Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In

Peran Pendidik Dalan Kebiasaan Berolahraga


Penerapan kebiasaan berolahraga pada peserta didik memerlukan pendekatan yang menyenangkan, sederhana, dan penuh semangat. Beberapa cara yang dapat dilakukan pendidik untuk menumbuhkembangkan kebiasaan berolahraga antara lain: 
  1. Pendidik perlu berperan aktif dalam kegiatan olahraga untuk menjadi teladan bagi peserta didik
  2. Pendidik dapat melibatkan peserta didik memilih olahraga yang disukai melalui survei minat, sehingga peserta didik akan bersemangat untuk melakukan olahraga secara berkesinambungan. 
  3. Pendidik dapat menjelaskan manfaat olahraga secara ilmiah dan relevan, seperti menjaga berat badan ideal, meningkatkan energi, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan daya konsentrasi. Kaitkan aktivitas fisik dengan pengembangan karakter, seperti disiplin, kerja tim, dan ketekunan. 
  4. Pendidik dapat mengajak peserta didik memulai kegiatan rutin setiap pagi di kelas untuk menggerakkan tubuh atau peregangan singkat atau latihan ringan selama beberapa menit sebelum memulai pelajaran, sehingga tubuh lebih siap dan segar untuk belajar. 
  5. Pendidik dapat menggunakan media sosial satuan pendidikan untuk mengadakan kampanye atau tantangan olahraga, misalnya “Tantangan Lari 5 KM”. Hal ini dapat memotivasi peserta didik untuk terlibat karena ada unsur sosial dan tantangan. Guru dapat mendokumentasikan momen olahraga peserta didik dan menampilkannya di papan pengumuman atau di media sosial satuan pendidikan sebagai bentuk apresiasi dan motivasi. 
  6. Pendidik dapat mengadakan program olahraga di luar satuan pendidikan atau kegiatan alam, seperti hiking, susur sungai, atau mendaki bukit. 
  7. Pendidik dapat mengajak peserta didik untuk membuat catatan kebugaran pribadi atau jurnal olahraga yang berisi aktivitas yang dilakukan, pencapaian, dan perasaan peserta didik setelah berolahraga. Gunakan alat sederhana seperti stopwatch atau pedometer untuk mengukur kemajuan, seperti berapa jauh dapat berlari. 
  8. Bagi peserta didik yang kurang percaya diri dalam olahraga, pendidik dapat memberi pilihan olahraga non-kompetitif seperti yoga atau latihan kekuatan ringan. Pastikan kegiatan olahraga dapat diikuti oleh semua peserta didik, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus. Modifikasi aktivitas atau berikan pilihan olahraga ringan agar semua peserta didik dapat ikut serta. 
  9. Pendidik dapat menetapkan hari tertentu setiap minggu untuk kegiatan olahraga rutin dan beragam, seperti bermain sepakbola, lari estafet, bola basket, voli, bulu tangkis, lari, jalan sehat atau bahkan yoga. 
  10. Pendidik perlu memberikan penghargaan atau apresiasi kepada peserta didik yang rutin berolahraga atau mencapai target tertentu untuk memotivasi peserta didik agar terus berolahraga.

Read More »
12 January | 0komentar

Peran Orang Tua/Wali dalam Menerapkan Kebiasaan Bangun Pagi


Membiasakan anak usia dini untuk bangun pagi setiap hari memerlukan kesabaran dan konsistensi, mengingat bahwa pola tidur anak masih dalam tahap perkembangan. Berikut beberapa cara untuk membantu membiasakan anak usia dini bangun pagi. 
1) Orang tua/wali menjadi teladan yang baik dengan membiasakan diri untuk bangun pagi. Jika anak melihat orang tua bangun pagi, anak akan belajar bahwa bangun pagi adalah bagian penting dari kehidupan keluarga, sehingga anak akan meniru kebiasaan ini. 
 2) Orang tua/wali perlu menetapkan jam tidur yang konsisten dan memastikan anak tidur pada waktu yang sama setiap malam sehingga memungkinkan anak bangun pagi dengan segar. 
3) Orang tua/wali perlu membuat kegiatan rutin sebelum tidur yang menenangkan, seperti mendongeng atau membacakan buku cerita atau menyetel musik lembut. Kegiatan ini membantu tubuh anak beristirahat dan lebih siap tidur sehingga mudah terbangun keesokan harinya. 
4) Orang tua/wali perlu menerapkan prinsip 3S (Screen Time, Screen Break, Screen Zone) di rumah. Pertama, mengajarkan untuk screen time berapa lama dan cara mengaturnya (Screen Time). Kedua, melakukan jeda ketika anak beraktivitas dengan gadget, untuk bermain, berinteraksi, atau bersosialisasi (Screen Break). Ketiga, menetapkan wilayah bebas gadget di 3 ruangan rumah: ruang tidur, ruang makan, dan kamar mandi (Screen Zone).

Catatan Penting: Waktu penggunaan layar (screen time) diantaranya TV, laptop, tablet, dan ponsel untuk anak di bawah 2 tahun adalah 0 (nol) jam atau tidak diperbolehkan sama sekali, untuk anak usia 2-5 tahun adalah 1 jam per hari, di atas usia anak 6 tahun ke atas tidak melebihi 2-3 jam per hari dengan konten edukatif dan bimbingan orang tua (WHO, IDAI, Kemenkes).
5) Orang tua/wali perlu mengondisikan suasana pagi yang menyenangkan, misalnya dengan menyajikan sarapan favorit atau menyetel musik yang disukai anak. Hal ini membantu anak merasa senang dan lebih termotivasi untuk bangun pagi. 
6) Orang tua/wali perlu membangunkan anak bangun pagi dengan lembut dan beri waktu untuk menyesuaikan diri, seperti membelai rambut atau mengajak anak berbicara dengan nada lembut, dan memberikan beberapa menit untuk beradaptasi. 
7) Orang tua/wali perlu melakukan kegiatan pagi di luar rumah, jika memungkinkan, seperti mengajak anak untuk bermain atau berjalan-jalan sebentar di luar rumah setelah bangun pagi. Kegiatan ini membantu anak merasakan manfaat udara segar, serta membuat anak lebih semangat untuk bangun pagi keesokan harinya. 
8) Orang tua/wali perlu memotivasi anak untuk mematuhi jadwal bangun pagi di jam yang sama pada akhir pekan untuk menjaga konsistensi bangun pagi sehingga tubuh anak terbiasa. 
9) Orang tua/wali dapat menjadikan kebiasaan bangun pagi sebagai kegiatan rutin keluarga, seperti menikmati sarapan bersama atau melakukan kegiatan ringan di pagi hari. Anak akan lebih mudah bangun pagi jika melihat seluruh keluarga melakukannya bersama. 
10) Orang tua/wali perlu memberi pujian atau apresiasi ketika anak berhasil bangun pagi. Pujian ini membuat anak merasa dihargai dan lebih semangat untuk menjaga kebiasaan bangun pagi.

Read More »
11 January | 0komentar

7 Pembiasaan Anak Hebat: Bangun Pagi




Bangun pagi merupakan kebiasaan bangun di pagi hari yang apabila dilakukan setiap hari akan memberikan manfaat diantaranya melatih kedisiplinan, meningkatkan kemampuan mengelola waktu, meningkatkan kemampuan mengendalikan diri, meningkatkan keseimbangan jiwa dan raga yang dapat berkontribusi pada kesuksesan seseorang.
a. Meningkatkan Kedisiplinan 
Kebiasaan bangun pagi setiap hari dapat meningkatkan kedisiplinan untuk mematuhi waktu yang telah ditentukan, dilakukan dengan rasa tanggung jawab, dan berkelanjutan tanpa bergantung pada orang tua. 
b. Meningkatkan Kemampuan 
Mengelola Waktu Bangun pagi setiap hari mengajarkan anak untuk menghargai waktu yang terbatas dalam hidup, membentuk kebiasaan yang teratur, dan meningkatkan kemampuan mengelola waktu untuk melakukan hal-hal penting dan memberi ruang untuk melakukan evaluasi diri. 
c. Meningkatkan Kemampuan Mengendalikan 
Diri Bangun pagi setiap hari menunjukkan kemampuan mengendalikan diri dan melawan godaan untuk bermalas-malasan. 
d. Meningkatkan Keseimbangan Jiwa dan Raga 
Bangun pagi setiap hari dapat dimanfaatkan untuk melakukan berbagai aktivitas yang dapat meningkatkan keseimbangan jiwa dan raga sehingga tubuh dan pikiran menjadi segar. 
e. Mendukung Kesuksesan 
Salah satu kunci kesuksesan tokoh besar dan pemimpin terkenal, seperti Presiden Soekarno, Buya Hamka, Ki Hajar Dewantara, BJ Habibie, dan tokoh lainnya adalah terbiasa bangun pagi setiap hari

Read More »
11 January | 0komentar

Motivasi Belajar Siswa Identik dengan Motivasi Mengajar Guru


Mengawali minggu pertama di semester genap ini alhamdulillah berjalan dengan lancar. Meskipun banyak ketidakpuasan terkait dengan jadwal dan lain-lain. Minggu pertama pada semester ini telah/sudah bergulir.  ada hal yg mengusik. Sebagai pendidik, sering mengalami masa di mana motivasi mengajar terasa hilang. Ketika masuk kelas, hanya sekadar hadir secara fisik tanpa benar-benar hadir secara utuh. Pikiran melayang kemana-mana, ke tempat lain, hati saya tidak sepenuhnya terlibat, dan energi tidak menyentuh pribadi anak didik di kelas. Sepertinya di kelas hanya menemui wajah-wajah murung, energi belajar yg rendah, dan suasana yg kurang bersemangat.
Akhirnya, Guru malah cenderung menyalahkan mereka: “Anak-anak setelah libur 2 minggu sepertinya kurang ya, mana semangat untuk belajar kembali? sekarang memang malas belajar,” atau bahkan terlintas pikiran bahwa mungkin mereka perlu “dipaksa” seperti lewat Ujian Nasional agar motivasi belajarnya naik. 
Pada sisi lain, bukankah motivasi belajar siswa adalah cerminan dari motivasi mengajar guru? Jadi ketika guru masuk kelas dengn ogah-ogahan, (saya melihat beberapa postingan teman-teman yg memperlihatkan kelas dibiarkan bebas meski jam masuk belajar sudah mulai, atau guru-guru yg masih sibuk menyibukan diri ke hal-hal yg nggak jelas, sedang anak-anak sudah menunggu kehadiranya di kelas) pun energi yg dipancarkan pun lemah, dan hal itu dengan cepat menular kepada anak-anak kita. 

Dimungkinkan masalah sebenarnya bukanlah mereka (anak didik), melainkan diri kita sebagai guru. Guru tidak hadir utuh di kelas, bukan hanya fisik, tetapi juga hati, pikiran, dan energi. Hasil penelitian pun menguatkan kesadaran ini. Sebuah studi psikologi menunjukkan bahwa emosi dan energi seseorang dapat menular kepada orang di sekitarnya, sebuah fenomena yg dikenal sebagai emotional contagion. Ketika guru masuk kelas dengn semangat, percaya diri, dan penuh cinta, energi itu akan memengaruhi anak didik. Sebaliknya, ketika kita masuk dengn energi negatif, anak-anak kitapun akan merasakan hal yg sama. 
Energi kita sebagai pendidik bukan hanya tentang mengajarkan konten materi, tetapi juga tentang mentransfer energi semangat, optimisme, dan kehangatan kepada anak didik kita. Melihat bahwa perjumpaan dengan anak didik kita seharusnya adalah momen yg dirindukan, momen yg kita tunggu-tunggu. Ketika kita benar-benar hadir di kelas (bukan sekadar fisik), tetapi dengan hati & pikiran yg fokus, maka ada keajaiban yg terjadi. Anak-anak mulai merespons, mata mereka berbinar, dan suasana kelas berubah menjadi penuh kehidupan. 
Mereka belajar bukan karena takut hukuman atau ujian, tetapi karena terinspirasi oleh energi yg kita pancarkan. Namun, sebaliknya, ketidakhadiran kita secara utuh di kelas dapat berdampak serius. Ketika anak kita merasa tidak diperhatikan/tidak dihargai keberadaanya, motivasi belajar mereka menurun, dan lingkungan kelas menjadi rawan konflik, bahkan bullying. Tidak hadirnya energi kita sebagai guru dapat menciptakan kekosongan yg diisi oleh dinamika negatif di antara anak didik kita. 
Bukan sekadar menyalahkan siswa atau mencari obat eksternal yg jauh dari obat sebanarnya, atau pembenaran, tetapi melihat ke dalam diri kita sendiri. Sebagai pendidik, kita perlu kembali ke tujuan utama kita: mendidik bukan hanya untuk mengisi otak anak didik kita dengan konten materi, tetapi juga untuk mengisi hati mereka dengan energi positif, keyakinan, dan semangat hidup. 
Refleksi akhir pekan pertama di semester genap ini menjadi pengingat bagi kita semua para guru. Jika kita ingin motivasi belajar anak didik kita meningkat, kita perlu memulainya dari diri sendiri. Hadir utuh di kelas (secara fisik, mental, dan emosional) adalah langkah pertama untuk menciptakan suasana belajar yg penuh semangat & bermakna. Sebab, pada akhirnya, energi kita adalah api yg dapat menyalakan obor semangat/motivasi belajar mereka. Menjadikan pembelajaran menjadikan setiap perjumpaan di kelas sebagai momen untuk mengisi, bukan hanya materi pelajaran, tetapi juga energi kehidupan di dalam diri setiap anak didik kita. 

Dari Grup WA GSM Kab. Purbalingga
#kembalimendidikmanusia#gurumeraki#mulaidarikelasberdampakuntukindonesia #

Read More »
11 January | 0komentar

Sekolah menyenangkan

GSM
GSM lahir dari perjalanan spiritual dan pengalaman perubahan yang dialami oleh pendirinya, Muhammad Nur Rizal, dan sang istri, Novi Poespita Candra. Pengalaman ini didapatkan ketika Rizal dan Novi tinggal di Melbourne, Australia untuk menempuh studi doktoral. Mereka menemukan inspirasi dari ketiga buah hatinya yang sangat mencintai sekolahnya. Dari situ, mereka melihat pendidikan Australia yang berbeda jauh dengan pendidikan Indonesia. Bahkan bisa dibilang bahwa pendidikan Indonesia tertinggal 128 tahun dari Australia. 
Pendidikan Australia unggul dari segi kurikulum yang lebih bagus, lebih menyenangkan, dan disesuaikan dengan kelebihan tiap anak. Bahkan, anak-anak mereka justru rindu pergi ke sekolah saat liburan. Inspirasi ini dikembangkan saat mereka pulang ke Indonesia dengan membangun GSM pada tahun 2016. Perjalanan menyoal fenomena pengalaman terbaik bersekolah di Australia yang ingin disebarluaskan agar bisa dirasakan oleh seluruh murid di Indonesia tanpa terkecuali. Rizal dan Novi merasa prihatin dengan pendidikan Indonesia yang masih mematok nilai dan ujian, padahal sebetulnya anak-anak bisa belajar dengan metode yang lebih menyenangkan. 
Dalam praktiknya, GSM merangkul sekolah-sekolah pinggiran yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Tujuannya agar kualitas sekolah pinggiran juga bisa terangkat dan para murid dapat merasakan iklim belajar seperti sekolah di Australia. GSM memiliki filosofi dan nilai sebagai narasi yang menginspirasi melalui ketokohan yang dapat dipercaya dengan melakukan upaya pergeseran paradigma lama ke pola pikir baru, dan dari budaya lama ke budaya baru dalam pendidikan melalui komunitas. 

Mengapa komunitas? 
Karena komunitas dipercayai dapat membuat pendistribusian nilai-nilai pendidikan menjadi lebih gencar dan masif. Peningkatan profesionalisme guru juga lebih mudah dan cepat karena dilakukan melalui pertukaran praktik baik, pengetahuan, dan pengalaman di antara mereka. Komunitas memungkinkan semangat kolektif-kolegial dan kolaborasi itu terjadi. Menyelenggarakan pendidikan berkualitas bagi semua anak di Indonesia melalui:Penciptaan budaya dan lingkungan belajar positif dan menyenangkan melalui perubahan pola pikir, penciptaan budaya profesionalisme guru, dan penerapan strategi kurikulum di sekolah.
Pengembangan dan perluasan komunitas guru melalui pelatihan, pendampingan, dan berbagai kegiatan akar rumput termasuk pertukaran praktik mengajar, kolaborasi pengajaran lintas guru, dan pengembangan diri.

Read More »
25 December | 0komentar

7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Dalam upaya mempersiapkan generasi yang unggul, inovatif, dan berkarakter kuat, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkenalkan bulan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang dilaksanakan bersamaan dengan nonton bareng Film Judi Online “Kemenangan Sejati” di ruang teater CGV fX Sudirman, Jakarta, Senin (2/12). Program Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dirancang sebagai langkah strategis untuk membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter kuat yang menjadi fondasi kesuksesan bangsa di masa mendatang. Dalam sambutannya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya pembiasaan. 
7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan istirahat cepat, dalam kehidupan mereka sehari-hari. “Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus berusaha mengajak semua pihak untuk terlibat dalam upaya membangun mental dan karakter bangsa yang mulia melalui pembiasaan tersebut,” tutur Mendikdasmen. sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 615/sipers/A6/XII/2024.
------









Download Panduan Penerapan untuk :

Read More »
09 December | 0komentar

Baarakallohu Fii Umriik

Nikmat yang Alloh berikan salah satunya sebagai nikat umur sebagai momentum yang tepat untuk bersyukur. Dalam bersyukur atas umur yang Alloh berikan kepada kita adalah melakukan hal-hal yang diperintahkan Alloh melalui Nabinya, Rosul-Nya. Hal-hal yang baik Rosululloh contohkan atas apa yang Alloh berikan. Cara memperingati hari lahir atau biasa disebut hari ulang tahun Nabi adalah dengan cara berpuasa. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah ditanya tentang latar belakang dilakukannya puasa hari Senin. 
“Dari Abu Qatadah Al-Anshar bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “(Karena) saat itu aku dilahirkan dan saat itu aku dituruni wahyu.” (HR. Muslim).”
Hadist dia atas merujukan kepada kita bahwa Nabi SAW memperingati hari lahir adalah dengan cara beribadah, yaitu ibadah puasa. 
Nabi mencontohkan dengan berpuasa senin dan kamis, tentu kita meneladani contoh yang diberikan oleh Nabi SAW dengan melakukan amal saleh. 
Bagaimana dengan ibadah sesama manusia (melakukan kebaikan dengan sesama manusia) ?
Bagaimana dulu Abu Lahab pernah memerdekakan budak (Tsuwaibah) karena mendengar kelahiran Nabi Muhammad.

Read More »
06 December | 0komentar

ISBN (International Standard Book Number)

Pencarian dengan kata Kunci Sarastiana Kategori Pengarang di Web Perpusnas

ISBN (International Standard Book Number) adalah deretan angka 13 digit sebagai pemberi identifikasi unik secara internasional terhadap satu buku maupun produk seperti buku yang diterbitkan oleh penerbit. Setiap nomor memberikan identifikasi unik untuk setiap terbitan buku dari setiap penerbit, sehingga keunikan tersebut memungkinkan pemasaran produk yang lebih efisien bagi toko buku, perpustakaan, universitas maupun distributor. 
ISBN diberikan oleh Badan Internasional ISBN yang berkedudukan di London. Perpustakaan Nasional RI merupakan Badan Nasional ISBN yang berhak memberikan ISBN kepada penerbit yang berada di wilayah Indonesia dan KDT (Katalog Dalam Terbitan). 
Proses pendaftaran penerbit, permintaan ISBN dan KDT telah dibuat lebih mudah dengan layanan satu pintu. Sekali informasi judul terbitan diserahkan, akan menjadi bagian dari database bibliografi dan akan muncul di terbitan Katalog Dalam Terbitan di Perpustakaan Nasional, yang memungkinkan perpustakaan maupun toko buku yang mencari terbitan untuk dibeli mengetahui informasi terbitan terbaru.
Di Indonesia, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI adalah Badan Nasional ISBN yang berhak memberikan ISBN kepada penerbit di Indonesia. 
Penerbit yang ingin mengajukan ISBN dapat melakukan hal berikut: 
  • Mengisi formulir surat pernyataan 
  • Menunjukkan bukti legalitas penerbit 
  • Membuat surat permohonan di atas kop surat resmi penerbit 
  • Melampirkan halaman judul, halaman balik halaman judul, daftar isi, dan kata pengantar

Read More »
29 November | 0komentar

1001 Desain Rumah Minimalis


Buku ini adalah kumpulan artikel yang penulias tulis pada blog www.sarastiana.com. Blog ini sebagai media penulis untuk mengaktualisasikan diri sebagai guru untuk menyalurkan kompetensi/ pengalaman yang telah dilaksanakan. Kompetensi dibidang Teknik Sipil dan Teknik Arsitektur. Buku ini untuk menjembatani pembaca mengenal desain rumah dan serba-serbinya. Semoga kehadiran buku ini akan lebih bermanfaat dan berguna bagi guru mapel kejuran untuk mengadopsinya.



Buku ini menawarkan berbagai pilihan desain rumah, mulai dari gaya minimalis hingga klasik, yang cocok untuk beragam kebutuhan dan selera. Setiap halaman dipenuhi dengan ide-ide kreatif dan panduan praktis yang mudah diikuti, menjadikannya sumber referensi yang lengkap bagi siapa pun yang ingin menciptakan rumah nyaman, estetis, dan fungsional.

“1001 Desain Rumah” adalah panduan inspiratif bagi Anda yang sedang merancang hunian impian. Buku ini menawarkan berbagai pilihan desain rumah, mulai dari gaya minimalis hingga klasik, yang cocok untuk beragam kebutuhan dan selera. Setiap halaman dipenuhi dengan ide-ide kreatif dan panduan praktis yang mudah diikuti, menjadikannya sumber referensi yang lengkap bagi siapa pun yang ingin menciptakan rumah nyaman, estetis, dan fungsional. Temukan 1001 inspirasi desain yang dapat diwujudkan di setiap sudut rumah Anda dan jadikan hunian Anda lebih dari sekadar tempat tinggal—namun sebuah karya seni yang hidup.

Read More »
28 November | 0komentar

Revit: Membuat Material Dinding

 

Pada gambar yang telah dibahas yaitu :

Pada kali ini akan dibahas cara memasukan warna pada dinding.

Klik salah satu dinding di denah < Klik Edit Type < Klik Duplicate beri nama misal : DINDING BATA <Klik Edit

Kemudian sama seperti pada pengaturan pada denah dan pada lantai. Edit




Read More »
26 November | 0komentar

HGN 2024 : Dihantui Dengan Dilaporkan !

25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Tentunya bukan tanpa alasan pemerintah menetapkannya sebagai hari guru untuk diperingati setiap tahunnya. Alasan yang tentunya guru berterimakasih terhadap ini. Namun tentu masih menjadikan PR bersama terkait guru yang mendisiplinkan siswa dengan dalih melanggar HAM atau apalah dikriminalisasi dengan dilaporkan ke polisi.
Dari sinilah sebenarnya pemerintah bisa memberikan ruang yang nyaman untuk guru melakukan diagnosa terhadap siswa-siswanya. Meminjam kata diagnosa yang dilakukan oleh dokter karena guru juga merupakan profesi.
Ancaman kriminalisasi guru menjadi isu yang semakin sering terdengar belakangan ini. Tindakan hukum yang ditujukan kepada guru, seringkali dipicu oleh berbagai faktor, seperti perbedaan persepsi dalam proses pembelajaran, tuntutan akademik yang tinggi, atau bahkan masalah pribadi. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, mengingat peran guru yang sangat penting dalam membentuk generasi muda. 

Ancaman Kriminalisasi Terhadap Guru? 
Tuduhan kekerasan fisik atau verbal: Guru dapat dituduh melakukan kekerasan fisik atau verbal terhadap siswa, meskipun tidak terbukti. 
Tuduhan pelecehan seksual: Tuduhan ini seringkali sulit dibuktikan, namun dapat merusak reputasi seorang guru. 
Tuduhan penelantaran anak: Jika seorang siswa mengalami masalah di luar sekolah, guru bisa saja dituduh lalai dalam menjalankan tugasnya. 
Tuduhan diskriminasi: Guru dapat dituduh melakukan diskriminasi berdasarkan ras, agama, gender, atau latar belakang sosial ekonomi siswa. 

Upaya Pencegahan yang Dapat Dilakukan Guru 
Untuk melindungi diri dari ancaman kriminalisasi, guru perlu mengambil langkah-langkah preventif sebagai berikut: 

Dokumentasi yang Memadai: 
Simpan semua dokumen yang berkaitan dengan interaksi dengan siswa, seperti catatan pertemuan, laporan hasil belajar, dan surat izin orang tua. Dokumentasikan setiap kejadian yang dianggap mencurigakan atau berpotensi menimbulkan masalah. 
Gunakan media komunikasi yang formal dan tertulis dalam menyampaikan informasi kepada orang tua. 

Jalin Komunikasi yang Baik dengan Orang Tua: 
Bangun hubungan yang positif dan terbuka dengan orang tua siswa. Sampaikan perkembangan belajar siswa secara berkala dan transparan. 
Libatkan orang tua dalam kegiatan sekolah, seperti rapat orang tua atau acara-acara khusus. 

Profesionalitas dalam Mengajar: 
Patuhi kode etik profesi guru. Hindari tindakan yang dapat ditafsirkan sebagai pelanggaran terhadap hak-hak siswa. Jaga jarak yang profesional dengan siswa. 
Saksi dalam Setiap Aktivitas: Jika memungkinkan, ajak rekan guru atau staf sekolah lainnya sebagai saksi dalam kegiatan yang melibatkan siswa secara individu. 
Hindari melakukan pertemuan dengan siswa secara tertutup, terutama di luar jam sekolah. 

Laporkan Setiap Kejadian yang Mencurigakan: 
Jika ada kejadian yang mencurigakan atau berpotensi menimbulkan masalah, laporkan segera kepada kepala sekolah atau pihak berwenang. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari organisasi profesi guru atau lembaga bantuan hukum. 

Pengembangan Diri: 
 Ikuti pelatihan dan seminar yang berkaitan dengan perlindungan anak, etika profesi, dan manajemen konflik. Tingkatkan kompetensi pedagogik dan profesionalisme. 

Peran Sekolah dan Pemerintah 
Selain upaya individu, sekolah dan pemerintah juga memiliki peran penting dalam melindungi guru dari ancaman kriminalisasi. Sekolah perlu: Memberikan pelatihan perlindungan anak bagi seluruh staf. Membentuk tim khusus untuk menangani kasus kekerasan atau pelecehan di sekolah. Menyediakan dukungan hukum bagi guru yang menjadi korban fitnah atau tuduhan palsu. 

Pemerintah perlu: Memperkuat regulasi yang melindungi profesi guru. Meningkatkan kualitas pendidikan guru. Menyediakan layanan bantuan hukum bagi guru yang membutuhkan. Penting untuk diingat bahwa pencegahan adalah langkah terbaik untuk menghindari ancaman kriminalisasi. Dengan menjaga profesionalitas, membangun komunikasi yang baik, dan selalu berpegang pada etika, guru dapat menjalankan tugasnya dengan tenang dan aman.

Read More »
25 November | 0komentar

Di Balik Senyum Guru: Tantangan yang Jarang Tersorot dalam Dunia Pendidikan




Tanggal 25 November setiap tahun, di rayakan sebagai Hari Guru. Peringatan ini sebagai bentuk apresiasi atas jasa para guru/pendidik. Senyum ramah dan semangat mereka dalam mengajar seringkali menjadi pemandangan yang menghiasi ruang-ruang kelas. Namun, di balik senyum ceria itu, tersimpan beragam tantangan yang jarang tersorot dan patut kita sadari bersama. 

Beban Kerja yang Menumpuk 
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi guru adalah beban kerja yang sangat padat. Selain mengajar di kelas, guru juga harus menyusun rencana pembelajaran, memeriksa  tugas siswa, membuat laporan, dan mengikuti berbagai pelatihan. Belum lagi tuntutan administrasi yang semakin kompleks dan seringkali memakan waktu yang cukup banyak. Terdapat 5 aplilasi yang merupakan bagian dari beban administrasi/ dokumen kepegawaian guru. Beban kerja yang berlebihan ini dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental guru, serta mengurangi kualitas waktu yang dapat mereka dedikasikan untuk setiap siswa. 


Keterbatasan Sarana dan Prasarana 
Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran. Kurangnya buku pelajaran, alat peraga, laboratorium, dan akses internet yang terbatas menjadi kendala bagi guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Kondisi ini semakin terasa di daerah-daerah terpencil, di mana guru harus berkreasi dengan segala keterbatasan yang ada. Perkembangan Teknologi yang Pesat Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat menghadirkan tantangan tersendiri bagi guru. Mereka dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi dengan berbagai platform pembelajaran online, aplikasi pendidikan, dan media sosial. Meskipun teknologi menawarkan banyak manfaat, namun tidak semua guru memiliki akses yang sama terhadap pelatihan dan dukungan yang diperlukan. 

Keberagaman Siswa 
Setiap siswa memiliki karakter, minat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Guru harus mampu mengakomodasi keberagaman ini dalam proses pembelajaran. Namun, dengan jumlah siswa yang cukup banyak di setiap kelas, seringkali sulit bagi guru untuk memberikan perhatian yang cukup kepada setiap individu. Disiplin Siswa yang Menurun Perubahan zaman dan pengaruh lingkungan sekitar membuat disiplin siswa menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Perilaku siswa yang kurang menghormati guru dan teman, serta kecenderungan untuk lebih banyak menggunakan gadget daripada belajar, menjadi masalah yang cukup serius. 

Ancaman kriminalisasi guru menjadi isu yang semakin sering terdengar belakangan ini. Tindakan hukum yang ditujukan kepada guru, seringkali dipicu oleh berbagai faktor, seperti perbedaan persepsi dalam proses pembelajaran, tuntutan akademik yang tinggi, atau bahkan masalah pribadi. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, mengingat peran guru yang sangat penting dalam membentuk generasi muda.

Dampak dari Tantangan Tersebut 
Tantangan-tantangan yang dihadapi guru dapat berdampak pada kualitas pendidikan secara keseluruhan. Guru yang kelelahan dan terbebani akan kesulitan memberikan pembelajaran yang efektif. Selain itu, kurangnya sarana dan prasarana yang memadai dapat menghambat perkembangan potensi siswa. 

Solusi dan Harapan 
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu meningkatkan anggaran pendidikan, menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, serta memberikan pelatihan yang berkelanjutan bagi guru. Sekolah juga harus memberikan dukungan yang lebih baik kepada guru, misalnya dengan mengurangi beban administratif dan menyediakan waktu yang cukup bagi guru untuk berkolaborasi. 
Masyarakat pun perlu memberikan apresiasi yang lebih tinggi terhadap profesi guru dan ikut berperan serta dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Di balik senyum mereka, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang telah berjuang keras untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudah saatnya kita memberikan perhatian yang lebih serius terhadap tantangan yang mereka hadapi dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan.

Read More »
25 November | 0komentar

Ukir Sejarah Dengan Menulis


"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian," Pramoedya Ananta Toer. Kalimat ini seakan menjadi mantra bagi setiap jiwa yang ingin karyanya dikenang sepanjang masa. Menulis bukan sekadar menuangkan kata-kata di atas kertas, melainkan sebuah tindakan untuk mengabadikan pemikiran, perasaan, dan pengalaman hidup. 
 “Menulislah !, Karena tanpa Menulis Engkau akan Hilang dari Sejarah”. Menulislah! Menjadi seorang penulis, memiliki kesempatan untuk membuat sejarah dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengikuti jejaknya. Dalam dunia ini ada dua jenis kelompok manusia, yakni mereka yang adalah korban sejarah atau pembuat sejarah. Sebagaimana dituliskan oleh P.Ananta Tour diatas. 
 
Niatan awal untuk mengabadikan dengan menulis diblog (www.sarastiana.com) bukan hanya untuk mengukir sejarah seperti yang disamaikan PAT. tetapi lebih agar bermanfaat bagi orang lain yaitu berbagi. Semangat berbagi inilah yang menjadi tajuk dari blog ini. 
Karya lain yang dapat dikenang sebagai mengukir sejarah adalah menerbitkan buku. Menerbitkan buku adalah mewujudkan ide kita agar ada sepanjang masa. Membuat buku dan menerbitkan buku adalah sesuatu yang berbeda. Salah satu hal yang bisa ditinggalkan adalah menulis buku. Yang menjadi masalah adalah bagaimana membuat karya, mengasahnya menjadi sebuah karya yang baik.
Seorang filsuf Prancis yang dikenal sebagai filsuf modern mengatakan membaca buku sama dengan berbicara dengan orang-orang di masa lalu. Menulis buku dan menerbtkan buku adalah dua hal yang berbeda. Karena itu, jauh lebih baik jika seorang penulis bertekun dahulu dalam menulis sampai karyanya berkualitas dan sangat dibutuhkan, maka akibat dari itu adalah menerbitkan buku. 
Hal yang perlu diperhatikan dalam menulis hingga menerbikan buku adalah 4R yaitu: 
1. Renjana (=passion) 
2. Rutin 
3. Review 
4. Ruang 

Renjana 
Renjana adalah sesuatu yang sangat menarik. Mudah dilakukan dan menyenangkan. Karena itu, mulailah dari sesuatu yang dikuasai dengan baik. Cara paling mudah untuk terus menulis adalah merasa sukses untuk melakukan sesuatu. Ibu Farrah memiliki renjana dalam menulis buku anak. Hal tersebut lahir dari kebutuhan dan untuk anak sendiri karena, banyak buku impor, namun sering tidak tepat dengan kondisi sendiri. 

Rutin 
Bukan hanya rutin menulis tapi rutin membaca. Dengan membaca akan otomatis terbingkai untuk menjadi sebuah bahan bacaan. Kosa kata membaca berkaitan dengan kosa kata menulis. Seringlah membaca banyak buku dengan genre masing-masing. Rutin menulis kapanpun dan dimanapun. Penulis hebat selalu menyediakan waktu khusus dan tempat khusus untuk menulis. Sebab, suasana di tempat demikian akan sangat membantu dalam menemukan ide untuk menulis. Saat dalam perjalanan dan tidak bisa menulis, rekamlah peristiwa menggunakan audio recorder untuk membantu merekam tulisan. Lalu, saat mulai menulis gunakanlah rekaman logika, emosi, dan pancaindera. 

Review 
Setelah memiliki kumpulan ide dan tulisan, buatlah review. Sebelum di-review, saat masih dalam model draf tulislah apa adanya. Tak usah mempertimbangkan siapa tokoh, waktu, detail tempat, dan sebagainya. Saat di-review baru dibuat detail semuanya. Misalnya, melihat siapa pasar dari buku yang akan diterbitkan. Siapa audiens dari buku ini. 

Ruang bagi pembaca 
Saat melakukan review berikan ruang bagi pembaca. Artinya, berikan kesempatan bagi pembaca untuk memberikan feedback positif saja, tetapi juga apa yang pembaca merasa sulit untuk mengerti. Misalnya, saat buat buku anak-anak minta anak-anak untuk membaca dulu dan berikan masukan. Bisa juga bagikan di medsos, meminta kolega dan keluarga untuk membaca bukunya. Itu hqal yang baik untuk memberikan motivasi tersendiri dan masukan yang berarti.

Read More »
21 November | 0komentar

Berprestasi Yang Kebermanfaatan

Selama ini kita memaknai prestasi adalah sesuatu yang dipandang sebagai pencapaian yg terukur. Seorang siswa berprestasi jika rangking 1, menjuari LS2N, LKS dan juara lomba yang lain. Guru berprestasi guru yang sering mendapat kejuaraan, jadi pemenang lomba guru; tingkat nasional, tingkat regional atau tingkat kabupaten. Hasilnya berupa piala, medali, atau piagam penghargaan. 
Ada anak kita yg begitu sering naik podium hingga dijuluki "pemburu piala". Ada guru yang sering mengikuti kejuaraan, lomba-lomba tingkat nasional atau regional disebut sebagai guru berprestasi atau guru inovasi. 
Namun, mari kita renungkan: apakah semua anak didik kita memiliki kesempatan yang sama untuk itu? Apakah guru memiliki kesempatan yang sama untuk itu? Dan apakah piala/medali adalah satu-satunya cara untuk mengukur keberhasilan seorang anak? 
Faktanya, tidak semua anak didik kita dilahirkan untuk berlomba atau menorehkan namanya di panggung kompetisi. Tapi itu tidak membuat mereka kurang berarti. Prestasi sejati melampaui sekadar piala dilemari atau piagam di dinding. 
Prestasi sejati terletak pd kebermaknaan dan kebermanfaatan ilmu yg telah mereka pelajari. Ketika seorang anak didik kita yg dianggap biasa saja mampu membantu temannya memahami pelajaran, itulah prestasi. Ketika siswa menggunakan ilmunya untuk menyelesaikan masalah di rumah atau komunitasnya, itu adalah pencapaian besar. Bahkan saat mereka menginspirasi orang lain dengan keberanian untuk mencoba, belajar, dan tidak menyerah, mereka telah menjadi bintang tanpa panggung. 
Ilmu yg bermanfaat adalah bentuk prestasi yg tak lekang oleh waktu. Ilmu itu akan menumbuhkan keberanian untuk bermimpi, menciptakan solusi, dan membagikan kebaikan kepada sesama. Anak didik kita tidak perlu menjadi pemburu piala untuk bisa berprestasi; mereka hanya perlu menjadi pembawa manfaat dimanapun untuk siapapun dan apa pun bentuknya. 
Sebagai guru, tugas kita adalah menanamkan pemahaman ini: bahwa prestasi bukan tentang apa yg bisa dipamerkan, melainkan apa yg bisa dirasakan oleh orang lain dari keberadaan mereka. Prestasi terbesar adalah saat ilmu yg mereka miliki mampu mengubah kehidupan—baik kehidupan mereka sendiri maupun kehidupan orang² di sekitar atau komunitas mereka. Prestasi sejati tidak mengenal podium, karena dampaknya adalah warisan abadi yg akan terus hidup di hati dan kehidupan orang lain.

Read More »
21 November | 0komentar

Revit: Menambahkan Lantai

Berikutnya pada perencanaan rumah setelah menggambar :

Berikutnya menambahkan lantai pada gambar tersebut diatas. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Architecture < Floor < Floor Architecture


Berukutnya untuk menggambar lantai dapat menggunakan perintah Draw 


Setelah selesai jangan lupa untuk klik tanda Centang. dan untuk membatalkan klik tanda silang.
Setelah selesai atau gunakan satu bagian terlebih dahulu setelah itu lakukan edt type seperti pada pembuatan dinding.

Sebelumnya pilih dahulu jenis lantainya :


Langkah berikut adalah menentukan lapisan lantai. Untuk menentukan lapisan lantai gunakan perintah Edit Type.


Seterusnya Klik Edit (lingkaran merah di atas). Maka muncul dibawah ini tentukan lapisan-lapisannya seperti berikut:






Read More »
20 November | 0komentar

Revit: Menambahkan Kolom Pada Denah

Pada postingan sebelumnya yaitu penggambaran denah. 

Architecture < Column <  Column Architectural < Load Family 


Load Family


Pilih  Concrete : 
Jika langsun terbuka jendela concret seperti bawah ini maka urutan Folder dapat dilihat pada gambar dibawah ini




Pilih M_Concrete-Square-Column (untuk kolom yang ukurannya sama)
Pilih ukuran yang sudah ada (jika ada) dengan Klik (1)


Jika belum ada maka Klik Edit Type


Ganti Pada Dimention ukuran b menjadi 150 (ukuran kolom 15/15)


Jangan lupa diduplikat kemudian diberi nama misal Kolom 150x150
Berikutnya tingga di masukan ke dalam denah


Read More »
19 November | 0komentar

VEDC Malang 2019



VEDC BOE Malang 2 Nov 2019

Read More »
16 November | 0komentar

Sholat Sunah Qobliyah dan Ba'diyah

Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu. Shalat sunnah rawatib dikerjakan sebelum atau setelah shalat fardhu. Berfungsi melengkapi Sholat Fardlu. Sedangkan Sholat Sunah yang masing mengiringi/ berdekatan dengan sholat Wajib/Fardlu dan ada yang jauh disebut sholat sunah Mutlak. Contoh Sholat Qobliyah 4 rakaat sebelum Ashar, Qobliyah Magrib.,Tahajud, Qiyamul lail, Wudlu, 

Shalat sunnah rawatib ada 12 rakaat qabliyah dan ba’diyah. 
Kapan shalat sunnah rawatib dikerjakan? Shalat 12 rakaat sehari semalam yang dikerjakan mulai terbit fajar sampai tenggelam matahari sampai terbit lagi. Shalat sunnah rawatib dikerjakan untuk melengkapi kekurangan dari ibadah wajib, maka disyariatkan At-tathowwu’ (ibadah tambahan atau ibadah sunnah). Berikut waktu mengerjakan shalat rawatib: 
Dua rakaat sebelum shalat subuh 
Dua atau empat rakaat sebelum shalat zuhur 
Dua rakaat setelah shalat zuhur 
Dua rakaat sesudah shalat maghrib 
Dua rakaat sesudah shalat isya. 

Menurut Ibnu Qudamah “Setiap sunnah rawatib qobliyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu shalat fardhu hingga shalat fardhu dikerjakan, dan shalat rawatib ba’diyah maka waktunya dimulai dari selesainya shalat fardhu.”. 
Hadits Riwayat At Tirmidzi nomor 414 yabg diriwayatkan Ummu Habibah RA. “Barangsiapa yang shalat 12 rakaat yang mengiringi shalat fardhu siang dan malam, empat rakaat sebelum shalat zuhur, 2 rakaat setelah shalat zuhur, kemudian dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah shalat isya dan dua rakaat sebelum subuh.” Nabi Muhammad Saw berkata “Siapa yang konsisten mengerjakan shalat sunnah rawatib sebelum wafat, akan dibalas kerja kerasnya ini oleh Allah Swt dengan dibangunkan satu rumah untuknya di surga.” Nabi Muhammad Saw tidak pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib ini, sekalipun dalam keadaan mukim (tidak bepergian jauh) maupun dalam keadaan safar.

Read More »
16 November | 0komentar

After Case Guru Honorer Supriyani: Guru Sebagai Sebuah Profesi

Saat ini guru menjadi profesi yang sangat rentan di Indonesia. Profesi guru terus dibayangi ketakutan dilaporkan ke polisi oleh orang tua siswa dalam rangka mendidiplinkan siswa. Banyak kasus tentang ini terakhir adalah kasus ibu guru honorer yang ditahan dikantor polisi karena dilaporkan oleh orang tua siswa yang seorang anggota polisi. 
Apakah guru akan membiarkan siswa jika melakukan hal-hal yang tidak disiplin? Jika melihat kasus-kasus yang dilaporkan ke Polisi kemungkinan tersebut bisa terjadi. Bahkan juga mucul video parodi tentang hal itu.... 
Sesuai dengan PP No. 74 Tahun 2008, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 

Pasal 39 ayat 1 berbunyi :
 "Guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya."
Ayat 2:
sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.
Pasal 40 : 
Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing.

Pasal 41 :
Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.

Bahwa pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara negara, orang tua, lingkungan dan guru. Tugas utama mendidik anak adalah tugas orang tua. Aparat penegak hukum hendaknya bijak dalam menyikapi pengaduan masyarakat yang berkait dengan relasi guru dan murid. 
Mahkamah Agung (MA) RI pernah mengeluarkan keputusan yurisprudensi bahwa guru tidak bisa dipidanakan saat menjalankan profesinya melakukan tindakan pendisiplinan terhadap siswa. Keputusan MA tersebut dikeluarkan saat mengadili seorang guru dari Majalengka bernama Aop Saepudin tanggal 6 Mei 2014. 
Kasusnya bermula ketika pada Mei 2012 Aop mendisiplinkan empat siswa berambut gondrong dengan mencukurnya. Salah seorang siswa tidak terima kemudian memukuli dan mencukur balik Aop. Polisi dan jaksa kemudian melimpahkan kasus Aop ke pengadilan. Aop dikenakan pasal berlapis, yakni Pasal 77 huruf a UU Perlindungan Anak tentang perbuatan diskriminasi terhadap anak, Pasal 80 ayat 1 UU Perlindungan Anak, dan Pasal 335 ayat 1 kesatu KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan. 
Atas dakwaan itu, Aop dikenakan pasal percobaan oleh PN Majalengka dan Pengadilan Tinggi (PT) Bandung. Tapi MA menganulir putusan itu dan menjatuhkan vonis bebas murni ke Aop
Putusan yang diketok pada 6 Mei 2014 itu diadili oleh ketua majelis hakim Salman Luthan dengan anggota Syarifuddin dan Margono. Ketiga hakim MA membebaskan Aop karena sebagai guru ia mempunyai tugas mendisiplinkan siswa. Apa yang dilakukan Aop adalah bagian dari tugasnya dan bukan merupakan suatu tindak pidana, karenanya terdakwa tidak dapat dijatuhi pidana atas perbuatannya tersebut sebab bertujuan mendidik agar menjadi murid yang baik dan disiplin.

Read More »
15 November | 0komentar

Tentang Deep Learning


Menteri Pendidikan dasar dan Menengah yang baru Abdul Mu'ti mengisyaratkan akan mengganti kurikulum merdeka. Banyak masukan terkait dengan kumer ini. Masukan dari guru merasa terbebani dari segi administrasi dan keluaran pendidikan yang tidak terstandarisasi. Kurikulum Deep learning yang rencana menjadi pengganti kumer. 
Deep Learning menekankan pada pemahaman konsep yang mendalam, bukan hanya menghafal. Pembelajaran Deep Learning juga mendorong guru untuk selalu berimprovisasi. Beban Mata pelajaran yang dipelajari siswa akan dikurangi. Sehingga materi pelajaran yang dipelajari siswa akan lebih ringan, namun guru akan menjelaskan materi tersebut dengan lebih mendalam.Dengan cara itu, guru bisa berimprovisasi, murid bisa berkembang pemikirannya. demikian disampaikan oleh Abdul Mu'ti dalam sebuah wawancara.
Terdapat tiga elemen utama dalam Kurikulum Deep Learning, yaitu Mindfull Learning, Meaningfull Learning, dan Joyfull Learning. 

1. Mindfull Learning 
Mindfull Learning bertujuan untuk memberikan ruang kepada siswa agar terlibat aktif dalam proses pembelajaran. 

2. Joyfull Learning 
Selanjutnya, ada metode pembelajaran Joyfull Learning.Dilakukannya metode ini menjadi sebuah bentuk pendekatan yang mengedepankan kepuasan dari pemahaman mendalam. Abdul Mu’ti juga menyatakan bahwa tujuan dari Joyfull Learning adalah dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, sehingga siswa tidak hanya merasa senang, namun juga benar-benar memahami materi yang sedang dipelajari.Karena itulah, dalam pendekatan dengan metode 
Mindfull Learning ini diharap bisa membuat siswa terlibat langsung dalam hal pembelajaran melalui diskusi, eksperimen serta eksplorasi. 

3. Meaningfull Learning
Konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Read More »
09 November | 0komentar