Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by relevance for query Cara Berpikir. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Cara Berpikir. Sort by date Show all posts

Sekolah Banyak, Tapi Kenapa Belum Maju? Ini yang Sebenarnya Perlu Diubah!

Wisuda Program S2 UGM Taun 2013

Kalau dipikir-pikir, hampir semua negara sekarang punya sekolah. Bahkan anggaran pendidikan tiap tahun juga nggak kecil. Tapi anehnya, kemajuan tiap negara beda-beda banget. Ada yang melesat cepat, ada juga yang jalan di tempat. Jadi, sebenarnya apa sih yang bikin beda?  
Masalahnya Bukan di Jumlah, Tapi Arah Sering kali kita mikir: “Kalau sekolah diperbanyak, pasti negara jadi maju.” Nggak salah… tapi juga nggak sepenuhnya benar. Karena faktanya, kemajuan sebuah negara bukan cuma soal jumlah sekolah atau besarnya anggaran, tapi lebih ke arah atau orientasi pendidikannya. Apakah pendidikan itu: Cuma bikin siswa hafal? Atau benar-benar melatih mereka untuk berpikir?  
Nah, di sinilah letak masalah utamanya. Belajar, Tapi Nggak Dilatih Berpikir.  Jujur aja, banyak sistem pendidikan masih fokus ke: Nilai Ranking Ujian Padahal, dunia nyata nggak nanya: “Nilai kamu berapa?”  
Dunia nyata lebih peduli:  
Kamu bisa mikir nggak?  
Bisa nyelesain masalah nggak?  
Bisa adaptasi nggak?  
Kalau pendidikan belum sampai ke situ, wajar banget kalau kemajuan terasa lambat. Karena kita sebenarnya sibuk belajar, tapi belum benar-benar berpikir.  

Yang Perlu Diubah Itu 
Cara Belajarnya  
Pertanyaannya sekarang: Apa yang harus diubah? Jawabannya bukan sekadar kurikulum atau fasilitas. Yang paling penting adalah cara belajar manusianya. Beberapa hal yang perlu mulai digeser:  
1. Dari Hafalan ke Pemahaman Bukan cuma tahu “apa”, tapi juga ngerti “kenapa”.  
2. Dari Takut Salah ke Berani Mencoba Kalau takut salah terus, kapan berkembangnya?  
3. Dari Pasif ke Aktif Belajar itu bukan duduk diam, tapi ikut mikir, diskusi, bahkan debat sehat.  
4. Dari Jawaban Tunggal ke Banyak Perspektif  
Masalah di dunia nyata jarang punya satu jawaban benar. Pendidikan itu soal “Cara Berpikir”, Bukan Sekadar Ilmu Ilmu itu penting, tapi cara berpikir jauh lebih penting. Karena dengan cara berpikir yang benar: Ilmu bisa berkembang Ide baru bisa muncul Solusi bisa ditemukan . Negara yang maju biasanya bukan yang paling banyak sekolahnya, tapi yang warganya terbiasa berpikir kritis, kreatif, dan terbuka.  

Jadi, Mulai dari Mana? Nggak perlu nunggu sistem berubah total. Bisa mulai dari hal kecil: Biasakan bertanya, bukan cuma menerima Cari tahu “kenapa”, bukan cuma “apa” Diskusi, bukan cuma dengar Berani beda pendapat, tapi tetap santun Karena perubahan besar selalu dimulai dari cara kita berpikir. 

Upgrade Cara Belajar, Bukan Cuma Sistemnya Kalau kita ingin melihat negara ini benar-benar maju, maka yang perlu di-upgrade bukan cuma gedung sekolah atau anggaran… Tapi cara manusia di dalamnya belajar dan berpikir. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah negara selalu berawal dari cara berpikir warganya.

Read More »
27 April | 0komentar

Ketika Autopilot Mengambil Alih

Ketika Autopilot Mengambil Alih

Kita sering mengira bahwa masalah terbesar sebuah bangsa adalah kurangnya orang pintar. Karena itu, pendidikan sering diukur dari nilai ujian, gelar akademik, atau kemampuan menghafal berbagai informasi. Seolah-olah semakin tinggi IQ masyarakat, semakin dekat pula sebuah bangsa menuju kemajuan. Namun, jika kita menengok sejarah, kita akan menemukan kenyataan yang menarik. Banyak keputusan besar yang keliru justru lahir dari orang-orang cerdas.  
Banyak konflik, krisis, dan kegagalan kebijakan tidak terjadi karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena ketidakmampuan untuk meninjau ulang cara berpikir yang sudah dianggap benar. Kecerdasan tanpa refleksi sering kali hanya menghasilkan keyakinan yang semakin kuat terhadap kesalahan yang sama. 
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memiliki kecenderungan untuk menjalankan banyak hal secara otomatis. Kebiasaan, tradisi, keyakinan, dan cara pandang yang terus diulang akhirnya menjadi bagian dari "autopilot" dalam berpikir. Autopilot memang membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih efisien. Namun masalah muncul ketika pola pikir yang sudah usang tidak pernah dievaluasi kembali. Saat seseorang hidup sepenuhnya dalam autopilot, ia cenderung:  
Mengambil keputusan secara reaktif.  
Menolak kritik karena dianggap serangan pribadi.  
Mempertahankan pendapat meskipun fakta menunjukkan hal yang berbeda.  
Menyalahkan keadaan tanpa memahami akar masalah.  
Mengulangi kesalahan yang sama dengan cara yang berbeda.  
Pada titik ini, masalah bukan lagi kurangnya kecerdasan, tetapi kurangnya kesadaran untuk mengamati cara berpikir sendiri. 
Setiap keyakinan yang tidak pernah diuji berpotensi menjadi penghalang kemajuan. Banyak individu, organisasi, bahkan bangsa terjebak dalam pola pikir yang diwariskan turun-temurun tanpa pernah bertanya apakah pola tersebut masih relevan dengan tantangan zaman. Akibatnya, solusi yang diberikan sering kali hanya menyentuh permukaan masalah. Misalnya, ketika terjadi penurunan kualitas pendidikan, fokus sering hanya tertuju pada perubahan kurikulum atau penambahan jam belajar. Ketika ekonomi melemah, solusi yang dicari hanya berkisar pada angka dan statistik.  
Padahal bisa jadi akar persoalannya jauh lebih dalam, seperti budaya belajar yang salah, pola komunikasi yang buruk, atau cara berpikir yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masa depan. Tanpa keberanian untuk meninjau ulang asumsi dasar, kita hanya mengobati gejala tanpa menyembuhkan penyakitnya. Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Kesempatan Salah satu ciri kedewasaan berpikir adalah kemampuan menerima kritik sebagai bahan evaluasi, bukan sebagai ancaman. Orang yang hanya mengandalkan kecerdasan sering berusaha membuktikan dirinya benar. Sebaliknya, orang yang reflektif berusaha menemukan di mana dirinya mungkin salah. Perbedaan keduanya sangat besar. Yang pertama mencari pembenaran. Yang kedua mencari kebenaran.  
Kemajuan ilmu pengetahuan sendiri lahir dari sikap ini. Setiap teori ilmiah selalu terbuka untuk diuji, dipertanyakan, bahkan dibantah jika ditemukan bukti yang lebih kuat. Karena itulah ilmu terus berkembang. Sayangnya, dalam kehidupan sosial dan berbangsa, kita sering melakukan hal yang sebaliknya. Kita lebih sibuk mempertahankan posisi daripada mencari pemahaman yang lebih baik. Kecerdasan yang Jarang Diajarkan Sekolah mengajarkan cara menjawab pertanyaan. Namun kehidupan sering kali menuntut kemampuan yang lebih penting: kemampuan mempertanyakan jawaban yang selama ini kita yakini. Inilah yang disebut sebagai berpikir reflektif atau metakognisi kemampuan untuk mengamati dan mengevaluasi proses berpikir kita sendiri. Kemampuan ini membuat seseorang mampu bertanya:  
Mengapa saya percaya pada hal ini?  
Apakah ada sudut pandang lain yang belum saya lihat?  
Bukti apa yang mendukung keyakinan saya?  
Bagaimana jika asumsi saya ternyata keliru?  
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak membuat seseorang menjadi lemah. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut menunjukkan kekuatan intelektual dan kerendahan hati yang sesungguhnya. Sebuah Bangsa yang Terus Belajar Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang merasa sudah tahu segalanya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang terus belajar, terus memperbaiki diri, dan tidak takut mengakui kesalahan. Kemajuan tidak lahir dari orang-orang yang selalu benar, melainkan dari mereka yang bersedia mengoreksi dirinya ketika menemukan kebenaran yang lebih baik. Karena itu, mungkin kecerdasan yang paling dibutuhkan hari ini bukan sekadar kemampuan menjawab soal, menghafal data, atau memperoleh gelar akademik.  
Yang lebih penting adalah keberanian untuk berhenti sejenak, meninjau ulang keyakinan yang kita pegang, lalu bertanya dengan jujur: "Bagaimana jika cara berpikir saya selama ini keliru?" Dari pertanyaan sederhana itulah lahir perubahan besar. Sebab kemajuan sejati selalu dimulai ketika manusia bersedia belajar kembali, bahkan terhadap hal-hal yang selama ini dianggap sudah pasti benar.

Read More »
19 June | 0komentar

Ketika Berbeda Tidak Lagi Dipandang Wajar

Beda Pandangan ≠Ancaman 


Di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi yang begitu pesat, manusia modern sebenarnya memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar, berdiskusi, dan memahami berbagai sudut pandang. Namun ironisnya, di saat akses terhadap pengetahuan semakin terbuka, kita justru menghadapi sebuah tantangan baru: krisis pemaknaan. Krisis ini bukan tentang kurangnya informasi, melainkan tentang bagaimana kita memaknai informasi, pendapat, kritik, dan perbedaan yang hadir di sekitar kita. Saat ini, tidak sedikit orang yang memandang perbedaan pandangan sebagai ancaman. Kritik dianggap serangan pribadi. 
Ketidaksepakatan dipersepsikan sebagai kebencian. Akibatnya, ruang dialog yang seharusnya menjadi sarana bertukar pikiran dan memperkaya wawasan berubah menjadi arena pertentangan yang saling menjatuhkan. Dalam kehidupan yang demokratis dan majemuk, perbedaan adalah sesuatu yang alamiah. Tidak mungkin semua orang memiliki latar belakang, pengalaman, pengetahuan, dan cara berpikir yang sama. Justru keberagaman itulah yang menjadi sumber kekuatan sebuah masyarakat. Sayangnya, perkembangan media sosial sering kali memperkuat kecenderungan untuk hanya mendengar suara yang sejalan dengan keyakinan kita. Algoritma menghadirkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, sehingga tanpa disadari kita hidup dalam "ruang gema" (echo chamber), tempat pendapat yang berbeda dianggap aneh, salah, atau bahkan berbahaya. 
Ketika seseorang menyampaikan kritik, fokus kita sering kali bukan lagi pada substansi yang disampaikan, tetapi pada siapa yang menyampaikan. Ketika ada pandangan yang berbeda, yang muncul bukan rasa ingin tahu untuk memahami, melainkan dorongan untuk membantah dan memenangkan perdebatan. Padahal, perbedaan tidak selalu menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Sering kali perbedaan hanya menunjukkan bahwa kita melihat suatu persoalan dari sudut yang berbeda. 
Salah satu gejala krisis pemaknaan yang paling nyata adalah kesulitan membedakan antara kritik dan kebencian. Kritik pada hakikatnya adalah bentuk kepedulian terhadap sesuatu yang dianggap perlu diperbaiki. Kritik yang disampaikan dengan argumentasi dan niat baik merupakan bagian penting dari proses pembelajaran dan perbaikan. Tanpa kritik, seseorang, organisasi, maupun bangsa akan sulit berkembang. Sejarah menunjukkan bahwa banyak kemajuan lahir dari keberanian orang-orang yang berani mempertanyakan keadaan yang dianggap biasa. 
Para ilmuwan menemukan pengetahuan baru karena mereka berani mengkritisi teori yang sudah ada. Para pemimpin besar memperbaiki sistem karena mereka bersedia mendengar masukan dan koreksi. Namun ketika kritik selalu dimaknai sebagai permusuhan, maka yang muncul adalah budaya anti-kritik. Orang menjadi takut berbicara. Ide-ide baru sulit berkembang. Kesalahan terus berulang karena tidak ada ruang untuk saling mengingatkan. 
Bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang bebas dari kritik, melainkan bangsa yang mampu mengelola kritik menjadi energi perbaikan. Dialog sebagai Fondasi Kemajuan Kemajuan sebuah bangsa tidak pernah lahir dari keseragaman cara berpikir. Sebaliknya, kemajuan lahir ketika berbagai gagasan bertemu, diuji, diperdebatkan secara sehat, lalu menghasilkan solusi yang lebih baik. Dialog bukan sekadar berbicara. Dialog adalah kesediaan untuk mendengar. Dialog adalah kemampuan untuk memahami sebelum ingin dipahami. Dialog adalah keberanian untuk menerima kemungkinan bahwa pandangan kita belum tentu sepenuhnya benar. Dalam dialog yang sehat, tujuan utama bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan menemukan kebenaran dan solusi bersama. 
Masyarakat yang terbiasa berdialog akan lebih matang dalam menyikapi perbedaan. Mereka tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah. Mereka mampu membedakan fakta dan opini. Mereka juga lebih terbuka terhadap perubahan dan inovasi. Dari budaya dialog inilah lahir pemimpin yang bijaksana, masyarakat yang dewasa, dan bangsa yang kuat menghadapi berbagai tantangan zaman. 
Di tengah perubahan dunia yang sangat cepat, pendidikan memiliki peran yang semakin penting. Namun pertanyaannya, apakah pendidikan hari ini sudah cukup mempersiapkan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat yang beragam? Selama bertahun-tahun, pendidikan sering kali lebih fokus pada penguasaan materi dan pencapaian nilai akademik. 
Peserta didik diajarkan apa yang harus diketahui, tetapi belum selalu dibiasakan untuk berdialog, berpikir kritis, dan menghargai perbedaan pandangan. Padahal dunia saat ini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menghafal. Dunia membutuhkan individu yang mampu bekerja sama dengan orang yang berbeda latar belakang, mampu menyelesaikan masalah yang kompleks, dan mampu mengambil keputusan secara bijaksana. Oleh karena itu, pendidikan perlu memberi ruang yang lebih luas bagi peserta didik untuk: 
Bertanya tanpa takut disalahkan.  
Menyampaikan pendapat dengan santun.  
Mendengarkan pandangan yang berbeda.  
Mengkritisi informasi secara objektif.  
Menghargai keberagaman perspektif.  
Mengembangkan kemampuan berpikir reflektif dan kritis.  
Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga harus menjadi laboratorium kehidupan demokratis yang mengajarkan cara hidup bersama dalam keberagaman. Melatih Kelenturan untuk Mendengar Salah satu kemampuan yang semakin langka saat ini adalah kemampuan mendengar. Banyak orang mendengar hanya untuk membalas, bukan untuk memahami. Kita sering kali lebih sibuk menyiapkan argumen daripada mencoba memahami alasan di balik pendapat orang lain. Padahal mendengar adalah bentuk penghormatan tertinggi dalam sebuah percakapan.  
Kelenturan untuk mendengar tidak berarti harus selalu setuju. Mendengar berarti memberi kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan pandangannya secara utuh. Mendengar berarti membuka kemungkinan bahwa ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari orang yang berbeda dengan kita. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya untuk mendengar. 
Selain kemampuan mendengar, pendidikan juga perlu menumbuhkan kemerdekaan berpikir. Kemerdekaan berpikir bukan berarti bebas berkata apa saja tanpa tanggung jawab. Kemerdekaan berpikir adalah kemampuan menggunakan akal sehat, nalar, dan hati nurani untuk mencari kebenaran.
Peserta didik perlu dibiasakan untuk tidak menerima informasi secara mentah, tetapi juga tidak menolak sesuatu hanya karena berbeda dengan keyakinan mereka. Mereka perlu belajar menimbang fakta, memeriksa sumber informasi, dan membangun kesimpulan berdasarkan alasan yang rasional. Kemerdekaan berpikir akan melahirkan generasi yang tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terpecah oleh perbedaan, dan tidak mudah terseret arus informasi yang menyesatkan. Menjadi Bangsa yang Dewasa Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang seluruh warganya berpikir sama.  
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman pemikiran. Kedewasaan sebuah bangsa terlihat dari kemampuannya mengelola perbedaan menjadi kekuatan, bukan konflik. Ketika kritik dipahami sebagai masukan, ketika dialog dipandang sebagai jalan menemukan solusi, dan ketika pendidikan mampu melahirkan generasi yang terbuka terhadap perbedaan, maka bangsa tersebut sedang membangun fondasi yang kokoh untuk masa depan. Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Tidak semua yang berbeda adalah ancaman. Tidak semua kritik adalah kebencian. Tidak semua ketidaksepakatan harus berakhir pada permusuhan. Karena pada akhirnya, peradaban yang maju tidak dibangun oleh mereka yang selalu sepakat, melainkan oleh mereka yang mampu berdialog, belajar, dan bertumbuh bersama di tengah perbedaan. 

"Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling memahami. Dan dari kemampuan memahami itulah lahir kebijaksanaan, kemajuan, serta masa depan bangsa yang lebih baik."

Read More »
20 June | 0komentar

Gagal Itu Data, Pengalaman Itu Hikmah: Membangun Kebiasaan Reflektif di Setiap Ruang Kelas

Founder GSM
Di tengah derasnya arus perubahan global dan berbagai tantangan kompleks yang mendera dunia pendidikan mulai dari adaptasi teknologi yang cepat hingga isu kesenjangan kualitas kita seringkali terjebak pada solusi-solusi struktural dan teknis. Kurikulum diubah, fasilitas diperbarui, dan pelatihan dilaksanakan. Namun, esensi sejati dari pendidikan seringkali terlewatkan. Saatnya kita berhenti sejenak dan kembali pada inti: membentuk cara berpikir yang merdeka, reflektif, dan bermakna. 

Fondasi Perubahan: Pola Pikir yang Merdeka 
Pendidikan sejati bukanlah transfer pengetahuan semata, melainkan proses memerdekakan akal dan hati. Cara Berpikir Merdeka adalah kemampuan untuk melepaskan diri dari belenggu dogma, prasangka, dan ketergantungan pada jawaban tunggal. Ini mendorong guru untuk berani bereksperimen, menyesuaikan metode ajar dengan konteks lokal dan kebutuhan siswa, alih-alih sekadar menjalankan instruksi. Bagi siswa, kemerdekaan berpikir berarti mereka memiliki otonomi untuk bertanya, menyelidiki, dan membangun pengetahuannya sendiri.
Ini adalah pergeseran dari paradigma "mengisi wadah" menjadi "menyalakan api" rasa ingin tahu dan inisiatif.

Kekuatan Introspeksi: Berpikir Reflektif
Jika kemerdekaan adalah sayapnya, maka refleksi adalah kompasnya. Berpikir Reflektif adalah kemampuan untuk melihat kembali pengalaman, tindakan, dan hasil belajar dengan jujur dan kritis. Ini berlaku untuk semua pihak: Guru: Secara rutin mengevaluasi efektivitas metode pengajaran mereka, bertanya, "Apakah siswa saya benar-benar memahami, atau hanya menghafal?" dan "Apa yang bisa saya perbaiki di sesi berikutnya?" Siswa: Mengembangkan kesadaran diri tentang proses belajar mereka, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri, serta mampu merencanakan perbaikan diri (metakognisi). Sistem: Para pemangku kebijakan dan pengelola harus merefleksikan dampak nyata dari kebijakan, bukan sekadar melihat angka statistik, melainkan perubahan sikap dan karakter lulusan. Refleksi mengubah kegagalan menjadi data dan pengalaman menjadi hikmah. 

Mencari Jati Diri: Pembelajaran yang Bermakna
Pada akhirnya, pendidikan haruslah bermakna. Pembelajaran Bermakna adalah ketika materi yang dipelajari terhubung dengan kehidupan nyata, nilai-nilai, dan tujuan hidup siswa. Ini menjawab pertanyaan krusial siswa: "Untuk apa saya belajar ini?" Pembelajaran bermakna bukan hanya tentang nilai ujian, tetapi tentang kontribusi siswa kepada komunitas, pemecahan masalah di dunia nyata, dan pengembangan karakter yang kuat. Hal ini menumbuhkan tanggung jawab dan empati, menjauhkan pendidikan dari sekadar perlombaan akademis. 

Gerakan Perubahan Sejati Dimulai dari Dalam
Prinsip inilah yang diyakini oleh gerakan seperti Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) dan inisiatif perubahan pola pikir lainnya. GSM percaya bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam, yaitu dari pola pikir guru, siswa, dan semua yang terlibat. Inovasi teknologi, gedung baru, dan buku pelajaran yang canggih hanyalah alat. Mesin penggerak yang sesungguhnya adalah manusia dengan pola pikir yang terbuka, mau belajar, dan berorientasi pada pertumbuhan.
Jika seorang guru masih berpegangan pada pola pikir otoriter, takut pada kesalahan, dan kaku terhadap perubahan, maka secanggih apapun kurikulumnya, hasilnya akan sama. Sebaliknya, guru dengan pola pikir berkembang (growth mindset) akan mampu mentransformasi ruang kelasnya menjadi laboratorium ide yang menarik. 

Aksi Nyata: Mari Kita Mulai dari Diri Sendiri 
Mengubah sistem yang besar memang menantang, tetapi mengubah diri sendiri adalah hal yang sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Mari kita mulai dari diri sendiri: 
Bagi Guru: Mulailah hari ini dengan mencoba satu metode pembelajaran baru yang lebih interaktif dan berani mengakui ketika Anda tidak tahu jawabannya. Jadilah pembelajar yang jujur di depan siswa Anda. 
Bagi Siswa: Jadikan rasa ingin tahu sebagai navigasi utama. Bertanyalah "mengapa" dan "bagaimana" alih-alih hanya "apa". Carilah kaitan antara materi pelajaran dengan impian dan lingkungan Anda.
Bagi Orang Tua/Masyarakat: Hargai proses belajar anak, bukan hanya hasilnya. Berikan ruang bagi anak untuk mencoba, gagal, dan berefleksi. Pendidikan bukanlah balapan, melainkan perjalanan penemuan diri dan kontribusi. 
Dengan kembali memprioritaskan cara berpikir yang merdeka, reflektif, dan bermakna, kita tidak hanya menyiapkan generasi untuk menghadapi tantangan, tetapi juga untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Perubahan sejati di ruang kelas kita, berawal dari perubahan pola pikir di hati dan pikiran kita.

Sumber: Grup WA GSM Kab.Purbalingga

Read More »
01 October | 0komentar

Coaching dalam Konteks Pendidikan


Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. 
Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua kekuatan diri pada murid. 
Sebagai seorang Guru (pendidik/pamong) dengan semangat Tut Wuri Handayani, maka perlulah kita menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma berpikir Ki Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching sebagai salah pendekatan komunikasi dengan semangat among (menuntun). Dalam relasi guru dengan guru, seorang coach juga dapat membantu seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran. Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan. Oleh sebab itu, empat (4) cara berpikir ini dapat melatih guru (coach/pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran.

Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching. Keterampilan kunci dalam coaching adalah mengajukan pertanyaan bermakna yang tepat untuk membantu individu menemukan jalan keluar atas penyelesaian masalah mereka sendiri.

Coaching dalam Konteks Pendidikan sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Peran guru di sini sebagai among bagi muridnya dan coach bagi guru lain. Sebagai Coach guru juga sejalan dengan filososfi KHD yaitu ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani.

Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan. Oleh sebab itu, empat (4) cara berpikir ini dapat melatih guru (coach/pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran.

Coaching dalam pendidikan bertujuan ‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching

Dalam konteks pendidikan coaching merupakan suatu proses sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Guru selaku seorang coach mampu mengembangkan coachee dengan maksimal. Proses coaching yang berhasil akan menghasilkan kekuatan bagi coach dan coachee untuk mengembangkan diri secara berkesinambungan.

Kita sebagai guru harus mampu melakukan Coaching agar dapat berpikir untuk melatih guru (coach/pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran.

Read More »
07 June | 0komentar

Brainstorming di Sekolah: Memupuk Kreativitas Siswa

Brainstorming adalah sebuah teknik yang digunakan untuk mengumpulkan ide secara spontan dan kreatif dalam kelompok. Dalam konteks sekolah, brainstorming sering digunakan untuk membantu siswa menemukan solusi atas masalah, mengembangkan ide proyek, atau merangsang pemikiran kritis. 

Tujuan Brainstorming di Sekolah 
  • Meningkatkan Kreativitas: Brainstorming mendorong siswa untuk berpikir "out of the box" dan menghasilkan ide-ide yang unik. 
  • Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis: Melalui brainstorming, siswa dilatih untuk menganalisis masalah, mengevaluasi ide, dan mengambil keputusan. 
  • Memperkuat Kerja Sama Tim: Kegiatan ini menumbuhkan kemampuan siswa untuk bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, dan mencapai tujuan bersama. 
  • Membuat Proses Belajar Mengajar Lebih Menyenangkan: Brainstorming dapat membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan menarik, sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar. 

Cara Melakukan Brainstorming di Sekolah 
  • Tentukan Topik: Pilih topik yang relevan dengan materi pelajaran atau proyek yang sedang dikerjakan. Buat 
  • Suasana yang Kondusif: Pastikan semua siswa merasa nyaman untuk berbagi ide. 
  • Mulai Brainstorming: Ajak siswa untuk menyebutkan ide-ide mereka secepat mungkin tanpa perlu memikirkan benar atau salah. 
  • Tulis Semua Ide: Catat semua ide yang muncul, baik yang logis maupun yang tidak biasa. 
  • Evaluasi Ide: Setelah semua ide terkumpul, lakukan evaluasi bersama untuk memilih ide terbaik. 

Contoh Penerapan Brainstorming di Sekolah 
  • Mata Pelajaran Sains: Mencari solusi untuk masalah lingkungan di sekitar sekolah. 
  • Mata Pelajaran Bahasa: Mengembangkan ide cerita pendek dengan tema tertentu. 
  • Mata Pelajaran Sejarah: Mencari cara kreatif untuk mempresentasikan tokoh sejarah. 

Tips Membuat Sesi Brainstorming yang Efektif 
  • Tetapkan Waktu: Batasi waktu brainstorming agar sesi tetap fokus. 
  • Gunakan Alat Bantu Visual: Gunakan papan tulis, kertas besar, atau aplikasi digital untuk mencatat ide. orong 
  • Partisipasi Semua Siswa: Pastikan semua siswa memiliki kesempatan untuk berkontribusi. indari Kritik: Ciptakan suasana yang aman bagi siswa untuk mengungkapkan ide tanpa takut dikritik. 

Manfaat Brainstorming untuk Guru 
  • Memahami Cara Berpikir Siswa: Melalui brainstorming, guru dapat mengetahui cara berpikir siswa dan menyesuaikan metode pembelajaran. 
  • Mengembangkan Materi Pelajaran: Brainstorming dapat membantu guru menemukan cara baru untuk menyajikan materi pelajaran. 
  • Meningkatkan Keterlibatan Siswa: Dengan brainstorming, siswa akan lebih aktif dalam proses pembelajaran. 

Brainstorming adalah alat yang sangat berguna untuk meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan menerapkan teknik brainstorming secara efektif, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan mendorong siswa untuk mencapai potensi maksimal mereka.

Read More »
11 October | 0komentar

Model Pembelajaran Inquiry Based Learning (IBL)


Inquiry pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang telah dialami,karena inquiry menuntut peserta didik untuk berpikir. Metode ini menempatkan peserta didik pada situasi yang melibatkan mereka dalam kegiatan intelektual.Meskipun metode ini berpusat pada kegiatan peserta didik, namun guru tetap memegang peran penting sebagai pembuat desain pengalaman belajar. Guru berkewajiban menggiring peserta didik untuk melakukan kegiatan. Kadangkala guru perlu menjelaskan, membimbing diskusi, memberikan intruksi-intruksi,melontarkan pertanyaan, memberikan komentar dan saran kepada peserta didik.
National Science Education Standards (NSES) mendefinisikan inkuiri sebagai aktivitas beraneka ragam yang meliputi observasi, membuat pertanyaan, memeriksa buku-buku atau sumber informasi lain untuk melihat apa yang telah diketahui; merencanakan investigasi; memeriksa kembali apa yang telah diketahui menurut bukti eksperimen; menggunakan alat untuk mengumpulkan,menganalisa, dan menginterpretasikan data, mengajukan jawaban, penjelasan dan prediksi, serta mengkomunikasikan hasil. Inkuri memerlukan identifikasi asumsi,berpikir kritis dan logis, dan pertimbangan keterangan atau penjelasan alternatifKata “Inquiry” berasal dari Bahasa Inggris yang berarti mengadakan penyelidikan, menanyakan keterangan, melakukan pemeriksaan” (Echols dan Hassan Shadily, 2003: 323). Sedangkan menurut “Gulo (2005:84) inkuiri berarti pertanyaan atau pemeriksaan, penyelidikan”. Alfred Novak (Haury, 1993) mendefinikan bahwa “inquiry merupakan usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu”. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif pencarian pengetahuan untuk memuaskan rasa ingin tahu (Haury, 1993).
Pendekatan IBL adalah suatu pendekatan yang digunakan dan mengacu pada suatu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan (informasi), atau mempelajari suatu gejala. Pembelajaran dengan pendekatan IBL selalu mengusahakan agar siswa selalu aktif secara mental maupun fisik. Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberitahukan dan diterima oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka “menemukan sendiri” konsep-konsep yang direncanakan oleh guru.Inquiry Based Learning (IBL) adalah sebuah teknik mengajar di mana guru melibatkan siswa di dalam proses belajar melalui penggunaan cara-cara bertanya, aktivitas problem solving, dan berpikir kritis. Hal ini akan memerlukan banyak waktu dalam persiapannya.
Inquiry Based Learning biasanya berupa kerja kolaboratif. Kelas dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok diberi sebuah pertanyaan atau permasalahan yang akan mengarahkan semua anggota kelompok bekerja bersama mengembangkan proyek berdasarkan pertanyaan tersebut untuk menemukan jawabannya. Karena inquirybased learning berbasis pertanyaan, maka guru harus menyiapkan pertanyaan yang bersifat terbuka sehingga siswa dapat mengembangkan pikirannya. Siswa harus diberi kesempatan untuk mencoba menemukan sendiri konsep yang diajarkan. Lebih dari itu, jika siswa juga diberi kesempatan untuk mengukur kemajuan belajarnya sendiri, maka hal ini akan membantu mereka belajar.

Peran Guru dalam Pembelajaran dengan Pendekatan IBL

Menurut Gulo (2005: 86-87) guru dalam menciptakan kondisi belajar dengan pendekatan inkuiri mempunyai berbagai macam peran, antar lain:
a. Sebagai motivator, yang memberi rangsangan agar siswa aktif dalam berfikir
b. Sebagai fasilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses berfikir siswa. c. Sebagai penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan memberi keyakinan pada diri sendiri. 
d. Sebagai administrator, yang bertanggung jawab terhadap kegiatan di kelas.
e. Sebagai pengarah, yang memimpin arus kegiatan berfikir siswa ke tujuan yang diharapkan
f. Sebagai manager, yang mengelola sumber belajar, waktu dan organisasi kelas.

 1.4. Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan IBL
 Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, guru lebih aktif sebagai pemberi pengetahuan bagi siswa, guru dianggap sebagai sumber informasi, sedangkan siswa hanya sebagai subjek yang harus menerima materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Akibatnya siswa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak pernah dilatih untuk menemukan pengetahuan dan konsep sehingga siswa cenderung lebih cepat bosan dalam mengikuti pelajaran, serta cepat lupa dengan materi pelajaran yang diajarkan. Masalah demikian dapat diatasi dengan cara menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan IBL dalam kegiatan pembelajaran, karena dengan pendekatan ini siswa dilibatkan secara aktif dalam kegiatan. 
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa model pembelajaran IBL mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan metode ceramah. Adapun kelebihan model pembelajaran dengan pendekatan IBL ini adalah: 
a. Dapat membentuk dan mengembangkan “self-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
b. Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang aru.
c. Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap byektif, jujur dan terbuka.
d. Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
e. Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
f. Situasi proses belajar menjadi merangsang.
g. Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
h. Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
i. Siswa dapat menghindari dari cara-cara belajar yang tradisional.
j. Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengamilasi dan mengakomodasi informasi.

 Kekurangan pendekatan IBL adalah:
a. Diharuskan adanya kesiapan mental pada siswa.
b. Perlu adanya proses penyesuaian/adaptasi dari metode tradisional ke pendekatan ini.

Read More »
13 June | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.1


REFLEKSI MODUL 3.1 Refleksi minggu ini saya akan menuliskan apa yang telah saya lakukan dan saya alami selama satu minggu , apa yang menarik buat saya kemudian rencana selanjutnya yang akan saya lakukan dalam minggu selanjutnya jurnal refleksi minggu ini saya menggunakan model I yaitu 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) atau 4P yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.
1. Facts (Peristiwa)
Alhamdulillah minggu ini masih diberikan kesehatan sehingga masih bisa mengikuti pendidikan Guru penggerak.Hari Senin dan Selasa 1 Februari 2023 adalah tahap alur mulai dari diri, eksplorasi konsep di LMS. Rabu 6 dan 7 bersama teman CGP melaksanakan diskusi ruang kolaborasi. Pendampingan Individu ke 4 dilaksanakan pada Sabtu, 24 Februari 2023 dengan agenda praktik pembelajaran KSE. Sebelumnya melakukan Demontrasi kontekstual dilaksanakan pada 20 Februari dengan kegiatan mewawancarai Kepala Sekolah dan SPMI untuk merefleksi langkah pengambilan keputusan. Sesi Elaborasi dan Koneksi antar materi dilaksanakan Hari Jumat 10 Februari 2023, bersama instruktur Wahyu Ekawati,MPd.
2. Perasaan
Yang saya rasakan ketika saya melalui dua minggu ini adalah merasa tertantang untuk terus bersemangat mempelajari modul 3.1. Tantangan ketika mengerjakan tugas demonstrasi Kontekstual begitu tinggi ketika harus mempraktikkan wawancara dengan kepala sekolah. . Alhamdilillah karena teman teman yang sangat solid dalam berkolaborasi di ruang kolaborasi maka kegiatan terlaksana dengan lancar dan bisa mengunggah tugas sebelum due date.
3. Pembelajaran
Di minggu ini banyak sekali pembelajaran yang dapat saya ambil untuk modul 3.1 diantaranya adalah sebagai berikut: Secara umum ada POLA, MODEL, ATAU PARADIGMA yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: 
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community) 
Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. 
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. 
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain 
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) 
Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. 

PRINSIP BERPIKIR PENYELESAIAN DILEMMA ETIKA 
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) Suatu pengambilan keputusan, walaupun telah berlandaskan pada suatu prinsip atau nilai-nilai tertentu, tetap akan memiliki konsekuensi yang mengikutinya. Pada akhirnya kita perlu mengingat kembali hendaknya setiap keputusan yang kita ambil didasarkan pada rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal, serta berpihak pada murid. 

PENGAMBILAN PENGUJIAN KEPUTUSAN 
Terdapat 9 langkah yang harus dilakukan untuk pengambilan keputusan dan pengujian keputusan 
1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan 
2. menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini 
3. mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini 
4. pengujian benar dan salah 
  • uji legal adalah apakah ada pelanggaran hukum dalam situasi tersebut 
  • uji regulasi atau standar profesional adakah pelanggaran kode etik atau peraturan etik di dalam situasi ini 
  • uji intuisi yaitu mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi kita dalam merasakan apakah ada yang salah dalam situasi ini 
  • uji publikasi yaitu apakah yang akan kita rasakan jika keputusan ini di publikasikan 
  • uji panutan atau idola yaitu kita membayangkan apa yang dilakukan oleh seseorang yang kita idolakan 

Dari ketiga prinsip pengujian ada yang memiliki korelasi dalam prinsip pengambilan keputusan yaitu :
  •  uji intuisi berhubungan erat dengan berpikir berbasis peraturan yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam 
  • uji publikasi sebaliknya berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir yang mementingkan hasil akhir 
  • uji panutan atau idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta kita untuk meletakkan diri kita pada posisi orang lain 
5. Pengujian paradigma benar lawan salah 
  • Paradigma benar dan salah terdiri dari 
  • Individu lawan kelompok 
  • Rasa keadilan lawan rasa kasihan 
  • Kebenaran lawan kesetiaan 
  • Jangka pendek lawan jangka panjang 

6. Melakukan prinsip resolusi 
Yaitu menggunakan 3 prinsip penyelesaian dilema mana yang harus kita pakai apakah berpikir berbasis hasil ataukah, berpikir berbasis peraturan, ataukah berpikir berbasis rasa peduli. 
7. Investigasi opsi trilema dalam pengambilan keputusan seringkali ada dua pilihan yang sudah kita pilih namun terkadang kita juga memerlukan opsi lain di luar dua pilihan tersebut kita bertanya pada diri kita apakah ada cara yang berkompromi dalam situasi ini sehingga memunculkan pilihan baru itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema 
8. Buat keputusan 
9. Melihat lagi apakah keputusan itu sudah benar dan merefleksikannya
4. Penerapan ke depan ( Rencana)
Penerapan kedepan adalah saya akan memperdalam cara cara pengambilan keputusan yang bertanggung jawab berdasarkan nilai nilaikebajikan universal berdasarkan 4 pradigma 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan.

Read More »
28 August | 0komentar

Berpikir Komputasional dan Pemanfaatan Teknologi (Mapel KKA)

Tujuan KKA
Di era digital yang terus berkembang pesat, kemampuan untuk beradaptasi dan berinovasi menjadi krusial. Lebih dari sekadar penggunaan alat digital, kita dituntut untuk memiliki kecakapan digital yang mendalam, dimulai dari cara kita berpikir hingga cara kita menciptakan solusi. Artikel ini akan membahas empat pilar penting dalam membentuk warga digital yang kompeten dan bertanggung jawab: berpikir komputasional, literasi digital, pengelolaan data, dan berkarya dengan teknologi. Berikut tujuan dari pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)

Terampil Berpikir Komputasional: 
Fondasi Pemecahan Masalah Berpikir komputasional adalah sebuah kerangka berpikir yang memungkinkan kita memecahkan masalah kompleks layaknya seorang ilmuwan komputer. Ini bukan hanya tentang coding, melainkan tentang bagaimana kita mendekati masalah secara logis, sistematis, kritis, analitis, dan kreatif. Ada empat pilar utama dalam berpikir komputasional: 


  • a) Dekomposisi: Memecah masalah besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mudah dikelola. Bayangkan Anda ingin membangun rumah; Anda tidak langsung membangun semuanya, melainkan membaginya menjadi pondasi, dinding, atap, dan seterusnya. 
  • b) Pengenalan Pola: Mengidentifikasi kesamaan, tren, atau pola dalam data atau masalah yang berbeda. Jika Anda menyadari bahwa beberapa masalah memiliki pola yang sama, Anda bisa menggunakan solusi yang sama untuk menyelesaikannya. 
  • c) Abstraksi: Menyaring informasi yang tidak relevan dan fokus pada detail yang penting. Ini seperti membuat peta — Anda tidak perlu melihat setiap pohon atau batu, hanya jalan utama dan penanda penting. 
  • d) Algoritma: Mengembangkan langkah-langkah atau instruksi yang jelas dan berurutan untuk memecahkan masalah atau mencapai suatu tujuan. Ini adalah "resep" untuk menyelesaikan tugas. Dengan menguasai berpikir komputasional, kita tidak hanya menjadi pemecah masalah yang lebih baik, tetapi juga lebih adaptif dalam menghadapi tantangan di berbagai aspek kehidupan, dari pekerjaan hingga kehidupan sehari-hari. 

Cakap dan Bijak sebagai Warga Masyarakat Digital 
Menjadi warga masyarakat digital berarti lebih dari sekadar memiliki akun media sosial. Ini tentang menjadi individu yang literat, produktif, beretika, aman, berbudaya, dan bertanggung jawab dalam interaksi online. Literat: Mampu memahami, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara efektif di berbagai platform digital. Ini termasuk kemampuan membedakan berita palsu (hoaks) dari informasi yang benar. Produktif: Memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan menciptakan nilai, baik dalam pekerjaan, pendidikan, maupun aktivitas personal. Beretika: Mematuhi norma-norma perilaku yang baik di dunia maya, menghormati privasi orang lain, dan menghindari perundungan siber (cyberbullying). Aman: Menjaga keamanan data pribadi dan akun online dari serangan siber seperti phishing atau peretasan. Berbudaya: Memahami dan menghargai keragaman budaya di ruang digital, serta berpartisipasi dalam interaksi yang konstruktif. Bertanggung Jawab: Mengakui dampak dari tindakan online kita, baik positif maupun negatif, dan siap menanggung konsekuensinya. Dengan menjadi warga masyarakat digital yang cakap dan bijak, kita berkontribusi pada lingkungan online yang lebih sehat, aman, dan produktif bagi semua. 

Terampil Mengelola dan Memanfaatkan Data untuk Pemecahan Masalah 
Kehidupan Di dunia yang digerakkan oleh data, kemampuan untuk mengelola dan memanfaatkan data adalah keterampilan yang sangat berharga. Data ada di mana-mana, dari catatan kesehatan hingga tren pembelian. Kemampuan untuk mengumpulkan, membersihkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data dapat memberikan wawasan yang mendalam dan membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dalam berbagai konteks: Mengidentifikasi Masalah: Data dapat membantu kita melihat pola atau anomali yang menunjukkan adanya masalah. Mencari Solusi: Dengan menganalisis data, kita dapat menemukan hubungan sebab-akibat atau mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi suatu masalah, sehingga memudahkan kita merancang solusi yang tepat. Mengukur Dampak: Setelah menerapkan solusi, data dapat digunakan untuk mengukur efektivitasnya dan membuat penyesuaian yang diperlukan. Misalnya, seorang pemilik usaha kecil dapat menganalisis data penjualan untuk mengidentifikasi produk terlaris atau periode penjualan puncak, sehingga dapat mengoptimalkan strategi pemasaran dan persediaan. 

Terampil Berkarya dengan Kode dan Kecerdasan Artifisial 
Puncak dari semua keterampilan ini adalah kemampuan untuk berkarya dengan menghasilkan rancangan atau program melalui proses koding dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Coding adalah bahasa yang memungkinkan kita "berbicara" dengan komputer dan memberinya instruksi. Dengan coding, kita dapat menciptakan aplikasi, situs web, game, dan berbagai solusi digital lainnya. Kecerdasan Artifisial (AI), di sisi lain, adalah bidang yang berfokus pada pengembangan sistem yang dapat belajar dari data, memahami, dan bahkan membuat keputusan seperti manusia. Memanfaatkan AI dalam karya kita berarti kita dapat menciptakan solusi yang lebih cerdas, efisien, dan otomatis. Contohnya: Membangun chatbot layanan pelanggan yang dapat menjawab pertanyaan secara otomatis. Mengembangkan sistem rekomendasi yang menyarankan produk atau konten berdasarkan preferensi pengguna. Menciptakan alat yang dapat menganalisis gambar atau suara untuk tujuan tertentu. Menggabungkan kemampuan koding dengan pemahaman tentang AI membuka peluang tak terbatas untuk inovasi. Ini memberdayakan kita untuk tidak hanya mengonsumsi teknologi, tetapi juga menjadi pencipta dan inovator di garis depan perkembangan digital. 

Menguasai keempat pilar ini – berpikir komputasional, literasi digital, pengelolaan data, dan berkarya dengan teknologi – adalah investasi penting untuk masa depan. Ini membekali kita dengan keterampilan yang tidak hanya relevan di dunia kerja, tetapi juga esensial untuk menjalani kehidupan yang produktif, bermakna, dan bertanggung jawab di era digital. Dengan terus mengasah kecakapan-kecakapan ini, kita dapat menjadi agen perubahan yang positif dan inovatif dalam masyarakat.

Read More »
01 July | 0komentar

Kita Sedang Mendidik atau Sekadar Mengejar Nilai?

Rapat Penetapan Kelulusan, diukur dengan nilai

Jika kita sepakat bahwa pendidikan adalah alat perjuangan untuk meningkatkan kualitas hidup, memutus rantai kemiskinan struktural, dan menjadi strategi kolektif dalam memupus kebodohan maka satu pertanyaan penting yang tidak bisa kita hindari adalah: seberapa serius kita memperjuangkannya? Mari kita renungkan. Apakah pendidikan yang kita jalani hari ini benar-benar membangun kemampuan manusia? Ataukah tanpa sadar kita sedang menipu diri sendiri terjebak dalam ilusi bahwa nilai adalah bukti kecerdasan, dan ijazah adalah simbol kematangan? Pertanyaan ini mungkin terasa mengusik, tetapi justru di situlah letak kejujurannya.   

Ketika Pendidikan Berubah Menjadi Formalitas  

Realitas yang kita lihat menunjukkan bahwa pendidikan seringkali direduksi menjadi sekadar proses administratif. Anak-anak didorong untuk mengejar angka, bukan makna. Sekolah menjadi tempat mengejar kelulusan, bukan ruang bertumbuh. Nilai tinggi dianggap prestasi utama, tanpa benar-benar menguji apakah ada pemahaman yang mendalam. Ijazah menjadi tiket sosial, bukan representasi kemampuan. Akibatnya, kita menghasilkan lulusan yang mungkin “lulus secara sistem”, tetapi belum tentu siap menghadapi realitas kehidupan.  
Ada ilusi kolektif yang diam-diam kita rawat: Bahwa ranking mencerminkan kecerdasan. Bahwa hafalan adalah tanda pemahaman. Bahwa gelar adalah jaminan kompetensi. Padahal, kehidupan tidak pernah bertanya berapa nilai rapor kita. Dunia nyata menuntut kemampuan berpikir, beradaptasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah. Ketika pendidikan gagal melatih hal-hal tersebut, maka sesungguhnya kita sedang membangun generasi yang rapuh terlihat “berhasil” di atas kertas, tetapi gagap di lapangan.  
Jika kita menengok bangsa-bangsa yang benar-benar serius membangun masa depannya, kita akan menemukan satu pola yang sama: mereka tidak terjebak pada angka semata. Mereka fokus pada: Kualitas berpikir, bukan sekadar hasil ujian. Kemandirian belajar, bukan ketergantungan pada guru. Kemampuan nyata, bukan simbol formal. Pendidikan di sana diarahkan untuk membentuk manusia yang mampu berdiri sendiri, berpikir kritis, dan berkontribusi secara nyata. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang lulus, tetapi oleh seberapa mampu manusianya menyelesaikan persoalan hidup.  
Seharusnya, pendidikan adalah jalan pembebasan. Ia membebaskan manusia dari kebodohan, dari keterbatasan berpikir, bahkan dari kemiskinan yang diwariskan secara struktural. Namun pembebasan itu tidak akan pernah terjadi jika pendidikan hanya menjadi rutinitas tanpa arah. Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang: 
  • Menghidupkan rasa ingin tahu 
  • Melatih cara berpikir, bukan sekadar memberi jawaban 
  • Menguatkan karakter, bukan hanya kecakapan teknis  
  • Menumbuhkan keberanian untuk menghadapi ketidakpastian 
Maka, pertanyaan awal itu kembali relevan: seberapa serius kita memperjuangkan pendidikan? Apakah kita hanya ikut arus sistem yang ada, atau berani mengkritisi dan memperbaikinya? Apakah kita sebagai orang tua, pendidik, dan bagian dari masyarakat benar-benar peduli pada proses belajar, atau hanya pada hasil akhirnya? Karena jika kita masih mengukur keberhasilan pendidikan dari angka dan ijazah semata, maka mungkin benar kita sedang hidup dalam ilusi yang kita ciptakan sendiri.  

Perjuangan yang Belum Selesai  

Pendidikan bukan proyek jangka pendek. Ia adalah perjuangan panjang yang membutuhkan keseriusan, kesabaran, dan keberanian untuk berubah. Jika kita benar-benar ingin memutus kemiskinan, mengangkat kualitas hidup, dan membangun masa depan yang lebih baik, maka pendidikan harus kembali ke esensinya: membangun manusia. Bukan sekadar mencetak lulusan. Bukan sekadar menghasilkan angka. Tetapi melahirkan individu yang mampu berpikir, bertindak, dan memberi makna bagi kehidupan. Dan itu hanya bisa terjadi jika kita benar-benar serius memperjuangkannya.
Sumber:  Grup WA GSM Kab.Purbalingga

Read More »
09 May | 0komentar

Membangun Pemahaman Literasi dan Numerasi


Meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi murid-siswa kita tidak cukup hanya dengan program-program pembelajaran terkini. Guru yang memiliki kemampuan literasi dan numerasi tahap lanjut pasti memahami pentingnya tujuan dan manfaat memiliki kemampuan literasi dan numerasi dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu mereka akan menerapkan kedua kemampuan tersebut dalam metode pengajarannya.
Guru dapat belajar apa itu literasi, numerasi, literasi dan numerasi serta prinsip pengembangannya di sekolah. Pentingnya memiliki dan mengembangkan kedua kemampuan tersebut baik dalam proses belajar mengajar, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan pemahaman yang benar, diharapkan guru mata pelajaran apapun dapat menerapkan dan mengembangkan kemampuan literasi dan numerasi, lalu mengajarkannya pada murid-siswa mereka.
Pemahaman tentang cara berpikir yang runtut, sistematis dan logis dapat dikembangkan dengan menggunakan alat bantu berupa bagan kerangka berpikir (graphic organizers). Alat bantu ini dapat digunakan guru bukan hanya dalam proses mengajar di kelas, namun dapat dimulai dari keseharian para guru, sehingga kemampuan literasi dan numerasi menjadi bagian dari gaya hidup guru. 
Dengan memulai dari keseharian mereka, diharapkan kemampuan literasi dan numerasi dapat terbangun dalam pikiran para guru sehingga dapat terintegrasi dalam rencana pembelajaran yang disusun mereka. Kemampuan yang dibangun dari keseharian juga membuat para guru lebih fasih menerapkan kemampuan tersebut. 
Dengan demikian diharapkan dalam proses pembelajaran di kelas dengan sendirinya guru akan membangun kebiasaan literasi dan numerasi dalam proses belajar siswa.Selain alat bantu untuk pengembangan cara berpikir, contoh dan ide bagaimana kemampuan literasi dan numerasi dapat diterapkan dalam rencana dan proses pembelajaran mata pelajaran yang berbeda-beda. Guru diharapkan dapat mengambil contoh dan mengembangkan ide dalam rencana dan proses pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan literasi dan numerasi dalam mata pelajaran mereka.

Workshop Penguatan Literasi-Numerasi



Read More »
06 August | 0komentar

Tantangan Guru Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Ruang Kelas

Perkembangan zaman membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, terutama terkait karakteristik peserta didik. Di penghujung semester gasal ini, refleksi terhadap praktik pembelajaran menjadi penting, khususnya dalam menyikapi kehadiran Generasi Z dan Generasi Alpha yang kini mendominasi ruang kelas.
Bagi guru generasi sebelumnya, pengalaman mengajar sering kali menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai karakter murid. Jam terbang yang panjang membentuk intuisi pedagogik: mengenali murid pendiam, murid aktif, hingga murid dengan perilaku menantang. Namun, pola-pola yang selama ini dianggap mapan ternyata tidak selalu relevan ketika berhadapan dengan generasi baru peserta didik.
Perubahan Karakter Peserta Didik
Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam konteks sosial dan teknologi yang sangat berbeda. Mereka lahir dan berkembang di era digital, di mana informasi mudah diakses, komunikasi berlangsung cepat, dan batas ruang serta waktu semakin kabur. Kondisi ini membentuk cara berpikir, cara belajar, dan cara memaknai pendidikan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka tidak sekadar membawa perangkat digital ke dalam kelas, tetapi juga membawa perspektif baru terhadap proses belajar. Fleksibilitas sering kali menjadi ciri utama mereka. Namun, fleksibilitas ini bukan berarti tanpa arah. Justru, Generasi Z dan Alpha cenderung menghargai pembelajaran yang memiliki tujuan jelas, relevan dengan kehidupan, serta memberikan makna bagi perkembangan diri mereka.

Konteks Dunia TUNA dan Implikasinya bagi Pendidikan
Peserta didik saat ini tumbuh dalam dunia yang dapat digambarkan dengan istilah TUNA (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity). Dunia yang penuh ketidakpastian, perubahan cepat, kebaruan, dan ambiguitas ini memengaruhi orientasi belajar mereka. Fokus tidak lagi semata pada capaian nilai akademik, tetapi juga pada pertumbuhan personal, kesejahteraan mental, dan relevansi pembelajaran dengan realitas kehidupan.
Jika generasi sebelumnya lebih menekankan pada kepatuhan terhadap aturan atau panduan yang baku, Generasi Z cenderung menampilkan pola berpikir yang lebih eksploratif dan kreatif. Pola ini terkadang dipersepsikan sebagai ketidakteraturan, padahal sesungguhnya merupakan bentuk pencarian jati diri dan cara belajar yang sesuai dengan zamannya.

Peran Guru dalam Lanskap Pedagogik Baru
Dalam konteks ini, peran guru mengalami pergeseran. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai sumber utama pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator, pendamping, dan mitra belajar. Pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting dibandingkan instruksi satu arah.
Hal ini tidak berarti metode pembelajaran lama keliru. Setiap pendekatan memiliki relevansi sesuai dengan konteks zamannya. Namun, pendidikan bersifat dinamis. Kelas bukanlah ruang statis, melainkan ruang hidup yang terus berubah mengikuti perkembangan peserta didik dan lingkungan sosialnya.

Refleksi dan Arah Pengembangan Profesional Guru
Kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberlangsungan peran guru di era ini. Guru yang efektif adalah guru yang bersedia terus belajar, merefleksikan praktik pembelajarannya, dan menyesuaikan pendekatan pedagogik dengan karakter peserta didik.
Perubahan dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau teknologi, tetapi juga oleh kesiapan mental dan sikap profesional guru. Ketika guru membuka diri untuk memahami generasi baru, mengembangkan empati, dan menggeser cara pandang, maka proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan kontekstual.
Dengan demikian, tantangan menghadapi Generasi Z dan Alpha sejatinya bukan hambatan, melainkan peluang untuk menumbuhkan praktik pendidikan yang lebih relevan, humanis, dan berorientasi pada masa depan.

Read More »
29 December | 0komentar

2.3.a.4.1.Eksplorasi Konsep Modul 2.3 - 2.1 Konsep Coaching secara Umum dan Konteks Pendidikan


Berikut pendapat dari teman-teman CGP berkaitan dengan Eksplorasi konsep Modul 2.3. Halaman 8.:
Coaching melibatkan keyakinan bahwa setiap individu memiliki jawaban untuk masalah mereka sendiri di dalam dirinya. Seorang coach bukanlah ahli terhadap topik tertentu. Dalam proses coaching, fokusnya lebih kepada membantu individu untuk membuka potensi dirinya sendiri. Pada dasarnya, siapa pun dapat mengambil pendekatan coaching bagi orang lain, baik rekan sebaya, bawahan atau atasan.
Mentoring sebagai suatu proses dimana seorang teman, guru, pelindung, atau pembimbing yang bijak dan penolong menggunakan pengalamannya untuk membantu seseorang dalam mengatasi kesulitan dan mencegah bahaya. Konseling adalah hubungan bantuan antara konselor dan klien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri serta pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Fasilitasi sebagai sebuah proses dimana seseorang yang dapat diterima oleh seluruh anggota kelompok, secara substantif berdiri netral, dan tidak punya otoritas mengambil kebijakan, melakukan intervensi untuk membantu kelompok memperbaiki cara-cara mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai masalah, serta membuat keputusan, agar bisa meningkatkan efektivitas kelompok itu. Training merupakan suatu usaha yang terencana untuk memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan yang berkaitan dengan pengetahuan, keahlian dan perilaku oleh para pegawai.
selaku calon guru penggerak, saya harus dapat menjadi supervisor yang memiliki paradigma berpikir dan ketrampilan coaching dalam rangka pengembangan diri dan rekan sejawat. coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). sedangkan menurut Whitmore (2003) menyatakan bahwa coaching merupakan kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya. coaching diberikan untuk membantu orang lain untuk belajar bukan mengajari. coaching memliki perbedaan dengan pengembangan diri lainya yang biasa dilakukan di sekolah diantaranya mentoring, konseling, fasilitasi dan trainning. dari kelima proses pengembangan diri ini coaching lebih sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan yang menuntun kodrat murid untukmemperbaiki perilaku agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Supervisi akademik ini dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan Pasal 12 yaitu: 1) Pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b diselenggarakan dalam suasana belajar yang: a. interaktif; b. inspiratif; c. menyenangkan; d. menantang; e. memotivasi Peserta Didik untuk berpartisipasi aktif; dan f. memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis Peserta Didik. supervisi akademik juga bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri dalam setiap pendidik di sekolah dan pembelajaran yang berpihak pada murid, Rangkaian supervisi akademik ini digunakan kepala sekolah untuk mendorong ruang perbaikan dan pengembangan diri guru di sekolahnya. kepala sekolah yang dapat mendorong kita sebagai warga sekolah untuk selalu mengembangkan kompetensi diri yaitu kepala sekolah yang dapat mengidentifikasi kebutuhan.
Pada dasarnya setiap orang baik itu murid maupun guru memiliki potensi di dalam diri mereka sendiri. Bagaimana mengetahui potensi dirinya terkadang perlu bantuan orang lain untuk menggalinya sehingga seseorang akan mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Peran kita sebagai guru harus dapat menjadi coach bagi murid ataupun rekan yang lain dalam rangka menggali potensi yang dimilikinya. Bagaimana dengan guru yang potensinya juga masih belum dioptimalkan? siapa yang akan menjadi coach? tentunya yang pertama menjadi coach bagi rekan - rekan guru adalah kepala sekolah, jika berkaitan dengan pembelajaran maka kepala sekolah dapat menggali potensi guru dengan melakukan supervisi akademik. Rekan guru yang lain juga dapat menjadi coach bagi rekan lainnya.
Coaching sejalan dengan Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, hal tersebut juga menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua kekuatan diri pada murid. Sebagai seorang Guru (pendidik/pamong) dengan semangat Tut Wuri Handayani, maka perlulah kita menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma berpikir Ki Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching sebagai salah pendekatan komunikasi dengan semangat among (menuntun).
Karena Coaching melibatkan keyakinan bahwa setiap individu memiliki jawaban untuk masalah mereka sendiri di dalam dirinya.Seorang coach bukanlah ahli terhadap topik tertentu. Dalam proses coaching, fokusnya lebih kepada membantu individu untuk membuka potensi dirinya sendiri. Fokus sangat ditekankan pada individu dan apa yang ada di dalam kepala mereka, serta apa yang mereka rasakan. Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua kekuatan diri pada murid. Sehingga kita sebagai “Among/coachee” harus mampu menuntun murid dengan menjadi coach yang baik.
Menurut saya, guru harus mampu mengembangkan potensi rekan sejawat melalui coaching untuk supervisi akademik. Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee. Dengan hal itu, maka kita sebagai Coach dapat sejalan dengan Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

Read More »
09 June | 0komentar

Model Pembelajaran Discovery Learning

Discovery Learning

Model pembelajaran discovery learning atau dalam bahasa Indonesia disebut pembelajaran penemuan, dimana aktivitas pembelajaran akan dipresentasikan kepada siswa secara langsung namun siswa dituntut untuk bisa memahami materi secara mandiri dengan menggunakan metode tertentu.
Dalam memahami sebuah materi siswa bisa melaksanakan pendekatan saintifik yang diantaranya adalah mengamati, observasi, pengklasifikasian, menciptakan asumsi, menjabarkan, dan membuat kesimpulan. Sehingga materi bisa ditemukan menjadi sebuah teori atau konsep prinsip yang bisa dipahami. 

Pengertian 
Model pembelajaran discovery learning ini merupakan pembelajaran yang disampaikan kepada siswa dan siswa akan memahaminya secara independen. Dalam hal ini siswa akan diberi kemampuan cara menjadi seorang ilmuwan. Dengan pembelajaran ini siswa tidak hanya berperan pasif menerima materi pelajaran. Namun juga memprosesnya sampai memahami dan menguasai yang biasa disebut pembelajaran aktif. Sehingga siswa bisa terbiasa untuk menciptakan sebuah ilmu pengetahuan.

Menurut Para Ahli 

Agar pemahaman tentang pembelajaran discovery learning bisa lebih dalam berikut beberapa pengertian menurut para ahli dan beberapa referensi buku: Berdasarkan Sund, Discovery learning merupakan aktivitas intelektual siswa dimana mereka mampu menguraikan sebuah prinsip atau konsep. 
Aktivitas intelektual diantaranya adalah mengobservasi, memahami, mampu mengklasifikasikan, menciptakan asumsi, menjabarkan, menakar, menciptakan kesimpulan (Suryabrata, 2002:193). Berlandaskan Hosnan (2014:282), discovery learning adalah model pengembangan kemampuan belajar aktif pada siswa agar bisa investigasi dan mendapatkan ilmu secara mandiri. Dengan belajar aktif ini siswa juga bisa dilatif berpikir secara analisis dan problem solving sehingga ilmu pengetahuan bisa bertahan lama dalam diri siswa. 

Berdasarkan Ruseffendi (2006:329), Model pembelajaran discovery learning merupakan model yang mengelola pembelajaran yang bisa membuat siswa mendapatkan ilmu pengetahuan secara mandiri dan belum diketahui oleh dirinya secara aktif. 

Berlandaskan Kurniasih, dkk (2014:64), discovery learning adalah aktivitas pembelajaran dimana materi disampaikan secara langsung kepada siswa. Selanjutnya siswa dianjurkan untuk mengelola materi tersebut secara mandiri. Dimana mereka harus bisa menemukan konsep berdasarkan data atau informasi dengan cara penelitian. 


Jenis dan Bentuk Discovery Learning 

Berdasarkan Suprihatiningrum (2014:244), Discovery learning ada dua bentuk dalam implementasinya, yakni: 

1. Guided Discovery Learning atau pembelajaran penemuan terbimbing, yaitu bentuk yang memerlukan arahan guru sebagai penyedia dalam aktivitas pembelajaran. 
2. Free Discovery Learning atau pembelajaran penemuan bebas, yaitu bentuk yang bebas dimana siswa harus bisa berperan aktif secara mandiri dan tidak memerlukan fasilitator seperti guru. 

Selain itu model pembelajaran discovery learning juga bisa dilakukan dengan hubungan dua arah dan satu arah. Penjabaran lebih lanjut bisa berlandaskan pada (Oemar Hamalik, 2009:187) yakni: 

  1. Hubungan dua arah adalah dimana siswa harus bisa berkomunikasi dengan guru seperti menjawab pertanyaan. Lalu guru melakukan komunikasi dengan siswa dengan cara panduan secara baik. 
  2. Hubungan satu arah adalah siswa siswa akan diberi stimulus agar mereka bisa melaksanakan penemuan. Dimana guru akan memberikan sebuah masalah kepada siswa, dan mereka akan membuat solusi dengan metode penemuan. 


Karakteristik dan Tujuan Discovery Learning 

Berdasarkan penuturan Hosnan (2014) model discovery learning memiliki karakteristik berupa eksplorasi dan membuat solusi agar bisa membuat, memadukan dan mengumumkan sebuah pengetahuan. Berfokus pada peserta didik. Aktivitas untuk memadukan ilmu pengetahuan baru dan lama. 
  • Sementara tujuan dari discovery learning berdasarkan (Hosnan, 2014) adalah agar siswa bisa independen dan inovatif. Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut: 
  • Ketika aktivitas penemuan berlangsung peserta didik akan berperan aktif dalam pembelajaran. Sehingga peserta didik bisa menghargai usaha penemuan pengetahuan yang dilaksanakannya. 
  • Dengan pembelajaran discovery learning ini, peserta didik akan bisa mengembangkan proses berpikir induktif dimana mereka bisa melakukan penjelasan secara abstrak dan konkret. Sehingga dalam menemukan solusi jadi lebih mudah. 
  • Peserta didik akan bisa mengembagnkan/meningkatkan rencana tanya jawab yang lebih terarah dan terstruktur. Dan tanya jawab bisa menjadi sumber data dan informasi yang efektif dalam aktivitas discovery learning. 
  • Pembelajaran penemuan atau discovery learning bisa menolong peserta didik dalam melatih kerja sama antar mereka. Peserta didik bisa saling berbagi data, mengungkapkan pendapat dan gagasan.
  • Dengan keterampilan penemuan atau discovery ini siswa bisa menemukan beberapa kasus masalah yang nantinya bisa ditemukan solusinya. Sehingga ilmu pengetahuan bisa lebih mudah untuk dibagi dan selanjutnya lebih mudah untuk diimplementasikan sebagai bahan pembelajaran yang baru. Baca juga: Tujuan Pembelajaran 


Langkah-langkah atau Sintaks Discovery Learning 

Berdasarkan penuturan Veerman (2003) secara singkat dan rinci langkah-langkah pembelajaran discovery learning adalah apa yang akan kami jelaskan di bawah, berikut diantaranya:  

Orientation 
Pada sesi awal ini yakni orientation, siswa akan dituntut untuk bisa memperhatikan informasi dari mulai latar belakang, pengenalan masalah dan kejadian, mengaitkan kejadian dengan pengetahuan lama. 
Sintaks atau langkah 
orientation akan membuat kekuatan tafsir, analisis dan evaluasi akan berkembbang sehingga siswa bisa berpikir kritis. Pada sesi ini guru akan memberi materi yang sesuai dengan kejadian nyata dan nantinya siswa akan dipusatkan untuk mempelajari materi dan permasalahannya. Kejadian yang dipresentasikan membuat siswa bisa mudah untuk dinilai. 

Hypothesis Generation 
Data tentang kejadian yang diperoleh pada sesi orientation akan dipakai pada sesi ini, yakni hypothesis generation. Pada sintaks ini siswa akan membuat hipotesis yang berhubungan dengan masalah. Siswa akan memformulasikan masalah yang ada dan menemukan tujuan dari proses pembelajaran. Manfaat dari langkah hypothesis generation adalah mengembangkan keahlian siswa dalam analisis, tafsir, evaluasi dan deduksi (mengambil kesimpulan). 

Hypothesis Testing 
Hypothesis merupakan output dari langkah kedua yakni hypothesis generation. Yang mana keabsahannya kurang dipercaya sehingga dalam melakukan pembuktian siswa dituntut untk melakukan sesi ini yakni Hypothesis Testing. Pada langkah ini siswa dituntut untuk bisa membuat strategi dan melakukan penelitian agar keabsahan hipotesis yang telah diformulasikan, dihimpun datanya dan menghubungkan hasil dari eksperimen menjadi terbukti. Pada sintaks atau tahap ini siswa akan didorong untuk bisa mengembangkan keahlian dalam mengatur diri, evaluasi, analisis, menafsirkan dan mengungkapkan suatu konsep abstrak maupun konkret. 

Conclusion 
Aktivitas siswa pada sesi conculisan adalah mengulas kembali hipotesis yang sudah diformulasikan dengan fakta yang sudah didapat dari Hypothesis Testing. Siswa akan menentukan apakah fakta yang telah diuji dari hypothesis testing sesuai dengan yang sudah diformulasikan. Pada sesi conclusion ini siswa bisa membuat perubahan hipotesis lama dengan yang baru. Pada sintaks atau langkah conclusion bisa membuat siswa berkembang di ranah cara menyimpulkan, menganalisis, menafsirkan, evaluasi dan menjabarkan. 

Regulation 
Pada sesi regulation ini siswa akan melakukan aktivitas berupa menyusun strategi, memeriksa dan evaluasi. Penyusunan strategi mengaitkan antara aktivitas memutuskan tujuan dan metode untuk meraih tujuan tersebut. Aktivitas memeriksa atau mentoring adalah aktivitas yang mana untuk memahami kebenaran dari action yang dilakukan siswa yang berhubungan dengan hasil yang telah disusun strateginya. Guru akan memverifikasi hasil yang ada sehingga konsep bisa sesuai dengan aktivitas pembelajaran. Sintaks atau langkah regulation akan membuat siswa menjadi lebih mampu untuk mengevaluasi, dan mengatur diri serta bisa menganalisis, menjabarkan, menafsirkan dan menyimpulkan.

Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning 
Berdasarkan penuturan Suherman, dkk (2001:179) menyatakan bahwa terdapat keunggulan atau kelebihan yang bisa diambil dari model discovery learning, yakni: 

Kelebihan 
Dalam aktivitas belajar siswa akan aktif, ini dikarenakan mereka akan menyelesaikan permasalahan atau menemukan pengetahuan secara mandiri. 
Dengan model discovery learning siswa akan menguasai pelajaran secara mendalam. Ini dikarenakan siswa mencerna dan menemukan sendiri ilmu pengetahuan itu sehingga bisa lebih bertahan lama dalam ingatannya. 
Dengan memahami dan menemukan secara mandiri akan memicu rasa puas. Rasa puas tersebut akan memotivasi siswa untuk memahami dan menemukan lagi. ini menjadikan minat belajar akan berkembang. Siswa yang mendapatkan ilmu pengetahuan dengan discovery learning akan lebih sanggup membagi ilmu pengetahuannya di berbagai aspek. 
Dengan metode discovery learning in siswa akan terlatih untuk bisa belajar secara mandiri.

Kekurangan 
Sementara berdasarkan penuturan Kurniasih, dkk (2014:64-65), terdapat beberapa kekurangan kelemahan dari Discovery Learning, berikut diantaranya: 
Model ini akan memicu sebuah anggapan setiap pikiran pasti sudah siap untuk belajar. Namun untuk siswa yang lemah, mereka akan mendapati kesukaran dalam berpikir abstrak atau menjabarkan sebuah pengetahuan melalui tulisan maupun ucapan sehingga siswa tersebut bisa terkuras mentalnya. Dalam prakteknya model discovery learning kurang bisa mengcover jumlah siswa yang jumlahnya banyak. Ini disebabkan akan memakan waktu yang relatif tidak sedikit. 
Esensi dalam model discovery learning akan tidak tersampaikan jika digunakan pada pola pikir guru dan murid yang sudah nyaman dengan metode lama. Jadi gunakan metode penemuan dengan cara bertahap. 
Pembelajaran discovery lebih efektif bila digunakan untuk membangkitkan penguasaan dan pemahaman, namun dalam membangkitkan komponen keterampilan, konsep dan emosi pembelajaran ini kurang bisa memfasilitasi. 
Materi yang ditentukan oleh guru dalam model pembelajaran ini mengakibatkan siswa tidak bisa memilih apa yang diinginkan oleh mereka dalam berpikir.

Read More »
10 June | 1komentar