Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In

1.4.a.4.1. Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal


Tujuan Pembelajaran Khusus CGP dapat menjelaskan makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol. CGP dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol dengan 3 Motivasi Perilaku Manusia. CGP menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif.
Halaman 1
Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai. Jadi Kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut.. 
Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya dan mencoba untuk menolak bujukan kita, atau bisa jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha.Makna ‘kontrol’ pada dasarnya adalah kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut. Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai. Sedangkan makna Disiplin Positif adalah menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut. Sedangkan 3 Motivasi Perilaku Manusia adalah 1)Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, 2)Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. 3)Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan adalah tercipta sebuah budaya positif.
Halaman 2
Anda dan teman Anda akan melakukan kegiatan ‘Cobalah Buka’. Anda adalah A , tugas Anda adalah mengepalkan salah satu tangan Anda. Coba Anda bayangkan bahwa Anda menyimpan sesuatu yang sangat berharga di dalam kepalan tangan Anda. Anda perlu menjaga benda tersebut sekuat tenaga Anda karena begitu pentingnya untuk kehidupan Anda. Tugas B (rekan Anda), adalah mencoba dengan segala cara untuk membuka kepalan tangan Anda. Teman Anda B boleh membujuk, menghardik, mengintimidasi, memarahi, menggoda, menggelitik, bahkan menawari Anda uang agar Anda bersedia membuka kepalan tangan Anda. Cobalah lakukan kegiatan ‘Cobalah Buka’ di atas dengan B secara bergantian, masing-masing A dan B memiliki waktu 30 detik saja. Sesudah itu diskusikan kegiatan ini dan coba jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini secara mandiri, dan diskusikan kembali dengan rekan Anda B. Bandingkan jawaban Anda, apakah berbeda, atau sama. Bilamana berbeda, kira-kira mengapa? Apakah Anda atau B membuka kepalan tangan Anda? Mengapa, apa alasan Anda atau B membuka kepalan tangan Anda? Apakah Anda atau B menutup kepalan tangan Anda? Mengapa, apa alasan Anda atau B tetap menutup kepalan tangan Anda? Dalam kegiatan ini, sesungguhnya siapa yang memegang kendali atau kontrol untuk membuka atau menutup kepalan tangan?Suatu pertanyaan yang menurut saya akan menimbulkan berbagai variasi jawaban. Seseorang akan membuka atau menutup kepalannya dan seseorang akan selalu berusaha untuk membuka kepalan tangan orang lain. Semua itu tergantung dari kekuatan kontrol yang kita milikBagaimana kita rela menyerahkan sesuatu yang mungkin sangat berharga buat kita untuk dapat bermanfaat buat orang lain ataupun merayu orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Dalam peritiwa ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa setiap orang memiliki posisi kontrol yang berbeda pada suatu peristiwa. Suatu pertanyaan yang menurut saya akan menimbulkan berbagai variasi jawaban. Seseorang akan membuka atau menutup kepalannya dan seseorang akan selalu berusaha untuk membuka kepalan tangan orang lain. Semua itu tergantung dari kekuatan kontrol yang kita milik, Bagaimana kita rela menyerahkan sesuatu yang mungkin sangat berharga buat kita untuk dapat bermanfaat buat orang lain ataupun merayu orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. 
Dalam peritiwa ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa setiap orang memiliki posisi kontrol yang berbeda pada suatu peristiwa.Secara naluri manusia akan selalu bertahan/ mengontrol diri terhadap apa yang datang dari luar. Pada kasus diatas tentu awalnya kita akan melakukan pertahanan diri dengan tetap mengepalkan tangan kita. Demikian juga dengan B akan tetap mempertahankan untuk selalu mengepalkan. Sehingga pada pertanyaan satu (1) dan dua (2) masing-masing dari A dan B akan mengepalkan tangan. Pada pertanyaan tiga (3) tentu bahwa yang memiliki kendali adalah kita.
Halaman 3
Kemungkinan jawaban kita terhadap: Pertanyaan-pertanyaan pertama dan kedua bervariasi, antara yang bersedia membuka, dan yang tetap bertahan menutup kepalan tangannya. Pertanyaan ketiga, siapakah yang sesungguhnya memegang kontrol, yang menutup kepalan tangan atau yang berusaha dengan segala cara untuk membuka kepalan tangan rekannya? Jawabannya tentu kita sendiri yang memegang kontrol atas kepalan tangan kita, apakah kita membuka atau menutup kepalan tangan kita, itu bergantung pada diri kita masing-masing, sesuai dengan kebutuhan dasar kita saat itu.Berkaitan dengan Case diatas maka kontrol atas diri seseorang adalah berbeda, bagaimana kita melakukan bembimbing, mengatur dan mengarahkan perilaku, emosi serta dorongan-dorongan atau keinginan dalam dirinya pada perilaku yang sesuai dengan kelompok maupun lingkungan.
Halaman 4
Selanjutnya psikiater dan pendidik, Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan beberapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’.

Disiplin positif dan nilai - nilai kebijakan universal perlu diberlakukan di sekolah agar mereka dapat menjadi individu yang baik, disiplin. Namun hal yang perlu dilakukan sekolah dalam penerapan disiplin positif adalah melibatkan siswa dalam penyusunan disiplin tersebut, membuat kesepakatan melalui musyawarah dan diskusi. Dengan demikian murid akan melakukan kesepakatan tentang tata tertib atau disiplin positif itu dengan kesadarannya sendiri tanpa rasa terpaksa dan mereka sendirilah yang memegang kendali kontrol atas dirinya.Memaksakan sesuatu kepada murid memang kurang berdampak baik khususnya pada diri murid. karena pada hakekatnya murid belajar sesuai dengan kodratnya dan kita harus dadpat memotivasi agar mereka mampu mengembangkan bakat dan minat dengan penguatan positif. Dengan demikian akan disadari secara baik akan pentingnya sesuatu hal yang dilakukan oleh diri sendiri
Halaman 5
Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol? (Stephen R. Covey) Terdapat perbedaan yang sangat nyata antara teori stimulus respon dengan teori kontrol. Dalam Stimulus Respon seolah-olah orang lain dapat kita kontrol, dapat kita kendalikan, sehingga kita dapat merubah seseorang menjadi apa yang kita inginkan. Tetapi pada Teorikontrol sangat bertolak belakang, sesuatu yang sedang kita kontrol sebetulnya tidak dapat kita kendalikan, karena yang dapat mengontrol adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Sesungguhnya setiap orang berperilaku memiliki tujuannya sendiri-sendiri. Kita harus memiliki suatu pola pikir yang lebih tertata agar kita mampu berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia. KItapun harus memahami jika seseorang berbeda pandangan dengan kita, serta tidak memaksakan pandangan kita kepada orang lain.
Halaman 6, Makna Disiplin
Salah satu strategi dalam rangka menciptakan lingkungan yang positif adalah dengan penerapan disiplin di sekolah. Disiplin sering di maknai kepatuhan terhadap peratutan dan tata tertib yang berlaku, bahkan ada juga yang dikaitkan dengan hukuman jika melanggarnya. Siapakah yang akan berperan mendisiplinkan seseorang atau murid? sebenarnya diri kita yang seharusnya mendisiplinkan sendiri. Jika kita menyadari apa manfaat disiplin bagi diri, bagi lingkungan sekitar dan bagi masa depan kita maka kita akan mendisiplinkan diri kita sendiri dengan penuh kesadaran. Namun jika kita tidak mampu mendisiplinkan diri kita sendiri maka butuh orang lain sebagai motivator untuk menanamkan kedisiplinan. Karena sikap disiplin ternyata sangat berguna bagi masa depan murid.Disiplin merupakan salah satu kunci kesuksesan seseorang. Disiplin yang kita terapkan kepada murid, maka harus diawalai dari diri kita sebagai pendidik dengan menciptakan perilaku disiplin dalam setiap hal terutama kinerja kita . Menjadikan murid displin tidak semudah yang kita banyangkan, akan tetapi mebutuhkan proses dan waktu yang cukup agar kedisiplinan menjadi suatu bentuk kesadaran yang muncul dari amsing-masing individu
Halaman 7, Makna Kata Disiplin
Salah satu tugas guru sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun anak. Dalam konteks disiplin diri, kita sebagai pendidik harus dapat menuntun siswa untuk menjadikannya siswa yang disiplin, mencapai manfaat dan kebahagiaan karena motivasi intrinsiknya (dari dalam), bukan motivasi ekstrinsik (dari luar). Jika telah terbentuk motivasi disiplin dari dalam dirinya maka siswa tersebut sudah sadar dan bukan lagi karena paksaan ataupun hukuman.Untuk mencapai kemerdekaan atau untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat yaitu disiplin diri, yang diantara memiliki motivasi internal yang tinggi, mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai.
Halaman 8, Nilai-Nilai Kebajikan
disiplin merupakan suatu bentuk perbuatan kontrol diri, yaitu belajar untuk mengontrol diri agar dapat mencapai suatu tujuan mulia yakni nilai-nilai kebajikan yang merupakan sifat-sifat positif manusia. Nilai-nilai kebajikan merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Dengan kata lain bahwa nilai-nilai kebajikan merupakan salah satu motivasi instrinsik. Artinya seseorang yang berperilaku disiplin akan mendapatkan nilai-nilai kebajikan yang merupakan tujuan mulia setiap individu.Nilai-nilai kebajikan yang harus ada pada diri guru penggerak sudah seharusnya diterapkan. Karena dengan menerapkan nilai-nilai kebajikan tersebut sebagai pendidik akan mendapatkan motivasi internal untuk terus berdisiplin dalam segala bentuk kebajikan. Bukan hanya pendidik yang memiliki nilai-nilai kebajikan. siswapun memiliki nilai-nilai kebajikan yaitu dengan menerapkan dan sadar akan Profil Pelajar Pancasila yang harus ia terapkan agar mendapatkan motivasi internal dari dalam dirinya dan sadar untk melaksanakan disiplin diri.
Halaman 9, Nilai-nilai Kebajikan dari enam institusi/organisasi
Nilai-nilai Kebajikan Profil Pelajar Pancasila IBO Primary Years Program (PYP) Sembilan Pilar Karakter (Indonesian Heritage Foundation/IHF) Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup (LIfelong Gu... The Seven Essential Virtues (Building Moral Intelligence,... The Virtues Project (Proyek Nilai-nilai Kebajikan)

Salah satu nilai kebajikan yang paling menarik adalah Profil Pelajar Pancasila. Nilai-nilai kebajikan tersebut sudah mulai diterapkan disekolah kami secara keseluruhan. Salahsatunya kebajikan tentang Beriman dan bertaqwa hingga menjadi siswa yang berakhlak mulia. Untuk mencapai beriman dan bertaqwa haruslah ada kegiatan yang terkontrol dan berkesinambungan, salah satu strateginya dengan buku prestasi. Buku prestasi tersebut berisi daftar melaksanakan kegiatan solat, kegiatan belajar, dan kegiatan positif lainnya yang dilaksanankan oleh siswa. Hal tersebut dilaksanakan terus secara berkesinambungan hingga menjadi suatu budaya yang positif.
Halaman 10
Mungkin pada awalnya motivasi Anda mengikuti Program Guru Penggerak ini karena ingin mendapatkan suatu penghargaan tertentu. Namun seiring Anda mengikuti program ini dan kemudian menikmatinya, mungkinkah motivasi Anda berubah menjadi sebuah keinginan untuk menjadi guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini? Bila itu terjadi, apa dampaknya untuk diri Anda? Apa yang Anda dapatkan, mengapa hal itu penting untuk Anda?
Jawaban
Lecutan ilimu baru yang didapat dari modul2 yang telah dipelajari menjadikan tersadar bahwa mengikuti guru penggerak memiliki dampak yang signifikan. Dampak yang dirasakan oleh saya metode mengajar saya semakin bervariatif dan berpihak pada murid dengen mengedepankan pembelajaran berdiferensiasi juga lebih aktif mengajak rekan guru dalam komunitas praktisi untuk mersama bergerak memajukan pendidikan baik dilingkup sekolah ataupun daerah. Ilmu baru wawasan baru paradigma baru dalam dunia pendidikan yaitu pendidikan yang berpihak pada murid yang senantias membimbing murid unutk mencapai kebahagiaannya dengan memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh murid tersebut.
Halaman 11
Sebagai seorang pendidik, saat Anda perlu hadir di suatu pelatihan, motivasi apakah yang mendasari tindakan Anda? Apakah Anda hadir karena tidak ingin ditegur oleh pihak panitia atau pengawas Anda, dan mendapatkan surat teguran (menghindari ketidaknyamanan dan hukuman), atau Anda ingin dilihat dan dipuji oleh lingkungan Anda, atau mendapat penghargaan sebagai kepala sekolah berprestasi? (mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain), atau Anda ingin menjadi pemelajar sepanjang hayat, menjadi orang yang berusaha dan bertanggung jawab serta menghargai diri Anda sendiri sebagai teladan bagi murid-murid Anda, guru-guru Anda, serta lingkungan Anda karena Anda percaya, tindakan Anda sebagai pemimpin pembelajaran akan jadi panutan oleh lingkungan Anda (menghargai nilai-nilai kebajikan diri sendiri). Manakah motivasi yang paling kuat mendasari tindakan Anda, atau adakah suatu proses perubahan motivasi antara dua motivasi?
Jawaban
Motivasi hadir pada pelatihan adalah bahwa melalui pelatihan sebagai bentuk pengembangan diri, melalui kegiatan ini kita mengupgrade ilmu,kemampuan dan kompetensi melalui sehingga mengingatkan kembali bahkan menambah kembali terkait tujuan hingga peran Anda dalam dunia pendidikan. Hal tersebut mampu mengembalikan semangat dalam mengajar seperti saat pertama kali Anda mulai dalam mengajar.
Halaman 12
Bila di sekolah Anda tidak ada aturan yang memberikan surat teguran bagi karyawan yang sering datang terlambat, atau tidak ada atasan yang memberikan Anda penghargaan menjadi karyawan terbaik, karena sering tepat waktu, apakah Anda akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid Anda? Jelaskan alasan Anda.
Jawaban
Disiplin pada diri seseorang adalah sebagai sebuah habit (pembiasaan) diri maka apapun yang saya lakukan tidak terpengaruh ada dan tidaknya penghargaan. Datang tepat waktu sudah menjadi kebiasaan tidak terpengaruh pada diberi penghargaan atau tidak. Komitmen dan telah menjadi habit untuk datang tepat waktu.
Halaman 13
Menurut Anda, dari ketiga jenis motivasi yang disebutkan pada pertanyaan sebelumnya, motivasi manakah yang saat ini paling banyak mendasari perilaku murid-murid Anda di sekolah? Jelaskan.
Jawaban
Motivasi yang mendasari perilaku peserta didik di sekolah yakni menghargai nilai-nilai kebajikan diri sendiri. Hal ini dimungkinkan karena usia peserta didik kami yakni remaja dimana setelah mereka lulus mereka dihadapkan pada pilihan bekerja, wirausaha dan melanjutkan kuliah. Karena kami SMK Sebagian besar siswa kami setelah lulus langsung bekerja. Sehingga motivasi mereka saat berperilaku khususnya dalam pembelajaran yakni bagaimana mereka memiliki kecakapan kompetensi mereka yang menunjang saat mereka terjun di masyarakat. Selain itu mereka juga menyadari bahwa kondisi sosial mereka yakni hampir sebagian besar siswa kami berasal dari keluarga yang tingkat perekonomiannya kurang, sehingga apabila mereka ingin memperbaiki tingkat sosial mereka agar dapat pekerjaan yang baik mereka harus belajar dengan sungguh-sungguh.
Halaman 14
Strategi apa yang selama ini Anda terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid Anda, bagaimana hasilnya pada perilaku murid-murid Anda?
Jawaban
Menanamkan disiplin positif pada siswa melalui strategi punishmen and reward. Penghargaan untuk siswa yang mengerjakan atau mengumpulkan tugas tepat waktu dan memberikan bentuk teguran/hukuman bagi siswa yang mengulur-ulur waktu mengerjakan tugas.
Halaman 15
Nilai-nilai kebajikan apa yang Anda rasakan penting saat ini untuk ditanamkan pada murid-murid Anda di kelas/sekolah Anda? Mengapa?
Jawaban
Nilai-nilai kebajikan yang saya rasakan penting saat ini untuk ditanamkan pada murid-murid saya di kelas/sekolah adalah nilai kejujuran,keadilan, peduli, integritas, kesabaran, tanggung jawab, mandiri, berprinsip, keselamatan, kesehatan. Hal itu karena nilai tersebut merupakan nilai-nilai yang universal dalam wadah kebhinekaan
Halaman 16
Semoga dapat membentuk murid-murid yang berkarakter,berdisiplin, santun, jujur, peduli, bertanggung jawab, dan merupakan pemelajar sepanjang hayat sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang diharapkan.

Read More »
25 May | 5komentar

1.4.a.4.Eksplorasi Konsep Modul 1.4



1.4.a.4. Eksplorasi Konsep - Modul 1.4 
Moda: Kegiatan mandiri, 
Eksplorasi konsep untuk Budaya positif terdiri dari beberapa bagian yaitu:
2.1. Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal
Tujuan pembelajaran: 
  1. CGP dapat menjelaskan makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol. 
  2. CGP dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol dengan 3 Motivasi Perilaku Manusia. 
  3. CGP menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif. 
2.2. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
Tujuan Pembelajaran: 
  1. CGP dapat menjelaskan dan menganalisis Teori Motivasi dan Motivasi Intrinsik yang dituju, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya. 
  2. CGP dapat menjelaskan konsep hukuman dan penghargaan, dan konsep pendekatan restitusi. 
  3. CGP dapat melakukan pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di lingkungannya sendiri. 
2.3. Keyakinan Kelas
Tujuan Pembelajaran Khusus: 
  1. CGP dapat menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas. 
  2. CGP dapat menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas. 
  3. CGP akan dapat berpikir kritis, kreatif, reflektif, dan terbuka dalam menggali nilai-nilai yang dituju pada peraturan yang ada di sekolah mereka masing-masing. 
2.4. Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas
Tujuan Pembelajaran Khusus: 
  1. CGP dapat menjelaskan kebutuhan dasar yang menjadi motif dari tindakan manusia baik murid maupun guru 
  2. CGP dapat menganalisis dampak tidak terpenuhinya kebutuhan dasar terhadap pelanggaran peraturan dan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai kebajikan 
  3. CGP dapat mengidentifikasi peran dan sekolah guru dalam upayanya menciptakan lingkungan belajar dan pemenuhan kebutuhan anak yang beragam. 

2.5. Restitusi - Lima Posisi Kontrol
Tujuan Pembelajaran Khusus: 
  1. CGP dapat melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya untuk murid-muridnya. 
  2. CGP dapat menerapkan disiplin restitusi di posisi Manajer, minimal pemantau agar dapat menghasilkan murid yang bertanggung jawab, mandiri dan merdeka. 
  3. CGP dapat menganalisis secara kritis, reflektif, dan terbuka atas penemuan diri yang didapatkan dari mempelajari 5 posisi kontrol. 

2.6. Restitusi - Segitiga Restitusi
Tujuan Pembelajaran Khusus: 
  1. CGP menjelaskan restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah. 
  2. CGP dapat menerapkan restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka. 
  3. CGP dapat menganalisis dengan sikap reflektif dan kritis penerapan disiplin positif di lingkungannya.

Read More »
25 May | 0komentar

Eksplorasi Konsep Modul 1.3 Visi Guru Penggerak

Hal yang mencerahkan saya adalah bahwa sesuai dengan nilai-nilai guru penggerak adalah inovasi, inovasi adalah Perubahan. perubahan ini pasti terjadi jika inginmaju suatu individu atau organisasi. Maka diperlukan Visi. Visi sebagai Guru (Nyentrik Nyenengin,Tangguh,Responsif,Inspiratif,dan kreatif) .ini sesutu yang pasti beririsan dengan teknologi dan teknologi adalah sebuah loncatan teknologi. Saya membayangkan bahwa perubahan-perubahan yang dilakukan diawali dari melaksanakan kewajiban bagi seorang guru untuk tampil secara optimal megeluarkan kemampuan dan keterampilannya dalam mentransfer ilmu dan mentransformasi nilai dalam proses belajar mengajar. 
Berbagai strategi pembelajaran, metode, dan teknik pembelajaran diaplikasi dalam meraih tujuan pembelajaran yang berhasil guna dan berdaya guna, tercapainya perubahan perilaku, peningkatan pengetahuan, perbaikan serta peningkatan kualitas sikap peserta didik, sekaligus tercapainya target kurikulum.
Penggunaan media blog pribadi pada laman www.sarastiana.com sebagai wujud untuk mengaktualisasikan diri yang tentu akan selalu beririsan antara teknologi dan inovasi. 
Bagaimana saya membayangkan penerapan inkuiri apresiatif dalam konteks saya sehari-hari sebagai pendidik? Inkuiri Apresiatif merupakan sebuah pendekatan menejemen kolaboratif dan berbasis kekuatan untuk mengetahui kondisi suatu organisasi atau komunitas dalam mengembangkan perilaku suatu organisasi dan dijalankan dalam suasana yang positif dan apresiatif. 

Tahapan utama dalam pendekatan Inkuiri Apresiatif adalah BAGJA: 
  1. Buat Pertanyaan adalah menentukan arah penelusuran berdasarkan pertanyaan-pertanyaan. 
  2. Ambil Pelajaran adalah fokus satu pertanyaan utama yang disepakati, kemudian ambil pelajaran hal positif indvidu atau kelompok dari pertanyaan tersebut. 
  3. Gali Mimpi adalah menggali mimpi sebagai keadaan ideal yang diinginkan melalui sebuah narasi berdasar atas keadaan yang ada. 
  4. Jabaran Rencana adalah mengidentifikasi tindakan yang diperlukan dan mengambil keputusan-keputusan berdasarkan perencanaan awal dari pettanyaan yag tersusun agar lebih nyata. 
  5. Atur Eksekusi adalah membantu transformasi rencana menjadi nyata yang mampu memutuskan peran dalam pelaksanaan. 
Dengan pendekatan tersebut harapannya yaitu mampu memaksimalkan peran dan fungsi guru, dan mampu mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid.

Read More »
17 May | 0komentar

Tutorial Teman Sebaya

Jalur Penerimaan Peserta Didik Baru yang terdiri dari 4 jalur yaitu Jalur Zonasi, Jalur afirmasi, Jalur perpindahan orang tua/Wali dan jalur prestasi menyebabkab keanekaragaman kemampuan dan karakteristik peserta didik  dari Segi kemampuan ada yang cepat bernalar kritis, ada yang kreatif dan ada juga yang agak lambat cara berfikirnya. Dari segi latar belakang materi, ada yang berasal dari keluarga mampu, menengah dan ada pula yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, selain itu dari karakteristik sifat, ada anak yang sangat percaya diri, ada yang pemalu, mudah tersinggung, pemberani, penakut, egois, optimis, dan lain lain.
Dengan keunikan karakteristik yang mereka miliki, mereka harus dituntun untuk dapat berbaur dengan harmonis dalam satu kelas, saling menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Setiap kelas memiliki keunikan individu masing masing. Saat melaksanakan assesmen diagnostik awal untuk memetakan kebutuhan seluruh peserta didik. Hasil ini sebagai memetakan berkaitan dengan gaya belajar siswa.

Beberapa permasalahan pada proses pembelajaran. Ketika anak yang sudah memahami akan merasa bosan karenan menunggu saya memberikan pembelajaran kepada siswa yang sedikit belum paham. Sehingga siswa yang sudah bisa sambil menunggu materi berikutnya akan sedikit gaduh. 
Akhir muncul ide untuk memanfaatkan siswa yang telah selesai/paham tersebut untuk mengajari temannya. Dari ini terdapat pembelajaran bahwa guru harus memahami betul kebutuhan peserta didik yang beragam. Menggunakan tutorial teman sebaya.
Setelah itu saya mencoba membuat variasi pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan dan gaya belajar, Untuk anak yang berkemampuan lebih saya membuat soal dengan nalar kritis yang tinggi dan bentuk presentasi dengan permodelan, sedangkan anak dengan kemampuan yang kurang, saya membuat lembar kerja dengan permodelan operasi hitung dengan benda konkrit dan pendampingan kelompok yang lebih intens. Hal tersebut ternyata lebih mengakomodasi kebutuhan siswa, anak yang berkemampuan lebih dapat mengeksplore secara luas pengetahuannya dan anak yang kurang kemampuan akademiknya dapat lebih terlayani dengan baik. 
Maka menurut saya, rancangan pembelajaran harus memuat konten yang dapat mengakomodasi perbedaan kemampuan dan karakteristik peserta didik. Setelah rancangan tersebut dilaksanakan perlu melibatkan seluruh peserta didik untuk melaksanakan assesmen for learning sebagai perbaikan kualitas pembelajaran setiap harinya. Evaluasi dan refleksi juga seyogyanya melibatkan rekan guru sejawat, kepala sekolah dan wali peserta didik untuk lebih memahami karakteristik masing masing peserta didik dan memperoleh masukan dari berbagai praktik baik yang dilakukan oleh sesama guru.

Read More »
16 May | 0komentar

Eksplorasi Konsep Modul 1.2 Nilai-Nilai Guru Penggerak

Eksplorasi Konsep, 14 September 2022


Menguatkan pemahaman dan mempersiapkan diri untuk berkolaborasi dalam kelompok dengan menjawab pertanyaan
Apa yang dapat saya ceritakan mengenai salah SATU dari nilai-nilai GP (berpihak pada murid, inovatif, kolaboratif, reflektif, dan mandiri) yang telah membantu saya dalam melayani murid saya dengan lebih baik?. Tuliskan dalam bentuk narasi singkat untuk berbagi dalam kelompok dalam tahap Ruang Kolaborasi.

Hal yang dapat daya bagikan berkaitan dengan Nilai-nilai yang berkaitan dengan kolaboratif, sebagai nilai yang melekat pada manusia sebagai mahluk sosial. Disini kerjasama yang dipadukan oleh kemampuan siswa yang berbeda-beda. Kegiatan yang bersifat kolaboratif biasanya akan mendorong motivasi dan semangat kompetitif dalam arti positif bagi siswa. Jika pada era industri pekerja dituntut memiliki spesialisasi dan sertifikasi, maka di era informasi, pekerja dituntut mampu berkolaborasi dan bekerjasama dalam suatu tim untuk menghasilkan produk atau pelayanan Apa saja 10 kegiatan di sekolah yang saya anggap masuk sebagai contoh penerapan dari peran GP yang saya pahami saat ini (pemimpin pembelajaran, pendorong kolaborasi, penggerak komunitas praktisi, mewujudkan kepemimpinan murid, menjadi coach bagi rekan guru)?. Buatlah daftarnya untuk digunakan saat berbagi ide dalam kelompok dalam tahap Ruang Kolaborasi.

2. 10 kegiatan di sekolah yang sesuai dengan penerapan GP :pemimpin pembelajaran, pendorong kolaborasi, penggerak komunitas praktisi, mewujudkan kepemimpinan murid, menjadi coach bagi rekan guru adalah menyusun kurikulum merdeka, membuat pembagian jam mengajar bagi guru, rapat komte, menjadi pemimpin rapat, menjadi moderator saat IHT kurikulum merdeka, budaya senyum-sapa, menjadi contoh dengan berangkat lebih awal, membuat jadwal pembelajaran, membuat jadwal supervisi, mensupervisi pembelajaran,menjadi pembina apel pagi, membuat jadwal pengumpulan soal PTS membuat SK MGMP sekolah

Read More »
16 May | 0komentar

Eksplorasi Konsep Modul 1.3, Prakarsa Perubahan BAGJA

BAGJA | Prakarsa perubahan: Pembelajaran Yang Menarik


Read More »
16 May | 0komentar

Eksplorasi Konsep Modul 1.1

Pada diskusi di alur Eksplorasi Konsep, melakukan diskusi ruang virtual akan dipandu oleh Fasilitator dengan tahapan sebagai berikut: 
Pembukaan (25’) 
Fasilitator membuka Forum Diskusi dengan menegaskan tujuan pembelajaran ‘CGP mampu memberikan perspektif refleksi kritis tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara dalam forum diskusi’. Fasilitator menegaskan dalam Forum Diskusi, CGP saling membuka diri terhadap perbedaan dalam berpendapat, bertanya dan berbagi praktik baik untuk lebih kritis dan reflektif dalam memaknai dan menghayati pemikiran filosofis Ki Hajdar Dewantara. 
Refleksi Kritis CGP (30’) 
Setiap CGP menyampaikan memberikan perspektif reflektif kritis tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara. 
Dialog: Diskusi & Tanya Jawab (20’) 
CGP saling berdialog untuk mengkonfirmasi perspektif setiap CGP dalam memaknai dan menghayati pemikiran KHD dengan saling bertanya atau mengkonfirmasi perspektif rekan CGP lain Fasilitator memandu dialog 
Refleksi dan Umpan Balik (10’) 
Fasilitator memberi umpan balik untuk memberi penguatan terhadap pemahaman CGP. Refleksi pembelajaran dituliskan pada aplikasi yang disediakan oleh Instruktur (padlet). 
Penutup (05’) 
Fasilitator menutup kegiatan pembelajaran Eksplorasi Konsep Forum Diskusi “ Refleksi Kritis Pemikiran Ki Hadjar Dewantara”




Read More »
15 May | 0komentar

Tugas Mulai Dari Diri Modul 1.4, Budaya Positif

Mulai dari diri pada modul 1.4 CGP adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di LMS, tentunya setelah mempelajari Modul 1.1, 1.2 dan 1.3 


Apa urgensi dari menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah Anda? 
Budaya Positif di sekolah sangat penting untuk mengembangkan anak-anak yang memiliki karakter yang kuat, sesuai profil pelajar Pancasila dan filosofi dari Ki Hadjar Dewantara, nilai-nilai peran guru penggerak dan visi guru penggerak. Pentingnya membangun budaya positif di sekolah sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan yang berpihak pada murid untuk membantu mencapai visi guru penggerak.Seorang pemimpin harus bisa menggerakkan dan memotivasi warga sekolah agar memiliki, meyakini, dan menerapkan visi atau nilai-nilai kebajikan yang disepakati, sehingga tercipta budaya positif yang berpihak pada murid. Dalam membangun budaya positif perlu strategi menumbuhkan lingkungan yang positif. Perlu melakukan refleksi atas penerapan disiplin yang dilakukan selama ini di lingkungan. 


Bagaimanakah strategi Anda dalam praktik disiplin tersebut? Apakah selama ini Anda sungguh-sungguh menjalankan disiplin, atau Anda melakukan sebuah hukuman? Bagaimana Anda sendiri sebagai seorang pendidik dapat menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah Anda selama ini? 
Saya seorang pendidik/pimpinan sekolah dalam menciptakan suasana positif diawali dari diri sendiri selalu berperasangka baik (positif) atas semua kejadian yang ada disekitar kita, mengambil hikmah dari kejadian untuk ditelaah menjadi hal yang positif. Konsisten atas usaha dan upaya saya dalam melaksanakan tugas dan menjalani kehidupan sebagai manusia dengn berprinsip pada Positif Thingking, maka akan menemukan kebahagian dan keselamatan selamanya. 


Apa hubungan antara menciptakan suasana yang positif dengan proses pembelajaran yang berpihak pada murid? 
Hubungan antara menciptakan suasana yang positif dengan proses pembelajaran yang berpihak kepada murid adalah saling mendukung dan melengkapi antara satu dengan yang lain, karena dengan suasana positif yang tercipta akan otomatis menciptakan proses pembelajaran yang aman dan nyaman di lingkungan sekolah. Dengan demikian guru sudah mampu menjalankan perannya sebagai pemimpin pembelajaran yang baik dan murid akan merasa senang dan nyaman dalam mengikuti pembelajaran. Jadi suasana yang positif akan menumbuhkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman yang mengakibatkan pembelajaran sesuai dengan kodrat anak akan terwujud dengan baik, karena dalam suasana positif ini proses pembelajaran akan menyenangkan dan berpihak kepada murid.


Bagaimana penerapan disiplin saat ini di sekolah Anda, apakah sudah diterapkan dengan efektif, bila belum, apa yang menurut Anda masih perlu dikembangkan? penerapan disiplin efektif dilakukan dengan keteladanan. belajar disiplin tidak dapat dilakukan dengan menyuruh atau memberi hukuman kepada siswa. Guru harus dapat menjadi panutan dan juga contoh dalam berperilaku disiplin. Untuk siswa tepat waktu. Guru dengan menunjukkan kepada siswa bahwa gurunya selalu tepat waktu dan tidak terlambat kecuali ada hal yang sangat mendesak. Bagaimana siswa akan memiliki sikap disiplin jika melihat gurunya tidak disiplin. 


Refleksi Bagaimana Menciptakan Budaya Positif Visi saya adalah“Mewujudkan Peserta didik yang memiliki karakter Pancasila dan memiliki kompetensi yang unggul dalam Bingkai Kebhinekaan”. Memulai penerapannya di kelas dan sekolah, dengan membiasakan budaya positif. Untuk mewujudkan lingkungan belajar yang positif, lingkungan, suasana pembelajaran harus nyaman, aman, dan kondusif. Berpusat kepada siswa tanpa membedakan antar siswa dari fisik,golongan, kepandaian sebagai membentuk mewadahi keberagaman. Untuk mewujudkan kelas impian sesuai visi yang telah kita buat langkah saya adalah berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah terutama dengan rekan sejawat dan siswa saya di dalam kelas untuk segera mewujudkan visi tersebut dengan langkah kecil yang konsisten dan terarah. 


Apa saja harapan-harapan yang ingin Anda lihat berkembang pada diri Anda, sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini? Harapan saya setelah mempelajari modul 1.4 tentang budaya positif di sekolah adalah pertama mengawali untuk menjadi guru yang bisa memimpin diri sendiri harapan setelah bisa memimpin diri sendiri untuk dapat menjadi contoh bagi murid dalam upaya menuntun dan membimbing siswa untuk meraih masa depan 

Apa saja harapan-harapan yang ingin Anda lihat berkembang pada murid-murid Anda setelah mempelajari modul ini? Harapan-harapan pada murid-murid yang ingin dilihat berkembang, setelah mempelajari modul ini adalah terwujudnya suasana belajar yang aman dan nyaman bagi siswa karena terciptanya budaya positif di sekolah 


Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini? 
Kegiatan yang dilakukan yaitu mengusahakan sekolah menjadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid agar selalu dalam lingkungan dalam budaya positif. Dengan demikian, karakter murid tumbuh dengan baik. Sebagai contoh, murid yang tadinya malas menjadi semangat, bukan kebalikannya. Murid akan mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran bila lingkungan di sekelilingnya terasa aman dan nyaman.


Read More »
13 May | 2komentar

Konser Itu Bernama: "Konser Transfer Knowlegde"



Melekat disebuah institusi sekolah adalah suatu kegiatan pembelajaran. Dari anak yang belum tahu terhadap sesuatu hal menjadi tahu atau memahami terhadap sesuatu hal tersebut. Guru melakukan proses transfer pengetahuan transfer ilmu. Keberhasilannya tentu bisa dipantau melalui tingkat keberhasilannya dari proses komunikasi yang ada. Kegiatan belajar dan mengajar yang tersistem dan terprogram sesuai dengan jadwal pembelajaran.  Dan, komunikasi yang lancar ditengarai mempunyai andil yang cukup besar dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh pendidik. Proses belajar dan mengajar yang terjadi di kelas merupakan proses komunikasi antara Pendidik dan peserta didik.
Sebagai sebuah proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge), proses pembelajaran pada kenyataannya tidak hanya tergantung pada penguasaan materi pembelajaran oleh sang pendidik. Pendidik yang menguasai materi pembelajaran secara tuntas bukan sebagai jaminan bahwa proses pembelajarannya akan berhasil. Penguasaan materi pembelajaran hanyalah salah satu aspek yang harus dipenuyai oleh seorang guru agar dapat mengajar dengan lancar dan tidak menjadikan anak didik kebingungan saat menghadapi kesulitan.
Hal yang berperan dalam transfer knowledge di kelas ini adalah komunikasi antara pendidikan dan peserta didik. Sehingga perlu disadari bahwa komunikasi atau bagaimana seorang pendidik mengkomunikasikan materi pembelajaran kepada anak didik menjadi salah satu kondisi yang sangat mendukung keberhasilan proses pembelajaran. 

Pendidik mengkomunikasikan materi dengan baik, maka semakin bagus peserta didik menerima penyampaian materi tersebut tentu akan bermuara pada pemahaman pserta didik. Dalam proses pembelajaran seperti ini tentunya seorang pendidik dapat memperhatikan langkah-langkah konkrit, praktis dan kondisi yang seimbang antara pendidik dan peserta didik. Pendidik pada saat mengajar dan peserta didik belajar, maka perlu untuk menyamakan persepsi terhadap sesuatu materi pembelajaran melalui satu kesatuan sikap dan apresiasi terhadap apa yang dipelajari. 


Beberapa aspek yang perlu diperhatikan sebagai disadur dari http://ahmadnurhidayatarya.blogspot.com/ adalah :
1. Bahwa proses belajar itu proses komunikasi interpersonal 
Ketika suatu proses pembelajaran dilaksanakan, maka pada saat tersebut dua aspek pembelajaran melakukan komunikasi aktif untuk dapat mewujudkan sebuah peristiwa transfer pengetahuan dan keterampilan yang berhasil. Sebagai sebuah proses komunikasi, maka dalam hal ini kita perlu membedakan dua aspek pelaku komunikasi sebagai komunikator dan komunikan. Ada pihak yang berperan sebagai komunikator, ada pihak yang berposisi sebagai komunikan. Guru sebagai komunikator dan anak didik sebagai komunikan. 
Komunikator adalah pihak yang berkepentingan dalam upaya penyampaian materi pembelajaran. Pihak ini berusaha untuk memberikan materi pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dia bertanggungjawab penuh terhadap keberhasilan proses sehingga untuk hal tersebut, maka dia akan berusaha untuk dapat menciptakan berbagai konsep dasar yang menunjukkan bagaimana karater mudah agar proses transfer pengetahuan dapat dengan mudah diterima anak didik. Mereka mempunyai konsep bahwa sebenarnya kesulitan pemahaman yang dialami oleh anak didik adalah karena pola komunikasi yang salah. 
Pola komunikasi yang tidak sesuai dengan tingkat kemampuan anak didik untuk menerimanya. Sementara itu anak didik adalah pihak yang berperan sebagai komunikan, yaitu pihak yang menerima konsep-konsep yang disampaikan sebagai isi dari proses komunikasi. Anak didik harus dapat memposisikan diri sedemikian rupa sehingga mampu menerima apa yang disampaikan oleh guru (komunikator) agar proses pembelajaran mencapai keberhasilan sebagaimana yang diinginkannya. Mereka dapat memperoleh pelajaran. Anak didik haruslah mampu memposisikan dirinya sehingga dapat mengikuti secara runtut apa yang disampaikan oleh guru sebagai informasi pembelajaran. Dengan demikian, maka proses pemelajaran, pemahaman materi serta transfer of knowledge dan skill benar-benar tercapai sebagai wujud proses. 
Seringkali terjadi bahwa proses pembelajaran mengalami kegagalan implementasi adalah karena ketidakmampuan para pelaku pendidikan dalam menerapkan konsep-konsep komunikasi didalam proses pembelajarannya. Mereka hanya memegang konsep bahwa komunikasi yang terjadi ya seperti itulah, dimana guru menjelaskan materi pembelajaran dan anak didik mendengarkan dan mencatat materi tersebut di buku catatannya. Hanya itu, tidak lebih. Padahal, jika kita telaah lebih lanjut sebenarnya pada saat kita melaksanakan proses pembelajaran tersebut, kita seharusnya memperhatikan banyak hal berkaitan dengan konsep-konsep komunikasi terbaik dalam proses pembelajaran. 
Seorang guru harus dapat memilih dan memilah konsep-konsep komunikasi sehingga interaksi di dalam proses pembelajaran dapat berlangsung lancar dan ketercapaian program maksimal. 
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah: 
a. Aspek Sosial 
Bahwa keterhalangan suatu proses komunikasi adalah disebabkan oleh aspek sosial, yaitu kondisi sosial komunikan, anak didik dan kondisi komunikator, guru. Pada saat proses pembelajaran dilaksanakan di dalam kegiatan belajar dan mengajar, maka kita perlu memahami latar belakang kehidupan sosial anak didik. Hal ini agar proses pembelajaran yang diampu dapat mencapai target. Oleh karena itulah guru harus memahami aspek sosial yang melatar belakangi anak didik. Di dalam proses komunikasi pembelajaran terjadi komunikasi yang bersifat interpersonal, artinya terjadi komunikasi antar pribadi, sehingga secara langsung akan bergesekan dengan latar belakang sosial anak didik/ komunikan dan guru/komunikator. Anak didik yang berlatar belakang sosial rendah akan merasakan tekanan spesifik dan signifikan terhadap pola pergaulannya. Walau seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi. Perbedaan latar belakang aspek sosial seringkali menjadi pemicu kegagalan dalam komunikasi pembelajaran yang dilakukan di dalam interaksi edukasi. 
b. Aspek budaya 
Proses pembelajaran merupakan proses interaksi antar personal sehingga seringkali terjadi friksi antara pribadi yang akan berakibat pada suasana yang tidak stabil, tergantung pada bagaimana masing-masing pribadi menanggapi kondisinya. Proses pembelajaran sangat berkaitan dengan latar belakang budaya anak didik. Hal ini karena sebenarnya proses pembelajaran merupakan upaya untuk menanamkan konsep kebudayaan pada anak didik, sementara anak didik sendiri sudah mempunyai bekal kebudayaan masing-masing. Jika seorang guru tidak memahami konsep kedubayaan yang menjadi latar belakang hidup anak didik, maka sudah barang tentu akan terjadi benturan yang kuat antara budaya anak dan budaya sekolah. Dan, jika ternyata tidak ada yang berkenan untuk mengalah atau menyesuaikan diri, maka proses komunikasi pembelajaran akan terganggu karenanya. Oleh karena itulah, maka seorang guru harus memahami kondisi latar belakang budaya hidup anak didik jika menginginkan proses komunikasi pembelajaran yang dilakukannya berhasil.setidaknya dengan mengetahui latar belakang budaya anak didik, maka guru dapat menyusun strategi yang tepat dalam pelaksanaan komunikasi antar personal di kelasnya. 
c. Aspek kejiwaan 
Kemampuan seseorang di dalam proses pemahaman konsep sebenarnya tergantung pada kondisi kejiwaan yang bersangkutan. Demikian juga di dalam proses pembelajaran, kondisi kejiwaan anak didik sangat berperan dalam kemampuannya menyerap konsep-konsep dan materi pembel-ajaran yang diberikan oleh guru. Proses pembelajaran akan efektif, berhasil guna jika siswa dapat menerima segala penjelasan konsep atau materi pembelajaran secara baik dan menjadikannya sebagai pengalaman hidup serta bekal hidup di masa depannya. kondisi seperti ini hanya dapat dicapai jika sisi kejiwaan anak mampu menerima setiap upaya perubahan terhadap dirinya. Anak yang kondisi jiwanya tidak stabil, akan mengalami kesulitan dalam proses transfer pengetahuan dan sebagainya. Tetapi, anak didik yang stabil dengan sedemikian mudah menerima setiap konsep informasi yang dberikan oleh guru. Oleh karena itulah, maka guru haruslah memahami kondisi kejiwaan anak didik, artinya sudah siapkah anak didik menerima atau menjalani proses pembelajaran. Guru harus dapat melihat secara jelas dan teliti hal-hal yang terjadi dalam jiwa anak didik pada saat-saat tertentu, khususnya saat proses interaksi edukasi dilakukan dalam proses pembelajaran. 

2. Bahwa komunikasi pembelajaran adalah interaksi edukatif 
Proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di dalam ruang kelasnya adalah upaya untuk menciptakan hubungan timbak balik (two ways system) sehingga proses akan berlangsung secara dinamis. Kedinamisan sebuah proses pembelajaran sangat diharapkan tercipta agar hasil proses didapatkan secara maksimal. Hubungan antar personal yang terjadi di dalam proses pembelajaran adalah mengarah pada terciptanya hasil yang memberikan kemudahan bagi pelaku proses pembelajaran menyampaikan dan menerima segala informasi pembel-ajaran. 
Bahwa komunikasi yang dibangun di antara personal pembel-ajaran merupakan sebuah interaksi yang bersifat edukatif, artinya apa yang dilaksanakan di dalam interaksi tersebut adalah semata-mata untuk proses pendidikan dan pembelajaran anak didik. Tidak ada kegiatan yang lainnya di dalam proses interaksi pembelajaran. Apapun yang dilakukan oleh personal terkait adalah upaya untuk memperbnaiki kondisi, kualitas pendidikan yang selama ini selalu menjadi kambing hitam kemerosotan nilai diri manusia Indonesia atau SDM. 
Interaksi edukatif yang dimaksudkan merupakan kondisi terbaik agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan dan membuktikan kepada masyarakat luas bahwa proses yang terjadi di dalam sekolah merupakan implementasi dari tugas dan fungsi yang dibebankan masyarakat kepada sekolah. Oleh karena itulah, maka diharapkan setiap elemen yang bertanggungjawab dalam proses pembelajaran dan pendidikan anak bangsa secara aktif ikut berperan mengambil posisinya. Dalam hal ini, yang termasuk elemen pendidikan adalah keluarga, sekolah (pemerintah), dan masyarakat. Demikianlah betapa sebenarnya keberhasilan dari proses pembelajaran dan pendidikan anak bangsa ini ternyata tidak hanya tergantung pada kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran, melainkan juga tergantung pada kemampuan guru untuk menyampaikan materi pembelajaran tersebut. 
Kemampuan menyampaikan materi inilah yang selanjutnya disebut sebagai kemampuan berkomunikasi. Kemampuan guru di dalam menyampaikan materi pembelajaran sebenar-nya merupakan sdalah satu aspek dari kemampuan guru menyusun startegi pembelajaran dan pengelolaan kelas pembelajarannya. Jika seorang guru mampu menyusun strategi pembelajaran, maka setidaknya dia mampu menyampaikan materi sebagaimana strategi yang diterapkannya. 
Demikian juga dengan kemampuan pengelolaan kelas seorang guru mencerminkan bagaimana guru tersebut menggiring anak didik sehingga merasa tertarik untuk ikut secara aktif dalam proses pembelajarannya. Dan, hal ini tidak terlepas dari kemampuan guru berkomunikasi dengan anak didik. Oleh karena itulah, maka sebenarnya, seorang guru haruslah dapat mengelola strategi-strategi yang memungkinkan untuk mengkondisikan interaksi antara guru dan anak didik secara dinamis. Guru haruslah mampu memilih dan memilah teknik-teknik penyampaian informasi efektif sehingga anak didik tidak mengalami kesulitan pada saat mengikuti proses pembelajaran yang diampunya.

Read More »
13 May | 0komentar

Eksplorasi Konsep Modul 1.4 Budaya Positif

Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi Keyakinan Kelas Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas Restitusi - Lima Posisi Kontrol Restitusi - Segitiga Restitusi Eksplorasi Konsep Hal yang harus dipelajari dalam modul ini adalah • Perubahan Paradigma • Stimulus Respon lawan • Teori Kontrol, • Arti Disiplin dan • Motivasi Perilaku Manusia, • Keyakinan Kelas, • Hukuman dan Penghargaan, • Lima (5) Kebutuhan Dasar 

Manusia, • Lima (5) Posisi Kontrol , Segitiga Restitusi. 

 2.1 Perubahan Paradigma 
Pada posisi saya mengepal, saya akan menjelaskan bahwa ini adalah prinsip saya, saya pegang teguh dan akan saya jelaskan mengapa saya mempertahankan, saya mencoba untuk mengajak lawan saya yang ingin membuka kepalan tangan saya, supaya tidak perlu repot- repot untuk merayu saya, menawari saya dengan apa pun, termasuk uang, karena ini adalah prinsip yang sudah saya pegang. Bila suatu saat ternyata ada hal yang lebih baik lagi atau dengan berjalannya waktu prinsip saya harus diperbaharui dan ternyata saya harus melepaskan kepalan tangan saya, saya lakukan dengan "legowo" tanpa ada unsur paksaan. Karena saya mau menerima kritik saran dari luar demi kebaikan dan perbaikan kualitas pribadi kita. Jika saya di posisi yang akan membuak kepalan tangan, maka saya akan ajak diskusi dulu tanpa harus memaksa untuk membuka. Saya akan ajak bicara dari hati ke hati dan akhirnya mau menerima saran kritik saya maka saya yakin orang tersebut atau misal murid saya akan mau membuka kepalan tangannya dengan suka rela dan senang. 

Tugas 2.1 1. Setelah membaca tentang ilusi kontrol dan perubahan paradigma stimulus respon ke teori kontrol, adakah bagian yang masih mengganjal atau belum Anda pahami? 2. Apakah Anda meyakini bahwa tepat untuk meminta murid menyesuaikan diri dengan keinginan Anda, dan bahwasanya adalah tanggung jawab Anda untuk memaksa murid demi suatu kebaikan, adakah cara lain? 
Setelah saya membaca, alhamdulillah saya mengerti dan sangat setuju dengan pilihan untuk mengontrol siswa dalam kelas, semua teori itu benar dan itu merupakan pilihan untuk kita mana yang sesuai dengan karakteristik murid dan pribadi kita sebagai guru. Saya setuju, bahwa murid harus mengikuti keinginan Guru, tapi saya pribadi sebagai guru harus paham juga untuk bisa menjadi murid, saya akan buat pembelajaran dan tugas sesuai dengan karakteristik dan kemampuan murid, intinya berpihak pada murid, akan selalu memberi kemudahan buat murid, tidak mempersulit mereka, dan inilah alasan kuat untuk saya bisa mengontrol murid saya untuk mengikuti pembelajaran yang saya buat, karena pembelajaran saya sudah berpihak kepada murid. 

2.2: Konsep Disiplin Positif dan Motivasi 
o Bagaimana cara membuat murid disiplin? Dengan membangkitkan kesadaran murid tentang cita-cita mereka, dan memberikan gambaran bagaimana mereka dapat mencapainya, dengan bercerita pengalaman kita dulu sewaktu menjadi murid, atau pengalaman orang-orang yang sukses. Guru memberikan saran disiplin positif yang telah dilakukan secara kontinyu atau istiqomah sehingga tercapai apa yang diinginkannya. 
o Siapakah yang bisa mendisiplinkan murid? yang bisa adalah kesadaran murid itu sendiri, karena saya sebagai guru akan menanamkan disiplin diri yang berasal dari internal bukan eksternal. Karena bila kita melakukan sesuatu karena takut di hukum atau karena ingin mendapat pujian itu tidak akan berlangsung lama, atau jika kita tidak bisa mencapainya. akan lebih kecewa dan sakit hati. Berbeda bila kita melakukan sesuatu karena kita meyakini nilai yang kita ambil sehingga semua akan terasa indah bagaimanapun perjuangan untuk mencapai cita-cita tersebut. 
o Apakah guru yang bisa mendisiplinkan murid? Atau Kepala Sekolah? Atau orang tua murid? Atau murid itu sendiri? Mengapa? Guru hanya bisa mengarahkan, memberikan contoh pengalaman hidup orang-orang sukses, atau pengalaman pribadi Guru untuk bisa di renungkan oleh murid dan akhirnya murid menyadari untuk melakukan disiplin diri sampai tercapai cita- citanya. 
o Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara kita sebagai guru untuk menanamkan disiplin positif yang positif ini kepada murid-murid kita? Cara kita sebagai Guru untuk menanamkan disiplin positif adalah Dengan mulai diri membangkitkan kesadaran murid tentang cita-cita mereka, dan memberikan gambaran bagaimana mereka dapat mencapainya, dengan bercerita pengalaman kita dulu sewaktu menjadi murid, atau pengalaman orang-orang yang sukses. 
Guru memberikan saran disiplin positif yang telah dilakukan secara kontinyu atau istiqomah sehingga tercapai apa yang diinginkannya. 

Tugas 2.2 (1) 
Apa motivasi untuk mengikuti Pendidikan Guru Penggerak? Dari awal saya mengikuti seleksi Pelatihan Guru Penggerak, dengan maksud ada rasa "penasaran" terhadap program baru yang dicanangkan oleh Mas Menteri, karena menurut saya pelatihan ini unik, di mana ada pelatihan yang menggabungkan Guru dalam berbagai jenjang TK, SD, SMP, SMA dan SMK sehingga bisa saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman dan saling menginspirasi. 
Banyak ilmu, banyak inspirasi dan ide dan makin menambah disiplin diri saya tentang nilai yang saya anut selama ini yaitu Ingin selalu berbagi, karena itu setiap tugas dalam PPGP ini saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan Blog dan video di channel You Tube saya, berharap Guru lain akan semangat dan ingin mengikuti PPGP ini yang menurut saya sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas diri kita sebagai Guru yang merupakan ujung tombak Pendidikan Indonesia. Tugas 2.2 (2) Sebagai seorang Guru, saat anda hadir mengajar di kelas tepat waktu, motivasi apakah yang mendasari tindakan anda? Motivasi saya datang tepat waktu pada saat mengajar di kelas adalah menghargai waktu apalagi pada saat PTMT (Pertemuan Tatap Muka Terbatas) yang hanya diberikan waktu 40 menit.
Sebelum pandemi, saya juga selalu menghargai waktu bertemu dengan murid- murid saya, karena saya ingin mencontohkan bentuk kecil dari disiplin diri, salah satunya menepati janji mengajar sesuai dengan jadwal, dan sebisa mungkin tidak meninggalkan mengajar hanya untuk kepentingan pribadi termasuk mengikuti pelatihan kedinasan untuk karier pribadi semata, karena tugas Guru adalah mengajar. Kita tidak perlu banyak berbicara, murid akan belajar dengan segala tindak tanduk kita sebagai Guru. Sesuai dengan pepatah, Guru adalah digugu dan ditiru, jadi Guru sebagai panutan yang baik bagi Murid, terutama dalam hal disiplin pribadi yang positif. 

Tugas 2.2 (3) 
Apabila di sekolah Anda tidak ada peraturan yang mengharuskan guru datang tepat waktu dan tidak ada surat teguran bagi guru yang datang terlambat, dan tidak ada atasan yang memuji Anda, apakah Anda akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid Anda? Jelaskan alasan Anda. Seperti yang sudah saya jelaskan pada tugas sebelumnya, bahwa maksud saya datang tepat waktu pada saat mengajar karena saya menghargai waktu, menghargai nilai yang saya anut, untuk menjadi suri teladan bagi murid- murid saya, menanamkan disiplin diri dan menepati jadwal mengajar. Jadi bukan karena saya ingin di puji atau di beri imbalan karena datang tepat waktu. Jadi apa yang saya lakukan adalah semua terpusat pada murid (berpihak pada murid). 

Tugas 2.2 (4) Menurut Anda, dari ketiga jenis motivasi tadi, motivasi manakah yang saat ini paling banyak mendasari perilaku murid-murid Anda di sekolah? Jelaskan! 
Menurut saya, motivasi yang paling banyak mendasari perilaku murid-murid saya di sekolah adalah motivasi pertama yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Hal ini yang memang melandasi disiplin diri yang dilakukan oleh kebanyakan murid. Mereka tidak mau berurusan dengan hukuman, atau rasa tidak nyaman karena di nasehati panjang lebar oleh Guru, sehingga mereka akan menjadi murid yang baik, mematuhi tata tertib sekolah atau dalam arti mengerjakan tugas yang diberikan Guru karena rasa takut dan tidak nyaman bila sampai Guru tersebut menegur di depan teman-temannya. Jadi masih sangat sedikit bahkan hampir tidak ada yang melakukan disiplin diri positif karena nilai yang mereka pegang. 
Tugas 2.2 (5) Strategi apa yang selama ini Anda terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid anda, bagaimana hasilnya pada perilaku murid-murid Anda? Strategi yang saya lakukan untuk menanamkan nilai positif kepada murid- murid saya adalah yang pertama, saya akan menanyakan cita-cita apakah akan melanjutkan sekolah atau bekerja, selanjutnya, saya akan minta mengutarakan cita-cita secara detail, dan bagaimana untuk mencapainya, selanjutnya saya akan menceritakan pengalaman pribadi saya sebagai murid sampai menjadi Guru, kemudian saya juga akan menceritakan orang-orang yang sukses, agar mereka bisa membuat strategi untuk mencapai cita-cita mereka, dan strategi ini harus dilakukan secara terus menerus sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan bisa disebut sebagai disiplin positif. Sehingga disiplin positif yang murid- murid saya lakukan adalah berasal dari faktor internal karena mempunyai nilai yang dijunjung tinggi yaitu nilai semangat untuk mencapai cita- cita, untuk menjadi orang yang sukses.
Tugas 2.2 (6) 
Nilai-nilai kebajikan apa yang Anda berusaha tanamkan pada murid-murid Anda di kelas dan sekolah Anda? Nilai kebajikan yang berusaha saya tanamkan kepada murid- murid saya selama proses pembelajaran adalah disiplin diri dalam mengumpulkan tugas, nilai kerja sama dalam melaksanakan praktikum berkelompok, nilai berbagi yaitu dengan program tutor sebaya, nilai semangat untuk belajar, dengan tantangan memberikan tugas berupa catatan digital, maka murid- murid saya banyak yang ingin belajar tentang IT dan antar murid akan berbagi satu sama lain supaya dapat membuat catatan digital yang super keren. 

2.3 Keyakinan Kelas 
Mengapa Keyakinan Kelas, mengapa tidak peraturan kelas saja? karena keyakinan kelas adalah kesepakatan yang dibuat bersama antara anggota kelas (murid ) dengan wali kelas atau guru. Karena dibuat dengan kesepakatan bersama maka hal- hal yang diatur akan lebih mudah untuk di laksanakan oleh peserta didik. Mengapa adanya Keyakinan Kelas penting untuk terbentuknya sebuah budaya positif? Karena keyakinan kelas merupakan hasil diskusi kesepakatan seluruh murid yang nantinya akan mereka kerjakan terus menerus sehingga dapat menjadi sebuah budaya positif. Bagaimana mewujudkan sebuah Keyakinan Kelas yang efektif? dengan membuktikannya di kelas, bahwa keyakinan kelas yang sudah di buat bersama dapat dijadikan sebagai kebiasaan yang baik, potensi yang bagus. 

Tugas 2.4 (Tugas Mandiri 4)
Siapakah orang-orang yang paling penting dalam hidup Anda? Nilai-nilai kebajikan apa yang terpenting dalam hidup Anda? Kalau Anda menjadi orang yang ideal, karakter atau sifat apa yang Anda paling inginkan ada pada diri Anda? Apa pencapaian Anda yang Anda sangat banggakan? Apa pekerjaan ideal bagi Anda? Ceritakan bagian perjalanan hidup Anda, dimana Anda merasa itulah titik puncak hidup Anda? Apa yang paling bermakna dalam hidup Anda? 
Orang yang penting dalam hidup saya adalah keluarga inti dan keluarga besar. Nilai kebajikan yang terpenting dalam hidup saya adalah suka berbagi, mempermudah urusan orang lain. Pencapaian yang saya banggakan adalah menjadi Guru Youtuber dan Guru Blogger. Pekerjaan yang ideal adalah Guru biasa yang selalu berpihak pada murid. 
Perjalanan hidup sebagai titik puncak hidup saya adalah pada saat sebelum pandemi ada kasus dengan rekan- rekan Guru di sekolah, pada waktu pandemi saya bisa membuktikan bahwa saya bisa berkarya dan karya saya berupa video pembelajaran yang dapat digunakan oleh seluruh murid dan Guru Biologi seluruh Indonesia. Yang paling bermakna adalah mempunyai waktu untuk keluarga dan berbagi dengan sesama... 

2.5 Lima (5) 
Posisi Kontrol Pada awal mengajar saya menggunakan penerapan disiplin sebagai teman ternyata banyak peserta didik yang sangat dekat dengan saya, dan maunya sama saya, semua masalah ditanya kepada saya, awalnya saya merasa bahagia, lama- lama tidak nyaman, karena saya membuat mereka tergantung dengan saya, membuat mereka jadi menjelek-jelekan guru lain yang merupakan rekan kerja saya. Akhirnya saya sadar dan saya menggunakan sikap kontrol sebagai pemantau dan manager, lebih sering manager, jadi saya biasa aja, tidak terlalu dekat dengan murid, tetapi bila mereka mempunyai masalah mereka akan saya beri analisis supaya mereka berlatih untuk menyelesaikan masakah dengan konsekuensi yang akan mereka tanggung. 
Apalagi saya mengajar anak SMA dimana anak yang beranjak dewasa, harus sanggup menghadapi tantangan dunia nyata yang pastinya banyak tantangan dan dengan karakter orang yang beragam. 

 2.6 Segitiga Restitusi 
Setelah belajar tentang restitusi ternyata memang seharusnya seperti itu dalam menangani murid yang bermasalah, walaupun terkadang emosi kita di ke depan kan, perasaan kita sebagai guru yang tidak dihargai karena murid tidak mau mengerjakan apa yang kita minta walaupun itu sangat mudah. Tapi kita sebagai Guru harus tahu apa alasannya, yang terkadang waktu kita tanyakan ke murid kita, kita seakan tidak percaya dan menyangkal kalo ini hanya kebohongan murid saja, harusnya kita sebagai Guru memberikan kepercayaan dulu ke murid, jangan berprasangka buruk dulu ke murid. Bila restitusi benar-benar dilaksanakan oleh semua Guru, murid yang putus asa, atau kasus narkoba, bunuh diri, atau tawuran, semua menjadi nyaman dan bahagia. 

Tugas Mandiri 
- Segitiga Restitusi 
1. Dari 5 posisi kontrol, posisi mana yang dipraktikkan oleh guru? Jelaskan. Posisi kontrol yang di praktikkan pak Joko sebagai Guru Adi dan Mario adalah manager, karena pak Joko berusaha untuk mencari jalan keluar bersama atas dasar kesadaran dari Adi dan Maruto. 
2. Kebutuhan apa yang berusaha dipenuhi oleh Mario dan Adi? Kebutuhan yang berusaha dipenuhi oleh Mario dan Adi adalah kebutuhan dasar kesenangan. 

3. Apa yang dikatakan guru dalam tahap Menstabilkan Identitas, Validasi Tindakan, dan Mencari Keyakinan? Menstabilkan identitas : Baiklah. Bapak di sini bukan untuk mencari siapa yang salah, Bapak di sini untuk mencari penyelesaian sama-sama, berpikir sama-sama tentang apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki situasi ini. Validasi tindakan : Kalian pasti melakukan itu ada alasannya ya. Pasti seru ya main lempar- lemparan makanan begitu. Mencari keyakinan: Sekarang mari kita bicara tentang keyakinan kelas dan keyakinan sekolah kita. Apa yang kita percaya? Yang mana yang kalian belum tunjukkan? 
4. Kira-kira sesuai prinsip restitusi, apa yang akan dilakukan Mario dan Adi untuk memperbaiki kesalahan mereka pada Ibu Dina? Yang dilakukan oleh Adi dan Maruto adalah prinsip Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan

Read More »
13 May | 0komentar

Tugas Mulai Dari Diri Modul 1.3 CGP

Saya memimpikan murid-murid yang yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang memiliki karakter Pancasila dan memiliki kompetensi yang unggul. 
Saya percaya bahwa murid adalah memiliki potensi yang ada potensi itu yang menjadi tugas guru untuk menuntunya dan mengarahkan kepada hal yang lebih baik atau berkembang. 
Di sekolah, saya mengutamakan perubahan-perubahan yang berpusat kepada peserta didik. 
Murid di sekolah saya sadar betul bahwa masa depan adalah perlu diusahakan sehingga dalam menyongsongnya diperlukan jembatan melalui Pendidikan yang berkarakter melalui nilai-nilai luhur Pancasila yang termotivasi,cerdas dan kreatif. 
Saya dan guru lain di sekolah saya yakin untuk bahwa perubahan yang lebih baik akan membawa dampak terhadap pengembangan peserta didik sehingga terwujud profil pelajar Pancasila dengan menuntun mengarahkan peserta didik sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewatara 
Saya dan guru lain di sekolah saya paham bahwa pembelajaran yang menyenangkan dengan menggunakan metode dan model pembelajaran akan memotivasi keterlibatan peserta didik. Dari ini akan bermuara kepada pencapaian kompetensi siswa. 


VISI : Mewujudkan Peserta didik yang berkarakter Pancasila dan memiliki kompetensi yang unggul dalam Bingkai Kebhinekaan






Read More »
12 May | 0komentar

Tugas Mulai dari Diri Modul 1.2 CGP

 



1. Peristiwa positif yang saat di Sekolah Dasar, saya selalu menjadi rangking 1 dan rangking 
2. Daya saing positif dengan teman yang memiliki minat belajar yang sama. Sehingga bersaing untuk menjadi rangking satu. Sedangkan Peristiwa Negatif yang saya alami di sekolah Dasar adalah saya pernah di jewer oleh guru karena memberi tahukan jawaban kepada teman. 

Saat SMP - Kuliah 
Peristiwa Positif: saat SMP aktif kegiatan mengaji di masjid dan sebagai anggota remaja masjid. Saat SMA menjadi pengurus remaja masjid. Mulai belajar mengumandangkan adzan di masjid. Dan aktif dikegiatan karang taruna desa. Saat Kuliah hal yang positif saat dapat memiliki penghasilan dari membantu dosen yang menjadi konsultan dengan menjadi drafter (menggambar rumah). 
Peristiwa Negatif: saat kuliah saya tidak aktif di kegiatan kemahasiswaan karena selalu berkutat pada tugas kuliah (menggambar) dan membantu dosen yang menjadi konsultan. 
Saat bekerja: 
yang positif mendapatkan Bea Siswa Tugas belajar S2 dari kemendikbud RI di UGM dan menjuarai berbagai lomba tk.provinsi diantaranya Lomba media pembelajaran berbasis blog juara 3 tk prov. kategori SMK 2014, Juara 2 media pembelajaran berbasis web Tk.Prov 2016, finalis guru berprestasi tk.provinsi 2017, penerima penghargaan Learning Object pd Lomba Media Pembelajran Interaktif (BPTIK) tahun 2021 dll. 
2. Yang berperan dalam kegiatan pada peristiwa tersebut selain saya adalah: a. Saat SD yang berperan antara lain: Orang tua, teman-teman SD, guru ngaji b. Saat Lulus SMA yang berperan: orang tua, teman sepermainan, Kepala Desa, pengurus TPQ 
3. Dampak emosional yang saya rasakan hingga sekarang adalah saat sekolah SD yang saya rasakan adalah tenang dan optimisme. Sedangkan setelah lulus SMA perasaan yang saya rasakan ada perasaan kagum, gembira, sedih, bingung dan tertarik 
4. Yang membekas dan saya rasakan sampai saat ini karena apa yang saya alami benar-benar membekas dalam hati dan memori otak saya. Sehingga pesan- pesan yang disampaikan guru saat pembelajaran dan sikap perilaku yang guru contohkan masih dapat saya ingat. 
5. Dari kegiatan trapesium usia dan roda emosi Putchik berkaitan saya sebagai guru adalah sikap teladan, panutan dengan berperilaku baik. Yang semoga akan membekas juga pada peserta didik. Menanankan nilai karakter serta nilai nilai luhur sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Sehingga apa yang kita sampaikan akan selalu diingat dan diterapkan dalam kehidupan peserta didik dimasa yang akan datang. 
6. Peran guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru oleh murid, harus dapat memberikan contoh dan menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila saat proses belajar sehingga dapat memperoleh kehidupan bermakna. 

 

Read More »
12 May | 0komentar

Tugas Mulai dari Diri Modul 1.1 CGP


Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) memberikan dasar-dasar pendidikan yang patut diterapkan pada tingkat kelas,tingkat sekolah dan Masyarakat . Konsep yang gagas oleh KHD sebagai sebuah ide yang menjadikan peserta didik dapat mengenali segala potensi yang dimiliki, karena apa yang dikembangkan dapat memberikan panutan sebagai arah tumbuh dan berkembangnya anak yang bermuara pada keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. 
Pemelajar, guru sebagai motivator agar peserta didik dapat tumbuh, berkembang sesuai dengan kodrat anak. Sebagai pemelajar guru melayani peserta didik dalam bentuk pembelajaran yang bermakna. Pada artikel sebelumnya saya menulis dengan Judul "Meaningfull Learning". Guru dalam proses belajar mengajar atau menyampaikan materi pembelajaran diharapkan bisa menggali kemampuan peserta didik, membangkitkan keterlibatan aktif peserta didik dan pengalaman yang berkesan. Untuk memberikan pembelajaran yang bermakna tidaklah cukup peserta didik hanya sebagai pendengar, peserta didik hanya sebagai penerima informasi, guru harus dapat menjadikan kelas sebagai sebuah pentas konser transfer knowledge sehingga akan berkesan oleh peserta didik. 
Praktik Meaningfull yang mencoba saya bawakan sebagai implementasi dari pemikiran KHD dalam memberikan panutan untuk tumbuh dan berkembangnya potensi peserta didik/ murid pada kelas yang saya yaitu melakukan pembelajaran yang bermakna. Kelas DPIB (Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan) memiliki Mapel yang menyiapkan peserta didik untuk memiliki kompetensi perencanaan baik perencanaan berupa gambar rumah (lengkap dengan denah,tampak,potongan dan detail) dan juga perencanaan gedung serta perhitungan pelaksanaan RAB. 
Contoh pada materi dengan Kompetensi Dasar (KD) Menggambar Teknik Bangunan Gedung Sub Kompetensi Perencanaan Rumah Tinggal Tidak Bertingkat. Awal setelah melakukan diagnostik non kognitif, mendapatkan pola pikir/ wawasan lingkungan tentang karakteristik peserta didik/ murud. Fokus pada survey adalah berkaitan dengan gaya belajar, sarana prasarana yang dimiliki serta minat. 
Pada pertemuan dikelas/ laboratorium setelah melakukan kegiatan pembuka, mengapresiasi siswa yang telah mengumpulkan tugas sebelumnya, memberikan motivasi dengan melakukan apersepsi dan menyampaikan beberapa pertanyaan   pemantik. menyajikan beberapa contoh Gambar perencanaan yang lengkap dalam bentuk slide, Gambar dan Maket. 
Dengan metode saintifik guru mempersilahkan kepada siswa untuk mengamati media-media gambar tersebut. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik sistem penyajiannya salah satu bentuk metode saintifik. Dalam pembelajaran di kelas hendaknya kita juga harus memperhatikan kodrati anak yang masih suka bermain. Lihatlah ketika anak-anak sedang bermain pasti yang mereka rasakan adalah ‘kegembiraan’ dan itu membuat suatu kesan yang membekas di hati dan pikirannya. Hendaknya guru juga memasukan unsur permainan dalam pembelajaran agar siswa senang dan tidak mudah bosan. Apalagi menggunakan permainan-permainan tradisional yang ada, selain menyampaikan pembelajaran melalui permainan , kita juga mendidik dan mengajak anak untuk melestarikan kebudayaan. Menghargai peserta didik dengan memberikan pelayanan pembelajaran yang sebagik-baiknya adalah sebagai wujud impian KHD. Pelayanan yang setulus hati, memberikan teladan (ing ngarso sung tulodho), membangun semangat (ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan (tut wuri handayani) bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka menjadi pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mereka akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan

Read More »
11 May | 0komentar

Canva For Education

Tugas-tugas CGP menggunakan Platform CANVA

Buat dan personalisasikan rencana pelaksanaan pembelajaran, infografis, poster, video, dan lainnya. 100% gratis untuk guru dan siswa di sekolah yang memenuhi syarat.Canva adalah platform desain dan komunikasi visual online dengan misi memberdayakan semua orang di seluruh dunia agar dapat membuat desain apa pun dan mempublikasikannya di mana pun.Sejak 2013, platform ini berhasil merebut hati lebih dari 60 juta pengguna aktif bulanan dari 190 negara di dunia. Dan dari jutaan orang mengetahui apa itu Canva, sudah lebih dari 7 miliar desain berhasil tercipta. Berkat permasalahan yang Melanie Perkins, Cameron Adams, dan Cliff Obrecht temukan di lapangan bahwa banyak sekali orang yang ingin membuat desainnya sendiri dengan mudah. Hingga pada akhirnya terciptalah Canva yang mereka kemas dengan prinsip “make complex things simple.

Manfaat Canva 
Sejak mengikuti Calon Guru Penggerak saya sangat terbantu menggunakan Canva untuk membuat tugas-tugas. Yang nota bene tugas-tugas tersebut terus ada selama 9 bulan. Dan hampir semua CGP membuat tugas dengan menggunakan CANVA. Alan menggunakan Canva adalah bahwa Canva dapat diconversikan ke dalam apa saja (untuk mempublikasikan/mempresentasikan). Saya biasanya membuat dalam bentuk PPt, yang dapat saya konversi menjadi dalam bentuk Video.
Membuat berbagai macam desain untuk kebutuhan personal dan profesional. 
manfaat Canva lainnya adalah: 
  • Membuat presentasi mirip PowerPoint 
  • Membuat konten Instagram untuk feed, Story, dan Ads dengan pilihan animasi atau static 
  • Mendesain postingan, cover, Ads, event cover, Facebook video, dan story Facebook 
  • Mengedit video untuk berbagai platform media sosial, seperti Instagram, Facebook, TikTok, Pinterest, LinkedIn, dan YouTube 
  • Mendesain poster, flyer, brosur, iklan, postcard, business card, newsletter, dan invoice untuk kebutuhan bisnis dan sebagai digital marketing tools 
  • Membantu menyusun format resume, CV, letterhead, proposal, sertifikat, serta berbagai kartu dan undangan 
  • Menyusun infografis, mind map, kolase foto, virtual background, format kalender, worksheet, planner, peta konsep, dan wallpaper/background layar gadget.


Read More »
10 May | 0komentar

Refleksi Modul 1, 2 dan 3 Guru Penggerak


Refleksi akhir berkaitan rangkaian pembelajaran modul Calon Guru Penggerak (CGP) adalah melakukan refleksi keseluruhan modul. Modul  pada program guru penggerak terdiri dari/ meliputi Modul 1 yang terdiri dari Modul 1.1, Modul 1.2. Modul 1.3, Modul 1.4, Modul 2 yang terdiri dari Modul 2.1, Modul 2.2, Modul 2.3, dan Modul 3 yang terdiri dari Modul 3.1, Modul 3.2, dan Modul 3.3 modul pada program pendidikan guru penggerak angkatan 6 yang dimulai pada tanggal 24 Agustus 2022. Merefleksikan dengan menggunakan model 4 F (Fact, Feeling, Finding dan Future). 


Fact (Peristiwa) 
Aktivitas pembelajaran diawali mulai Modul 1.1 hingga modul 3.3. Alur pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan guru penggerak ini menggunakan alur MERDEKA yaitu  Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep; Ruang Kolaborasi; Demonstrasi Kontekstual; Elaborasi Pemahaman; Koneksi Antar Materi; dan ditutup dengan Aksi Nyata. 

Modul 1.1 
Tentang paradigma dan memahami filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Melakukan refleksi terhadap hubungan nilai-nilai tersebut dengan konteks pendidikan pada saat ini. 
Modul 1.2 
Mempelajari tentang nilai dan peran guru penggerak. 
Modul 1.3 
Mempelajari visi guru penggerak dengan menerapkan prakarsa perubahan menggunakan model BAGJA kemudian saya mengembangkan dan mengkomunikasikan visi sekolah yang berpihak pada murid kepada para guru dan pemangku kepentingan. 
Modul 1.4 
Mempelajari bagaimana membangun budaya positif di sekolah. 

Modul 2 yaitu tentang praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. 
Modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi yang terbagi menjadi tiga yakni diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Tujuan dari pembelajaran berdiferensiasi adalah untuk mengakomodasi kebutuhan belajar siswa yang berbeda. 
Modul 2.2 
Mempelajari pembelajaran sosial emosional diharapkan saya mampu mengelola emosi dan mengembangkan keterampilan sosial yang menunjang pembelajaran. Kemudian yang terakhir 
Modul 2.3 
Melakukan praktik komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar seorang coach serta menerapkan praktik coaching sebagai pemimpin pembelajaran. 
Pada modul 3 tentang pemimpin pembelajaran dalam pengembangan sekolah dimulai dari 
Modul 3.1 
Melakukan praktik pengambilan keputusan yang berdasarkan prinsip pemimpin pembelajaran dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan. 
Modul 3.2 
Tentang pengelolaan sumber daya di sekolah meliputi pengelolaan sumber daya manusia, keuangan, waktu, dan sarana prasarana, agama dan budaya, politik yang dimiliki oleh sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berdampak pada murid. 
Modul 3.3. 
Tentang program yang berdampak positif pada murid dengan cara mengembangkan kegiatan berkala seperti membuat program yang berdampak positif pada murid, memfasilitasi komunikasi murid, orangtua dan guru serta menyediakan peran bagi orangtua terlibat dalam proses belajar yang berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran. 


Feeling (Perasaan) 
Perasaan saya peroleh setelah mengikuti program pendidikan guru penggerak ini tertantang untuk mengimplementasikan aksi nyata dengan merubah paradigma berpikir saya selama ini tentang pendidikan. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu, melainkan menuntun anak untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya. Selain itu pada pendidikan guru penggerak mendapat banyak ilmu baru. Bagaimana saya melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir kebutuhan murid yang beragam. Bagiamana saya membangun budaya positif. Bagaimana cara mengambil keputusan pada kasus dilema etika, bagaimana cara supervisi akademik yang baik yang menggunakan praktek coaching. Serta bagaimana saya bisa membuat program-program yang berdampak positif pada murid dengan memaksimalkan semua aset yang ada di sekolah. 


Finding (Pembelajaran) 
Pengetahuan dan pengalaman luar biasa yang saya terima sebagai calon guru penggerak pemimpin pembelajaran. Salah satu aplikasi nyata bagaimana seorang guru harus menghamba pada anak adalah mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi terhadap pelaksanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pembelajaran yang mengakomodir seluruh kebutuhan peserta didik dari minat, kesiapan belajar dan profil belajar peserta didik. Saya belajar mengenai cara memberdayakan potensi murid melalui coaching. Mengubah paradigma berpikir saya dari pemikiran berbasis kekurangan menjadi berbasis kekuatan atau aset. Belajar mengambil keputusan berdasarkan 3 prinsip 4 paradigma dan 9 langkah pengambilan keputusan.Belajar cara melibatkan murid dalam penyusunan program. 


Future (Penerapan) 
Setelah mempelajari modul 1 hingga modul 3, saya akan melatih diri saya secara terus menerus dengan teknik teknik yang ada dalam modul sehingga menjadi cakap. Tak hanya itu saya juga akan mencoba mengenal dan menganalisis aset, kekuatan, potensi yang dimiliki sekolah maupun yang ada di sekitar sekolah untuk dapat diberdayakan untuk pengembangan sekolah kedepannya. Memanfaatkan aset sekolah secara maksimal untuk dapat digunakan dalam pembelajaran supaya bisa menggali potensi murid. Mencoba berkolaborasi dengan rekan sejawat untuk dapat menerapkan pendekatan berbasis aset atau kekuatan sehingga dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan pendidikan khususnya di sekolah saya. Selain itu saya akan terus belajar dan menganalisis tentang program-program yang berdampak positif pada murid. Kemudian saya akan membagikan praktek baik kepada rekan sejawat tentang kepemimpinan murid dan berkolaborasi dengan teman CGP lainnya, kepala sekolah, komunitas praktisi, dan sebagainya dalam menyusun dan membantu melaksanakan program yang berdampak positif pada murid. Serta saya akan selalu berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi sebuah kebiasaan baik yang tentunya dengan tujuan murid akan mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya menjadi murid merdeka sesuai dengan profil pelajar pancasila.

Read More »
08 May | 0komentar

Menunggu Episode Berikutnya!

Kelompok dengan Fasilitator Ibu Sulastri,ST, Pengajar Praktik : Bp. Muhammad Syaefudin, Bp. Heru, Ibu Yohana dan Bp. Eka

Menjalani sebuah episode yang telah dijalani sebagai Calon Guru Penggerak (CGP), setelah lolos seleksi administrasi. Kemudian dinyatakan lolos pada seleksi kedua melalui tes mengajar dan diakhiri dengan test wawancara. Mendaftar menjadi Calon Guru Penggerak melalui SIM PKB, berhasil masuk mengikuti kegiatan berikutnya adalah suatu yang membanggakan. Masuk sebagai Angkatan 6 CGP  Kabupaten Purbalingga. 
Proses selanjutnya adalah episode dengan melakukan lakon Pendidikan Guru Penggerak, mengikuti 9 bulan. Menjalani episode ini merupakan warna tersendiri bagi saya, merupakan langkah untuk maju sebagai barometer pencapaian seberapa besar motivasi untuk dapat berkembang kearah yang lebih baik/maju. Bertukar pikiran, berbagi ilmu, berbagi aksi nyata, dan berkolaborasi dengan teman-teman guru dalam satu Kabupaten Purbalingga yang mempunyai visi yang sama merupakan hal yang sangat positif bagi saya. 
Kegiatan selama 9 bulan, dengan tetap melakukan tugas wajib sebagai guru yakni mengajar dan tugas tambahan sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, sungguh sebuah tataran laku hidup yang mengasyikan, menantang dan menegangkan. Tugas-tugas CGP yang demikian banyak, beruntun, marathon ditambah kegiatan sebagai Wakakur yang demikian berjubel dan multi keadaan. Diwajibkan untuk mengerjakan tugas-tugas CGP melalui LMS tentu dengan due date yang timing waktunya 1 dan 2 hari. 
Melakoni episode ini sungguh merupakan kegiatan yang menggairahkan terutama pada insting-insting mengatur manajemen waktu. Dan laku ini menjadi sebuah habit. Pengaturan waktu menjadi sebuah keharuskan, mejalani, mengerjakan tugas di manapun pada kesempatan apapun dilakukan. Tentu tidak mengganggu tugas utama, melakukan pembelajaran. Tugas yang ada dengan alur MERDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demontrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi dan Aksi Nyata) dapat terselesaikan dengan baik. Meskipun per 7 Mei 2023 dashboard perkembangan LMS masih 99%. 
Rentetan kegiatan dengan menggunakan alur merdeka melalui LMS dilakukan secara daring, dan ada yang dilakukan secara luring yaitu pendampingan individu (PI) yang dilakukan oleh Pengajar Praktik (PP) dan lokakarya 1 sampai dengan lokakarya 7. Lokakarya pertama dilaksanakan di SMK negeri 1 Jateng dan lokakarya 2 s.d. 7 dilaksanakan di SMAN 1 Padamara Purbalingga Jateng. 
Melalui Program Kerja dengan Tema Literasi Digital mencoba mengimplementasikan pengetahuan dan pengalaman mengikuti penddidikan guru penggerak di sekolah. Hulu dari semua pengetahuan, ketrampilan dan keberhasilan adalah membaca/ literasi. Tanpa ada literasi sebuah tujuan, ide, visi tentu akan jauh api dari panggang. Membiasakan literasi bagi siswa melalui P5 sebagai ide yang tentu akan merambah, berimbas kepada kemampuan lain yang sangat berguna bagi turut berkembangnya peserta didik. 
Semoga saja hasil tidak akan pernah mengkhianati proses serta takdir Tuhan yang tidak akan pernah tertukar untuk seseorang. Hal tersebut saya yakini untuk melakukan hal-hal terbaik disaat semua kesempatan datang. Meski sedang menunggu pengumuman kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri terbuka, semakin meneguhkan visi untuk terus berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai pihak demi mewujudkan perubahan yang nyata dan lebih baik.






Read More »
07 May | 0komentar