Read More »
Refleksi Guru SMK: Menghidupkan Link and Match Melalui PBL dan Teaching Factory
Read More »
Tantangan Guru Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Ruang Kelas
Read More »
Kerangka FIRST dan Peran Baru Guru dalam Kegiatan Kokurikuler
Kokurikuler dalam pembelajaran mendalam adalah kegiatan penguatan dan pendalaman materi yang dilakukan di luar jam pelajaran intrakurikuler untuk mengembangkan karakter dan kompetensi siswa secara utuh. Kegiatan ini dirancang untuk memperkaya pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan seperti studi lapangan, proyek riset, atau kegiatan seni budaya, dan memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret serta bermakna di kehidupan nyata.
| Tantangan | Deskripsi | Solusi |
|---|---|---|
| 1. Keterbatasan sumber daya dan fasilitas |
Keterbatasan waktu, fasilitas, dan ruang yang memadai untuk melaksanakan kegiatan kokurikuler secara optimal. |
Peningkatan pelatihan berkelanjutan untuk guru terkait integrasi deep learning dalam kegiatan kokurikuler. |
| 2. Kurangnya pelatihan guru dalam deep learning |
Guru kurang siap dalam mengintegrasikan deep learning dalam setiap kegiatan kokurikuler |
Memberikan pelatihan berkelanjutan yang lebih terstruktur tentang pembudayaan deep learning dalam kegiatan kokurikuler. |
| 3. Kesulitan siswa dalam mengaitkan kegiatan kokurikuler dengan pembelajaran mendalam |
Siswa sering kali lebih fokus pada pencapaian tujuan sesaat tanpa mengaitkan dengan pembelajaran mendalam |
Pengelolaan kegiatan kokurikuler yang lebih terstruktur dan berbasis refleksi, serta penguatan hubungan teori dengan pengalaman nyata. |
| 4. Resistensi terhadap perubahan metode pembelajaran |
Guru dan orang tua masih merasa ragu terhadap efektivitas metode deep learning dalam pendidikan dasar. |
Meningkatkan kesadaran dan pemahaman orang tua serta guru tentang manfaat deep learning melalui komunikasi dan sosialisasi yang lebih intens. |
Read More »
Pembelajaran Mendalam Yang Saintifik
|
Metode Mengajar Guru |
Keaktifan Siswa |
||
|
Tidak Ada |
Ada,Insidental |
Ada, Tinggi |
|
|
Tidak Ada |
A |
B |
C |
|
Ada,Insidental |
D |
E |
F |
|
Ada,Berkualitas |
G |
H |
I |
- Situasi A, kedua pihak guru dan siswa sama-sama tidak mempunyai minat mengajar dan belajar, maka sebenarnya tidak ada kegiatan pembalajaran.
- Situasi B, guru tidak siap mengajar karena belum menyiapkan metode mengajar, sedangkan siswa hanya memiliki sedikit niat belajar.
- Situasi C, siswa memiliki niat belajar yang sangat tinggi, tetapi guru tidak siap mengajar.
- Situasi D, guru belum terlalu siap mengajar, jadi hanya insidental, sedangkan siswa tidak memiliki niat belajar, maka akan terjadi situasi pembelajaran tanpa respon dari siswa.
- Situasi E, situasi pembelajaran hanya bersifat insidental, Hasilnya hanyalah tujuan yang tercapai secara tidak sadar. Tujuan diperoleh hanya melalui peniruan, penularan atau perembesan secara tidak sadar.
- Situasi F, guru mengajar hanya insidental, yaitu hanya persiapan sekedarnya, tetapi minat siswa dalam belajar tinggi, sehingga pembalajaran masih disadari oleh siswa.
- Situasi G, walaupun guru sangat siap mengajar tetapi pada pihak siswa tidak terdapat minat belajar sama sekali. Pada situasi ini tidak tercipta situasi pembalajaran sama sekali.
- Situasi H, walaupun guru sangat siap mengajar, tetapi minat siswa dalam belajar hanya bersifat insidental, sehingga tujuan pembelajaran hanya disadari oleh guru.
- Situasi I, adalah situasi pembelajaran yang paling ideal, keaktifan siswa maksimal, sedangkan guru sangat siap mengajar dengan metode dan persiapan yang matang dalam mengajar, sehingga kedua belah pihak melakukan peranannya masing-masing.
Read More »
"Deep Learning Sejati: Momen Saat Empati Mengalahkan Semua Teori dan RPP."
Read More »
Gagal Itu Data, Pengalaman Itu Hikmah: Membangun Kebiasaan Reflektif di Setiap Ruang Kelas
| Founder GSM |
Read More »
Kembali pada Esensi: Tiga Pilar Pola Pikir
Read More »
Membentuk Pikiran yang Merdeka dan Bermakna
![]() |
| Wisuda UNS, 27 Sept 2025 |
Read More »
Pendidikan yang Kita Inginkan: Bukan Hanya Mengakses, tapi Memahami
Fenomena yang sering kita lihat adalah pergeseran budaya belajar menjadi serba instan. Anak-anak terbiasa mendapatkan jawaban secara cepat tanpa perlu melalui proses berpikir yang mendalam. Alih-alih merenungkan suatu masalah, mereka cenderung mencari "solusi" di internet. Alih-alih membaca buku untuk memahami suatu konsep, mereka lebih memilih menonton video ringkasan yang durasinya hanya beberapa menit.
Tentu saja, konten-konten singkat ini bisa menjadi alat bantu yang berguna. Namun, jika ini menjadi satu-satunya cara belajar, kita perlu khawatir. Proses belajar yang hanya berfokus pada kecepatan dan ringkasan dapat mengikis kemampuan mereka untuk berpikir kritis dan berefleksi. Kemampuan untuk menganalisis informasi, membedakan fakta dan opini, serta menyusun argumen yang logis menjadi tumpul. Mereka menjadi konsumen pengetahuan, bukan produsennya.
Ketika sebuah tugas sekolah bisa diselesaikan dengan "copy-paste" dari internet, lalu di mana letak pengalaman belajar yang berharga? Pengalaman untuk berjuang memahami suatu materi, berdiskusi dengan teman, atau menemukan solusi setelah melalui serangkaian kesalahan adalah hal yang justru membentuk karakter dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang otentik. Proses jatuh-bangun inilah yang memberikan makna dan kekuatan pada pengetahuan yang mereka peroleh.
Pendidikan yang Kita Inginkan: Bukan Hanya Mengakses, tapi Memahami
Lalu, apakah ini jenis pendidikan yang ingin terus kita pertahankan? Pendidikan yang menghasilkan generasi yang pintar menghafal tapi miskin nalar? Atau kita menginginkan generasi yang mampu beradaptasi dengan kompleksitas dunia, memiliki empati, dan mampu memberikan solusi kreatif untuk masalah yang dihadapi?
Pendidikan di era digital tidak boleh lagi hanya berfokus pada penyaluran informasi. Peran guru dan orang tua harus bergeser dari sekadar penyedia informasi menjadi fasilitator dan pembimbing. Kita perlu mengajak anak-anak untuk bertanya, "mengapa," bukan hanya "apa." Kita perlu menantang mereka untuk berdebat, bukan sekadar menerima. Kita harus menciptakan ruang di mana mereka merasa aman untuk bereksperimen, membuat kesalahan, dan belajar dari sana.
Penting bagi kita untuk:
Membiasakan diskusi dan refleksi. Ajak anak untuk memproses informasi yang mereka dapatkan. Tanyakan pendapat mereka, minta mereka untuk menjelaskan alasannya, dan ajak mereka melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang.
Mengembangkan proyek berbasis minat. Berikan mereka tugas yang menuntut penelitian mendalam, analisis, dan kreativitas. Ini akan mendorong mereka untuk melakukan lebih dari sekadar mencari jawaban instan.
Menumbuhkan rasa ingin tahu yang otentik. Dorong mereka untuk bertanya, mencari tahu lebih dalam, dan berani untuk tidak tahu jawabannya. Ini adalah fondasi dari setiap penemuan dan inovasi.
Di tangan kita, ada tanggung jawab besar untuk membimbing anak-anak agar dapat memanfaatkan kekayaan informasi global tanpa kehilangan esensi dari proses belajar yang bermakna. Kita tidak bisa mencegah mereka untuk mengakses dunia, tapi kita bisa membantu mereka untuk memahaminya. Mari kita ciptakan pendidikan yang menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana, kritis, dan reflektif.
Read More »
Deep Learning dan Ironi di Lapangan
Read More »
AI Adalah Partner Anda, Bukan Pengganti
![]() |
| Umroh 2017 |
- Menciptakan Materi Ajar Super Menarik dalam Waktu Singkat: Bayangkan Anda bisa membuat presentasi interaktif, video pendek, atau kuis yang menarik hanya dalam hitungan menit. Alat AI generatif dapat membantu membuat draf materi, menyusun narasi, atau bahkan mengubah format materi yang sudah ada menjadi lebih menarik dan mudah dicerna oleh siswa.
- Merancang Soal dan Penilaian yang Tepat Sasaran: Membuat soal yang variatif dan efektif seringkali memakan waktu. Dengan AI, Anda bisa dengan mudah membuat bank soal, merancang penilaian formatif yang personal, dan mendapatkan analisis cepat tentang pemahaman siswa. Ini memungkinkan Anda untuk segera menyesuaikan metode pengajaran agar lebih tepat sasaran.
- Menghadirkan Ide-Ide Pembelajaran Inovatif dan Personal: Setiap siswa unik, dan AI dapat membantu Anda memenuhi kebutuhan mereka. Alat-alat AI bisa menganalisis gaya belajar siswa dan menyarankan pendekatan yang berbeda. Anda bisa menciptakan skenario pembelajaran berbasis proyek yang lebih mendalam atau memberikan bimbingan personal yang disesuaikan dengan kemajuan setiap individu.
- Memangkas Drastis Waktu Persiapan Mengajar: Bayangkan waktu yang Anda habiskan untuk merencanakan RPP, mencari sumber materi, atau bahkan hanya sekadar menyalin catatan. AI dapat mengambil alih tugas-tugas ini, memberikan Anda lebih banyak ruang untuk berpikir kreatif, merancang aktivitas yang lebih bermakna, dan tentu saja, meluangkan waktu untuk pengembangan diri.
Read More »
Pentingnya Ikatan Emosional Guru dan Murid
Read More »
Karakteristik Mapel KKA: Membangun Masa Depan Berbasis Etika dan Konteks
Read More »
Suara Murid sebagai Pusat Pembelajaran
- Meningkatkan Keterlibatan dan Motivasi: Ketika murid merasa didengar dan dihargai, mereka menjadi lebih terlibat dalam pembelajaran. Rasa memiliki ini memicu motivasi intrinsik yang jauh lebih kuat daripada instruksi satu arah.
- Mengembangkan Pemikiran Kritis dan Kreativitas: Dengan mengungkapkan ide-ide mereka, murid dilatih untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi. Ini adalah lahan subur untuk tumbuhnya pemikiran kritis dan kreativitas.
- Membangun Keterampilan Berkomunikasi dan Berkolaborasi: Ruang berbagi melatih murid untuk mengartikulasikan pikiran mereka dengan jelas, mendengarkan dengan empati, dan berkolaborasi dengan orang lain, keterampilan yang tak ternilai di dunia nyata.
- Menciptakan Lingkungan Belajar yang Inklusif: Suara murid membantu kita memahami keberagaman kebutuhan, minat, dan gaya belajar mereka. Ini memungkinkan kita untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan responsif.
- Mengidentifikasi Kebutuhan dan Potensi Tersembunyi: Murid seringkali tahu apa yang mereka butuhkan untuk belajar dengan lebih baik. Dengan mendengarkan mereka, kita dapat menemukan hambatan yang mungkin tidak terlihat dan menggali potensi yang belum tergali.
- Ciptakan Ruang Aman: Pastikan setiap murid merasa aman untuk berbicara, untuk berpendapat, bahkan untuk membuat kesalahan. Bebaskan mereka dari rasa takut dihakimi.
- Dengarkan dengan Aktif: Ini lebih dari sekadar mendengar kata-kata. Ini tentang memahami makna di balik kata-kata, emosi, dan niat. Ajukan pertanyaan yang menggugah, tunjukkan minat yang tulus.
- Validasi Perspektif Mereka: Meskipun kita mungkin tidak selalu setuju, penting untuk mengakui dan memvalidasi perspektif mereka. Ini membangun kepercayaan dan rasa hormat.
- Berikan Kesempatan Nyata: Libatkan murid dalam perencanaan pelajaran, evaluasi, bahkan dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi pengalaman belajar mereka.
- Jadikan Dialog Dua Arah: Pembelajaran adalah sebuah tarian, bukan monolog. Jadikan dialog sebagai inti dari setiap interaksi.
Read More »









.jpeg)



.jpeg)



