Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by date for query Apresiasi. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query Apresiasi. Sort by relevance Show all posts

Mengubah MPLS dari Ritual Membosankan Menjadi Titik Balik Peradaban Bangsa

MPLS pengenalan Program Keahlian


Awal tahun ajaran baru selalu diidentikkan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sayangnya, bagi mayoritas siswa, momen ini kerap kali menjadi momok yang menjemukan. Data mengejutkan menunjukkan bahwa 75% siswa menganggap MPLS membosankan dan tidak penting. Kebanyakan mengeluhkan format satu arah yang didominasi ceramah dan instruksi kaku tanpa interaksi yang berarti.  
Melihat realita ini, Novi Poespita Candra, Ph.D. (Dosen Psikologi UGM & Co-founder Gerakan Sekolah Menyenangkan) menawarkan sebuah paradigma baru yang revolusioner bernama Sasmita Nusantara. Melalui konsep ini, MPLS dirancang ulang bukan lagi sekadar ritual tahunan penyambutan siswa baru, melainkan sebuah titik balik peradaban bangsa.  

Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan oleh Siswa? 

Berdasarkan suara hati para siswa, ada kesenjangan besar antara apa yang disajikan sekolah dengan apa yang mereka butuhkan. Setidaknya ada tiga pilar utama yang dinantikan oleh generasi muda saat ini: 
  • Interaksi, Bukan Instruksi: Siswa mendambakan kegiatan bersama lintas angkatan dan guru yang meminimalisir metode ceramah.  
  • Aksi & Praktik: Dibandingkan duduk diam, mereka lebih menyukai eksplorasi tur sekolah, aktivitas luar ruangan (outing), serta permainan fisik (learning games).  
  • Relevansi & Ekspresi: Ruang belajar yang minim tekanan, menyajikan fakta menarik seputar isu terkini, serta wadah untuk menampilkan gelar budaya dan seni.  

Pergeseran Paradigma: Citizens of Today 

Sasmita Nusantara mendefinisikan "Sasmita" sebagai tanda atau petunjuk bahwa budaya dan sejarah sejatinya dimulai dari diri anak-anak itu sendiri. Kunci keberhasilannya terletak pada rasa kepemilikan siswa terhadap ide ini. Ada transformasi besar yang harus dilakukan oleh pihak sekolah: 


Dunia telah melihat bukti nyata bagaimana anak-anak mampu menjadi penggerak perubahan hari ini, seperti Malala Yousafzai di bidang pendidikan, Greta Thunberg di isu iklim, hingga Melati & Isabel Wijsen di Bali yang sukses mengubah kebijakan plastik regional. MPLS harus menjadi tangga partisipasi sejati bagi anak, bukan sekadar pajangan (decoration) atau alat politik (manipulation). 

Bersumber dari Akar Kebijaksanaan Nusantara 

Paradigma Sasmita Nusantara tidak mengadopsi teori barat mentah-mentah, melainkan menggali ulang epistemologi kebijaksanaan lokal di Indonesia:  
  • Jawa (Sistem Among - Ki Hadjar Dewantara): Memberikan kemerdekaan bagi anak untuk bertumbuh sesuai kodrat alam dan zamannya tanpa menanggalkan akar budaya.  
  • Sunda (Silih Asih, Asah, Asuh): Membangun hubungan dua arah yang saling mengasihi, menajamkan pikiran, dan membimbing.  
  • Flores (Siwo Pitu): Memandang anak sebagai penenun, yakni penjaga sekaligus pembaharu tradisi, bukan wadah kosong yang belum tahu apa-apa.  
  • Minang (Alam Takambang Jadi Guru): Menumbuhkan budaya dialektika, berpikir kritis, dan kemampuan diplomasi sejak remaja.  

Fondasi Perubahan: Membangun "Ruang Ketiga"Agar keberpikiran anak dapat tumbuh dengan optimal, Sasmita Nusantara memformulasikan 6 dimensi interaksi positif yang melandasi lingkungan sekolah:   
  1. Ruang Dialog  
  2. Ruang Kreativitas & Ekspresi  
  3. Ruang Persaudaraan & Persahabatan  
  4. Ruang Kebermaknaan  
  5. Ruang Refleksi & Meditasi  
  6. Ruang Kegembiraan  

Blueprint Eksekusi: Peta Perjalanan 5 Hari MPLS 

Bagaimana menerapkan konsep ini secara nyata? Berikut adalah panduan linimasa 5 hari untuk merajut karakter dan pelibatan aktif siswa:  
  • Hari 1: Kula Nuwun (Ketenangan & Persaudaraan) Fokus membangun rasa aman dan meruntuhkan senioritas. Kegiatannya meliputi Upacara Tepak Sirih (penyambutan simbolis), Lingkaran Lontara (siswa melingkar berbagi harapan tanpa penghakiman), Kembulan Pagi (menikmati camilan tradisional bersama), dan Jelajah Alun-Alun & Sopo Nyono (scavenger hunt fasilitas sekolah).  
  • Hari 2: Mangasah Mingising Budi (Dialog & Kebermaknaan) Membuka ruang dialog setara. Diisi dengan Gantangan Pagi (permainan tradisional egrang/bentengan), Rembug Desa (diskusi dua arah kebutuhan siswa), Piagam Nusantara (menyusun kesepakatan Keyakinan Kelas, bukan peraturan satu arah), dan Pojok Literasi Kancil (diskusi kritis isu remaja seperti bullying dan kesehatan mental).  
  • Hari 3: Makarya Berbudi Pekerti (Kreativitas & Kerja Sama) Mengasah kreativitas kolektif dan fisik. Kegiatannya berupa Senam Irama Nusantara, Workshop Rupa Aksara (merancang logo/yel kelompok berbasis visual budaya), Pasar Malam Ekskul (demonstrasi interaktif di mana siswa baru langsung mencoba, bukan sekadar menonton), dan Kelas Dolanan (simulasi kepemimpinan melalui Gobak Sodor Taktis).  
  • Hari 4: Memayu Hayuning Bawana (Kebermaknaan & Kepedulian) Merajut kepedulian pada alam dan sesama. Aktivitasnya meliputi Projek Subak Kecil (aksi merawat ekosistem sekolah seperti menanam dan memilah sampah), Dialog Angkringan (diskusi lesehan bersama alumni/tokoh), Madihin/Stand-Up Budaya (panggung ekspresi kritis via komedi/pantun), dan Surat Titipan Puji (menulis apresiasi anonim).  
  • Hari 5: Pesta Rakyat & Ruwatan (Kegembiraan & Refleksi Akhir) Merayakan kegembiraan bersama dan kontemplasi. Ditutup dengan Panggung Gembira Loka & Megibung (festival karya kelompok dilanjutkan makan bersama satu nampan tanpa sekat guru/murid) serta Ruwatan Pikir & Satria Nusantara (sesi hening instrumen lokal untuk merefleksikan kecemasan masa lalu dan pelepasan atribut MPLS secara resmi). 
Sudah saatnya kita meninggalkan model penataran satu arah yang usang dan beralih ke paradigma Sasmita Nusantara. Dengan mengubah awal tahun ajaran baru menjadi ruang interaksi yang positif, bermakna, dan menyenangkan, kita sedang meletakkan batu pertama bagi kebangkitan peradaban generasi masa depan Indonesia. Mari wujudkan sekolah yang memanusiakan manusia!

Referensi: Grup WA GSM Kab. Purbalingga

Read More »
02 July | 0komentar

Kejujuran yang Tidak Tercetak dalam Nilai

Siswa, Guru dan Orang tua

Setiap akhir semester, pemandangan yang sama selalu terulang di banyak sekolah. Orang tua datang mengambil rapor, menerima lembar hasil belajar anaknya, lalu pulang. Prosesnya sering berlangsung cepat dan formal. Guru menyampaikan informasi, orang tua mendengarkan, kemudian semuanya selesai. Namun, apakah rapor hanya tentang angka dan peringkat? Alih-alih menjadikan pembagian rapor sebagai percakapan satu arah antara guru dan wali murid, pembagian raport menjadi ruang untuk guru-murid-orang tua; menciptakan sebuah ruang kecil untuk saling mendengar. 
Pendekatan seperti ini sejalan dengan konsep pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sebagaimana dijelaskan dalam artikel Pembelajaran Mendalam, di mana peserta didik diberi ruang untuk merefleksikan pengalaman belajarnya secara utuh.
Segitiga Kecil yang Mengubah Percakapan Satu per satu siswa datang bersama orang tuanya. Guru-Siswa-Orang Tua duduk membentuk segitiga sederhana. Di tengah terdapat sebuah meja kecil dengan rapor yang terletak di atasnya. Raport diberikan kepada siswa,   dan di meminta mengamati hasil belajarnya sendiri, lalu menjawab beberapa pertanyaan sederhana. 
 "Mata pelajaran apa yang menurutmu masih kurang? Mengapa?" 
 "Mata pelajaran apa yang sudah baik? Mengapa bisa baik?" 
 Anak-anaklah yang kemudian bercerita langsung kepada orang tuanya. Di situlah baru menyadari bahwa sering kali ada banyak cerita yang tidak terlihat di balik deretan angka dalam rapor. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan kepada siswa sesungguhnya memiliki kemiripan dengan pendekatan Coaching dalam Konteks Pendidikan, yaitu membantu peserta didik menemukan kesadaran, kekuatan, dan solusi dari dalam dirinya sendiri. 
Ada orang tua yang berpura-pura memarahi anaknya. 
 "Lho, kok nilainya begini?" Sang anak menjawab spontan sambil tersenyum, 
 "Lha aku memang nggak suka pelajarannya kok." Semua tertawa. 
 Ada pula siswa yang dengan jujur mengatakan, 
 "Pak, tugasnya susah ngumpulkannya. Gurunya susah ditemui." Ruangan kembali dipenuhi tawa hangat. Saat itu saya menyadari bahwa rapor ternyata bukan hanya tentang capaian akademik. 
Rapor juga bisa menjadi ruang aman bagi anak untuk menyampaikan pengalaman belajarnya secara jujur. Kadang-kadang, keberanian untuk berkata apa adanya jauh lebih berharga daripada angka yang tercetak pada lembar penilaian. Pertumbuhan yang Tidak Selalu Terlihat dalam Nilai Percakapan kemudian berlanjut. 
Guru bertanya kepada para siswa, "Selama satu tahun ini, apa yang paling meningkat dalam dirimu?" Jawaban yang muncul sungguh menarik. Ada yang merasa kini lebih berani berbicara di depan umum. Ada yang merasa lebih disiplin mengatur waktu. Ada yang merasa lebih percaya diri dibandingkan sebelumnya. Yang membuat suasana semakin hangat adalah ketika orang tua ikut memberikan pengakuan atas perubahan tersebut. 
 "Iya, sekarang kamu memang lebih rajin membantu di rumah."
 "Iya, sekarang kamu lebih bertanggung jawab." Kalimat-kalimat sederhana itu menjadi bentuk apresiasi yang mungkin selama ini jarang terucapkan. Pada momen tersebut, saya melihat bagaimana pendidikan sesungguhnya tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga tumbuh dalam hubungan antara sekolah dan keluarga. 

Saat Guru Justru Belajar 

Jika tidak dibatasi waktu, mungkin percakapan-percakapan itu bisa berlangsung berjam-jam. Namun, bagian yang paling berkesan justru terjadi di akhir sesi. Saya meminta siswa dan orang tua memberikan penilaian kepada saya sebagai wali kelas, baik secara lisan maupun tertulis. Saat itulah saya merasa sedang belajar menjadi guru. Seorang wali murid menyampaikan sesuatu yang membuat saya terdiam. "Selama sebelas tahun mendampingi anak sekolah, baru kali ini saya benar-benar merasakan wali kelas seperti orang tua kedua bagi anak saya." Kalimat itu membuat saya kehilangan kata-kata. Bukan karena merasa sempurna sebagai guru, tetapi karena saya menyadari betapa besar harapan orang tua terhadap sosok yang mendampingi anak-anak mereka setiap hari di sekolah. 
Peran guru sebagai pendamping tumbuh kembang peserta didik juga menjadi salah satu semangat utama dalam Program Pendidikan Guru Penggerak, yaitu menghadirkan pembelajaran yang berpusat pada murid dan membangun kolaborasi dengan orang tua. 

Rapor Bukan Hanya Milik Siswa 

Pada akhirnya, rapor bukan hanya tentang nilai siswa. Rapor juga menjadi cermin hubungan antara guru, anak, dan orang tua. Angka-angka memang penting sebagai indikator pencapaian belajar. Namun, ada hal-hal yang jauh lebih berharga yang tidak dapat diukur oleh angka. Kejujuran. Keberanian. Kepercayaan. Kedekatan. Dan rasa saling memahami. Jumat kemarin, saya pulang dengan sebuah keyakinan baru: pembagian rapor dapat menjadi momen yang sangat bermakna ketika semua pihak diberi ruang untuk saling mendengar, saling memahami, dan saling bertumbuh. 
Mungkin beberapa tahun lagi anak-anak tidak lagi mengingat berapa nilai matematika atau bahasa Indonesia yang mereka peroleh. Tetapi mereka akan mengingat percakapan hangat yang terjadi di sekeliling rapor itu. Karena pada akhirnya, pendidikan yang membekas bukanlah tentang angka yang tertulis di atas kertas, melainkan tentang hubungan manusia yang tumbuh di dalamnya. Artikel inspiratif lainnya tentang pendidikan, pembelajaran, dan refleksi guru dapat dibaca di Sarastiana.com, sebuah ruang berbagi gagasan yang mengajak kita melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih manusiawi dan bermakna. Kunjungi juga Sarastiana.com untuk mendapatkan tulisan-tulisan terbaru seputar dunia pendidikan dan pengembangan karakter.
Informasi lebih lanjut tentang penulis dapat dibaca pada halaman Profil Penulis
Referensi: Grup WA GSM Kab.Purbalingga

Read More »
20 June | 0komentar

Mengungkap Dahsyatnya Umroh dari Iman dan Sains

Mendapatkan pengalaman ruhani yang penuh makna dari Ir. Reza Aulia Akbar,S.T.,M.T., MBA dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang membawakan tema “Menelisik Keutamaan Umroh dan Menjemput Panggilan-Nya”. Kajian ini tidak hanya mengupas sisi keagamaan, tetapi juga mengaitkannya dengan pendekatan ilmiah yang membuka wawasan baru bagi para jamaah. 

Umroh: Bukan Sekadar Soal Mampu 
Pertanyaan mendasar yang mengawali kajian ini adalah: apakah umroh dan haji hanya untuk orang yang mampu secara fisik dan finansial? Melalui hadits Rasulullah ï·º, dijelaskan bahwa orang yang berhaji dan berumroh adalah tamu Allah. Mereka yang datang memenuhi panggilan-Nya akan mendapatkan keistimewaan: doa yang dikabulkan dan ampunan yang diberikan. 
Hal yang menarik, pemateri menekankan bahwa umroh bukan sekadar soal kemampuan, tetapi tentang “panggilan”. Banyak orang yang secara materi mampu, namun belum juga berangkat. Sebaliknya, tidak sedikit yang secara logika belum mampu, tetapi Allah mudahkan jalannya.  

Panggilan umroh bisa hadir dari berbagai arah: Kebiasaan atau aktivitas yang kita jalani Dorongan keluarga terdekat Hadiah atau apresiasi Bahkan dari pihak yang tak disangka Di sinilah pentingnya menjaga prasangka baik kepada Allah. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa 

Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba mendekat, Allah akan mendekat lebih cepat.  

Keutamaan Luar Biasa Tanah Suci 
Kajian ini juga mengungkap keutamaan ibadah di Tanah Haram. Salah satunya adalah pahala shalat yang berlipat ganda hingga 100.000 kali lipat di Masjidil Haram. Jika dihitung secara sederhana, satu kali shalat di sana setara dengan puluhan tahun shalat di tempat biasa. Ini menunjukkan betapa luar biasanya nilai ibadah di Tanah Suci sebuah “investasi akhirat” yang tak ternilai. 
Selain itu, tempat seperti Raudhah di Masjid Nabawi disebut sebagai taman surga. Di sanalah Rasulullah ï·º dimakamkan bersama para sahabat mulia, menjadikan tempat tersebut penuh keberkahan dan kerinduan bagi umat Islam. 

Keajaiban Tawaf dalam Perspektif Sains  
Salah satu bagian menarik dari kajian ini adalah keterkaitan antara ibadah dan sains. Gerakan tawaf yang dilakukan berlawanan arah jarum jam ternyata selaras dengan fenomena alam: Elektron mengelilingi inti atom dengan arah yang sama Planet mengorbit matahari dengan pola serupa Galaksi berputar dalam bentuk spiral Hal ini menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya ritual, tetapi juga selaras dengan hukum alam semesta.  

Umroh: Ibadah Fisik yang Penuh Makna  
Secara fisik, ibadah umroh juga tidak ringan. Jamaah menempuh: 
 Tawaf sejauh ±1,5–3,5 km  
Sa’i sejauh ±2,8–3,15 km  
Total jarak sekitar 5,5–7 km  

Semua dilakukan dalam kondisi penuh keikhlasan dan penghambaan. Angka “7” yang digunakan dalam tawaf dan sa’i pun memiliki makna, sejalan dengan konsep tujuh lapis langit dalam Al-Qur’an.  

Pemateri juga mengajak jamaah melihat umroh dari sudut pandang “matematika Allah”. Dengan biaya rata-rata Rp25–30 juta, mungkin terasa besar. Namun jika dibandingkan dengan pahala yang didapat penghapusan dosa, peningkatan derajat, hingga nilai ibadah yang berlipat ganda maka nilai tersebut menjadi sangat kecil.  
Bahkan ada amalan-amalan lain yang pahalanya setara umroh, seperti shalat di Masjid Quba setelah bersuci dari rumah. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya. 

Diakhir kajian di sampaikan bahwa jangan pernah merasa jauh dari panggilan Allah. Jika hati mulai rindu ke Tanah Suci, bisa jadi itu adalah tanda awal panggilan tersebut. Tugas kita adalah menjaga niat, memperbaiki diri, dan terus mendekat kepada-Nya. Semoga setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini menjadi bagian dari perjalanan besar menuju undangan Allah ke Baitullah.

Read More »
19 March | 0komentar

Jika Cinta Adalah Bahan Bakar, Apa yang Kita Nyalakan di Kelas?

Keluhan tentang murid yang sulit diatur atau motivasi yang rendah seringkali menjadi "menu utama" obrolan kita. Agar tidak terjebak dalam rasa gagal, berikut adalah langkah praktis untuk reinvent yourself dan mengubah kelelahan menjadi energi cinta: 

1. Ubah Narasi: "Guru & Murid vs Masalah" 
Seringkali kita merasa kelelahan karena memposisikan diri melawan murid (Guru vs Murid). Cobalah geser sudut pandang Anda. Saat ada murid bermasalah, posisikan Anda dan murid tersebut berada` di tim yang sama untuk melawan masalahnya. 
Prakteknya: Alih-alih berkata "Kamu nakal sekali," cobalah "Ada masalah apa yang buat kamu sulit fokus hari ini? Ayo kita cari solusinya bareng-bareng." 

2. Terapkan "Pintu Keluar Emosional" 
Guru adalah profesi yang memikirkan murid sampai ke tempat tidur. Untuk menjaga kesehatan mental, buatlah batasan tegas. 
Prakteknya: Saat Anda memutar kunci pintu rumah atau melangkahi gerbang sekolah saat pulang, katakan pada diri sendiri: "Tugas profesional saya selesai di sini. Sekarang waktunya saya menjadi diri saya sendiri." Jangan biarkan sisa masalah di kelas mencuri waktu istirahat Anda. 

3. Cari "Bahan Bakar" di Luar Angka Rapor 
Jika indikator keberhasilan Anda hanya angka di raport, Anda akan mudah kecewa. Carilah kemenangan-kemenangan kecil yang berbasis kasih sayang. 
Prakteknya: Catat satu hal baik yang dilakukan murid setiap hari, sekecil apa pun itu (misalnya: seorang murid yang biasanya terlambat, hari ini datang tepat waktu). Energi cinta tumbuh dari apresiasi terhadap proses, bukan cuma hasil akhir. 

4. Rutinitas "Self-Check" (Bertanya pada Diri Sendiri) 
Jangan menunggu orang lain bertanya "Kamu nggak apa-apa?". Jadilah sahabat bagi diri sendiri. Prakteknya: Luangkan 5 menit sebelum masuk kelas untuk bernafas dalam dan bertanya: "Apa tujuan saya masuk kelas hari ini? Apakah sekadar menggugurkan kewajiban, atau ingin menanamkan satu kebaikan?" Mengingat kembali moral value akan mengubah kualitas energi Anda. 

5. Fokus pada Apa yang Bisa Dikendalikan 
Banyak stres muncul karena kita ingin mengubah sesuatu yang di luar kendali kita (seperti latar belakang keluarga murid atau kebijakan kurikulum). 
Prakteknya: Fokuslah pada respon Anda terhadap masalah. Menurut teori Hawkins, saat kita merespon dengan cinta dan penerimaan, masalah tidak lagi menjadi musuh, tapi menjadi sarana kita untuk bertumbuh sebagai manusia yang lebih bijak. 
Mengajar memang bukan hanya soal metode, tapi soal apa yang kita "nyalakan" di hati mereka. Jika bahan bakar kita adalah cinta, maka langkah kita akan terasa lebih ringan, meski beban di pundak tetap sama.

Read More »
01 January | 0komentar

Fenomena "Crab Mentality"

Pernahkah Anda melihat sekumpulan kepiting dalam satu ember? Ketika salah satu kepiting mencoba memanjat dan keluar, kepiting-kepiting lain akan menariknya kembali ke bawah. Mereka tidak akan membiarkan satu pun keluar, meskipun itu berarti tidak ada yang bisa melarikan diri. Inilah gambaran nyata dari mentalitas kepiting atau crab mentality. Sebuah fenomena psikologis di mana seseorang tidak rela melihat orang lain berhasil, dan justru berusaha menarik mereka kembali ke posisi yang sama.
Mentalitas ini muncul dari rasa iri, cemburu, dan rasa tidak aman. Daripada berusaha memanjat keluar dari "ember" sendiri, orang dengan mentalitas kepiting lebih memilih untuk memastikan semua orang tetap berada di bawah, bersama-sama dalam ketidaknyamanan. Mereka merasa aman dalam kesamaan, meskipun kesamaan itu adalah kesamaan dalam kegagalan

Mengapa "Crab Mentality" Terjadi?
Ada beberapa faktor yang memicu munculnya mentalitas ini:
Rasa Tidak Aman dan Harga Diri Rendah: Ketika seseorang merasa tidak mampu atau tidak cukup baik, kesuksesan orang lain menjadi cerminan dari kegagalan mereka sendiri. Melihat orang lain berhasil membuat mereka merasa lebih inferior, sehingga mereka berusaha menyingkirkannya. Ketakutan akan Perubahan: Mentalitas kepiting seringkali berasal dari ketakutan akan perubahan. Jika ada satu orang yang berhasil, itu berarti standar baru telah ditetapkan. Ini menuntut semua orang untuk beradaptasi dan bekerja lebih keras, sesuatu yang tidak semua orang mau lakukan. Lingkungan yang Kompetitif Secara Tidak Sehat: Di lingkungan yang terlalu kompetitif, di mana satu orang harus gagal agar yang lain berhasil, mentalitas kepiting menjadi hal yang lazim. Ali-alih saling mendukung, orang-orang saling menjatuhkan untuk bertahan.

Dampak Negatif "Crab Mentality"
Dampak dari mentalitas kepiting sangat merusak, baik bagi individu maupun kelompok:
Menghambat Kemajuan: Mentalitas ini membunuh inovasi dan kreativitas. Tidak ada yang berani mencoba hal baru atau mengambil risiko karena takut dijatuhkan oleh orang lain. Merusak Hubungan: Hubungan interpersonal menjadi tegang dan penuh kecurigaan. Saling menjatuhkan menciptakan lingkungan kerja atau pertemanan yang tidak sehat. Siklus Negatif: Orang yang dijatuhkan bisa jadi akan mengadopsi mentalitas yang sama di kemudian hari, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.

Cara Mengatasi "Crab Mentality" Mengatasi mentalitas kepiting tidaklah mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil: Fokus pada Diri Sendiri: Alihkan energi dari mengawasi orang lain ke pengembangan diri. Daripada membandingkan diri dengan orang lain, fokuslah pada kemajuan pribadi Anda. Membangun Lingkungan Positif: Carilah orang-orang yang saling mendukung dan merayakan keberhasilan satu sama lain. Jauhi lingkungan yang penuh dengan gosip dan energi negatif. Mengubah Pola Pikir: Sadari bahwa kesuksesan orang lain tidak mengurangi nilai diri Anda. Jadikan keberhasilan mereka sebagai inspirasi, bukan ancaman. Rayakan Keberhasilan Orang Lain: Belajarlah untuk tulus dalam merayakan keberhasilan orang lain. Memberikan apresiasi yang tulus tidak hanya membuat orang lain senang, tetapi juga menciptakan ikatan yang lebih kuat.
Mentalitas kepiting adalah racun yang bisa merusak potensi individu dan kemajuan sebuah kelompok. Dengan mengubah pola pikir dan membangun lingkungan yang suportif, kita bisa keluar dari "ember" itu dan menciptakan masa depan di mana semua orang bisa meraih kesuksesan.

Read More »
04 September | 0komentar

Membangun Ikatan: Fondasi Pembelajaran yang Lebih dari Sekadar Angka

Di tengah tuntutan kurikulum, target nilai, dan berbagai teori pembelajaran, sering kali kita lupa pada satu elemen terpenting: ikatan atau engagement. Sebelum kita bicara soal rumus, teori, kompetensi, atau target kurikulum, hal pertama yang harus dibangun adalah ikatan. Sebuah koneksi emosional yang mungkin tidak terlihat di layar atau rapor, tetapi sungguh terasa di hati.
Guru adalah sosok yang hadir di kelas untuk menyatukan frekuensi dan menghilangkan "noise-noise" dalam pembelajaran. Noise itu bisa jadi rasa bosan, takut, cemas, atau bahkan trauma yang dibawa murid dari luar kelas. Tanpa ikatan yang kuat, materi pelajaran sehebat apa pun akan menjadi sekadar informasi yang menguap, tanpa bekas yang mendalam.

Mengapa Ikatan Itu Penting? 
  1. Menciptakan Ruang Aman: Ketika murid merasa terhubung dengan gurunya, mereka merasa aman untuk bertanya, berpendapat, dan mencoba hal baru tanpa takut dihakimi. Ruang kelas bukan lagi tempat yang menakutkan, melainkan tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri. 
  2. Meningkatkan Motivasi Intrinsik: Hubungan yang positif dapat memicu motivasi dari dalam diri murid. Mereka belajar bukan hanya karena disuruh, melainkan karena ingin tahu dan ingin berkembang. Ikatan emosional ini mengubah "kewajiban" menjadi "kesenangan". 
  3. Mengurangi Kendala Belajar: Murid yang memiliki ikatan kuat dengan gurunya cenderung lebih terbuka tentang kesulitan yang mereka hadapi. Ini memungkinkan guru untuk memberikan dukungan yang lebih personal dan tepat sasaran.

Bagaimana Cara Membangun Ikatan?
Ikatan tidak bisa dipaksa. Ia tumbuh dari interaksi yang tulus dan berkelanjutan. 
  • Dengarkan dengan Hati: Luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan cerita, keluhan, atau ide-ide murid. Tatap mata mereka, berikan respons yang menunjukkan bahwa Anda peduli. 
  •  Apresiasi Proses, Bukan Hanya Hasil: Puji usaha dan kerja keras mereka, bukan hanya nilai akhir. Ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan mendorong mereka untuk terus mencoba. Jadilah Manusia: Jangan takut untuk menunjukkan sisi manusiawi Anda. 
  • Berbagi cerita ringan, tertawa bersama, atau mengakui kesalahan dapat membuat Anda lebih mudah didekati.
  • Perhatikan Hal-Hal Kecil: Ingat nama mereka, hobi favorit mereka, atau hal-hal kecil yang mereka ceritakan. 

Tindakan sederhana ini menunjukkan bahwa Anda melihat mereka sebagai individu, bukan sekadar nama di daftar absen.
Pada akhirnya, guru yang berhasil adalah mereka yang tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga berhasil menyentuh hati. Karena pembelajaran yang paling berkesan bukan tentang apa yang kita ajarkan, melainkan tentang bagaimana kita membuat murid merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Ikatan adalah fondasi, dan di atasnya, keajaiban belajar dapat dibangun.

Read More »
27 August | 0komentar

Membangun Jembatan, Bukan Tembok: Refleksi Jujur Seorang Guru

Saya yakin, curhatan ini tidak hanya mewakili satu atau dua guru, melainkan ribuan pendidik di seluruh penjuru negeri. Curhatan tentang murid-murid yang "sulit diatur, susah dimotivasi, dan terus-terusan asyik dengan gawai." Perasaan lelah, makan hati, dan marah yang seolah menjadi rutinitas harian.
Ironisnya, saat mendengar curhatan itu, saya sendiri sering berpikir, "Kalau mereka curhat ke saya, saya curhat ke siapa?" Sebab, saya pun mengalami hal yang sama. Bahkan, lebih parah. Ada momen di mana saya kehilangan kontrol diri, membentak, dan menggebrak meja, berharap anak-anak akan patuh karena takut. Namun, alih-alih dihormati, saya justru merasa merendahkan diri. Rasanya seperti mengemis rasa hormat yang sejatinya tak bisa didapat dengan paksaan.
Penyesalan selalu datang setelah amarah mereda. "Kenapa tadi harus bentak? Kenapa tidak bisa mengendalikan emosi?" Padahal, kita selalu menuntut diri untuk menjadi teladan, sabar, dan bijaksana. Tapi ya, kita manusia. Guru juga punya batas kesabaran.
Namun, sebuah pencerahan datang dari teori magic ratio 1:5 milik John Gottman, seorang pakar psikologi hubungan. Menurutnya, satu tindakan negatif yang kita lakukan, seperti bentakan atau sindiran, butuh lima kali lipat tindakan positif untuk bisa memperbaiki hubungan yang rusak. Satu bentakan sama dengan lima kali kebaikan. Satu hardikan sama dengan lima kali senyum, apresiasi, atau ucapan yang membangun kepercayaan. Jika tidak, bentakan itu akan membekas di hati murid, layaknya tato yang sulit dihilangkan.
Saya mencoba menerapkan teori ini. Setiap kali saya lepas kendali, saya tahu saya harus "membayar utang" itu lima kali lipat. Saya mulai dari hal-hal kecil: tersenyum lebih dulu, menyapa, memberikan apresiasi, dan menunjukkan bahwa saya percaya pada mereka. Perlahan, hubungan yang sempat retak kembali membaik. Murid yang tadinya tertutup, akhirnya mulai terbuka.
Tentu saja, kondisi setiap murid dan guru berbeda. Namun, satu hal penting yang saya pelajari adalah: bentakan itu ibarat api, dan anak-anak adalah kertas. Sekali terbakar, kertas tidak akan pernah kembali putih bersih. Dibutuhkan upaya ekstra untuk membuatnya mau kembali menerima kita.
Kita sering lupa, kita menuntut anak-anak untuk menghormati kita, tetapi kadang kita lupa bagaimana rasanya menjadi mereka. Kunci dari rasa hormat bukanlah intimidasi, melainkan dibangun melalui kebaikan, yang jauh lebih banyak dari kesalahan kita.
Mungkin, selama ini kita terlalu bangga saat berhasil membuat kelas hening karena ketakutan. Padahal, esensi dari menjadi guru adalah menciptakan ruang yang aman bagi murid, bukan ruang yang kosong dan sunyi.
Bentakan itu murah, semua orang bisa melakukannya. Tapi membangun kembali kepercayaan setelah marah? Itu adalah investasi lima kali lipat yang akan menentukan bagaimana kita akan dikenang. Apakah sebagai guru yang meninggalkan trauma, atau sebagai guru yang mengajarkan tentang makna kemanusiaan?
Jadi, ketika ada yang bilang, "Anak-anak sekarang susah diatur," mungkin jawaban yang paling jujur bukanlah "iya, mereka susah," melainkan: "Iya, mungkin kita yang belum memberikan lima kali kebaikan setelah satu kali kebablasan."
Sumber : Grup Wa GSM Kab. Purbalingga

Read More »
25 August | 0komentar

Capaian Pembelajaran SMK sesuai Kep.Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025

Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dirancang untuk membekali peserta didik dengan keterampilan dan pengetahuan yang relevan dengan dunia kerja. Kurikulum SMK terbagi menjadi dua kelompok mata pelajaran utama yang saling melengkapi: Mata Pelajaran Umum dan Mata Pelajaran Kejuruan. Pembagian ini bertujuan untuk memastikan lulusan SMK tidak hanya memiliki kompetensi teknis yang mumpuni, tetapi juga pondasi pengetahuan dan karakter yang kuat.

Kelompok Mata Pelajaran Umum
Kelompok Mata Pelajaran Umum bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik, menumbuhkan wawasan kebangsaan, serta membekali mereka dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan yang esensial. Mata pelajaran dalam kelompok ini memiliki peran krusial dalam mengembangkan soft skills dan kemampuan berpikir kritis yang dibutuhkan di segala bidang.

Mata pelajaran yang termasuk dalam kelompok ini antara lain:
  1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti: Membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. 
  2. Pendidikan Pancasila: Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan memahami nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. 
  3. Bahasa Indonesia: Mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar untuk berkomunikasi secara efektif. 
  4. Matematika: Melatih kemampuan berpikir logis, analitis, dan problem-solving. 
  5. Sejarah: Membekali peserta didik dengan pemahaman tentang peristiwa-peristiwa penting di masa lalu untuk mengambil pelajaran dan membangun masa depan. 
  6. Seni Budaya: Mengembangkan apresiasi terhadap seni dan budaya serta mengekspresikan kreativitas. 
  7. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan: Meningkatkan kebugaran fisik dan kesadaran akan pentingnya hidup sehat.

Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan
Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan (Muatan Peminatan Kejuruan) adalah inti dari pendidikan vokasi di SMK. Mata pelajaran ini secara spesifik membekali peserta didik dengan kompetensi teknis sesuai dengan Bidang Keahlian, Program Keahlian, dan Konsentrasi Keahlian yang dipilih. Fokus utamanya adalah aplikasi praktis dan relevansi dengan kebutuhan industri.
Mata pelajaran dalam kelompok kejuruan dapat meliputi:
  1. Dasar-dasar Keahlian: Memperkenalkan konsep dasar dan prinsip-prinsip yang melandasi suatu bidang keahlian. 
  2. Mata Pelajaran Kejuruan: Mata pelajaran inti yang berfokus pada kompetensi spesifik sesuai dengan program keahlian yang diambil. Ini bisa berupa pelajaran teori maupun praktik di laboratorium atau bengkel. 
  3. Proyek Kreatif dan Kewirausahaan: Mendorong peserta didik untuk mengembangkan ide-ide inovatif, merencanakan proyek, dan memahami dasar-dasar kewirausahaan. 
  4. Praktek Kerja Lapangan (PKL): Pengalaman langsung di dunia industri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari serta beradaptasi dengan lingkungan kerja nyata.

Struktur kurikulum SMK, termasuk pembagian kelompok mata pelajaran dan capaian pembelajarannya, diatur secara rinci dalam Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 046/H/KR/2025. Keputusan ini menjadi landasan bagi satuan pendidikan dalam menyusun kurikulum operasional dan melaksanakan proses pembelajaran untuk memastikan lulusan SMK memiliki standar kompetensi yang relevan dan dibutuhkan oleh dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Bagi Anda yang ingin mengunduh salinan lengkap dari Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025, Anda dapat mencarinya di situs web resmi Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atau melalui portal resmi BSKAP.

Read More »
28 July | 0komentar

Saat Tidur Jadi Metafora

Tidur Adalah Usaha Termudah Menghargai Waktu Libur: Sebuah Renungan tentang Pendidikan dan Apresiasi Judul di atas mungkin terdengar kontradiktif, bahkan mungkin mengundang senyum. Bagaimana bisa tidur dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap waktu libur? Bukankah seharusnya waktu luang diisi dengan aktivitas produktif, pengembangan diri, atau petualangan seru? Namun, di balik judul yang sekilas nyeleneh ini, tersembunyi sebuah refleksi mendalam tentang nilai sesungguhnya dari waktu istirahat dan, yang lebih penting lagi, bagaimana kita sebagai masyarakat dan institusi memberikan apresiasi terhadap keberhasilan. 
Meskipun secara harfiah saya tidak akan membahas detail tidur di hari libur kali ini, frasa "tidur adalah usaha termudah menghargai waktu libur" justru menjadi metafora sempurna untuk mengajak kita merenungkan: apakah kita sudah cukup menghargai proses dan beragam bentuk keberhasilan, ataukah kita terlalu sibuk mengejar validasi eksternal yang seragam dan bersifat permukaan? Pendidikan: Mencetak Manusia atau Portofolio? 
Pertanyaan yang terus bergelora dalam benak kita adalah: "Sebenarnya sekolah ini tempat mendidik manusia… atau mendidik portofolio?" Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Setiap musim penerimaan siswa baru, pemandangan yang lazim kita jumpai adalah semaraknya spanduk-spanduk besar di depan sekolah. "Selamat kepada Ananda Budi, diterima di UGM. Terima kasih telah mengharumkan nama sekolah." Begitu bunyi salah satu contohnya, lengkap dengan foto siswa yang tersenyum bangga mengenakan jaket almamater kampus impian. 
Ucapan selamat bertebaran di media sosial, kepala sekolah ikut mengunggah, dan alumni pun turut bangga. Tentu saja, kebahagiaan ini patut dirayakan. Siapa yang tidak bangga melihat muridnya sukses menembus perguruan tinggi top? Namun, di tengah euforia itu, kerap kali ada ganjalan yang mengusik: bagaimana dengan "Siti"? Siti, mungkin, diterima di STIE Tri Dharma, sebuah universitas swasta yang lokasinya agak masuk gang, tidak sepopuler UGM. Ia mendaftar sendiri, menyiapkan berkas di sela-sela membantu orang tuanya menjaga warung. 
Tidak ada spanduk untuk Siti. Tidak ada ucapan "terima kasih telah mengharumkan nama sekolah." Keberhasilannya seolah lenyap dalam bayang-bayang prestasi yang "layak dipajang." Ini memicu pertanyaan krusial: jangan-jangan selama ini yang kita apresiasi itu bukan perjuangan, tapi branding? Bahkan, ironisnya, fenomena ini semakin tervalidasi dengan maraknya seminar tentang branding sekolah. Seolah-olah, nilai sebuah institusi pendidikan diukur dari seberapa banyak "produk unggulan" yang bisa dipamerkan di katalog prestasinya. 
Ketika Apresiasi Hanya untuk yang Terpilih Maka, kembali kita merenung: Apakah kita benar-benar sedang mendidik manusia sesuai versi terbaik dirinya? Atau kita sedang mencetak ‘produk unggulan’ buat katalog prestasi institusi? Prestasi memang penting, itu tidak bisa dimungkiri. Namun, apakah hanya mereka yang diterima di perguruan tinggi negeri favorit yang disebut "berhasil"? 
Bagaimana dengan mereka yang melanjutkan ke politeknik kecil, atau bahkan memilih untuk bekerja terlebih dahulu demi bisa melanjutkan kuliah tahun depan? Apakah perjuangan mereka tidak layak disebut sebagai hasil pendidikan juga? Apakah ketekunan dan kerja keras mereka dalam menghadapi realitas hidup tidak pantas mendapatkan apresiasi? 
Seringkali, tanpa disadari, kita sedang diam-diam ikut menyaring manusia dengan standar yang kita anggap ‘layak ditampilkan di spanduk’. Seolah-olah, ada kriteria tidak tertulis tentang "alumni sukses" yang hanya mencakup mereka dengan label-label bergengsi. Yang lainnya? Ya, mereka memang alumni juga, tapi "bukan yang itu lho… yang itu…" Sebuah pengabaian halus yang dapat melukai semangat dan memupus rasa bangga. 
Pendidikan Sejati Melampaui Baliho Penulis artikel ini teringat pengalamannya sendiri: masuk universitas dengan jurusan Pendidikan Teknik Mesin yang kala itu tidak termasuk kategori favorit. Namun, dari sana ia tetap bisa tumbuh, belajar, dan menjadi manusia yang utuh. Ia kemudian menjadi seorang guru, dan dari sanalah ia menyadari: jangan-jangan sekolah memang lupa, bahwa menjadi manusia itu bukan perlombaan banner. 
Menjadi manusia berarti tumbuh, berkembang, dan memberikan kontribusi dalam berbagai bentuk, terlepas dari label institusi atau popularitas. Pendidikan sejati seharusnya tentang memfasilitasi setiap individu untuk mencapai potensi terbaiknya, bukan sekadar mencetak daftar prestasi yang seragam. Kamu Sudah Masuk Hati Kami Maka, melalui artikel ini, sebuah pesan penting ingin disampaikan: Untuk kamu yang diterima di mana pun – baik di perguruan tinggi negeri, swasta, akademi, bahkan "sekolah kehidupan" itu sendiri – ketahuilah, kamu juga bagian dari perjuangan kami. 
Perjuanganmu, usahamu, dan semua tetes keringatmu dalam meraih mimpi adalah bagian tak terpisahkan dari misi pendidikan. Jika sekolah ini benar-benar mendidik manusia, maka tak satupun perjuanganmu akan luput dari apresiasi. Mungkin namamu tidak terpampang di baliho besar di pinggir jalan, namun percayalah, kamu sudah masuk hati kami. 
Yang terpenting dari segalanya adalah: teruslah bertumbuh. Teruslah belajar, beradaptasi, dan berkembang, dengan atau tanpa spanduk ucapan selamat. Karena pada akhirnya, nilai sejati seorang manusia tidak diukur dari seberapa megah pengakuan eksternal yang ia dapatkan, melainkan dari seberapa besar ia mampu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, dan seberapa besar dampaknya bagi dunia di sekitarnya.
Sumber : Grup WA GSM Kab. Purbalingga.

Read More »
29 June | 0komentar

Peran Pendidik Dalan Kebiasaan Berolahraga


Penerapan kebiasaan berolahraga pada peserta didik memerlukan pendekatan yang menyenangkan, sederhana, dan penuh semangat. Beberapa cara yang dapat dilakukan pendidik untuk menumbuhkembangkan kebiasaan berolahraga antara lain: 
  1. Pendidik perlu berperan aktif dalam kegiatan olahraga untuk menjadi teladan bagi peserta didik
  2. Pendidik dapat melibatkan peserta didik memilih olahraga yang disukai melalui survei minat, sehingga peserta didik akan bersemangat untuk melakukan olahraga secara berkesinambungan. 
  3. Pendidik dapat menjelaskan manfaat olahraga secara ilmiah dan relevan, seperti menjaga berat badan ideal, meningkatkan energi, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan daya konsentrasi. Kaitkan aktivitas fisik dengan pengembangan karakter, seperti disiplin, kerja tim, dan ketekunan. 
  4. Pendidik dapat mengajak peserta didik memulai kegiatan rutin setiap pagi di kelas untuk menggerakkan tubuh atau peregangan singkat atau latihan ringan selama beberapa menit sebelum memulai pelajaran, sehingga tubuh lebih siap dan segar untuk belajar. 
  5. Pendidik dapat menggunakan media sosial satuan pendidikan untuk mengadakan kampanye atau tantangan olahraga, misalnya “Tantangan Lari 5 KM”. Hal ini dapat memotivasi peserta didik untuk terlibat karena ada unsur sosial dan tantangan. Guru dapat mendokumentasikan momen olahraga peserta didik dan menampilkannya di papan pengumuman atau di media sosial satuan pendidikan sebagai bentuk apresiasi dan motivasi. 
  6. Pendidik dapat mengadakan program olahraga di luar satuan pendidikan atau kegiatan alam, seperti hiking, susur sungai, atau mendaki bukit. 
  7. Pendidik dapat mengajak peserta didik untuk membuat catatan kebugaran pribadi atau jurnal olahraga yang berisi aktivitas yang dilakukan, pencapaian, dan perasaan peserta didik setelah berolahraga. Gunakan alat sederhana seperti stopwatch atau pedometer untuk mengukur kemajuan, seperti berapa jauh dapat berlari. 
  8. Bagi peserta didik yang kurang percaya diri dalam olahraga, pendidik dapat memberi pilihan olahraga non-kompetitif seperti yoga atau latihan kekuatan ringan. Pastikan kegiatan olahraga dapat diikuti oleh semua peserta didik, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus. Modifikasi aktivitas atau berikan pilihan olahraga ringan agar semua peserta didik dapat ikut serta. 
  9. Pendidik dapat menetapkan hari tertentu setiap minggu untuk kegiatan olahraga rutin dan beragam, seperti bermain sepakbola, lari estafet, bola basket, voli, bulu tangkis, lari, jalan sehat atau bahkan yoga. 
  10. Pendidik perlu memberikan penghargaan atau apresiasi kepada peserta didik yang rutin berolahraga atau mencapai target tertentu untuk memotivasi peserta didik agar terus berolahraga.

Read More »
12 January | 0komentar

Peran Orang Tua/Wali dalam Menerapkan Kebiasaan Bangun Pagi


Membiasakan anak usia dini untuk bangun pagi setiap hari memerlukan kesabaran dan konsistensi, mengingat bahwa pola tidur anak masih dalam tahap perkembangan. Berikut beberapa cara untuk membantu membiasakan anak usia dini bangun pagi. 
1) Orang tua/wali menjadi teladan yang baik dengan membiasakan diri untuk bangun pagi. Jika anak melihat orang tua bangun pagi, anak akan belajar bahwa bangun pagi adalah bagian penting dari kehidupan keluarga, sehingga anak akan meniru kebiasaan ini. 
 2) Orang tua/wali perlu menetapkan jam tidur yang konsisten dan memastikan anak tidur pada waktu yang sama setiap malam sehingga memungkinkan anak bangun pagi dengan segar. 
3) Orang tua/wali perlu membuat kegiatan rutin sebelum tidur yang menenangkan, seperti mendongeng atau membacakan buku cerita atau menyetel musik lembut. Kegiatan ini membantu tubuh anak beristirahat dan lebih siap tidur sehingga mudah terbangun keesokan harinya. 
4) Orang tua/wali perlu menerapkan prinsip 3S (Screen Time, Screen Break, Screen Zone) di rumah. Pertama, mengajarkan untuk screen time berapa lama dan cara mengaturnya (Screen Time). Kedua, melakukan jeda ketika anak beraktivitas dengan gadget, untuk bermain, berinteraksi, atau bersosialisasi (Screen Break). Ketiga, menetapkan wilayah bebas gadget di 3 ruangan rumah: ruang tidur, ruang makan, dan kamar mandi (Screen Zone).

Catatan Penting: Waktu penggunaan layar (screen time) diantaranya TV, laptop, tablet, dan ponsel untuk anak di bawah 2 tahun adalah 0 (nol) jam atau tidak diperbolehkan sama sekali, untuk anak usia 2-5 tahun adalah 1 jam per hari, di atas usia anak 6 tahun ke atas tidak melebihi 2-3 jam per hari dengan konten edukatif dan bimbingan orang tua (WHO, IDAI, Kemenkes).
5) Orang tua/wali perlu mengondisikan suasana pagi yang menyenangkan, misalnya dengan menyajikan sarapan favorit atau menyetel musik yang disukai anak. Hal ini membantu anak merasa senang dan lebih termotivasi untuk bangun pagi. 
6) Orang tua/wali perlu membangunkan anak bangun pagi dengan lembut dan beri waktu untuk menyesuaikan diri, seperti membelai rambut atau mengajak anak berbicara dengan nada lembut, dan memberikan beberapa menit untuk beradaptasi. 
7) Orang tua/wali perlu melakukan kegiatan pagi di luar rumah, jika memungkinkan, seperti mengajak anak untuk bermain atau berjalan-jalan sebentar di luar rumah setelah bangun pagi. Kegiatan ini membantu anak merasakan manfaat udara segar, serta membuat anak lebih semangat untuk bangun pagi keesokan harinya. 
8) Orang tua/wali perlu memotivasi anak untuk mematuhi jadwal bangun pagi di jam yang sama pada akhir pekan untuk menjaga konsistensi bangun pagi sehingga tubuh anak terbiasa. 
9) Orang tua/wali dapat menjadikan kebiasaan bangun pagi sebagai kegiatan rutin keluarga, seperti menikmati sarapan bersama atau melakukan kegiatan ringan di pagi hari. Anak akan lebih mudah bangun pagi jika melihat seluruh keluarga melakukannya bersama. 
10) Orang tua/wali perlu memberi pujian atau apresiasi ketika anak berhasil bangun pagi. Pujian ini membuat anak merasa dihargai dan lebih semangat untuk menjaga kebiasaan bangun pagi.

Read More »
11 January | 0komentar

Di Balik Senyum Guru: Tantangan yang Jarang Tersorot dalam Dunia Pendidikan




Tanggal 25 November setiap tahun, di rayakan sebagai Hari Guru. Peringatan ini sebagai bentuk apresiasi atas jasa para guru/pendidik. Senyum ramah dan semangat mereka dalam mengajar seringkali menjadi pemandangan yang menghiasi ruang-ruang kelas. Namun, di balik senyum ceria itu, tersimpan beragam tantangan yang jarang tersorot dan patut kita sadari bersama. 

Beban Kerja yang Menumpuk 
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi guru adalah beban kerja yang sangat padat. Selain mengajar di kelas, guru juga harus menyusun rencana pembelajaran, memeriksa  tugas siswa, membuat laporan, dan mengikuti berbagai pelatihan. Belum lagi tuntutan administrasi yang semakin kompleks dan seringkali memakan waktu yang cukup banyak. Terdapat 5 aplilasi yang merupakan bagian dari beban administrasi/ dokumen kepegawaian guru. Beban kerja yang berlebihan ini dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental guru, serta mengurangi kualitas waktu yang dapat mereka dedikasikan untuk setiap siswa. 


Keterbatasan Sarana dan Prasarana 
Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran. Kurangnya buku pelajaran, alat peraga, laboratorium, dan akses internet yang terbatas menjadi kendala bagi guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Kondisi ini semakin terasa di daerah-daerah terpencil, di mana guru harus berkreasi dengan segala keterbatasan yang ada. Perkembangan Teknologi yang Pesat Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat menghadirkan tantangan tersendiri bagi guru. Mereka dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi dengan berbagai platform pembelajaran online, aplikasi pendidikan, dan media sosial. Meskipun teknologi menawarkan banyak manfaat, namun tidak semua guru memiliki akses yang sama terhadap pelatihan dan dukungan yang diperlukan. 

Keberagaman Siswa 
Setiap siswa memiliki karakter, minat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Guru harus mampu mengakomodasi keberagaman ini dalam proses pembelajaran. Namun, dengan jumlah siswa yang cukup banyak di setiap kelas, seringkali sulit bagi guru untuk memberikan perhatian yang cukup kepada setiap individu. Disiplin Siswa yang Menurun Perubahan zaman dan pengaruh lingkungan sekitar membuat disiplin siswa menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Perilaku siswa yang kurang menghormati guru dan teman, serta kecenderungan untuk lebih banyak menggunakan gadget daripada belajar, menjadi masalah yang cukup serius. 

Ancaman kriminalisasi guru menjadi isu yang semakin sering terdengar belakangan ini. Tindakan hukum yang ditujukan kepada guru, seringkali dipicu oleh berbagai faktor, seperti perbedaan persepsi dalam proses pembelajaran, tuntutan akademik yang tinggi, atau bahkan masalah pribadi. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, mengingat peran guru yang sangat penting dalam membentuk generasi muda.

Dampak dari Tantangan Tersebut 
Tantangan-tantangan yang dihadapi guru dapat berdampak pada kualitas pendidikan secara keseluruhan. Guru yang kelelahan dan terbebani akan kesulitan memberikan pembelajaran yang efektif. Selain itu, kurangnya sarana dan prasarana yang memadai dapat menghambat perkembangan potensi siswa. 

Solusi dan Harapan 
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu meningkatkan anggaran pendidikan, menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, serta memberikan pelatihan yang berkelanjutan bagi guru. Sekolah juga harus memberikan dukungan yang lebih baik kepada guru, misalnya dengan mengurangi beban administratif dan menyediakan waktu yang cukup bagi guru untuk berkolaborasi. 
Masyarakat pun perlu memberikan apresiasi yang lebih tinggi terhadap profesi guru dan ikut berperan serta dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Di balik senyum mereka, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang telah berjuang keras untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudah saatnya kita memberikan perhatian yang lebih serius terhadap tantangan yang mereka hadapi dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan.

Read More »
25 November | 0komentar

Parkir Motor Berdasarkan Merek : Lebih dari Sekadar Estetika

Parkir Rapi berdasar Merek

Pendahuluan
 
Awalnya sekolah melakukan penerapan parkir berdasarkan merek saat ketika awal tahun pelajaran 2021/2022. Jumlah sepeda motor yang dibawa siswa semakin banyak dan kesemrawutan saat parkir. 
SMKN 1 Bukateja memiliki 1830 siswa dari 7 Konsentrasi Keahlian dan 51 rombel, lebih dari 75% menggunakan sepeda motor. Ketidakrapian ini terjadi karena beragamnya ukuran dan bentuk sepeda motor dan tentunya masa bodohnya siswa ketika parkir.
Awal memberlakukan parkir berdasarkan merek sangatlah berat karena harus memberitahukan terlebih dahulu dengan mengarahkannya. Meskipun telah dilakukan sosialisasi sebelum pelaksanaannya.


Mengapa Parkir Berdasarkan Merek Jadi Tren? 
  • Memupuk Disiplin dan Rasa Memiliki: Dengan menata motor berdasarkan merek, siswa diajarkan untuk lebih disiplin dan bertanggung jawab atas kendaraan mereka. Mereka juga akan merasa memiliki dan bangga terhadap area parkir sekolah. 
  • Meningkatkan Kesadaran akan Keselamatan: Penataan yang rapi dan teratur dapat membantu mengurangi risiko kecelakaan atau kerusakan kendaraan. Siswa juga akan lebih mudah menemukan motornya sehingga tidak perlu berdesakan. 
  • Menumbuhkan Semangat Komunitas: Siswa yang memiliki merek motor yang sama akan lebih mudah berinteraksi dan membangun komunitas kecil di sekolah. Hal ini dapat memperkuat ikatan sosial antar siswa. 
  • Mendidik tentang Tata Krama: Melalui kegiatan menata motor, siswa secara tidak langsung belajar tentang tata krama dan etika dalam bermasyarakat. Mereka diajarkan untuk menghargai hak milik orang lain dan menjaga kebersihan lingkungan.
  • Estetika yang Memukau: Penataan motor berdasarkan merek menciptakan tampilan visual yang sangat menarik. Deretan motor dengan desain yang serupa dan warna yang senada akan memberikan kesan yang elegan dan mewah. 
  • Identitas Komunitas: Bagi para pemilik motor, mengelompokkan motor berdasarkan merek adalah cara untuk menunjukkan identitas dan solidaritas terhadap komunitas motor tertentu. 
  • Kemudahan Menemukan Motor: Dengan penataan yang rapi, pemilik motor akan lebih mudah menemukan motornya di antara deretan kendaraan lainnya. 
  • Terlihat rapih

Tantangan dan Solusi 
Meskipun banyak manfaat, penerapan sistem ini tentu tidak tanpa tantangan. Beberapa di antaranya adalah: 
  • Perbedaan Merek: Tidak semua sekolah memiliki jumlah siswa dengan merek motor yang beragam. 
  • Ruang Parkir Terbatas: Sekolah dengan lahan terbatas mungkin kesulitan untuk menerapkan sistem ini secara optimal. 
  • Perawatan: Membutuhkan kesadaran dan kerja sama dari semua siswa untuk menjaga kerapian dan kebersihan area parkir.

Solusi: 
  • Fleksibel: Sekolah dapat membuat kategori yang lebih luas, misalnya motor bebek, motor sport, atau skuter. 
  • Zona Khusus: Untuk motor dengan jumlah yang sedikit, dapat dibuat zona khusus yang lebih kecil. 
  • Sosialisasi: Sekolah perlu melakukan sosialisasi secara intensif kepada siswa dan orang tua tentang pentingnya menjaga kebersihan dan ketertiban area parkir.
Tips Membuat Parkir Motor Makin Elegan 
  • Pilih Lokasi yang Strategis: Pilihlah lokasi parkir yang cukup luas dan memiliki permukaan yang rata agar motor bisa ditata dengan rapi. 
  • Kelompokkan Berdasarkan Merek dan Tipe: Pisahkan motor berdasarkan merek dan tipe untuk menciptakan tampilan yang lebih teratur. 
  • Perhatikan Warna: Usahakan untuk mengelompokkan motor berdasarkan warna yang senada agar tampilan semakin menarik. 
  • Tambahkan Aksesoris: Tambahkan aksesoris seperti spanduk atau banner kecil yang bertuliskan nama merek motor untuk memperkuat kesan elegan. 
  • Jaga Kebersihan: Pastikan motor selalu dalam keadaan bersih dan mengkilap agar tampilan parkir semakin sempurna. 

Contoh Penerapan Parkir Berdasarkan Merek 
Di Sekolah: Beberapa sekolah telah menerapkan sistem parkir motor berdasarkan merek untuk menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif dan menyenangkan. 
Di Komunitas Motor: Komunitas motor sering kali mengadakan acara gathering dengan menampilkan motor-motor anggota yang ditata berdasarkan merek. 
Di Apartemen: Beberapa apartemen modern telah menyediakan area parkir khusus motor yang didesain dengan konsep mengelompokkan motor berdasarkan merek. 
Parkir berdasarkan merek tidak hanya sekadar tren, tetapi juga merupakan bentuk apresiasi terhadap dunia otomotif. Dengan penataan yang tepat, parkir motor bisa menjadi ruang yang estetis dan menyenangkan bagi semua orang. Selain itu, tren ini juga dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama pemilik motor.

Read More »
08 October | 0komentar

Keberhasilan Yang Sesungguhnya adalah Keberanian untuk Mencoba

Setiap orang atau juga peserta didik pasti pernah mengalami momen di mana hasil yg diperoleh belum sesuai dgn harapan, atau bahkan juga kita sebagai gurunya juga demikian. Mungkin tugas yg dikerjakan dengan penuh semangat ternyata belum mendapat nilai yang diinginkan, atau usaha keras dalam belajar belum membuahkan hasil yg memuaskan, kesalahan terjadi, merasa langkah kita mundur. 
Keberanian untuk tetap melangkah sebagai upaya kita untuk maju tentu dalam kerangka koreksi terhadapnya bahkan ketika hasilnya belum sempurna. Sebenarnya dengan kesalahan dan kekurangan tersebut dapat menjadikan sebuah kekuatan yang sebenarnya, proses yang terus menerus diupayakan bukan hanya sebagai hasil akhir, akan menetapkan motivasi pada diri untuk selalu berbenah. 
Capaian yang dihasilkan meskipun kecil atau diiringi kesalahan, adalah cara kita untuk menghargai proses, bukan hanya hasil akhir. Bahwa proses belajar adalah awal perjalanan tentang perkembangan, bukan tentang kesempurnaan. Setiap kesalahan yg kita buat adalah pelajaran berharga dan setiap usaha yg kita lakukan, seperti apapun hasilnya, adalah sebuah langkah maju. 
Keberhasilan yang sesungguhnya adalah keberanian untuk mencoba, meski ada risiko gagal. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar, dan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk bangkit & mencoba lagi dengan lebih baik. Mungkin kita tidak mendapatkan nilai tertinggi, tapi kita telah berusaha sebaik mungkin, menghabiskan waktu berjam-jam belajar, dan mencoba memahami materi yang sulit. 
Proses belajar melalui refleksi diri pada capaian yang kita telah lakukan/ kerjakan adalah pencapaian besar dari rangkaian keberhasilan selanjutnya. Usaha membangun rasa percaya diri & motivasi untuk terus berusaha, meski hasilnya belum sempurna. Ini adalah momen untuk memberi apresiasi pada diri sendiri, untuk mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk tdk selalu sempurna. Belajar untuk mencintai diri kita apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yg kita miliki. 
Jadi bahwa hidup ini bukan hanya tentang mencapai tujuan besar, tetapi juga tentang menikmati setiap langkah di sepanjang perjalanan. Setiap usaha yg kita lakukan adalah bagian dari proses belajar & tumbuh, meskipun hasilnya belum sesuai dengan harapan. Bersyukur atas apa yg telah kamu capai, karena dibalik kesalahan dan ketidaksempurnaan, ada keberanian, ada pertumbuhan menuju hal yang lebih baik. 

Read More »
01 September | 0komentar

Prinsip Pembelajaran dan Contoh Pelaksanaannya




Pemerintah tidak mengatur pembelajaran dan asesmen secara detail dan teknis. Namun demikian, untuk memastikan proses pembelajaran dan asesmen berjalan dengan baik, Pemerintah menetapkan Prinsip Pembelajaran dan Asesmen. Prinsip pembelajaran dan prinsip asesmen diharapkan dapat memandu pendidik dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang bermakna agar peserta didik lebih kreatif, berpikir kritis, dan inovatif. Dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran, pendidik diharapkan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

A. Prinsip Pembelajaran


1. Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan peserta didik yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan. 
  • Pada awal tahun ajaran, pendidik berusaha mencari tahu kesiapan belajar peserta didik dan pencapaian sebelumnya. Misalnya, melalui dialog dengan peserta didik, sesi diskusi kelompok kecil, tanya jawab, pengisian survei/angket, dan/ atau metode lainnya yang sesuai.
  • • Pendidik merancang atau memilih alur tujuan pembelajaran sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik, atau pada tahap awal. Pendidik dapat menggunakan atau mengadaptasi contoh tujuan pembelajaran, alur tujuan pembelajaran dan modul ajar yang disediakan oleh Kemendikbudristek. 
  • • Pendidik merancang pembelajaran yang menyenangkan agar peserta didik mengalami proses belajar sebagai pengalaman yang menimbulkan emosi positif

Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat; Pendidik mendorong peserta didik untuk melakukan refleksi untuk memahami kekuatan diri dan area yang perlu dikembangkan. 
  • Pendidik senantiasa memberikan umpan balik langsung yang mendorong kemampuan peserta didik untuk terus belajar dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan. 
  • Pendidik menggunakan pertanyaan terbuka yang menstimulasi pemikiran yang mendalam. 
  • Pendidik memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif agar terbangun sikap pembelajar mandiri.
  • Pendidik memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik.
  • Pendidik memberikan tugas atau pekerjaan rumah ditujukan untuk mendorong pembelajaran yang mandiri dan untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan dengan mempertimbangkan beban belajar peserta didik. 
  • Pendidik merancang pembelajaran untuk mendorong peserta didik terus meningkatkan kompetensinya melalui tugas dan aktivitas dengan tingkat kesulitan yang tepat.

Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara holistik;Pendidik menggunakan berbagai metode pembelajaran yang bervariasi dan untuk membantu peserta didik mengembangkan kompetensi, misalnya belajar berbasis inkuiri, berbasis projek, berbasis masalah, dan pembelajaran terdiferensiasi. 
  • Pendidik merefleksikan proses dan sikapnya untuk memberi keteladanan dan sumber inspirasi positif bagi peserta didik. 
  • Pendidik merujuk pada profil pelajar Pancasila dalam memberikan umpan balik (apresiasi maupun koreksi)

pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra;
  • Pendidik menyelenggarakan pembelajaran sesuai kebutuhan dan dikaitkan dengan dunia nyata, lingkungan, dan budaya yang menarik minat peserta didik. 
  • Pendidik merancang pembelajaran interaktif untuk memfasilitasi interaksi yang terencana, terstruktur, terpadu, dan produktif antara pendidik dengan peserta didik, sesama peserta didik, serta antara peserta didik dan materi belajar. 
  • Pendidik memberdayakan masyarakat sekitar, komunitas, organisasi, ahli dari berbagai profesi sebagai narasumber untuk memperkaya dan mendorong pembelajaran yang relevan.
  • Pendidik melibatkan orang tua dalam proses belajar dengan komunikasi dua arah dan saling memberikan umpan balik. 
  • Pada PAUD, pendidik menggunakan pendekatan multibahasa berbasis bahasa ibu juga dapat digunakan, utamanya bagi peserta didik yang tumbuh di komunitas yang menggunakan bahasa lokal. 
  • Pada SMK, terdapat pembelajaran melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang dilaksanakan di dunia kerja atau tempat praktik di lingkungan sekolah yang telah dirancang sesuai dengan standar dunia kerja, menerapkan sistem dan budaya kerja sebagaimana di dunia kerja, dan disupervisi oleh pendidik/instruktur yang ditugaskan atau memiliki pengalaman di dunia kerja yang relevan. 
  • Pada SMK, pendidik dapat menyelenggarakan pembelajaran melalui praktik-praktik kerja bernuansa industri di lingkungan sekolah melalui model pembelajaran industri (teaching factory)

pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.
  • Pendidik berupaya untuk mengintegrasikan kehidupan keberlanjutan (sustainable living) pada berbagai kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai dan perilaku yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bumi, misalnya menggunakan sumber daya secara bijak (hemat air, listrik, dll.), mengurangi sampah, dsb. 
  • Pendidik memotivasi peserta didik untuk menyadari bahwa masa depan adalah milik mereka dan mereka perlu mengambil peran dan tanggung jawab untuk masa depan mereka.
  • Pendidik melibatkan peserta didik dalam mencari solusisolusi permasalahan di keseharian yang sesuai dengan tahapan belajarnya.
  • Pendidik memanfaatkan projek penguatan profil pelajar Pancasila untuk membangun karakter dan kompetensi peserta didik sebagai warga dunia masa depan

Read More »
19 October | 0komentar

Eksplorasi Konsep Modul 2.2, Kompetensi Sosial - Emosional (KSE)

Forum Diskusi, Eksplorasi Konsep, 17 Nov 2022



Kutipan hari ini:
“Mendidik pikiran tanpa mendidik hati, adalah bukan pendidikan sama sekali” (Aristoteles, Filsuf)
mendiskusikan penerapan 5 KSE yang dibutuhkan dalam sebuah kasus bersama para CGP lain. Tujuan dalam diskusi adalah pengembangan gagasan dan pencapaian pemahaman bersama, sehingga dapat memperkuat pemahaman konsep yang lebih baik. Melakukan diskusi pada waktu yang telah ditentukan, mohon untuk membaca aturan untuk forum diskusi berikut ini:
Aturan forum diskusi tertulis: Sebelum kita melanjutkan sesi diskusi, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar diskusi dapat berjalan dengan efektif dan produktif: 
Setiap CGP harus menjawab pertanyaan berkaitan dengan kasus Bapak Eling. Diskusi ini bertujuan untuk mengembangkan pemahaman bersama penerapan kompetensi sosial dan emosional dalam suatu situasi. Sikap terbuka dan rasa ingin tahu menjadi nilai dasar dari proses diskusi ini. Membangun pendapat dengan mempertimbangkan tanggapannya terhadap respon/jawaban CGP lain.

Urgensi PSE, yaitu peningkatan kompetensi sosial dan emosional, terciptanya lingkungan belajar yang lebih positif, peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan sekolah
Halaman 1
Urgensi PSE, yaitu peningkatan kompetensi sosial dan emosional, terciptanya lingkungan belajar yang lebih positif, peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan sekolah
Halaman 1
Urgensi PSE, yaitu peningkatan kompetensi sosial dan emosional, terciptanya lingkungan belajar yang lebih positif, peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan sekolah
Halaman 2
Peningkatan kompetensi sosial dan emosional, terciptanya lingkungan belajar yang lebih positif, peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan sekolah
Halaman 2
Kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda-beda.menerapkan pembelajaran sosial emosional guna mendorong perkembangan anak secara positif dengan program yang terkoordinasi antara berbagai pihak komunitas sekolah
Halaman 3
Apa KSE yang dapat diterapkan dalam kegiatan tersebut? Bagaimana kegiatan tersebut dapat membantu murid untuk mengembangkan KSE tersebut? (Kolom 2 Baris 1 adalah contoh untuk Anda)
Halaman 4
Apa KSE yang dapat diterapkan dalam kegiatan tersebut? Bagaimana kegiatan tersebut dapat membantu murid untuk mengembangkan KSE tersebut? (Kolom 2 Baris 1 adalah contoh untuk Anda).
Jawaban
2. Kesadaran diri : murid menghubungkan perasaan,pikiran dan nilai-nilai dari buku yang dibaca. 3. Kesadaran diri : Murid menceriterakan apa yang disukai selama pembelajaran,materi yang mudah dan apa yang akan dipelajari lebih lanjut; 4. Kesadaran diri : murid memberikan nilai yang diyakininya berkaitan dengan etika dalam penggunaan medsos.; Kesadaran Sosial: mempertimbangkan pendapat teman; Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab: manfaat kegiatan bagi komunitas. 5. Kesadaran diri: Menunjukan integritas dan kejujuran dalam menyelesaikan tugas-tugas; Manajemen diri: ketrampilan mengelola tugas dari guru; Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab: membuat keputusan yang masuk akal setelah menganalisis informasi. 6. Kesadaran diri: Siswa mengidentifikasi minat dan bakat dibidang seni,literasi, olah raga dll; Kesadran sosial: mengakui prestasi orang lain.
Halaman 5
Pembelajaran Sosial dan Emosional merupakan pembelajaran dalam pembentukan diri yang mengarah pada kesadaran diri, kontrol diri, dan kemampuan relasi. Pribadi yang memiliki sosial emosional yang baik akan lebih dapat bersikap profesional, mudah belajar, bersosialisasi, dan menyukai tantangan dalam bekerja.
Halaman 6
Dikelas: : Berikan instruksi kepada murid untuk mengingat Kembali dan memikirkan kejadian/ pengalaman yang pernah dialami saat mereka bekerja sama di dalam kelompok. Ajak mereka untuk memikirkan bagaimana kondisi saat diskusi kelompok berjalan dengan baik dan tidak berjalan baik. Apa perbedaan dari kedua kondisi tersebut? Alternatif kegiatan kedua adalah dengan menggunakan media video tutorial terkait diskusi untuk resolusi konflik. Sediakan video tutorial , kemudian minta murid menonton. Kemudian diskusikan dan minta murid Anda mencatat bagaimana keefektifan cara secara runtut berkaitan dengan proses kerjanya digunakan dalam video tersebut.
Halaman 7
Implementasi PSE dengan pengajaran eksplisit adalah bentuk pembelajaran yang kontekstual, dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Halaman 8
Sebelumnya saya berpikir bahwa kompetensi sosial dan emosional (KSE) tidak perlu dalam pembelajaran ternyata kecerdasan sosial dan kecerdasan emosional dapat ditumbuhkan dan dikembangkan melalui pembelajaran formal di ruang lingkup kelas dan sekolah dengan dikolaborasikan bersama dengan keluarga danj komunitas. tidak hanya dilingkungan.
Halaman 9
Sebelumnya saya berfikir bahwa menumbuhkan empati dapat dilakukan didalam pembelajaran ternyata dapat dikembangkan didalam kelas. Ide pembelajaran yang akan saya lakukan adalah melakukan teknik STOP.
Halaman 10
Sebelumnya saya pikir saya pikir kesadaran sosial hanya diperlukan oleh lingkungan masyarakat, ternyata kesadaran sosial penting dikembangkan di kelas-kelas. Pembelajaran ini berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang berkarakter baik.
Halaman 11
Sebelumnya saya befikir kesadaran berelasi hanya dilakukan di lingkungan ternyata Kesadaran sosial sebagai dijelaskan dalam Keterampilan Sosial Emosional menjadi fondasi keterampilan berelasi kita karena dalam berelasi kita membutuhkan kepekaan terhadap lawan bicara kita. Sehingga perilaku yang kita tunjukan, kosa kata yang dipilih, cara kita berbicara dan pendekatan yang kita lakukan tidak akan menyinggung lawan bicara kita.
Halaman 12
Sebelumnya saya berfikir bahwa RPP hanya diperuntukan baai mana kita merancang pembelajaran tentang materi ajar kita saja ternyata dapat dikembangkan melalui RPP untuk mengajarkan pengambilan keputusan dengan POOCH. ketika kita dihadapkan pada suatu permasalahan, maka akan dapat melihat apa masalahnya dan apa penyebabnya. Lalu, menemukan apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Apa saja kemungkinan yang terjadi dari sisi positif maupun negatif serta menentukan apa keputusan yang dapat diambil dalam mengatasi permasalahan tersebut.
Halaman 13
KSE dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik, tujuan Kompetensi Sosial Emosional dapat diintegrasikan ke dalam konten pembelajaran dan strategi pembelajaran pada materi akademik, serta musik, seni, dan pendidikan jasmani. Jadi kegiatan akan memudahkan dalam pelaksanaannya oleh semua guru. Integrasi KSE dalam pembelajaran dapat dilakukan dalam tahap pembelajaran yaitu pembukaan yang hangat, kegiatan inti yang melibatkan murid seperti pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek dan lainnya. dan bagian ke tiga adalah penutupan yang optimistik.
Halaman 14
Sebelumnya saya berfikir bahwa membuat RPP hanya untuk materi/ bentuk materi yg kita persiapan jadi Pembelajaran Sosial Emosional tidak dapat berdiri sendiri sebab pembelajaran sosial emosional merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional agar dapat: 1.Memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran diri), 2.Menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), 3.Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), 4.Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi), 5.Membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab).
Halaman 15
1. Sebelumnya saya berpikir mewujudkan kondisi kelas yang menyenangkan itu susah ternyata setelah mempelajari materi Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah kegiatan yang sangat mudah dan dilakukan bersama-sama dengan murid. 2. Ide pembelajaran baru atau menarik akan saya terapkan di kelas saya adalah mengintegrasikan emosional guru dengan murid bersama sama mewujudkan kelas yang menyenangakan dengan saling kolaborasi kerjasama. 3. Yang ingin saya perdalam lebih lanjut adalah kesadaran sosial yang menjadi menarik untuk diperdalam dan dikuatkan dalam kompetensi Sosial dan emosional. salam dan bahagia. 1. sebelumnya saya berfikir bahwa menciptakan iklim kelas dan budya sekolah lebih kepada hal fisik misalkan menciptakan ruang kelas yang indah, bersih dan nyaman, ternyata menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah juga menyangkut bagaimana interaksi antara murid dengan murid, murid dengan guru dan tenaga kependidikan lainnya 2. tugas kita kita sebagai guru adalh mengimplementasikan pembelajaran sosial dan emosional di kelas dan sekolah dapat diberikan melalui : pengajaran eksplisit integrasi dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik, menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah 5 kompetensi sosial dan emosional yang harus dikuasai murid adalah : kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi , dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 3. pembelajaran yang menarik yang akan saya terapkan dikelas adalah saya akan membuat RPP yang terintegrasi dengan pembelajaran sosial emosional dan pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada murid
Halaman 16
Penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tenaga kependidikan menjadi salah satu indikator penting dalam pembelajaran sosial emosional di sekolah. Penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tenaga kependidikan selaras dengan Standar Kompetensi Pedagogik, Kepribadian dan Sosial Guru. Guru mendapatkan penguatan untuk menguasai karakteristik peserta didik dari aspek sosial, kultural emosional, serta menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, arif dan dewasa. Langkah yang dapat dilakukan adalah dengan belajar, berkolaborasi dan menjadi teladan. Jadi yang menjadi teladan di sekolah bagi murid - murid tidak hanya guru saja tapi tenaga kependidikan yang lain seperti staf TU, laboran, caraka dsb.
Halaman 17
(1) Menerapkan kompetensi sosial emosional dalam peran dan tugas alasannya yakni akan semakin kuat terkait dengan KSE karena dilakukan setiap saat; (2) Menciptakan budaya mengapresiasi alasannya karena dengan kegiatan tersebut akan menguatkan KSE sebab sifat seseorang yakni akan merasa senang apabila mendpatkan apresiasi terhadap kegiatan yang dilakukannya; (3) Mengagendakan sesi berbagi praktik baik alasannya dengan kegiatan tersebut akan terjadi kolaborasi dan terdapat hal-hal yang menyenangkan sehingga akan menumbuhkan kesadaran penuh (minefull) yang kuat; (4) Mengintegrasikan kompetensi sosial emosional dalam pelaksanaan rapat guru, alasannya yakni hal ini merupakan sesuatu yang baru dan merupakan tantangan bagi saya, selain itu pada saat rapat guru pastinya semua guru terlibat sehingga akan banyak yang merasakan penguatan KSE.
Halaman 18
langkah penguatan kompetensi yang penting bagi rekan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah saat saat ini adalah belajar dan teladan, alasannya rekan pendidik dan tenaga kependidikan perlu diberitahu dulu melalui sosialisasi tentang penguatan kompetensi sosial dan emosional di sekolah. Setelah mereka memahami apa itu PSE dan apa tujuannya maka mereka baru akan mau melakukannya. Nah untuk mendukung pelaksanaan penguatan kometensi sosial emosional perlu adanya suatu keteladanan. Setelah terbangun pemahaman bersama barulah pendidik dan tenaga kependidikan dapat berkolaborasi dalam penguatan Kompetensi sosial dan emosional. Jadi saat ini sebagai langkah awal yang dibutuhkan adalah belajar.langkah penguatan kompetensi adalah kolaborasi bagi rekan pendidik dan tenaga kependidikan disekolah saya karena dengan kolaborasi akan bisa diselesaikan sesuai harapan dan apabila ada hambatan akan diuraikan persoalan bersama sehingga mendapatkan hasil yang menyenangkan bersama. salam dan bahagia.

Read More »
02 June | 0komentar