Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by date for query guru menulis. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query guru menulis. Sort by relevance Show all posts

Jejak Pendidik: Menenun Makna di Ruang Kelas

Bagi banyak orang, mengajar adalah sebuah profesi yang dibatasi oleh bel masuk dan bel pulang. Namun bagi saya, menjadi pendidik adalah sebuah perjalanan spiritual untuk meninggalkan jejak yang tak terhapus oleh waktu. Menu "Jejak Pendidik" di blog ini bukan sekadar portofolio digital, melainkan sebuah rekam jejak evolusi pemikiran saya dalam menghadapi tantangan zaman. 

 "Suara guru di kelas hanya bertahan hingga bel pulang, namun tulisan guru di buku akan terus mengajar melampaui usia sang pendidik itu sendiri." 

1. Memanusiakan Teknologi (High Tech, High Touch) 
Dunia pendidikan hari ini sering kali terjebak pada digitalisasi yang "dingin". Kita memberikan link tugas, kita menggunakan aplikasi, tapi sering kali kita kehilangan "ruh" pendidikan itu sendiri. Dalam jejak saya, saya berusaha membuktikan bahwa teknologi bukan pengganti guru, melainkan penguat resonansi kasih sayang guru. Meja kerja saya boleh bersih dari kertas karena semua tugas tersimpan rapi di sistem cloud, namun ruang percakapan dengan siswa justru semakin hangat. 

 "Meja kerja yang bersih bukan berarti tanpa tugas, melainkan bukti bahwa kreativitas siswa telah rapi tersusun di awan (cloud), menunggu untuk dikoreksi dengan hati." 

2. Literasi: Cara Guru "Melawan" Lupa 
Mengapa saya begitu gigih menulis hingga melahirkan empat buku ber-ISBN? Karena saya menyadari bahwa menulis adalah cara saya melakukan refleksi. Setiap kali saya menemui kendala dalam mengajar materi EBK atau DPIB, saya menuliskannya. Dari kegelisahan itulah lahir ide-ide kreatif yang kemudian dibukukan. Menulis menjadikan saya pendidik yang tidak hanya "pemakai" ilmu, tapi juga "produsen" ilmu. 

3. Koneksi Sebelum Instruksi 
Di era kecerdasan buatan, saya tetap memegang teguh prinsip bahwa hubungan manusia adalah kunci. Link-link tugas yang saya sertakan di blog sarastiana.com adalah simulasi dunia kerja nyata bagi siswa. Namun, sebelum mereka menyentuh layar, saya harus memastikan mereka merasa didengar dan dibimbing. 

 "Di era kecerdasan buatan, teknologi hanyalah alat. Ruh pendidikan yang sesungguhnya tetaplah koneksi hati antara guru dan siswa sebelum instruksi diberikan." 

4. Sebuah Harapan untuk Rekan Sejawat
Jejak ini saya buka lebar-lebar bukan untuk pamer pencapaian, melainkan untuk mengajak rekan-rekan guru lainnya: Ayo, tuliskan ceritamu. Kita perlu mendokumentasikan praktik baik kita agar menjadi lentera bagi guru-guru muda yang baru memulai perjalanannya. 

 "Kita tidak hanya sedang mengajarkan cara menggambar garis atau menghitung volume beton; kita sedang membangun pondasi karakter agar masa depan mereka tidak retak oleh tantangan zaman."

Jejak yang Tak Akan Usai Pensiun mungkin akan menghentikan status kepegawaian saya suatu hari nanti, namun "Jejak Pendidik" ini akan terus berjalan. Tulisan-tulisan ini adalah saksi bahwa saya pernah berjuang, pernah gagal, dan terus belajar demi tunas-tunas bangsa. Mari terus melangkah, terus menulis, dan terus menginspirasi.

Read More »
11 February | 0komentar

Saatnya Loading Makna

Sebagai seorang pendidik di SMK, pernah menelorkan 4 buku yang ber ISBN, buku-buku teknis dan literasi digital, serta bagian dari keluarga besar SMKN 1 Bukateja, saya sering merenung tentang hakikat sejati dari apa yang kita sebut "pendidikan". Apakah ia sekadar transfer ilmu, hafalan teori, atau pencapaian angka-angka di atas kertas? Sebuah kalimat selalu membayang-bayangi setiap langkah pengabdian saya: “Jika sekolah gagal membuat anak merasa hidupnya bermakna, maka setinggi apa pun nilainya, kita sedang mencetak kehampaan.” Kalimat ini bukan sekadar kutipan, melainkan sebuah alarm yang terus berbunyi di benak saya. Ia mengingatkan bahwa di balik kurikulum yang padat, di balik target kompetensi yang harus dicapai, ada jiwa-jiwa muda yang mencari makna. Jika kita abai akan pencarian itu, maka kita, para pendidik, secara tidak sadar sedang meracuni masa depan dengan kecerdasan yang hampa. 

Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Kemanusiaan 
Di kelas Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), saya tidak hanya mengajarkan siswa cara menghitung volume RAB, merancang denah, atau memahami rangka atap baja ringan. Di balik setiap rumus dan sketsa, saya selalu mencoba menanamkan pertanyaan: Untuk apa semua ini? Siapa yang akan diuntungkan dari bangunan yang kalian desain? Bagaimana karya kalian bisa memberi manfaat bagi sesama? 
Buku-buku yang saya tulis, seperti "Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket" atau "Mengenal Rangka Atap Baja Ringan", lahir dari keresahan ini. Saya ingin bukan hanya sekadar memberi alat (ilmu teknis), tetapi juga membekali mereka dengan visi bahwa setiap goresan pensil di atas kertas adalah langkah awal menuju pembangunan yang bertanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat. Demikian pula dengan "Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog". Ini bukan hanya tentang mengajarkan teknologi, tapi tentang bagaimana siswa bisa menemukan suara mereka, membangun portofolio yang bermakna, dan mengaktualisasikan diri sebagai individu yang relevan di era digital. 
Karena pendidikan, pada intinya, bukan soal apa yang anak hafal, tetapi siapa mereka saat dunia membutuhkan. Dunia tidak butuh sekadar penghafal rumus Pythagoras, melainkan problem solver yang berintegritas. Dunia tidak butuh penemu yang egois, melainkan inovator yang peduli. Dunia tidak butuh pembangun gedung pencakar langit yang rapuh etika, melainkan arsitek peradaban yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. 
Sebagai seorang guru yang juga aktif menulis, saya meyakini bahwa pendidikan adalah jembatan menuju kehidupan yang bermakna. Tugas kita, para pendidik, adalah menjadi pemandu bagi anak-anak untuk menemukan "api" di dalam diri mereka, untuk memahami bahwa setiap ilmu yang mereka serap adalah bekal untuk berkontribusi. Mungkin kita tidak akan selalu melihat buah dari benih yang kita tanam. Namun, keyakinan bahwa kita sedang membentuk generasi yang utuh generasi yang tidak hanya cerdas tapi juga punya hati dan tujuan adalah bahan bakar abadi bagi setiap guru. Mari kita pastikan, bahwa di setiap nilai yang mereka raih, ada makna hidup yang terukir. Di setiap langkah kaki mereka keluar dari gerbang sekolah, ada bekal kemanusiaan yang akan mereka bawa untuk menjawab panggilan dunia. Karena masa depan Indonesia, sejatinya, ada di tangan mereka yang tidak hanya pintar, tapi juga merasa hidupnya bermakna.

Read More »
06 February | 0komentar

Daftar Buku Saya: Jejak Literasi dalam Empat Karya Ber-ISBN

Oleh: Sarastiana, S.Pd., M.B.A. 
Menjadi seorang pendidik bukan hanya soal menyampaikan materi di depan kelas, melainkan tentang bagaimana kita mewariskan pemikiran yang dapat diakses melampaui sekat ruang dan waktu. Bagi saya, menulis buku adalah cara terbaik untuk mengabadikan pengalaman, riset, dan pengabdian selama menjadi guru di SMKN 1 Bukateja. 
Hingga saat ini, alhamdulillah, saya telah berhasil menerbitkan empat buah buku yang telah terdaftar resmi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Karya-karya ini adalah buah dari konsistensi untuk terus belajar dan berbagi. 
Berikut adalah potret literasi yang telah terbit dan ber-ISBN: 


1. 1001 Desain Rumah Minimalis 
ISBN: 978-623-8729-87-6 
Penerbit: CV. Mitra Edukasi Negeri 

Fokus: 
Buku ini merupakan wujud aktualisasi saya dalam bidang Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), memberikan inspirasi desain hunian yang fungsional namun estetis. 



2. Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog 
ISBN: 978-623-320-202-2 
Penerbit: Haura Publishing 
Fokus: Sebagai praktisi yang mencintai dunia digital, buku ini merangkum strategi bagaimana mengintegrasikan blog sebagai media pembelajaran yang interaktif dan mendalam.



3. Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket 
ISBN: 978-623-7703-19-8 
Penerbit: CV. Trik Jitu Purbalingga 

Fokus: Inovasi dalam pembelajaran teknik. Buku ini membantu siswa maupun praktisi untuk memahami estimasi biaya konstruksi secara lebih konkret melalui bantuan media maket. 



4. Mengenal Rangka Atap Baja Ringan 
ISBN: 978-602-0793-54-2 
Penerbit: CV. Badan Penerbitan PGRI Provinsi Jawa Tengah 
Fokus: Karya ini disusun untuk memudahkan pemahaman teknis mengenai konstruksi baja ringan yang kini menjadi standar dalam dunia pembangunan modern. 



Mengapa Menulis? 
Setiap nomor ISBN dalam buku-buku di atas adalah simbol tanggung jawab intelektual. Seperti slogan yang selalu saya pegang sejak 2010, "Guru Menulis Itu Memberi Kejutan!". Kejutan itu bukan hanya untuk diri sendiri dalam bentuk prestasi, tetapi kejutan bagi dunia pendidikan bahwa seorang guru SMK dari daerah mampu memberikan kontribusi nyata bagi literasi nasional. 
Bagi rekan-rekan pendidik dan siswa yang ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai konten buku-buku di atas, atau tertarik untuk memiliki karyanya, silakan hubungi saya melalui kolom komentar atau email yang tertera di blog ini. Mari terus menulis, karena tulisan adalah satu-satunya cara kita "berbicara" kepada masa depan.

Read More »
29 January | 0komentar

Blog Sebagai "Lemari Digital"

Bagi banyak rekan pendidik, blog sering kali dianggap sebagai "lemari digital" tempat praktis untuk menyimpan RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam), Lembar Kerja (LK) dan berkas perangkat ajar lainnya agar mudah diakses saat akreditasi atau supervisi. Namun, jika kita melihat lebih jauh ke dalam esensi pengabdian, blog memiliki potensi yang jauh lebih besar. Blog adalah kanvas kosong yang menunggu kita untuk melukiskan jati diri dan jejak langkah kita sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran mendalam.

1. Blog sebagai Rekam Jejak Literasi
Perjalanan saya mengenal blog dari "nol kecil" pada tahun 2011 hingga memenangkan berbagai lomba media website tingkat provinsi membuktikan bahwa blog adalah saksi bisu pertumbuhan profesional kita. Blog bukan sekadar tempat menyimpan file, melainkan bukti nyata dari slogan "Guru Menulis Itu Memberi Kejutan!". Di sana, kita tidak hanya membagikan materi, tetapi juga gagasan dan refleksi yang tidak ditemukan dalam buku teks mana pun.
2. Melukis Jati Diri di Ruang Digital
Sebagai pendidik yang mendalami bidang Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), saya menyadari bahwa mengajar adalah sebuah seni. Melalui blog www.sarastiana.com, saya melukiskan pemikiran-pemikiran tentang manajemen pendidikan, perencanaan gedung, hingga pengalaman sebagai Guru Penggerak. Ini adalah bentuk aktualisasi diri: sebuah ruang di mana identitas kita sebagai ahli di bidangnya dan sebagai pembelajar sepanjang hayat (long-life learner) terpampang nyata.

3. Wadah Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Pembelajaran mendalam terjadi ketika seorang guru berani melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan di kelas. Blog memfasilitasi hal ini melalui artikel-artikel reflektif, seperti: 
  • Bagaimana media visual maket membantu siswa menghitung RAB secara lebih intuitif. 
  • Bagaimana pemanfaatan media digital blog dapat meningkatkan keterlibatan siswa. 
  • Bagaimana pengalaman mendampingi rekan sejawat sebagai Pengajar Praktik memperkaya perspektif kita tentang kepemimpinan pembelajaran.
4. Dari Berbagi Menjadi Menginspirasi
Ketika blog dikelola dengan hati, ia bertransformasi dari sekadar media penyimpanan menjadi media inspirasi. Prestasi-prestasi yang saya raih, mulai dari Juara Blog Guru hingga lulus S2 di UGM dengan program beasiswa tugas belajar. kategori "Lulus Amat Baik" pada Program Guru Penggerak, didokumentasikan bukan untuk kesombongan, melainkan untuk memberi semangat kepada rekan guru lainnya bahwa kita semua memiliki ruang untuk bersinar.
Berhenti menjadikannya sekadar gudang penyimpanan file yang kaku. Mulailah menjadikannya sebagai kanvas tempat kita menorehkan tinta emas pengabdian. Biarlah dunia mengenal siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan bagaimana cara kita mendidik, melalui jejak digital.
Sebab pada akhirnya, perangkat ajar bisa berganti kurikulum, namun narasi pengabdian yang kita tulis di blog akan abadi menginspirasi generasi yang akan datang.Sharing Knowledge.

Read More »
29 January | 0komentar

Mengubah Lelah Menjadi Tulisan: Aktualisasi Diri Menyehatkan Mental.


Dalam era digital yang demikian membuat bising, setiap orang membutuhkan "rumah" untuk pulang. Bukan rumah fisik, melainkan ruang digital di mana suara, ide, dan karya kita bisa menetap dan bertumbuh. Bagi saya, rumah itu adalah Blog.
Mengubah lelah menjadi tulisan adalah bentuk aktualisasi diri yang menyehatkan mental. Banyak yang menganggap blog hanyalah media untuk sharing informasi atau sekadar pengganti mading sekolah. Namun, jika kita menyelami lebih dalam seperti perjalanan saya sejak belajar "nol kecil" dari Master Blog Pak Hermawan di tahun 2011 hingga kini, blog memiliki fungsi yang jauh lebih luhur: sebagai alat Aktualisasi Diri.

Apa itu Aktualisasi Diri Melalui Blog? 
Abraham Maslow menempatkan aktualisasi diri pada puncak tertinggi kebutuhan manusia. Ini adalah momen di mana seseorang bisa mengembangkan seluruh potensi dan minatnya. Melalui blog www.sarastiana.com, saya menemukan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan proses "menemukan diri". Sekarang terbantu dengan AI dari Gemini dan ChatGPT

1. Blog Sebagai Laboratorium Kreativitas 
Di blog, tidak ada batasan kurikulum yang kaku. Sebagai guru DPIB (Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan), saya bisa mengekspresikan sisi arsitektural saya melalui tulisan tentang 1001 desain rumah, sekaligus menuangkan pemikiran manajemen hasil pendidikan S2 di UGM. Blog memfasilitasi "multipotensi" kita untuk muncul ke permukaan. 

2. Rekam Jejak (Digital Portfolio) 
Aktualisasi diri berkaitan erat dengan pengakuan atas kompetensi. Blog menjadi saksi bisu perjalanan saya: dari memenangkan Juara III Lomba Blog Guru tahun 2011 hingga Juara II Media Ajar Website tahun 2015. Dengan mendokumentasikan prestasi dan karya tulis di blog, kita sedang membangun otoritas diri di mata dunia. 

3. Media Katarsis dan Ekspresi Emosional 
Tugas sebagai pendidik terutama dengan tanggung jawab sebagai Kurikulum atau Guru Penggerak dan sekarang di SPMI tentu melelahkan. Blog menjadi media ekspresi di mana kita bisa menumpahkan keresahan, ide-ide segar tentang pendidikan, hingga refleksi diri. Mengubah lelah menjadi tulisan adalah bentuk aktualisasi diri yang menyehatkan mental.

Saya selalu percaya bahwa "Guru menulis itu bukan biasa", sebagaimana judul karya tulis saya di Majalah Swara tahun 2010 terbitan VEDC Bandung. Menulis di blog memaksa kita untuk terus belajar (long-life learner). Ketika kita menulis, kita sedang mengikat ilmu. Dan ketika tulisan itu dibaca serta bermanfaat bagi orang lain, di situlah puncak kebermaknaan kita sebagai manusia. bentuk dari sharing knowlegde. 
Jangan menunggu menjadi "ahli" untuk mulai mengekspresikan diri. Mulailah dari apa yang kita cintai. Jika saya yang awalnya tidak tahu apa-apa bisa meraih juara lewat blog, Bapak dan Ibu juga pasti bisa. Mari jadikan blog bukan hanya sebagai tempat menyimpan file perangkat ajar, tapi sebagai kanvas untuk melukis jejak pengabdian dan jati diri kita sebagai pendidik yang merdeka.

Read More »
25 January | 0komentar

Dari Denah Lokal ke Komunikasi Global

Desain Teknis dan Komunikasi berbahasa Inggris

Kolaborasi Pembelajaran Berbasis Proyek: Bahasa Inggris dan Perencanaan Rumah Tipe 36 Kolaborasi antar mata pelajaran merupakan strategi efektif untuk meningkatkan relevansi dan kontekstualisasi pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Salah satu bentuk kolaborasi yang sangat aplikatif adalah mengintegrasikan mata pelajaran Bahasa Inggris dengan mata pelajaran kejuruan, seperti Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), khususnya dalam proyek Perencanaan Rumah Tipe 36.

🎯 Tujuan Kolaborasi
Proyek kolaboratif ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara teori bahasa dan aplikasi kejuruan di dunia nyata.
  • Meningkatkan Kompetensi Bahasa Inggris Profesional: Siswa tidak hanya belajar tata bahasa, tetapi juga menguasai kosakata teknis (technical terms), frasa (phrases), dan struktur kalimat yang relevan dengan bidang konstruksi dan desain (misalnya, specifications, layout, blueprint).
  • Mengembangkan Keterampilan Komunikasi: Melatih siswa untuk mempresentasikan dan menjelaskan hasil desain mereka secara profesional menggunakan Bahasa Inggris, sebuah keterampilan penting untuk kolaborasi internasional atau bekerja di perusahaan multinasional.
  • Penguatan Pemahaman Kejuruan: Siswa akan lebih mendalami konsep perencanaan rumah karena harus mampu mendeskripsikannya kepada audiens berbahasa Inggris.
📝 Tahapan Proyek Kolaboratif
Proyek ini dilaksanakan secara bertahap, menggabungkan proses desain teknis dan komunikasi berbahasa Inggris.
1. Perencanaan dan Desain Rumah Tipe 36 (Mata Pelajaran DPIB)
Siswa mulai dengan tugas utama kejuruan: membuat desain lengkap Rumah Tipe 36. Ini mencakup:
Gambar Kerja (Denah, Tampak, Potongan). Rencana Anggaran Biaya (RAB). Spesifikasi Material (Material Specifications). 
2. Pengembangan Konten Bahasa Inggris (Mata Pelajaran Bahasa Inggris)
Setelah desain selesai, guru Bahasa Inggris akan membimbing siswa untuk menyusun materi presentasi dan dokumen pendukung dalam Bahasa Inggris. Materi yang dibuat meliputi:
Glossary of Terms: Daftar istilah teknis (misalnya, reinforced concrete, roof truss, plastering) dalam Bahasa Inggris. Describing the Layout: Latihan menulis dan berbicara untuk menjelaskan denah rumah (The living room is adjacent to the dining area...). Presenting the Specifications: Menyusun spesifikasi material (The floor will use 40x40 cm ceramic tiles with grade A quality.) 

3. Output Proyek dan Penilaian
Output akhir proyek ini bersifat ganda:
Produk Teknis: Set gambar kerja dan RAB Rumah Tipe 36.
Produk Bahasa:
"Project Proposal" atau ringkasan proyek (tertulis dalam Bahasa Inggris).
"Project Presentation" (presentasi lisan) di mana siswa mempresentasikan hasil perencanaan mereka di hadapan penguji (guru kejuruan dan guru Bahasa Inggris) menggunakan Bahasa Inggris. 

 📈 Manfaat dan Dampak.

Kolaborasi ini menghasilkan dampak positif yang signifikan:
  • Pembelajaran Otentik: Siswa melihat bahwa Bahasa Inggris bukan hanya teori di kelas, tetapi alat komunikasi esensial dalam karier mereka. 
  • Keterampilan Abad ke-21: Proyek ini melatih kolaborasi, komunikasi (lisan dan tulisan), dan pemecahan masalah (bagaimana menyampaikan ide teknis secara jelas). 
  • Portofolio Profesional: Siswa memiliki portofolio yang tidak hanya berisi gambar teknis, tetapi juga kemampuan mempresentasikan proyek secara internasional.
Melalui proyek Rumah Tipe 36 ini, siswa SMK tidak hanya lulus sebagai perencana yang kompeten, tetapi juga sebagai profesional yang siap bersaing secara global dengan kemampuan komunikasi Bahasa Inggris yang mumpuni.
Gambar : By AI

Read More »
11 November | 0komentar

Stop 'Gumunan'! Darah Para Pencipta Peradaban Mengalir di Tubuhmu.

Kita berdiri di atas anugerah yang tak habis-habisnya. Tanah ini, yang kita sebut Indonesia, adalah museum hidup kemegahan masa lampau dan gudang harta karun masa depan.
Lihatlah ke agungan Borobudur. Leluhur kita, tanpa smartphone, tanpa gelar doktor arsitektur, tanpa pasokan listrik modern, mendirikan mahakarya yang kokoh melawan ribuan tahun. Atau renungkan Prambanan, di mana setiap ukiran batu bukan sekadar dekorasi, melainkan bahasa visual tentang keindahan, doa, dan kebijaksanaan. Bahkan di Muaro Jambi, tersembunyi kompleks candi delapan kali lebih luas, sebuah bisikan lirih dari peradaban yang berteriak: “Kami pernah menjadi bangsa yang besar dan hebat!”
Kekayaan kita tak berhenti di warisan batu. Di bawah tanah, terpendam emas, nikel, uranium, dan batu bara. Di atasnya, terhampar hutan, sawah, dan keindahan alam yang tak cukup alasan bagi kita untuk tidak berdecak kagum.
Lalu, kita punya para pendiri bangsa: Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, Kartini, Tan Malaka, Sjahrir. Mereka adalah intelektual dunia yang berbicara dengan bahasa pengetahuan, menguasai lebih dari satu bahasa asing, menulis, berpikir, dan bertindak melampaui zamannya. Mereka adalah bukti bahwa di urat nadi bangsa ini mengalir darah para pencipta peradaban, bukan sekadar pengikut.

Ironi Bangsa "Gumunan"
Pertanyaannya kini: Di mana narasi kebesaran itu?
Di tengah kemegahan warisan yang luar biasa, kita justru tampak lelah dan kehilangan semangat di ruang-ruang sekolah, atau lebih buruk lagi, kita menjadi bangsa yang "gumunan"—terlalu mudah terkesima oleh hal-hal yang sensasional, dangkal, dan sering kali tak substantif.
Kita cepat terdecak melihat orang yang secara dramatis naik ke panggung politik, entah dari gorong-gorong atau melalui jogetan di media. Kita "gumun" pada pejabat yang baru menjabat lantas berlagak seperti koboi di depan kamera dan seketika dianggap sebagai pemimpin yang cocok. Kita kagum pada yang marah-marah, yang menenggelamkan kapal dengan gimmick penuh drama, atau yang secara membarakan memarahi murid di depan umum.
Kita sibuk berdecak kagum, bukan sibuk berkarya. Kita lebih senang menonton panggung daripada menaiki panggung itu sendiri.
Narasi besar tentang kehebatan leluhur dan kekayaan alam tidak lagi menjadi bahan bakar ledakan untuk membangun peradaban baru. Di sekolah-sekolah, kisah Borobudur seringkali hanya sebatas materi hafalan, bukan kisah yang diajarkan dengan dada yang bergetar dan mata yang berbinar penuh kebanggaan.

Nyala Kecil di Pelosok Negeri
Namun, di sudut-sudut paling pelosok negeri, masih ada harapan yang bersinar. Harapan itu dibawa oleh guru-guru hebat yang bekerja tanpa sorotan kamera, tanpa janji kenaikan jabatan, dan bahkan dengan gaji yang tak layak.
Ada guru honorer yang gajinya tak cukup membeli sepatu baru, tetapi tetap datang dengan senyum, menyalakan semangat di wajah anak-anak kampungnya. Ada guru di perbatasan yang harus menyeberangi sungai dan berjalan berkilo-kilometer melewati lumpur, semata-mata untuk memastikan anak-anak tidak kehilangan harapan. Mereka adalah lentera-lentera kecil perubahan, yang berani turun dan bergerak tanpa menunggu surat penugasan dari pusat.
Mereka inilah nyala-nyala arang kecil yang menjaga bara api pendidikan Indonesia agar tidak padam.
Tetapi bara kecil itu tidak akan cukup. Diperlukan lebih banyak lagi nyala. Dibutuhkan guru, orang tua, dan anak muda yang mau menjadi percikan api pergerakan dan perubahan.

Saatnya Bangkit dari Keterpukauan
Mari kita renungkan: Ada apa dengan bangsa kita, terutama pendidikannya?
Mengapa kita lebih memilih gumun (terpukau tanpa makna mendalam) daripada kagum (menghargai dan meneladani kebesaran)? Mengapa kita lebih suka menjadi penonton yang sibuk mengomentari sensasi "koboi baru" daripada menjadi pencipta peradaban baru seperti yang leluhur kita lakukan?
Jawabannya mungkin sederhana: Kita sudah terlalu lama lupa bahwa darah yang mengalir di tubuh kita adalah darah para pencipta peradaban.
Ketika kesadaran itu lahir kembali, ketika narasi kehebatan leluhur diajarkan dengan semangat membara, dan ketika nyala-nyala kecil dari pelosok menyatu menjadi api besar pergerakan, saat itulah Indonesia benar-benar BANGKIT.
Bangkit, bukan karena gumun pada tontonan sesaat, tetapi karena sadar dirinya memang hebat. Bukankah sudah saatnya kita berhenti menonton dan mulai kembali mewarisi takhta sebagai bangsa pencipta?
Sumber: Grup WA GSM Kab.Purbalingga

Read More »
05 October | 0komentar

Semangat Tjokroaminoto: Napas Baru Profesi Guru

Arisan Soal

Lebih dari seabad yang lalu, di tengah gejolak pergerakan nasional, seorang guru bangsa berdiri tegak menyemai benih-benih kemerdekaan. Dialah Oemar Said Tjokroaminoto, sosok yang tak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Membedah film Guru Bangsa: Tjokroaminoto bukan sekadar menonton kisah perjuangan heroik, melainkan sebuah ruang refleksi untuk meneladani semangatnya sebagai seorang guru yang menyalakan api perubahan.
Tjokroaminoto adalah seorang pendidik ulung. Murid-muridnya bukan sekadar diajari membaca dan menulis, tetapi ditempa untuk menjadi pemimpin yang kritis, berani, dan berjiwa merdeka. Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso, Kartosuwiryo – nama-nama besar ini adalah bukti nyata bagaimana seorang guru mampu membentuk karakter dan visi, bahkan menggerakkan roda sejarah. Semangat yang ia kobarkan adalah semangat untuk tidak menyerah pada ketidakadilan, untuk berani menyuarakan kebenaran, dan untuk berjuang demi cita-cita luhur bangsanya.
Kini, di tengah dinamika zaman yang terus bergerak, profesi guru menghadapi tantangan yang tak kalah berat. Guru-guru di Purwokerto, dan di seluruh penjuru negeri, memanggul tanggung jawab besar yang sama: menumbuhkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter kuat, pemikiran kritis, dan keberanian untuk menghadapi masa depan.
Bagaimana semangat Tjokroaminoto bisa menjadi napas baru bagi profesi guru hari ini?
  • Guru sebagai Agen Perubahan, Bukan Sekadar Pengajar: Tjokroaminoto membuktikan bahwa ruang kelas adalah laboratorium pergerakan. Guru masa kini juga diharapkan mampu menjadi agen perubahan, yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan, kemandirian, dan kepeloporan. Kita bisa memulai dari hal kecil, seperti mendorong diskusi kritis di kelas atau memfasilitasi proyek-proyek yang mengasah jiwa kepemimpinan siswa. 
  • Menumbuhkan Daya Kritis dan Keberanian: Tjokroaminoto tak pernah membatasi pemikiran muridnya. Ia membiarkan mereka berdialektika, beradu argumen, dan menemukan jalan pikiran sendiri. Hal ini relevan dengan kondisi sekarang di mana informasi berlimpah. Guru harus membimbing siswa untuk mampu menyaring informasi, berpikir logis, dan berani menyuarakan pendapatnya dengan santun dan berlandaskan data. 
  • Menggerakkan Bangsa dari Ruang Kelas: Sebagaimana Tjokroaminoto yang melalui murid-muridnya menggerakkan bangsa dari pondok kecilnya di Gang Peneleh, kita pun bisa menggerakkan bangsa dari ruang kelas kita masing-masing. Setiap interaksi, setiap pelajaran, setiap motivasi yang diberikan adalah investasi untuk masa depan Indonesia. Guru adalah arsitek peradaban.
Perjalanan mulia, sebuah panggilan untuk menggerakkan bangsa dari ruang kelas kita. Mari kita hidupkan kembali semangat Tjokroaminoto: menjadi guru bangsa yang menyalakan api perubahan, satu murid pada satu waktu.

Read More »
31 August | 0komentar

Pentingnya Ikatan Emosional Guru dan Murid

Pernahkah Anda merasakan momen ini di kelas? Anda sudah menyiapkan materi dengan sepenuh hati, media pembelajaran yang menarik, bahkan lagu yang sedang viral agar suasana kelas lebih hidup. Namun, saat pelajaran dimulai, bukannya antusiasme yang Anda dapat, melainkan keheningan dan tatapan datar dari deretan "pot bunga" di depan Anda. Rasanya seperti presentasi di depan kursi kosong.
Jika ya, Anda tidak sendiri. Momen tersebut seringkali menjadi titik balik bagi banyak guru, termasuk saya. Saya sadar, mungkin masalahnya bukan pada materi yang kurang seru, atau saya yang kurang atraktif. Justru, inti masalahnya ada pada sesuatu yang lebih mendasar: kita belum terhubung. Belum "klik" dengan para murid. Frekuensi kita belum bertemu.
Pengalaman ini, ditambah dengan pembelajaran dari Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), membuka mata saya pada satu hal krusial: engagement. Sebelum kita bicara soal rumus, teori, kompetensi, atau target kurikulum, hal pertama yang harus dibangun adalah ikatan. Sebuah koneksi emosional yang mungkin tidak terlihat di layar, tapi sungguh terasa di hati.
Seperti yang Profesor Rita Pierson sampaikan dalam TED Talk-nya yang viral, "Kids don't learn from people they don't like." Anak-anak tidak akan belajar dari guru yang tidak mereka sukai. Namun, "suka" di sini bukan berarti guru harus menjadi influencer yang lucu atau populer. Ini tentang guru yang hadir secara emosional, yang tulus, dan yang membuat anak merasa: "Di kelas ini, aku aman untuk salah."
Membangun Fondasi Kepercayaan dan Rasa Aman
Maka, jangan heran jika di minggu pertama sekolah, saya memilih untuk tidak langsung memulai pelajaran formal. Tidak ada salahnya kok, jika waktu itu kita gunakan untuk benar-benar berkenalan. Bukan cuma menanyakan nama dan cita-cita, tapi lebih dalam: "Apa yang membuatmu semangat datang ke sekolah?", "Apa hal kecil yang membuatmu takut di kelas?", atau "Kapan terakhir kali kamu merasa diterima apa adanya?".
Bagaimana mungkin anak-anak bisa merasa nyaman belajar jika mereka belum merasa aman menjadi diri mereka sendiri? Bagaimana mereka bisa berani berpikir kritis jika setiap kesalahan langsung ditertawakan, dicoret, atau disalahkan? Ini seperti adegan di kompetisi memasak yang penuh tekanan. Di kelas saya, saya ingin mereka tahu: salah itu tidak apa-apa. Salah adalah tanda bahwa kamu sedang belajar. Tidak perlu takut. Di sini, kamu diterima, bahkan dengan segala kekuranganmu yang justru membuatmu menjadi manusia seutuhnya.
Oleh karena itu, di awal-awal masuk kelas, saya lebih banyak mengobrol, bermain, melempar pertanyaan-pertanyaan ringan, atau bahkan mengajak mereka menulis harapan di kertas warna-warni bersama-sama. Saya percaya, pembelajaran itu bukan soal seberapa cepat Anda menyampaikan materi, tapi seberapa dalam anak-anak mau menerima. Dan penerimaan itu hanya bisa terjadi jika ada rasa percaya.
Guru: Lebih dari Sekadar Robot Kurikulum
Kita ini guru, bukan robot kurikulum. Kita adalah manusia yang tugasnya bukan hanya mengajar, tetapi juga menuntun dan menemani mereka bertumbuh. Dan proses menuntun itu membutuhkan kedekatan, membutuhkan hati. Jadi, untuk rekan-rekan guru yang sedang bersemangat menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Rencana Pelaksanaan Mengajar (RPM), menulis Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) atau Lembar Kerja Murid (LKM), dan mengutak-atik Canva untuk media ajar yang memukau, saya sangat salut! Semangat Anda luar biasa.
Namun, di tengah kesibukan itu, jangan lupa untuk menyiapkan waktu sekadar mendengar. Duduk bersama, mengobrol dari hati ke hati, dan membangun bonding. Karena kadang, anak-anak lebih membutuhkan itu daripada PowerPoint 20 slide dengan font kekinian dan animasi tingkat tinggi. Percayalah, begitu kita berhasil "mengklik" hati mereka, barulah kita bisa "mengklik" slide dengan penuh keyakinan. Karena pendidikan yang bermakna dimulai dari hubungan yang tulus.

Read More »
17 July | 0komentar

Membangun Kemitraan Efektif dengan Kecerdasan Artifisial

Di era digital yang terus berkembang pesat, kecerdasan artifisial (AI) bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan alat yang mampu mengubah cara kita bekerja, belajar, dan berinovasi. Memahami dan memanfaatkan AI secara efektif adalah keterampilan krusial yang harus dimiliki setiap individu, terutama bagi para profesional yang ingin tetap relevan. Artikel ini akan membahas poin-poin penting yang harus dikuasai peserta pelatihan dalam rangka membangun kolaborasi yang efektif dengan perangkat AI.

Mengenali dan Menerapkan Perangkat AI untuk Pemanfaatan Umum dan Khusus
Langkah pertama dalam mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaan atau pembelajaran adalah dengan mengenali berbagai jenis perangkat AI dan memahami potensi penerapannya. AI kini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari asisten virtual, sistem rekomendasi, alat analisis data, hingga generator konten. Secara umum, AI dapat dimanfaatkan untuk otomatisasi tugas repetitif, pencarian informasi yang lebih efisien, atau personalisasi pengalaman pengguna. Contohnya, Anda bisa menggunakan AI untuk menyaring email yang tidak penting, mencari jawaban instan di internet, atau menerima rekomendasi produk yang sesuai dengan preferensi Anda. Namun, pemanfaatan AI juga bisa sangat spesifik tergantung pada bidang atau kebutuhan Anda. Dalam dunia pendidikan, AI bisa membantu menganalisis pola belajar siswa, menciptakan materi ajar yang adaptif, atau bahkan memberikan umpan balik otomatis pada tugas. Di bidang kesehatan, AI dapat membantu dalam diagnosis penyakit atau pengembangan obat. Peserta pelatihan harus mampu mengidentifikasi area-area di mana AI dapat memberikan nilai tambah signifikan dalam konteks pekerjaan atau minat mereka.

Memilih Perangkat AI yang Tepat untuk Berkolaborasi
Setelah mengenali ragam perangkat AI, tantangan selanjutnya adalah memilih AI yang paling sesuai untuk berkolaborasi. Kolaborasi dengan AI berarti menggunakan AI sebagai mitra untuk mencapai tujuan tertentu, bukan hanya sebagai alat bantu pasif. Pemilihan perangkat AI harus mempertimbangkan beberapa faktor: Tujuan Kolaborasi: Apa yang ingin Anda capai dengan AI? Apakah Anda membutuhkan AI untuk analisis data kompleks, pembuatan konten kreatif, atau otomatisasi proses tertentu? Jenis Data yang Diperlukan: Apakah AI membutuhkan data teks, gambar, suara, atau kombinasi dari semuanya? Pastikan AI yang dipilih kompatibel dengan jenis data yang Anda miliki. Kompleksitas Tugas: Untuk tugas sederhana, mungkin cukup menggunakan AI dengan antarmuka yang intuitif. Namun, untuk tugas yang lebih kompleks, Anda mungkin memerlukan AI dengan kemampuan kustomisasi atau integrasi yang lebih mendalam. Kemudahan Penggunaan dan Integrasi: Seberapa mudah perangkat AI tersebut untuk dipelajari dan diintegrasikan dengan workflow atau sistem yang sudah ada? Etika dan Keamanan Data: Pastikan perangkat AI yang dipilih mematuhi standar etika dan keamanan data yang berlaku, terutama jika Anda akan menggunakannya dengan informasi sensitif. Misalnya, untuk menulis artikel atau membuat draf presentasi, AI generatif teks seperti ChatGPT mungkin sangat membantu. Namun, untuk menganalisis data keuangan yang besar, perangkat AI yang dirancang khusus untuk analisis data mungkin lebih tepat.

Menerapkan Kolaborasi dengan Perangkat AI untuk Menyelesaikan Tugas Spesifik
Inti dari pelatihan ini adalah kemampuan untuk menerapkan kolaborasi dengan AI dalam menyelesaikan tugas-tugas spesifik. Ini bukan hanya tentang mengetahui bagaimana menggunakan tool, tetapi bagaimana mengintegrasikannya secara cerdas ke dalam proses kerja Anda. Beberapa contoh penerapan kolaborasi dengan AI meliputi: Pembuatan Konten: Menggunakan AI untuk menghasilkan draf awal, ide-ide brainstorming, atau meringkas dokumen panjang, kemudian Anda menyempurnakannya dengan sentuhan manusiawi. Riset dan Analisis: Memanfaatkan AI untuk menyaring informasi dari dataset besar, mengidentifikasi tren, atau melakukan analisis statistik yang cepat, memungkinkan Anda fokus pada interpretasi dan pengambilan keputusan. Pengembangan Produk/Layanan: Menggunakan AI untuk simulasi, optimasi desain, atau memprediksi preferensi pengguna, mempercepat siklus pengembangan. Penyelesaian Masalah: Memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi akar masalah, menghasilkan berbagai solusi potensial, dan memprediksi dampak dari setiap solusi. Dalam setiap skenario, peran manusia tetap krusial. AI adalah alat yang kuat, tetapi interpretasi, validasi, dan keputusan akhir tetap berada di tangan Anda. Kolaborasi yang efektif berarti Anda mengarahkan AI, memvalidasi hasilnya, dan menambahkan nilai unik yang hanya bisa diberikan oleh kecerdasan manusia.

Menganalisis Model, Metode, dan Pendekatan Pembelajaran yang Tepat untuk Mengintegrasikan AI dalam Proses Pembelajaran
Bagi para pendidik atau mereka yang tertarik pada pengembangan kapasitas, penting untuk dapat menganalisis bagaimana AI dapat diintegrasikan secara efektif ke dalam proses pembelajaran. Ini melibatkan pemahaman mendalam tentang berbagai model, metode, dan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan AI. 
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning - PBL): AI dapat menjadi alat yang sangat baik dalam PBL. Peserta didik dapat menggunakan AI untuk riset, analisis data, atau prototipe dalam proyek-proyek mereka, mendorong pemecahan masalah dan kreativitas. 
Pembelajaran Personal (Personalized Learning): AI dapat digunakan untuk menciptakan jalur belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kecepatan masing-masing peserta didik, memberikan rekomendasi materi, atau menyediakan umpan balik adaptif. 
Pembelajaran Kolaboratif: AI dapat memfasilitasi kolaborasi antarpeserta didik atau antara peserta didik dengan AI itu sendiri, seperti dalam simulasi atau game edukasi yang didukung AI. Pendekatan 
Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik: AI dapat membebaskan guru dari tugas-tugas administratif rutin, memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada interaksi personal dengan peserta didik dan memfasilitasi pembelajaran yang lebih mendalam. 

Analisis Pembelajaran (Learning Analytics): AI dapat menganalisis data pembelajaran untuk mengidentifikasi pola, memprediksi kinerja, dan memberikan wawasan bagi pendidik untuk meningkatkan strategi pengajaran. Penting untuk diingat bahwa integrasi AI dalam pembelajaran harus bertujuan meningkatkan kualitas dan efektivitas pembelajaran, bukan hanya sekadar mengikuti tren teknologi. Pemilihan model, metode, dan pendekatan harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang jelas dan karakteristik peserta didik. Dengan menguasai keempat area ini, peserta pelatihan tidak hanya akan mampu menggunakan AI sebagai alat bantu, tetapi juga menjadi individu yang cerdas dalam berkolaborasi dengan AI, membuka peluang baru untuk inovasi, efisiensi, dan pengembangan diri di berbagai bidang. Apakah Anda siap untuk menjelajahi potensi tak terbatas dari kolaborasi manusia-AI?

Read More »
07 July | 0komentar

Menuju Pendidikan yang Membebaskan dan Berdaya Sejarah

Maindfull
Pendidikan di banyak negara, termasuk Indonesia, tak bisa dilepaskan dari bayang-bayang kolonialisme dan feodalisme. Dua kekuatan ini, yang secara inheren mengedepankan kontrol dan hierarki, telah menancapkan akar kuat dalam sistem pendidikan kita, menghasilkan warisan yang kompleks dan seringkali menghambat. Penjajahan pendidikan ini bukan hanya tentang kurikulum yang dipaksakan atau bahasa pengantar yang diganti, melainkan juga tentang pembentukan mental inferior, menciptakan perasaan tertekan, takut salah melangkah, dan secara fundamental mengkerdilkan potensi manusia untuk mewujudkan mimpi besar kodrat dirinya. 
Mentalitas yang terbentuk dari penjajahan ini sering termanifestasi dalam pola pikir yang enggan berinovasi, terlalu bergantung pada otoritas, serta kurangnya inisiatif dan keberanian untuk mengambil risiko. Sistem yang rigid, evaluasi yang cenderung menghakimi, dan penekanan pada hafalan daripada pemahaman mendalam, semuanya berkontribusi pada penciptaan lingkungan belajar yang jauh dari ideal. Anak didik tumbuh dengan keyakinan bahwa kesalahan adalah kegagalan mutlak, bukan bagian dari proses belajar. Namun, zaman telah berubah, dan kesadaran akan pentingnya pendidikan yang membebaskan semakin menguat. 
Di tengah upaya kolektif untuk memerdekakan diri dari belenggu masa lalu, Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Kebumen hadir dengan sebuah ajakan yang revolusioner: "Bebaskan Diri dari Mental Terjajah, Ciptakan Lingkungan Belajar yang Joyful, Mindful, Meaningful, dan Powerful." Memutus Rantai Mental Inferior Ajakan GSM Kebumen ini adalah sebuah seruan untuk merombak paradigma. Ini bukan hanya tentang mengubah metode pengajaran, tetapi tentang merevolusi cara kita memandang pendidikan dan peran setiap individu di dalamnya. 
Joyful (Menyenangkan): Lingkungan belajar yang menyenangkan adalah antitesis dari tekanan dan ketakutan. Ketika belajar menjadi kegiatan yang dinikmati, bukan beban, potensi anak-anak akan mekar secara alami. Ini berarti menciptakan suasana kelas yang hidup, interaktif, penuh tawa, dan memungkinkan eksplorasi tanpa batas. Kegembiraan adalah bahan bakar untuk rasa ingin tahu dan kreativitas. 
Mindful (Penuh Kesadaran): Pendidikan yang mindful mengajak setiap individu—guru dan murid—untuk hadir sepenuhnya dalam setiap momen. Ini berarti melatih kesadaran diri, memahami emosi, dan belajar mengelola pikiran yang seringkali riuh. Dalam konteks kelas, mindfulness membantu menciptakan fokus, mengurangi stres, dan memungkinkan proses belajar yang lebih mendalam, di mana murid benar-benar menyerap dan meresapi materi, bukan hanya menghafal. 
Meaningful (Bermakna): Salah satu dampak terbesar dari pendidikan terjajah adalah hilangnya makna. Materi pelajaran terasa asing, tidak relevan dengan kehidupan nyata, dan hanya menjadi deretan fakta yang harus dihafal. Pendidikan yang meaningful mengembalikan relevansi ini. Ini berarti menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman hidup murid, tujuan mereka, dan isu-isu yang relevan di sekitar mereka. Ketika belajar memiliki makna, motivasi intrinsik akan tumbuh dan pengetahuan akan melekat lebih lama. 
Powerful (Berdaya): Tujuan akhir dari membebaskan diri dari mental terjajah adalah memberdayakan individu. Lingkungan belajar yang powerful adalah tempat di mana setiap suara didengar, setiap ide dihargai, dan setiap murid merasa memiliki agensi atas pembelajarannya sendiri. Ini mendorong pemikiran kritis, kemampuan memecahkan masalah, dan keberanian untuk berinovasi. 
Pendidikan yang berdaya melahirkan individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepercayaan diri, resiliensi, dan kesiapan untuk menjadi agen perubahan di masyarakat. Jalan Menuju Pendidikan yang Memerdekakan Gerakan seperti yang diusung GSM Kebumen ini adalah langkah krusial. Ini adalah upaya kolektif untuk membongkar struktur dan mentalitas lama yang membelenggu, dan menggantinya dengan pendekatan yang memanusiakan dan memberdayakan. 
Guru, sebagai garda terdepan pendidikan, memegang peran sentral dalam transformasi ini. Dengan membebaskan diri mereka sendiri dari mental terjajah, mereka dapat menjadi fasilitator bagi kebebasan belajar murid-muridnya. Transformasi ini membutuhkan keberanian—keberanian untuk mempertanyakan status quo, keberanian untuk mencoba hal baru, dan keberanian untuk menerima bahwa proses belajar adalah perjalanan yang penuh penemuan, bukan sekadar perlombaan mencapai nilai tertinggi. 
Ketika kita berhasil menciptakan lingkungan belajar yang Joyful, Mindful, Meaningful, dan Powerful, kita tidak hanya mendidik generasi baru, tetapi kita juga turut menulis ulang sejarah pendidikan di Indonesia, membebaskannya dari bayang-bayang masa lalu, dan mengarahkannya menuju masa depan yang cerah, di mana setiap potensi manusia dapat berkembang tanpa batas. Apakah Anda siap menjadi bagian dari gerakan yang membebaskan ini?

Read More »
29 May | 0komentar

Mengapa Literasi Kita Sekadar Scrolling?

Budaya membaca di indonesia yang rendah dan akar permasalahan rendahnya literasi di Indonesia banyak faktor yang mempengaruhi. Kultur di lingkungan siswa dan sekolah sering tidak mendukungnya. Budaya membaca muncul dengan menciptakan lingkungan yang menyenangkan seputar kegiatan membaca. Anda secara tepat menyoroti bahwa persoalannya tidak sesederhana jumlah buku yang dibaca, melainkan menyentuh aspek yang lebih mendasar dalam sistem pendidikan dan budaya kita. Paradoks "Literasi" Digital: Poin tentang kebiasaan membaca komentar online memang ironis. Di satu sisi, masyarakat kita aktif dalam menyerap informasi digital. Namun, aktivitas ini seringkali bersifat fragmentaris, dangkal, dan tidak terstruktur, jauh berbeda dengan proses membaca buku atau artikel yang mendalam dan analitis. "Membaca" dalam konteks ini lebih kepada konsumsi informasi instan, bukan penguasaan pengetahuan yang komprehensif. 

Berawal dari Membaca dan Menulis
Dari pembiasaan membaca dan menulis
Membunuh Keberanian Bertanya: Analisis Anda mengenai bagaimana sistem pendidikan kita cenderung menghargai jawaban cepat dan menghukum pertanyaan adalah inti dari masalah ini. Budaya kelas yang demikian menciptakan iklim di mana: 
Bertanya dianggap aib: Murid yang bertanya seringkali dicap kurang pintar atau lambat memahami. Rasa malu dan takut dihakimi menghambat keinginan untuk bertanya. 

Jawaban adalah tujuan utama: 
Fokus pada hafalan dan reproduksi jawaban yang benar dalam ujian menggeser esensi pembelajaran yang seharusnya berpusat pada pemahaman dan eksplorasi. Kritis dianggap resisten: Sikap mempertanyakan atau mencari sudut pandang lain seringkali disalahartikan sebagai ketidakpatuhan atau bahkan pemberontakan. Akibatnya, generasi yang tumbuh dalam sistem ini kehilangan rasa ingin tahu alami mereka. Mereka terbiasa menjadi penerima pasif informasi, bukan pencari aktif pengetahuan. 
Kemampuan untuk berpikir kritis, menganalisis informasi secara mendalam, dan merumuskan pertanyaan yang relevan menjadi terhambat. Pergeseran Paradigma yang Dibutuhkan: Gagasan Pak Rizal tentang "revolusi kultural" sangat relevan. Perubahan struktural dalam kurikulum atau fasilitas pendidikan saja tidak akan cukup jika tidak diiringi dengan perubahan mendasar dalam cara kita memandang proses belajar dan mengajar. Beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan: Merayakan pertanyaan: Sekolah dan lingkungan belajar harus menciptakan ruang aman dan inklusif di mana pertanyaan dihargai sebagai wujud keingintahuan dan langkah awal menuju pemahaman yang lebih baik. 
Guru perlu memfasilitasi diskusi yang mendorong siswa untuk bertanya dan mengeksplorasi berbagai perspektif. Fokus pada proses, bukan hanya hasil: Penilaian tidak seharusnya hanya berorientasi pada jawaban yang benar, tetapi juga pada kemampuan siswa dalam merumuskan pertanyaan yang baik, melakukan riset, menganalisis informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran mereka secara efektif. Ide Anda tentang ujian yang berfokus pada pembuatan pertanyaan sangat menarik dan patut dipertimbangkan. Menumbuhkan budaya membaca yang menyenangkan: Membaca seharusnya tidak menjadi beban atau kewajiban, tetapi sebuah kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat. Menyediakan akses ke buku yang beragam dan menarik, serta menciptakan kegiatan yang mempromosikan kecintaan membaca sejak dini, sangatlah penting. 
Contoh di Inggris di mana anak-anak membaca karena ingin tahu, bukan karena disuruh, adalah cerminan dari budaya membaca yang kuat. Mendorong pembelajaran sepanjang hayat (Learn, Unlearn, Relearn): Konsep ini menekankan pentingnya fleksibilitas dan adaptabilitas dalam belajar. Kita perlu terus belajar, melepaskan pemahaman lama yang tidak lagi relevan, dan belajar kembali dengan perspektif yang lebih segar. Ini membutuhkan keberanian untuk mengakui ketidaktahuan dan terus mencari pemahaman yang lebih mendalam. 
Rendahnya literasi di Indonesia bukan semata-mata persoalan kurangnya minat membaca buku. Akar masalahnya lebih dalam, terkait dengan sistem pendidikan dan budaya yang kurang menghargai pertanyaan, terlalu fokus pada jawaban, dan belum sepenuhnya menumbuhkan budaya membaca yang didasari oleh rasa ingin tahu. Literasi yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk berpikir kritis, memahami informasi secara mendalam, dan memiliki keberanian untuk terus bertanya. Untuk meningkatkan literasi, kita perlu melakukan revolusi kultural dalam cara kita melihat belajar dan menumbuhkan generasi yang tidak hanya rajin menjawab, tetapi juga gemar bertanya dan memahami.

Read More »
23 May | 0komentar

Penguatan Literasi dan Numerasi

Rendahnya tingkat kemampuan literasi dan numerasi Indonesia memang sangat mengkhawatirkan. Survei PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2015 dan 2018 lalu menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi siswa Sekolah Menengah usia 15 tahun di Indonesia berada di peringkat yang memprihatinkan. 
Dari survei tahun 2015, kompetensi literasi siswa Indonesia berada di peringkat 63 dari 69 negara yang disurvei (OECD, 2016). Sementara, survei tahun 2018 menunjukkan kemampuan literasi siswa Indonesia berada di peringkat 72 dari 77 negara yang disurvei, kemampuan numerasi berada di peringkat 72 dari 78 negara, sedangkan kemampuan sains berada di peringkat 70 dari 78 negara (OECD, 2019).Dari penelitian Miller ini juga ditemukan bahwa lamanya siswa menuntaskan masa wajib belajar ternyata tidak berhubungan erat dengan nilai akhir mereka. Diasumsikan bahwa keberhasilan siswa di sekolah tidak berbanding lurus dengan lamanya mereka sekolah. Ada hal lain yang cukup signifikan yang membuat mereka berhasil dalam belajar, yaitu kemampuan literasi. Negara-negara yang dianggap berhasil dalam pendidikan nasional mereka seperti Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia memiliki budaya membaca yang sangat kuat. Budaya membaca yang kuat merupakan salah satu strategi terbaik dalam pengembangan kemampuan literasi
Secara umum, pemahaman literasi dan numerasi di sekolah kita masih sangat dasar, yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berhitung saja. Tidaklah mengherankan jika pembelajaran literasi dan numerasi dalam sistem pendidikan kita masih bertumpu hanya pada pelajaran bahasa dan matematika. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang literasi dan numerasi sendiri masih belum menyeluruh, khususnya di antara para guru sebagai pihak yang semestinya mengajarkan kemampuan tersebut. Masih ada guru yang masih beranggapan bahwa literasi hanya diajarkan dalam pelajaran bahasa, dan numerasi hanya diajarkan dalam pelajaran matematika. Dengan demikian guru-guru mata pelajaran selain bahasa dan matematika memiliki anggapan yang salah bahwa pembelajaran literasi dan numerasi bukan tanggung jawab mereka, dan tidak ada kaitannya dengan mata pelajaran yang mereka ajar.

Read More »
14 August | 0komentar

Kemampuan Interpersonal dan Literasi


Manfaat literasi yang paling signifikan dirasakan seseorang ialah dalam kemampuannya berbahasa, bukan hanya dalam hal membaca dan menulis, namun juga dalam mendengar dan berbicara. siswa yang menerapkan kemampuan literasi dalam proses belajarnya dapat memahami materi yang diajarkan secara menyeluruh dan mendalam. Kebiasaan membaca dan menyimak berbagai informasi yang disajikan akan menambah, bahkan memperkaya kosa kata, gaya penulisan atau gaya bicara yang akan berdampak baik bagi kemampuan menulis dan berbicara seseorang. Penulis dan pembicara yang mumpuni adalah pembaca dan pendengar yang kuat. 
Semakin banyak membaca dan menyimak, semakin kaya ide, kosa kata, dan gaya penulisan seseorang, sehingga dapat merangkai kalimat-kalimat yang bermakna kuat baik itu dalam bentuk ceramah yang menginspirasi maupun karya tulis yang berkualitas. Bukan hanya memproduksi ceramah dan karya tulis berkualitas, kemampuan literasi membuat seseorang bersikap kritis terhadap apa yang dibaca dan didengar, maupun terhadap keadaan atau situasi yang dihadapinya atau dunia sekitarnya. Dalam hal ini, seorang yang literat tidak mudah menelan informasi yang diterima mentah- mentah. Ia akan menggunakan nalarnya dalam mencerna informasi tersebut sehingga tidak mudah termakan isu kebohongan atau penipuan. 
Seorang yang literat akan selalu mencari kebenaran sejati dari sumber yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan baik secara moral maupun secara saintifik. Sikap kritis yang dikembangkan melalui literasi ini pun menumbuhkan kebiasaan untuk berani menyampaikan pendapat dengan akurat dan santun, serta menerima pendapat orang, sekalipun pendapat itu berbeda dengan pendapatnya. Tidak hanya berani mengemukakan pendapat, seorang yang literat akan menyampaikan pendapat yang bermakna atau berbobot yang relevan dengan dunia sekitarnya.
Literasi juga mengembangkan kemampuan verbal seseorang sehingga ia mampu memberi respon yang tepat dalam situasi yang berbeda. Dalam hal inilah literasi pun bermanfaat meningkatkan kemampuan interpersonal seseorang dalam berinteraksi atau bekerjasama dengan individu lain atau dalam kelompok. Jika sekolah telah membangun budaya literasi, maka guru dan siswa akan terbiasa mengkonsumsi beraneka ragam bacaan yang akan memberi mereka berbagai manfaat (Thanh, 2018)

Read More »
08 August | 0komentar

Workshop Penguatan Literasi dan Numerasi

Rendahnya tingkat kemampuan literasi dan numerasi Indonesia memang sangat mengkhawatirkan. Survei PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2015 dan 2018 lalu menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi siswa Sekolah Menengah usia 15 tahun di Indonesia berada di peringkat yang memprihatinkan. 
Dari survei tahun 2015, kompetensi literasi siswa Indonesia berada di peringkat 63 dari 69 negara yang disurvei (OECD, 2016). Sementara, survei tahun 2018 menunjukkan kemampuan literasi siswa Indonesia berada di peringkat 72 dari 77 negara yang disurvei, kemampuan numerasi berada di peringkat 72 dari 78 negara, sedangkan kemampuan sains berada di peringkat 70 dari 78 negara (OECD, 2019).Dari penelitian Miller ini juga ditemukan bahwa lamanya siswa menuntaskan masa wajib belajar ternyata tidak berhubungan erat dengan nilai akhir mereka. Diasumsikan bahwa keberhasilan siswa di sekolah tidak berbanding lurus dengan lamanya mereka sekolah. Ada hal lain yang cukup signifikan yang membuat mereka berhasil dalam belajar, yaitu kemampuan literasi. Negara-negara yang dianggap berhasil dalam pendidikan nasional mereka seperti Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia memiliki budaya membaca yang sangat kuat. Budaya membaca yang kuat merupakan salah satu strategi terbaik dalam pengembangan kemampuan literasi
Secara umum, pemahaman literasi dan numerasi di sekolah kita masih sangat dasar, yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berhitung saja. Tidaklah mengherankan jika pembelajaran literasi dan numerasi dalam sistem pendidikan kita masih bertumpu hanya pada pelajaran bahasa dan matematika. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang literasi dan numerasi sendiri masih belum menyeluruh, khususnya di antara para guru sebagai pihak yang semestinya mengajarkan kemampuan tersebut. Masih ada guru yang masih beranggapan bahwa literasi hanya diajarkan dalam pelajaran bahasa, dan numerasi hanya diajarkan dalam pelajaran matematika. Dengan demikian guru-guru mata pelajaran selain bahasa dan matematika memiliki anggapan yang salah bahwa pembelajaran literasi dan numerasi bukan tanggung jawab mereka, dan tidak ada kaitannya dengan mata pelajaran yang mereka ajar.

Read More »
05 August | 0komentar

Classpoint Inklude PPT

Media pembelajaran sebagai sebuah keniscayaan bagi guru. Media sebagai pengantar bagi guru agar peserta didik mudah dalam mencerna materi. Media sebagai alat bantu mengajar bagi guru untuk menyampaikan materi pengajaran, meningkatkan kreatifitas peserta didik dan meningkatkan perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran. Menggunakan media peserta didik akan termotivasi untuk belajar, mendorong peserta didik menulis, berbicara dan berimajinasi semakin terangsang. Melalui media pembelajaran dapat membuat proses belajar mengajar lebih efektif dan efisien serta terjalin hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik. Selain itu, media dapat mengatasi kebosanan belajar di kelas. 
Pada jaman kini sebuah media dituntut untuk menyesuaikan dengan perkembangan jaman dan eranya. Anak-anak memiliki kesenangan terhadap media yang interaktif. Di era digital, guru harus mampu mengoptimalkan peralatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai media pembelajaran. Untuk mempermudah dalam menggunakan TIK guru dapat mengikuti pelatihan, baik secara langsung atau online. 
Penggunaan media khususnya pada Pembelajaran digital merupakan suatu sistem yang dapat memfasilitasi peserta didik agar mampu belajar dengan lebih luas, lebih banyak, dan bervariasi. Materi pembelajaran yang dipelajari lebih bervariasi, tidak hanya dalam bentuk verbal, melainkan lebih bervariasi seperti teks, visual, audio, dan gerak. Dalam hal ini dapat membuat kelas menjadi menyenangkan, dan membuat peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran. 
Dalam proses pembelajaran tak terkecuali pembelajaran Biologi, kehadiran media pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, meningkatkan motivasi, dan memberikan rangsangan tersendiri (Azhar, 2010: 15). 
Salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran yang sangat interaktif adalah yaitu Classpoint. Classpoint merupakan suatu aplikasi yang bisa dimanfaatkan oleh guru untuk membuat kuis dalam proses belajar-mengajar, serta peserta didik dapat menjawab pertanyaan yang lebih menarik dengan adanya soal multiple choice, short answer, word cloud, slide drawing, mode kompetisi, dan masih banyak lagi (Jeklin, 2021). 
Aplikasi Classpoint dapat diunduh pada halaman website resmi aplikasi ini di https://classpoint.io. Untuk bisa mengunduh aplikasi ini, komputer minimal Windows 7 dengan aplikasi Microsoft Office minimal tahun 2013. Aplikasi Classpoint akan terintegrasi dengan powerpoint (PPt). 
Pada Classpoint terdapat kode kelas yang nantinya akan digunakan peserta didik untuk login. Penggunaan Classpoint dapat secara cepat dalam memeriksa hasil kuis. Kemudian Classpoint juga memberikan sejumlah fitur untuk membuat materi pembelajaran yang menarik. Dengan menggunakan Classpoint guru dapat menambahkan slide yang berisikan untuk menambahkan foto, sehingga menjadikan peserta didik lebih tertarik dalam mengikuti kegiatan belajar. 
Media pembelajaran Classpoint memiliki kelebihan yaitu soal-soal yang disajikan memiliki batasan waktu, peserta didik diajarkan utuk berpikir secara tepat dan cepat dalam mengerjakan soal yang ada pada Classpoint. Selain itu, peserta didik dapat diberi peringkat secara otomatis. Dalam hal ini Classpoint dapat terintegrasi dengan platform konferensi video seperti Google Meet dan Zoom. Dengan demikian, media presentasi Classpoint ini bisa menarik perhatian peserta didik sehingga dapat memfokuskan dirinya dan memotivasi dirinya sendiri untuk belajar dengan suasana yang menyenangkan sehingga membuat peserta didikmelakukan usaha belajar yang berakibat meningkatnya hasil belajar mereka.

Read More »
28 July | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 1.4

Pada kesempatan ini saya akan menulis tentang apa yang sudah saya lakukan pada pendidikan Guru penggerak di materi Modul 1.4 yaitu tentang Budaya Positif. Jurnal Dwi mingguan ini harus saya tulis untuk menggambarkan refleksi saya setelah mempelajari Modul 1.4 dan ini merupakan tugas setelah berakhirnya modul yang dipelajari sebagai seorang Calon Guru Penggerak. Saya akan menuliskan semua pengalaman saya dan semua yang saya rasakan selama mempelajari modul 1. 4 ini dalam artikel ini dengan model refleksi 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway yaitu:

1. Facts (Peristiwa)
Setelah mempelejarai modul 1.3 tentang visi guru penggerak kami melanjutkan ke modul 1.4 tentang budaya positif. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan pembelajaran modul 1.4 sudah dimulai pada tanggal 10 Oktober 2022 dengan mempelajari materi tentang eksplorasi konsep yang kami pelajari secara mandiri. Pada modul 1.4 tentang Budaya Positif ini banyak ilmu baru yang saya pelajari. Dimulai dengan kegiatan Mulai Dari Diri, dengan mempelajari sub modul dengan tujuan pembelajaran khusus mengaktifkan pengetahuan awal apa yang telah dipelajari sebelumnya tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep lingkungan dan budaya positif di sekolah. Kemudian dilanjut ke sub modul Eksplorasi konsep yang mencakup beberapa bagian yaitu : Disiplin positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal, Lima Posisi Kontrol, Teori Motivasi, 
Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, dan yang terakhir Segitiga Restitusi. Pada tanggal 14 Oktober 2022 kami bertemu di ruang kolaborasi yang didampingi dengan fasilitator Ibu Sulastri membahas tentang beberapa kasus murid yang ada di sekolah. Kami dibagi menjadi 3 kelompok untuk memecahkan permasalahan yang ada dengan menyelesaikan kasus tersebut dengan segitiga restitusi, serta menjelaskan posisi kontrol. Ruang kolaborasi dilanjutkan pada hari berikutnya yaitu pada tanggal 17 Oktober 2022, pada pertemuan ini setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi pada pertemuan sebelumnya. 
Diskusi berjalan dengan baik dan lancar. Ada beberapa masukan dari teman dan Fasilitator untuk ditambahkan dalam persentasi kami. Dan selanjutnya kami upload di LMS. Setelah itu kami mendalami materi dalam kegiatan Elaborasi Pemahaman bersama instruktur pada tanggal 21 Oktober 2022. Pemahaman saya bertambah jelas setelah mendapat pencerahan dari instruktur. Kemudian saya diminta untuk membuat Koneksi antar materi, mengaitkan materi sebelumnya dengan materi sekarang. Dan di akhiri dengan membuat Aksi Nyata. Dengan harapan setelah mempelajari sub-sub modul tersebut calon guru penggerak akan mampu menjadi motor penggerak perubahan budaya positif di satuan Pendidikan masing-masing dengan berkolaborasi bersama para pemangku kepentingan agar tercipta ekosistem sekolah yang lebih berpihak pada murid sesuai dengan cita-cita luhur Ki Hadjar Dewantara.
2. PERASAAN/FEELING
Perasaan saya selama mempelajari modul 1.4 tentang Budaya Positif ini adalah senang dan semakin termotivasi untuk lebih bersemangat dalam menjalankan pendidikan guru penggerak. Selain itu saya juga berusaha semaksimal mungkin dalam menerapkan dan menjalankan budaya positif yang diterapkan di kelas dan di sekolah. Dimulai dari penetapan keyakinan dan kebijakan kelas yang disepakati dan ditaati oleh seluruh murid di kelas masing-masing. Penerapan posisi kontrol juga menjadi perhatian bagi saya, Yangg dulu saya memposisikan diri pada posisi control pemantau dan penghukum sekarang belajar berada posisi control manager dalam penyelesaian permasalahan murid.
3.PEMBELAJARAN/FINDING
Pembelajaran bermakna yang saya peroleh setelah mempelajari modul 1.4 adalah bahwa sebagai calon guru penggerak harus mampu menempatkan diri dalam posisi kontrol yang tepat dalam penerapan budaya positif disekolah yaitu posisi kontrol sebagai manajer dengan menerapkan segitiga restitusi sebagai solusi ketika ada murid yang melanggar keyakinan kelas. Kenapa dengan segitiga restitusi? karena restitusi menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Dan saya merasakan hal tersebut memang benar, menyelesaikan masalah dengan hukuman tidak menyelesaikan masalah justru membuat keadaan semakin rumit. Segitiga restitusi adalah penyelesaiannya. Dengan segitiga restitusi masalah selesai dengan damai dan anak-anak pun tidak kehilangan identitas mereka, justru mereka Kembali dengan karakter yang lebih kuat dan lebih baik.
4.PENARAPAN KE DEPAN (FUTURE)
Setelah mempelajari modul 1.4 ini yaitu tentang budaya posistif maka saya lebih paham tentang Disiplin positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal, Lima Posisi Kontrol, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Segitiga Restitusi. Perubahan yang saya rasakan adalah saya merasa harus tergerak, bergerak dan menggerakkan orang-orang yang ada di sekitar saya untuk segera mengetahui materi yang saya dapatkan ini. Hal yang akan saya lakukan untuk melakukan perubahan yang positif dengan lebih memperhatikan kebutuhan peserta didik, menggunakan posisi kontrol sebagai manager dalam menangani kasus siswa, menerapkan segitiga restitusi dan selalu menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif disekolah dengan berkolaborasi dengan warga sekolah dan berbagai pemangku kepentingan, meskipun hal tersebut memerlukan waktu yang tidak sebentar karena melakukan perubahan yang sudah menjadi kebiasaan tidak lah mudah. Tapi kita harus bergerak menuju perubahan yang lebih baik

Read More »
24 August | 0komentar

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 1.3

Melakukan refleksi kegiatan-kegiatan pelatihan yang sudah dilakukan, khususnya pada modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak. Dalam menulis jurnal refleksi menggunakan model 1 yaitu model 4F (1. Fact; 2. Feeling; 3. Findings; dan 4. Future), yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (1. Peristiwa; 2. Perasaan; 3. Pembelajaran; dan 4. Penerapan).
1. Facts (Peristiwa)
Setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara, dan modul 1.2. tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Setelah iu, saya beserta CGP Angkatan 6 kabupaten Purbalingga mulai mempelajari modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak, secara daring menggunakan LMS Pendidikan Guru Penggerak, kegiatan ini menggunakan alur yang disebut dengan alur MERDEKA yaitu: 
(1) Mulai dari diri 
Saya mulai mempelajari modul 1.3. dengan membuka tautan mulai dari diri. Di sini saya mendapat tugas untuk membuat gambaran imajiku tentang murid di masa depan. Jadi, saya harus membuat satu gambar mengenai murid yang saya dambakan 5-10 tahun mendatang. Saya juga menjelaskan situasi murid, peran guru, juga suasana sekolah sesuai dengan cita-cita saya. Pada tugas ini impian murid saya adalah murid yang unggul dan religius, yang tentunya juga gambaran dari profil Pelajar Pancasila. 
Mengimajinasikan sosok murid impian adalah hal yang selama ini tidak terpikirkan, saya baru baru tersadar bahwa seharusnya seorang guru memiliki impian indah tentang murid-muridnya di masa depan dan memotivasi diri untuk mewujudkannya. Tugas yang telah saya buat dapat dilihat pada video berikut: 
(2) Eksplorasi konsep 
Di bagian eksplorasi konsep, saya diberi pengantar tentang paradigma inkuiri apresiatif. Di bagian pengantar, saya juga diberi puisi pemantik yang berjudul “Aku Melihat Indonesia” karya Soekarno. Setelah itu, saya mempelajari materi tentang “Berpikir Strategis”, “Inkuiri Apresiatif sebagai Paradigma”, “Inkuiri Apresiatif sebagai Pendekatan Manajemen Perubahan (BAGJA)”, “Tahapan BAGJA”, “Proses Inkuiri dalam BAGJA”, dan “Amati - Tiru – Modifikasi”. Setelah itu, saya melakukan refleksi mandiri tentang pengalaman yang sudah dilakukan menggunakan kanvas BAGJA. Setelah itu saya, melakukan diskusi asinkron. Ada dua topik dalam diskusi asinkron. 
1. Berbagi Visi Murid Impian 
2. Berbagi Tugas Kesimpulan tentang Inkuiri Apresiat 

(3) Ruang kolaborasi 
Ruang kolaborasi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok yang dipandu oleh fasilitator yaitu Ibu Yulia Verawati. dan yang kedua adalah bagian presentasi hasil diskusi kelompok. Semua itu dilakukan melalui GMeet. Pada ruang kolaborasi ini, kami dibagi menjadi 2 kelompok dan saya berada dikelompok 1 bersama Bapak Aziz, Bapak Catur, Ibu Roni, Ibu Caroline, Ibu Muhti, dan Bp.Anto. Di dalam kelompok ini, kami diminta membuat atau menyusun rencana BAGJA dari kalimat Prakarsa perubahan. 

(4) Demonstrasi kontektual 
Di bagian Demontrasi kontekstual ini, saya mendapatkan tugas tentang penerapan inkuiri apresiatif dengan membuat Prakarsa perubahan dengan tahapan BAGJA. 
(5) Elaborasi pemahaman 
Di bagian ini, saya ditugaskan untuk memberikan pertanyaan yang dapat menguatkan pemahaman saya tentang isi modul 1.3. Beberapa pertanyaan yang akan mengguatkan pemahaman saya akan materi konsep di modul 1.3 adalah: 
1. Saat menyusun Kanvas Bagja secara kolaborasi dengan sesama CGP, Apakah harus sama dengan yang lain? 
2. Adakah ada aturan tertentu dalam pembuatan visi sekolah? 
3. Bagaimana cara mengolaborasikan visi sekolah jika setiap guru memiliki visi yang berbeda-beda dan mereka kukuh dengan visinya masing-masing? Saya juga melakukan elaborasi pemahaman dengan instruktur melalui Gmeet pada tanggal 6 Oktober 2022 pukul 13.30 – 17.00 WIB. Instruktur yang memandu kegaiatan elaborasi adalah Ibu Karunianingtyas Rejeki.

(6) Koneksi antar materi 
Bagian ini adalah pengaitan antar materi yang sudah saya pelajari mulai dari modul 1.1, 1.2, dan 1.3. Tugas di bagian ini adalah menjawab kaitan peran pendidik dalam mewujudkan filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara, dan Profil pelajar Pancasila pada murid-murid dengan paradigma inkuiri apresiatif. Selain itu, saya juga harus membuat revisi dan merumuskan dengan penuh keyakinan visi yang telah dibuat berdasarkan jawaban pertanyaan di atas, ke dalam sebuah visi yang membuat saya bersemangat ketika membacanya, dan menggerakkan hati setiap orang yang membacanya. 

(7) Aksi nyata 
Aksi nyata berisi pemahaman saya tentang modul 1.3. yang diterapkan secara nyata. Di aksi nyata ini saya melakukan Prakarsa Perubahan dengan membuat kegiatan pembelajaran yang meningkatkan keaktifan siswa melalui media classpoint.

2. Feelings (Perasaan)
Selama saya mempelajari Modul 1.3., saya merasakan perasaan yang semangat, bangga, senang, dan tentunya tertantang. Saya semangat karena di modul 1.3. ini saya bisa mempelajari materi tentang visi guru penggerak yang cukup mencerahkan bagi saya dan tentunya menambah semangat saya sebagai guru. Saya bisa lebih paham tentang apa itu inkuiri apresiatif, Prakarsa perubahan, dan tahapan BAGJA. Saya bangga karena saya memiliki kesempatan untuk mempelajari materi yang sangat luar biasa dan sangat bermanfaat ini. Saya senang karena bisa berkolaborasi dengan teman CGP lain untuk membuat presentasi tentang pembuatan prakarsa perubahan dengan tahapan BAGJA. Saya juga sangat tertantang dengan tugas-tugas yang diberikan di sela kesibukan saya sebagai guru di sekolah.
3. Findings (Pembelajaran)
Di Modul 1.3. saya mendapatkan materi tentang paradigma inkuiri apresiatif (IA), yakni pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Pendekatan IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi. Saya juga mempelajari tahapan BAGJA sebagai salah satu kegiatan dalam manajemen perubahan. Adapun tahapan dalam BAGJA adalah - Buat pertanyaan utama, - Ambil pelajaran, - Gali mimpu, - Jabarkan rencana, - Atur eksekusi.
4. Future (Penerapan)
Setelah mempelajari modul 1.3 tentang visi guru penggerak, saya termotivasi untuk menjadi bagian dari perubahan dan mencoba mulai dari diri sendiri untuk melakukan hal terbaik dalam menentukan prakarsa perubahan guna mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid agar tujuan pendidikan dapat tercapai sejalan dengan pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara yaitu mewujudkan murid agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan. saya akan menerapkan inkuiri apresiatif untuk melaksanakan manajemen perubahan di sekolah saya. Saya akan membuat prakarsa perubahan untuk mewujudkan kebiasaan-kebiasaan baru yang tentunya akan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Ke depannya peningkatan kualitas pembelajaran itu akan lebih cepat dalam mewujudkan siswa dengan karakter profil pelajar Pancasila. Sebelum itu, saya termotivasi untuk berkolaborasi dengan rekan sejawat dan berkonsultasi dengan kepala sekolah dalam rangka merumuskan Visi Sekolah yang berpihak pada murid. Selain itu, saya juga akan mensosialisasikan paradigma inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA untuk mempermudah pencapaian Visi Sekolah.

Read More »
23 August | 0komentar