Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by date for query Pembelajaran Kontekstual. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query Pembelajaran Kontekstual. Sort by relevance Show all posts

Tantangan Guru Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Ruang Kelas

Perkembangan zaman membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, terutama terkait karakteristik peserta didik. Di penghujung semester gasal ini, refleksi terhadap praktik pembelajaran menjadi penting, khususnya dalam menyikapi kehadiran Generasi Z dan Generasi Alpha yang kini mendominasi ruang kelas.
Bagi guru generasi sebelumnya, pengalaman mengajar sering kali menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai karakter murid. Jam terbang yang panjang membentuk intuisi pedagogik: mengenali murid pendiam, murid aktif, hingga murid dengan perilaku menantang. Namun, pola-pola yang selama ini dianggap mapan ternyata tidak selalu relevan ketika berhadapan dengan generasi baru peserta didik.
Perubahan Karakter Peserta Didik
Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam konteks sosial dan teknologi yang sangat berbeda. Mereka lahir dan berkembang di era digital, di mana informasi mudah diakses, komunikasi berlangsung cepat, dan batas ruang serta waktu semakin kabur. Kondisi ini membentuk cara berpikir, cara belajar, dan cara memaknai pendidikan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka tidak sekadar membawa perangkat digital ke dalam kelas, tetapi juga membawa perspektif baru terhadap proses belajar. Fleksibilitas sering kali menjadi ciri utama mereka. Namun, fleksibilitas ini bukan berarti tanpa arah. Justru, Generasi Z dan Alpha cenderung menghargai pembelajaran yang memiliki tujuan jelas, relevan dengan kehidupan, serta memberikan makna bagi perkembangan diri mereka.

Konteks Dunia TUNA dan Implikasinya bagi Pendidikan
Peserta didik saat ini tumbuh dalam dunia yang dapat digambarkan dengan istilah TUNA (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity). Dunia yang penuh ketidakpastian, perubahan cepat, kebaruan, dan ambiguitas ini memengaruhi orientasi belajar mereka. Fokus tidak lagi semata pada capaian nilai akademik, tetapi juga pada pertumbuhan personal, kesejahteraan mental, dan relevansi pembelajaran dengan realitas kehidupan.
Jika generasi sebelumnya lebih menekankan pada kepatuhan terhadap aturan atau panduan yang baku, Generasi Z cenderung menampilkan pola berpikir yang lebih eksploratif dan kreatif. Pola ini terkadang dipersepsikan sebagai ketidakteraturan, padahal sesungguhnya merupakan bentuk pencarian jati diri dan cara belajar yang sesuai dengan zamannya.

Peran Guru dalam Lanskap Pedagogik Baru
Dalam konteks ini, peran guru mengalami pergeseran. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai sumber utama pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator, pendamping, dan mitra belajar. Pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting dibandingkan instruksi satu arah.
Hal ini tidak berarti metode pembelajaran lama keliru. Setiap pendekatan memiliki relevansi sesuai dengan konteks zamannya. Namun, pendidikan bersifat dinamis. Kelas bukanlah ruang statis, melainkan ruang hidup yang terus berubah mengikuti perkembangan peserta didik dan lingkungan sosialnya.

Refleksi dan Arah Pengembangan Profesional Guru
Kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberlangsungan peran guru di era ini. Guru yang efektif adalah guru yang bersedia terus belajar, merefleksikan praktik pembelajarannya, dan menyesuaikan pendekatan pedagogik dengan karakter peserta didik.
Perubahan dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau teknologi, tetapi juga oleh kesiapan mental dan sikap profesional guru. Ketika guru membuka diri untuk memahami generasi baru, mengembangkan empati, dan menggeser cara pandang, maka proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan kontekstual.
Dengan demikian, tantangan menghadapi Generasi Z dan Alpha sejatinya bukan hambatan, melainkan peluang untuk menumbuhkan praktik pendidikan yang lebih relevan, humanis, dan berorientasi pada masa depan.

Read More »
29 December | 0komentar

Kerangka FIRST dan Peran Baru Guru dalam Kegiatan Kokurikuler


Kokurikuler dalam pembelajaran mendalam adalah kegiatan penguatan dan pendalaman materi yang dilakukan di luar jam pelajaran intrakurikuler untuk mengembangkan karakter dan kompetensi siswa secara utuh. Kegiatan ini dirancang untuk memperkaya pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan seperti studi lapangan, proyek riset, atau kegiatan seni budaya, dan memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret serta bermakna di kehidupan nyata.
Kegiatan ko-kurikuler mampu mendukung pembudayaan deep learning melalui keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar yang kontekstual, reflektif, dan bermakna. Temuan ini selaras dengan pandangan Bahgat et al. (2017)yang menekankan pentingnya transformasi peran guru dalam menciptakan pengalaman belajar aktif dan mendalam melalui kerangka FIRST (Feedback, Interactivity, Reflection, Support, and Transfer). Dalam kegiatan ko-kurikuler, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi,tetapi sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Hal ini juga diperkuat oleh Jiang (2022),yang menekankan bahwa deep learning memerlukan keterlibatan kognitif yang tinggi dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan secara fleksibel dalam berbagai konteks. Kegiatan ko-kurikuler di SMKN 1 Bukateja memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan ini melalui pendekatan pembelajaran yang otentik dan kolaboratif.
Indikator mind, meaning, dan joy yang muncul dalam kegiatan ko-kurikuler juga memperkuat pembelajaran yang menyeluruh secara kognitif, afektif, dan sosial. Hal ini sejalan dengan konsep deep meaningful learning yang dijelaskan oleh Mystakidis (2021), yang menekankan pentingnya keterkaitan antara pengetahuan, emosi, dan pengalaman dalam menciptakan pemahaman yang mendalam. Selain itu, kegiatan yang memunculkan antusiasme dan kepuasan belajar, seperti seni tari dan eksperimen dalam klub sains, sesuai dengan prinsip joyful learning yang dikaitkan dengan teori psikologi positif (Biswas-Diener & Dean, 2007). Aspek mindfulness yang tampak dalam refleksi diri siswa selama kegiatan pramuka dan diskusi ilmiah juga mendukung temuan Shapiro et al. (2006) serta Brown et al. (2007), yang menunjukkan bahwa keterlibatan sadar dalam proses belajar berdampak positif terhadap pemahaman dan kesejahteraan siswa. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat temuan Nabila et al. (2025) bahwa pendekatan deep learning dalam pembelajaran sains di sekolah tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga menumbuhkan sikap aktif, kreatif, dan reflektif pada peserta didik.

Tantangan Kokurikuler

Tantangan Deskripsi Solusi
   
1. Keterbatasan sumber daya dan fasilitas    
   
Keterbatasan waktu, fasilitas, dan ruang yang memadai untuk   melaksanakan kegiatan kokurikuler secara optimal.    
   
Peningkatan pelatihan berkelanjutan untuk guru terkait integrasi deep   learning dalam kegiatan kokurikuler.    
   
2. Kurangnya pelatihan guru dalam deep learning    
   
Guru kurang siap dalam mengintegrasikan deep learning dalam setiap   kegiatan kokurikuler   
   
Memberikan pelatihan berkelanjutan yang lebih terstruktur tentang   pembudayaan deep learning dalam kegiatan kokurikuler.   
   
3. Kesulitan   siswa dalam mengaitkan kegiatan kokurikuler dengan pembelajaran mendalam   
   
Siswa sering kali lebih fokus pada pencapaian tujuan sesaat tanpa   mengaitkan dengan pembelajaran mendalam   
   
Pengelolaan kegiatan kokurikuler yang lebih terstruktur dan berbasis   refleksi, serta penguatan hubungan teori dengan pengalaman nyata.   
   
4. Resistensi   terhadap perubahan metode pembelajaran   
   
Guru dan orang tua masih merasa ragu terhadap efektivitas metode deep   learning dalam pendidikan dasar.   
   
Meningkatkan kesadaran dan pemahaman orang tua serta guru tentang   manfaat deep learning melalui komunikasi dan sosialisasi yang lebih intens.   


Perlunya peningkatan pada pelaksanaan kokurikuler ini perlu ada seperti peningkatan pelatihan guru dan pengelolaan kegiatan kokurikuler yang lebih terstruktur, juga mencerminkan hasil penelitian  Misalnya, Hendrianty et al. (2024) menyarankan pentingnya pengembangan pola pikir deep learning di kalangan guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. 
Demikian pula, Kemendikbud RI (2016) menggarisbawahi pentingnya integrasi kompetensi abad ke-21 dalam kurikulum, yang juga tercermin dalam usulan penelitian ini untuk memperkuat kesadaran di kalangan orang tua dan pihak sekolah mengenai pentingnya deep learning dalam pembelajaran. Dengan demikian, penelitian ini memperkuat literatur yang ada mengenai perlunya perubahan dalam pendekatan pembelajaran untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Read More »
14 November | 0komentar

Capaian Pembelajaran : BSKAP 046/H/KR/2025


Apa itu Capaian Pembelajaran? 
Capaian Pembelajaran (CP) adalah rumusan kompetensi yang ditargetkan dicapai peserta didik pada setiap fase perkembangan. CP menjadi dasar perencanaan pembelajaran, asesmen, hingga pelaporan hasil belajar. 

Struktur Fase dalam Kurikulum 2025 :

Jenjang Pendidikan

Fase

Rentang Umum

PAUD

Fondasi

Usia 2–6 tahun

SD/MI

A–C

Kelas I–VI

SMP/MTs

D

Kelas VII–IX

SMA/SMK/MAK

E–F

Kelas X–XII/XIII

Pendidikan Khusus/Kesetaraan

A–F

Disesuaikan kebutuhan


Tujuan CP Terbaru :
Integratif: pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara holistik 
Berbasis proyek dan kontekstual 
Relevan dengan literasi digital dan dunia kerja 
Fleksibel sesuai konteks lokal dan karakteristik siswa

Surat keputusan BSKAP 046/H/KR/2025 adalah revisi dari capaian pembelajaran CP PSMK 2025 kurikulum merdeka yang di dalamnya juga memuat CP untuk Dikdas (Pendidikan Dasar) dan Dikmen (Pendidikan Menengah). Surat Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (BSKAP) Nomor 046/H/KR/2025 ini isinya sama tentang capaian pembelajaran dalam implementasi kurikulum merdeka mulai jenjang paud hingga smk sederajat. Bagi ayah bunda yang belum sempat melihat paparan kurikulum merdeka kami sudah ringkaskan apa itu kurikulum merdeka.


Read More »
28 July | 0komentar

Karakteristik Mapel KKA: Membangun Masa Depan Berbasis Etika dan Konteks

Karakteristik Mapel KKA
Di era digital yang berkembang pesat ini, penguasaan teknologi menjadi kunci. Salah satu bidang yang paling relevan dan transformatif adalah Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Namun, KKA bukan sekadar mata pelajaran yang mengajarkan baris-baris kode atau algoritma canggih. Lebih dari itu, KKA dirancang dengan karakteristik pembelajaran yang holistik, menitikberatkan pada pengembangan kompetensi teknis yang berlandaskan etika dan konteks nyata.

Fondasi Etika: Membangun Kompetensi Berkeadaban Poin pertama dan terpenting dalam pembelajaran KKA adalah menanamkan etika (keadaban) sebagai fondasi bagi penguasaan kompetensi di semua jenjang. Ini berarti bahwa setiap kali siswa belajar tentang coding atau bagaimana AI bekerja, mereka juga diajak untuk merenungkan dampak sosial, moral, dan etis dari teknologi tersebut. Bagaimana AI dapat digunakan untuk kebaikan? Bagaimana kita mencegah bias dalam algoritma? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bagian integral dari kurikulum, memastikan bahwa generasi mendatang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab secara etis.

Pembelajaran Kontekstual: Relevansi dalam Kehidupan Sehari-hari KKA dirancang untuk menjadi pembelajaran yang kontekstual sesuai dengan situasi yang dihadapi peserta didik sehari-hari dan permasalahan yang terjadi di masyarakat/lingkungan sekitar. Ini berarti konsep-konsep KKA tidak diajarkan secara abstrak. Sebaliknya, siswa akan diajak untuk mengidentifikasi masalah nyata di komunitas mereka – misalnya, bagaimana AI bisa membantu mendeteksi sampah di sungai atau bagaimana coding dapat menciptakan aplikasi sederhana untuk mengatur jadwal belajar. Pendekatan ini membuat pembelajaran menjadi lebih relevan, menarik, dan bermakna bagi siswa.

Fleksibilitas Metode Pembelajaran: Internet-based, Plugged, dan Unplugged Fleksibilitas adalah kunci dalam KKA, dengan pembelajaran dapat dilaksanakan secara internet-based, plugged, dan unplugged. Internet-based memanfaatkan platform online, tutorial interaktif, dan kolaborasi virtual. Plugged melibatkan penggunaan perangkat keras seperti robotika sederhana atau mikrokontroler. Unplugged adalah metode pembelajaran tanpa komputer, di mana konsep-konsep KKA diajarkan melalui permainan, aktivitas fisik, atau teka-teki logika. Pendekatan ini memastikan bahwa pembelajaran KKA dapat diakses oleh semua siswa, terlepas dari ketersediaan fasilitas teknologi.

Pendekatan Human-Centered: Manusia sebagai Pusat Inovasi Karakteristik penting lainnya adalah penggunaan pendekatan human-centered di mana manusia sebagai fokus dalam pembelajaran, pemanfaatan, dan pengembangan KA. Ini menegaskan bahwa tujuan utama dari KKA adalah untuk melayani dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Siswa diajarkan untuk merancang solusi yang ramah pengguna, inklusif, dan memberikan nilai nyata bagi individu dan masyarakat, bukan sekadar menciptakan teknologi untuk kepentingan teknologi itu sendiri.

Jenjang Pembelajaran yang Terstruktur: Dari SD hingga SMA/SMK Kurikulum KKA dirancang secara progresif sesuai jenjang pendidikan:
Jenjang SD: KKA menekankan penguasaan kompetensi pra-dasar sebagai bekal bagi pembelajaran Informatika serta Koding dan KA di jenjang SMP. Ini bisa berupa pengenalan logika dasar, sequencing, atau konsep algoritma sederhana melalui permainan dan aktivitas yang menyenangkan. 
Jenjang SMP: Siswa akan melakukan praktik mendalam berpikir komputasional dan literasi digital tingkat dasar. Mereka akan mulai menulis kode sederhana, memahami struktur data dasar, dan belajar bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. 
Jenjang SMA/SMK: Pembelajaran berlanjut ke praktik mendalam berpikir komputasional dan literasi digital tingkat menengah dan lanjut. Pada tahap ini, siswa diharapkan mampu mengembangkan proyek yang lebih kompleks, memahami konsep AI yang lebih dalam, dan bahkan mulai bersiap untuk karir di bidang teknologi. 

Dengan karakteristik pembelajaran yang komprehensif ini, mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan teknis yang esensial, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etika dan kemampuan berpikir kritis. Ini adalah langkah krusial dalam mempersiapkan generasi muda Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta dan inovator yang bertanggung jawab di masa depan.

Read More »
04 July | 0komentar

Pembelajaran Mendalam

Indonesia menghadapi berbagai tantangan, baik pada saat ini maupun saat masa depan, yang tidak pasti, tidak menentu, kompleks, ambigu, dan sulit diprediksi. Tantangan-tantangan tersebut hanya dapat dijawab melalui transformasi pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan bermutu dan merata untuk semua melalui pembelajaran yang bermakna misalnya.
Tantangan internal pendidikan Indonesia terletak pada krisis pembelajaran yang berdampak pada menurunnya kualitas pembelajaran meskipun akses pendidikan dasar dan menengah sudah cukup baik. Pendekatan pembelajaran yang tidak efektif berdampak pada rendahnya kemampuan literasi membaca dan numerasi peserta didik Indonesia, seperti yang tercermin dalam hasil PISA. Literasi dan numerasi yang masih rendah terjadi karena terdapat kesenjangan efektivitas pembelajaran di sekolah yang belum memberi kesempatan luas kepada guru untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Tantangan lain yaitu kompetensi guru yang masih harus ditingkatkan agar guru memiliki pola pikir yang bertumbuh (growth mindset). Selain itu, beban kerja guru yang sangat berat dan lebih banyak berkaitan dengan tugas administratif mengurangi fokus mereka pada peran utama sebagai pendidik.
Untuk menghadapi tantangan-tantangan itu, sistem pendidikan nasional Indonesia perlu ditransformasi secara terstruktur, sistemik dan masif. Melanjutkan praktik pembelajaran seperti saat ini akan sulit meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, transformasi pendidikan merupakan keharusan yang tidak bisa ditunda lebih lama lagi, atau sangat kritis dan sangat urgen. Berdasar praktik di berbagai negara, transformasi pendidikan nasional yang efektif bukan top-down, tetapi bottom-up, dimulai dari transformasi pembelajaran di setiap ruang kelas.
Selain tantangan tersebut, Indonesia memiliki keberagaman yang merupakan modal berharga untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna. Pemanfaatan teknologi merupakan peluang akses pendidikan bagi berbagai lapisan masyarakat. Momentum Bonus Demografi 2035 dan visi Indonesia Emas 2045 menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi sistem pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan generasi menuju visi Indonesia Emas 2045. Pendidikan dasar dan menengah di Indonesia berupaya dengan cepat dan tepat untuk mengakselerasi dampak pendidikan melalui berbagai pendekatan pembelajaran, salah satunya Pembelajaran Mendalam (PM).
Untuk konteks Indonesia, PM bukan kurikulum melainkan suatu pendekatan pembelajaran. Pembelajaran Mendalam juga bukan pendekatan baru dalam sistem pendidikan Indonesia. Sejak tahun 1970-an telah dikenalkan pendekatan pembelajaran Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM), Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM), Contextual Teaching and Learning (CTL). Akan tetapi, semua pendekatan tersebut masih banyak menghadapi kendala baik dalam tataran konsep maupun implementasi. Oleh karena itu, PM berfungsi sebagai fondasi utama dalam peningkatan proses dan mutu pembelajaran.



Definisi Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.
  • Berkesadaran Pengalaman belajar peserta didik yang diperoleh ketika mereka memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Peserta didik memahami tujuan pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan.
  • Bermakna Peserta didik dapat merasakan manfaat dan relevansi dari hal-hal yang dipelajari untuk kehidupan. Peserta didik mampu mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan lama dan menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan nyata.
  • Menggembirakan Pembelajaran yang menggembirakan merupakan suasana belajar yang positif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi. Peserta didik merasa dihargai atas keterlibatan dan kontribusinya pada proses pembelajaran. Peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan.
  • Olah pikir Merupakan proses pendidikan yang berfokus pada pengasahan akal budi dan kemampuan kognitif, seperti kemampuan untuk memahami, menganalisa, dan memecahkan masalah.


Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam

Read More »
23 June | 0komentar

Perencanaan Mapel PKL

Perencanaan PKL dijabarkan dari CP mapel PKL, dilaksanakan oleh SMK/MAK bersama dunia kerja, menjadi dokumen Tujuan Pembelajaran (TP), Alur Tujuan pembelajaran (ATP), perencanaan pembelajaran dan asesmen. Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan target kompetensi yang dikuasai peserta didik setelah melaksanakan PKL. 

Berdasarkan TP, sekolah bersama dunia kerja mengidentifikasi potensi pekerjaan/kompetensi yang ada di dunia kerja untuk penyusunan ATP/program PKL yang akan dilaksanakan. Dokumen perencanaan pembelajaran dapat menggunakan informasi atau dokumen kerja sesuai kebijakan dunia kerja tempat PKL. Dokumen perencanaan PKL berfungsi sebagai dasar pelaksanaan dan pemantauan. 

Berdasarkan CP mapel PKL sekolah bersama dunia kerja tempat PKL, menyusun Tujuan Pembelajaran (TP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) PKL, dan perangkat ajar PKL.
a. Tujuan Pembelajaran (TP) - Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) 
Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan kompetensi yang dikembangkan oleh satuan pendidikan dan dunia kerja yang mengacu kepada CP dan kontekstual dengan karakteristik dunia kerja. Satuan pendidikan bersama dunia kerja melakukan identifikasi pekerjaan yang digunakan sebagai dasar menyusun TP agar sesuai dengan pekerjaan yang tersedia di setiap dunia kerja tempat PKL akan dilaksanakan. Berdasarkan TP yang telah dirumuskan, selanjutnya, disusun ATP berupa urutan kegiatan pelaksanaan PKL. Kemudian dokumen TP-ATP diketahui oleh kedua belah pihak. 

b. Program PKL Tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran (TP-ATP) kemudian digunakan sebagai acuan untuk menyusun program PKL. Sekolah bersama dunia kerja tempat PKL menyusun program berdasarkan TP - ATP memuat pekerjaan/kegiatan yang akan dilaksanakan beserta jadwal waktu pelaksanaannya. Durasi dan urutan pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan kondisi dunia kerja, misalnya volume kerja dan peralatan yang dimiliki, sehingga program PKL tiap peserta didik tidak selalu sama. Dokumen program disahkan oleh kedua belah pihak. 

c. Perangkat Ajar PKL 
Perangkat ajar dalam pelaksanaan PKL meliputi segala informasi dan dokumen dalam pelaksanaan kegiatan untuk membimbing peserta didik. Perangkat ajar PKL merupakan media komunikasi antara peserta didik dengan guru mapel PKL dan/atau instruktur dunia kerja. Dokumen tersebut disusun sesuai ketentuan dan proses kerja masing-masing dunia kerja tempat PKL. 

1. Informasi dasar pekerjaan 
Pelaksanaan kerja memerlukan informasi sebagai dasar kerja. Dalam rangka peningkatan kapabilitas peserta didik, informasi dasar pekerjaan sangat diperlukan supaya peserta didik memahami pekerjaan dan proses kerja yang akan ia lakukan. Informasi yang diperlukan dapat berupa: konsep, buku manual, gambar kerja, dan lain-lain. Dokumen tersebut disusun sesuai dengan program PKL. Informasi dasar pekerjaan ini dapat disiapkan oleh guru pengampu mapel PKL dan instruktur dunia kerja. 
2. Prosedur kerja 
Setiap tempat PKL memiliki mekanisme kerja atau prosedur yang dikembangkan sesuai situasi dan kondisi. Dalam melaksanakan PKL, peserta didik harus mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan dan sesuai dengan standar serta ketentuan yang berlaku di dunia kerja tempat PKL.
Untuk membimbing peserta didik dalam melaksanakan PKL, guru pengampu mapel PKL dan instruktur dunia kerja perlu menyampaikan prosedur kerja dan pemantauan keterlaksanaan pekerjaan. 
3. Jurnal PKL 
Peserta didik melaksanakan PKL berdasarkan program yang telah disusun. Kegiatan peserta didik perlu dipantau oleh instruktur dunia kerja dan guru mapel PKL. Dokumen pemantauan berupa jurnal kegiatan yang diisi oleh peserta didik dan diketahui/diberikan catatan oleh pembimbing dan instruktur. Pemantauan kegiatan dapat dilakukan secara fisik atau menggunakan sistem informasi Jurnal PKL berisi kegiatan yang dilaksanakan serta keterangan unit kerja/tempat pelaksanaannya. Contoh Jurnal PKL dapat dilihat pada lampiran

Read More »
14 September | 0komentar

Numerasi = Matematika ?

Kemendikbud (2020) mendefinisikan numerasi sebagai kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk memecahkan masalah kontekstual pada kehidupan sehari-hari yang sesuai untuk individu sebagai warga yang baik. Kemampuan ini sangat penting untuk menjadi modal bagi siswa dalam menguasai mata pelajaran lainnya. Seseorang disebut memiliki literasi numerasi ketika ia memiliki pengetahuan dan kecakapan untuk mendapat, menafsirkan, menggunakan, dan mengomunikasikan angka dan simbol matematika dalam pemecahan berbagai masalah praktis dalam berbagai konteks kehidupan. 
Selain itu, ia mampu menganalisis berbagai bentuk informasi untuk mengambil keputusan. Kemampuan numerasi berkaitan dengan kemampuan mengaplikasikan pengetahuan dasar yang dimiliki, prinsip serta proses matematika ke dalam permasalahan dalam kehidupan sehari–hari misalnya memahami masalah yang disajikan dalam tabel atau diagram, perdagangan dan lain–lain
Cakupan numerasi ,tidak hanya dalam mata pelajaran matematika, meskipun matematika dan numerasi berlandaskan pada pengetahuan dan keterampilan yang sama(Berhitung/hitungan).  Namun cakupan numerasi sangatlah luas meliputi keterampilan mengaplikasikan konsep,fakta, prosedur dalam situasi nyata dalam kehidupan sehari - hari. Keterampilan numerasi bisa ditemukan pada masalah yang tidak terstruktur dan  memiliki banyak cara penyelesaiannya baik yang berhubungan dengan faktor matematis maupun non matematis. 
Matematika adalah suatu pengetahuan dan keterampilan yang abstrak dan kebenarannya absolut, sedangkan numerasi berhubungan dengan sesuatu yang kontekstual dan konkret yang menawarkan pemecahan terhadap suatu masalah yang rill dalam kehidupan. Untuk diketahui jika pembelajaran matematika yang sudah diimplementasikan dalam kehidupan nyata berarti sudah termasuk pembelajaran numerasi. Namun jika pembelajaran hanya murni dan sebatas konsep abstrak dan bersifat teoritis, maka belum bisa dikatakan pembelajaran numerasi. 

Read More »
11 August | 0komentar

Video Demontrasi Kontekstual Modul 1.2

Guru memberikan inspirasi kepada peserta didik dengan pembelajaran yang bermakna, meaningfull learning. Memberikan Coach bagi sesama guru berkaitan dengan permasalahan pembelajaran. Menjadikan guru penggerak yang mampu mengimplementasikan nilai-nilai guru penggerak

Read More »
02 August | 0komentar

Hari Ke-7 Pembekalan CPP Kamis, 02 November 2023 (Koneksi Antar Materi)

Soal Pada LMS :
Setelah Penulis mempelajari praktik Pendidikan yang Memerdekakan, Penulis diminta untuk menyampaikan isu terkait pemahaman dan penerapan prinsip Pendidikan yang Memerdekakan yang terjadi di sekolah tempat Penulis bekerja dengan menjawab pertanyaan berikut: 
Ceritakan hal hal yang sudah selaras dengan praktik prinsip pendidikan yang memerdekakan? Hal-hal yang tidak selaras terkait praktik prinsip pendidikan yang memerdekakan yang dirasa perlu diubah atau dikembangkan bahkan dihilangkan? 
Jawaban dari pertanyaan diatas dapat dilihat di drive bawah ini :


Koneksi Antar Materi 
Pendidikan yang Memerdekakan Hari Ke-7 Pembekalan Calon Pengajar Praktik 
 Oleh
 Sarastiana 
SMK Negeri 1 Bukateja 

Pada pembekalan Calon Pengajar Praktik (CPP) pada hari ke-7 dengan materi Pendidikan yang Memerdekakan, CPP menyampaikan isu terkait pemahaman dan penerapan prinsip Pendidikan yang Memerdekakan yang terjadi di sekolah tenpat CPP bekerja. 

Hal hal yang sudah selaras dengan praktik prinsip Pendidikan yang memerdekakan? 
Hal yang sudah selaras dengan praktik prinsip pendidikan yang memerdekakan di Sekolah saya, yang mendukung Visi Sekolah (Menjadikan SMK Unggulan berbasis Budaya Industri yang menghasilkan Tamatan berkarakter, Kompeten, Kompetitif dan Berwawasan Lingkungan) adalah: 

1. Pembiasaan Kegiatan Pagi : 
Pra Kegiatan Pembelajaran diawali dengan melaksanakan kegiatan pembiasaan yang merupakan implementasi dari P5 yaitu Gaya Hidup Berkelanjutan.tema ini merupakan bentuk upaya dalam membangun kesadaran untuk menjaga pola hidup yang baik (disiplin, tanggungjawab, motivasi,loyalitas, integritas, hidup sehat/bersih dsb) pola hidup tersebut melibatkan lingkungan dan aksi nyata dalam keseharian (kemdikbudristek) yaitu :

No

Kegiatan

Waktu

Ket

1

Apel pagi

07.00 s.d. 07.10

Hari Senin diadakan Upacara bendera s.d Pkl 07.40

2

 Mars Anti Bullying

07.10 s.d. 07.15

 

2

Menyanyikan Indonesia raya

07.15 s.d. 07.17

 

3

Membaca Asmaul Husna

07.15 s.d. 07.20

 

 

 

 

 




2. Penyusunan kesepakatan / Keyakinan kelas 

Penyusunan kesepakatan kelas, dimana di Sekolah peraturan yang ada adalah kesepakatan antara pendidik dan murid. Di awal tahun ajaran wali kelas beserta guru mata pelajaran bersama murid membuat kesepakatan kelas beserta konsekuensinya apabila ada pelanggaran. 

3. Materi Ajar yang Kontekstual dan Faktual 
Materi pembelajaran atau bahan ajar yang selaras dengan pendidikan yang memerdekakan. Pembelajaran yang materinya kotekstual yang disesuaikan dengan berbagai kebutuhan dan kondisi yang sedang berkembang. Selain itu, materi-materi itu secara faktual atau yang kira- kira sedang dialami oleh perkembangan murid itu sendiri. Pembelajaran yang mementingkan pada kebutuhan belajar murid. Kebutuhan tersebut meliputi kesiapan belajar murid, minat belajar murid, dan profil murid. 


4. Menggunakan Beragam Metode dan Teknik Pembelajaran 
Dalam memenuhi setiap kebutuhan belajar murid, guru harus mampu menggunakan metode atau teknik pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini penting untuk mengikatkan situasi dan proses pembelajaran berlangsung agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Di Sekolah kami pun sudah melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada murid melalui penerapan berbagai metode pembelajaran seperti Berdiferensiasi, STEAM, Project Base Learning (PjBL), Experiential Learning, dll. Sehingga murid terlibat aktif dalam proses pembelajaran. 

5. Implementasi Modul Ajar yang berkolaborasi antara Mapel Umum dan Mapel Kejuruan untuk Pada pembelajaran berbasis Proyek. 
Pada Modul Ajar guru umum (Matematika), Bahasa Inggris, Sejarah, Bhs Indonesia, Olah Raga, dsb. Berkolaborasi dengan mapel Kejuruan. Jadi guru mapel umum memilih CP yang sesuai/ mendukung materi kejuruan.

6. Pembelajaran Berdifernsiasi
    Berdiferensiasi secara konten, proses dan produk
   


Hal-hal yang tidak selaras terkait prakti prinsip Pendidikan yang memerdekakan yang dirasa perlu dirubah ?
1. Gaya belajar diktator (berpusat pada guru) 
 Gaya belajar yang memaksakan atas kehendak gurunya tanpa memperhatikan kebutuhan para murid. Sebagian Guru masih menuntut agar para murid turut dan patuh pada apa yang dilakukan oleh gurunya. Hal ini tidak selaras dengan pendidikan yang memerdekakan. Masih ada diantara guru senior yang menerapkan pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan mengutamakan capaian konten saja. 

2. Punishment and reword 
Hal ini karena dapat berdampak kurang baik yang dirasakan oleh para murid, murid memiliki pemikiran yang sesaat. Misalnya dengan adanya punishment, murid akan terasa tertekan dan menjadi pendendam. Begitu juga dengan reword murid akan merasa bahagia dan tertantang jika ada sesuatu hal jika ada hadiah, dan sebaliknya murid akan merasa kecewa jika hadiah itu tidak tersedia. Masih ada beberapa guru yang masih memberikan hukuman yang tidak sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan murid. 

3. Model pendidikan klasikal/monoton 
Melalui belajar yang lebih mendalam, mungkin menjadi jelas bahwa model pendidikan yang mengharuskan semua siswa mengikuti kurikulum yang sama, mengukur kemajuan dengan standar yang sama, dan mengejar tujuan yang seragam tidak selalu efektif atau memadai. Dalam pendekatan Pendidikan yang Memerdekakan, perlu diakui bahwa setiap siswa memiliki keunikan, minat, dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih diferensiasi dan responsif terhadap individu perlu dipertimbangkan.

Read More »
02 November | 0komentar

IHT Pembelajaran Guru di Sekolah


Dalam rangka melaksanakan Program SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) SMK Negeri 1 Bukateja menyelenggarakan kegiatan optimalisasi penyelenggaran pembelajaran berbasis Dunia Kerja/Industri Salah satu prgram keagiatan adalah IHT (In House Training). Pada IHT ini mengundang narasumber dari Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya. Yogyakarta bersama Bp. Drs. Rahayu Windarto,MM. yang dilaksanakan selama 3 Hari.
Pemerintah telah menetapkan Capaian Pembelajaran yang menjadi rujukan utama dalam pengembangan rancangan pembelajaran, khususnya untuk kegiatan intrakurikuler1. Panduan ini memfasilitasi proses berpikir dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang dimulai dari menganalisis capaian pembelajaran , tujuan pembelajaran mengembangkan alur tujuan pembelajaran, modul ajar, serta asesmen pada awal pembelajaran dan pembelajaran terdiferensiasi. Dokumen ini juga memuat perencanaan serta pelaksanaan asesmen yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengolahan, dan pelaporan hasil penilaian atau asesmen. PPA difokuskan untuk pembelajaran dan asesmen intrakurikuler, sedangkan panduan untuk projek penguatan profil pelajar Pancasila disampaikan dalam dokumen terpisah.
Pembelajaran dapat diawali dengan proses perencanaan asesmen dan perencanaan pembelajaran. Pendidik perlu merancang asesmen yang dilaksanakan pada awal pembelajaran, pada saat pembelajaran, dan pada akhir pembelajaran. Perencanaan asesmen, terutama pada asesmen awal pembelajaran sangat perlu dilakukan karena untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, dan hasilnya digunakan untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian peserta didik. Perencanaan pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan asesmen pembelajaran yang disusun dalam bentuk dokumen yang fleksibel, sederhana, dan kontekstual. 
Tujuan Pembelajaran disusun dari Capaian Pembelajaran dengan mempertimbangkan kekhasan dan karakteristik Satuan Pendidikan. Pendidik juga harus memastikan tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan tahapan dan kebutuhan peserta didik. Proses selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran yang dirancang untuk memberi pengalaman belajar yang berkualitas, interaktif, dan kontekstual. 
Pada siklus ini, pendidik diharapkan dapat menyelenggarakan pembelajaran yang : (1) interaktif; (2) inspiratif; (3) menyenangkan; (4) menantang; (5) memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif; dan (6) memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik (akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab V). Sepanjang proses pembelajaran, pendidik dapat mengadakan asesmen formatif untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran sudah dicapai oleh peserta didik. 
Tahapan selanjutnya adalah proses asesmen pembelajaran. Asesmen pembelajaran diharapkan dapat mengukur aspek yang seharusnya diukur dan bersifat holistik. Asesmen dapat berupa formatif dan sumatif. Asesmen formatif dapat berupa asesmen pada awal pembelajaran dan asesmen pada saat pembelajaran. Asesmen pada awal pembelajaran digunakan mendukung pembelajaran terdiferensiasi sehingga peserta didik dapat memperoleh pembelajaran sesuai dengan yang mereka butuhkan. Sementara, asesmen formatif pada saat pembelajaran dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan refleksi terhadap keseluruhan proses belajar yang dapat dijadikan acuan untuk perencanaan pembelajaran dan melakukan revisi apabila diperlukan. Apabila peserta didik dirasa telah mencapai tujuan pembelajaran, maka pendidik dapat meneruskan pada tujuan pembelajaran berikutnya. Namun, apabila tujuan pembelajaran belum tercapai, pendidik perlu melakukan penguatan terlebih dahulu. Selanjutnya, pendidik perlu mengadakan asesmen sumatif untuk memastikan ketercapaian dari keseluruhan tujuan pembelajaran. Ketiga tahapan ini akan terus berlangsung dalam bentuk siklus seperti gambar di atas. 
Dalam prosesnya, pendidik dapat melakukan refleksi, baik dilakukan secara pribadi maupun dengan bantuan kolega pendidik, kepala satuan pendidikan, atau pengawas sekolah. Oleh karena itu, proses pembelajaran dan asesmen merupakan satu kesatuan yang bermuara untuk membantu keberhasilan peserta didik di dalam kelas. Pemerintah tidak mengatur pembelajaran dan asesmen secara detail dan teknis. Namun demikian, untuk memastikan proses pembelajaran dan asesmen berjalan dengan baik, Pemerintah menetapkan Prinsip Pembelajaran dan Asesmen. 
Prinsip pembelajaran dan prinsip asesmen diharapkan dapat memandu pendidik dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang bermakna agar peserta didik lebih kreatif, berpikir kritis, dan inovatif. 





Read More »
17 October | 0komentar

Tugas Demonstrasi kontekstual Modul 3.3


Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid 

Tujuan Pembelajaran Khusus: 
 CGP dapat mengembangkan ide dari ruang kolaborasi menjadi sebuah prakarsa perubahan dalam bentuk rencana program/kegiatan yang memanfaatkan model manajemen perubahan BAGJA. 
Dasar filosofi KHD Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat) Poin Komponen Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan 
• Bernalar kritis, mengembangkan pelajar yang mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi, dan menyimpulkannya. 
• Kreatif mengembangkan pelajar menghasilkan gagasan yang orisinal dan menghasilkan karya serta tindakan yang orisinal. Karakteristik Lingkungan Pendukung Tumbuhnya Kepemimpinan Murid yang Akan Dikembangkan Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan. 

PRAKARSA PERUBAHAN 
Raih Mimpi melalui Literasi Digital 
 Peserta didik membiasakan diri dengan kegiatan literasi secara digital mengenai kompetensi keahliannya masing-masing, 
  Peserta didik membuat ringkasan yang telah dibaca pada kegiatan literasi digitalnya 
 Peserta didik dapat memanfaatkan kegiatan literasi digitalnya dengan membuat mind map tentang kompetensi keahliannya secara mendalam 

Literasi digital telah bergeser dari literasi baca tulis konvensional dengan menggunakan media cetak ke media elektronik yang lazim disebut literasi digital. Mengupayakan peserta didik mampu membangun kebiasaan baik yakni literasi digital. Kegiatan ini bertujuan memahami dan menerapkan Literasi digital dalam kehidupan sehari-harinya dikarenakan orientasi siswa lulus sekolah adalah bekerja dan telah memahami kompetensi keahliannya secara mendalam.



Read More »
08 September | 0komentar

Kumpulan Tugas Demontrasi Kontekstual

Dalam demonstrasi kontekstual, calon guru penggerak diminta untuk membuat sebuah rencana penerapan materi yang dipelajari di sekolah. Calon guru penggerak diminta membuat artikel, video, komik, poster, lagu, puisi, dan sebagainya. Tugas Demontrasi Kontekstual CGP

Tabel Kumpulan Tugas Demontrasi Kontekstual CGP

No
Demontrasi Kontekstual Modul
Link
1 Paradigma dan Visi Guru Penggerak
a. Modul 1.1 : Filosofi Ki Hajar Dewantara Link
b. Modul 1.2 : Nilai dan Peran Guru Penggerak Link
c. Modul 1.3. Visi-Misi CGP Link
d. Modul 1.4. Budaya Positif,Keyakinan Kelas dsb Link
2 Praktik Pembelajaran Yang Berpihak Pada Murid
a. Modul 2.1 : Filosofi Ki Hajar Dewantara Link
b. Modul 2.2 : Pembelajaran Berdiferensiasi yang Berpihak pada Murid Link
c. Modul 2.3. Coaching untuk Supervisi Akademik Link
3 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah
a. Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Link
b. Modul 3.2.Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Link
c. Modul 3.3.Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid, student Agency Link

Read More »
07 September | 0komentar

Tugas Demontrasi Kontekstual Modul 2.2 CGP : RPP Berdiferensiasi


  1. Membuat RPP /encana pembelajaran untuk salah satu mata pelajaran, atau sesi pembelajaran dalam konteks pembelajaran daring (online learning) 
  2. Pastikan rencana pembelajaran tersebut: 
  • Dibuat dengan menganalisis kebutuhan belajar murid terlebih dahulu. 
  • Menggambarkan penerapan salah satu dari diferensiasi konten, proses atau produk sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan belajar murid.

Buka RPP Berdiferensiasi


Read More »
05 September | 0komentar

Tugas Demontrasi Kontekstual Modul 1.1 CGP


Tujuan Pembelajaran Khusus: 
Peserta mendesain strategi dalam mewujudkan pemikiran KHD - 'Pendidikan yang Berpihak pada Murid' - sesuai dengan Konteks Diri Murid dan Sosial Budaya di daerah asal (karya demonstrasi kontekstual dalam video, atau infografis atau puisi atau lagu, dll). 
Pada kegiatan demontrasi Kontekstual ini kita mendesain sebuah strategi dalam mewujudkan pemikiran KHD - ‘Pendidikan yang Berpihak pada Murid’ - dalam bentuk video pendek dipublikasikan sebagai wujud pemahaman, pemaknaan dan penghayatan yang dipraktekkan dari pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara.
Video ini menjadi sebuah demonstrasi kontekstual bagaimana pemikiran Ki Hadjar Dewantara dikembangkan dan diterapkan di kelas dan sekolah Membuat video untuk mendemontrasikan Kontekstualisasi dari pemikiran Ki Hajar Dewantara. 

Link Youtube : https://youtu.be/cU8szG0R86o

Read More »
05 September | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.2

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.2 
PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Oleh Sarastiana,SPd CGP Angkatan 6 
Kab. Purbalingga

Materi dan kegiatan pada modul ini mengajarkan bagaimana mengelola kekuatan dan aset yang dimiliki sekolah untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid. Refleksi Modul 3.2 menggunakan model 4F (Facts, Feeling, Finding, Future).
1. Facts (Peristiwa)
Senin, 13 Februari 2023 - Mulai dari diri dan Ekplorasi konsep mandiri dimulai dengan mengingat kembali faktor-faktor yang memengaruhi ekosistem sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. CGP diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang bertujuan untuk mengaktifkan ulang pengetahuan awal Anda tentang ekosistem sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sekolah. Disamping itu CGP juga diminta mengisi 11 komentar pada kegiatan ekplorasi konsep – forum diskusi. Kamis, 16 Februari 2023 adalah jadwal Ekplorasi konsep - forum diskusi. 
Di menu ini CGP diminta untuk melihat ulang jawaban dari pertanyaan pemantik sebelumnya. Selanjutnya CGP diminta menjawab pertanyaan yang disajikan. CGP diminta untuk menanggapi 2 studi kasus dengan cara menghubungkan dengan materi pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis aset, serta Pengembangan Komunitas Berbasis Aset. Jumat, 17 Februari 2023 
Ruang Kolaborasi pertama. 
Setelah sebelumya kami diminta untuk berbagi dalam kelompok. kelompok tersebut terdiri atas 3-4 anggota. Masing-masing kelompok terdiri atas guru dengan jenjang yang berbeda namun berasal dari daerah yang sama atau berdekatan. Selanjutnya kami menentukan daerah sesuai dengan kondisi lingkungan yang serupa pada masing-masing peserta CGP. Dari masing-masing sumber daya tersebut, setiap kelompok akan membuat identifikasi aset/modal apa yang dimiliki oleh daerahnya dan menuliskan apa atau bagaimana pemanfataannya untuk dipresentasikan pada keesokan harinya. Selasa, 21 Februari 2023 adalah jadwal ruang kolaborasi babak kedua. 
Disini kami mempresentasikan hasil diskusi tentang aset yang ada didaerah kami secara bergantian. CGP dari kelompok lain menanggapi dengan memberian saran atau bertanya untuk memperbaiki hasil diskusi yang sudah dipresentasikan. Kegitan ditutup dengan mengunggah hasil diskusi ke LMS. Hari Selasa, 21 Februari 2023 saatnya Demonstrasi Kontekstual. Dalam sesi ini kami diminta untuk menganalisis tentang visi dan prakarsa perubahan dari tayangan video praktik baik yang disajikan. Identifikasii yang CGP lakukan disajikan dalam kegiatan- kegiatan yang berhubungan dengan masing-masing tahapan B - A - G - J - A dari tayangan video yang ada. 
Dari tayangan video tersebut akhirnya CGP dapat mengidentifikasi peran pemimpin pembelajaran yang ada dalam video. 
Hari Kamis, 23 Februari 2023 saatnya berjumpa dengan instruktur dalam Elaborasi Pemahaman. Selama kurang lebih dua setengah jam, Mendapatkan materi dan penjelasan lebih dari instruktur untuk menambah pemahaman saya mengenai Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Sungguh pengalaman yang luar biasa. 
Hari Jumat, 24 Februari 2023 adalah jadwalnya Koneksi Antar Materi. Dalam koneksi antar materi ini saya diminta membuat kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Di koneksi antar materi ini saya juga diminta pengkaitkan hubungan materi pada modul 3.2. dengan modul – modul sebelumnya. 
Hari Senin, 27 Februari 2023 saatnya aksi nyata. Disini saya diminta untuk mengidentifikasi secara kolaboratif bersama warga sekolah lainnya tentang aset/kekuatan/sumber daya yang dimiliki sekolah. Dengan melampirkan beberapa dokumen seperti: notulen pertemuan (mencakup siapa yang berbicara dan ide yang disampaikan, berikut kesimpulan pertemuan), foto proses pertemuan hasil pemetaan aset.
2. FEELING (PERASAAN)
Setelah saya mempelajari modul 3.2. ini saya merasa senang karena menjadi orang yang beruntung dan bisa bergabung dalam komunitas yang seindah ini. Karena melalui kegiatan ini saya jadi tahu bagaimana menjadi pemimpin yang mampu mengelola Sumber Daya yang ada di sekolah. Hal ini ridak hanya berguna bagi saya, namun berguna juga bagi murid, teman sejawat, kepala sekolah dan orang – orang di sekitar saya.
3. FINDING (PEMBELAJARAN)
Banyak hal – hal positif yang saya temukan dan pelajari dalam proses mengikuti pendidikan CGP utamanya di modul 3.2 ini. Karena di modul ini saya belajar apa itu sekolah sebagai sebuah ekosistem, pendekatan berbasis kekurangan dan kelebihan, pendekatan ABCD, mengetahui karakteristik komunitas yang sehat, dan bagaimana mengelola aset – aset dalam sebuah komunitas. Dari beberapa materi ini saya belajar bagaimana mengelola kekuatan atau aset yang dimiliki sebuah komunitas dalam satu ekosistem yang mampu memberdayakan komunitas itu sendiri.
4. FUTURE (PENERAPAN)
Setelah Setelah mempelajari keterampilan Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, kedepannya saya akan mencoba menerapkan dalam situasi nyata yang saya temukan saat saya menjalankan tugas sebagai pendidik. Bukan hanya untuk saya tapi saya akan menularkannya pada murid, teman sejawat, kepala sekolah dan orang – orang disekitar saya. Selanjutnya setelah saya mampu menerapkannya dalam situasi nyata saya akan melakukan refleksi dan kolaborasi untuk terus meningkatkan keterampilan saya dalam mengelola sumber daya yang dimiliki komunitas meskipun saat ini saya belum menjadi pemimpin komunita stersebut. 
Demikian refleksi dari perasaan saya selama mempelajari modul 3.2 yang coba saya ungkapkan dalam jurnal ini. Semoga jurnal ini dapat mengispirasi dan dapat memberikan manfaat orang lain. Terakhir saya minta maaf apabila dalam penulisan jurnal ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan.

Read More »
29 August | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.1


REFLEKSI MODUL 3.1 Refleksi minggu ini saya akan menuliskan apa yang telah saya lakukan dan saya alami selama satu minggu , apa yang menarik buat saya kemudian rencana selanjutnya yang akan saya lakukan dalam minggu selanjutnya jurnal refleksi minggu ini saya menggunakan model I yaitu 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) atau 4P yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.
1. Facts (Peristiwa)
Alhamdulillah minggu ini masih diberikan kesehatan sehingga masih bisa mengikuti pendidikan Guru penggerak.Hari Senin dan Selasa 1 Februari 2023 adalah tahap alur mulai dari diri, eksplorasi konsep di LMS. Rabu 6 dan 7 bersama teman CGP melaksanakan diskusi ruang kolaborasi. Pendampingan Individu ke 4 dilaksanakan pada Sabtu, 24 Februari 2023 dengan agenda praktik pembelajaran KSE. Sebelumnya melakukan Demontrasi kontekstual dilaksanakan pada 20 Februari dengan kegiatan mewawancarai Kepala Sekolah dan SPMI untuk merefleksi langkah pengambilan keputusan. Sesi Elaborasi dan Koneksi antar materi dilaksanakan Hari Jumat 10 Februari 2023, bersama instruktur Wahyu Ekawati,MPd.
2. Perasaan
Yang saya rasakan ketika saya melalui dua minggu ini adalah merasa tertantang untuk terus bersemangat mempelajari modul 3.1. Tantangan ketika mengerjakan tugas demonstrasi Kontekstual begitu tinggi ketika harus mempraktikkan wawancara dengan kepala sekolah. . Alhamdilillah karena teman teman yang sangat solid dalam berkolaborasi di ruang kolaborasi maka kegiatan terlaksana dengan lancar dan bisa mengunggah tugas sebelum due date.
3. Pembelajaran
Di minggu ini banyak sekali pembelajaran yang dapat saya ambil untuk modul 3.1 diantaranya adalah sebagai berikut: Secara umum ada POLA, MODEL, ATAU PARADIGMA yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: 
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community) 
Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. 
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. 
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain 
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) 
Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. 

PRINSIP BERPIKIR PENYELESAIAN DILEMMA ETIKA 
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) Suatu pengambilan keputusan, walaupun telah berlandaskan pada suatu prinsip atau nilai-nilai tertentu, tetap akan memiliki konsekuensi yang mengikutinya. Pada akhirnya kita perlu mengingat kembali hendaknya setiap keputusan yang kita ambil didasarkan pada rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal, serta berpihak pada murid. 

PENGAMBILAN PENGUJIAN KEPUTUSAN 
Terdapat 9 langkah yang harus dilakukan untuk pengambilan keputusan dan pengujian keputusan 
1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan 
2. menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini 
3. mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini 
4. pengujian benar dan salah 
  • uji legal adalah apakah ada pelanggaran hukum dalam situasi tersebut 
  • uji regulasi atau standar profesional adakah pelanggaran kode etik atau peraturan etik di dalam situasi ini 
  • uji intuisi yaitu mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi kita dalam merasakan apakah ada yang salah dalam situasi ini 
  • uji publikasi yaitu apakah yang akan kita rasakan jika keputusan ini di publikasikan 
  • uji panutan atau idola yaitu kita membayangkan apa yang dilakukan oleh seseorang yang kita idolakan 

Dari ketiga prinsip pengujian ada yang memiliki korelasi dalam prinsip pengambilan keputusan yaitu :
  •  uji intuisi berhubungan erat dengan berpikir berbasis peraturan yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam 
  • uji publikasi sebaliknya berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir yang mementingkan hasil akhir 
  • uji panutan atau idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta kita untuk meletakkan diri kita pada posisi orang lain 
5. Pengujian paradigma benar lawan salah 
  • Paradigma benar dan salah terdiri dari 
  • Individu lawan kelompok 
  • Rasa keadilan lawan rasa kasihan 
  • Kebenaran lawan kesetiaan 
  • Jangka pendek lawan jangka panjang 

6. Melakukan prinsip resolusi 
Yaitu menggunakan 3 prinsip penyelesaian dilema mana yang harus kita pakai apakah berpikir berbasis hasil ataukah, berpikir berbasis peraturan, ataukah berpikir berbasis rasa peduli. 
7. Investigasi opsi trilema dalam pengambilan keputusan seringkali ada dua pilihan yang sudah kita pilih namun terkadang kita juga memerlukan opsi lain di luar dua pilihan tersebut kita bertanya pada diri kita apakah ada cara yang berkompromi dalam situasi ini sehingga memunculkan pilihan baru itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema 
8. Buat keputusan 
9. Melihat lagi apakah keputusan itu sudah benar dan merefleksikannya
4. Penerapan ke depan ( Rencana)
Penerapan kedepan adalah saya akan memperdalam cara cara pengambilan keputusan yang bertanggung jawab berdasarkan nilai nilaikebajikan universal berdasarkan 4 pradigma 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan.

Read More »
28 August | 0komentar