Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by relevance for query anggaran pendidikan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query anggaran pendidikan. Sort by date Show all posts

Sekolah Banyak, Tapi Kenapa Belum Maju? Ini yang Sebenarnya Perlu Diubah!

Wisuda Program S2 UGM Taun 2013

Kalau dipikir-pikir, hampir semua negara sekarang punya sekolah. Bahkan anggaran pendidikan tiap tahun juga nggak kecil. Tapi anehnya, kemajuan tiap negara beda-beda banget. Ada yang melesat cepat, ada juga yang jalan di tempat. Jadi, sebenarnya apa sih yang bikin beda?  
Masalahnya Bukan di Jumlah, Tapi Arah Sering kali kita mikir: “Kalau sekolah diperbanyak, pasti negara jadi maju.” Nggak salah… tapi juga nggak sepenuhnya benar. Karena faktanya, kemajuan sebuah negara bukan cuma soal jumlah sekolah atau besarnya anggaran, tapi lebih ke arah atau orientasi pendidikannya. Apakah pendidikan itu: Cuma bikin siswa hafal? Atau benar-benar melatih mereka untuk berpikir?  
Nah, di sinilah letak masalah utamanya. Belajar, Tapi Nggak Dilatih Berpikir.  Jujur aja, banyak sistem pendidikan masih fokus ke: Nilai Ranking Ujian Padahal, dunia nyata nggak nanya: “Nilai kamu berapa?”  
Dunia nyata lebih peduli:  
Kamu bisa mikir nggak?  
Bisa nyelesain masalah nggak?  
Bisa adaptasi nggak?  
Kalau pendidikan belum sampai ke situ, wajar banget kalau kemajuan terasa lambat. Karena kita sebenarnya sibuk belajar, tapi belum benar-benar berpikir.  

Yang Perlu Diubah Itu 
Cara Belajarnya  
Pertanyaannya sekarang: Apa yang harus diubah? Jawabannya bukan sekadar kurikulum atau fasilitas. Yang paling penting adalah cara belajar manusianya. Beberapa hal yang perlu mulai digeser:  
1. Dari Hafalan ke Pemahaman Bukan cuma tahu “apa”, tapi juga ngerti “kenapa”.  
2. Dari Takut Salah ke Berani Mencoba Kalau takut salah terus, kapan berkembangnya?  
3. Dari Pasif ke Aktif Belajar itu bukan duduk diam, tapi ikut mikir, diskusi, bahkan debat sehat.  
4. Dari Jawaban Tunggal ke Banyak Perspektif  
Masalah di dunia nyata jarang punya satu jawaban benar. Pendidikan itu soal “Cara Berpikir”, Bukan Sekadar Ilmu Ilmu itu penting, tapi cara berpikir jauh lebih penting. Karena dengan cara berpikir yang benar: Ilmu bisa berkembang Ide baru bisa muncul Solusi bisa ditemukan . Negara yang maju biasanya bukan yang paling banyak sekolahnya, tapi yang warganya terbiasa berpikir kritis, kreatif, dan terbuka.  

Jadi, Mulai dari Mana? Nggak perlu nunggu sistem berubah total. Bisa mulai dari hal kecil: Biasakan bertanya, bukan cuma menerima Cari tahu “kenapa”, bukan cuma “apa” Diskusi, bukan cuma dengar Berani beda pendapat, tapi tetap santun Karena perubahan besar selalu dimulai dari cara kita berpikir. 

Upgrade Cara Belajar, Bukan Cuma Sistemnya Kalau kita ingin melihat negara ini benar-benar maju, maka yang perlu di-upgrade bukan cuma gedung sekolah atau anggaran… Tapi cara manusia di dalamnya belajar dan berpikir. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah negara selalu berawal dari cara berpikir warganya.

Read More »
27 April | 0komentar

Di Balik Senyum Guru: Tantangan yang Jarang Tersorot dalam Dunia Pendidikan




Tanggal 25 November setiap tahun, di rayakan sebagai Hari Guru. Peringatan ini sebagai bentuk apresiasi atas jasa para guru/pendidik. Senyum ramah dan semangat mereka dalam mengajar seringkali menjadi pemandangan yang menghiasi ruang-ruang kelas. Namun, di balik senyum ceria itu, tersimpan beragam tantangan yang jarang tersorot dan patut kita sadari bersama. 

Beban Kerja yang Menumpuk 
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi guru adalah beban kerja yang sangat padat. Selain mengajar di kelas, guru juga harus menyusun rencana pembelajaran, memeriksa  tugas siswa, membuat laporan, dan mengikuti berbagai pelatihan. Belum lagi tuntutan administrasi yang semakin kompleks dan seringkali memakan waktu yang cukup banyak. Terdapat 5 aplilasi yang merupakan bagian dari beban administrasi/ dokumen kepegawaian guru. Beban kerja yang berlebihan ini dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental guru, serta mengurangi kualitas waktu yang dapat mereka dedikasikan untuk setiap siswa. 


Keterbatasan Sarana dan Prasarana 
Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran. Kurangnya buku pelajaran, alat peraga, laboratorium, dan akses internet yang terbatas menjadi kendala bagi guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Kondisi ini semakin terasa di daerah-daerah terpencil, di mana guru harus berkreasi dengan segala keterbatasan yang ada. Perkembangan Teknologi yang Pesat Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat menghadirkan tantangan tersendiri bagi guru. Mereka dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi dengan berbagai platform pembelajaran online, aplikasi pendidikan, dan media sosial. Meskipun teknologi menawarkan banyak manfaat, namun tidak semua guru memiliki akses yang sama terhadap pelatihan dan dukungan yang diperlukan. 

Keberagaman Siswa 
Setiap siswa memiliki karakter, minat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Guru harus mampu mengakomodasi keberagaman ini dalam proses pembelajaran. Namun, dengan jumlah siswa yang cukup banyak di setiap kelas, seringkali sulit bagi guru untuk memberikan perhatian yang cukup kepada setiap individu. Disiplin Siswa yang Menurun Perubahan zaman dan pengaruh lingkungan sekitar membuat disiplin siswa menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Perilaku siswa yang kurang menghormati guru dan teman, serta kecenderungan untuk lebih banyak menggunakan gadget daripada belajar, menjadi masalah yang cukup serius. 

Ancaman kriminalisasi guru menjadi isu yang semakin sering terdengar belakangan ini. Tindakan hukum yang ditujukan kepada guru, seringkali dipicu oleh berbagai faktor, seperti perbedaan persepsi dalam proses pembelajaran, tuntutan akademik yang tinggi, atau bahkan masalah pribadi. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, mengingat peran guru yang sangat penting dalam membentuk generasi muda.

Dampak dari Tantangan Tersebut 
Tantangan-tantangan yang dihadapi guru dapat berdampak pada kualitas pendidikan secara keseluruhan. Guru yang kelelahan dan terbebani akan kesulitan memberikan pembelajaran yang efektif. Selain itu, kurangnya sarana dan prasarana yang memadai dapat menghambat perkembangan potensi siswa. 

Solusi dan Harapan 
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu meningkatkan anggaran pendidikan, menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, serta memberikan pelatihan yang berkelanjutan bagi guru. Sekolah juga harus memberikan dukungan yang lebih baik kepada guru, misalnya dengan mengurangi beban administratif dan menyediakan waktu yang cukup bagi guru untuk berkolaborasi. 
Masyarakat pun perlu memberikan apresiasi yang lebih tinggi terhadap profesi guru dan ikut berperan serta dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Di balik senyum mereka, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang telah berjuang keras untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudah saatnya kita memberikan perhatian yang lebih serius terhadap tantangan yang mereka hadapi dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan.

Read More »
25 November | 0komentar

Wifi Masuk Desa, Dukung PJJ di Masa Pandemi

Sekitar tahun 2010 sambungan telepon rumah seiring dengan penggunaan HP, banyak yang berhenti berlangganan. Namun seiring dengan perkembangan jaman pula,pemanfaatan telpon rumah dapat  difungsikan sebagai wifi (Wireless Fidelity); koneksitas internet tanpa menggunakan kabel dan kuota data.
Dengan Teknologi wifi sekarang sangat dimudahkan, bahkan banyak perusahaan swasta pun mencoba mencari peluang bisnis ini, kecenderungan masyarakat sekarang adalah hidup tanpa kouta internet terada hambar, informasi tidak bisa terakses dengan cepat, terasa cepat saat ada koneksi internet, dan bila koneksi terlalu lambat, banyak kemungkinan pelanggan kartu atau fasilitas akses internet pindah ke saluran komunikasi yang serba cepat, murah fan jaringan stabil.
Untuk dapat menikmati wifi tentu harus tersedia jaringan telekomunikasi. Sayangnya belum semua desa di Indonesia dapat menikmati fasilitas Internet. Jangankan Internet, untuk akses telekomunikasi layanan telepon seluler pun kadang juga masih terbatas. Kendala terbesar adalah aspek geografi di Indonesia yang terdiri dari ribuan kepulauan, sehingga pemerataan pembangunan khususnya akses komunikasi/informasi mengalami kendala, terlebih untuk daerah-daerah 3T (Terdepan Terluar dan Tertinggal).
Dimasa pandemi ini semua sekolah menerapkan pembelajaran menggunakan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah dipastikan kebutuhan orang tua siswa akan pemanfaatan jaringan internet sangat besar. Kebutuhan kuota data dapat teratasi jika terdapat wifi murah bagi masyarakat.Melihat dibeberapa media akhir-akhir ini, beberapa anak di daerah Gunungkidul berjalan menaiki gunung/bukit demi mendapatkan sinyal. Sungguh pejuang Sinyal....
Peran pemerintah dalam kaitan ini adalah memberikan ijin bagi vendor, terutama telkom yang merupakan badan milik pemerintah untuk mengembangkan jaringan kedaerah-daerah/ pedesaan. Tentu dengan adanya wifi di pedesaan bukan saja bermanfaat bagi pendidikan diera pandemi ini. Bukan saja digunakan oleh siswa tentunya pembukaan wifi di pedesaan dapat dimanfaatkan untuk usaha-usaha produktif lainnya.
Bermanfaat untuk menambah wawasan pengguna/penduduk, internet juga berguna sebagai sarana atau media hiburan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti Internet sangat bermanfaat baik dalam menunjang kinerja sistem informasi desa. Dengan adanya jaringan internet, desa dapat mencari berbagai informasi di bidang pemerintahan, pertanian, peternakan dan lainnya dengan lebih cepat.

Berikut ini beberapa aplikasi Internet yang dapat diterapkan di desa, selain untuk mempermudah dan memperlancar program Pembelajaran Jarak Jauh dimasa pandemi, antara lain:
(dikutip dari:https://ubiqu.id/)

TRANSPARASI ANGGARAN DESA
Sesuai peraturan pemerintah, penggunaan anggaran desa harus transparan. Dengan aplikasi anggaran desa melalui internet, pemerintah desa dapat update penggunaan anggaran di web desa dan warga bisa memantau realisasi anggaran desa.
 SISTEM INFORMASI DESA
Dengan Sistem Informasi Desa Online menjadikan pemerintah desa dapat update data desa dengan mudah serta dapat diakses dengan cepat oleh PEMDA dan Pemerintah Pusat. Membuka peluang investasi.
MEDIA KOMUNIKASI DESA
Dengan menggunakan internet, pemerintah desa bisa dengan mudah menyebarkan informasi kepada seluruh warga desa, seperti berita penting, pengumuman warga, peringatan dini, regulasi baru, dan lainnya. Juga mempermudah komunikasi antar desa.
JUALAN ONLINE
Memiliki produk desa yang unik, bernilai jual tinggi, dan tidak ada ditempat lain? Cara yang paling efektif untuk memasarkan produk ke luar desa adalah dengan jualan online melalui internet. Jualan online itu mudah karena modalnya hanya foto produk, tidak perlu membuat toko atau galeri. Produk desa yang dijual dapat berupa hasil ternak, hasil kebun, kerajinan atau produk berciri khas lainnya, obyek wisata, dan lainnya. 
Dengan internet pasar produk desa yang biasanya terbatas secara geografi, bisa menembus batas hingga ke seluruh dunia. Internet juga dapat menjadikan birokrasi dan transparansi pemerintah desa menjadi lebih baik, dengan tersedianya sarana grup media sosial maupun forum warga berbasis internet. Banyak hal lain di desa yang mungkin berkembang, desa bisa menjadi sumber dan akses ekonomi yang sangat besar, kreativitas warga akan lebih terasah, pendidikan yang lebih baik yang pada akhirnya dapat menggali potensi desa lebih maksimal.



Read More »
18 July | 3komentar

Materi MPLS Tahun Ajaran 2024/2025

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai salah satu kegiatan wajib bagi sekolah untuk menjematani siswa-siswa baru. Tujuan utama MPLS adalah membantu siswa mengenal lingkungan sekolah, membiasakan diri dengan jadwal dan kegiatan sekolah, serta mengenal guru dan staf. Selain itu, MPLS juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, komunikasi, dan kepemimpinan.
MPLS sebagai periode penting bagi siswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. MPLS bertujuan memperkenalkan siswa pada budaya, norma, dan tata tertib sekolah, serta membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru.
Perencanaan yang matang adalah kunci untuk menyelenggarakan MPLS yang sukses. Sekolah perlu membentuk tim khusus yang bertanggung jawab atas pelaksanaan MPLS. Tim ini harus terdiri dari guru, staf, dan siswa lama/kelas atas yang terlatih untuk membimbing siswa baru khususnya untuk menemani masa transisi. Langkah pertama dalam perencanaan adalah menyusun jadwal kegiatan yang jelas dan terstruktur. Kegiatan harus dirancang sedemikian rupa sehingga memberikan informasi yang dibutuhkan siswa tanpa membuat mereka merasa terbebani atau stres. 


Berikut materi MPLS yang wajib disampaikan dan dipahami oleh semua pihak yang terlibat termasuk guru, siswa dan orang tua:
1. profil satuan pendidikan
 
Pengenalan Lingkungan Sekolah: Guru dan peserta didik harus mengenal fasilitas dan lingkungan sekolah, termasuk ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, kantin, dan area olahraga Hal ini bertujuan agar peserta didik baru dapat merasa nyaman dan familiar dengan lingkungan barunya. 
 a. Pengenalan Kurikulum: 
Materi ini meliputi pengenalan terhadap kurikulum yang diterapkan di sekolah, termasuk mata pelajaran, jadwal pelajaran, serta metode pembelajaran yang akan digunakan. Informasi ini penting agar peserta didik dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk kegiatan belajar mengajar. 
b. Pengenalan Tata Tertib: 
Guru wajib menjelaskan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah, seperti jam masuk dan pulang, peraturan tentang seragam, serta sanksi bagi yang melanggar. Tata tertib ini penting untuk menjaga disiplin dan keteraturan di lingkungan sekolah. 
c. Prestasi Sekolah: 
Informasi tentang prestasi yang telah diraih oleh sekolah, baik di bidang akademik maupun non-akademik, dapat memotivasi peserta didik baru untuk berprestasi dan bangga menjadi bagian dari sekolah tersebut.


2. Pembentukan karakter
 Profil Pelajar Pancasila: Materi ini menekankan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, kreatif, berintegritas, dan berwawasan kebangsaan. Pembentukan karakter ini diharapkan dapat membentuk pribadi yang tangguh dan berakhlak mulia. Penguatan Pendidikan Karakter: Guru harus memberikan materi yang berkaitan dengan penguatan pendidikan karakter, termasuk sikap jujur, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab. Pendidikan karakter ini sangat penting untuk membangun fondasi moral peserta didik.


3. Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Pendidikan Lingkungan Hidup: Materi ini mencakup edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah, pengelolaan sampah, dan penghijauan. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan nyaman. b.Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkotika (P4GN): Pengenalan tentang bahaya narkotika dan cara pencegahannya merupakan bagian penting dari MPLS. Peserta didik harus dibekali pengetahuan untuk menghindari penyalahgunaan narkotika dan menjaga diri dari pergaulan negatif. c. Pembinaan Dasar-dasar Bencana dan Pertolongan Pertama: Materi ini meliputi pengetahuan dasar tentang penanggulangan bencana dan keterampilan pertolongan pertama. Hal ini penting agar peserta didik siap menghadapi situasi darurat dengan tenang dan sigap.
4. Penguatan Kesadaran Bela Negara
a. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara: Guru harus mengajarkan pentingnya cinta tanah air, penghormatan terhadap lambang negara, dan semangat nasionalisme. Kesadaran berbangsa dan bernegara ini penting untuk membangun rasa kebanggaan dan tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia. b. Tiga Dosa Besar Pendidikan: Peserta didik harus diberi pemahaman tentang tiga dosa besar dalam pendidikan, yaitu perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi. Pengenalan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua.
5. Pengenalan Budaya Daerah
Guru dan peserta didik harus memahami dan menghargai kebudayaan lokal di daerahnya termasuk bahasa, kesenian, dan adat istiadat. Pengenalan budaya ini penting untuk menjaga kearifan lokal dan memperkaya wawasan peserta didik tentang keberagaman budaya. [ permen no 6 tahun 2023]
6. Literasi Digital dan Literasi Keuangan
Literasi Digital: Materi ini mencakup penggunaan teknologi informasi secara bijak dan bertanggung jawab, serta pemahaman tentang keamanan digital Literasi digital ini penting di era teknologi untuk menghindari dampak negatif dari penggunaan internet dan media sosial. Literasi Keuangan: Peserta didik harus dibekali dengan pengetahuan dasar tentang pengelolaan keuangan, seperti menabung, membuat anggaran, dan mengelola uang saku. Literasi keuangan ini penting untuk membentuk kebiasaan finansial yang baik sejak dini.

Read More »
17 July | 0komentar

Teknik Perancangan Gedung


A.Penetapan Lokasi
Penetapan lokasi gedung didahului oleh kegiatan verifikasi lokasi yaitu suatu kegiatan mengunjungi dan mempelajari kondisi dari potensi lokasi yang ada agar diperoleh lokasi gedung yang memenuhi persyaratan teknis edukatif dan konstruksi.
Penetapan lokasi gedung mempertimbangkan aspek makro dan mikro, antara lain :
Aspek Mikro yang perlu diperhatikan antara lain:
a.Aspek Teknis Lokasi
b.Aspek Utilitas lingkungan Lokasi
c.Aspek Penunjang Lokasi
d.Aspek Luasan dan Kesatuan Lokasi

B.Pekerjaan Perancangan Gedung
Penyusunan Pra Rancangan gedung meliputi:
1. Data perancangan, meliputi:
  1. Data tentang peraturan yang berlaku
  2. Peta situasi, yang menggambarkan letak lokasi dalam suatu lingkungan/wilayah dan pencapaian ke lokasi
  3. Data kondisi lingkungan sekitar lokasi
  4. .Data teknis lokasi, antara lain peta kontur
2. Konsep Dasar Perancangan
3. Pra Rancangan
a.Site plan
1)Site Plan merupakan rancangan penggunaan lokasi secara umum meliputi rancangan perletakan bangunan, infrastruktur, taman atau daerah hijau dan fasilitas pendidikan lainnya. Perletakan bangunan ditampilkan dalam bentuk blok plan yang dilengkapi dengan bird eye view / gambar prespektif
2)Potongan melebar dan memanjang yang menggambarkan potongan kontur (tinggi rendahnya permukaan lokasi) dan rancangan penggunaan lokasi dan perletakan bangunan diatasnya.
b.Pra rancangan
Meliputi Pra rancangan Denah, Tampak dan Potongan dan detail-detail prinsip
4.Perancangan Gambar Kerja / Working Drawing
Perancangan Gambar Kerja / Working Drawing meliputi perancangan Denah, Tampak dan Potongan dan detail-detail konstruksi untuk bangunan:
a. Bangunan Teori dan Laboratorium ilmu-ilmu dasar
b. Bangunan Praktik, laboratorium atau bengkel
c. Bangunan Administrasi
d. Bangunan Penunjang
e. Bangunan Asrama diperuntukan bagi lokasi / daerah tertentu


Khusus untuk Ruang-ruang praktik,laboratorium dan Bengkel
a. Dibuat dalam skala yang lebih besar (skala 1 : 100) serta dilengkapi dengan layout perabot dan peralatan
b. Dilengkapi dengan gambar utilitas bangunan meliputi instalasi listrik penerangan dan daya, gas, udara tekan, udara hisap dll
c. Dilengkapi dengan gambar rencana pengelolaan dan pengolahan limbah/hasil buangan

C.Penyusunan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
1. Persyaratan umum

2. Persyaratan Administrasi

3. Persyaratan Teknis dan Spesifikasi Bahan Material


D.Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
1. Analisa Rencana Anggaran Biaya pelaksanaan pekerjaan

3. Analisa Harga satuan untuk pekerjaan dominan

4. Daftar Harga satuan

5. Daftar Upah Pekerja


E.Penyusunan Rencana Kerja
1. Metode pelaksanaan pekerjaan
2. Kebutuhan jenis dan jumlah tenaga kerja

3. Prakiraan waktu pelaksanaan dan alokasi tenaga kerja sesuai dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan (Pembuatan Kurva-S)


F.Hukum dan Perundangan
1. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/Mts), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) berikut LAMPIRAN

4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2006 Tentang Pedoman Umum Mitigasi Bencana

5. Keppres 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa dan Perubahannnya

6. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor: 332/kpts/m/2002 Tanggal 21 Agustus 2002 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
7. Keputusan Menteri PU no. 441/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis Bangunan Gedung

Dikutip dari: Materi Pelatihan Perencanaan Gedung Depdiknas oleh Ir.Edy Setiawan


Read More »
17 May | 2komentar

Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

Sumber Daya Budaya

Pada koneksi antar materi di Modul 3.2, membuat koneksi materi dari modul-modul sebelumnya dan diminta kesimpulan. Pada koneksi antar materi di modul ini dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan sebgai berikut: 


Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan 'Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya' dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah!

Sumber daya sebagai suatu komunitas sekolah adalah suatu kesatuan yang tidak bisa berdiri sendiri. Dalam pengelolaan sumber daya oleh Pemimpin Pembelajaran dalam pemanfaatan pada aset-aset sekolah yang dimiliki dikelola dengan baik oleh seorang pemimpin pembelajaran. Pemanfaatan sumber daya yang ada di sekolah menjadi modal utama dalam membangun kekuatan atau potensi dalam ruang lingkup warga sekolah, lingkungan dan masyarakat, yang bermuara pada kebermanfaatan bagi peserta didik. Sebagai sebuah ekosistem di sekolah sumber daya yang ada saling berhubungan/ interaksi atau hubungan timbal balik atau saling ketergantungan antara komponen dalam ekosistem, yaitu dalam hal ini adalah komponen biotik yaitu unsur yang hidup dan komponen abiotik, yaitu unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup) ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya, seperti hubungan antara Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua dan Masyarakat sekitar sekolah. Sedangkan faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah: Keuangan dan Sarana dan prasarana termasuk media pembelajaran dan sarana teknologi informasi.
Aset Manusia dan Lingkungan

Melalui pemetaan kekuatan atau potensi sumber daya yang ada di sekolah, sebagai pemimpin pembelajaran harus dapat mengimpelementasikan kekuatan tersebut melalui konsep 7 modal utama yang terdapat di sekolah, yakni 1. Modal Manusia, 2. Modal Fisik, 3. Modal Sosial, 4. Modal Finansial, 5. Modal Politik, 6. Modal Lingkungan/ Alam, 7. Modal Agama dan budaya. Pengelolaan 7 oleh pemimpin pembelajaran menjadi modal utama sebagai kekuatan sekolah. Pemimpin pembelajaran juga harus dapat memanfaatkan pendekatan berfikir dalam pengelolaan asset, diantaranya Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking) akan melihat dengan cara pandang negatif. memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja, dan pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah memusatkan pikiran pada kekuatan positif, pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.


Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.

Pengelolaan sumber daya yang tepat dan dapat mendorong pada proses pembelajaran dikelas menjadi lebih berkualitas merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya yang ada di sekolah. Contoh : guru sebagai salah satu modal tentu akan berkorelasi langsung pada peningkatan PBM yang berkualitas jika sekolah mempunyai jadwal bagi guru-guru untuk mengembangkan kompetensinya melalui diklat. Dengan terupgradenya pengetahuan guru menyesuaikan dengan perkembangan kekinian pada materi sesuai dengan bidangnya tentu akan tertranfer knowledge tersebut pada siswa. Pengelolaan modal lingkungan dipadu dengan modal fisik akan berkorelasi dengan peningkatan proses KBM. Lingkungan sekolah yang kondusif dari segi sosial maupun politik akan menciptakan proses belajar yang menyenangkan bagi peserta didik. Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) yang dapat menitikberatkan pada kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, yang dijadikan sebagai kekuatan untuk maju dan berkembang. Sehingga sekolah dalam memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mendorong pada proses pembelajaran dikelas menjadi lebih berkualitas, maka sekolah dapat menerapkan model pengembangan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA), yaitu 7 modol/aset utama ini merupakan salah satu alat yang dapat membantu menemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah dan ketujuh aset ini dapat saling beririsan satu sama lain, dan contoh 7 Modal Utama, antara lain : Modal Manusia Modal manusia tersebut terdiri dari kepala sekolah, pengawas, guru, orag tua, dan murid serta ketenaga kependidikan seperti tata usaha, penjaga sekolah. Dengan mengelolaan modal ini melalui pengembangan kompetensi sebagai contoh pada dalam satu sekolah terdapat guru selalu yang selalui mengupgrade pengetahuan melalui diklat atau media yang lainnya. Terdapat tranfer pengetahuan kekinian terhadap siswa. Menggali potensi dalam bidang akademik untuk mengikuti perlombaan. Modal Sosial Pemanfaatan modal sosial dalam hal ini dapat melalui kerjasama dengan MGMP tingkat sekolah maupun MGMP antar sekolah untuk meningkatkan kompetensi sekolah. Kerjasama dengan Puskesmas untuk meningkatkan mutu kesehatan di sekolah
Modal Fisik Modal fisik yang terdapat disekolah adalah bangunan dan sarana prasarana yang dapat dimanfaatkkan sesuai dengan bentuk dan pemanfaatanya, misalnya laboratorium komputer dapat dimanfaatkan untuk belajar mengenai TIK dll. Modal Lingkungan/Alam Lingkungan / alam yang ada disekitar sekolah merupakan modal yang sangat berharga untuk menciptakan pembelajaran yang menyenagkan, seperti memanfaatkan lingkungan menjadi area apotik hidup dan dapat dimanfaatkan untuk belajar tentang obat dan pemanfaatanya. Modal Financial Modal finansial menjadi sangat perlu dipertimbangkan, karena untuk mewujdukan pembelajaran yang berkualitas perlunya adanya perencanaan yang matang, seperti pembuatan rencana kerja yang diimbangi dengan rencana anggaran biayanya yang mendukung untuk keberlangsungan proses pembelajaran manjadi lebih berkulitas. Modal Politik Dalam modal politik ini merupakan kerjasama dengan pihak luar, seperti dukungan dari Kodim Purbalingga terhadap program kedisiplinan dengan mendukung program kegiatan Pendidikan berkarakter. Kerjasama dengan Polsek berkaitan dengan budaya lalulintas. Bekerjasama MOU dengan Indusri pasangan. Modal Agama dan Budaya Modal Agama dan Budaya untuk membantu proses pembelajaran menjadi lebih berkualitas yakni, dengan adanya warga sekolah dan lingkungan religius, adanya tokoh agama baik dari lingkungan sekolah maupun lingkungan sekitar, dan terlibat aktif dalam komunitas keagamaan dan budaya daerah setempat. Misalnya menyelenggarakan program sekolah yang menunjang peningkatan budaya positif berupa budaya industri dan pendidikan karakter, dan menyelenggearakan kegiatan keagamaan dengan melibatkan tokoh agama disekitarnya.

Aset Budaya Displin

Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.






Keterkaitan modul 3.2 dengan modul 1.1 yaitu Nilai Filosofi Ki Hadjar Dewantara 
Ki Hajar Dewantara melalui filosiofinya yang mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan,bahwa pendidikan merupakan kegiatan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Pemanfaatan asset kekuatan guru dan siswa sehingga guru sebagai pemimpin pembelajaran harus dapat melakukan proses pembelajaran yang menyenangkan, dan berpihak pada murid, karena murid bukanlah kertas kosong, namun setiap murid memilki potensi yang berbeda-beda, dan tugas kita sebagai guru hanya menuntun dan menebalkan potensi yang sudah mereka miliki. 



Nilai dan Peran Guru Penggerak 
Guru sebagai pendidik merupakan bagian dari 7 modal utama, yaitu sebagai modal manusia, dalam hal ini guru sebegai pemimpin pembelajaran nilai dan peran yang sagat penting dalam proses belajar dikelasnya, sehingga ilai-nilai mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan berpihak pada murid harus dijadikan landasan dalam terciptanya pebelajar yang sesuai dengan profil pelajar pancasila. Dan guru juga harus dapat berperan dalam membangun sinergi dilingkungan sekolah sebagai pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, serta mewujudkan kepemimpinan murid, dengan nilai dan peran guru secara aktif, maka akan menciptakan generasi unggu dengan memanfaatan modal utama untuk menggali potensi murid-muridnya.
 
Visi Guru Penggerak 
Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus memilki Visi guru penggerak yang berbasis IA (Inkuiri Apresiatif) melalui alur BAGJA. Pada konsep terebut dapat juga digunakan sebagai pengelolaan sumber daya yang ada disekolah. Bahwa Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi, landasan berpikir, yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya, baik dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan.
Budaya Positif
Sebagai salah satu asset bentuk kekuatan, Budaya positif dilingkungan sekolah merupakan budaya yang mendukung segala bentuk perkembangan murid, 

Murid dan guru peraih juara sebagai Aset
dengan tujuan memanusikan manusia dengan menerapkan disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, sehingga akan menghasilkan out put dari peserta didik yang memilki karakter kuat dimasa depan. Misalnya dengan melakukan resitusi akan menciptakan peserta didik yang memilki karakter positif dimasa depannya.


 Pembelajaran Diferensiasi


Pembelajaran berdiferensiasi adalah sebuah cara dalam pembelajaran yang sangat berpihak kepada siswa, sesuai dengan kesiapan belajar siswa dan profil belajar siswa yang berbeda sesuai dengan keunikannya. Sebelum melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru harus sudah melaksakanan pemetaan terhadap minat belajar siswa. Dalam proses pembelajaran berdifrensiasi akan sangat dapat terwujud, jika pemanfaatan sumber daya yang ada disekolah seperti guru dan murid, seta modal lingkungan, modal fisik dan yang lainnya dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Pembelajaran Sosial dan Emosional
Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan strategi atau cara seorang pemimpin pembelajaran dalam melakukan kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah, yang menenkankan pada keterampilan dan pengelolaan mengenai aspek-aspek sosial emosional. Teknik mindfulness juga dapat dijadikan strategi bagaimana acara mengelola sumber daya manusia, yakni murid sehingga melalui tahap tersebut potensi kecerdasan sosial emosional anak bisa berkembang optimal.

Coaching
Coaching merupakan sebuah strategi atau acara seorang pemimpin pembelajaran untuk melakukan pengembangan kekuatan diri pada diri anak dengan menuntun, mendampingi anak, untuk menggali potensi anak dan memaksimalkannya. Pada proses Coachee memberikan kesempatan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir pada diri anak, yang didalamnya terdapat Caach sebagai pengembangan kekuatan dan potensi pada coachee sebagai lawan bicara.


Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab

Sebagai pemimpin pembelajaran dalam prosesnya akan selalu berhadapan dengan dua situasi yakni, dilema etika dan bujukan moral yang dituntut pada pengembilan keptusan. Sebagai pemimpin pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang baik, diharapkan pada pengambilan keputusan tersebut dengan mengedepankan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi seluruh elemen yang terlibat didalamnya,yaitu dengan langkah-langkah pengambilan keputusan berdasarakn 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Prinsip tersebut sanat penting karena hal ini sangat terkait dengan pengelolaan sumber daya yang ada disekolah.

Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.
Sebelum belajar modul 3.2 mengenai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya. Dalam pngambilan keputusan lebih banyak berpikir pada kekurangan, hal menyebabkan tidak jarang perasaan yang timbul adalah, perasaan yang pesimis, negatif sehingga berakhir dengan kegagalan. Dengan mempelajari modul 3.2 ini, sudut pandang mengenai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya ini menjadi berubah, karena ternyata seorang pemimpin harusnya selalu mengedanpan pola pikir berbasis kekuatan/aseet, sehingga hal tesebut membuat kita akan berpikir postif dengan memanfaatkan sumber daya atau aset yang ada disekelilingya.

Read More »
18 February | 0komentar

Ketika Fondasi Kejuruan Bertemu Filosofi Budaya Lokal

Kolaborasi antar-mata pelajaran merupakan strategi pembelajaran inovatif yang dapat memberikan konteks yang lebih kaya dan pemahaman yang lebih mendalam bagi siswa. Dalam proyek perencanaan Rumah Tipe 36, menyandingkan Mata Pelajaran Kejuruan (seperti Desain Interior, Teknik Gambar Bangunan, atau Konstruksi) dengan Mata Pelajaran Sejarah bukan sekadar integrasi, melainkan upaya untuk menggali akar dan relevansi desain arsitektur dalam linimasa budaya dan sosial.
Proyek perencanaan Rumah Tipe 36 menjadi praktik inti bagi siswa Kejuruan. Dalam tahapan ini, fokus utama mencakup:
  • Gambar Teknis: Menyusun denah, tampak, potongan, dan detail konstruksi yang akurat.
  • Perhitungan Anggaran: Menghitung kebutuhan material, biaya tenaga kerja, dan total Anggaran Biaya Pelaksanaan (RAB).
  • Aplikasi Prinsip Desain: Menerapkan kaidah ergonomi, sirkulasi udara, pencahayaan, dan efisiensi ruang untuk hunian minimalis (Tipe 36).
Namun, aspek teknis ini sering kali kurang menyentuh dimensi humanis dan historis dari sebuah hunian. Di sinilah peran Sejarah menjadi krusial.

Mapel Sejarah: Konteks Budaya dan Arsitektur
Sejarah menawarkan kerangka waktu dan pemahaman mengenai perkembangan gaya hidup, teknologi, dan arsitektur yang memengaruhi bentuk sebuah rumah. Kolaborasi ini dapat terwujud melalui eksplorasi:
  • Kebijakan Perumahan: Kapan dan mengapa pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan perumahan sederhana atau bersubsidi. 
  • Pola Tata Ruang Masa Lalu: Membandingkan pola tata ruang rumah modern Tipe 36 dengan rumah tradisional atau rumah yang dibangun pada era pasca-kemerdekaan. 
  • Pengaruh Global: Bagaimana tren arsitektur internasional (misalnya, Modernisme, gerakan Bauhaus, atau arsitektur pasca-perang) memengaruhi desain rumah di Indonesia.
Jejak Arsitektur Lokal dan Budaya
Sejarah membantu siswa untuk memasukkan identitas lokal ke dalam desain.
  • Material: Menyelidiki penggunaan material bangunan tradisional di daerah setempat dan potensi adaptasinya dalam desain modern (misalnya, penggunaan bambu, kayu, atau batu alam). 
  • Filosofi Ruang: Mempelajari bagaimana konsep "ruang tamu", "teras", atau "dapur" memiliki makna budaya dan bagaimana hal tersebut dapat diakomodasi secara fungsional dalam keterbatasan ruang Tipe 36.
Tentu, berikut adalah rancangan artikel mengenai kolaborasi mata pelajaran (mapel) kejuruan pada proyek perencanaan Rumah tipe 36 dengan mata pelajaran Sejarah. 

🏠 Menggali Akar Desain: 
Kolaborasi Mapel Kejuruan dan Sejarah dalam Proyek Rumah Tipe 36 Kolaborasi antar-mata pelajaran merupakan strategi pembelajaran inovatif yang dapat memberikan konteks yang lebih kaya dan pemahaman yang lebih mendalam bagi siswa. Dalam proyek perencanaan Rumah Tipe 36, menyandingkan Mata Pelajaran Kejuruan (seperti Desain Interior, Teknik Gambar Bangunan, atau Konstruksi) dengan Mata Pelajaran Sejarah bukan sekadar integrasi, melainkan upaya untuk menggali akar dan relevansi desain arsitektur dalam linimasa budaya dan sosial. 

📐 Mapel Kejuruan: Fondasi Teknis Proyek Proyek perencanaan Rumah Tipe 36 menjadi praktik inti bagi siswa Kejuruan. Dalam tahapan ini, fokus utama mencakup: 
Gambar Teknis: Menyusun denah, tampak, potongan, dan detail konstruksi yang akurat. Perhitungan Anggaran: Menghitung kebutuhan material, biaya tenaga kerja, dan total Anggaran Biaya Pelaksanaan (RAB). 
Aplikasi Prinsip Desain: Menerapkan kaidah ergonomi, sirkulasi udara, pencahayaan, dan efisiensi ruang untuk hunian minimalis (Tipe 36). Namun, aspek teknis ini sering kali kurang menyentuh dimensi humanis dan historis dari sebuah hunian. Di sinilah peran Sejarah menjadi krusial. 
🏛️ Mapel Sejarah: Konteks Budaya dan Arsitektur 
Sejarah menawarkan kerangka waktu dan pemahaman mengenai perkembangan gaya hidup, teknologi, dan arsitektur yang memengaruhi bentuk sebuah rumah. Kolaborasi ini dapat terwujud melalui eksplorasi: 

1. Sejarah Konsep Rumah Sederhana dan Subsidi 
Siswa dapat menelusuri bagaimana konsep rumah tipe kecil, seperti Tipe 36, muncul sebagai solusi perumahan. Ini melibatkan pembahasan tentang: Kebijakan Perumahan: Kapan dan mengapa pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan perumahan sederhana atau bersubsidi. Pola Tata Ruang Masa Lalu: Membandingkan pola tata ruang rumah modern Tipe 36 dengan rumah tradisional atau rumah yang dibangun pada era pasca-kemerdekaan. Pengaruh Global: Bagaimana tren arsitektur internasional (misalnya, Modernisme, gerakan Bauhaus, atau arsitektur pasca-perang) memengaruhi desain rumah di Indonesia. 

2. Jejak Arsitektur Lokal dan Budaya Sejarah membantu siswa untuk memasukkan identitas lokal ke dalam desain. Material: Menyelidiki penggunaan material bangunan tradisional di daerah setempat dan potensi adaptasinya dalam desain modern (misalnya, penggunaan bambu, kayu, atau batu alam). Filosofi Ruang: Mempelajari bagaimana konsep "ruang tamu", "teras", atau "dapur" memiliki makna budaya dan bagaimana hal tersebut dapat diakomodasi secara fungsional dalam keterbatasan ruang Tipe 36. 

 🎯 Manfaat Kolaborasi yang Sinergis 
Penggabungan dua disiplin ilmu ini menciptakan sinergi yang meningkatkan kompetensi siswa secara komprehensif:

Mapel

Kontribusi dalam Proyek

Hasil pada Siswa

Kejuruan

Menghasilkan desain teknis yang layak dan efisien.

Kompetensi Teknis (menggambar, menghitung) dan Pemecahan Masalah (efisiensi ruang).

Sejarah

Menyediakan konteks budaya dan referensi arsitektur masa lalu.

Pemikiran Kritis dan Sensitivitas Budaya dalam mendesain, menciptakan desain yang bernyawa.



Melalui kolaborasi ini, proyek Rumah Tipe 36 tidak hanya menjadi latihan menggambar dan menghitung, tetapi menjadi telaah kritis terhadap bagaimana sebuah hunian dapat berfungsi secara teknis sekaligus merefleksikan kebutuhan, sejarah, dan budaya masyarakat penghuninya. Desain arsitektur pada akhirnya adalah produk sejarah dan kebudayaan.

Implementasi Praktis di Kelas
Beberapa langkah praktis untuk melaksanakan kolaborasi ini:
  • Fase Riset: Siswa Sejarah memberikan data mengenai periode pembangunan perumahan massal di Indonesia (misalnya, era 1980-an) dan studi kasus rumah sederhana yang sukses atau gagal secara sosial.
  • Fase Konseptual: Siswa Kejuruan harus mempresentasikan "konsep filosofis" di balik desain Tipe 36 mereka, menjelaskan bagaimana elemen desain tersebut terinspirasi atau merespons sejarah dan budaya lokal.
  • Evaluasi Bersama: Guru Kejuruan menilai aspek teknis (RAB dan gambar), sementara Guru Sejarah menilai aspek relevansi historis dan konteks budaya dari konsep desain yang diusulkan.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa pendidikan kejuruan yang efektif tidak hanya berfokus pada kemampuan membuat, tetapi juga pada kemampuan memahami mengapa kita membuat sesuatu dengan cara tertentu.

Read More »
12 November | 0komentar

Profil






Profil
Nama : Sarastiana,SPd,MBA
Unit Kerja : SMK Negeri 1 Bukateja
Program Studi : Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan

Tahun 2023 menyelesaikan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 6 Prov. Jawa Tengah dengan Kategori Lulus Amat Baik. 
Mendapatkan Beasiswa Tugas Belajar S2 dari Kementrian Pendidikan Kebudayaan RI,Pada Program Studi, Management for Supervisor Of Education, Magister Managemen Universitas Gadjah Mada (UGM) Selain berkutat dalam perencanaan gedung dan bangunan. 
Salah satu aktivitas yang mengasyikan lagi adalah ngeblog. Belajar blog dari tidak tahu sama sekali (nol kecil), kemudian saat itu belajar ngeblog karena ingin untuk ikut lomba blog guru tingkat Jawa Tengah (tahun 2011).Belajar blog pada seorang Master Blog (Pak Hermawan). Sehingga akhirnya dapat menjadi juara III. Tahun 2015 menjadi juara dua (II) tingkat Propinsi Jawa Tengah Lomba Media Berbasis Website. Alhamdulillah. Sekolah dari TK sampai Kuliah semua di sekolah negeri (sampai S2 juga negeri lho)..He he.S2 di UGM gratis lagi.(Bukan sombong lho?).


 
Finalis Guru Berprestasi Tk Prov.Jateng 2017

Juara 2 Media Ajar Website Tk Propinsi Jateng 2015

1

Pengalaman Kerja

Tahun

a.

Kordinator SPMI (System Penjaminan Mutu Internal

2025 s.d. Sekarang

 

b.

Wakil Kepala Sekolah Bid. Kurikulum SMKN 1 Bukateja

2021- 2025

 

c.

Guru Penggerak Angkatan 6

2023-2024

 

d.

Pengajar Praktik Angkatan 10

2024

e.

Ketua Program Keahlian SMKN 1 Bukateja

2020-2021

f.

Manajemen Mutu

2008- 2012

g.

Admin Website www.smkpancabhakti-bna.sch.id

2014- 2020

h.

Perencana Unit Sekolah Baru SMKN 1 Mandiraja

2017

I

Perencana Unit Sekolah Baru SMKN 1 Pejawaran

2016

J

Perencana Unit Sekolah Baru SMKN 1 Punggelan

2014

k

Perencana Unit Sekolah Baru SMKN 1 Wanayasa

2015

l

Kabeng

2014-2020

 

3

Karya Tulis

JENIS

a.

Asyiknya belajar Elemen Struktur Dengan Edmodo, Koran JATENG POST, TANGGAL 02 Mei 2020

Koran

b.

Media Visual Maket Dukung Menghitung Volume RAB, Koran JATENG POST, TANGGAL 13 SEPTEMBER 2019

Koran

c.

Kurikulum Sensitivitas Budaya untuk Pendidikan Bermakna, KORAN WAWASAN, TANGGAL 4 NOPEMBER 2019

Koran

d.

MEDIA DIGITAL “VBO” TINGKATKAN PRESTASI BELAJAR   MEKTEK, JATENG POST, TANGGAL 6 OKTOBER 2019,

Koran

e.

“ EDMODO BANGKITKAN PEMAHAMAN MENGHITUNG PERENCANAAN BETON”, JATENG POST, RABU, 18 DESEMBER 2019

Koran

f.

Lomba Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2010 Kab. Banjarnegara

  “Diseminasi Energi Terbarukan Ke dalam Kurikulum SMK”. Proseding SNETI. LP2M UNSOED denganMETI

Makalah

g.

Pembelajaran Menggunakan media Kelas Maya Edmodo pada Siswa Kelas XI TGB SMK Panca Bhakti Banjarnegara Jurnal Profesionalitas Terbitan PGRI Tahun 2015

Jurnal Ilmiah

h.

Mudah Menghitung Volume RAB dengan Media Visual Maket (ISBN:978-623-7703-19-8)

Buku

i.

Jurnal Profesionalita, PTK Judul Pembelajaran menggunakan pendekatan Visual Maket untuk Meningkatkan Perhitungan Volume Rencana Anggaran Biaya (RAB) pada Siswa Kelas XI TGB SMK Panca Bhakti Banjarnegara

Jurnal Ilmiah

j.

Memublikasikan Jaminan Mutu Sekolah, Opini Koran Satelit Post, Selasa, 24 April 2012

Karya Ilmiah Populer (Koran)

k.

Jurnal Profesionalita, PTK Judul Kelas Maya Edmodo untuk peningkatan motivasi Belajar Juni 2014

Jurnal Ilmiah

l.

Guru Menulis,!!!….Surprise (dimuat di Majalah Swara terbitan P4TK BMTI Bandung Edisi Juli 2010)

Karya Ilmiah Populer (Majalah)

m.

Pemakalah (Poster) Pada Seminar Nasional Energi Terbarukan I, kerjasama LP2M UNSOED dengan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Pwk 18 Desember 2010

Proseding

n.

Pendidikan Sistem Ganda : sebuah evaluasi setelah berlangsung 15 tahun (1994 – 2009)(Dimuat di Majalah Infokompetensi terbitan Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi Jateng Edisi Januari 2009)

Karya Ilmiah Populer (Majalah)

o.

Membudayakan Menulis di Kalangan Guru (lomba diselenggarakan Oleh Agupena Jateng Tahun 2008)

  

2

Sertifikasi Keahlian

a

Sertifikasi Profesi Guru (2015)

b.

Sertifikasi Asesmen sebagai Asesor Kompetensi (2016)

c.

Sertifikasi Menggambar Arsitektur (SKA,2018)

d.

Sertifikasi Estimasi Biaya Konstruksi (SKA,2018)

e.

Sertifikasi Kompeten for 3D AutoCAD, 2014

  

4.

Buku

ISBN

a.

Mudah Menghitung Volume RAB dengan Media Visual Maket

978-623-7703-19-8

b.

Mengenal Rangka Atap Baja Ringan

978-602-0793-54-2

c.

Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog

978-602-0793-54-2

 

 

1001 Desain Rumah Minimalis

978-623-8729-87-6

d.

Matematika Untuk SMK (lomba yang diselenggarakan oleh PUSBUK/ BSE Dikmenjur tahun 2010 bersama Behi Awal,SPd)

  

5

Kejuaraan

Tingkat

a.

Juara 2 Lomba Media Ajar berbasis Website 2015

Propinsi

b.

Guru Teladan 2 SMK tingkat Kab. Banjarnegara tahun 2015

Kabupaten

c.

Juara 3 Lomba Blog guru tk Jawa Tengah tahun 2011

Propinsi

d.

Juara Harapan 2, Lomba Karya Tulis Ilmiah Inovasi Pembelajaran Tk Jawa Tengah tahun 2011

Propinsi

e.

Guru Teladan 2 SMK tingkat Kab. Banjarnegara tahun 2011

Kabupaten

f.

Guru Berprestasi II tk SMK Kab. Banjarnegara Tahun 2012

Kabupaten

 

6

organisasi

a.

Anggota PGRI

b.

Anggota Kepramukaan

c.

Anggota Himpunan Pendidik Muda Indonesia (HPMI) Banjarnegara

d.

Anggota Ikatan Sarjana Pendidik Indonesia (ISPI) Pusat

e.

Anggota METI (Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia) dalam proses regristrasi

 

 



Read More »
16 February | 10komentar