Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by date for query portofolio. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query portofolio. Sort by relevance Show all posts

Create Website By Microsite s.id

Membuat microsite melalui S.id adalah salah satu cara termudah dan tercepat untuk merangkum berbagai link penting (seperti media sosial, toko online, atau portofolio) dalam satu halaman web sederhana. Layanan ini sangat populer bagi para content creator, pebisnis, dan instansi di Indonesia.
Berikut adalah panduan lengkap cara membuat microsite di S.id.
Apa itu Microsite S.id?
Microsite adalah halaman web ringkas yang biasanya diakses melalui satu link bio. S.id menyediakan layanan ini secara gratis dengan fitur-fitur yang cukup lengkap, mulai dari kustomisasi desain hingga analisis statistik pengunjung. Mengapa Menggunakan S.id?
Kecepatan: Proses pembuatan hanya butuh waktu kurang dari 5 menit. Lokal & Cepat: Karena merupakan produk Indonesia, servernya sangat stabil untuk akses dari dalam negeri. Analitik Terpadu: Kamu bisa melihat berapa banyak orang yang mengklik link kamu. Gratis: Fitur dasarnya sudah sangat mumpuni untuk kebutuhan personal maupun bisnis kecil.

 

Langkah-Langkah Membuat Microsite di S.id
1. Pendaftaran dan Login Buka situs resmi S.id. Jika belum punya akun, kamu bisa mendaftar menggunakan alamat email atau langsung login menggunakan akun Google agar lebih praktis. 
2. Memilih Menu Microsite Setelah masuk ke dashboard, pilih menu "Microsite" yang ada di bilah navigasi samping. Klik tombol "Create New" atau "Buat Baru". 
3. Tentukan Nama dan URL Kamu akan diminta memasukkan nama microsite dan menentukan URL unik (misalnya: s.id/namatokoanda). Pastikan nama URL mudah diingat dan relevan dengan brand atau nama kamu. 
4. Memilih Template S.id menyediakan berbagai pilihan template yang menarik. Kamu bisa memilih tema yang sesuai dengan kebutuhan, seperti:
Personal: Untuk portofolio atau CV digital. Business: Untuk jualan produk atau jasa. Social: Untuk merangkum semua media sosial (Instagram, TikTok, YouTube). 
5. Menambahkan Komponen (Link & Konten) Inilah bagian terpenting. Kamu bisa menambahkan berbagai elemen ke dalam halamanmu: Link: Tombol yang mengarah ke website lain. Text: Untuk memberikan deskripsi atau sambutan. Image/Video: Untuk mempercantik tampilan atau menampilkan katalog. Social Media Icons: Ikon khusus untuk menghubungkan akun sosmed secara rapi di bagian bawah atau atas. 
6. Kustomisasi Desain (Appearance) Ganti warna latar belakang (background), jenis font, hingga bentuk tombol agar sesuai dengan identitas visual kamu. Kamu juga bisa mengunggah foto profil atau logo brand. 
7. Publikasi Jika semua sudah sesuai, klik "Publish" atau simpan perubahan. Sekarang, link microsite kamu sudah aktif dan siap dibagikan di bio Instagram, TikTok, atau kartu nama digital.

Tips Agar Microsite Kamu Menarik Gunakan Foto Berkualitas: Foto profil yang jernih meningkatkan kepercayaan pengunjung. Prioritaskan Link Terpenting: Letakkan link yang paling ingin kamu klik oleh orang lain di posisi paling atas. Update Secara Berkala: Pastikan link yang kamu pasang tidak mati (broken link) dan selalu perbarui jika ada promo atau konten baru.

Read More »
25 December | 0komentar

Dari Denah Lokal ke Komunikasi Global

Desain Teknis dan Komunikasi berbahasa Inggris

Kolaborasi Pembelajaran Berbasis Proyek: Bahasa Inggris dan Perencanaan Rumah Tipe 36 Kolaborasi antar mata pelajaran merupakan strategi efektif untuk meningkatkan relevansi dan kontekstualisasi pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Salah satu bentuk kolaborasi yang sangat aplikatif adalah mengintegrasikan mata pelajaran Bahasa Inggris dengan mata pelajaran kejuruan, seperti Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), khususnya dalam proyek Perencanaan Rumah Tipe 36.

🎯 Tujuan Kolaborasi
Proyek kolaboratif ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara teori bahasa dan aplikasi kejuruan di dunia nyata.
  • Meningkatkan Kompetensi Bahasa Inggris Profesional: Siswa tidak hanya belajar tata bahasa, tetapi juga menguasai kosakata teknis (technical terms), frasa (phrases), dan struktur kalimat yang relevan dengan bidang konstruksi dan desain (misalnya, specifications, layout, blueprint).
  • Mengembangkan Keterampilan Komunikasi: Melatih siswa untuk mempresentasikan dan menjelaskan hasil desain mereka secara profesional menggunakan Bahasa Inggris, sebuah keterampilan penting untuk kolaborasi internasional atau bekerja di perusahaan multinasional.
  • Penguatan Pemahaman Kejuruan: Siswa akan lebih mendalami konsep perencanaan rumah karena harus mampu mendeskripsikannya kepada audiens berbahasa Inggris.
📝 Tahapan Proyek Kolaboratif
Proyek ini dilaksanakan secara bertahap, menggabungkan proses desain teknis dan komunikasi berbahasa Inggris.
1. Perencanaan dan Desain Rumah Tipe 36 (Mata Pelajaran DPIB)
Siswa mulai dengan tugas utama kejuruan: membuat desain lengkap Rumah Tipe 36. Ini mencakup:
Gambar Kerja (Denah, Tampak, Potongan). Rencana Anggaran Biaya (RAB). Spesifikasi Material (Material Specifications). 
2. Pengembangan Konten Bahasa Inggris (Mata Pelajaran Bahasa Inggris)
Setelah desain selesai, guru Bahasa Inggris akan membimbing siswa untuk menyusun materi presentasi dan dokumen pendukung dalam Bahasa Inggris. Materi yang dibuat meliputi:
Glossary of Terms: Daftar istilah teknis (misalnya, reinforced concrete, roof truss, plastering) dalam Bahasa Inggris. Describing the Layout: Latihan menulis dan berbicara untuk menjelaskan denah rumah (The living room is adjacent to the dining area...). Presenting the Specifications: Menyusun spesifikasi material (The floor will use 40x40 cm ceramic tiles with grade A quality.) 

3. Output Proyek dan Penilaian
Output akhir proyek ini bersifat ganda:
Produk Teknis: Set gambar kerja dan RAB Rumah Tipe 36.
Produk Bahasa:
"Project Proposal" atau ringkasan proyek (tertulis dalam Bahasa Inggris).
"Project Presentation" (presentasi lisan) di mana siswa mempresentasikan hasil perencanaan mereka di hadapan penguji (guru kejuruan dan guru Bahasa Inggris) menggunakan Bahasa Inggris. 

 📈 Manfaat dan Dampak.

Kolaborasi ini menghasilkan dampak positif yang signifikan:
  • Pembelajaran Otentik: Siswa melihat bahwa Bahasa Inggris bukan hanya teori di kelas, tetapi alat komunikasi esensial dalam karier mereka. 
  • Keterampilan Abad ke-21: Proyek ini melatih kolaborasi, komunikasi (lisan dan tulisan), dan pemecahan masalah (bagaimana menyampaikan ide teknis secara jelas). 
  • Portofolio Profesional: Siswa memiliki portofolio yang tidak hanya berisi gambar teknis, tetapi juga kemampuan mempresentasikan proyek secara internasional.
Melalui proyek Rumah Tipe 36 ini, siswa SMK tidak hanya lulus sebagai perencana yang kompeten, tetapi juga sebagai profesional yang siap bersaing secara global dengan kemampuan komunikasi Bahasa Inggris yang mumpuni.
Gambar : By AI

Read More »
11 November | 0komentar

Saat Tidur Jadi Metafora

Tidur Adalah Usaha Termudah Menghargai Waktu Libur: Sebuah Renungan tentang Pendidikan dan Apresiasi Judul di atas mungkin terdengar kontradiktif, bahkan mungkin mengundang senyum. Bagaimana bisa tidur dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap waktu libur? Bukankah seharusnya waktu luang diisi dengan aktivitas produktif, pengembangan diri, atau petualangan seru? Namun, di balik judul yang sekilas nyeleneh ini, tersembunyi sebuah refleksi mendalam tentang nilai sesungguhnya dari waktu istirahat dan, yang lebih penting lagi, bagaimana kita sebagai masyarakat dan institusi memberikan apresiasi terhadap keberhasilan. 
Meskipun secara harfiah saya tidak akan membahas detail tidur di hari libur kali ini, frasa "tidur adalah usaha termudah menghargai waktu libur" justru menjadi metafora sempurna untuk mengajak kita merenungkan: apakah kita sudah cukup menghargai proses dan beragam bentuk keberhasilan, ataukah kita terlalu sibuk mengejar validasi eksternal yang seragam dan bersifat permukaan? Pendidikan: Mencetak Manusia atau Portofolio? 
Pertanyaan yang terus bergelora dalam benak kita adalah: "Sebenarnya sekolah ini tempat mendidik manusia… atau mendidik portofolio?" Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Setiap musim penerimaan siswa baru, pemandangan yang lazim kita jumpai adalah semaraknya spanduk-spanduk besar di depan sekolah. "Selamat kepada Ananda Budi, diterima di UGM. Terima kasih telah mengharumkan nama sekolah." Begitu bunyi salah satu contohnya, lengkap dengan foto siswa yang tersenyum bangga mengenakan jaket almamater kampus impian. 
Ucapan selamat bertebaran di media sosial, kepala sekolah ikut mengunggah, dan alumni pun turut bangga. Tentu saja, kebahagiaan ini patut dirayakan. Siapa yang tidak bangga melihat muridnya sukses menembus perguruan tinggi top? Namun, di tengah euforia itu, kerap kali ada ganjalan yang mengusik: bagaimana dengan "Siti"? Siti, mungkin, diterima di STIE Tri Dharma, sebuah universitas swasta yang lokasinya agak masuk gang, tidak sepopuler UGM. Ia mendaftar sendiri, menyiapkan berkas di sela-sela membantu orang tuanya menjaga warung. 
Tidak ada spanduk untuk Siti. Tidak ada ucapan "terima kasih telah mengharumkan nama sekolah." Keberhasilannya seolah lenyap dalam bayang-bayang prestasi yang "layak dipajang." Ini memicu pertanyaan krusial: jangan-jangan selama ini yang kita apresiasi itu bukan perjuangan, tapi branding? Bahkan, ironisnya, fenomena ini semakin tervalidasi dengan maraknya seminar tentang branding sekolah. Seolah-olah, nilai sebuah institusi pendidikan diukur dari seberapa banyak "produk unggulan" yang bisa dipamerkan di katalog prestasinya. 
Ketika Apresiasi Hanya untuk yang Terpilih Maka, kembali kita merenung: Apakah kita benar-benar sedang mendidik manusia sesuai versi terbaik dirinya? Atau kita sedang mencetak ‘produk unggulan’ buat katalog prestasi institusi? Prestasi memang penting, itu tidak bisa dimungkiri. Namun, apakah hanya mereka yang diterima di perguruan tinggi negeri favorit yang disebut "berhasil"? 
Bagaimana dengan mereka yang melanjutkan ke politeknik kecil, atau bahkan memilih untuk bekerja terlebih dahulu demi bisa melanjutkan kuliah tahun depan? Apakah perjuangan mereka tidak layak disebut sebagai hasil pendidikan juga? Apakah ketekunan dan kerja keras mereka dalam menghadapi realitas hidup tidak pantas mendapatkan apresiasi? 
Seringkali, tanpa disadari, kita sedang diam-diam ikut menyaring manusia dengan standar yang kita anggap ‘layak ditampilkan di spanduk’. Seolah-olah, ada kriteria tidak tertulis tentang "alumni sukses" yang hanya mencakup mereka dengan label-label bergengsi. Yang lainnya? Ya, mereka memang alumni juga, tapi "bukan yang itu lho… yang itu…" Sebuah pengabaian halus yang dapat melukai semangat dan memupus rasa bangga. 
Pendidikan Sejati Melampaui Baliho Penulis artikel ini teringat pengalamannya sendiri: masuk universitas dengan jurusan Pendidikan Teknik Mesin yang kala itu tidak termasuk kategori favorit. Namun, dari sana ia tetap bisa tumbuh, belajar, dan menjadi manusia yang utuh. Ia kemudian menjadi seorang guru, dan dari sanalah ia menyadari: jangan-jangan sekolah memang lupa, bahwa menjadi manusia itu bukan perlombaan banner. 
Menjadi manusia berarti tumbuh, berkembang, dan memberikan kontribusi dalam berbagai bentuk, terlepas dari label institusi atau popularitas. Pendidikan sejati seharusnya tentang memfasilitasi setiap individu untuk mencapai potensi terbaiknya, bukan sekadar mencetak daftar prestasi yang seragam. Kamu Sudah Masuk Hati Kami Maka, melalui artikel ini, sebuah pesan penting ingin disampaikan: Untuk kamu yang diterima di mana pun – baik di perguruan tinggi negeri, swasta, akademi, bahkan "sekolah kehidupan" itu sendiri – ketahuilah, kamu juga bagian dari perjuangan kami. 
Perjuanganmu, usahamu, dan semua tetes keringatmu dalam meraih mimpi adalah bagian tak terpisahkan dari misi pendidikan. Jika sekolah ini benar-benar mendidik manusia, maka tak satupun perjuanganmu akan luput dari apresiasi. Mungkin namamu tidak terpampang di baliho besar di pinggir jalan, namun percayalah, kamu sudah masuk hati kami. 
Yang terpenting dari segalanya adalah: teruslah bertumbuh. Teruslah belajar, beradaptasi, dan berkembang, dengan atau tanpa spanduk ucapan selamat. Karena pada akhirnya, nilai sejati seorang manusia tidak diukur dari seberapa megah pengakuan eksternal yang ia dapatkan, melainkan dari seberapa besar ia mampu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, dan seberapa besar dampaknya bagi dunia di sekitarnya.
Sumber : Grup WA GSM Kab. Purbalingga.

Read More »
29 June | 0komentar

Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam

 Materi Pembelajaran Mendalam




Pendidikan terus berkembang, dan di era yang serba cepat ini, tuntutan terhadap kualitas lulusan semakin tinggi. Bukan hanya sekadar menguasai materi, lulusan kini diharapkan memiliki kompetensi holistik yang relevan dengan tantangan masa depan. Di sinilah konsep pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi krusial. Pembelajaran mendalam adalah pendekatan yang mendorong peserta didik untuk tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami konsep secara mendalam, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan pengetahuannya dalam konteks nyata. Artikel ini akan membahas berbagai dimensi penting dalam kerangka pembelajaran mendalam.

Dimensi Profil Lulusan
Profil lulusan dalam kerangka pembelajaran mendalam jauh melampaui sekadar nilai akademis. Ada beberapa dimensi kunci yang menjadi fokus, yaitu: Penguasaan Konsep Mendalam: Lulusan tidak hanya tahu "apa", tetapi juga "mengapa" dan "bagaimana". Mereka mampu menjelaskan konsep-konsep kompleks dengan bahasa mereka sendiri dan menghubungkannya dengan berbagai ide. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah: Lulusan mampu menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, mengidentifikasi masalah, dan merumuskan solusi inovatif. Mereka tidak takut menghadapi tantangan dan mampu mencari berbagai perspektif. Kolaborasi dan Komunikasi Efektif: Di dunia yang semakin terhubung, kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi secara efektif adalah fundamental. Lulusan diharapkan mampu berinteraksi, berbagi ide, dan membangun konsensus dengan beragam individu. Kreativitas dan Inovasi: Lulusan didorong untuk berpikir di luar kotak, menghasilkan ide-ide baru, dan menerapkan solusi kreatif untuk masalah yang ada. Mereka tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga menciptakan. Karakter dan Kewarganegaraan Global: Pembelajaran mendalam juga menekankan pada pengembangan integritas, empati, ketahanan, dan tanggung jawab sosial. Lulusan diharapkan menjadi warga negara yang sadar dan berkontribusi positif bagi masyarakat global. Literasi Digital dan Belajar Sepanjang Hayat: Di era informasi, kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dan terus belajar sepanjang hidup adalah suatu keharusan. Lulusan diharapkan proaktif dalam mengembangkan diri dan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Prinsip Pembelajaran
Untuk mencapai profil lulusan yang diinginkan, pembelajaran mendalam didasarkan pada beberapa prinsip utama: Fokus pada Makna dan Relevansi: Pembelajaran harus bermakna dan relevan bagi peserta didik. Mereka harus melihat hubungan antara apa yang mereka pelajari dengan kehidupan mereka dan dunia nyata. Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik: Peserta didik bukan objek pasif, melainkan aktor aktif dalam proses pembelajaran. Mereka didorong untuk mengambil kepemilikan atas pembelajaran mereka sendiri. Penekanan pada Pemahaman Konseptual: Bukan sekadar menghafal fakta, tetapi membangun pemahaman yang kokoh tentang konsep-konsep dasar dan hubungan di antaranya. Pembelajaran Berbasis Proyek dan Masalah Nyata: Peserta didik terlibat dalam proyek-proyek yang menantang dan memecahkan masalah-masalah nyata, yang menuntut mereka untuk mengaplikasikan berbagai pengetahuan dan keterampilan. Lingkungan Belajar yang Mendukung Eksplorasi dan Risiko: Guru menciptakan suasana yang aman di mana peserta didik merasa nyaman untuk bertanya, bereksperimen, dan bahkan membuat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Umpan Balik yang Konstruktif dan Berkelanjutan: Umpan balik tidak hanya tentang nilai, tetapi juga tentang memberikan arahan yang jelas untuk perbaikan dan pengembangan.

Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar dalam kerangka pembelajaran mendalam dirancang untuk memfasilitasi pencapaian profil lulusan dan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran. Ini mencakup: Pembelajaran Kolaboratif: Peserta didik sering bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah, melakukan proyek, dan saling belajar. Pembelajaran Berbasis Inkuiri: Peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan, menyelidiki, dan menemukan jawaban sendiri, daripada hanya menerima informasi dari guru. Pemanfaatan Teknologi untuk Pembelajaran Aktif: Teknologi digunakan sebagai alat untuk eksplorasi, kreasi, dan kolaborasi, bukan hanya sebagai sumber informasi pasif. Asesmen Formatif yang Berkelanjutan: Asesmen tidak hanya untuk menilai hasil akhir, tetapi juga untuk memantau kemajuan peserta didik dan memberikan umpan balik yang relevan selama proses pembelajaran. Koneksi dengan Dunia Luar: Pembelajaran dihubungkan dengan komunitas, industri, dan isu-isu global melalui kunjungan lapangan, narasumber ahli, atau proyek-proyek yang melibatkan pihak eksternal. Ruang untuk Refleksi dan Metakognisi: Peserta didik diajak untuk merenungkan proses belajar mereka sendiri, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, serta merencanakan langkah selanjutnya.

Kerangka Pembelajaran (Struktur Implementasi)
Kerangka pembelajaran mendalam tidak hanya berhenti pada filosofi, tetapi juga membutuhkan struktur implementasi yang jelas. Ini bisa mencakup: Desain Kurikulum yang Fleksibel dan Terintegrasi: Kurikulum dirancang untuk memungkinkan koneksi antar-mata pelajaran dan memberikan ruang bagi pembelajaran yang berpusat pada minat peserta didik. Pengembangan Profesional Guru yang Berkelanjutan: Guru membutuhkan pelatihan dan dukungan untuk mengembangkan kapasitas mereka dalam memfasilitasi pembelajaran mendalam. Lingkungan Fisik yang Mendukung: Ruang kelas dan fasilitas lainnya dirancang untuk memfasilitasi kolaborasi, eksplorasi, dan kreativitas. Kemitraan dengan Orang Tua dan Komunitas: Orang tua dan komunitas menjadi mitra dalam mendukung proses pembelajaran mendalam, menciptakan ekosistem yang terpadu. Sistem Asesmen yang Komprehensif: Mengukur tidak hanya pengetahuan, tetapi juga keterampilan, sikap, dan karakter sesuai dengan dimensi profil lulusan. Ini bisa melibatkan portofolio, proyek, dan observasi. Budaya Sekolah yang Inovatif: Seluruh ekosistem sekolah mendorong eksperimen, pembelajaran dari kesalahan, dan suasana yang mendukung pertumbuhan bagi semua warganya. Dengan mengimplementasikan kerangka pembelajaran mendalam secara komprehensif, institusi pendidikan dapat menciptakan lingkungan yang memberdayakan peserta didik untuk menjadi individu yang kompeten, berdaya saing, dan siap menghadapi kompleksitas dunia abad ke-21. Ini bukan hanya tentang mengisi kepala dengan informasi, tetapi juga tentang membentuk pribadi yang mampu berpikir, berkreasi, berkolaborasi, dan berkontribusi secara bermakna.

Read More »
23 June | 0komentar

Ujian Nasional Kembali di 2026: Tantangan dan Implikasinya bagi Pendidikan

Pemerintah Indonesia dikabarkan tengah merencanakan kembali diadakannya Ujian Nasional (UN) pada tahun 2026 setelah sebelumnya dihapus pada 2021 dan digantikan dengan Asesmen Nasional (AN). Keputusan ini menuai beragam tanggapan dari berbagai pihak, mulai dari pendidik, siswa, hingga pemerhati pendidikan. Apakah kembalinya Ujian Nasional akan menjadi langkah maju dalam mengevaluasi mutu pendidikan, atau justru menjadi kemunduran bagi sistem pendidikan Indonesia? 

Penghapusan Ujian Nasional Pada tahun 2021
Pemerintah menghapuskan Ujian Nasional dengan alasan bahwa ujian tersebut tidak lagi relevan sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan pendidikan. Sebagai gantinya, Asesmen Nasional (AN) diperkenalkan dengan pendekatan yang lebih komprehensif dalam mengukur kualitas pendidikan melalui tiga komponen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. 
AN lebih berfokus pada pemetaan mutu pendidikan secara keseluruhan dibandingkan dengan menilai prestasi individu siswa. Alasan Kembalinya Ujian Nasional Pemerintah berpendapat bahwa dengan kembalinya Ujian Nasional, sistem evaluasi pendidikan akan lebih objektif dan dapat digunakan sebagai standar nasional. 

Beberapa alasan utama yang mendasari keputusan ini antara lain: 
Standarisasi Evaluasi Pendidikan: UN dianggap dapat memberikan ukuran baku terhadap kompetensi akademik siswa di seluruh Indonesia. 
Motivasi Siswa: UN diyakini dapat meningkatkan motivasi belajar siswa karena adanya tolok ukur yang jelas. 
Pemantauan Kualitas Pendidikan: Dengan UN, pemerintah dapat lebih mudah mengukur capaian pendidikan di berbagai daerah secara lebih merata. 

Kontroversi dan Tantangan 
Meski memiliki tujuan yang jelas, rencana ini juga menghadapi banyak tantangan dan kritik, antara lain: Kembali ke Pola Lama yang Tekanan Tinggi: Salah satu alasan utama penghapusan UN adalah karena tekanan berlebih yang dialami siswa. Banyak pihak khawatir kembalinya UN akan menghidupkan kembali budaya belajar yang berorientasi pada ujian semata. Ketimpangan Pendidikan: Indonesia memiliki ketimpangan kualitas pendidikan yang cukup tinggi antar daerah. Jika UN dijadikan sebagai tolok ukur utama, daerah dengan fasilitas pendidikan yang kurang memadai akan mengalami kesulitan. 

Efektivitas Asesmen Nasional: 
Banyak kalangan menilai bahwa Asesmen Nasional lebih relevan dalam mengevaluasi pendidikan secara menyeluruh dibandingkan UN yang hanya menilai siswa secara individu. Alternatif dan Solusi Jika pemerintah tetap ingin menerapkan Ujian Nasional, diperlukan pendekatan yang lebih fleksibel agar tidak mengulang kesalahan di masa lalu. Beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan antara lain: Mengombinasikan UN dengan metode asesmen lain, seperti portofolio dan proyek berbasis keterampilan. Menjadikan UN sebagai bagian dari evaluasi, bukan satu-satunya penentu kelulusan. Meningkatkan kualitas pendidikan secara merata sebelum menerapkan kembali sistem ujian nasional. 
Rencana kembalinya Ujian Nasional di 2026 menjadi perdebatan yang menarik dalam dunia pendidikan Indonesia. Di satu sisi, UN dapat menjadi alat untuk menstandarisasi mutu pendidikan nasional, tetapi di sisi lain, ada risiko mengembalikan sistem yang sarat tekanan dan kurang memperhatikan kesenjangan pendidikan. Oleh karena itu, kebijakan ini perlu dikaji lebih mendalam dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kesiapan siswa, guru, dan infrastruktur pendidikan di seluruh Indonesia.

Read More »
14 February | 0komentar

Metode Penilaian : Portofolio



Penilaian portofolio merupakan pendekatan yang relatif baru dan belum banyak digunakan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Penilaian portofolio dapat digunakan untuk tujuan formatif dan sumatif. Di beberapa negara, portofolio telah digunakan dalam dunia pendidikan secara luas, baik untuk penilaian di kelas, daerah, maupun untuk penilaian secara nasional.Istilah portofolio pertama kali dipergunakan oleh kalangan fotografer dan seniman untuk menunjukkan hasil kerja dalam suatu periode waktu tertentu. Melalui portofolio seorang fotografer dapat menunjukkan prospektif pekerjaan kepada pelanggan dengan menunjukkan koleksi pekerjaan yang dimilikinya. Dalam dunia kerja, secara umum portofolio dimaknai sebagai suatu kumpulan atau berkas pilihan yang dapat memberikan informasi tentang performa atau kemampuan individu. 
Dalam dunia pendidikan, portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa dari pengalaman belajarnya selama periode waktu tertentu. Terdapat berbagai macam portofolio. Portofolio dapat berbeda dari segi isi, apakah seluruh hasil kerja siswa ataukah hasil kerja tertentu saja. Selain itu, portofolio dapat berbeda dari segi fungsi, apakah untuk penilaian formatif atau sumatif. Untuk penilaian formatif atau diagnostik, pada umumnya hasil kerja yang dimasukkan semua hasil kerja siswa baik yang masih berupa draf atau setengah jadi maupun hasil akhir. Untuk sumatif, tidak semua hasil dimasukkan, hasil kerja yang relevan untuk penilaian saja yang dimasukkan dalam portofolio.Sesuai dengan fungsinya portofolio juga berbeda dari segi penilaiannya. 
Untuk fungsi formatif atau diagnostik, portofolio disusun untuk memperoleh informasi mengenai kelebihan dan kekurangan siswa, memperoleh gambaran perkembangan siswa pada satu periode tertentu, menjadi alat refleksi siswa dan sebagai dasar pemberian umpan balik oleh guru. Oleh karena itu untuk fungsi formatif, kriteria penilaian tidak perlu didefinisikan secara ketat karena fungsinya untuk melihat perkembangan capaian siswa dibandingkan dengan target kompetensi pada kurun waktu tertentu. Penilaian dengan fungsi sumatif bertujuan untuk memberi nilai atas capaian hasil kerja siswa, seringkali hasil penilaian sumatif dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan yang mempunyai dampak langsung kepada siswa, seperti sebagai dasar penentuan kelulusan atau alat seleksi. Untuk penilaian sumatif, terutama yang bersifat high stakes, validitas danreliabilitas atau konsistensi penilaian merupakan hal penting. 
Oleh karena itu kriteria penilaian yang eksplisit dan jelas menjadi hal yang penting. Secara umum portofolio dapat dibedakan menjadi lima bentuk, yaitu portofolio ideal (ideal portfolio), portofolio pilihan (show portfolio), portofolio dokumentasi (documentary portfolio), portofolio evaluasi (evaluation portfolio), dan portofolio kelas (classroom portfolio) (Nitko, 2000). Sedangkan Fosters dan Masters (1996) membedakan penilaian portofolio kedalam tiga kelompok, yaitu: portofolio kerja (working portfolio), portofolio dokumentasi (documentary portfolio), dan portofolio pilihan (show portfolio). Bentuk portofolio tersebut memiliki deskripsi dan penekanan yang berbeda satu sama lain. Dalam buku ini, portofolio yang akan dibahas adalah tiga macam portofolio, yaitu: portofolio kerja, portofolio dokumentasi, dan portofolio pilihan.


Read More »
10 July | 0komentar

3.2.a.4.2. Eksplorasi Konsep - Forum Diskusi

Mendidkusikan Aset, potensi sumber daya Sekolah

Tujuan Pembelajaran Khusus: 
  1. CGP dapat memahami potensi sumber daya yang dimiliki lingkungan sekolahnya. 
  2. CGP mengomunikasikan ide, pikiran dan gagasannya dalam forum diskusi asinkronus bersama para CGP lainnya. 
Kegiatan selanjutnya, Bapak/Ibu diminta untuk mengerjakan studi kasus di bawah ini. Hubungkan dengan materi pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis aset, serta Pengembangan Komunitas Berbasis Aset. 
Studi kasus di bawah ini merupakan kejadian yang diambil dari pengalaman guru yang sebenarnya, namun kami mengganti nama guru, sekolah, atau daerah mana kasus ini terjadi.

Studi Kasus 1 
Ibu Lilin adalah salah satu guru di SMP favorit yang selalu diincar oleh para orang tua. Sekolah tersebut juga selalu menduduki peringkat I rerata perolehan nilai UN. Murid-murid begitu kompetitif memperoleh nilai ulangan dan prestasi lainnya, dan dalam keseharian proses belajar mengajar, murid terlihat sangat patuh dan tertib. Bahkan, ada yang bergurau bahwa murid di sekolah favorit tersebut tetap antusias belajar meskipun jam kosong. 
Keadaan berubah semenjak regulasi PPDB Zonasi digulirkan. Ibu Lilin mulai sering marah-marah di kelas karena karakter dan tingkat kepandaian murid-muridnya yang heterogen. Sering terdengar, meja guru digebrak oleh Ibu Lilin karena kondisi kelas yang susah dikendalikan. Apalagi, jika murid-murid tidak kunjung paham terhadap materi pelajaran yang Ibu Lilin jelaskan. Seringkali, begitu keluar dari kelas, raut muka Ibu Lilin merah padam dan kelelahan. Suatu hari, ada laporan berupa foto dari layar telepon genggam yang menunjukkan tulisan tentang Ibu Lilin menjadi bulan-bulanan murid-murid di grup WhatsApp. Beberapa murid dipanggil oleh Guru BK. 
Ibu Lilin juga berada di ruang konseling saat itu, beliau marah besar dan tidak terima penghinaan yang dilontarkan lewat pesan WA murid-muridnya. Bahkan, beliau memboikot, tidak akan mengajar jika murid-murid yang terlibat pembicaraan tersebut tidak dikeluarkan dari sekolah. Kasus tersebut terdengar pula oleh guru-guru sekolah non favorit. “Saya mah sudah biasa menghadapi murid nakal dan bebal.” Kata Bu Siti, yang mengajar di sekolah non favorit. 
Pertanyaan 
Bagaimana Anda melihat kasus Ibu Lilin ini? 
Hubungkan dengan segala aspek yang bisa didiskusikan dari materi modul ini, apa yang akan Anda lakukan apabila Anda sebagai Kepala Sekolah.

Kondisi yang biasanya nyaman dengan siswa pilihan, setelah program zonasi Bu Lilin kaged dengan kondisi anak yang lebih heterogen dari segi kepandaian, disiplin dan tentunya motivasi belajar. Sebagai kepala sekolah harus memberikan pengarahan terhadap kondisi yang ada jadikan itu semua sebagai sebuah tantangan terhadap seberapa besar kompetensi para guru yang sebenarnya.
Bu Lilin lebih fokus dengan kekurangan sehingga mungkin Beliau kurang dapat menggali potensi potensi sebagai aset dan kekuatan yang dimiliki oleh murid muridnya yang sekarang
Kasus 1: Pada Kasus Ibu Lilin terjadi karena adanya perubahan kebijakan politik, dimana pemerintah menggulirkan aturan dalam penerimaan peserta didik baru berbasis zonasi. artinya seluruh calon peserta didik baru dengan jarak tertentu dari rumah ke sekolah sesuai ketentuan juknis PPDB dan kuota yang ada wajib diterima apapun kondisi calon peserta didik tersebut. tentu akan sangat berbeda sekali bagi Ibu Lilin saat melaksanakan pembelajaran dengan peserta didik yang memang kondisi baik fisik maupun psikologisnya sudah siap untuk mengikuti pembelajaran. sebagai kepala sekolah memberikan saran dan masukan kepada Ibu Lilin seharusnya Ibu Lilin menyesuaikan kondisi siswanya dengan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. dengan pembelajaran berdiferensiasi maka Ibu Lilin dapat memenuhi kebutuhan belajar muridnya sesuai dengan kesiapan, kemampuan, profil belajar murid-muridnya dan minat belajar murid.
Studi Kasus 2 
Pak Pupur, guru yang dicintai para muridnya. Cara mengajarnya hebat, ramah, dan menyayangi murid layaknya anak sendiri. Suatu ketika, Dinas Pendidikan daerah membuka lowongan pengawas sekolah. Kepala Sekolah merekomendasi Pak Pupur untuk mendaftar seleksi calon pengawas sekolah. Kepala sekolah memilih Pak Pupur untuk mengikuti seleksi karena selain berkualitas, dewan gurupun begitu antusias mendukung Pak Pupur mengikuti seleksi calon pengawas sekolah. Secara portofolio, penghargaan kejuaraan perlombaan guru, karya alat peraga berbahan limbah yang Pak Pupur ikuti selalu bisa sampai mendapatkan penghargaan lomba tingkat nasional. Kecerdasannya pun juga luar biasa di mana nilai Uji Kompetensi Gurunya (UKG) bisa mencapai nilai 90, Namun, Pak Pupur justru merasa sedih direkomendasikan kepala sekolahnya mengikuti seleksi calon pengawas sekolah.
Pertanyaan 
Bagaimana pendapat Anda mengenai sikap Pupur? 
Apabila Anda sebagai Kepala Sekolah, apa yang bisa Anda lakukan?

Pak Pur memiliki sebuah pilihan untuk pengembangan diri sebagai guru dan berkarir. Meskipun Pak Pur sdh menjadi pengawas, Pak Pur dapat sharing knowledge berkaitan dengan kemampuan Beliau sebagai guru yang dinantikan oleh siswa
Kasus 2: 
Menurut saya dengan sikap Pak Pupur yang merasa sedih saat direkomendasikan untuk mengikuti seleksi calon Pengawas Sekolah kurang tepat. hal ini dikarenakan jika dilihat dari portofolio, nilai hasil uji kompetensi Guru, telah memenuhi syarat. seharusnya pak Pupur bangga dengan rekomendasi Kepala Sekolah tersebut. karena jika nanti dalam seleksi Pengawas sekolah, 
Pak Pupur dapat lolos, maka ia dapat mengimbaskan pengetauhuan dan pengalamanya kepada orang yang lebih banyak. ia akan memiliki modal politik untuk dapat menggerakan kepala sekolah dibawah pengawasanya untuk membuat kebijakan dengan mengakomodir semua masukan dari warga sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

untuk pak pur, menurut saya pak pur mulai menilai dan melihat nilai kebermanfaatan atas dirinya manakala beliau menjadi kepala sekolah atau menjadi guru biasa di sekolah, menurut saya, saat pak pur mampu memberikan kebermanfaatan yang lebih besar saat menjadi kepala sekolah atas poetnsi dirinya maka seleksi tetaplah dicoba demi kebaikan bersama dan kemajuan pendidikan secara khusus dalam sekolah tersebut.
Menurut Saya, Pak Pupur seharusnya dapat memutuskan menerima usulan atau menolaknya. Akan tetapi sebelum memutuskan, harus meminta berbagai pertimbangan yang lebih matang agar keputusan yang diambil oleh dirinya merupakan putusan yang terbaik. Senadainya saya Kepala sekolah saya akan mengajak mengobrol pak Pupur menanyakan baik- baik mengapa bersedih jika di promosikan sebagai calon Pengawas Sekolah? Saya akan memberikan saran kepada pak Pupur untuk memahami bahwa pak Pupur mempunyai aset kekuatan yang sangat bagus sebagai Guru, tetapi akan lebih baik lagi jika aset yang pak Pupur miliki di sebarluaskan atau di tularkan kepada banyak Guru, salah satu cara untuk berbagi adalah menjadi Pengawas sekolah. Karena salah satu tugas pengawas sekolah adalah mengarahkan Guru untuk menjadi Guru yang baik dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Jadi Pak Pupur dapat menjadi salah satu aset penting dalam kemajuan komunitas sekolah.

Read More »
19 June | 0komentar

Lokakarya 1,2,3,4,5,6 dan 7 CGP Angkatan 6 Kab. Purbalingga, Refleksi


Kegiatan lokakarya yang akan dijalani oleh CGP adalah sebanyak 7 (tujuh) kali lokakarya yakni sebagai berikut: 
Lokakarya orientasi yakni lokakarya yang bertujuan untuk CGP mengenal ekosistem belajar di program guru penggerak Calon Guru Penggerak (CGP) memahami program Pendidikan Guru Penggerak (alur, peran tim pendukung, kompetensi lulusan), CGP mengidentifikasi posisi diri pada Kompetensi Guru Penggerak, CGP dapat membuat rencana pengembangan kompetensi diri Guru Penggerak, berikut dukungan yang diperlukan, dan tantangan yang mungkin terjadi, CGP memahami pentingnya membuat portofolio, tahapan dan contoh portofolio sebagai bagian dari pengembangan kompetensi. Indikator keberhasilan dari lokakarya ini adalah Calon Guru Penggerak dapat mengidentifikasi dan menceritakan harapan, kekhawatiran selama program berlangsung, Calon Guru Penggerak dapat mengidentifikasi tantangan yang akan dihadapi dan dukungan yang bisa didapatkan, Calon Guru Penggerak dapat menuliskan rencana pengembangan kompetensi diri

Lokakarya 1 yakni lokakarya yang bertujuan untuk CGP dapat menjelaskan hubungan mindset pemimpin pembelajaran di konteks sekolah, CGP dapat menjelaskan pentingnya dan manfaat komunitas praktisi baik untuk dirinya sendiri dan lingkungan belajar, CGP dapat menjelaskan konsep, filosofi dan prinsip komunitas praktisi sebagai bagian dari peran guru penggerak, CGP dapat mengidentifikasi dan memetakan komunitas praktisi yang sudah ada, CGP dapat mengaitkan komunitas praktisi yang sudah ada untuk mewujudkan filosofi, nilai dan peran guru penggerak. Indikator keberhasilan dari lokakarya ini adalah Calon Guru Penggerak dapat menjelaskan definisi dan manfaat komunitas praktisi, Calon Guru Penggerak dapat mengidentifikasi komunitas praktisi, Calon Guru Penggerak dapat memetakan manfaat dan area kontrol di komunitas praktisi yang sudah ada 

yakni lokakarya yang bertujuan untuk CGP dapat menjelaskan perkembangan/kemajuan prakarsa perubahan level diri (Aksi Nyata modul1.3) serta memperbaharui rencana berdasarkan umpan balik Calon Guru Penggerak lain.
Indikator keberhasilan dari lokakarya ini adalah Calon Guru Penggerak dapat memperbaharui rencana prakarsa perubahan level diri, Calon Guru Penggerak dapat memperbaharui rencana penyampaian penerapan disiplin positif di kelas dan di sekolah, Calon Guru Penggerak dapat menunjukkan kemampuan dalam salah satu bagian praktik keyakinan kelas, Calon Guru Penggerak dapat menunjukkan kemampuan melakukan disiplin positif dengan segitiga restitusi.

yakni lokakarya yang bertujuan untuk Calon Guru Penggerak mampu mendemonstrasikan pemahaman mereka tentang pembelajaran berdiferensiasi, Calon Guru Penggerak mampu mendemonstrasikan pemahaman mereka mengenai mindfulness dan integrasi 5 kompetensi sosial emosional dalam praktik mengajar, Calon Guru Penggerak merencanakan strategi berbagi dengan rekan sejawat mengenai pembelajaran berdiferensiasi dan kompetensi sosial emosional.Indikator keberhasilan dari lokakarya ini adalah Calon Guru Penggerak yakin bahwa pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional memungkinkan guru untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, Calon Guru Penggerak.
penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan kompetensi sosial emosional, Calon Guru Penggerak menghasilkan strategi berbagi pengalaman belajar dengan rekan sejawat mengenai pembelajaran berdiferensiasi dan kompetensi sosial emosional. 

yakni lokakarya yang bertujuan untuk CGP mampu menunjukkan kemampuan coaching yang dimilikinya,CGP mampu mengidentifikasi kekuatan, area pengembangan dan menyusun rencana perbaikan dalam proses pembelajaran yang berpihak pada murid, CGP mampu menunjukkan kemampuan melakukan rangkaian supervisi akademik dengan menggunakan pola pikir coaching.Indikator keberhasilan dari lokakarya ini adalah Peserta mampu menampilkan kemampuan coaching pada rekan sejawatnya menggunakan alur percakapan TIRTA, Peserta mampu menampilkan kemampuan melakukan supervisi akademik dengan pola pikir coaching, Peserta mampu menghasilkan rencana pengembangan diri berdasarkan praktik supervisi akademik 

yakni lokakarya yang bertujuan untuk CGP mampu memaknai data yang diperoleh dalam tahapan B (Buat pertanyaan) dan A (Ambil pelajaran) untuk menjadi informasi dalam merancang fase Gali mimpi.

Tujuan kegiatan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 6 : Lokakarya 6 ini diharapkan calon guru penggerak dapat; 
1. Menghasilkan rencana kerja 1 tahun untuk pengembangan sekolah 
2. Mengidentifikasi kekuatan dirinya yang mendukung program sekolah 
3. Menyusun rencana penguatan kompetensi diri untuk mendukung program sekolah

Kegiatan Lokakarya 7 Calon Guru Penggerak (CGP) angkatan 6 dengan tema kegiatan Panen Raya Hasil Belajar dilaksanakan pada 28 s.d. 29 April 2023 bertempat di SMA Negeri 1 Padamara, Purbalingga. Kegiatan ini diikuti oleh 119 Calon Guru Penggerak angkatan 6. Rangkaian kegiatan lokakarya 7 dimulai pada Jumat 28 April 2023.

Read More »
03 April | 0komentar

Pendampingan Individu 1


Pendampingan 1 dilaksanakan tanggal 27 Oktober 2022 bersama Pengajar Praktik Bp. Muhammad Syaefurohman. Fokus pendampingan individu-1 pada Pendidikan Guru Penggerak terdiri dari hal yang berkaitan dengan tugas-tugas CGP. Kegiatannya meliputi tindak lanjut hasil belajar, tindak lanjut hasil lokakarya orientasi, pembuatan kerangka portofolio digital serta posisi diri dan rencana pengembangan kompetensi. 
Pada kegiatan ini Pengajar Praktik (PP) melalukan pendampingan dengan PP berusaha memberikan pertanyaan terbuka terkait permasalahan yang dihadapi oleh CGP. 
  • Apa yang mendorong Anda melakukan perubahan tersebut?
  • Bagaimana respons peserta didik Anda atas perubahan yang dilakukan? 
  • Bagaimana Anda memandang respons tersebut?
  • Apa hal yang sudah baik dari perubahan tersebut? 
  • Apa hal yang akan Anda lakukan/ rencanakan setelah pendampingan ini terkait perubahan praktik pembelajaran di kelas sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.
Pada akhir coaching, CGP mampu merumuskan sendiri solusi dari permasalahan yang dihadapinya. Secara umum aktivitas pembelajaran selama pendampingan individu-1 berjalan lancar. Hal ini karena adanya komunikasi awal dengan CGP sebelum PP melakukan pendampingan. Pada tahap awal pendampingan, pendamping terlebih dahulu menanyakan kabar. Setelah itu menyampaikan tujuan dan fokus pendampingan. Tidak lupa meminta CGP menyiapkan dokumen yang dibutuhkan dalam pendampingan. 
Dokumen tersebut meliputi Lembar Kerja 2 Posisi Diri, Kerangka Portofolio Digital, dan dokumentasi aksi nyata.  Pada tahap tindak lanjut hasil belajar, Solusi yang berhasil ditemukan terkait upaya mengembangkan diri dan orang lain. Melalui diskusi CGP mendapat gambaran tentang teknis implementasi aksi nyata sub modul 1.4. 
Tahap selanjutnya adalah Pembuatan Kerangka Portofolio Digital. Sesi ini dijalankan dengan model mentoring. CGP memperoleh bimbingan dalam mengunggah aksi nyata dan dokumen lainnya ke portofolio digital yang sudah dibuat. CGP juga memperoleh masukan dari PP terkait menu wajib dalam portofolio digital. Pada tahap ini, terjadi perkembangan kompetensi CGP dalam mengelola portofolio digital sehingga tampilannya lebih menarik.  
Diakhir pendampingan, CGP melakukan refleksi terkait pendampingan. Hasil refleksi menunjukkan bahwa pendampingan individu-1 telah berjalan dengan baik. 




Read More »
23 March | 0komentar

Tema Pendampingan Individu CGP Angkatan 6

 

Tema Pendampingan

Fokus Pendampingan

PI-1: Refleksi awal kompetensi guru penggerak

  1. Diskusi tantangan belajar daring 
  2. Refleksi penerapan perubahan kelas sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara
  3. Diskusi pembuatan kerangka portofolio
  4. Diskusi peta posisi diri dan rencana pengembangan diri dalam dalam kompetensi guru penggerak

    PI-2: Perubahan paradigma pemimpin pembelajaran



    1. Diskusi refleksi diri tentang lingkungan belajar di sekolah 
    2. Diskusi refleksi perubahan diri setelah mempelajari modul 1.1, 1.2 dan 1.3
    3. Diskusi rencana merintis komunitas praktisi di sekolah, berdasarkan hasil pemetaan di lokakarya 1
    4. Mengkomunikasikan visi dan prakasra perubahan ke KS dan warga sekolah dengan dimoderasi oleh PP

      PI-3: Implementasi Pembelajaran yang Berpihak pada Murid

      1. Refleksi hasil survei (feedback 360) + penilaian sendiri tentang kompetensi guru penggerak
      2. Diskusi rencana menerapkan pembelajaran sosial-emosional
      3. Diskusi hasil lokakarya 2 (keterlaksanaan dari tahapan BAGJA)

        PI-4: Evaluasi dan Pengembangan Proses Pembelajaran

        1. Observasi kelas CGP untuk melihat penerapan dari modul budaya positif, pembeljaaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial-emosional 
        2. Penilaian Observasi Praktik Pembelajaran. 

        PI-5: Rancangan Program yang Berpihak pada Murid

        1. Refleksi penerapan aksi nyata modul 3.1 
        2. Diskusi rancangan program yang berdampak pada murid
        3. Diskusi perkembangan komunitas praktisi yang dijalankan di sekolah serta implementasi dari rencana di lokakarya 3 untuk berbagi ke rekan sejawat

        PI-6: Refleksi perubahan diri dan dampak pendidikan

        1. Persiapan panen hasil belajar
        2. Pengumpulan survei umpan balik dan refleksi hasil survei tentang kompetensi guru penggerak (feedback 360)
        3. Refleksi perubahan dalam pembelajaran yang sudah diterapkan selama 6 bulan, diskusikan dampak pada diri guru dan murid yang terjadi
        4. Penilaian pemetaan aset; diskusi apakah tujuan program sudah dikomunikasikan ke warga sekolah

        Read More »
        19 March | 0komentar

        Alur Belajar Merdeka Paradigma dan Visi Guru Penggerak

        Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara


        1. Mulai dari diri (Mandiri): 1JP 
        Kegiatan pembelajaran pemantik: 
        a. CGP memberikan jawaban reflektif-kritis untuk mengetahui pemahaman diri tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara, 
        b. CGP membuat refleksi diri tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara. 

        2. Eksplorasi Konsep: 3JP 
        a. CGP menyimak video tentang pendidikan di Indonesia dari zaman kolonial dan menjawab pertanyaan-pertanyaan panduan; 
        b. CGP menyimak video-video tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara; 
        c. CGP membaca 2 (dua) tulisan karya Ki Hadjar Dewantara. 

        3. Eksplorasi Konsep (Forum Diskusi): 2JP 
        a. CGP mendiskusikan pertanyaan reflektif terkait pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya dengan pendidikan Indonesia saat ini dan pendidikan pada konteks lokal sosial budaya di daerah asal CGP yang difasilitasi oleh Fasilitator 
        b. CGP berbagi pengalaman praktik baik penerapan pemikiran filosofis Pendidikan KHD pada konteks lokal sosial budaya di daerahnya. 

        4. Ruang Kolaborasi: 6JP (3 + 3) 
        CGP mengeksplorasi (memaknai dan menghayati) nilai-nilai luhur sosial budaya di daerah asal dalam menguatkan dan menebalkan Konteks (kodrat) Diri Murid sebagai manusia dan anggota masyarakat. 

        5. Demonstrasi Kontekstual: 4JP
        CGP mendesain strategi dalam mewujudkan pemikiran KHD - 'Pendidikan yang Berpihak pada Murid' - sesuai dengan Konteks Diri Murid dan Sosial Budaya di daerah asal (karnya demonstrasi kontekstual dalam video, atau infografis atau puisi atau lagu, dll). 

        6. Elaborasi Pemahaman: 2JP 
        CGP mendapatkan penguatan pemahaman tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara dari Instruktur; 

        7. Koneksi Antar Materi: 2JP 
        CGP membuat kesimpulan dalam bentuk esai atau jurnal reflektif tentang ‘Pendidikan yang Berpihak pada Murid’ dengan merefleksikan seluruh rangkaian materi yang sudah dipelajari dari pemikiran-pemikiran KHD dan praktik baik yang telah dilakukan di sekolah-sekolah saat ‘Elaborasi Pemahaman’.

         8. Aksi Nyata
         CGP mengimplementasikan strategi dalam mewujudkan pemikiran KHD yang telah dibuat pada ‘Demonstrasi Kontekstual’ secara konkret sebagai perwujudan 'Kepemimpinan Pembelajaran' yang Berpihak pada Murid' dan direfleksikan kembali dalam Jurnal Refleksi Pribadi,

        ALUR

        INTI PEMBAHASAN

        AKTIVITAS PESERTA

        TUGAS/ PRODUK PESERTA

        M

        Mulai Dari Diri

         Pertanyaan reflektif untuk memulai topik.

        Forum diskusi (peserta dapat melihat komentar peserta lain)

        Lembar Kerja

        E

        Eksplorasi Konsep

         Materi kunci untuk membangun pemahaman.

        Peserta melihat video dan membaca artikel, mengerjakan kuis, jawab kuis langsung diberikan ke peserta.

        Video dan perangkat pembelajaran.

        R

        Ruang Kolaborasi

         Penugasan kelompok untuk memperdalam pemahaman dan mendorong kolaborasi.

        Peserta mendapatkan panduan LK, hasil kerja kelompok di upload dan dapat dilihat pesrta lain, rubrik penilaian instruktur.

        Lembar Kerja Kelompok Panduan Diskusi

        R

        Refleksi Terbimbing

        Peserta menuliskan refleksi pembelajaran dengan panduan pertanyaan yang disiapkan.

        Forum diskusi (peserta dapat melihat dan komen peserta lain)

        Lembar Kerja.

        D

        Demonstrasi Kontekstual

        Penugasan mandiri untuk mengevaluasi pemahaman.

        HOTS tes including RK dan materi kunci Scorring peserta bisa retake test.

        Lembar Kerja

        E

        Elaborasi Pemahaman

         Diskusi dan tanya jawab dengan instruktur.

        Video Konference

        Panduan diskusi untuk instruktur.

        K

        Koneksi Antar Materi

         Diskusi refleksi belajar dan pembuatan rencana tindak lanjut.

        Video conference

        Panduan diskusi untuk instruktur.

        A

        Aksi Nyata

         

        Melaksanakan aksi nyata di sekolah/di kelas.

        Drive penyimpanan portofolio, bisa di akses peserta lain.

        Melaksanakan aksi nyata.

         



        Read More »
        07 January | 0komentar