mengevaluasi dan merefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung. 

Pemetaan kebutuhan belajar siswa sebagai penentu langkah selanjutnya. Jika hasil pemetaan kita tidak akurat maka rencana pembelajaran dan tindakan yang kita buat dan lakukan akan menjadi kurang tepat. Untuk memetakan kebutuhan belajar murid kita juga memerlukan data yang akurat baik dari murid, orang tua/wali, maupun dari lingkungannya. 
 Akibatnya data yang kita kumpulkan untuk memetakan kebutuhan belajar murid sulit kita tentukan valid atau tidaknya. Dukungan dari orang tua dan murid untuk memberikan data yang lengkap dan benar sesuai kenyataan yang ada. Tidak ditambahi dan juga tidak dikurangi. Orang tua dan murid harus jujur ketika guru melakukan pemetaan kebutuhan belajar, baik elalui wawancara, angket, survey. 

contoh survey untuk pemetaan belajar siswa

Dari analisis hasil survey diatas semisal banyak yang menjawab ya atau banyak ragam jawaban maka kita harus mengakomodasinya dari misalkan materi, alat belajar, media belajar dan proses pembelajaran.
Tentunya proses tersebut kita tuangkan pada RPP berdiferensiasi yang kita buat. Contoh dari segi konten kita dapat membuat tujuan Pembelajaran dalam RPP seperti contoh dibawah ini :

TUJUAN PEMBELAJARAN
Melalui proses mencari informasi (melalui video,blog dan media interaktif), menanya, berdiskusi dan presentasi peserta didik di harapkan dapat : 
  1. Menjelaskan perintah pengoperasian menggambar bidang 2 dimensi menggunakan software AutoCAD, 
  2. Mengidentifikasikan perintah pengoperasian menggambar bidang 2 dimensi menggunakan software AutoCAD, 
  3. Mampu Menunjukan perintah pengoperasian menggambar bidang 2 dimensi dengan menubar. 
  4. Mampu Menunjukan perintah pengoperasian menggambar bidang 2 dimensi dengan toolbar. 
  5. Mampu Menunjukan perintah pengoperasian menggambar bidang 2 dimensi dengan shortcut keyboard 
  6. Mendemontrasikan menggambar bidang 2 dimensi menggunakan software AutoCAD dengan penuh rasa rasa ingin tahu, tanggung jawab, displin selama proses pembelajaran, bersikap jujur, percaya diri dan pantang menyerah, serta memiliki sikap responsif (berpikir kritis) dan proaktif (kreatif), serta mampu berkomukasi dan bekerjasama dengan baik.
B. SUMBER BELAJAR 

1. Video Tutorial 
2. Aplikasi blogger, google meet, google formulir, dan WhatsApp 
3. Media Pembelajaran Interaktif  Menggambar 2D oleh sarastiana,SPd,MBA
4. Blog www.sarastiana.com 
5. Buku siswa Gambar 2D kelas XI oleh Mediatama 
6. Diktat Menggambar 2D oleh sarastiana

C. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan

Deskripsi Kegiatan

Pendahuluan

●       Guru menyapa peserta didik

●       Guru memulai pelajaran dengan mengucapkan salam, berdoa, dan menanyakan kesiapan belajar peserta

●       Guru melakukan apersepsi dengan mengajak peserta didik untuk melihat video tutorial Menggambar rumah dengan AutoCAD

●       Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai


Kegiatan Inti

●       Guru mengeksplorasi pengetahuan peserta didik dengan meminta peserta didik mengamati gambar potongan rumah, video tutorial dan membagikan link blog tentang materi.( https://www.sarastiana.com/2022/10/jenis-jenis-uraian-pekerjaan-pada.html).

●       Guru memberikan link lembar kerja untuk didiskusikan

●       Peserta didik diberikan kesempatan untuk saling bertanya jawab  tentang jenis-jenis pekerjaan yang ada dikonstruksi

●       Guru memberikan penguatan tentang jenis-jenis pekerjaan

Guru melakukan diferensiasi proses

(Guru menggunakan video dan gambar potongan.untuk murid-murid yang bergaya belajar visual dan link blog untuk siswa yang bergaya belajar tekstual dan media interaktif untuk siswa yang bergaya belajar kinestetik.

(untuk siswa yang masing belum paham guru memberi layanan secara japri lewat wa)

●       Peserta didik membuat pertanyaan terkait dengan perintah menggambar 2 dimensi

●       Guru menunjukan video tutorial, link blog dan link media pembelajaran interaktif  dan mengirimkan link-nya lewat WAG agar dapat diakses lagi setelah pembelajaran

●       Peserta didik diminta membuat produk pembelajaran yang berkaitan dengan item-item perintah menggambar bid.2 dimensi Ppt, note, diagram atau tulisan

 

Produk dipresentasikan didepan kelas

(Guru melakukan diferensiasi produk)

Kegiatan Penutup

●       Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik

●       Guru menutup pembelajaran dengan mengingatkan peserta didik pentingnya memahami perintah menggambar 2 dimensi sebagai dasar untuk menggambar gambar perencanaan rumah


B.   PENILAIAN

Sikap : Observasi terhadap sikap komitmen peserta didik dalam menyelesaikan tugas. 
Pengetahuan : Menunjukkan pengetahuan tentang perintah mengambar bid.2d 
Keterampilan : Mendemonstrasikan keterampilan dalam perintah mengambar bid.2d


Gallery Model Pembelajaran Berdirensiasi pada Lokakarya 3 CGP Angkatan 6 Kab. Purbalingga 



Read More »
28 December | 0komentar

Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid, Student Agency

Studen Agency, Pilketos Kansika 2022

Sesuai dengan postingan sebelumnya berkaitan dengan student agency,  murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka. 

Read More »
03 March | 0komentar