Read More »
Refleksi Guru SMK: Menghidupkan Link and Match Melalui PBL dan Teaching Factory
Read More »
Memaksimalkan Pengajaran dengan ChatGPT
![]() |
| Peserta Diklat kelas B |
- Mengidentifikasi fitur-fitur aplikasi Chat Bot
- Menggunakan aplikasi Chat Bot
![]() |
| Kelompok A |
- Akses Situs Resmi: Kunjungi tautan resmi di https://chat.openai.com. Bapak/Ibu bisa masuk menggunakan akun Google (Gmail) agar lebih praktis.
- Berikan Perintah (Prompt): Di kolom bagian bawah, ketikkan apa yang Bapak/Ibu butuhkan. Gunakan bahasa Indonesia yang jelas.
- Evaluasi Jawaban: ChatGPT akan memberikan respon secara instan. Baca kembali hasilnya, lalu sesuaikan atau edit sesuai dengan kurikulum dan kondisi siswa di sekolah.
- Tanya Lebih Lanjut: Jika jawaban kurang lengkap, Bapak/Ibu bisa membalasnya seperti sedang mengobrol, misalnya: "Bisa tolong buatkan versinya yang lebih sederhana untuk anak kelas 4 SD?"
- Bapak/Ibu bisa menggunakan ChatGPT untuk berbagai kebutuhan praktis, seperti:
- Membuat Soal Ujian: "Buatkan 10 soal pilihan ganda tentang siklus air untuk kelas 5 SD beserta kunci jawabannya."
- Menyusun Ide Proyek: "Berikan ide proyek berkelompok yang seru untuk materi sejarah perjuangan kemerdekaan."
- Menyusun RPP: "Bantu saya membuat draf RPP satu lembar untuk materi Pancasila."
- Verifikasi Data: ChatGPT terkadang bisa memberikan informasi yang kurang akurat. Selalu cek kembali fakta sejarah atau rumus yang diberikan.
- Sentuhan Manusia: ChatGPT memberikan data, tapi Bapak/Ibu yang memberikan empati dan pemahaman karakter kepada siswa.
Read More »
Kerangka FIRST dan Peran Baru Guru dalam Kegiatan Kokurikuler
Kokurikuler dalam pembelajaran mendalam adalah kegiatan penguatan dan pendalaman materi yang dilakukan di luar jam pelajaran intrakurikuler untuk mengembangkan karakter dan kompetensi siswa secara utuh. Kegiatan ini dirancang untuk memperkaya pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan seperti studi lapangan, proyek riset, atau kegiatan seni budaya, dan memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret serta bermakna di kehidupan nyata.
| Tantangan | Deskripsi | Solusi |
|---|---|---|
| 1. Keterbatasan sumber daya dan fasilitas |
Keterbatasan waktu, fasilitas, dan ruang yang memadai untuk melaksanakan kegiatan kokurikuler secara optimal. |
Peningkatan pelatihan berkelanjutan untuk guru terkait integrasi deep learning dalam kegiatan kokurikuler. |
| 2. Kurangnya pelatihan guru dalam deep learning |
Guru kurang siap dalam mengintegrasikan deep learning dalam setiap kegiatan kokurikuler |
Memberikan pelatihan berkelanjutan yang lebih terstruktur tentang pembudayaan deep learning dalam kegiatan kokurikuler. |
| 3. Kesulitan siswa dalam mengaitkan kegiatan kokurikuler dengan pembelajaran mendalam |
Siswa sering kali lebih fokus pada pencapaian tujuan sesaat tanpa mengaitkan dengan pembelajaran mendalam |
Pengelolaan kegiatan kokurikuler yang lebih terstruktur dan berbasis refleksi, serta penguatan hubungan teori dengan pengalaman nyata. |
| 4. Resistensi terhadap perubahan metode pembelajaran |
Guru dan orang tua masih merasa ragu terhadap efektivitas metode deep learning dalam pendidikan dasar. |
Meningkatkan kesadaran dan pemahaman orang tua serta guru tentang manfaat deep learning melalui komunikasi dan sosialisasi yang lebih intens. |
Read More »
Dari Denah Lokal ke Komunikasi Global
![]() |
| Desain Teknis dan Komunikasi berbahasa Inggris |
Kolaborasi Pembelajaran Berbasis Proyek: Bahasa Inggris dan Perencanaan Rumah Tipe 36 Kolaborasi antar mata pelajaran merupakan strategi efektif untuk meningkatkan relevansi dan kontekstualisasi pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Salah satu bentuk kolaborasi yang sangat aplikatif adalah mengintegrasikan mata pelajaran Bahasa Inggris dengan mata pelajaran kejuruan, seperti Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), khususnya dalam proyek Perencanaan Rumah Tipe 36.
- Meningkatkan Kompetensi Bahasa Inggris Profesional: Siswa tidak hanya belajar tata bahasa, tetapi juga menguasai kosakata teknis (technical terms), frasa (phrases), dan struktur kalimat yang relevan dengan bidang konstruksi dan desain (misalnya, specifications, layout, blueprint).
- Mengembangkan Keterampilan Komunikasi: Melatih siswa untuk mempresentasikan dan menjelaskan hasil desain mereka secara profesional menggunakan Bahasa Inggris, sebuah keterampilan penting untuk kolaborasi internasional atau bekerja di perusahaan multinasional.
- Penguatan Pemahaman Kejuruan: Siswa akan lebih mendalami konsep perencanaan rumah karena harus mampu mendeskripsikannya kepada audiens berbahasa Inggris.
- Pembelajaran Otentik: Siswa melihat bahwa Bahasa Inggris bukan hanya teori di kelas, tetapi alat komunikasi esensial dalam karier mereka.
- Keterampilan Abad ke-21: Proyek ini melatih kolaborasi, komunikasi (lisan dan tulisan), dan pemecahan masalah (bagaimana menyampaikan ide teknis secara jelas).
- Portofolio Profesional: Siswa memiliki portofolio yang tidak hanya berisi gambar teknis, tetapi juga kemampuan mempresentasikan proyek secara internasional.
Read More »
Peran Sentral Matematika dalam Menghitung Skala, Volume, dan Anggaran Proyek Rumah Type 36
- Seni Budaya/Desain: Matematika memastikan estetika desain (yang dibuat di Seni Budaya) dapat diimplementasikan sesuai ukuran dan skala yang akurat.
- Penjaskes: Data luas minimal ruang aktivitas dan sirkulasi udara (yang ditentukan oleh Penjaskes) diolah oleh Matematika menjadi ukuran nyata dalam denah.
- Fisika: Prinsip perhitungan beban struktural atau kekuatan material (yang dipelajari di Fisika) dihitung menggunakan rumus-rumus dan aljabar Matematika.
Read More »
Pembelajaran Kolaboratif Mapel Penjaskes dalam Project Perencanaan Rumah Type 36.
Pembelajaran kolaboratif dalam proyek perencanaan Rumah Type 36 memungkinkan Penjaskes keluar dari persepsi sempit sebagai mata pelajaran non-akademis. Ia bertransformasi menjadi disiplin ilmu yang esensial dalam menentukan kualitas hidup penghuni rumah. Dengan memadukan prinsip-prinsip kesehatan fisik, mental, dan lingkungan, Penjaskes membantu siswa menciptakan produk yang berkelanjutan, fungsional, dan humanis, memenuhi tantangan perumahan di era modern.
- Kerja Sama Tim (Kolaborasi): Aktivitas proyek menuntut komunikasi dan pembagian tugas yang efektif, yang merupakan inti dari Penjaskes (misalnya dalam olahraga beregu).
- Berpikir Kritis: Siswa harus menganalisis data (misalnya standar minimum kesehatan ruang, kebutuhan luas perorangan) untuk membuat keputusan desain.
- Kreativitas dan Inovasi: Menciptakan solusi desain yang sehat dan fungsional di lahan terbatas memerlukan inovasi yang tinggi, mengintegrasikan keterbatasan fisik dengan kebutuhan kesehatan.
- Tanggung Jawab: Siswa belajar bertanggung jawab atas kontribusi mereka terhadap kualitas akhir proyek, memastikan produk perencanaan tidak hanya indah, tetapi juga layak huni dan menyehatkan.
Read More »
Sinergi Lintas Mapel di Proyek Rumah Minimalis Tipe 36 DPIB SMKN 1 Bukateja
Integrasi ruang guru di SMKN 1 Bukateja telah membuahkan hasil nyata dalam proyek pembelajaran. Ambil contoh Program Konsentrasi Keahlian Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) yang sedang mengerjakan proyek Perencanaan Rumah Minimalis Tipe 36.
|
Mata
Pelajaran |
Peran
Kolaborasi dalam Proyek |
Output
Siswa |
|
Bahasa Indonesia |
Merancang
rubrik penilaian untuk penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Proyek (LPJ) dan
Rencana Anggaran Biaya (RAB). Fokus pada struktur bahasa yang baku, kohesif,
dan efektif. |
Laporan
Proyek yang profesional dan tata bahasa yang tepat dalam dokumen teknis. |
|
Bahasa Inggris |
Melatih
siswa untuk melakukan presentasi desain (mock-up client meeting) menggunakan
Bahasa Inggris yang efektif. Fokus pada istilah-istilah arsitektur dan
negosiasi. |
Presentasi
desain yang meyakinkan di hadapan 'klien' (guru/industri) menggunakan Bahasa
Inggris. |
|
Mata
Pelajaran |
Peran
Kolaborasi dalam Proyek |
Output
Siswa |
|
Sejarah |
Meminta
siswa melakukan studi singkat mengenai sejarah arsitektur perumahan di
Indonesia (misalnya, pengaruh kolonial, post-modern, atau desain tropis
minimalis). |
Bagian
narasi desain yang mencantumkan justifikasi historis dan budaya dari
pemilihan konsep desain. |
|
Seni
Budaya |
Menilai
aspek estetika, komposisi warna, dan penataan ruang (tata letak) pada gambar
kerja dan rendering 3D, memastikan keselarasan visual yang artistik. |
Desain
yang tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika dan
keselarasan visual yang tinggi. |
Mata Pelajaran | Peran Kolaborasi dalam Proyek | Output Siswa |
PJOK (Olahraga & Kesehatan) | Mengintervensi perencanaan dalam aspek Ergonomi dan Kesehatan Bangunan. Guru PJOK menilai apakah tata letak ruangan, pencahayaan alami, dan sirkulasi udara sudah mendukung kesehatan fisik dan mental penghuni. | Perencanaan yang dilengkapi narasi tentang Aspek Kenyamanan dan Kesehatan, termasuk perhitungan minimal ruang gerak di dapur/kamar mandi (Ergonomi) dan rasio ventilasi (Kesehatan Bangunan). |
- Produk Relevan: Proyek Rumah Tipe 36 yang dihasilkan siswa menjadi lebih relevan dan bernilai jual, karena tidak hanya unggul secara teknis (gambar kerja), tetapi juga kuat secara presentasi, dokumentasi, dan memperhatikan aspek kesehatan/ergonomi.
- Guru sebagai Tim: Guru tidak lagi merasa bekerja sendiri, melainkan sebagai sebuah tim konsentrasi keahlian yang berkolaborasi untuk membesarkan jurusan.
Read More »
Pembelajaran Beraksentuasi Industri
Di tengah tuntutan pendidikan vokasi yang semakin ketat untuk menghasilkan lulusan siap kerja, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ditantang untuk merevolusi proses pembelajarannya. SMKN 1 Bukateja, sebagai salah satu sekolah unggulan yang mengedepankan model Teaching Factory (TeFa), mengambil langkah berani dan strategis: menyatukan ruang guru kejuruan dan guru mata pelajaran umum (normatif/adaptif) dalam satu ruangan terpusat per jurusan.
- Perencanaan Kolaboratif: Secara rutin, guru-guru dalam satu jurusan (misalnya, Teknik Otomotif) dapat duduk bersama membuat perencanaan yang kolaboratif. Guru Produktif menentukan output proyek, sementara guru umum merancang intervensi dan penilaian terhadap aspek literasi, numerasi, hingga sejarah perkembangan teknologi yang terkait.
- Standarisasi Penilaian: Menyepakati kriteria penilaian (rubrik) yang komprehensif, di mana guru kejuruan menilai kualitas produk, dan guru umum menilai kualitas laporan, presentasi, dan kerja sama tim.
- Memperkuat Konteks: Memastikan bahwa mata pelajaran umum tidak lagi terasa terpisah dari realitas dunia kerja, melainkan menjadi alat pendukung vital bagi keberhasilan siswa di industri.
- Mewujudkan Link and Match Internal: Mencerminkan semangat link and match dengan industri, di mana kolaborasi lintas disiplin adalah kunci sukses tim kerja di dunia nyata.
Read More »
Pendidikan yang Kita Inginkan: Bukan Hanya Mengakses, tapi Memahami
Fenomena yang sering kita lihat adalah pergeseran budaya belajar menjadi serba instan. Anak-anak terbiasa mendapatkan jawaban secara cepat tanpa perlu melalui proses berpikir yang mendalam. Alih-alih merenungkan suatu masalah, mereka cenderung mencari "solusi" di internet. Alih-alih membaca buku untuk memahami suatu konsep, mereka lebih memilih menonton video ringkasan yang durasinya hanya beberapa menit.
Tentu saja, konten-konten singkat ini bisa menjadi alat bantu yang berguna. Namun, jika ini menjadi satu-satunya cara belajar, kita perlu khawatir. Proses belajar yang hanya berfokus pada kecepatan dan ringkasan dapat mengikis kemampuan mereka untuk berpikir kritis dan berefleksi. Kemampuan untuk menganalisis informasi, membedakan fakta dan opini, serta menyusun argumen yang logis menjadi tumpul. Mereka menjadi konsumen pengetahuan, bukan produsennya.
Ketika sebuah tugas sekolah bisa diselesaikan dengan "copy-paste" dari internet, lalu di mana letak pengalaman belajar yang berharga? Pengalaman untuk berjuang memahami suatu materi, berdiskusi dengan teman, atau menemukan solusi setelah melalui serangkaian kesalahan adalah hal yang justru membentuk karakter dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang otentik. Proses jatuh-bangun inilah yang memberikan makna dan kekuatan pada pengetahuan yang mereka peroleh.
Pendidikan yang Kita Inginkan: Bukan Hanya Mengakses, tapi Memahami
Lalu, apakah ini jenis pendidikan yang ingin terus kita pertahankan? Pendidikan yang menghasilkan generasi yang pintar menghafal tapi miskin nalar? Atau kita menginginkan generasi yang mampu beradaptasi dengan kompleksitas dunia, memiliki empati, dan mampu memberikan solusi kreatif untuk masalah yang dihadapi?
Pendidikan di era digital tidak boleh lagi hanya berfokus pada penyaluran informasi. Peran guru dan orang tua harus bergeser dari sekadar penyedia informasi menjadi fasilitator dan pembimbing. Kita perlu mengajak anak-anak untuk bertanya, "mengapa," bukan hanya "apa." Kita perlu menantang mereka untuk berdebat, bukan sekadar menerima. Kita harus menciptakan ruang di mana mereka merasa aman untuk bereksperimen, membuat kesalahan, dan belajar dari sana.
Penting bagi kita untuk:
Membiasakan diskusi dan refleksi. Ajak anak untuk memproses informasi yang mereka dapatkan. Tanyakan pendapat mereka, minta mereka untuk menjelaskan alasannya, dan ajak mereka melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang.
Mengembangkan proyek berbasis minat. Berikan mereka tugas yang menuntut penelitian mendalam, analisis, dan kreativitas. Ini akan mendorong mereka untuk melakukan lebih dari sekadar mencari jawaban instan.
Menumbuhkan rasa ingin tahu yang otentik. Dorong mereka untuk bertanya, mencari tahu lebih dalam, dan berani untuk tidak tahu jawabannya. Ini adalah fondasi dari setiap penemuan dan inovasi.
Di tangan kita, ada tanggung jawab besar untuk membimbing anak-anak agar dapat memanfaatkan kekayaan informasi global tanpa kehilangan esensi dari proses belajar yang bermakna. Kita tidak bisa mencegah mereka untuk mengakses dunia, tapi kita bisa membantu mereka untuk memahaminya. Mari kita ciptakan pendidikan yang menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana, kritis, dan reflektif.
Read More »
AI Adalah Partner Anda, Bukan Pengganti
![]() |
| Umroh 2017 |
- Menciptakan Materi Ajar Super Menarik dalam Waktu Singkat: Bayangkan Anda bisa membuat presentasi interaktif, video pendek, atau kuis yang menarik hanya dalam hitungan menit. Alat AI generatif dapat membantu membuat draf materi, menyusun narasi, atau bahkan mengubah format materi yang sudah ada menjadi lebih menarik dan mudah dicerna oleh siswa.
- Merancang Soal dan Penilaian yang Tepat Sasaran: Membuat soal yang variatif dan efektif seringkali memakan waktu. Dengan AI, Anda bisa dengan mudah membuat bank soal, merancang penilaian formatif yang personal, dan mendapatkan analisis cepat tentang pemahaman siswa. Ini memungkinkan Anda untuk segera menyesuaikan metode pengajaran agar lebih tepat sasaran.
- Menghadirkan Ide-Ide Pembelajaran Inovatif dan Personal: Setiap siswa unik, dan AI dapat membantu Anda memenuhi kebutuhan mereka. Alat-alat AI bisa menganalisis gaya belajar siswa dan menyarankan pendekatan yang berbeda. Anda bisa menciptakan skenario pembelajaran berbasis proyek yang lebih mendalam atau memberikan bimbingan personal yang disesuaikan dengan kemajuan setiap individu.
- Memangkas Drastis Waktu Persiapan Mengajar: Bayangkan waktu yang Anda habiskan untuk merencanakan RPP, mencari sumber materi, atau bahkan hanya sekadar menyalin catatan. AI dapat mengambil alih tugas-tugas ini, memberikan Anda lebih banyak ruang untuk berpikir kreatif, merancang aktivitas yang lebih bermakna, dan tentu saja, meluangkan waktu untuk pengembangan diri.
Read More »
Capaian Pembelajaran : BSKAP 046/H/KR/2025
Apa itu Capaian Pembelajaran?
|
Jenjang
Pendidikan |
Fase |
Rentang Umum |
|
PAUD |
Fondasi |
Usia 2–6 tahun |
|
SD/MI |
A–C |
Kelas I–VI |
|
SMP/MTs |
D |
Kelas VII–IX |
|
SMA/SMK/MAK |
E–F |
Kelas X–XII/XIII |
|
Pendidikan Khusus/Kesetaraan |
A–F |
Disesuaikan kebutuhan |
Read More »
Membangun Kemitraan Efektif dengan Kecerdasan Artifisial
Mengenali dan Menerapkan Perangkat AI untuk Pemanfaatan Umum dan Khusus
Memilih Perangkat AI yang Tepat untuk Berkolaborasi
Menerapkan Kolaborasi dengan Perangkat AI untuk Menyelesaikan Tugas Spesifik
Menganalisis Model, Metode, dan Pendekatan Pembelajaran yang Tepat untuk Mengintegrasikan AI dalam Proses Pembelajaran
Read More »
Alur Pembelajaran Modul Kecerdasan Artifisial dengan Taksonomi SOLO
- Materi: Konsep dasar Kecerdasan Artifisial, sejarah singkat, dan contoh-contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari (misalnya, rekomendasi Netflix, asisten suara).
- Pengalaman Belajar dalam Pembelajaran Mendalam: Mengenali keberadaan KA. Mendengarkan dan mengidentifikasi contoh-contoh KA.
- Aktivitas: Diskusi kelas tentang "Apa yang Anda ketahui tentang AI?" Menonton video pengantar tentang AI. Kuis singkat identifikasi (benar/salah) tentang pernyataan dasar KA.
- Tagihan: Daftar contoh KA yang mereka temui sehari-hari.
- Moda: Synchronous (tatap muka/virtual) – Ceramah singkat, diskusi.
- Materi: Pengenalan komponen dasar perangkat keras/lunak yang mendukung KA (misalnya, sensor, kamera, data sederhana). Pengenalan perintah dasar pengoperasian perangkat KA sederhana.
- Pengalaman Belajar dalam Pembelajaran Mendalam: Mengidentifikasi satu fungsi spesifik perangkat KA. Mampu mengikuti satu instruksi untuk mengoperasikan.
- Aktivitas: Simulasi pengoperasian perangkat KA sederhana (misalnya, mengendalikan robot mini dengan perintah dasar). Mengidentifikasi input dan output dari satu contoh KA. Latihan interaktif: Menarik dan melepas blok kode untuk perintah dasar.
- Tagihan: Laporan singkat tentang satu fungsi perangkat KA yang dipelajari.
- Moda: Blended – Demonstrasi langsung, tutorial interaktif.
- Materi: Pengoperasian berbagai fitur perangkat KA yang berbeda. Pemahaman dasar tentang cara mengumpulkan dan menyiapkan data untuk aplikasi sederhana. Konsep aplikasi dasar KA (misalnya, pengenalan gambar sederhana, pengolahan suara dasar).
- Pengalaman Belajar dalam Pembelajaran Mendalam: Menjelaskan beberapa fungsi perangkat KA secara terpisah. Menerapkan beberapa perintah yang berbeda secara sekuensial. Menjelaskan beberapa jenis data yang digunakan KA.
- Aktivitas: Eksperimen dengan berbagai fitur perangkat KA (misalnya, robot yang dapat mendeteksi warna DAN suara). Studi kasus singkat tentang aplikasi KA yang berbeda. Latihan pengumpulan data sederhana dan visualisasinya.
- Tagihan: Diagram yang menunjukkan beberapa fungsi terpisah dari perangkat KA, atau daftar jenis aplikasi KA yang berbeda.
- Moda: Hybrid – Praktikum mandiri, studi kasus kelompok kecil.
- Materi: Alur kerja lengkap pengaplikasian KA, dari pengumpulan data, pelatihan model, hingga implementasi dan pengujian. Prinsip dasar kolaborasi dalam proyek KA (misalnya, pembagian peran, penggunaan version control).
- Pengalaman Belajar dalam Pembelajaran Mendalam: Menjelaskan proses end-to-end pengembangan aplikasi KA. Menganalisis bagaimana perubahan pada satu komponen KA memengaruhi komponen lainnya. Merancang strategi kolaborasi untuk proyek KA.
- Aktivitas: Proyek kelompok kecil: Mengembangkan aplikasi KA sederhana (misalnya, chatbot dasar, sistem klasifikasi gambar kecil). Diskusi kasus: Mengidentifikasi masalah dalam proyek KA dan solusi kolaboratif. Presentasi tentang arsitektur aplikasi KA.
- Tagihan: Prototipe aplikasi KA sederhana yang fungsional, atau rencana proyek kolaborasi KA.
- Moda: Synchronous & Asynchronous – Proyek berbasis tim, mentoring, peer review.
- Materi: Etika KA, bias dalam algoritma, implikasi sosial KA, tren masa depan KA, dan inovasi dalam kolaborasi lintas disiplin.
- Pengalaman Belajar dalam Pembelajaran Mendalam: Mengevaluasi dampak etis dan sosial dari aplikasi KA. Merancang solusi KA untuk masalah dunia nyata yang kompleks, mempertimbangkan berbagai faktor. Mengusulkan ide-ide inovatif untuk pemanfaatan KA di luar domain yang diajarkan. Menginisiasi dan memimpin kolaborasi multi-pihak dalam konteks KA.
- Aktivitas: Studi kasus mendalam tentang dilema etika KA. Proyek inovasi: Mengidentifikasi masalah kompleks dan merancang solusi KA yang mempertimbangkan etika dan keberlanjutan. Debat terstruktur tentang masa depan KA. Menyajikan proposal proyek KA yang ambisius kepada audiens eksternal.
- Tagihan: Proposal proyek inovasi KA yang komprehensif, atau esai kritis tentang dampak etika KA.
- Moda: Asynchronous & Synchronous – Penelitian mandiri, lokakarya khusus, presentasi publik.
Read More »



















