Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In

Model Pembelajaran Discovery Learning

Discovery Learning

Model pembelajaran discovery learning atau dalam bahasa Indonesia disebut pembelajaran penemuan, dimana aktivitas pembelajaran akan dipresentasikan kepada siswa secara langsung namun siswa dituntut untuk bisa memahami materi secara mandiri dengan menggunakan metode tertentu.
Dalam memahami sebuah materi siswa bisa melaksanakan pendekatan saintifik yang diantaranya adalah mengamati, observasi, pengklasifikasian, menciptakan asumsi, menjabarkan, dan membuat kesimpulan. Sehingga materi bisa ditemukan menjadi sebuah teori atau konsep prinsip yang bisa dipahami. 

Pengertian 
Model pembelajaran discovery learning ini merupakan pembelajaran yang disampaikan kepada siswa dan siswa akan memahaminya secara independen. Dalam hal ini siswa akan diberi kemampuan cara menjadi seorang ilmuwan. Dengan pembelajaran ini siswa tidak hanya berperan pasif menerima materi pelajaran. Namun juga memprosesnya sampai memahami dan menguasai yang biasa disebut pembelajaran aktif. Sehingga siswa bisa terbiasa untuk menciptakan sebuah ilmu pengetahuan.

Menurut Para Ahli 

Agar pemahaman tentang pembelajaran discovery learning bisa lebih dalam berikut beberapa pengertian menurut para ahli dan beberapa referensi buku: Berdasarkan Sund, Discovery learning merupakan aktivitas intelektual siswa dimana mereka mampu menguraikan sebuah prinsip atau konsep. 
Aktivitas intelektual diantaranya adalah mengobservasi, memahami, mampu mengklasifikasikan, menciptakan asumsi, menjabarkan, menakar, menciptakan kesimpulan (Suryabrata, 2002:193). Berlandaskan Hosnan (2014:282), discovery learning adalah model pengembangan kemampuan belajar aktif pada siswa agar bisa investigasi dan mendapatkan ilmu secara mandiri. Dengan belajar aktif ini siswa juga bisa dilatif berpikir secara analisis dan problem solving sehingga ilmu pengetahuan bisa bertahan lama dalam diri siswa. 

Berdasarkan Ruseffendi (2006:329), Model pembelajaran discovery learning merupakan model yang mengelola pembelajaran yang bisa membuat siswa mendapatkan ilmu pengetahuan secara mandiri dan belum diketahui oleh dirinya secara aktif. 

Berlandaskan Kurniasih, dkk (2014:64), discovery learning adalah aktivitas pembelajaran dimana materi disampaikan secara langsung kepada siswa. Selanjutnya siswa dianjurkan untuk mengelola materi tersebut secara mandiri. Dimana mereka harus bisa menemukan konsep berdasarkan data atau informasi dengan cara penelitian. 


Jenis dan Bentuk Discovery Learning 

Berdasarkan Suprihatiningrum (2014:244), Discovery learning ada dua bentuk dalam implementasinya, yakni: 

1. Guided Discovery Learning atau pembelajaran penemuan terbimbing, yaitu bentuk yang memerlukan arahan guru sebagai penyedia dalam aktivitas pembelajaran. 
2. Free Discovery Learning atau pembelajaran penemuan bebas, yaitu bentuk yang bebas dimana siswa harus bisa berperan aktif secara mandiri dan tidak memerlukan fasilitator seperti guru. 

Selain itu model pembelajaran discovery learning juga bisa dilakukan dengan hubungan dua arah dan satu arah. Penjabaran lebih lanjut bisa berlandaskan pada (Oemar Hamalik, 2009:187) yakni: 

  1. Hubungan dua arah adalah dimana siswa harus bisa berkomunikasi dengan guru seperti menjawab pertanyaan. Lalu guru melakukan komunikasi dengan siswa dengan cara panduan secara baik. 
  2. Hubungan satu arah adalah siswa siswa akan diberi stimulus agar mereka bisa melaksanakan penemuan. Dimana guru akan memberikan sebuah masalah kepada siswa, dan mereka akan membuat solusi dengan metode penemuan. 


Karakteristik dan Tujuan Discovery Learning 

Berdasarkan penuturan Hosnan (2014) model discovery learning memiliki karakteristik berupa eksplorasi dan membuat solusi agar bisa membuat, memadukan dan mengumumkan sebuah pengetahuan. Berfokus pada peserta didik. Aktivitas untuk memadukan ilmu pengetahuan baru dan lama. 
  • Sementara tujuan dari discovery learning berdasarkan (Hosnan, 2014) adalah agar siswa bisa independen dan inovatif. Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut: 
  • Ketika aktivitas penemuan berlangsung peserta didik akan berperan aktif dalam pembelajaran. Sehingga peserta didik bisa menghargai usaha penemuan pengetahuan yang dilaksanakannya. 
  • Dengan pembelajaran discovery learning ini, peserta didik akan bisa mengembangkan proses berpikir induktif dimana mereka bisa melakukan penjelasan secara abstrak dan konkret. Sehingga dalam menemukan solusi jadi lebih mudah. 
  • Peserta didik akan bisa mengembagnkan/meningkatkan rencana tanya jawab yang lebih terarah dan terstruktur. Dan tanya jawab bisa menjadi sumber data dan informasi yang efektif dalam aktivitas discovery learning. 
  • Pembelajaran penemuan atau discovery learning bisa menolong peserta didik dalam melatih kerja sama antar mereka. Peserta didik bisa saling berbagi data, mengungkapkan pendapat dan gagasan.
  • Dengan keterampilan penemuan atau discovery ini siswa bisa menemukan beberapa kasus masalah yang nantinya bisa ditemukan solusinya. Sehingga ilmu pengetahuan bisa lebih mudah untuk dibagi dan selanjutnya lebih mudah untuk diimplementasikan sebagai bahan pembelajaran yang baru. Baca juga: Tujuan Pembelajaran 


Langkah-langkah atau Sintaks Discovery Learning 

Berdasarkan penuturan Veerman (2003) secara singkat dan rinci langkah-langkah pembelajaran discovery learning adalah apa yang akan kami jelaskan di bawah, berikut diantaranya:  

Orientation 
Pada sesi awal ini yakni orientation, siswa akan dituntut untuk bisa memperhatikan informasi dari mulai latar belakang, pengenalan masalah dan kejadian, mengaitkan kejadian dengan pengetahuan lama. 
Sintaks atau langkah 
orientation akan membuat kekuatan tafsir, analisis dan evaluasi akan berkembbang sehingga siswa bisa berpikir kritis. Pada sesi ini guru akan memberi materi yang sesuai dengan kejadian nyata dan nantinya siswa akan dipusatkan untuk mempelajari materi dan permasalahannya. Kejadian yang dipresentasikan membuat siswa bisa mudah untuk dinilai. 

Hypothesis Generation 
Data tentang kejadian yang diperoleh pada sesi orientation akan dipakai pada sesi ini, yakni hypothesis generation. Pada sintaks ini siswa akan membuat hipotesis yang berhubungan dengan masalah. Siswa akan memformulasikan masalah yang ada dan menemukan tujuan dari proses pembelajaran. Manfaat dari langkah hypothesis generation adalah mengembangkan keahlian siswa dalam analisis, tafsir, evaluasi dan deduksi (mengambil kesimpulan). 

Hypothesis Testing 
Hypothesis merupakan output dari langkah kedua yakni hypothesis generation. Yang mana keabsahannya kurang dipercaya sehingga dalam melakukan pembuktian siswa dituntut untk melakukan sesi ini yakni Hypothesis Testing. Pada langkah ini siswa dituntut untuk bisa membuat strategi dan melakukan penelitian agar keabsahan hipotesis yang telah diformulasikan, dihimpun datanya dan menghubungkan hasil dari eksperimen menjadi terbukti. Pada sintaks atau tahap ini siswa akan didorong untuk bisa mengembangkan keahlian dalam mengatur diri, evaluasi, analisis, menafsirkan dan mengungkapkan suatu konsep abstrak maupun konkret. 

Conclusion 
Aktivitas siswa pada sesi conculisan adalah mengulas kembali hipotesis yang sudah diformulasikan dengan fakta yang sudah didapat dari Hypothesis Testing. Siswa akan menentukan apakah fakta yang telah diuji dari hypothesis testing sesuai dengan yang sudah diformulasikan. Pada sesi conclusion ini siswa bisa membuat perubahan hipotesis lama dengan yang baru. Pada sintaks atau langkah conclusion bisa membuat siswa berkembang di ranah cara menyimpulkan, menganalisis, menafsirkan, evaluasi dan menjabarkan. 

Regulation 
Pada sesi regulation ini siswa akan melakukan aktivitas berupa menyusun strategi, memeriksa dan evaluasi. Penyusunan strategi mengaitkan antara aktivitas memutuskan tujuan dan metode untuk meraih tujuan tersebut. Aktivitas memeriksa atau mentoring adalah aktivitas yang mana untuk memahami kebenaran dari action yang dilakukan siswa yang berhubungan dengan hasil yang telah disusun strateginya. Guru akan memverifikasi hasil yang ada sehingga konsep bisa sesuai dengan aktivitas pembelajaran. Sintaks atau langkah regulation akan membuat siswa menjadi lebih mampu untuk mengevaluasi, dan mengatur diri serta bisa menganalisis, menjabarkan, menafsirkan dan menyimpulkan.

Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning 
Berdasarkan penuturan Suherman, dkk (2001:179) menyatakan bahwa terdapat keunggulan atau kelebihan yang bisa diambil dari model discovery learning, yakni: 

Kelebihan 
Dalam aktivitas belajar siswa akan aktif, ini dikarenakan mereka akan menyelesaikan permasalahan atau menemukan pengetahuan secara mandiri. 
Dengan model discovery learning siswa akan menguasai pelajaran secara mendalam. Ini dikarenakan siswa mencerna dan menemukan sendiri ilmu pengetahuan itu sehingga bisa lebih bertahan lama dalam ingatannya. 
Dengan memahami dan menemukan secara mandiri akan memicu rasa puas. Rasa puas tersebut akan memotivasi siswa untuk memahami dan menemukan lagi. ini menjadikan minat belajar akan berkembang. Siswa yang mendapatkan ilmu pengetahuan dengan discovery learning akan lebih sanggup membagi ilmu pengetahuannya di berbagai aspek. 
Dengan metode discovery learning in siswa akan terlatih untuk bisa belajar secara mandiri.

Kekurangan 
Sementara berdasarkan penuturan Kurniasih, dkk (2014:64-65), terdapat beberapa kekurangan kelemahan dari Discovery Learning, berikut diantaranya: 
Model ini akan memicu sebuah anggapan setiap pikiran pasti sudah siap untuk belajar. Namun untuk siswa yang lemah, mereka akan mendapati kesukaran dalam berpikir abstrak atau menjabarkan sebuah pengetahuan melalui tulisan maupun ucapan sehingga siswa tersebut bisa terkuras mentalnya. Dalam prakteknya model discovery learning kurang bisa mengcover jumlah siswa yang jumlahnya banyak. Ini disebabkan akan memakan waktu yang relatif tidak sedikit. 
Esensi dalam model discovery learning akan tidak tersampaikan jika digunakan pada pola pikir guru dan murid yang sudah nyaman dengan metode lama. Jadi gunakan metode penemuan dengan cara bertahap. 
Pembelajaran discovery lebih efektif bila digunakan untuk membangkitkan penguasaan dan pemahaman, namun dalam membangkitkan komponen keterampilan, konsep dan emosi pembelajaran ini kurang bisa memfasilitasi. 
Materi yang ditentukan oleh guru dalam model pembelajaran ini mengakibatkan siswa tidak bisa memilih apa yang diinginkan oleh mereka dalam berpikir.

Read More »
10 June | 1komentar

Macam-Macam Model Dan Metode Pembelajaran

Tutorial Sebaya
Model Pembelajaran:
Learning model atau model pembelajaran adalah cara yang dipakai untuk mengaplikasikan strategi yang telah dibuat dalam bentuk aktivitas yang nyata untuk memperoleh target (kompetensi) pembelajaran dalam pendidikan. 

Strategi tersebut terdiri dari materi ajar yang berurutan dan dibuat secara matang. Pada saat pembelajaran disajikan, guru akan menggunakan segala fasilitas yang ada untuk menunjang proses belajar mengajar. 

Contoh Model Pembelajaran (Klik Gambar untuk ke yang dimaksud)















Model Contextual Teaching Learning (CTL)
Tutorial Blog | SEO | HTML | CSS | jQuery|
http://www.sarastiana.com

Model Cooperative Learning
Tutorial Blog | SEO | HTML | CSS | jQuery|
http://www.sarastiana.com

Model Discovery Learning
Tutorial Blog | SEO | HTML | CSS | jQuery|
http://www.sarastiana.com

Model Inquiry Based Learning (IBL)
Tutorial Blog | SEO | HTML | CSS | jQuery|
http://www.sarastiana.com

* **


Metode Pembelajaran 

Metodologi pembelajaran merupakan cara cara dalam melakukan aktivitas antara pendidik dan peserta didik ketika berinteraksi dalam proses belajar. Pendidik perlu mengetahui dan mempelajari metode pengajaran agar dapat menyampaian materi dan dimengerti dengan baik oleh peserta didik. Metode pengajaran dipraktekkan pada saat mengajar dan dibuat semenarik mungkin agar peserta didik mendapat pengetahuan dengan efektif dan efisien.


Contoh Metode Pembelajaran:

















Sumber :Materi Dolmen Batch 3 PdK Prov.Jateng

Read More »
10 June | 20komentar

Peran Penelitian Tindakan Kelas

Diklat VEDC Malang
Beragam-ragam murid di dalam kelas, dari sifat, karakter kemampuan menerima pelajaran dan menalar serta memiliki kemauan dan keinginan yang berbeda-beda. Di kelas guru selalu merasa bahwa terdapat permasalahan bahkan bermunculan masalah-masalah yang harus segera diatasi. Permasalahan tersebut akan terus terpikirkan oleh guru sehingga diperlukan langkah-langkah tepat dan jitu untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Sang eksekutor penyelesaian masalah itu tiak lain dan tidak bukan adalah guru.

Langkah-langkah yang tepat dan jitu yang harus dilakukan guru untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut adalah dengan cara melakukan PTK. Dengan menggunakan metode-metode pembelajaran jika memang berkaitan masalah pembelajaran karena kompetensi. Demikian juga bisa berkaitan dengan masalah motivasi, penggunaan media pembelajaran. Jadi pada PTK ini ada 3 faktor penting:
1. Perubahan
2. Perbaikan
3. Peningkatan

Demi untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran murid serta untuk meningkatkan profesionalitas guru itu sendiri. Oleh karena itu, PTK memang begitu diperlukan oleh guru yang selalu berkecimpung dengan dunia kelas.

Guru merupakan orang yang paling tepat untuk melakukan PTK. Rustam dan Mundilarto (2004:1) mengemukakan ; (1) guru mempunyai otonomi untuk menilai kinerjanya, (2) temuan penelitian tradisi-onal sering sukar diterapkan untuk mem-perbaiki pembelajaran, (3) guru merupakan orang yamg paling akrab dengan kelasnya, (4) interaksi antara guru dengan murid berlangsung secara unik, dan (5) keterli-batan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan, mempersyaratkan guru untuk mampu melaksanakan PTK di kelasnya.

Menurut Salakim (2007:http://www. msaifunsalakim.blogspot.com),PTK merupakan suatu kebutuhan guru untuk meningkatkan profesionalitasnya sebagai guru. Alasannya (1) PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Guru menjadi reflektif dan kritis terhadap apa yang guru dan murid lakukan, (2) PTK meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional.
Guru tidak lagi sebagai seorang praktisi yang sudah merasa puas terhadap apa yang di-kerjakannya selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun dia bisa menempatkan dirinya sebagai peneliti di bidangnya, (3) Guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu pengkajian yang terdalam terhadap apa yang terjadi di kelasnya, dan (4) PTK tidak mengganggu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya. Salah satu kompetensi yang ter-masuk dalam kompetensi profesional guru adalah kemampuan melakukan penelitian teru-tama PTK, dimana PTK langsung terkait dengan kebutuhan guru untuk promosi kenaikan pangkat dan jabatan mulai dari golongan IV/a ke atas (Arikunto, 2006:1-2).

Bahkan, Menurut Menpan (2008:29-31) Dalam rancangan Keputusan Menpan tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, persyaratan meme-nuhi angka kredit dari sub unsur pengem-bangan profesi dipersyaratkan bagi guru yang akan naik pangkat dari golongan III/b ke III/c sebesar 2 angka kredit, golongan III.c ke III/d sebesar 4 angka kredit, golongan III/d ke IV/a sebesar 6 angka kredit, golongan IV/a ke IV/b sebesar 8 angka kredit, golongan IV/b ke IV/c sebesar 10 angka kredit, golongan IV/c ke IV/d sebesar 12 angka kredit, dan golongan IV/d ke IV/e sebesar 14 angka kredit. Selain itu, menurut Nurzaman (2006:36) dalam penilaian Setifikasi Guru, Karya Tulis Ilmiah termasuk PTK merupakan salah satu butir yang dinilai.

PTK merupakan salah satu jenis penelitian yang sangat mungkin dapat di-lakukan oleh guru-guru di sekolah, karena dalam pelaksanaannya PTK tidak terlepas dari pekerjaan keseharian sebagai guru. Yang penting, guru yang bersang-kutan mempunyai keinginan untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan dalam proses pembelajaran yang dilakukannya. Sedang-kan manfaat yang diperoleh dari pelaksa-naan PTK di samping laporannya dapat diakui sebagai karya tulis ilmiah, juga dapat memperbaiki/meningkatkan kualitas pembelajaran secara langsung yang akan bermuara pada peningkatan kualitas hasil belajar murid.

Berdasarkan hal diatas, maka PTK bermanfaat setelah melakukannya, bahwa dalam PTK ada 3 (tiga) komponen yang menjadi sasaran utama PTK, yaitu murid (siswa)/pembelajaran, guru, dan sekolah. Tiga komponen itulah yang akan menerima manfaat dari PTK.

 1). Manfaat bagi siswa dan pembelajaran
Tujuan PTK adalah memperbaiki kuali-tas proses pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki hasil belajar siswa, sehingga PTK mempunyai manfaat yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Dengan adanya pelaksanaan PTK, kesalahan dan kesulitan dalam proses pembelajaran (baik strategi, teknik, konsep dan lain-lain) akan dengan cepat dapat dianalisis dan didiagnosis, sehingga kesalah-an dan kesulitan tersebut tidak akan ber-larut-larut. Jika kesalahan yang terjadi dapat segera diperbaiki, maka pembela-jaran akan mudah dilaksanakan, menarik, dan hasil belajar siswa diharapkan akan meningkat. Ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara pembelajaran dan perbaikan hasil belajar siswa. Kedua-nya akan dapat terwujud, jika guru memiliki kemampuan dan kemauan melakukan PTK. Selain PTK dapat meningkatkan hasil belajar siswa, PTK yang dilakukan oleh guru dapat menjadi model bagi siswa dalam mening-katkan prestasinya. Guru yang selalu melakukan PTK yang inovatif dan kreatif akan memiliki sikap kritis dan reflektif terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Sikap kristis inilah yang akan dijadikan model bagi siswa untuk terus merefleksi diri sebagaimana yang dilakukan oleh gurunya.

 2). Manfaat bagi guru.
Beberapa manfaat PTK bagi guru antara lain:
a) Guru memiliki kemampuan mem-perbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang mendalam terhadap apa yang terjadi dikelasnya. Keberhasilan dalam perbaikan ini akan menimbulkan rasa puas bagi guru, karena Ia telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi siswanya melalui proses pembelajaran yang dikelola-nya.
 b).Dengan melakukan PTK, guru dapat berkembang dan meningkatkan kinerjanya secara profesional, karena guru mampu menilai, merefleksi diri, dan mampu memperbaiki pembelajaran yang dikelola-nya. Dalam hal ini, guru tidak lagi hanya sebagai seorang praktisi yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama ini, namun juga sebagai peneliti dibidang-nya yang selalu ingin melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran yang inovatif dan kreatif.
c). Melalui PTK, guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan kete-rampilan sendiri. Guru tidak hanya menjadi penerima hasil perbaikan dari orang lain, namun guru itu sendiri berperan sebagai perancang dan pelaku perbaikan tersebut, sehingga diharapkan dapat menghasilkan teori-teori dan praktik pembelajaran.
d). Dengan PTK, guru akan merasa lebih percaya diri. Guru yang selalu merefleksi diri, melakukan evaluasi diri, dan meng-analisis kinerjanya sendiri di dalam kelas, tentu saja akan selalu menemukan keku-atan, kelemahan, dan tantangan pembe-lajaran dan pendidikan masa depan, dan mengembangkan alternatif pemecahan masalah/kelemahan yang ada pada dirinya dalam pembelajaran. Guru yang demikian adalah guru yang memiliki kepercayaan diri yang kuat.

 3). Manfaat bagi sekolah
Sekolah yang para gurunya memi-liki kemampuan untuk melakukan perubahan atau perbaikan kinerjanya secara profe-sional, maka sekolah tersebut akan ber-kembang pesat. Ada hubungan yang erat antara berkembangnya suatu sekolah dengan berkembangnya kemampuan guru. Sekolah tidak akan berkembang, jika gurunya tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri.
Kaitannya dengan PTK, jika sekolah yang para gurunya memiliki keterampilan dalam melaksanakan PTK tentu saja sekolah tersebut akan memperoleh man-faat yang besar, karena peningkatan kualitas pembelajaran mencerminkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
Dalam keterangan lain, ahli pendidikan menyebutkan bahwa manfaat PTK di samping untuk membiasakan diri dengan menulis, mengorganisasi, melaporkan ten-tang segala yang terjadi di dalam proses pembelajaran yang kelak dapat digunakan sebagai bentuk karya tulis ilmiah dan diakui sebagai salah satu point perhitungan dalam kenaikan pangkat, juga ada manfaat lain yang lebih berarti bagi seorang guru.
Manfaat tersebut adalah (1) inovasi dalam pembelajaran; (2) pengembangan kuriku-lum yang mereka pahami; dan (3) untuk peningkatan profesionalisme seorang guru.

Artikel yang relevan:
Merumuskan Masalah Penelitian Tindakan Kelas

Read More »
10 June | 0komentar

Merumuskan Permasalahan dalam PTK

Permasalahan Pada Metode Pembelajaran
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Guru/ Pendidik melakukan penelitian terhadap apa yang dilakukan dalam proses KBM sebagai cara untuk melakukan refleksi tentang proses pembelajaran di kelas dan praktik di lab/ bengkel dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mempunyai peran yang penting dan strategis dalam upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hopkins (dalam Wiriaatmadya, 2007: 11), bahwa PTK adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlihat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan. Berdasarkan pernyataan Hopkins tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa guru adalah pihak yang sangat berkepentingan dengan pelaksanaan PTK
Hal ini berarti bahwa Tindakan tersebut merupakan suatu kegiatan yang sengaja dirancang untuk dilakukan oleh siswa dengan tujuan tertentu. Oleh karena tujuan PTK adalah memperbaiki kualitas proses pembelajaran, maka kegiatan yang dilakukan haruslah berupa tindakan yang diyakini lebih baik dari kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan.
Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan melalui tindakan yang akan dilakukan. PTK juga bertujuan untuk meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesinya.

Ciri-Ciri Penelitian Tindakan Kelas



Tindakan dan pengamatan dalam proses penelitian yang dilakukan tidak boleh mengganggu atau menghambat kegiatan utama, misalnya bagi guru tidak boleh sampai mengorbankan kegiatan pembelajaran. Siklus tindakan dilakukan dengan mempertimbangkan keterlaksanaan kurikulum secara keseluruhan. Penetapan jumlah siklus tindakan dalam PTK mengacu kepada penguasaan yang ditargetkan pada tahap perencanaan, tidak mengacu kepada kejenuhan data/informasi sebagaimana lazimnya dalam pengumpulan data penelitian kualitatif.


Penelitian tindakan adalah penelitian kontekstual, artinya praktis yang sesuai dengan problem yang muncul dilapangan. Penelitian bukan menerapkan teori tetapi menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan teori sebagai sandaran sekaligus teori dimodifikasi secara kontekstual.


Modifikasi dilakukan secara terus-menerus dievaluasi dalam situasi yang ada dengan tujuan akhirnya untuk meningkatkan praktek cara tertentu. Penelitian bertujuan memperbaiki praktik di lapangan. Untuk itu partisipanlah yang secara langsung menilai diri sendiri. Guru dan murid adalah tim (keculai penelitian dalam konteks proyek atau mahasiswa dan atau dosen yang meneliti di sekolah). Bila guru yang berisnisiatif meneliti, maka guru muridlah pihak yang menilai praktiknya sendiri.


Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) diperlukan hadirnya suatu kerjasama dengan pihak-pihak lain seperti atasan, sejawat atau observer.


peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitinya berkenan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman penelti dalam pekerjaan sehari-hari.

Karakteristik PTK

1. Memecahkan permasalahan yang mendesak untuk segera diselesaikan didalam kelas


Guru menyadari bahwa ada sesuatu dalam praktik pembelajarannya yang harus dibenahi, dan ia terpanggil untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki persoalan tersebut. Dengan demikian, PTK menjadi khas jika hanya dilakukan dan diprakarsai oleh guru kelas, bukan oleh pihak lain.

Atas dasar ini, guru yang ingin melakukan tindakan kelas paling tidak harus mempunyai panggilan jiwa untuk turut berjuang memperbaiki kualitas pembelajaran dari waktu ke waktu. Tanpa adanya panggilan jiwa ini, seorang guru tidak akan peka dengan berbagai persoalan pendidikan. 
Ia akan merasa seolah-olah tidak ada persoalan apa pun didalam praktik pembelajaran yang ia lakukan. Akibatnya, ia tidak akan pernah tergerak untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam PTK, guru memang dituntut untuk turut berperan aktif. Inilah salah satu ciri khas yang membedakan antara PTK dengan penelitian lain, yang biasanya dilakukan oleh peneliti dari luar lingkungan 'kelas.

2. Refleksi Diri

Refleksi yang dimaksud disini adalah refleksi dalam pengertian melakukan introspeksi diri, seperti guru mengingat kembali apa saja tindakan yang telah dilakukan didalam kelas, apa dampak dari tindakan tersebut, mengapa dampaknya menjadi demikian, dan lain sebagainya. Sebagaimana disebutkan oleh Schmuck dalam Suyadi (2012), seperti melihat diri kita didalam cermin, melihat tentang berbagai tindakan yang telah kita lakukan dan harapan kita atas tindakan tersebut.
PTK harus dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri, bukan dikelas lain dimana ia tidak mengajar didalamnya. Berdasarkan hal tersebut, maka seorang guru sebenarnya memiliki peran ganda, yakni sebagai peneliti disatu sisi dan sebagai pengajar disisi yang lainnya. Walaupun demikian, kedua peran tersebut sebaiknya tidak boleh saling mengganggu dan mengacaukan selama proses PTK. Artinya, guru yang sedang melakukan PTK tidak boleh mengubah kebiasaan proses pembelajaran sebelum ada temuan baru yang merekomendasikan harus ada perubahan pada pola pembelajaran tersebut.

3. Upaya Perbaikan Kolaboratif

Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi dia juga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses dapat berlangsung.Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator. Selanjutnya, sudut pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dari berbagai pihak. Namun demikian memperoleh berbagai pandangan dari pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang memiliki ,kewenangan dan tanggung jawab untuk menentukan apakah sudut pandang dari kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, sdapat dikatakan bahwa fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu di dalam PTK ini, bukan sebagai yang begitu menentukan terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.

4. Tanggungjawab Profesi

Esensi PTK adalah untuk memperbaiki pola pembelajaran secara terus-menerus. Siklus demi siklus didalamnya harus mencerminkan perbaikan demi perbaikan yang dicapai. Siklus sebelumnya merupakan dasar bagi siklus selanjutnya. Dimana hasil pada siklus berikutnya seharusnya jauh lebih baik daripada siklus sebelumnya. Jika PTK dilakukan secara berkelanjutan dari siklus yang satu ke siklus yang lain, maka akan ditemukan model pembelajaran yang tebaik. Demikian seterusnya, sehingga PTK dapat dilakukan secara terus-menerus tiada henti.


Menentukan Permasalahan PTK

Masalah yang akan diangkat menjadi topic PTK sebaiknya dikembangkan secara berkelanjutan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, selama kurun waktu satu semester atau satu tahun pembelajaran. Hal ini mengandung arti bahwa guru sebagai peneliti harus senantiasa meninjau dan memperbaiki rumusan masalah PTK yang dikembangkan secara berkelanjutan, demikian halnya dengan hipotesis tindakan dan pelaksanaanya.

Lebih lanjut, masalah pembelajaran yang dapat dijadikan topik atau tema PTK, dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
  • Metode pembelajaran.
  • Strategi pembelajaran.
  • Perubahan sikap dan nilai yang dapat mendorong tumbuhnya sikap yang lebih positif terhadap berbagai aspek kehidupan.
  • Pengembangan profesionalisme guru, misalnya meningkatkan keterampilan mengajar, mendayagunakan sumber belajar, dan lain-lain.
  • Modifikasi perilaku, pengenalan bertahap terhadap teknik modifikasi perilaku yang dapat menunjang standar kompetensi dan kompetensi dasar.
  • Manajemen, meningkatkan efisiensi aspek tertentu dari manajemen pembelajaran dan pengelolaan kelas.
  • Penilaian, melakukan penilaian hasil belajar yang adil dan transparan

Untuk memudahkan kita dalam memahami masalah, mengembangkan tema atau fokus PTK, dapat dilakukan dengan berpedoman pada pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
  • Apa yang terjadi dengan pembelajaran saya? 
  • Apa ada masalah yang perlu dipecahkan? 
  • Apa yang harus saya lakukan untuk memecahkan masalah tersebut? 
  • Bagaimana masalah tersebut dipecahkan?
Memilih masaah merupakan kegiatan untuk menentukan atau menetapkan masalah yang layak diangkat ,menjadi topik PTK.
Untuk kepentingan tersebut terdapat beberapa tips yang perlu diperhatikan dalam memilih masalah.

  • Masalah yang dipilih harus factual, fundamental, dan benar-benar terjadi dalam pembelajaran.
  • Masalah yang dipilih harus problematis, belum ada yang membahas, dan perlu ditangani atau dipecahkan dengan segera. 
  • Masalah yang dipilih harus dapat dicari dan diidentifikasi faktor penyebabnya, sebagai dasar untuk menentukan alternatif tindakan. 
  • Masalah yang dipilih berada dibawah kewenangan dan tanggung jawab guru..
  • Maasalah yang dipilih harus memiliki nilai strategis bagi perbaikan dan peningkatan proses dan hasil pembelajaran.


Materi yang relevan:
1. Peran Penelitian Tindakan Kelas
2. Model Pembelajaran
Sumber: Materi Dolmen Batch 3 PDK Jateng

Read More »
09 June | 0komentar

Islam dan Imunitas diri

Sholat Berjamaah

Wabah virus corona yang semakin merebak membuat kita semua semakin khawatir. Ditambah lagi semua info di media daring maupun sosial membuat mental semakin lemah. Kekhawatiran membuat problem psikis yang tidak bisa diremehkan. Alih-alih makin sehat, cemas yang dirasa membuat manusia betulan sakit.
Inilah cara Islam membuat imunitas diri semakin kuat. Apalagi cara-cara yang ditulis di bawah ini adalah cara yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam dan diridhoi oleh Allah Ta’ala. Tiga cara tingkatkan imunitas diri di awal pagi adalah;
1) Qiyamul Lail,
2) Tilawah Alquran, dan
3) Shalat Subuh.

Qiyamul Lail dan Tilawah Alquran amat dianjurkan untuk dilakukan di awal pagi. Lakukan Qiyamul Lail sebisa mungkin, meski 2 rakaat atau paling tidak 10 menit sebelum Subuh. Allah Ta’ala berfirman dalam surah al-Muzammil ayat 6, "Inna nasyiatal lail hiya asyaddu wath’an". (Sungguh bangun malam itu lebih kuat untuk diri dan jiwa manusia). Kekuatan diri ini adalah imunitas yang bisa didapatkan dengan cara qiyamullail.


Sedang tilawah Alquran juga dianjurkan untuk dibaca pada saat qiyamul lail sebagaimana dalam surah al-Muzammil ayat 4, "Wa rattil qur’aana tartila", bacalah Alquran dengan perlahan-lahan) (saat qiyamul lail). Atau bacalah Alquran di waktu Fajr (Subuh). Sebab bacaan Alquran di waktu fajar disaksikan oleh para malaikat. Lih.QS. 17:78



Dr Ahmed Al-Qadhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat, melakukan sebuah riset dan berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan dan membaca ayat suci Alquran mampu menangkal berbagai macam penyakit.
Penemuan yang sama juga dilakukan Muhammad Salim yang dipublikasikan oleh Universitas Boston.
Keduanya menyatakan bahwa membaca Alquran dengan bersuara akan membuat vibrasi atau getaran yang membuat sel-sel yang sudah rusak pada tubuh akan kembali sembuh dan bekerja dengan baik kembali. Hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala, "Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman" (QS 17:82).


Amalan ketiga untuk tingkatkan imunitas diri di awal pagi adalah dengan shalat Subuh. Dalam hadis riwayat Muslim disampaikan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda, “Barangsiapa yang shalat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah.” Shalat Subuh akan membuat diri kita dijamin oleh Allah. Dijamin rezekinya, dijamin keselamatannya. Juga dijamin insya Allah dari wabah corona yang mengkhawatirkan. Itulah tiga amalan yang akan membuat imunitas tubuh semakin meningkat.
Sumber: https://republika.co.id/berita/


Read More »
28 May | 0komentar

Kompetensi Guru Zaman "Now"

Google refensi
Guru saat ini dan mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling tahu terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang berkembang dan berinteraksi dengan manusia. Guru atau pengajar bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah siswanya. Jika tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, guru akan terpuruk secara profesional. Sebutan Mbah Google kini sudah dikenal anak didik. 
Dengan smartphone di tangan, dengan mudah anak didik kita mencari informasi apa saja yang dibutuhkannya. Bukan menyepelekan guru, setidaknya Mbah Google telah membantu anak didik mendapatkan informasi yang dibutuhkannya dengan cepat. Kalau guru tidak cepat memahami informasi, maka ia akan kehilangan kepercayaan, baik dari siswa, orang tua, maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berpikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuannya secara kreatif dan inovatif terusmenerus. 
Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 4 menegaskan, guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, guru harus memenuhi syarat-syarat, salah satunya adalah kompetensi mengajar. Kompetensi mengajar guru perlu dibuktikan dengan penerapan di lapangan sehingga pernyataan telah atau belum dikuasainya kompetensi mengajar diuji dengan hasil pengamatan supervisi dan evaluasi kegiatan guru dalam pembelajaran. 
Kompetensi mengajar guru dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi proses dan segi hasil. Dari segi proses, guru dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Dari sudut guru, dapat dilihat dari gairah dan semangat mengajar dan kepercayaan dirinya. Dari segi hasil, guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang dilakukannya mampu mengubah perilaku sebagian besar peserta didik ke arah penguasaan kompetensi dasar yang ditetapkan dalam kurikulum. Faktor-faktor yang memengaruhi kompetensi mengajar guru di antaranya berapa lama ia mengajar, sejauh mana keterampilan yang dimiliki, berpengetahuan, bagaimana minat terhadap mengajar, apakah ia mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi, apakah kompetensi mengajarnya bagus, berkonsep diri tinggi, berkepribadian, dan cerdas. 

Daya Penggerak 

 Motivasi berprestasi menjadi daya penggerak yang sangat memengaruhi terbentuknya kompetensi mengajar seorang guru. Hal itu dapat dijabarkan lewat David McClelland dalam Mangkunegoro (2000) yang mengemukakan, motivasi berprestasi merupakan produktivitas seseorang yang ditentukan oleh ”virus mental” yang ada pada dirinya. Virus mental adalah kondisi jiwa yang mendorong seseorang untuk mencapai prestasinya secara maksimal. 
Teori kebutuhan Maslow dipakai oleh McClelland sebagai dasar untuk mengembangkan teorinya, yaitu teori motivasi berprestasi (anchievement motivation), motivasi berkuasa (power motivation), motivasi berafiliasi (affiliation motivation). Motivasi berprestasi adalah hasrat untuk mencapai keberhasilan dan keunggulan. Hasrat adalah suatu keinginan dari dalam diri manusia yang mengarah pada perilaku untuk mencapai prestasi. 
Ada enam karakteristik orang yang membentuk kehendak motivasi berprestasi yang tinggi, yakni memiliki tingkat tanggung jawab yang tinggi, berani mengambil dan memikul risiko, memiliki tujuan yang realistis, memiliki rencana kerja yang menyeluruh, memanfaatkan umpan balik yang konkret dalam semua kegiatan yang dilakukan, dan mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana-rencana yang telah dipergunakan. Apakah seorang guru bisa memenuhi standar kompetensi sehingga menjadi pengajar harapan seluruh pemangku kepentingan di sekolah, terutama para anak didik? Persoalan itu kembali kepada kemampuan dan keinginan guru dalam mewujudkannya. Jangan sampai guru kita tidak berkompeten sehingga anak didik justru lebih memilih mencari sumber informasi pendidikan yang dibutuhkannya bukan dari gurunya lagi. Bila guru tidak siap atau tidak bisa menjadi guru zaman now, maka jangan salahkan anak didik lebih memilih Mbah Google sebagai sumber informasi pendidikan yang dibutuhkan. 
Sumber: Suara Merdeka.com

Read More »
27 May | 2komentar

Menata Pendidikan di "New Normal"

Guru Menggandalkan google?

Kegelisahan siswa dan orang tua siswa menyongsong tahun pelajaran baru 2020/2021 dimasa pendemi semakin memburat diwajah mereka setelah pemerintah akan menerapkan "New Normal" di pendidikan. Kementrian pendidikan telah memberikan beberapa rambu terkait dengan penerapan "New Normal" pada bidang Pendidikan.  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang mulai berancang-ancang membuka kembali aktivitas sekolah di tengah pandemi Covid-19 mulai Juli atau awal tahun ajaran baru 20020/2021. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid menyatakan pembukaan sekolah bakal dilakukan di daerah-daerah yang sudah dinyatakan aman Corona, angka terpapar Corona makin menurun, dilansir dari cnnindonesia.com.
Namun, ia tak menjelaskan daerah mana saja dan kategorinya. Sekretaris Jenderal Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendikbud Paristiyanti Nurwardani pembukaan kembali perguruan tinggi mungkin dilakukan tahun ajaran 2020/2021.
Di sisi lain, Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Agus Sartono menyebut ada tiga skenario pembukaan sekolah. Yakni, pada Juli, Agustus, atau Desember 2020. Menurut dia, skenario sekolah dibuka Agustus paling memungkinkan dengan memperkirakan menaksir kondisi pandemi. 
Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, mengatakan pembukaan kembali sekolah di tengah pandemi harus mempertimbangkan banyak hal, terutama jaminan untuk melakukan aktivitas sosial di sekolah yang aman dari Covid-19. Tolok ukurnya ialah jumlah kasus baru yang harus menurun signifikan dalam wilayah dan kurun waktu tertentu. "Paling tidak selama dua bulan. Kemudian setelah kasusnya konsisten menurun, itu baru bisa dilakukan pelonggaran dalam artian untuk instansi pendidikan," ujarnya.

Merespons rencana pembukaan kembali sekolah itu, Kemendikbud mengeluarkan Surat Edaran No. 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Isinya, terkait sejumlah protokol dan prosedur aman saat sekolah kembali buka. Hal yang diatur di antaranya:
  • Menginstruksikan agar satuan pendidikan mengatur mekanisme antar-jemput siswa. 
  • Sarana dan prasarana di sekolah harus dibersihkan minimal dua kali secara rutin, yakni sebelum dan setelah proses belajar digelar. 
  • Pihak sekolah secara rutin diminta memantau kondisi kesehatan warga sekolah terkait gejala penyakit Corona. 
  • Sekolah harus menyediakan fasilitas cuci tangan pakai sabun. 
  • Penerapan protokol kesehatan lainnya seperti jaga jarak dan melakukan etika batuk dan bersin yang benar. 
  • Sekolah diminta membuat narahubung terkait keamanan dan keselamatan di lingkungannya.

Read More »
27 May | 0komentar

Tidak Ada Pola “Mendamaikan” Anak dengan Corona

Anak Berdamai Dengan Corona? Oh Tidak!
Memberlakukan New Normal bagi aspek layanan publik, pemerintah dan ekonomi di tengah pandemi covid-19 yang belum mereda dari segala aturan yang mengaturnya, sesuai dengan protokol kesehatan akan dapat terlaksana, mungkin tidak terlalu bermasalah. Akan tetapi penerapan New Normal di lingkungan pendidikan terutama pendidikan dasar akan terasa bermasalah dan menuntut kehati-hatian dan perlu kajian dalam pelaksanaannya. 

"Dunia layanan publik bidang pemerintahan, ekonomi, ibadah dan industri yang melibatkan orang dewasa, silakan di new normal. Bidang pendidikan yang melibatkan anak didik, tunggu dulu! Saya lebih setuju anak tetap di rumah dengan pola daring yang diperbaiki. Harus ada pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang lebih efektif, minimal sampai Desember," disampaikan oleh salah satu pengurus PB PGRI, Dudung N Koswara sebagaimana dilangsir di JPNN.com, Selasa (26/5). 

Beberapa tindakan yang harus diselesaikan dahulu adalah menentukan hadirnya kurikulum darurat yang khusus mengadaptasi terhadap pemberlakuan masa darurat pademi ini.Tentunya memperhatikan dan mengevaluasi saat pelaksanaan belajar di rumah yang lalu. Kesehatan bagi anak justru terpenting daripada memaksakan pelaksanaan KBM tetapi terjadi penularan terhadap peserta didik yang lain pasti akan sangat bisa terjadi. 
Alih-alih pelaksanaan transfer ilmu palahan terjadi transfer penyakit. Kita sedang berhadapan dengan penyakit. Sehat adalah utama bagi anak didik. Rumah tetap menjadi area yang aman dan nyaman untuk anak didik. Evaluasi yang mungkin dilakukan pada permasalah yang terjadi saat belajar dirumah seharusnya menjadi prioritas pemerintah, yaitu: 
1. Belum terbiasa belajar madiri karena daring 
2. Kendala akses internet 
3. Jaringan internet terbatas 
4. Kendala Listrik, untuk daerah tertinggal/pedalaman 
5. Kuota internet yang terbatas (siswa/orang tua murid tidak menganggarkan untuk kuota internet) 
6. Fasilitas minim (laptop,HP, gadget) 
7. Lingkungan kurang mendukung/tidak kondusif 
8. Semangat belajar kurang jika sendiri di rumah 
9. Kemampuan dan dukungan orang tua berbeda-beda 

Pemerintah seharusnya fokus pada beberapa masalah di atas jika menginginkan berdamai dengan corona bagi pendidikan. Menyediakan akses internet yang terjangkai bagi rakyat indenesia, dikota di desa dapat mengakses sama. Sebagai salah satu syarat pembelajaran daring. Terkait dengan HP lebih banyak yang memiliki HP dari pada anak yang tidak memiliki. Jika akses internet terutama wifi memadai,pembelajaran daring akan sedikit teratasi.

Jadi Pemerintah jangan mengorbankan anak didik untuk masuk sekolah. Bahwa untuk tranfer ilmu bisa dilakukan lewat virtual. Disinilah peran orang tua diperlukan untuk mengganti peran guru pada motivasi dan fasilitator. Sekolah Ramah untuk Anak terus perlu diwujudkan. Tidak ada spekulasi kesehatan untuk anak didik. Penerapan prosedur kesehatan, shift belajar, mengurangi jam belajar dan segala ikhtiar di luar rumah tidak akan efektif.Disaat istirahat anak akan berkerumun dan melintasi sejumlah ruang publik saat datang dan pulang. Rumah tetap menjadi area yang terbaik bagi anak didik. Anak tidak harus masuk sekolah saat wabah, melainkan sekolah yang harus masuk rumah. 

Solusi 
  • Kurikulum darurat harus dibuatkan. 
  • Anak dibuat belajar di rumah. 
  • Pendidikan jarak jauh, dianggap tidak efektif, suatu yang wajar karena masih gagap dan transisi. 
  • Ke depan segera pemerintah menciptakan kurikulum darurat yang konverhensip 
  • Sekolah Masuk Rumah”. Jangan terbalik, “Anak Masuk Sekolah”. Hari ini anak sudah aman di rumah. 
  • Spekulasi tingkat tinggi bila anak digiring kembali ke sekolah. untuk sekolah hanya 20 anak didik.
  • Pola pendidikan Paket yang sudah berjalan di Indonesia. Ada pola pendidikan persamaan paket B, paket C. Yang kualitas dan legalitas ijazahnya juga sama. 
  • Pola homeschooling dan pendidikan virtual.
  • Akses internet merata (wifi) 


Spekulasi tanggal 15 Juni 2020, anak masuk sekolah seharus dapat ditinjau ulang oleh pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional. Melihat resiko yang bisa didapat oleh anak, resiko tertular dan menularkan lebih besar dari pada manfaat dapat ilmu. Mengabaikan dahulu hak anak untuk belajar untuk mendapatkan kesehatan, terhindar dari terpapar atau memaparkan kepada siswa yang lain. New Normal untuk kehidupan yang melibatkan orang dewasa (45 tahun) mungkin dapat diterapkan tenunya dengan protokol kesehatan. Sebagai upaya menggerakkan roda perekonomian, menghidupkan layanan publik, ekonomi, peribadatan dan kepentingan strategis lainnya. Tidak ada pola “mendamaikan” anak dengan corona 

Referensi: https://www.jpnn.com/news

Read More »
26 May | 3komentar

Pendidikan di Era "New Normal"

Pemerintah mengumumkan untuk melakukan segala kegiatan di rumah seperti Work From Home (WFH), Study From Home (SFH), dan beribadah dirumah, berefek pada kebijakan pendidikan. Penerapan pendidikan tidak lagi dikelas tetapai menggunakan media daring (dalam jaringan). Dalam masa pandemi ini instansi pendidikan baik dari tingkat dasar sampai perkuliahan harus bergerak cepat dalam memulai pembelajaran menggunakan media daring/digital. Hal ini mengubah kebiasaan siswa dan guru yang biasanya melakukan tatap muka di depan kelas berubah menggunakan media internet dalam proses pembelajaran. Siswa melakukan pembelajaran dirumah sambil rebahan (hehe).
Beberapa evaluasi terkait pembelajaran yang dilakukan dirumah setelah berlangsung hampir 3 bulan ini adalah:
1. Belum terbiasa belajar madiri karena daring
2. Kendala akses internet
3. Jaringan internet terbatas
4. Kendala Listrik, untuk daerah tertinggal/pedalaman
5. Kuota internet yang terbatas (siswa/orang tua murid tidak menganggarkan untuk kuota internet)
6. Fasilitas minim (laptop,HP, gadget)
7. Lingkungan kurang mendukung/tidak kondusif
8. Semangat belajar kurang jika sendiri di rumah
9. Kemampuan dan dukungan orang tua berbeda-beda

Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama dan setelah masa pandemi ini berakhir yang dilihat dari tiga aspek dalam fase transisi pembelajaran,yaitu dari sisi teknologi, infrastruktur dan bandwidth internet harus mendukung dan memadai kegiatan pembelajaran daring dan kerjasama antara operator dengan pendidikan.
Prosedur dan proses juga harus terjamin mulai dari kesiapan materi, penetapan aplikasi video conference yang sesuai, model pembelajaran daring, penyesuaian kurikulum dan Rencana Pembelajaran.

Mendamaikan Anak dengan Corona?
Tutorial Blog | SEO | HTML | CSS | jQuery|
http://www.sarastiana.com

Mediablog Pembelajaran
Tutorial Blog | SEO | HTML | CSS | jQuery|
http://www.sarastiana.com

Mediablog Pembelajaran
Tutorial Blog | SEO | HTML | CSS | jQuery|
http://www.sarastiana.com

Mediablog Pembelajaran
Tutorial Blog | SEO | HTML | CSS | jQuery|
http://www.sarastiana.com

* **
Beberapa solusi, seperti mengefektifkan penggunaan e-learning dalam pembelajaran dan menggunakan aplikasi meeting. Beberapa aplikasi open source yang disarankan adalah Google Classroom, Moodle, Edmodo, dan lain-lain, apabila ingin belajar secara mandiri.
Selain peran guru/dosen sebagai pengajar yang berusaha meningkatkan keterampilan serta literasi komputer dan digital dalam memanfaatkan kanal-kanal yang tersedia, orangtua juga dituntut memiliki literasi dan kemampuan penguasaan teknologi dan aplikasi pendidikan yang disediakan baik secara online maupun offline.

New Normal
The new normal, istilahnya. Artinya, kegiatan ekomoni, pendidikan, maupun sektor-sektor lain dalam kehidupan sudah dipersiapkan agar bisa kembali bergeliat, tapi dengan modifikasi tertentu agar penyebaran penyakit ini bisa tetap berkurang.
Idealnya, konsep new normal dilakukan saat kurva infeksi sudah melandai, dan menandakan jumlah kasus Covid-19 baru sudah berkurang setiap harinya. Di Indonesia, kurva ini sama sekali belum landai, bahkan masih terus menanjak dan bisa jadi belum mencapai puncak. Karena itu dengan adanya pembukaan kembali fasilitas publik, masyarakat Indonesia perlu lebih waspada.
Jika tiba waktunya Anda harus kembali bekerja di kantor atau si Kecil sudah kembali bersekolah, pencegahan penyebaran Covid-19 jangan malah menjadi kendur. Saat menjalani the new normal nanti, jangan sampai kita justru tertular atau menularkan penyakit ini ke orang lain.


Klik link berikut dengan Judul Tidak Ada Pola Mendamaikan" Anak dengan Corona


Read More »
25 May | 2komentar

Pasca Ramadhan Bersama Al Qur'an

J
Al-Qur'an, yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sebagai kalamullah atau mukjizatul . Sebagai suatu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk seluruh manusia. Ajaran Islam adalah diperuntukan untuk semua atau seluruh manusia merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta, rahmatan lilalamin. Pada hakikatnya, al-Qur'an telah berbicara tentang seluruh persoalan manusia yang berupa prinsip-prinsip dasar. 
 Al-Qur'an berbicara kepada akal dan perasaaan manusia; mengajar mereka tentang aqidah tauhid; membersihkan jiwa mereka dengan berbagai praktek ibadah; memberi mereka petunjuk untuk kebaikan dan kepentingannya, baik dalam kehidupan individu maupun sosial, menunjukkan kepada mereka jalan terbaik, guna mewujudkan jati dirinya, mengembangkan kepribadiannya. 
Al Qur'an mengingatkan manusia bahwa diri menuju kesempurnaan insani, sehingga mampu mewujudkan kebahagiaan bagi dirinya, di dunia dan akhirat.
Ma'rifatunnafsi atau mengenal diri sendiri terkenal dengan ungkapan "barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya", Dapat disejajarkan dengan konsep diri, self concept yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Khusnudzon atau prasangka yang baik juga dapat disejajarkan dengan berpikir positif. 
Kata-kata yang terus beriringan dalam al-Quran yaitu iman dan amal merupakan penegasan dari harus adanya keyakinan dan tindakan. Untuk menyikapi semua tindakan-tindakan dan hasil yang diperoleh atas semua usahanya Islam memberikan konsep lain seperti tawakal, syukr dan muhasabah yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. 
Akumulasi konsep-konsep tersebut jika diteliti secara berkesinambungan akan menimbulkan dan mengisyaratkan adanya konsep percaya diri yang terungkap dalam al-Qur'an. 
Dalam hari-hari Ramadhan kita diasyikan dengan kemesraan bersama Al Quran bagaimana pasca Ramadhan Setelah mendapatkan Gelar Taqwa?
Pembuktian ketaqwaan dapat kita terjemahkan melalui ketaatan kita Allah Swt. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan indikator utama seorang muttaqin. Sikap taat merupakan refleksi iman dan taqwa seorang hamba. Hal ini ditegaskan Allah Swt dalam Al Quran: ” Sesungguhnya ucapan orang mukmin bila dipanggil kepada Allah dan RasulNya dalam memutuskan urusan mereka, adalah perkataan: ”Kami dengan dan kami taat”. Itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nuur-51

Read More »
25 May | 0komentar

Kosakata dan Makna Idul Fitri


Selamat Idul Fitri 1441 Hijriyah
Kosakata dan makna Bahasa Arab terhadap kata-kata yang terkandung sangat kaya. Berikut ini makna dari istilah idul fitri.Istilah id (hari perayaan) dari bentuk kedua kata kerja bahasa Arab: ’ayyada, artinya merayakan, mengamati sebuah perayaan. Perkataan fitr dari kata kerja fatara, bermakna memisahkan, membatalkan puasa dengan makan dan minum pada 1 Syawal setelah berpuasa selama satu bulan (29 atau 30 hari), disebut juga iftar, dan juga bermakna menciptakan. 
Dari akar kata yang sama kita menemukan al-Fatir, yang berarti Maha Pencipta dari tiada kepada ada. Jadi ’id al-fitri berarti ”merayakan hari 1 Syawal dengan berbuka atau menghentikan puasa”. Puasa diharamkan pada hari itu. Ada juga orang mengartikan ’id dengan kembali. ’Id al-fitri diterjemahkan ”kembali pada asal penciptaan manusia yang bersih, suci, tanpa noda, tanpa dosa”, seperti bayi yang baru lahir setelah dibasuh selama Ramadhan.
Namun, ada kerancuan. Dalam bahasa Arab, perkataan kembali adalah ’aud atau ’audah, berasal dari bentuk pertama kata kerja ’ada, bukan ’id. Saya lebih mengartikan ’id al-fitri atau ’idul fitri sebagai perayaan berbuka puasa, bagian sikap bersyukur manusia beriman, bukan ”kembali suci.”
 Perayaan 1 Syawal adalah hari kegembiraan, dalam batas yang wajar, bagi mereka yang berpuasa Ramadhan, karena iman semata. Di akhir Ramadhan, umat Islam, termasuk bayi, diwajibkan membayarkan sadhaqat al-fitri (zakat fitrah) sebagai simbol spiritual untuk berbagi dengan sektor masyarakat yang serba kekurangan. Pada waktu yang sama, juga dilakukan pembayaran zakat harta kekayaan yang disalurkan pada mereka yang berhak, seperti fakir, miskin, panitia zakat, mereka yang terlilit utang, dan untuk jalan Allah.
Pelaksanaan zakat sampai kini belum optimal di seluruh dunia sehingga jurang antara si kaya dan si miskin masih lebar. Sebuah kenyataan yang amat pedih dan menyakitkan. Jumlah zakat yang ditunaikan masih setengah lumpuh berhadapan dengan kesenjangan sosial ekonomi. Kembali pada soal penebusan dosa, memang ada sumber hadis yang menyebutkan, ”Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan berdasarkan iman dan semata mengharapkan keridaan Allah, apa yang terdahulu dari dosanya bakal diampuni.”
Mungkin didasarkan pada hadis ini, lalu disimpulkan bahwa orang yang benar-benar berpuasa selama Ramadhan akan menjadi manusia suci kembali.
Sekali lagi perkataan ’id tidak berarti kembali, tetapi hari perayaan! Jika tak hati-hati memahami hadis ini, orang yang lemah iman akan mudah berbuat dosa untuk ditebus setiap bulan Ramadhan dengan menjalankan puasa. Dalam Al Quran tidak ada tembusan dosa. Tetapi jika taubat Allah SWT akan mengampuni.
Ketaqwaan kepada Allah SWT lah yang akan menjadikan dosa-dosa kita terampuni.Sesuai dengan tujuan berpuasa menjadi manusia yang bertaqwa.


dirumah Saja

Di waktu musibah dan wabah, manusia ingat Allah dan kembali kepada-Nya. Mereka yang sehari-hari lalai dengan maksiat, di waktu wabah kembali kepada Allah. Bertaubat dan menyesali dosa-dosanya. Mengisi hari-harinya dengan ketaatan. Dan momen wabah ini bertepatan dengan bulan ramadhan. Waktu dimana rahmat dan ampunan Allah diturunkan.
Waktu paling banyak manusia terbebas dari api neraka. Beruzlah di rumah dan mengisi dengan ibadah dan membaca Al Qur’an. Juga gemar bershadaqah memberi makan orang lain. Memberi makan di bulan ramadhan adalah tanda ketaqwaan. Zakat fitri lalu sholat Iedul Fitri adalah amal shalih sebelum hari Raya dan saat hari Raya. Menggambarkan hablun minallah hablun dan minan naas adalah satu kesatuan ibadah.
Mendirikan sholat dan membayar zakat. Allah subhanahu wa ta’ala hendak menghindarkan kita dari bencana besar (neraka), dengan menghadirkan bencana kecil berupa wabah ini.

Read More »
23 May | 0komentar

Buku Kita Ditolak Penerbit?


Perasaan sedih? Pasti ! Buku yang sudah kita buat,ditulis ditolak oleh penerbit. Seperti diputus pacar (hehe) Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Sakitnya tuh di sini! (sambil mengelus dada) hahaha. Bagaimana disampaikan oleh Omjay pada Diklat berlatih Menulis Online.
Pantang menyerah. Ketika naskah bukunya ditolak para penerbit mayor, tidak harus putus asa. diterima saja dengan lapang dada. Disenyumin saja gitu kata Omjay, meskipun terasa pahit. Begitu sering, beberapa kali ditolak Penerbit.

Kata Omjay:
“Ketika bukumu ditolak, maka segeralah memperbaiki isi bukumu dan jangan ditunda. Perbaiki dan teruslah perbaiki, lalu pergilah ke toko buku. Lihatlah buku-buku best seller di sana. Dari situlah kamu akan bertemu rahasia buku itu laku. Kalau anda tak sempat ke toko buku, belilah buku secara online, lalu pelajari isi buku, sehingga anda menemukan rahasianya. Dari situlah anda akan bisa menerbitkan buku-buku bermutu. Anda tidak perlu mencari penerbit, karena penerbit yang akan mencari anda, karena tulisan anda sangat menginspirasi.” 

Belajar kepada orang-orang yang telah sukses menerbitkan buku.karena kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda. Gembirakan dirimu dengan terus  Pengalaman Omjay, ia perbaiki tulisannya. Kemudian dibacanya kembali. Beberapa teman yang dipercayanya, ia minta untuk memberikan masukan. Hasilnya, bukunya menjadi lebih baik dari sebelumnya dan lebih enak untuk dibaca.

Gagal adalah proses menuju sukses. Ya, ini salah satu kiat untuk tabah menulis. Omjay jadi banyak belajar sejak buku ditolak penerbit mayor. Ia perbaiki dan terus perbaiki sehingga naskah buku menjadi lebih enak dibaca. Butuh waktu lama mengerjakannya. Ia pantang menyerah.

Bahwa keledaipun tidak akan terperosok pada lubang yang sama, Ia belajar dari penolakan. Ia pergi ke toko buku dan membaca buku-buku best seller. Dari sanalah ia akhirnya tahu rahasia buku mereka laris dibaca pembaca.
Ketika buku Anda ditolak penerbit, teruslah menulis dan jangan berhenti menulis. Ketika Anda terus menulis, maka tulisan yang dihasilkan akan semakin tajam dan menendang. Pasti tulisan Anda akan layak jual. Pasti tulisan Anda akan banyak dibaca orang.

Kunci dari keberhasilan adalah belajar dan pantang menyerah. Perbaiki dan terus perbaiki sehingga penerbit mayor mau menerbitkan buku Anda tanpa kamu keluar uang satu senpun. Anda pun tersenyum ketika royalti buku mencapai angka yang fantastis.

Rasa percaya diri itu dibangun melalui proses terus-menerus, dan jatuh bangun. Untuk menerbitkan buku dari kumpulan resume yang telah dibuat, maka segera kumpulkan dari pertemuan pertama sampai terkhir, gabung dalam satu file. Kemudian lihat buku-buku yang sudah diterbitkan Penerbit.Semakin menikmati menulis semakin mengalir rasa dari tulisan kita.


Read More »
16 May | 5komentar

Gerakan Dirumah Aja



Kebijakan yang populer di tengah masyarakat dengan gerakan di rumah saja atau #dirumahaja ini dinilai mempererat hubungan anak dan orang tua. "Stay at home yang ada saat ini, merupakan kesempatan bagi keluarga bisa bersama kembali. Orang tua dan anak dapat membuat kegiatan bersama yang mempererat hubungan. Misalnya, makan dan beribadah bersama

Bukan tanpa alasan penetapan gerakan di rumah aja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan masa inkubasi virus korona berkisar 2-14 hari setelah terpapar. Masa inkubasi yakni waktu antara terjadinya infeksi dan timbul gejala. Menerapkan gerakan #DiRumahAja untuk memutus rantai penularan wabah corona Covid-19 ini.

Sumber penular Covid-19 adalah carrier (pembawa) yang bisa berupa; pertama, orang sehat, yang belum ada gejala, ini disebut healthy carrier. Kedua, orang yang sakit, tentu ini industri virus level tinggi. Ketiga, orang yang baru sembuh, disebut convalesence carrier, mereka bisa menjadi sumber penular karena dalam tubuhnya kemungkinan masih ada virus corona. Maka perlu sekali kemana-mana menggunakan masker.

Semua kegiatan dilakukan dirumah, mulai dari ibadah,kegiatan pekerjaan, menggunakan virtual, bai siswa kegiatan menggunakan pembelajaran daring (dalam jaringan).



Dari kajian sistem kesehatan di Indonesia, sistem layanan kesehatan mulai dari Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), serta Rumah Sakit (RS) sudah menunjukkan betapa sistem kesehatan kita sangat rapuh. Untuk itu perlu pembenahan yang serius mulai SDM, kefarmasian, teknologi, sistem informasi hingga penyiapan SDM kesehatan yang siap melacak dan mengontrol KLB. 

Dalam situasi saat ini, baru terasa, kesehatan bukan segalanya, tapi tanpa kesehatan semua yang ada tak berarti. Segala yang kita miliki, harta dan sebagainya tak berdaya melawan jasad renik berupa virus corona. Menyerahkan perlindungan dari Covid-19 kepada masyarakat, itu artinya melepaskan kendali kontrol emergency ini kepada seseorang yang bukan ahlinya.



Read More »
16 May | 3komentar