Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by relevance for query artikel. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query artikel. Sort by date Show all posts

Kliping Koran Artikel Ilmiah Populer


Artikel Karya ilmiah populer adalah karya ilmiah yang disajikan ke hadapan massa secara popular pada media-media massa cetak (majalah, koran, tabloid). Oleh karena demikian, maka karya ilmiah populer memiliki karakter yang khas agar dapat diserap isinya oleh khalayak luas, tidak terbatas pada kalangan akademisi.
Pada kesempatan postingan berikut saya akan mepublikasikan 4 Karya ilmiah populer saya yang Alhamdulillah telah dimuat di media cetak.


1. KLIPING ARTIKEL POPULER ILMIAH DIMUAT DI JATENG POST, TANGGAL 13 SEPTEMBER 2019 JUDUL : “ MEDIA VISUAL MAKET DUKUNG MENGHITUNG VOLUME RAB”


Artikel Ppuler Ilmiah, 13 September 2010 Koran Jateng Post


2. KLIPING ARTIKEL POPULER ILMIAH DIMUAT DI KORAN Jateng Post, TANGGAL 6 Oktober 2019 JUDUL : Media Digital VBO Tingkatkan Belajar Siswa .

Artikel Ilmiah Populer, 6 Oktober 2019 Koran Jateng Post



3. KLIPING ARTIKEL POPULER ILMIAH DIMUAT DI KORAN WAWASAN, TANGGAL 4 NOPEMBER 2019 JUDUL : Kurikulum Sensitivitas Budaya untuk Pendidikan Bermakna .

Artikel Ilmiah Populer, 4 Nop 2019, Koran Wawasan



4. KLIPING ARTIKEL POPULER ILMIAH DIMUAT DI JATENG POST, RABU, 18 DESEMBER 2019 DATA  JUDUL : “ EDMODO BANGKITKAN PEMAHAMAN MENGHITUNG PERENCANAAN BETON”
Edmodo Efektif dalam membangkitkan kompetensi Siswa


5. KLIPING KORAN JTENG POS, 2 MEI 2020



6. KLIPING KORAN ARTIKEL ILMIAH, JATENG POST 13 MEI 2020



Karya ilmiah populermerupakan suatu karya yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang populer sehingga mudah dipahami oleh masyarakat dan menarik untuk dibaca. Untuk dapat mengerti pengertian karya tulis ilmiah populer, ada baiknya kita mengkajinya dari kata-kata pembentuknya yaitu tulisan, ilmiah, dan populer. Tulisan adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan sebuah karya tulis yang disusun berdasarkan tulisan, karangan, dan pernyataan gagasan orang lain.
Orang yang menyusun kembali hal-hal yang sudah dikemukakan orang lain itu disebut penulis. Dalam KBBI (2002:370-371) disebutkan bahwa kata ilmiah diartikan sebagai bersifat ilmu atau memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan, sedangkan ilmiah populer diartikan sebagai mengunakan bahasa umum sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam. Sedangkan istilah populer sendiri artinya dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa populer berarti dikenal dan disukai orang banyak (umum).
Bisa juga berarti sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya, atau mudah dipahami orang banyak. Istilah populer merujuk kepada penggunaan bahasa yang relatif lebih santai, padat, serta mudah dicerna oleh masyarakat pembacanya yang begitu beragam.

Read More »
17 March | 2komentar

Kiat Sukses Gupres bersama H. Encon Rahman


Pertemuan kelas belajar menulis online gelombang 7 yang kesekian kalinya bersama Nara sumber: Bapak Encon Rahman Guru berprestasi dari Pasundan Tahun 2017 Tema: Kunci Sukses Jadi Gupres

Tujuan pemerintah selalu mengadakan lomba gupres baik dari tingkat jenjang satuan pendidikan TK, SD, SMP, SMA adalah:
1. Mengangkat guru sebagai profesi terhormat mulia bermartabat dan terlindungi
2. Meningkatkan motivasi dan profesionalisme guru dalam pelaksanaan tugas profesionalnya
3. Meningkatkan persaingan yang sehat selalu pemberian penghargaan di bidang pendidikan
4. Membangun komitmen mutu guru dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran menuju standar nasional pendidikan.

Undang-undang nomor 14 tahun 2005 jabatan guru itu adalah profesi. Apabila guru tidak memiliki ranah 7M ini maka akan menjadi pertanyaan besar karena guru adalah seorang profesional Adapun yang dimaksud dengan 7 M adalah Mendidik Membimbing Mengarahkan kan Melatih Menilai Mengajar Mengevaluasi

Bapak Encom Rahman juga seorang penulis buku, judul buku yang ditulis beliau adalah Kiat Praktis Menulis "Siapa Bilang Menulis Artikel untuk Koran Susah" Ada beberapa materi yang dibahas di dalamnya;
1. Cara menulis Judul Artikel agar menarik
2. Kiat Meningkatkan Kemampuan Menulis
3. Cara Menggali Ide tulisan
4.Rahasia Agar Artikel Gampang dimuat di koran lokal dan nasional
5. Cara Menulis Berita
6. Rahasia Menjadi Kaya dalam Menulis. Buku yang ditulis oleh Bapak Encon Rahman berisi tentang pengalaman beliau menulis artikel ke berbagai koran/ majalah lokal dan nasional agar bisa dimuat. Selain itu paparan isi buku beliau lebih fokus membahas tentang artikel strategi menulis artikel berdasarkan pengalaman nyata yang pernah beliau alami.

 Motto buku beliau :
* jika ingin kaya belajar dan bergaul dengan orang orang kaya. Jika ingin sukses belajar dan bergaul dengan orang sukses. Jika ingin menjadi kiai belajar dan bergaul dengan kiai. Jika ingin pandai menulis artikel belajar dan bergaul dengan orang yang menulis artikel.*

Keterampilan menulis dapat dilakukan dengan oleh siapapun. Nah, ketika anda kesulitan menuangkan tulisan. Anda butuh bengkel menulis untuk konsultasi memperbaikinya, itu pesan beliu kepada kita semua Guru. Untuk menjadi guru berprestasi saran beliau kepada kita semua Guru bagi yang ingin berprestasi jangan tergesa gesa karena bukan saja tidak akan jadi pemenang juga hanya menghabiskan waktu dan biaya saja,
Untuk menjadi guru berprestasi persiapkan dengan baik diantaranya 1 karya tulis 3 tahun terakhir, dua karya tulis yang sudah memiliki hak cipta, Banyak bertanya dan belajar kepada alumni Gupres tingkat nasional.

Sebagai alumni pondok pesantren Daarut Tauhid di Bandung, begitu ingin mengamalkan ajaran guru beliau yang menyatakan jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain". Kesimpulan dari kuliah malam ini dari beliau, untuk sukses dibidang apapun tidak terlepas dari amalan lahiriyah dan bathiniyah, selain itu harus percaya diri dan yakin pada kemampuan pribadi serta jangan tergesa gesa dalam menentukan keputusan, ketenangan, kesabaran, dan keuletan adalah kunci suksesnya menjadi pemenang bukan perundang.
Beliau juga mengatakan ikut lomba lomba sejenis yang diadakan oleh Kemendikbud seperti inobel, LKG, OGN dan sejenisnya itu baru bagian terkecil dari komponen Gupres. Berdasarkan kondisi itu, bagi bagi rekan guru yang tertarik akan mengikuti ajang lomba Gupres harus dipersiapkan sejak dini. Bapak Encon Rahman adalah selain guru berprestasi juga beliau Penerima penghargaan dari PCMA.

Read More »
12 April | 5komentar

Guru Menulis? Siapa Takut!

Bersama Mereka Yang Muda,Gupres 2017

Guru mengajar, itu sih mah biasa, bukan berita. Guru menulis, itu baru berita! Guru mengajar dan terus mengajar tidaklah aneh. Guru yang gemar membaca dan terus membaca, kemudian menulis apalagi berganti dari satu buku ke buku lainnya, juara lomba, ini yang luar biasa. Sebab, banyak guru hanya membaca satu-dua buku. Itu pun buku-buku yang menjadi bahan ajarnya. Jarang ia membaca buku selain buku yang menjadi bahan ajarnya. Pada artikel yang terdahulu (Semua Berawal dari Membaca) penulis telah memanjang-lebarkan tentang membaca. Menulis dan membaca bak dua sisi mata uang, yang selalu berdampingan. 
Seharusnya guru sangat kompeten dalam menulis tapi permasalahannya sekarang adalah guru tidak melaksanakan apa yang seharusnya di kerjakan. Seabreg kegiatan dari persiapan mengajar, proses mengajar dan evaluasi.Semua berkaitan dengan tulis menulis dan membaca. Coba kita lihat berapa teman guru kita yang membuat RPP, menyusun jurnal mengajar, merekap nilai, membuat analisis nilai ....mungkin hanya segelintir guru.
Apakah guru malas menulis? Jawabannya pasti bermacam ragam. Namun dalam kenyataannya, memang sangat sedikit guru yang menulis. Jangankan untuk menulis di media massa, jurnal atau yang lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang menunda- nundanya. Kronisnya untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran saja banyak yang tidak membuat. Kondisi seperti ini tentu merupakan sesuatu yang memprihatinkan bagi kita. Padahal, guru harus membuat karya tulis; salah satu unsur pengembangan profesi, kalau mau cepat naik pangkat. Jika dijawab betul dan menganggap semua guru malas membaca pastilah tidak benar anggapan tersebut. Semua tidak bisa disamakan.

Kutu Buku?

Ada guru yang betul-betul gemar menulis. Contohnya Om Jay. Penulis buku, aktif menulis di Kompasiana dan seabreg kegiatan yang berkaitan dengan menulis. Guru yang gemar menulis tentu akan gemar membaca, untuk memunculkan ide dan gagasan. Dia membaca semua buku, tak hanya yang menjadi bahan ajarnya. Malah rutin membaca koran (walaupun koran sekolah), sesekali membeli majalah. Untuk membeli buku yang dibacanya pun tak hanya buku baru yang relatif mahal harganya, tapi juga membaca buku yang dibelinya di pasar buku murah. Namun, jarang memang guru yang seperti ini. Jarang sekali. 
Guru senang membaca, kutu buku, atau pelahap buku, bisa dijamin sangatlah sedikit jumlahnya, apalagi yang mau menulis. Tulisan Agus M Irkham dalam artikelnya yang berjudul Menulis Artikel Itu Gampang mengatakan bahwa peserta seminar yang berjumlah 50 orang, semuanya guru Bahasa Indonesia tingkat SLTA, kurang dari 10 persen yang suka menulis dan yang mengirimkan tulisannya untuk dikirim ke media adalah 0 persen, alias tidak ada bin tidak pernah. Ini hal yang sangat ironi, bagaimana dengan guru mapel lain. 
Kelompok guru yang suka menulis tentu akan suka membaca boleh dikatakan pesuka buku, kutu buku. Mereka mau menyisihkan uang gajinya untuk dapat mengurangi rasa kehausan terhadap keinginan meminum segarnya ilmu pengetahuan. Terlebih mereka telah mendapatkan sertifikasi. Disaat sesama guru antri/ inden mobil, dia rela menyisihkan uang serifikasi itu untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya.
Banyak kendala yang mengahadang aktivitas menulis di kalangan guru. Pertama, dari sisi guru, mereka banyak yang tidak mempunyai budaya membaca yang baik. Mereka umumnya miskin bahan bacaan atau referensi. Ada ungkapan yang mengatakan, penulis yang baik berawal dari pembaca yang baik. Coba saja amati di sekeliling kita. Berapa banyak guru yang mempunyai perpustakaan pribadi. Berapa banyak guru yang sering mengunjungi perpustakaan umum untuk mencari referensi. Berapa banyak guru yang berlangganan koran atau majalah? Berapa banyak guru yang bisa dan biasa berselancar di internet? Jawaban atas pertanyaan-tertanyaan tersebut dapat mencerminkan apakah guru mempunyai budaya membaca yang baik atau sebaliknya. Kedua, motivasi yang rendah di kalangan guru untuk menulis. Tidak sedikit guru yang walapun telah banyak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, namun enggan untuk menulis. Dalam kaitan ini Agus Irkham- penulis artikel kondang yang ratusan tulisannya terserak di Koran Suara Merdeka, Wawasan, Kaltim Pos, Solo Post dan sebagainya, menegaskan bahwa kegagalan seorang untuk menjadi penulis, minimal menulis, justru lebih banyak disebabkan oleh lemahnya motivasi. Termasuk habit atau kebiasaan hidup yang dapat mendukung keprigelan dan tradisi menulis yang kuat. Kendala ketiga, guru yang miskin gagasan. Andaikan para guru di seluruh Indonesia dapat menulis buku untuk para muridnya. Andaikan para guru dapat memperkaya para muridnya dengan cerita-cerita yang mengasyikkan, ditulis oleh mereka di karya-karya tulis mereka. Andaikan artikel-artikel, opini dan celoteh guru banyak mengisi lembaran surat kabar dan majalah. Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis. Kurangnya gagasan dalam menulis membuat guru tidak tahu apa yang akan ditulis. Bahkan untuk memulai menulis kata pertama dalam karangannya sering membuatnya berkali-kali membuang kertas Akibat salah memilih kata – kata. 
Juara Blog Guru Tk.Prop.Jawa Tengah
Pertama- tama yang terbayang di benak saya ketika disuruh menulis adalah kalimat apa yang pertama akan saya tulis. Pengalaman pertama menulis ketika saya mengikuti lomba menulis untuk guru yang diadakan oleh Agupena Jawa Tengah dengan Tema Membudayakan menulis di Kalangan Guru, mengirimkan artikel di majalah Infokompetensi yang Insyaallah akan dimuat pada penerbitan edisi terbaru, dan Alhamdulillah dimuat, semakin menambah semangat pada diri saya untuk mencoba dan mencoba, terus kirim artikel ke berbagai media. Alhamdulillah ditayangkan juga masuk pada kolom Opini di koran Satelit Pos Jawa Tengah. Mengirimkan hasil PTK dan ditayangkan di Jurnal Profesionalitas terbitan PGRI. Sampai sekarang masih terus mencoba untuk mengasah kemampuan menulis dan pengembangan diri sebagai guru yang patut ditiru minimal oleh anak kita sendiri lewat menulis, sebagai bentuk merubah cara mengajar agar lebih bermakna, sehingga bermuara pada kebangkitan pendidikan Indonesia.


Read More »
13 May | 6komentar

Similarity Tinggi Berarti Plagiat?


Alhamdulillah mempunyai teman yang sangat baik/pinter dan soleh, Bp.Doko,sehingga bisa dikenalkan dengan penerbit dan Jurnal-jurnal untuk menerbitkan Hasil Penelitian saya. Mendapatkan email masuk dari reviewer Jurnal salah satu perguruan tinggi terkenal di Jawa Tengah. 
Email tersebut memberitahu tentang uji Similarity tentang Artikel Penelitian yang saya kirim untuk dimuat dengan subyek email Hasil Uji  Kemiripan, Plagiarism Check, memberitahukan bahwa similarity index artikel kami lebih dari 30% tepatnya 41% yang artinya ada kemungkinan plagiasi sebesar itu?


Konten tulisan, artikel, ulasan yang dipublikasikan dalam penerbit atau di media sosial memiliki kesamaan, tidak serta merta secara otomatis dapat disimpulkan bahwa konten yang bersangkutan telah dijiplak. Pada kasus seperti ini berarti bahwa konten yang mirip atau memiliki Similarity dengan materi lain, kasus seperti itu sering ditemukan tetapi tidak disimpulkan praktik yang tidak jujur ​​atau ilegal.

Beberapa pola yang dapat dijadikan pegangan munculnya indek kesamaan yang selama ini dikeluarkan oleh turnitin. Merujuk dari laman website turnitin.com mengenai the plagiarism spectrum, berdasarkan survei di seluruh dunia terhadap 900 di pendidikan menengah dan pendidikan tinggi ditemukan 10 tipe plagiasi, yaitu: 
  1. Clone, Mengambil karya orang lain, kata demi kata, sebagai karya seseorang. Sebagai contoh saya mengambil karya Pak B, yang kemudian saya ganti nama menjadi nama saya. Tidak ada perubahan sama sekali baik dari judul, isi hingga kesalahan titik – komapun dipertahankan. 
  2. Ctrl + C, Berisi bagian teks yang signifikan dari satu sumber tanpa ada perubahan. Hampir sama dengan clone (No. 1) yaitu bersumber dari 1 karya ilmiah yang kemudian diubah sedikit agar terlihat berbeda. Biasanya perubahan hanya dilakukan di kata penghubung atau kata depan untuk mengecoh guru. 
  3. Find – Replace, Mengubah kata dan frasa kunci tetapi tetap mempertahankan konten penting dari sumber. Biasanya dilakukan dengan cara mengganti/ replace kata-kata kunci. Sebagai contoh mengganti kata ‘kota’ di dalam text menjadi ‘wilayah perkotaan’. Akan memiliki susunan kalimat yang relatif berbeda, namun sebenarnya tetap saja sama. 
  4. Remix, Parafrase dari berbagai sumber, dibuat agar terlihat cocok bersama. Seperti melakukan kliping, yaitu mengambil informasi dari berbagai media yang terpublikasi di Internet kemudian di kompilasi/ remix menjadi satu produk text tanpa menyebutkan sumber. 
  5. Recycle, Meminjam dengan murah hati dari karya penulis sebelumnya tanpa kutipan. Biasanya dengan cara tetap menyebutkan penulis sebelumnya namun tidak mengutipnya dengan benar, begitupula di daftar pustaka tidak di tulis. Ada proses parafrase tetapi ide kalimat tetap sama dari penulis utamanya dan tidak melakukan proses pengutipan. 
  6. Hybrid, Menggabungkan sumber yang dikutip sempurna dengan bagian yang disalin tanpa kutipan. Menyisipkan karya orang lain tanpa memberikan kutipan. 
  7. Mashup, Mencampur materi yang disalin dari berbagai sumber. 
  8. 404 error, Termasuk kutipan ke informasi yang tidak ada atau tidak akurat tentang sumber. Begitupula dengan artikel text, kita membuat kutipan dengam merujuk pada suatu sumber tertentu, namun sumber tersebut tidak ditemukan. 
  9. Agregator, Memasukkan kutipan yang tepat tetapi artikel yang ditulis hampir tidak mengandung karya asli. 
  10. Re-tweet, Bisa membuat kutipan yang tepat, tetapi terlalu bergantung pada teks asli dan juga struktur text.
Pada artikel yang saya sertakan juga dibelakangnya refrensi juga dianggap terekam sebagai sebuah kemiripan. Maka satu trik saja agar tidak atau meminimalisir kemiripan dan mengurangi prosentasenya adalah dengan memfrase ulang dengan makna yang sama.

Read More »
03 March | 2komentar

Menulis Setiap Hari Sebagai "Healing Remedy"

Dadang Kadarusman

Kebiasaan waktu kecil yang biasa membaca menjadikan Bp.Dadang Kadarusman memiliki hobby menulis. Antara membaca dan menulis bak 2 sisi mata uang. Ayah Beliau yang sekolah dasar sering membawakan buku-buku bacaan. Dari situ Beliau suka membaca. Dan dari suka membaca itu kemudian saya berkeinginan untuk menulis. Jadi sejak kecil sudah menulis. 
Hobby menulis beliau ternyata sudah dibina sejak kecil. Samapi sekarang terus menulis, menjadi seorang penulis.
Sebagian besar orang berkeinginan untuk bukunya diterbitkan. Disampaikan beliau bahwa 20 tahun yang lalu untuk dapat menerbitkan buku sangat sulit sekali. Jaman sekarang sangat mudah akan tetapi yang menjadi tantangan adalah kemampuan menulis, Bagaimana bisa menulis setiap hari. 
Ada orang yang menerbitkan banyak buku tetapi tidak menulis setiap hari akan berbeda dengan orang yang menulis setiap hari, skillnya akan berbeda.
Mengapa perlu menulis setiap hari? menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita, juga jiwa. jika sudah terbiasa menulis. Melihat apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat itu kedalam bentuk tulisan.dan itu terjadi secara refleks saja. Begitu pula ketika merasakan sesuatu. Orang yang tidak terbiasa menulis, bisa saja memendam perasaan itu. atau butuh seseorang yang mau mendengarnya padahal, belum tentu ada yang mau dengar kan? 
Tapi jika dia terbiasa menulis, maka dia selalu punya teman untuk mencurahkan perasaannya. yaitu, selembar kertas dengan pena kalau dulu. kalau sekarang, tinggal ambil smart phone maka kita bisa mencurahkannya disana. v Menulis setiap hari itu merupakan healing remedy. Jadi, jika terbiasa menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat. Kenapa perlu menulis setiap hari adalah; karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya. Melainkan orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri. Bagimana kemampuan itu diasah? Dengan cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam hidup kita TANPA MENULIS. 

 Jika bersungguh-sungguh ingin menjadi penulis handal; mulai sekarang, berkomitmen untuk menulis setiap hari. Seberapa banyak? Kalau saya pribadi, 1 hari 1 artikel. Nah kalau ukurannya jumlah artikel, berarti tidak ditentukan jumlah katanya kan ya. Kan jaman dulu kalau kita mau mengirim artikel ke koran, itu ada ketentuan jumlah kata. Hal itu membuat penulis pemula kesulitan.. kenapa ? Karena bukan hal yang mudah untuk menuangkan gagasan secara indah dengan jumlah kata yang ditentukan.Maka bagi saya, ukurannya adalah "1 Artikel". Artikel itu apa? Sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Begitu ukurannya.
 Jadi, yang penting dalam 1 hari itu ada karya tulis ibu bapak yang "KALAU" dibaca orang lain, mereka akan memahaminya. Oya, kenapa saya pakai kata KALAU? Karena, belum tentu ada orang yang membaca artikel itu Duh, sedih banget ya. sudah cape-cape nulis tapi kok nggak ada yang baca.

Yang Perlu Diperhatikan adalah: Ditahap belajar ini, sebaiknya kita tidak terlalu baper soal ada yang baca apa nggak. kenapa? Karena kalau orang lain baca pun belum tentu feedbacknya positif kan ya. Kan tidak sedikit orang yang berhenti menulis karena pembacanya memberi feedback negatif. so, yang penting menulis saja dulu. Kalau tulisannya sudah memenuhi standar minimal untuk dibaca orang, YAKIN DEH bakal dibaca. Setelah membahas tentang WHY yang berhubungan proses membiasakan diri dalam menulis itu. Sekarang kita bahas WHATnya. 

WHAT makes you write something? Apa sih yang menjadi mendorong Anda untuk menulis? Pertanyaan ini sederhana.Tapi orang yang tidak menemukan jawaban yang tepat, akan berhenti ditengah jalan.Pertama menulis lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. lebih banyak naskah yang dikembalikan redaksi daripada diterbitkan. Saat itulah kemudian saya sadar bahwa, menulis karena ingin mendapatkan uang; bukanlah nilai pribadi saya. Dan sampai sekarang, saya menulis BUKAN untuk uang. 

Menulis dengan dorongan INGIN BERBAGI PENGETAHUAN. Nah, yang ini menurut hemat saya; paling sesuai dengan jiwa pendidik seperti kita. Pengalaman Beliau ketika menulis orientasi karena uang, kadang saya kecewa karena penerbit menolak. Seperti diremehkan oleh mereka deh rasanya. Kita juga bisa kecewa jika bayarannya ternyata tidak seperti yang kita harapkan. 

IDE Menulis setiap hari? Om Deka menyampaikan bahwa segala hal yang bisa ditangkap oleh panca indra kita adalah sumber ide. Tinggal kita olah saja. berapa banyak rangsangan yang masuk kedalam sistem panca indra dan indra ke 6 kita? Jumlah rangsangan itu TAK TERHINGGA. Maka itu berarti bahwa sumber ide penulisan kita bisa SAAAANGAT banyak. Contoh. Hal apa yang bapak ibu tangkap dengan panca indra sekarang?. Ada bunyi AC?. Itu sumber ide. Ada suara seseorang yang lewat didepan rumah? itu sumber ide. Ada bunyi PRAAAANG! gara-gara panci jatuh? semua sumber ide. 

Ide menulis setiap hari juga merangsang indra kita terlatih. Kepekakaan terhadap sekitar bisa ditulis sebagai IDE tulisan kita. Tulislah setiap hari sampai menemukan personal branding yang akhirnya nanti akan di terbitkan di media massa untuk dijadikan Buku. Penerbit sekarang tidak sama dengan 20 tahun lalu. Menulislah setiap hari maka penerbit buku akan mencari anda, bukan anda yang mencari penerbit ? 
Jumat, 1 Mei 2020,Resume


Read More »
02 May | 2komentar

Berprestasi dan Menulis Buku


Nara Sumber pada Diklat Berlatih Menulis 7 Mei 2020
Dr. H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd

DIODATA Dr.H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd
Imron Rosidi dilahirkan di Surabaya, 10 Juni 1966. Tahun 1988 berhasil menyelesaikan studinya di IKIP Surabaya program D3. Tahun itu pula penulis diangkat menjadi guru di SMA Negeri Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik selama 4 tahun. Pada tahun 1994, penulis melanjutkan studi S-1 di IKIP Malang dan pindah mengajar ke SMA Negeri 2 Pasuruan, tahun 2004 pindah ke SMKN 2 Pasuruan. Tugas sebagai pembina Karya Tulis se kota Pasuruan masih dijalani. Saat ini dia juga aktif sebagai staf pengajar di STKIP kota Pasuruan. Pada tahun 1998, Imron melanjutkan studi di Universitas Negeri Malang program S-2 dan pada tahun 2003, penulis melanjutkan studi program Doktor (S3) di universitas yang sama. Pada tahun 2006, dia berkesempatan berkunjung ke Amerika Serikat atas biaya Deplu AS. Imron Rosidi juga beberapa kali berhasil menjadi juara lomba karya tulis dan penyusunan buku tingkat nasional. Beberapa buku juga berhasil diterbitkan, misalnya ”Menulis karya Ilmiah” dengan penerbit Pusbuk dan ’Menulis, Siapa Takut?” dengan penerbit Kanisius. Buku-buku pelajaran SMP dan SMA juga telah disusun dan diterbitkan oleh penerbit Universitas Negeri Malang dan YA3 Malang. Dia juga aktif menulis artikel di beberapa majalah seperti Media LPMP Jatim dan Media serta jurnal perguruan tinggi. Selain mengajar di SMKN 2 Pasuruan, Imron masih menyempatkan diri mengajar di Pondok Pesantren Sidogiri dan Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan. Selain itu, dia juga dikenal sebagai Dewan Pendekar Perguruan Pencak Silat Pencak Organisasi (PO) kota Pasuruan. Imron juga pernah aktif di organisasi Dewan Kesenian dan Dewan Pendidikan kota Pasuruan.

Prestasi yang dimiliki sungguh luar biasa. Berikut prestasi yang diraih oleh Bapak Dr. H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd.
1. Juara III Lomba Penulisan Buku tingkat nasional tahun 2004
2. Juara III Lomba Karya Ilmiah Jawa Timur tahun 2005
3. Juara II tingkat Nasional Lomba Keberhasilan Guru tahun 2006
4. Terpilih sebagai peserta pertukaran tokoh masyarakat Indonesia-Amerika 2006
5. Juara II Lomba Penulisan Buku tingkat nasional tahun 2009
6. Penulis artikel terbaik versi majalah Media Jatim tahun 2010 dan 2011
7. Juara I Guru Prestasi Tingkat nasional tahun 2011
8. Juara I Guru Prestasi tingkat Jatim tahun 2011
9. Terpilih menjadi peserta kunjungan ke Australia tahun 2013
10. Juara Lomba Best Practice Tingkat Nasional tahun 2014
11. Juara 1 Menulis Legenda Pasuruan 2016
12. Instruktur Nasional Kepala Sekolah Kurikulum 2013 Tahun 2015
13. Narasumber untuk Instruktur Nasional Kurikulum 2013 untuk guru
14. Narasumber penulisan buku tingkat nasional
15. Narasumber penyusunan PKB Guru dan KS
16. Penulis buku pelajaran, buku pendidikan dan buku umum dari penerbit UM Press, Kanisius, Sidogiri Press, dll.
17. Penulis artikel populer dalam majalah Media Jatim dan Radar Bromo serta artikel ilmiah pada beberapa Jurnal.
18. Juri Lomba Guru Prestasi Tingkat Jawa Timur selama 4 tahun
19. Koordinator penilaian DUPAK Guru dan KS tingkat Jawa Timur 1

Materi yang disampaikan Dr. H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd terkait dengan "Memotivasi Menulis Buku dan Berprestasi" menggunakan dua cara dengan slide/presentasi dan langsung menggunakan chat/obrolan pada grop. Persoalan yang paling utama dan sangat melekat pada masing-masing pribadi terkait dengan menulis buku adalah “Mereka Tidak Mau Menulis” bisa diartikan tidak berbuat. Sebagai guru ada alasan klasik kenapa tidak menulis yakni pertama, belum menemukan alasan mengapa harus menulis dan kedua, tidak tahu cara menulis.

Lakukanlah trik mau, tekun, nekat, dan baca dalam menulis niscaya pasti akan berhasil. Mau artinya berusaha melakukan kegiatan menulis, tekun menulis lakukan secara terus menerus karena kita tau menulis adalah sebuah keterampilan, nekat , menulislah dg jelek dan jangan takut salah dan yang terakhir baca yang sudah ditulis. Selain dengan itu penulis harus didukung Baca, baca pengetahuan tentang teori menulis dan hal-hal lain yg berhubungan dengan menulis, yang salah satu sumbernya biasa diperoleh dari buku.Sudah selayaknyalah kita sebagai guru sedini mungkin harus belajar menulis. Selain dari identitas dan tugas yang melekat, ada beberapa hal yang bisa diberikan kepada orang lain dengan menulis bisa berbagi inspirasi, menyuarakan kebenaran dan menyebarkan ilmu. Bonus lain tentu sebuah popularitas dan Uang atau royalty.

Ubahlah mainset kita bergeraklah dari seorang guru menjadi seorang penulis. Setelah mempraktekkan ilmu mau, tekun, nekat, dan baca. Lakukanlah Pendalaman Materi dengan 3 P ( Paper, Parson, Place). Dengan didasari Paper ( mengumpulkan literature) kita akan bisa menentukan jenis buku yang mau di tulis. Sebagai langkah awal Bisa dimulai dengan menulis buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen. Lanjut ke buku umum, atau buku-buku motivasi dan buku pelajaran. Berikutnya buatlah kerangka buku. Person banyak berdiskusi dengan orang-orang yang mengerti dengan apa yang akan kita tulis. Place, mendatangi tempat yg akan kita tulis. Setelah buku sempurna telah dibuat, langkah terakhir terbitkanlah buku. Ada dua cara yang kita bisa lakukan dalam menerbitkan buku, semua itu tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Rangkuman Jawaban dari beberapa tanya jawab:
Setiap bertemu langsung berbicara tanpa mikir. Tp ketika menulis? Padahal keduanya sama, yaitu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan. Masalah siswa sekarang lebih suka youtube karena memang peradabannya sdh seperti itu. Setiap hari dan detik buka hp, bukan buka buku. Kalau menulis buku dan digemari penerbit (buku umum) ya menulis hal-hal yg saat ini sudah hit. Mungkin tulisan ttg kiat belajar di rumah di saat pandemi virus corona lebih menarik. Atau tulisan yg berisi pengalaman orang2 sukses, bagaimana saat dia menjadi siswa juga menarik. Dicoba saka ibu. Jangan tajut jelek dan tdk laku. 

Dari kecil saya suka membaca dan menulis dan slalu terputus ditengah jalan, karena slalu mencari alasan dan slalu ada alasan itu, salah satu nya adalah aturan pembuatan tulisan yang di paparkan bapak dalam ppt, mohon di jelaskan lebih spesifik lagi karena saya slalu tergerak tetapi tidak bisa menulis... Terima kasih atas bantuannya pemahamannya Begini. Antara otak kita yg berjalan lancar dg tangan kita yg mengetik, jauh lebih cepat otak kita. Waktu menulis anggaplah sdg berbicara. Kalau ada yg salah saat mengetik, mungkin salah huruf, kurang huruf, kalimatnya kurang baik. Biarkan saja.

Terus menulis jangan takut salah. Setelah dianggap selesai, mungkin 4 sd 6 paragrag paragraf. Dibaca lagi sambil membenahi yg salah. Masalah kemandegan, belum selesai berhenti, itu karena kurangnya motivasi dlm.menulis. kalau menulis artikel populer, cerpen, puisi hrsnya sekali duduk. Malanya sebelum menulis, penuhi dulu wawasan kita ttg apa yg akan ditulis.


Daftar pustaka hanya di akhir tulisan. Bisa juga dg diberi footnote 2. Tergantung prediksi penerbit. Maaf, buku saya yg akan diterbitkan Kanisius Jogja, masih proses, akan diterbitkan 5rb eks. Kalau menerbitkan sendiri 5 eks bisa, 100 juga bisa

Biasanya penerbit major tdk menerbitkan buku antologi yg royoan. Sbg penulis pemula, ke penernit indie atau menerbitkan sendiri dulu. Artinya dg biaya sendiri..nanti kalau dirasa tulisan kita bagus, baru kirim le major. Ingat lihat visi penerbit Untuk langkah awal yang bisa memberi semangat kita untuk kita bisa menemukan sesuatu agar bisa berlanjut ke menulis buku itu apa pak? Seorang penulis itu hrs selalu mempersejatai dg sebuah pena. Sekarang bisa dg hp untuk mencatat ide yg muncul tiba2. Tdk boleh ditunda.

Selain motivasi terdapat juga passion dalam menulis. Bagaimana menyelaraskan dan mensinergikan keduanya. Tentunya setiap orang berbeda. Gairah dan motivasi keduanya sijoli dan berjodoh. Ketika ada motivasi aku hrs nukis agar siswaku bangga, saat itu bisa muncul gairah. Gairah ini akan terus bertambah ketika tukisan kita terbit. Waduh, akhirnya terus menulis dan menulis. Bagaimana tahapan dalam membuka dan menutup kalimat atau paragraf?

Paragraf itu gabungan kalimat yg koheren atau padu. Ada 3 cara agar padu:
1. Mengulang kata yg sebelumnya disebutkan,
2. Mengganti dg kata lain yg sama maknanya, dan
3. Memberi konjungsi antarkalimat.

Paragraf itu terdiri atas 3 sd 5 kalimat, bisa 1 kalimat utama dg 2 kalimat penjelas. Paragraf bisa dimulai dr kalimat utama, yaitu kalimat yg perlu dijelaskan dan masih bersifat umum. Misal Pandemi Corona menyengsarakan banyak orang. Kalimat selanjutnya adalah penjelas dr kalimat tersebut. Jd berakhir apabila dianggap penjelasnya sdh cukup. Usahakan maksimal 5 kalimat

Beliu menulis sebenarnya baru masuk menjadi mahasiswa jurusan bhs Ind dan mengikuti kegiatan HMP Himpunan mahasiswa penulis. Banyak menulis puisi dan cerpen serta artikel populer di majalah kampus. Sejak menjadi guru 1989, pd tahun 1990 baru ada 1 buku yg terbit. Itu karena motivasi muncul karena hinaan salah satu guru. Waktu itu bdia bilang, mana ada guru D3 tukisannya diterbitkan. Alhamdulillah saat itu buku saya diterbitkan oleh penerbit YA3 malang dan mulai saat itulah gairah menulis muncul.

Penulis itu hrs mau mebgorbankan waktu. Selain saya sekarang jd kepala sekolah, saya juga mengajar di 2 pondok pesantren dan 1 perguruan tinggi dan masih sempat melatih pencak silat. Kapan menulis. Setiap malam dan setiap ada waktu luang. Hrs ada waktu wajib, misal malam hari jam berapa sd berapa. Tanpa ada waktu wajib menulis, pasti sulit untuk menjadi penulis. Jika ingin menerbitkan buku di penerbit mayor harus faham visi misi penerbit. Mohon mengupas beberapa penerbit beserta karakteristik tulisan yang diterima.
Untuk kenaikan pangkat . Buku kumpulan puisi dan cerpen karya sendiri, masing2 buku isi berapa. Untuk bisa dinilai. Untuk bisa ke major, usahakan kita sdh terkenal dulu. Untuk mengetahuinya bagaimans? Buka google, ketik nama dan asal. Kalau ada berarti sdh terkenal. Untuk mengetahui visi misinya ya buka google. Atau yg paling gampang datang ke toko buku. Cari buku yg selaras dg buku yg anda tulis. Nah. Kirim ke sana. Jangan mengirim buku agama ke balai pustaka misalnya, ya korim.ke.mizan. kha gitu. Lihat di buku 4. Kalau puisi lebih dr 20 nilai 2, kalai lebih dr 40 nilai 4. Kalau cerpen lebih dr 10 nilai 2 dan kalau lebih dr 20 nilai 4. Untuk saat ini, saat karakter anak jauh berbeda dengan zaman dulu.

Penggaris untuk Mengajar, bukan untuk Menghajar 
(disadur dari http://guru-umarbakri.blogspot.com/)
Tantangan mengajarkan bahasa Indonesia lebih tinggi. Siswa SMK pada umumnya lebih suka menerima pelajaran produktif dan menganggap pelajaran bahasa Indonesia kurang penting. Dengan berbagai strategi mengajar melalui pendekatan kasih sayang, aku berhasil membawa siswa SMKN 2 Pasuruan senang bahasa Indonesia. Aku tidak jarang menggunakan pendekatan personal ketika mengajar. Saat ini aku kemabali mengajar di SMAN 2 Pasuruan. 
Selain itu, aku beruntung bisa mengajar di dua Pondok pesantren terbesar di kota dan kabupaten Pasuruan. Aku mengajar di kedua pondok ini diawali dengan permintaan kyai. Mengajar di pondok juga aku gunakan sebagai wujud pengabdianku kepada masyarakat dan aku gunakan untuk belajar agama. Tugas mengajar di pondok diawali pada tahun 2000 sampai sekarang. Santri di kedua pondok ini sangat menyukai pelajaran bahasa Indonesia. 
Santri kedua pondok ini memiliki prestasi di bidang lomba karya tulis tingkat nasional dan lomba mading tingkat Jawa Timur. Diklat-diklat jurnalistik sering aku lakukan untuk melatih santri menulis. Tabloit, majalah terbit di kedua pondok ini. Semua itu aku lakukan tanpa kekerasan. Memang, penggaris digunakan untuk mengajar, bukan untuk menghajar. Selain mengajar di sekolah, aku juga menyempatkan diri mengajar di perguruan tinggi. Hal ini aku lakukan karena aku harus dapat mengembangkan ilmu yang aku miliki. Pada tahun 2002 s.d. 2005, aku mengajar di AKPER kota Pasuruan MK penelitian keperawatan. Pada tahun 2002 sampai dengan sekarang, aku juga mengajar di STKIP Pasuruan dan menjadi Ketua Jurusan sejak 2013. Aku juga pernah mengajar di STAIS Pasuruan.



Read More »
07 May | 15komentar

Menulis Cepat dan Tepat Media Daring dan Luring

Karya: Catur Nurochman Oktavian

Belajar menulis online gelombang 7 bersama Om Jay, Tema: Menulis Cepat dan Tepat Media Daring dan Luring, tanggal 20 April 2020 Pukul 19.00 s.d 21.00. Narasumber: Catur Nurochman Oktavian Menulis dengan cepat jarang dilakukan semua orang, karena setiap orang ingin membuat tulisan yang berkualitas dan berbobot di setiap kata dan kalimat yang ditulisnya.

Biodata Catur Nurochman Oktavian:
Beliau penulis 20 buku, redaktur pelaksana Majalah Suara Guru sejak Jan 2019, telah menghasilkan ratusan artikel tersebar di media daring dan luring. Guru SMP yang hobi menulis sejak 1999, buku pertamanya terbit tahun 2003. Pendidikan S1 di UNS, S2 di UPI Bandung. Sejak Juli 2019 menjadi Ketua Departemen Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Pengurus Besar PGRI.

Moderator Bapak Bambang
Terkadang ditengah menulis energi terbuang untuk melakukan editing setiap beberapa kalimat yang tertulis. Hal ini membuat otak letih dan buruknya kadang ide yang disusun menjadi buntu. Kata daring seperti senyap senyap pernah terdengar tapi luring benar benar kata kata baru buat saya. Jadi, daring dan luring ternyata sebenarnya adalah akronim. Daring sendiri sebenarnya merupakan akronim dari dalam jaringan yang bisa diistilahkan dengan online. Sedangkan luring adalah akronim dari luar jaringan yang dapat dipadankan dengan istilah offline.

Setiap penulis yang baik tentu tidak membutuhkan “mood”. Tidak ada alasan tidak menulis, karena tidak ada mood. Mood harus disingkirkan dari benak Anda jika menghambat kerja otak dalam menulis. Bayangkan Anda seorang yang bekerja menghasilkan tulisan seperti wartawan, kolumnis, dan redaktur majalah. Jika mereka bekerja mengandalkan mood, tentu karirnya akan tamat seketika. Isaac Asimov, seorang penulis fiksi ilmiah yang memiliki reputasi bagus, mengakui bahwa cara ia menulis adalah “simpel dan apa adanya”. Saya garis bawahi. Menulislah dengan simpel dan apa adanya. Menulis hal yang aktual dan sesuai dengan gaya selingkung media yang akan dituju, menjadi kunci sebuah tulisan diterbitkan. Bahkan menulis cepat tanpa memikirkan kualitas tulisan dan apa isi dari tulisan tersebut dinilai merupakan teknik menulis yang harus dihindari jika tidak ingin tulisannya bernilai jelek dihadapan pembaca nantik. Mulai dari awal menulis, baru beberapa kalimat dihentikan sementara untuk mengecek kesalahan penulisan, tata bahasa atau tanda baca yang tidak sesuai daan dan salah.
Kemudian lanjut menulis lagi,setelah beberapa kalimat selesai, kemudian mengecek lagi, mengedit lagi, menghapus kata kata yang salah. Begitu seharusnya sampai untuk membuat satu Paragraf saja membutuh waktu hampir setengah jam lebih, dan itu tidak efisien.

Bagi seorang pemula: 
Mengapa Anda masih ragu menghasilkan draf tulisan yang pertama? Biarkan tulisan yang dihasilkan jelek, karena Anda masih punya banyak waktu untuk memperbaiki draf tersebut. Jika ingin tulisan dimuat di media, maka perlu diketahui informasi tentang gaya selingkungnya. Setiap media memiliki gaya selingkung masing-masing sesuai kebijakan redaksinya. Misalnya, kita perlu mengetahui, berapa jumlah kata dalam artikel yang bisa dimuat di media itu, dan aturan penulisannya. Atau rubrik apa saja yang tersedia di media tersebut. Setiap media memiliki gaya selingkung masing-masing sesuai kebijakan redaksinya. Misalnya, kita perlu mengetahui, berapa jumlah kata dalam artikel yang bisa dimuat di media itu, dan aturan penulisannya. Atau rubrik apa saja yang tersedia di media tersebut. Tidak usah kuatir tulisan kita ditolak dan dianggap jelek. Perbaiki lagi kekurangannya, dan terus kirim lagi. Banyak faktor mengapa tulisan tidak diterima redaksi. Mungkin tulisan tidak aktual? Atau space dalam edisi penerbitan sudah penuh. Setelah mendapatkan sharing dari saya di atas, mengapa masih ada keraguan menghasilkan draf tulisan?

Biarkan tulisan yang dihasilkan jelek, karena Anda masih punya banyak waktu untuk memperbaiki draf tersebut. Draf tulisan yang jelek masih dapat diperbaiki daripada tidak ada draf sama sekali.

Pertanyaan para peserta :
Seperti dikatakan asimov tadi, seorang penulis yang baik, maka ia dapat menulis dengan cepat. Perlu diingat, bahwa setiap orang yang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik, maka ia dapat melakukan lebih cepat dibandingkan orang yang tidak bekerja secara baik. Selamat Malam, Ibu Ari Rumbini Purbalingga. Kepo yang menarik. Yang memotivasi saya menulis adalah rasa suka. Passion.

Ada kenikmatan dan kebahagiaan bisa berbagi inspirasi, motivasi, pengetahuan melalui tulisan. Awalnya saya suka menulis lirik lagu dan puisi, lalu menulis artikel populer, cerita anak, karena dulu pernah menjadi guru TK juga. Menulis keseharian perilaku anak didik di prasekolah sungguh menggemaskan. Menyenangkan. Siap dijawab Pak Mukminin dari Lamongan. Pertanyaan yang bagus. Seperti saya sudah utarakan di atas, bahwa tiap media memiliki gaya, ciri masing masing sesuai kebijakannya. Tidak selalu sama. Itulah yang dinamakan gaya selingkung. Misal, media jawa pos mengharuskan tulisan opini minimal 600 kata. Atau majalah Suaraguru, untuk tulisan opini minimal 700 kata. Jadi berbeda-beda. Bisa ditanyakan di redaksi masing-masing atau biasanya tertulis di salah satu bagian media itu. Pertemuan malam ini sangat berterima kasih kepada bapak Pemateri yaitu dengan tema menulis cepat dan tepat Media Daring dan Luring.


Read More »
21 April | 0komentar

Ketika Jari-jemari Lebih Aktif dari Pikiran: Paradoks Literasi Digital

Literasi digital
Di era digital yang serba cepat ini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang menarik sekaligus ironis terkait dengan literasi. Di satu sisi, masyarakat kita menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi dalam menyerap informasi digital. Layar ponsel pintar menjadi jendela utama menuju dunia pengetahuan, berita, dan opini. Namun, di sisi lain, kebiasaan membaca yang dominan justru terfragmentasi, dangkal, dan seringkali tidak terstruktur, jauh berbeda dengan esensi literasi yang sesungguhnya. 
Inilah paradoks "literasi" digital: kita aktif "membaca" konten-konten digital baik itu di internet atau di kolom percakapan grup medsos. Namun seringkali mengabaikan kedalaman dan analisis yang ditawarkan oleh bacaan yang lebih substansial seperti buku atau artikel ilmiah. Ironi ini terletak pada definisi "membaca" itu sendiri. Dalam konteks digital, "membaca" seringkali hanya sebatas memindai judul, membaca beberapa kalimat pertama, atau bahkan langsung melompat ke bagian komentar. Interaksi dengan teks menjadi dangkal dan sporadis. 
Kita lebih tertarik pada ringkasan singkat, infografis menarik, atau cuitan padat berisi daripada menyelami argumen yang kompleks atau narasi yang panjang. Kebiasaan membaca komentar online menjadi salah satu manifestasi paling jelas dari paradoks ini. Kolom komentar, yang seharusnya menjadi ruang diskusi dan pertukaran ide, seringkali justru dipenuhi dengan opini instan, reaksi emosional, bahkan ujaran kebencian. 
Masyarakat kita seolah lebih tertarik untuk membaca dan merespons komentar-komentar singkat ini daripada meluangkan waktu untuk memahami konteks dan substansi dari artikel atau berita yang dikomentari. Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Beberapa faktor kemungkinan berperan. Pertama, sifat informasi digital yang serba cepat dan berlimpah mendorong kita untuk mencari kepuasan instan. Kita terbiasa dengan notifikasi dan pembaruan yang konstan, sehingga sulit untuk fokus pada satu teks yang panjang dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Kedua, algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten yang menarik perhatian dan memicu interaksi cepat, seperti komentar kontroversial atau ringkasan viral. 
Hal ini secara tidak sadar membentuk preferensi membaca kita. Ketiga, tekanan sosial untuk selalu "up-to-date" membuat kita merasa perlu untuk mengonsumsi sebanyak mungkin informasi dalam waktu sesingkat mungkin, meskipun dengan kedalaman yang minim. Dampak dari "literasi" digital yang dangkal ini bisa sangat signifikan. Kemampuan untuk berpikir kritis dan analitis dapat terkikis karena kita jarang melatih diri untuk memahami argumen yang kompleks dan mengevaluasi informasi secara mendalam. Kita menjadi lebih rentan terhadap misinformasi dan disinformasi karena kurangnya kemampuan untuk memverifikasi fakta dan memahami konteks yang lebih luas. 
Diskusi publik pun menjadi lebih polarisasi karena kita cenderung hanya terpapar pada opini yang sesuai dengan pandangan kita dan jarang berinteraksi dengan perspektif yang berbeda secara substansial. Tentu saja, bukan berarti semua interaksi digital bersifat negatif. Internet dan media sosial juga menawarkan potensi besar untuk pendidikan dan penyebaran informasi yang bermanfaat. Namun, penting bagi kita untuk menyadari paradoks "literasi" digital ini dan mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya. Beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain: 
  • Meningkatkan kesadaran akan pentingnya membaca mendalam: 
  • Mengedukasi masyarakat tentang manfaat membaca buku, artikel ilmiah, atau laporan yang lebih komprehensif dalam mengembangkan pemikiran kritis dan pemahaman yang mendalam. 
  • Mengembangkan keterampilan literasi digital yang sejati: 
  • Tidak hanya sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengevaluasi sumber informasi, membedakan fakta dan opini, serta memahami konteks yang lebih luas. 
  • Menciptakan ruang diskusi online yang lebih sehat: 
  • Mendorong interaksi yang lebih konstruktif dan berbasis argumen, bukan hanya reaktif dan emosional. 
  • Mengintegrasikan kegiatan membaca mendalam dalam pendidikan: 
  • Mendorong siswa untuk membaca dan menganalisis teks yang lebih panjang dan kompleks sejak dini. 
  • Bijak dalam mengonsumsi informasi digital: 
  • Meluangkan waktu untuk membaca artikel secara utuh sebelum berkomentar, memverifikasi informasi dari berbagai sumber, dan menghindari terjebak dalam echo chamber media sosial. 

Paradoks "literasi" digital adalah tantangan nyata di era informasi ini. Meskipun kita aktif dalam dunia digital, esensi literasi yang mendalam dan analitis tidak boleh hilang. Dengan meningkatkan kesadaran dan mengambil tindakan yang tepat, kita dapat memanfaatkan potensi positif teknologi sambil tetap menjaga dan mengembangkan kemampuan literasi yang sesungguhnya. Membaca komentar online boleh menjadi bagian dari interaksi digital kita, namun jangan sampai kebiasaan ini menggantikan kebutuhan kita akan bacaan yang lebih substansial dan bermakna.

Read More »
23 May | 0komentar

Ibarat Dua Sisi Mata Uang; Menulis dan Membaca

Lomba Guru Berprestasi Tk.Prov.insi, 2017 

Guru menulis, itu baru berita! Guru mengajar, itu sih mah biasa, bukan berita.  Guru mengajar dan terus mengajar tidaklah aneh. Guru yang gemar membaca dan terus membaca, kemudian menulis apalagi berganti dari satu buku ke buku lainnya, ini yang luar biasa.

Berawal Dari Membaca

Pada artikel yang terdahulu (Semua Berawal dari Membaca) penulis telah memanjang-lebarkan tentang membaca. Menulis dan membaca bak dua sisi mata uang, yang selalu berdampingan. Seharusnya guru sangat kompeten dalam menulis tapi permasalahannya sekarang adalah guru tidak melaksanakan apa yang seharusnya di kerjakan.
Seabreg kegiatan dari persiapan mengajar, proses mengajar dan evaluasi.Semua berkaitan dengan tulis menulis dan membaca.Sebab, banyak guru hanya membaca satu-dua buku. Itu pun buku-buku yang menjadi bahan ajarnya. Jarang ia membaca buku selain buku yang menjadi bahan ajarnya.  Guru harus membuat karya tulis; salah satu unsur pengembangan profesi, kalau mau cepat naik pangkat.

Coba saja amati di sekeliling kita. Berapa banyak guru yang mempunyai perpustakaan pribadi. Berapa banyak guru yang sering mengunjungi perpustakaan umum untuk mencari referensi. Berapa banyak guru yang berlangganan koran atau majalah? Berapa banyak guru yang bisa dan biasa berselancar di internet? Beberapa guru ada yang rela uang sertifikasinya dibelanjakan untuk membeli buku/ berlangganan artikel jurnal penelitian untuk memuaskan rasa dahaganya akan ilmu. Jawaban atas pertanyaan-tertanyaan tersebut dapat mencerminkan apakah guru mempunyai budaya membaca yang baik atau sebaliknya. Jangan ditanya berapa teman guru anda yang punya mobil...semua punya mobil kecuali saya.hehe. curhat.

Banyak guru yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, namun enggan untuk menulis. Dalam kaitan ini Agus Irkham- penulis artikel kondang yang ratusan tulisannya terserak di Koran Suara Merdeka, Wawasan, Kaltim Pos, Solo Post dan sebagainya, menegaskan bahwa kegagalan seorang untuk menjadi penulis, minimal menulis, justru lebih banyak disebabkan oleh lemahnya motivasi. Nominal kenaikan gaji sedikit efek dari kenaikan pangkat.

Kelompok yang suka membaca boleh dikatakan pesuka buku, kutu buku di atas mau menyisihkan uang gajinya untuk memuaskan rasa dahaga akalnya. Guru ini rela memotong gajinya untuk makanan ruhaninya. Tunjangan sertifikasinya tidak digunakan untuk mengangsur mobil.
Selain itu, dia juga berupaya mendapatkan uang halal dari sumber-sumber lain, tak hanya mengandalkan gajinya. Bisa lewat makelar mobil/ motor, membuat kios kecil di rumahnya, atau berkirim artikel ke media massa. Guru yang demikian pantaslah menjadi motor masyarakat-baca, minimal sebagai contoh bagi murid-muridnya.
Wasalam..



Read More »
27 June | 7komentar

Menulis Buku? Man Jadda Wajada


Latihan Menulis kali ini bersama seorang penulis Buku Best Seller, yaitu Akbar Zainudin,MM,MJW Penulis Buku "Man Jada wa Jada".Sebagai seorang santri yang mondok, di Pondok Pesantren Gontor, sudah dipastikan memiliki aua religi, hal ini dapat dilihat pada Buku Beliau tersebut. Pada Pelatihan ini Beliau membagikan Buku tersebut dalam bentuk ebook.
Dari paparan Beliau ada beberapa langkah dalam menulis buku:

Langkah pertama adalah T
Tentukan TEMA tulisan. 
Setiap buku harus punya tema besar, baik buku fiksi maupun non fiksi. Tema akan menjadi rel yang mengikat kita dari awal tulisan hingga akhir. Tema ini satu saja. Misalnya kerja keras, romantisme, cara belajar, dan sebagainya.Kalau buku saya, kebanyakan adalah buku-buku motivasi. Kalau buku Om Jay, buku-buku pendidikan. Dan sebagainya.

Langkah kedua adalah O.
Buatlah OUTLINE atau DAFTAR ISI.
 Gunanya outline:
1. Agar tulisan kita terarah.
2. Bisa buat jadwal dan target.
3. Menghindari "ngeblank" pada saat menulis.
4. Agar bukunya selesai.
Kalau tidak ada daftar isi, akan sulit bukunya bisa selesai.

Langkah ketiga adalah J.
Buatlah jadwal penulisan.
Kalau daftar isi sudah dibuat, misalnya ada 30 judul artikel atau plot cerita, mulailah membuat jadwal secara riil. Katakan 1 tulisan jadwalnya seminggu selesai, buatlah jadwalnya dari 30 tulisan itu kapan mau selesai.
Dengan kita membuat jadwal, maka akan memudahkan kita untuk mengontrol dan mengevaluasi dari hasil tulisan kita.

Langkah keempat adalah T.
Tuliskan.
Outline sudah ada, jadwal juga sudah ada. Berikutnya adalah tuliskan sesuai outline dan jadwalnya.
Di sini, disiplin diri dan komitmen yang akan menentukan apakah tulisan kita akan selesai atau tidak.
Tulis dan selesaikan semua judul artikel terlebih dahulu. Jangan terpaku untuk satu tulisan sampai sempurna.

Langkah kelima adalah R,  
REVISI.
Revisilah tulisan kalau semua draft tulisan sudah selesai. Jangan terpaku hanya satu judul sampai sempurna.
Kalau kurang-kurang sedikit, tidak apa-apa. Tahap pertama adalah menyelesaikan semua draft buku.
Tahap kedua, baru revisi. Apa saja yang direvisi?
1. Data dan informasi yang kurang.
2. Tata Bahasa
3. Gaya Tulisan. Disamakan dari awal hingga akhir.
4. Judul-judul artikel. Buatlah judul-judul yang menarik.
Jangan terpaku dengan satu judul artikel sampai sempurna. Selesaikan saja semua draft bukunya, apapun bentuknya. Setelah draft selesai, baru direvisi.

Langkah keenam adalah kirim ke penerbit.
Apa yang menadi pertimbangan penerbit?
Paling utama adalah bukunya laku atau tidak. Ini menyangkut kebutuhan masyarakat pembaca.
Apakah pembaca butuh buku kita?
Siapa yang butuh? Berapa banyak orang yang butuh?
Buku kita menjawab kebutuhan apa?
Semakin besar kebutuhan masyarakat akan buku kita, maka peluang diterbitkan semakin besar.
Karena itu, sebagai penulis kita mesti memahami buku kita siapa yang akan beli, dan siapa yang kira-kira akan baca.
Hal kedua adalah apa yang bisa membedakan buku kita dari buku sejenis.
Apa kelebihan kita dibandingkan dengan buku sejenis?
Kita harus mampu menjawab pertanyaan ini. Karena hal itu yang akan menjadi pertanyaan dan juga pertimbangan penerbit.
Ketiga, pertanyaan penerbit adalah, apa yang akan Anda lakukan untuk membantu pemasaran buku?
Harus punya jawabannya.
Apakah perlu membayar kepada penerbit?
Kita tidak perlu membayar ke penerbit. Bahkan kita mendapatkan uang ROYALTI. Rata-rata royalti adalah 10% dari buku yang terjual.
Bagaimana cara mengirim naskah?
1. Naskah harus sudah jadi.
2. Diprint, dikirim dengan hard copy dan soft copy dalam bentuk CD atau Flash Disk
Berapa lama?
Kabar diterima atau tidak sekitar 3 bulan.
Semua adalah tentang jam terbang dan latihan terus menerus.
Saya dan Om Jay sudah latihan berpuluh-puluh tahun. Hampir tiap hari menulis.
Kalau saya hitung dari setingkat kelas 2 SMP saya sudah mulai belajar menulis. Jadi, hampir 30 tahun tidak berhenti menulis.

Kalo penerbit menolak itu biasa nya di kata kan gak kelemahan tulisan  kita?? Atau mkn lebih ke request komersial gitu ya?? Tak akan bisa menjadi idealisme sendiri kalo begitu ya.. harus ikut aturan main.. atau ikit arus para konsumen kalo begitu ya. Pertamyaan nya .. jika inhin menulis idealisme  tentang sesuatu. Yg menurut umum ini salah. Misalnya.... tapi ingin di terima di terbitkan gimana tah?bisa gak ya?
Kalau mau menulis sesuai idealisme, cari penerbit yang memang juga idealis. Menerbitkan memang untuk menyebarkan gagasan. Namun demikian, biasanya bukan penerbit besar. Kalau penerbit besar, memang harus kompromi dengan keinginan pasar. Atau, diterbitkan sendiri.

Menulis adalah keterampilan. Semakin sering dilatih, akan semakin enak dibaca orang.
Nah, sudah tahu rahasianya kan?
Banyak-banyak berlatih. Luangkan waktu setiap hari 30-60 menit.
Nanti tau-tau tulisan kita sudah bagus, tau-tau kita sudah punya naskah buku, tau-tau buku kita terbit.

Naskah Non Fiksi:
1. Opening/Pendahuluan. Berisi latar belakang, tujuan dan juga maksud penulisan.
2. Isi Naskah. Biasanya berisi teori-toeri, peristiwa aktual, analisis terhadap peristiwa, How To (Tips and Trick).
3. Kesimpulan dan Penutup.

Kalau FIKSI;
1. Tokoh
2. Karakter Tiap Tokoh
3. Alur atau plot Cerita
4. Klimaks dan Ending Cerita

Dalam menulis hal yang sangat dirakan adalah adanya rasa malas, untuk menghilangkan rasa malas ini ada beberapa tip:
1. Buat target
2. Buat jadwal harian jam berapa menulis
3. Jangan menunda
4. Paksakan

Menulis Butuh Mentor
Menulis itu memang butuh mentor.
Dari dulu, saya punya mentor menulis. Guru saya. Di pesantren. Selalu menyemangati saya untuk menulis. Dulu, menulisnya di majalah dinding dan majalah siswa. Pas mau buat buku, ada beberapa mentor saya untuk menulis buku. Silakan cari mentornya. Menulis dan membaca adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Harus banyak membaca kalau ingin tulisannya bagus. Dengan banyak membaca, kita bisa lebih banyak perbendaharaan kata.

Terus berlatih menulis, menulis, dan menulis. Berdisiplin saja setiap hari, nanti tau-tau tulisan kita akan banyak, akan lebih baik, dan tau-tau jadi buku.

Happy Writing.
Salam Man Jadda Wajda.




Read More »
05 April | 4komentar

Jebakan Layar: Mengapa Kita Banyak Tahu Tapi Sedikit Paham?

Di era serba digital ini, masyarakat kita menunjukkan antusiasme yang luar biasa dalam mengakses informasi. Gawai pintar menjadi perpanjangan tangan, membuka gerbang tanpa batas menuju lautan data dan berita. Platform media sosial, portal berita daring, hingga berbagai aplikasi berbagi informasi menjadi santapan sehari-hari. Namun, di balik hiruk pikuk aktivitas digital ini, tersimpan sebuah paradoks yang mengkhawatirkan: meskipun volume informasi yang dikonsumsi sangat tinggi, kedalaman pemahaman dan kemampuan analisis seringkali dangkal dan terfragmentasi. 
Fenomena "membaca" di era digital ini lebih menyerupai konsumsi instan, sebuah kontras signifikan dengan proses membaca buku atau artikel yang menuntut fokus, refleksi, dan pemahaman yang komprehensif. 

Gelombang Informasi Instan: 
Kemudahan dan Konsekuensinya
Kemudahan akses informasi digital memang menawarkan banyak keuntungan. Berita terkini dapat diakses dalam hitungan detik, berbagai perspektif dapat dijangkau dengan beberapa kali klik, dan pengetahuan tentang topik tertentu dapat diperoleh secara instan. Namun, kemudahan ini juga membawa konsekuensi. Algoritma media sosial dan mesin pencari seringkali menyajikan informasi yang terpersonalisasi dan terkurasi, menciptakan "filter bubble" atau "echo chamber" di mana pengguna hanya terpapar pada pandangan yang sesuai dengan keyakinan mereka. Akibatnya, kemampuan untuk melihat isu dari berbagai sudut pandang dan mengembangkan pemikiran kritis menjadi terhambat. 
Selain itu, format informasi digital yang didominasi oleh konten singkat, visual menarik, dan headline sensasional mendorong pola konsumsi yang cepat dan dangkal. Masyarakat terbiasa dengan scrolling tanpa henti, melompat dari satu informasi ke informasi lain tanpa memberikan waktu yang cukup untuk mencerna dan merenungkan. Notifikasi yang terus-menerus dan distraksi dari berbagai aplikasi juga memecah fokus, membuat konsentrasi pada satu topik secara mendalam menjadi tantangan tersendiri. 

"Membaca" yang Terfragmentasi: Antara Konsumsi dan Pemahaman Istilah "membaca" di era digital mengalami pergeseran makna. Alih-alih merujuk pada aktivitas yang melibatkan pemahaman mendalam, analisis kritis, dan pembentukan pengetahuan yang terstruktur, "membaca" kini seringkali hanya berarti sekadar melihat sekilas headline, membaca ringkasan singkat (thread), atau bahkan hanya menonton video pendek. Informasi yang diterima bersifat fragmentaris, terpotong-potong, dan kurang terhubung dalam sebuah kerangka pemahaman yang utuh. Kondisi ini berbeda jauh dengan pengalaman membaca buku atau artikel ilmiah yang panjang dan kompleks. Guru Berprestasi
Proses membaca yang mendalam menuntut kesabaran, fokus, dan kemampuan untuk menghubungkan ide-ide yang berbeda. Pembaca dipaksa untuk berpikir secara analitis, mengevaluasi argumen, dan membentuk pemahaman yang koheren. Proses ini tidak hanya menghasilkan pengetahuan yang lebih mendalam tetapi juga melatih kemampuan kognitif seperti konsentrasi, memori, dan pemikiran kritis. 

Erosi Pemikiran Kritis dan Literasi Informasi Kecenderungan konsumsi informasi yang dangkal dan terfragmentasi dapat membawa dampak jangka panjang yang merugikan. Erosi pemikiran kritis menjadi salah satu ancaman utama. Ketika masyarakat terbiasa menerima informasi secara instan tanpa melakukan verifikasi atau analisis lebih lanjut, mereka menjadi lebih rentan terhadap disinformasi, berita palsu (hoax), dan propaganda. Kemampuan untuk membedakan fakta dari opini, informasi yang kredibel dari yang tidak, menjadi semakin tumpul. 
Selain itu, literasi informasi yang rendah juga menjadi konsekuensi dari pola konsumsi digital yang tidak terstruktur. Literasi informasi tidak hanya sebatas kemampuan untuk mencari informasi, tetapi juga kemampuan untuk mengevaluasi, mengorganisir, dan menggunakan informasi secara efektif dan bertanggung jawab. Ketika masyarakat lebih fokus pada konsumsi instan, kemampuan ini tidak terlatih dengan baik. Menuju Keseimbangan: Mengembangkan Literasi Digital yang Mendalam Menghadapi tantangan ini, penting untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mengembangkan literasi digital yang mendalam. Ini bukan berarti menolak kemajuan teknologi atau menghindari konsumsi informasi digital, melainkan bagaimana kita dapat memanfaatkan teknologi secara bijak untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: 

Mengalokasikan waktu khusus untuk membaca buku, artikel panjang, atau laporan yang membutuhkan fokus dan analisis. Mengembangkan Keterampilan Pemikiran Kritis: Melatih diri untuk selalu mempertanyakan informasi yang diterima, mencari berbagai sumber, dan mengevaluasi validitas dan kredibilitas informasi. Memanfaatkan Teknologi untuk Pembelajaran yang Terstruktur: Menggunakan platform pendidikan daring, kursus online, atau aplikasi yang dirancang untuk pembelajaran yang mendalam dan terstruktur. Menciptakan Ruang Diskusi yang Bermakna: Berpartisipasi dalam diskusi atau forum yang mendorong pertukaran ide, analisis mendalam, dan pengembangan pemahaman bersama. 
Edukasi Literasi Informasi: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi informasi dan memberikan pelatihan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola informasi digital secara efektif. 
Era digital menawarkan potensi besar untuk meningkatkan akses terhadap informasi dan pengetahuan. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan berupa kecenderungan konsumsi informasi yang dangkal dan terfragmentasi. Untuk menghindari erosi pemikiran kritis dan meningkatkan kualitas pemahaman, masyarakat perlu mengembangkan literasi digital yang mendalam, menyeimbangkan antara konsumsi informasi instan dengan kebiasaan membaca dan belajar yang terstruktur. Dengan demikian, banjir informasi digital tidak hanya menjadi sekadar tontonan, tetapi juga sumber pengetahuan yang memperkaya dan memberdayakan.



Read More »
23 May | 0komentar

Tentang Google Adsense, Masih di Bawah 1 Dollar?

Artikel Tentang Google Adsense di http://www.sarastiana.com
Google Adsense sebagai media penayangan iklan memastikan bahwa setiap Blogger mendambakannya. Yang menjadi pertanyaan setelah lama mendaftar dengan gonta-ganti akun, menunggu konfirmasi akhirnya disetujui. Langkah berikutnya adalah mengoptimalkannya (google Adsense) itu agar dapat menghasilkan pundi-pundi Dollar yang signifikan.
Setelah sekian bulan memasang Google Adsense sepertinya penghasilan belum signifikan untuk dikatakan sebagai tambahan penghasilan. Berbagai optimasi telah dilakukan dengan menambahkan SEO dan script tambahan agar tergabung dengan sosial media,tetapi belum bisa mendongkrak.Yang jelas untuk posting secara teratur pun sulit dilakukan dengan berbagai alasan; tidak ada materi, tidak mood dan sebagainya. Gimana agar Google Adsense signifikan sebagai sebuah sumber penghasilan? Mohon sarannya para jutawan Adsense!!!Hooo.

Mengacu pada peraturan dan kebijakan dari Google (Term of service), sebenarnya ada banyak posisi peletakan unit iklan Google Adsense yang relatif bagus untuk meningkatkan potensi pendapatan. Namun, apakah cara tersebut bisa bekerja ketika diterapkan kedalam situs Anda? Silahkan Anda buktikan sendiri melalui panduan berikut ini.
Cara terbaik untuk mengoptimalkan penghasilan AdSense adalah dengan menjaga reputasi baik akun Anda. Untuk mewujudkannya, Anda harus memastikan bahwa penerapan Anda sesuai dengan kebijakan program AdSense umum, serta kebijakan khusus produk. Namun, ada beberapa praktik terbaik sederhana yang disarankan untuk Anda ikuti guna memaksimalkan penghasilan akun. Terutama sekali:
1. Tempatkan Iklan di posisi Judul/di samping judul
2. Tempatkan di tengah artikel
3. Di dalam postingan setelah paragraf pertama
4. Di bawah Artikel
5. Gunakan metadata yang akurat


Unit Iklan Google Adsense yang Banyak Digunakan 

1. Iklan Text
Sama seperti namanya, iklan ini bentuknya hampir menyerupai link text pada umumnya yang biasa digunakan untuk menampilkan tautan menuju sumber informasi terkait. Walaupun kurang modern, iklan jenis ini justru banyak diminati karen tidak memakan banyak ruang serta memiliki persentasi CTR lumayan tinggi.

2. Iklan Responsive
Rasanya tak perlu dijelaskan lagi mengapa iklan responsive layak untuk masuk dalam daftar unit iklan Google Adsense terbaik pada kesempatan kali ini. Di era mobile ukuran iklan jenis ini mampu menyesuaikan dengan kondisi luas layar maupun sistem operasi. Alhasil, user experience tidak akan terganggu dengan besar kecilnya banner iklan yang dipasang.

3. Iklan In Article
Seiring dengan perkembangan jaman, Google terus berupaya dalam menghadirkan inovasi di setiap produk mereka. Salah satunya yakni inovasi iklan In Article di Google Adsense yang bentuknya sangat dinamis menyesuaikan dengan dimensi perangkat yang digunakan. Posisinya yang berada di antara konten juga membuat iklan ini ramah terhadap klik.

 Penutup
Tips penempatan iklan Google Adsense terbaik yang menurut kami paling efektif untuk menarik banyak klik. Dengan berbekal penempatan iklan seperti di atas, hasilnya terbukti lumayan mumpuni lho! Untuk penghasilan perbulan misalnya, biasanya sudah lebih dari cukup untuk sekedar bayar sewa hosting murah atau traktir makan teman. Meski begitu, performa CPC dan CTR tiap-tiap pemain Google Adsense tentu tidak bisa dipukul sama rata. Pasalnya, angka BID tertinggi masing-masing nice blog juga memiliki pengaruh signifikan selain posisi penempatan iklan yang dibuat secara optimal. Bagaimana menurut Anda? Tertarik untuk mempraktekkan ilmu di atas? Atau jusru ada pertannyaan lain yang ingin disampaikan?

Read More »
08 July | 9komentar

Memaksimalkan Pengajaran dengan ChatGPT

Peserta Diklat kelas B

Baru saja menyelesaikan Diklat Fasilitator Pembelajaran Digital Menengah di BPSDMD Semarang (17-18 Desember 2025), saya merasa ada banyak ilmu 'daging' yang sayang jika hanya disimpan sendiri. Artikel kali ini akan mengulas poin-poin utama dari diklat tersebut, mulai dari cara menyusun konten digital yang menarik hingga tips menjadi fasilitator yang komunikatif bersama Mbak Astrid (saya panggil Mbak karena masih sangat muda) di ruang kelas virtual maupun hybrid. dimulai di hari pertama kegiatan membahas tentang :
  • Mengidentifikasi fitur-fitur aplikasi Chat Bot 
  • Menggunakan aplikasi Chat Bot
Pada pembahasan kali ini terkait dengan salah satu aplikasi chat bot dengan nama ChatGPT.
Di era digital ini, teknologi terus berkembang pesat, menghadirkan berbagai alat inovatif yang dapat membantu kita dalam proses belajar mengajar. Salah satunya adalah ChatGPT, sebuah aplikasi chatbot berbasis kecerdasan buatan yang tengah menjadi perbincangan hangat. ChatGPT bukanlah sekadar "robot" penjawab pertanyaan. Ia adalah asisten virtual cerdas yang mampu memahami, memproses, dan menghasilkan teks layaknya manusia. Bagi dunia pendidikan, khususnya para guru, 
ChatGPT menawarkan potensi luar biasa untuk meningkatkan efisiensi, kreativitas, dan kualitas pengajaran kita.
Banyak yang mengira ChatGPT akan menggantikan peran guru, padahal kenyataannya justru sebaliknya. ChatGPT adalah "asisten super" yang bisa membantu Bapak/Ibu menyiapkan materi berkualitas dalam waktu singkat, sehingga Bapak/Ibu memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa.


Apa itu ChatGPT? 
ChatGPT adalah model bahasa besar yang dikembangkan oleh OpenAI. Ia mampu menjawab pertanyaan, membuat teks kreatif (seperti puisi atau naskah drama), merangkum materi, hingga membantu menyusun rencana pembelajaran (RPP) hanya melalui percakapan teks sederhana.
Kelompok A


Alur Penggunaan ChatGPT untuk Guru Bagi Bapak/Ibu yang baru ingin mencoba, berikut adalah alur mudahnya: 
  1. Akses Situs Resmi: Kunjungi tautan resmi di https://chat.openai.com. Bapak/Ibu bisa masuk menggunakan akun Google (Gmail) agar lebih praktis. 
  2. Berikan Perintah (Prompt): Di kolom bagian bawah, ketikkan apa yang Bapak/Ibu butuhkan. Gunakan bahasa Indonesia yang jelas. 
  3. Evaluasi Jawaban: ChatGPT akan memberikan respon secara instan. Baca kembali hasilnya, lalu sesuaikan atau edit sesuai dengan kurikulum dan kondisi siswa di sekolah. 
  4. Tanya Lebih Lanjut: Jika jawaban kurang lengkap, Bapak/Ibu bisa membalasnya seperti sedang mengobrol, misalnya: "Bisa tolong buatkan versinya yang lebih sederhana untuk anak kelas 4 SD?"

Contoh Penerapan di Ruang Kelas 
  • Bapak/Ibu bisa menggunakan ChatGPT untuk berbagai kebutuhan praktis, seperti: 
  • Membuat Soal Ujian: "Buatkan 10 soal pilihan ganda tentang siklus air untuk kelas 5 SD beserta kunci jawabannya." 
  • Menyusun Ide Proyek: "Berikan ide proyek berkelompok yang seru untuk materi sejarah perjuangan kemerdekaan." 
  • Menyusun RPP: "Bantu saya membuat draf RPP satu lembar untuk materi Pancasila." 


Visualisasi: Guru dan Teknologi AI 
Penggunaan ChatGPT sangat cocok dilakukan saat Bapak/Ibu sedang merencanakan materi di meja guru atau saat memberikan tutorial singkat kepada siswa di depan kelas menggunakan layar proyektor.
Tips Penting untuk Guru Walaupun ChatGPT sangat pintar, ingatlah bahwa Bapak/Ibu adalah kendali utamanya. 
  • Verifikasi Data: ChatGPT terkadang bisa memberikan informasi yang kurang akurat. Selalu cek kembali fakta sejarah atau rumus yang diberikan. 
  • Sentuhan Manusia: ChatGPT memberikan data, tapi Bapak/Ibu yang memberikan empati dan pemahaman karakter kepada siswa.
Artikel berikutnya di hari kedua.

Read More »
20 December | 0komentar

Media Elearning Sebagai Alat Bantu



Media apabila dipahami secara garis besar adalah sebagai manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat seseorang/siswa mampu memperoleh pengetahuan,keterampilan dan sikap (Gerlach & Ely dalam Arsyad, 2009). Dari pengertian media diatas menempatkan guru, orang tua siswa, buku teks, lingkungan bermain, dan lingkungan sekolah sebagai sebuah media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses,dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Media dapat juga diartikan sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan informasi Association of Education and Communication Technology (AECT) (dalam Sadiman, dkk., 2006). Pendapat lain diberikan oleh Gagne (dalam Sadiman, dkk., 2006) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Pendapat Gagne diperkuat oleh Briggs (dalam Sadiman, dkk., 2006) yang berpendapat bahwa media segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
Dalam awal perkembanganya, internet melayani dua hal yaitu sebagai jaringan komunitas militer yang ampuh dan sebagai sistem komunikasi percobaan dalam komunitas akademik, yang tujuanya adalah untuk merangsang para peneliti.Dan untuk saat ini, dalam dunia akademik atau pendidikan sudah terkenal istilah virtual university, cyber-gurus, cyber-education, digital campus, cyber-campus, cyberary, cyber-research.

Penulis Sebagai Juara 2 Tk.Provinsi Lomba Media Pembelajaran Berbasis Website

E-learning merupakan sistem yang memanfaatkan beberapa teknologi,yang pada dasarnya memberikan seperangkat alat bantu (tools) kepada pendidik untuk menciptakan dan mengelola situs web (web site) pembelajaran yang diakses dari berbagai tempat di seluruh dunia oleh peserta didik dengan koneksi internet.oleh karena itu E-learning sangat membantu pendidik untuk menciptakan mekanisme pembelajaran online yang efektif (Dougiamas, 2006).Pendapat di atas diperkuat oleh Cisco (dalam Suyanto, 2005) sebagai berikut:
Pertama, e-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi,pendidikan, pelatihan secara on-line. Kedua, e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi. Ketiga, e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. Keempat, Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar content dan alat penyampai dengan gaya belajar, akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik.
Istilah blog adalah campuran dari istilah web dan log, yang mengarah ke web log, weblog, dan akhirnya blog. Authoring blog, memelihara sebuah blog atau menambahkan artikel ke blog yang ada disebut blogging. Artikel individu pada sebuah blog disebut "posting blog," "posting" atau "masukan". Seseorang yang posting entri-entri ini disebut blogger (Huette, 2006). Scot dalam (Zake, 2010) memberikan pengertian tentang sebuah blog adalah situs di mana entri yang ditulis dan ditampilkan dalam urutan kronologis terbalik.

Juara 3 Lomba Blog Sebagai Media Ajar Tk.Provinsi

Blog diperkenalkan pada pertengahan tahun 1990an (Farmer, Yue, & Brooks dalam Zake, 2010) dan mudah digunakan karena pengguna tidak perlu pengetahuan teknis canggih untuk menciptakan atau mempertahankan mereka (Bartlett-Bragg dalam Zake, 2010). Isi blog umumnya dibaca publik, mengirim komentar, berinteraksi asynchronous terbatas. Penelitian telah menunjukkan bahwa, antara lain, orang di masyarakat termotivasi untuk menulis blog untuk mengekspresikan diri dan karena blog merupakan wadah untuk mencurahkan pikiran dan perasaan dan cara berpikir dengan menulis (Nardi et al.) (dalam Zagal & Bruckman, 2011).

Sebelum memulai kelas dengan menggunakan media blogging, Huette (2006) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
a) Mulai blog Anda sendiri pada setiap topik yang Anda pilih dan update secara teratur.
b) Memulai sebuah blog kelas dengan pengumuman sederhana, tugas pekerjaan rumah, dan eksternal link.
c) rekomendasikan siswa untuk membaca blog lain yang terkait. Mulailah dengan menyediakan daftar terkait subjek dan meninjau kegiatan siswa.
d) Sarankan siswa untuk menanggapi posting di blog yang sudah dikembangkan.
e) Tugaskan siswa membuat dan memelihara sebuah blog kelompok.
f) Tugaskan setiap siswa untuk memulai dan mempertahankan blog mereka sendiri pada subjek minat mereka yang berhubungan dengan kelas.

Huette (2006) juga memaparkan keuntungan dari penggunaan blog di ruang kelas antara lain:
1) dapat mempromosikan berpikir kritis dan analitis,
2) dapat men-dorong Kreatif, berpikir intuitif dan asosiasional,
3) dapat Mendorongberpikir analogis,
4) potensi peningkatan akses dan paparan untuk informasi berkualitas, dan 5) kombinasi interaksi soliter dan sosial.

Tentang teme/template blog terserah kepada guru untuk menggunakannya

Read More »
11 December | 0komentar