Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by date for query anggaran pendidikan. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query anggaran pendidikan. Sort by relevance Show all posts

Mengenal Jenis-Jenis Pekerjaan Konstruksi melalui Pembelajaran EBK


Pembelajaran Konsentrasi Kejuruan DPIB Kelas XI DPIB 1 SMKN 1 Bukateja Pembelajaran pada mata pelajaran Konsentrasi Kejuruan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) terus diarahkan untuk membekali peserta didik dengan kompetensi yang relevan dengan dunia kerja dan dunia industri konstruksi.  
Salah satu materi penting yang dipelajari oleh peserta didik Kelas XI DPIB 1 SMK Negeri 1 Bukateja adalah Estimasi Biaya Konstruksi. Dalam pembelajaran ini, peserta didik tidak hanya belajar menghitung biaya suatu pekerjaan bangunan, tetapi juga harus memahami terlebih dahulu berbagai jenis pekerjaan yang terdapat dalam sebuah proyek konstruksi. Pada kegiatan pembelajaran kali ini, peserta didik mempelajari modul materi Identifikasi Jenis-Jenis Pekerjaan Konstruksi sebagai salah satu dasar penting dalam memahami proses penyusunan estimasi biaya konstruksi.  

Mengapa Identifikasi Pekerjaan Konstruksi Penting?  

Sebelum menghitung kebutuhan bahan, tenaga kerja, peralatan, maupun biaya suatu proyek, seorang estimator harus mampu mengidentifikasi setiap jenis pekerjaan yang terdapat dalam gambar rencana dan dokumen proyek. Setiap bangunan terdiri dari berbagai tahapan dan jenis pekerjaan yang saling berkaitan. Mulai dari pekerjaan awal hingga pekerjaan akhir, semuanya harus diidentifikasi secara sistematis agar perhitungan biaya dapat dilakukan dengan tepat. Kesalahan dalam mengidentifikasi jenis pekerjaan dapat menyebabkan adanya pekerjaan yang terlewat dalam perhitungan. Akibatnya, estimasi biaya konstruksi menjadi tidak akurat dan dapat menimbulkan perbedaan antara rencana anggaran dengan kebutuhan biaya yang sebenarnya di lapangan. Oleh karena itu, kemampuan mengidentifikasi jenis pekerjaan konstruksi menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik DPIB.  
Mengenal Berbagai Jenis Pekerjaan Konstruksi Dalam sebuah proyek pembangunan gedung, terdapat berbagai kelompok pekerjaan yang perlu dipahami. Secara umum, jenis pekerjaan konstruksi dapat dikelompokkan sebagai berikut:  
1. Pekerjaan Persiapan  
Pekerjaan persiapan merupakan tahap awal sebelum pelaksanaan pembangunan dimulai. Kegiatan pada tahap ini dapat meliputi:  
Pembersihan lokasi pekerjaan; 
Pengukuran dan pemasangan bouwplank; 
Pembuatan direksi keet; 
Penyediaan gudang material; 
Pemasangan pagar proyek; 
Persiapan peralatan dan tenaga kerja. 
Tahap persiapan sangat penting karena menjadi dasar untuk memastikan kegiatan konstruksi dapat berjalan dengan tertib dan sesuai rencana. 

2. Pekerjaan Tanah dan Pondasi 
Setelah pekerjaan persiapan selesai, pembangunan dilanjutkan dengan pekerjaan tanah dan pondasi. Jenis pekerjaan ini dapat meliputi:  
Penggalian tanah; 
Urugan pasir; 
Urugan tanah; 
Pemadatan tanah; 
Pembuatan pondasi; 
Pekerjaan pasangan batu; 
Pekerjaan struktur bawah bangunan. 
Pondasi memiliki fungsi yang sangat penting karena menjadi bagian bangunan yang menerima dan meneruskan beban struktur ke tanah. 

3. Pekerjaan Struktur 
Pekerjaan struktur merupakan pekerjaan yang berkaitan dengan elemen utama pembentuk kekuatan bangunan. Beberapa contoh pekerjaan struktur antara lain: 
Pekerjaan beton bertulang; 
Pekerjaan kolom; 
Pekerjaan balok; 
Pekerjaan sloof; 
Pekerjaan ring balok; 
Pekerjaan plat lantai; 
Pekerjaan struktur atap. 
 Dalam proses estimasi biaya konstruksi, setiap pekerjaan struktur harus dihitung berdasarkan volume dan kebutuhan sumber daya yang diperlukan. 

 4. Pekerjaan Dinding dan Pasangan 
 Pekerjaan pasangan meliputi berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan pembentukan ruang dalam bangunan. Contohnya antara lain: 
 Pemasangan bata merah; 
Pemasangan bata ringan; 
Pekerjaan plesteran; 
Pekerjaan acian; 
Pembuatan dinding pembatas. 
Peserta didik perlu memahami perbedaan jenis material dan metode pelaksanaan karena setiap jenis pekerjaan memiliki kebutuhan biaya yang berbeda. 

 5. Pekerjaan Lantai dan Penutup Dinding 
Pekerjaan ini berkaitan dengan penyelesaian permukaan lantai maupun dinding. Beberapa pekerjaan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain: 
Pemasangan keramik lantai; 
Pemasangan keramik dinding; 
Pemasangan granit; 
Pemasangan batu alam; 
Pekerjaan finishing lantai. 
 Dalam penyusunan estimasi biaya, jenis material, ukuran, luas pekerjaan, dan metode pemasangan menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan.  

6. Pekerjaan Atap  
Atap berfungsi sebagai pelindung bangunan dari panas, hujan, dan berbagai pengaruh cuaca lainnya. Pekerjaan atap dapat meliputi:  
Pemasangan rangka atap; 
Pemasangan kuda-kuda; 
Pemasangan reng; 
Pemasangan penutup atap; 
Pemasangan nok; 
Pemasangan talang. 
Setiap jenis material atap memiliki karakteristik dan kebutuhan biaya yang berbeda sehingga perlu diidentifikasi secara tepat.  

7. Pekerjaan Kusen, Pintu, dan Jendela  
Pekerjaan ini meliputi pemasangan berbagai elemen bukaan pada bangunan, seperti:  
Kusen pintu; 
Kusen jendela; 
Daun pintu; 
Daun jendela; 
Kaca; 
Perlengkapan pintu dan jendela. 
 Dalam proses perhitungan biaya, peserta didik harus mampu membaca ukuran dan jumlah bukaan berdasarkan gambar kerja.  

8. Pekerjaan Finishing 
Pekerjaan finishing merupakan tahap penyelesaian yang bertujuan memberikan nilai estetika dan kenyamanan pada bangunan. Jenis pekerjaan finishing dapat berupa:  
Pengecatan dinding; 
Pengecatan plafon; 
Pengecatan kusen; 
Pemasangan plafon; 
Pekerjaan dekoratif lainnya.  
Meskipun berada pada tahap akhir, pekerjaan finishing tetap membutuhkan perencanaan biaya yang matang. 
 
9. Pekerjaan Mekanikal, Elektrikal, dan Plumbing  
Dalam pembangunan gedung, terdapat pula pekerjaan instalasi yang mendukung fungsi bangunan. Beberapa di antaranya adalah:  
Instalasi listrik; 
Pemasangan lampu; 
Instalasi air bersih; 
Instalasi air kotor; 
Pemasangan sanitair; 
Instalasi drainase.  
Pekerjaan ini juga perlu diidentifikasi secara terpisah agar perhitungan anggaran dapat dilakukan secara lengkap. Pembelajaran Berbasis Identifikasi dan Analisis Melalui pembelajaran materi Identifikasi Jenis-Jenis Pekerjaan Konstruksi, peserta didik Kelas XI DPIB 1 SMKN 1 Bukateja diharapkan mampu memahami tahapan pekerjaan dalam suatu proyek pembangunan secara sistematis. Peserta didik belajar untuk:  
Mengidentifikasi jenis pekerjaan berdasarkan gambar konstruksi;  
Mengelompokkan pekerjaan sesuai tahapan pelaksanaan;  
Memahami urutan pekerjaan konstruksi; 
Menentukan satuan pekerjaan; 
Menghitung volume pekerjaan; 
Menjadi dasar dalam penyusunan Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP); 
Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB).  
Pembelajaran ini menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan peserta didik sebelum memasuki materi perhitungan biaya konstruksi yang lebih kompleks. Menyiapkan Kompetensi Peserta Didik DPIB Kompetensi dalam bidang estimasi biaya konstruksi sangat dibutuhkan dalam dunia kerja konstruksi. Seorang tenaga kerja di bidang konstruksi tidak hanya dituntut mampu membaca gambar, tetapi juga harus mampu memahami pekerjaan yang akan dilaksanakan dan menghitung kebutuhan biaya secara tepat.  
Melalui pembelajaran Konsentrasi Kejuruan DPIB, peserta didik diberikan kesempatan untuk mempelajari proses konstruksi secara bertahap, mulai dari mengenal gambar, mengidentifikasi pekerjaan, menghitung volume, menganalisis harga satuan pekerjaan, hingga menyusun Rencana Anggaran Biaya. Dengan demikian, pembelajaran Estimasi Biaya Konstruksi tidak hanya berorientasi pada kemampuan berhitung, tetapi juga melatih peserta didik untuk memiliki kemampuan analisis, ketelitian, serta pemahaman terhadap proses pembangunan secara menyeluruh.  
Materi Identifikasi Jenis-Jenis Pekerjaan Konstruksi menjadi salah satu pondasi penting dalam pembelajaran Estimasi Biaya Konstruksi pada Konsentrasi Kejuruan DPIB. Melalui materi ini, peserta didik Kelas XI DPIB 1 SMK Negeri 1 Bukateja diharapkan mampu memahami bahwa setiap bangunan terdiri dari berbagai jenis pekerjaan yang harus direncanakan, dilaksanakan, dan diperhitungkan secara sistematis. Pemahaman terhadap jenis-jenis pekerjaan konstruksi akan menjadi bekal penting bagi peserta didik dalam mempelajari materi berikutnya, terutama dalam melakukan perhitungan volume pekerjaan, analisis harga satuan, serta penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB).  
Dengan pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi dan kebutuhan dunia konstruksi, peserta didik DPIB diharapkan dapat berkembang menjadi sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan untuk menghadapi tantangan dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. SMK Negeri 1 Bukateja Konsentrasi Keahlian Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) Kelas XI DPIB 1 Materi: Estimasi Biaya Konstruksi – Identifikasi Jenis-Jenis Pekerjaan Konstruksi

Read More »
08 September | 0komentar

Dilema Guru Honorer: Ada di Kelas, Tapi Hilang di Sistem

Pernah Jadi Guru Honorer: 2000 - 2008
Jika wacana di tahun 2027 guru honorer tidak boleh mengajar karena tidak tercatat di Dapodik benar-benar diberlakukan, maka kita sedang menghadapi sebuah dilema besar dalam dunia pendidikan
Dilema itu nyata. Bahkan sudah di depan mata. Di satu sisi, banyak sekolah masih kekurangan guru. Ruang-ruang kelas tetap berjalan dengan segala keterbatasan. Anak-anak tetap belajar, meski kadang tanpa pendampingan yang ideal. Itu fakta yang tidak bisa dibantah.  
Namun di sisi lain, ada ironi yang sulit diterima: guru-guru yang setiap hari mengajar justru terancam “hilang” dari sistem. Bukan karena mereka berhenti mengajar. Bukan karena mereka tidak dibutuhkan. Tetapi karena satu hal: tidak tercatat di Dapodik.  Lucu? Atau justru tragis?  

Ketika Realitas Dikalahkan oleh Data  

Di negeri ini, kadang keberadaan seseorang tidak lagi ditentukan oleh apa yang ia kerjakan, tetapi oleh apakah namanya tercantum dalam sistem. Seorang guru bisa hadir setiap hari. Mengajar dengan penuh dedikasi. Membimbing murid, bahkan sering menjadi penopang utama di sekolah yang kekurangan tenaga pendidik. Namun semua itu bisa seolah tidak berarti ketika sistem berkata: “Anda tidak terdaftar.” Pertanyaannya sederhana tapi mendasar: apakah data lebih penting daripada kenyataan?  

Dapodik: Alat atau Penentu Nasib?  

Dapodik sejatinya adalah alat. Ia dibuat untuk membantu pendataan, perencanaan, dan pengambilan kebijakan. Tujuannya baik: agar distribusi guru merata, anggaran tepat sasaran, dan kualitas pendidikan meningkat. Namun dalam praktiknya, alat ini kadang berubah menjadi penentu nasib. Ketika data menjadi satu-satunya acuan, maka siapa pun yang tidak masuk ke dalamnya meski nyata bekerja akan dianggap tidak ada. Ini bukan lagi sekadar persoalan teknis. Ini soal keadilan.  

Ada Apa dengan Data?  

Masalahnya bukan pada datanya. Data tetap penting. Tanpa data, kebijakan bisa kacau. Namun persoalannya muncul ketika:  
  • Data tidak diperbarui secara akurat  
  • Proses input bergantung pada keterbatasan operator  
  • Sistem tidak cukup fleksibel menangkap realitas di lapangan  
  • Validasi lebih mengutamakan prosedur daripada fakta 
Akibatnya, data yang seharusnya merepresentasikan kenyataan justru menjadi penyaring yang menyingkirkan kenyataan itu sendiri. Ironis.  
Bagi guru honorer, kondisi ini bukan sekadar persoalan administratif. Ini menyangkut keberlangsungan hidup dan panggilan pengabdian. Tidak tercatat di Dapodik bisa berarti:  
  • Tidak diakui sebagai tenaga pendidik resmi.  
  • Tidak mendapatkan insentif atau bantuan  
  • Tidak memiliki peluang dalam kebijakan pengangkatan  
  • Bahkan terancam tidak bisa mengajar  
Padahal, mereka adalah bagian penting yang selama ini menutup kekurangan guru di banyak sekolah. Tanpa mereka, banyak kelas mungkin sudah lama kosong. Kita tidak sedang menolak digitalisasi atau pendataan. Justru sebaliknya kita membutuhkannya. Namun yang perlu kita luruskan adalah cara kita memperlakukan data.  
Data seharusnya:  
  • Mencerminkan realitas, bukan menggantikannya  
  • Membantu manusia, bukan menghapus keberadaan manusia  
  • Menjadi alat kebijakan, bukan pengganti kebijaksanaan  

Jika tidak, maka kita sedang membangun sistem yang rapi di atas kertas, tetapi rapuh di lapangan. Saatnya kembali pada Nurani Pendidikan adalah tentang manusia. Tentang guru yang mengajar, murid yang belajar, dan proses yang terjadi setiap hari di ruang kelas. Ketika seorang guru nyata hadir dan berkontribusi, maka seharusnya sistem hadir untuk mengakui bukan meniadakan. Kita perlu bertanya lebih jujur: apakah sistem kita masih berpihak pada manusia, atau sudah terlalu tunduk pada angka dan data? 
Wacana tahun 2027 ini seharusnya menjadi alarm, bukan ancaman yang membungkam. Alarm bahwa ada yang perlu kita benahi bukan hanya dalam sistem pendidikan, tetapi dalam cara kita memandang realitas. Jangan sampai yang hadir setiap hari di ruang kelas justru dianggap tidak ada. Jangan sampai yang nyata kalah oleh yang tercatat. Karena jika itu terus terjadi, maka yang hilang bukan hanya keadilan bagi guru honorer tetapi juga masa depan pendidikan itu sendiri.

Read More »
10 May | 0komentar

Sekolah Banyak, Tapi Kenapa Belum Maju? Ini yang Sebenarnya Perlu Diubah!

Wisuda Program S2 UGM Taun 2013

Kalau dipikir-pikir, hampir semua negara sekarang punya sekolah. Bahkan anggaran pendidikan tiap tahun juga nggak kecil. Tapi anehnya, kemajuan tiap negara beda-beda banget. Ada yang melesat cepat, ada juga yang jalan di tempat. Jadi, sebenarnya apa sih yang bikin beda?  
Masalahnya Bukan di Jumlah, Tapi Arah Sering kali kita mikir: “Kalau sekolah diperbanyak, pasti negara jadi maju.” Nggak salah… tapi juga nggak sepenuhnya benar. Karena faktanya, kemajuan sebuah negara bukan cuma soal jumlah sekolah atau besarnya anggaran, tapi lebih ke arah atau orientasi pendidikannya. Apakah pendidikan itu: Cuma bikin siswa hafal? Atau benar-benar melatih mereka untuk berpikir?  
Nah, di sinilah letak masalah utamanya. Belajar, Tapi Nggak Dilatih Berpikir.  Jujur aja, banyak sistem pendidikan masih fokus ke: Nilai Ranking Ujian Padahal, dunia nyata nggak nanya: “Nilai kamu berapa?”  
Dunia nyata lebih peduli:  
Kamu bisa mikir nggak?  
Bisa nyelesain masalah nggak?  
Bisa adaptasi nggak?  
Kalau pendidikan belum sampai ke situ, wajar banget kalau kemajuan terasa lambat. Karena kita sebenarnya sibuk belajar, tapi belum benar-benar berpikir.  

Yang Perlu Diubah Itu 
Cara Belajarnya  
Pertanyaannya sekarang: Apa yang harus diubah? Jawabannya bukan sekadar kurikulum atau fasilitas. Yang paling penting adalah cara belajar manusianya. Beberapa hal yang perlu mulai digeser:  
1. Dari Hafalan ke Pemahaman Bukan cuma tahu “apa”, tapi juga ngerti “kenapa”.  
2. Dari Takut Salah ke Berani Mencoba Kalau takut salah terus, kapan berkembangnya?  
3. Dari Pasif ke Aktif Belajar itu bukan duduk diam, tapi ikut mikir, diskusi, bahkan debat sehat.  
4. Dari Jawaban Tunggal ke Banyak Perspektif  
Masalah di dunia nyata jarang punya satu jawaban benar. Pendidikan itu soal “Cara Berpikir”, Bukan Sekadar Ilmu Ilmu itu penting, tapi cara berpikir jauh lebih penting. Karena dengan cara berpikir yang benar: Ilmu bisa berkembang Ide baru bisa muncul Solusi bisa ditemukan . Negara yang maju biasanya bukan yang paling banyak sekolahnya, tapi yang warganya terbiasa berpikir kritis, kreatif, dan terbuka.  

Jadi, Mulai dari Mana? Nggak perlu nunggu sistem berubah total. Bisa mulai dari hal kecil: Biasakan bertanya, bukan cuma menerima Cari tahu “kenapa”, bukan cuma “apa” Diskusi, bukan cuma dengar Berani beda pendapat, tapi tetap santun Karena perubahan besar selalu dimulai dari cara kita berpikir. 

Upgrade Cara Belajar, Bukan Cuma Sistemnya Kalau kita ingin melihat negara ini benar-benar maju, maka yang perlu di-upgrade bukan cuma gedung sekolah atau anggaran… Tapi cara manusia di dalamnya belajar dan berpikir. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah negara selalu berawal dari cara berpikir warganya.

Read More »
27 April | 0komentar

Sinopsis Karya Buku

Sinopsis Karya Literasi (Buku ber-ISBN) oleh Sarastiana, S.Pd., M.B.A. 
Untuk memberikan gambaran/ringkasan singkat, padat, dan jelas yang menggambarkan garis besar isi sebuah buku hasil karya saya, dari awal hingga akhir. Fungsi utamanya adalah memberikan gambaran umum mengenai isi, materi, tujuan atau poin penting. 
1. Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket (ISBN: 978-623-7703-19-8) 
Inovasi Pembelajaran Teknik. Banyak siswa merasa kesulitan membayangkan volume bangunan hanya dari gambar 2D. Buku ini hadir memberikan solusi konkret: menggunakan media maket sebagai jembatan visual. Pembaca akan dipandu bagaimana mengonversi wujud fisik maket menjadi perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang akurat, menjadikannya panduan wajib bagi guru DPIB yang ingin kelasnya lebih dinamis dan mudah dipahami. 



2. Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog (ISBN: 978-623-320-202-2) 

Digitalisasi Pendidikan & Literasi. Blog bukan sekadar catatan harian, melainkan ekosistem belajar yang tanpa batas. Buku ini merangkum pengalaman saya bertahun-tahun mengelola blog pendidikan hingga memenangkan berbagai penghargaan. Di dalamnya, dibahas tuntas cara membangun blog sebagai media ajar yang interaktif, tempat menyimpan portofolio siswa, sekaligus sarana aktualisasi diri bagi guru di era digital. 


3. Mengenal Rangka Atap Baja Ringan (ISBN: 978-602-0793-54-2) 

Pengetahuan Teknis Konstruksi. Industri konstruksi bergerak cepat menuju material yang praktis dan efisien. Buku ini menyajikan dasar-dasar pengetahuan tentang rangka atap baja ringan, mulai dari jenis material, keunggulan, hingga prinsip pemasangannya. Disusun dengan bahasa yang lugas, buku ini sangat cocok menjadi referensi dasar bagi siswa SMK bangunan maupun masyarakat umum yang ingin mengenal teknologi atap modern. 


4. 1001 Desain Rumah Minimalis (ISBN: 978-623-8729-87-6) 

Inspirasi Desain & Arsitektur. Rumah minimalis tetap menjadi primadona, namun tantangannya adalah bagaimana memaksimalkan fungsi di lahan terbatas. Buku ini adalah kumpulan ide dan eksplorasi desain yang saya susun untuk memberikan inspirasi bagi siapa saja yang ingin merancang hunian estetis, sehat, dan fungsional. Sebuah karya yang menggabungkan sisi teknis DPIB dengan seni arsitektur. 

Read More »
02 February | 0komentar

Ketika Fondasi Kejuruan Bertemu Filosofi Budaya Lokal

Kolaborasi antar-mata pelajaran merupakan strategi pembelajaran inovatif yang dapat memberikan konteks yang lebih kaya dan pemahaman yang lebih mendalam bagi siswa. Dalam proyek perencanaan Rumah Tipe 36, menyandingkan Mata Pelajaran Kejuruan (seperti Desain Interior, Teknik Gambar Bangunan, atau Konstruksi) dengan Mata Pelajaran Sejarah bukan sekadar integrasi, melainkan upaya untuk menggali akar dan relevansi desain arsitektur dalam linimasa budaya dan sosial.
Proyek perencanaan Rumah Tipe 36 menjadi praktik inti bagi siswa Kejuruan. Dalam tahapan ini, fokus utama mencakup:
  • Gambar Teknis: Menyusun denah, tampak, potongan, dan detail konstruksi yang akurat.
  • Perhitungan Anggaran: Menghitung kebutuhan material, biaya tenaga kerja, dan total Anggaran Biaya Pelaksanaan (RAB).
  • Aplikasi Prinsip Desain: Menerapkan kaidah ergonomi, sirkulasi udara, pencahayaan, dan efisiensi ruang untuk hunian minimalis (Tipe 36).
Namun, aspek teknis ini sering kali kurang menyentuh dimensi humanis dan historis dari sebuah hunian. Di sinilah peran Sejarah menjadi krusial.

Mapel Sejarah: Konteks Budaya dan Arsitektur
Sejarah menawarkan kerangka waktu dan pemahaman mengenai perkembangan gaya hidup, teknologi, dan arsitektur yang memengaruhi bentuk sebuah rumah. Kolaborasi ini dapat terwujud melalui eksplorasi:
  • Kebijakan Perumahan: Kapan dan mengapa pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan perumahan sederhana atau bersubsidi. 
  • Pola Tata Ruang Masa Lalu: Membandingkan pola tata ruang rumah modern Tipe 36 dengan rumah tradisional atau rumah yang dibangun pada era pasca-kemerdekaan. 
  • Pengaruh Global: Bagaimana tren arsitektur internasional (misalnya, Modernisme, gerakan Bauhaus, atau arsitektur pasca-perang) memengaruhi desain rumah di Indonesia.
Jejak Arsitektur Lokal dan Budaya
Sejarah membantu siswa untuk memasukkan identitas lokal ke dalam desain.
  • Material: Menyelidiki penggunaan material bangunan tradisional di daerah setempat dan potensi adaptasinya dalam desain modern (misalnya, penggunaan bambu, kayu, atau batu alam). 
  • Filosofi Ruang: Mempelajari bagaimana konsep "ruang tamu", "teras", atau "dapur" memiliki makna budaya dan bagaimana hal tersebut dapat diakomodasi secara fungsional dalam keterbatasan ruang Tipe 36.
Tentu, berikut adalah rancangan artikel mengenai kolaborasi mata pelajaran (mapel) kejuruan pada proyek perencanaan Rumah tipe 36 dengan mata pelajaran Sejarah. 

🏠 Menggali Akar Desain: 
Kolaborasi Mapel Kejuruan dan Sejarah dalam Proyek Rumah Tipe 36 Kolaborasi antar-mata pelajaran merupakan strategi pembelajaran inovatif yang dapat memberikan konteks yang lebih kaya dan pemahaman yang lebih mendalam bagi siswa. Dalam proyek perencanaan Rumah Tipe 36, menyandingkan Mata Pelajaran Kejuruan (seperti Desain Interior, Teknik Gambar Bangunan, atau Konstruksi) dengan Mata Pelajaran Sejarah bukan sekadar integrasi, melainkan upaya untuk menggali akar dan relevansi desain arsitektur dalam linimasa budaya dan sosial. 

📐 Mapel Kejuruan: Fondasi Teknis Proyek Proyek perencanaan Rumah Tipe 36 menjadi praktik inti bagi siswa Kejuruan. Dalam tahapan ini, fokus utama mencakup: 
Gambar Teknis: Menyusun denah, tampak, potongan, dan detail konstruksi yang akurat. Perhitungan Anggaran: Menghitung kebutuhan material, biaya tenaga kerja, dan total Anggaran Biaya Pelaksanaan (RAB). 
Aplikasi Prinsip Desain: Menerapkan kaidah ergonomi, sirkulasi udara, pencahayaan, dan efisiensi ruang untuk hunian minimalis (Tipe 36). Namun, aspek teknis ini sering kali kurang menyentuh dimensi humanis dan historis dari sebuah hunian. Di sinilah peran Sejarah menjadi krusial. 
🏛️ Mapel Sejarah: Konteks Budaya dan Arsitektur 
Sejarah menawarkan kerangka waktu dan pemahaman mengenai perkembangan gaya hidup, teknologi, dan arsitektur yang memengaruhi bentuk sebuah rumah. Kolaborasi ini dapat terwujud melalui eksplorasi: 

1. Sejarah Konsep Rumah Sederhana dan Subsidi 
Siswa dapat menelusuri bagaimana konsep rumah tipe kecil, seperti Tipe 36, muncul sebagai solusi perumahan. Ini melibatkan pembahasan tentang: Kebijakan Perumahan: Kapan dan mengapa pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan perumahan sederhana atau bersubsidi. Pola Tata Ruang Masa Lalu: Membandingkan pola tata ruang rumah modern Tipe 36 dengan rumah tradisional atau rumah yang dibangun pada era pasca-kemerdekaan. Pengaruh Global: Bagaimana tren arsitektur internasional (misalnya, Modernisme, gerakan Bauhaus, atau arsitektur pasca-perang) memengaruhi desain rumah di Indonesia. 

2. Jejak Arsitektur Lokal dan Budaya Sejarah membantu siswa untuk memasukkan identitas lokal ke dalam desain. Material: Menyelidiki penggunaan material bangunan tradisional di daerah setempat dan potensi adaptasinya dalam desain modern (misalnya, penggunaan bambu, kayu, atau batu alam). Filosofi Ruang: Mempelajari bagaimana konsep "ruang tamu", "teras", atau "dapur" memiliki makna budaya dan bagaimana hal tersebut dapat diakomodasi secara fungsional dalam keterbatasan ruang Tipe 36. 

 🎯 Manfaat Kolaborasi yang Sinergis 
Penggabungan dua disiplin ilmu ini menciptakan sinergi yang meningkatkan kompetensi siswa secara komprehensif:

Mapel

Kontribusi dalam Proyek

Hasil pada Siswa

Kejuruan

Menghasilkan desain teknis yang layak dan efisien.

Kompetensi Teknis (menggambar, menghitung) dan Pemecahan Masalah (efisiensi ruang).

Sejarah

Menyediakan konteks budaya dan referensi arsitektur masa lalu.

Pemikiran Kritis dan Sensitivitas Budaya dalam mendesain, menciptakan desain yang bernyawa.



Melalui kolaborasi ini, proyek Rumah Tipe 36 tidak hanya menjadi latihan menggambar dan menghitung, tetapi menjadi telaah kritis terhadap bagaimana sebuah hunian dapat berfungsi secara teknis sekaligus merefleksikan kebutuhan, sejarah, dan budaya masyarakat penghuninya. Desain arsitektur pada akhirnya adalah produk sejarah dan kebudayaan.

Implementasi Praktis di Kelas
Beberapa langkah praktis untuk melaksanakan kolaborasi ini:
  • Fase Riset: Siswa Sejarah memberikan data mengenai periode pembangunan perumahan massal di Indonesia (misalnya, era 1980-an) dan studi kasus rumah sederhana yang sukses atau gagal secara sosial.
  • Fase Konseptual: Siswa Kejuruan harus mempresentasikan "konsep filosofis" di balik desain Tipe 36 mereka, menjelaskan bagaimana elemen desain tersebut terinspirasi atau merespons sejarah dan budaya lokal.
  • Evaluasi Bersama: Guru Kejuruan menilai aspek teknis (RAB dan gambar), sementara Guru Sejarah menilai aspek relevansi historis dan konteks budaya dari konsep desain yang diusulkan.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa pendidikan kejuruan yang efektif tidak hanya berfokus pada kemampuan membuat, tetapi juga pada kemampuan memahami mengapa kita membuat sesuatu dengan cara tertentu.

Read More »
12 November | 0komentar

Di Balik Senyum Guru: Tantangan yang Jarang Tersorot dalam Dunia Pendidikan




Tanggal 25 November setiap tahun, di rayakan sebagai Hari Guru. Peringatan ini sebagai bentuk apresiasi atas jasa para guru/pendidik. Senyum ramah dan semangat mereka dalam mengajar seringkali menjadi pemandangan yang menghiasi ruang-ruang kelas. Namun, di balik senyum ceria itu, tersimpan beragam tantangan yang jarang tersorot dan patut kita sadari bersama. 

Beban Kerja yang Menumpuk 
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi guru adalah beban kerja yang sangat padat. Selain mengajar di kelas, guru juga harus menyusun rencana pembelajaran, memeriksa  tugas siswa, membuat laporan, dan mengikuti berbagai pelatihan. Belum lagi tuntutan administrasi yang semakin kompleks dan seringkali memakan waktu yang cukup banyak. Terdapat 5 aplilasi yang merupakan bagian dari beban administrasi/ dokumen kepegawaian guru. Beban kerja yang berlebihan ini dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental guru, serta mengurangi kualitas waktu yang dapat mereka dedikasikan untuk setiap siswa. 


Keterbatasan Sarana dan Prasarana 
Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran. Kurangnya buku pelajaran, alat peraga, laboratorium, dan akses internet yang terbatas menjadi kendala bagi guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Kondisi ini semakin terasa di daerah-daerah terpencil, di mana guru harus berkreasi dengan segala keterbatasan yang ada. Perkembangan Teknologi yang Pesat Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat menghadirkan tantangan tersendiri bagi guru. Mereka dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi dengan berbagai platform pembelajaran online, aplikasi pendidikan, dan media sosial. Meskipun teknologi menawarkan banyak manfaat, namun tidak semua guru memiliki akses yang sama terhadap pelatihan dan dukungan yang diperlukan. 

Keberagaman Siswa 
Setiap siswa memiliki karakter, minat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Guru harus mampu mengakomodasi keberagaman ini dalam proses pembelajaran. Namun, dengan jumlah siswa yang cukup banyak di setiap kelas, seringkali sulit bagi guru untuk memberikan perhatian yang cukup kepada setiap individu. Disiplin Siswa yang Menurun Perubahan zaman dan pengaruh lingkungan sekitar membuat disiplin siswa menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Perilaku siswa yang kurang menghormati guru dan teman, serta kecenderungan untuk lebih banyak menggunakan gadget daripada belajar, menjadi masalah yang cukup serius. 

Ancaman kriminalisasi guru menjadi isu yang semakin sering terdengar belakangan ini. Tindakan hukum yang ditujukan kepada guru, seringkali dipicu oleh berbagai faktor, seperti perbedaan persepsi dalam proses pembelajaran, tuntutan akademik yang tinggi, atau bahkan masalah pribadi. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, mengingat peran guru yang sangat penting dalam membentuk generasi muda.

Dampak dari Tantangan Tersebut 
Tantangan-tantangan yang dihadapi guru dapat berdampak pada kualitas pendidikan secara keseluruhan. Guru yang kelelahan dan terbebani akan kesulitan memberikan pembelajaran yang efektif. Selain itu, kurangnya sarana dan prasarana yang memadai dapat menghambat perkembangan potensi siswa. 

Solusi dan Harapan 
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu meningkatkan anggaran pendidikan, menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, serta memberikan pelatihan yang berkelanjutan bagi guru. Sekolah juga harus memberikan dukungan yang lebih baik kepada guru, misalnya dengan mengurangi beban administratif dan menyediakan waktu yang cukup bagi guru untuk berkolaborasi. 
Masyarakat pun perlu memberikan apresiasi yang lebih tinggi terhadap profesi guru dan ikut berperan serta dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Di balik senyum mereka, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang telah berjuang keras untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudah saatnya kita memberikan perhatian yang lebih serius terhadap tantangan yang mereka hadapi dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan.

Read More »
25 November | 0komentar

Materi MPLS Tahun Ajaran 2024/2025

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai salah satu kegiatan wajib bagi sekolah untuk menjematani siswa-siswa baru. Tujuan utama MPLS adalah membantu siswa mengenal lingkungan sekolah, membiasakan diri dengan jadwal dan kegiatan sekolah, serta mengenal guru dan staf. Selain itu, MPLS juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, komunikasi, dan kepemimpinan.
MPLS sebagai periode penting bagi siswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. MPLS bertujuan memperkenalkan siswa pada budaya, norma, dan tata tertib sekolah, serta membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru.
Perencanaan yang matang adalah kunci untuk menyelenggarakan MPLS yang sukses. Sekolah perlu membentuk tim khusus yang bertanggung jawab atas pelaksanaan MPLS. Tim ini harus terdiri dari guru, staf, dan siswa lama/kelas atas yang terlatih untuk membimbing siswa baru khususnya untuk menemani masa transisi. Langkah pertama dalam perencanaan adalah menyusun jadwal kegiatan yang jelas dan terstruktur. Kegiatan harus dirancang sedemikian rupa sehingga memberikan informasi yang dibutuhkan siswa tanpa membuat mereka merasa terbebani atau stres. 


Berikut materi MPLS yang wajib disampaikan dan dipahami oleh semua pihak yang terlibat termasuk guru, siswa dan orang tua:
1. profil satuan pendidikan
 
Pengenalan Lingkungan Sekolah: Guru dan peserta didik harus mengenal fasilitas dan lingkungan sekolah, termasuk ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, kantin, dan area olahraga Hal ini bertujuan agar peserta didik baru dapat merasa nyaman dan familiar dengan lingkungan barunya. 
 a. Pengenalan Kurikulum: 
Materi ini meliputi pengenalan terhadap kurikulum yang diterapkan di sekolah, termasuk mata pelajaran, jadwal pelajaran, serta metode pembelajaran yang akan digunakan. Informasi ini penting agar peserta didik dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk kegiatan belajar mengajar. 
b. Pengenalan Tata Tertib: 
Guru wajib menjelaskan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah, seperti jam masuk dan pulang, peraturan tentang seragam, serta sanksi bagi yang melanggar. Tata tertib ini penting untuk menjaga disiplin dan keteraturan di lingkungan sekolah. 
c. Prestasi Sekolah: 
Informasi tentang prestasi yang telah diraih oleh sekolah, baik di bidang akademik maupun non-akademik, dapat memotivasi peserta didik baru untuk berprestasi dan bangga menjadi bagian dari sekolah tersebut.


2. Pembentukan karakter
 Profil Pelajar Pancasila: Materi ini menekankan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, kreatif, berintegritas, dan berwawasan kebangsaan. Pembentukan karakter ini diharapkan dapat membentuk pribadi yang tangguh dan berakhlak mulia. Penguatan Pendidikan Karakter: Guru harus memberikan materi yang berkaitan dengan penguatan pendidikan karakter, termasuk sikap jujur, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab. Pendidikan karakter ini sangat penting untuk membangun fondasi moral peserta didik.


3. Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Pendidikan Lingkungan Hidup: Materi ini mencakup edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah, pengelolaan sampah, dan penghijauan. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan nyaman. b.Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkotika (P4GN): Pengenalan tentang bahaya narkotika dan cara pencegahannya merupakan bagian penting dari MPLS. Peserta didik harus dibekali pengetahuan untuk menghindari penyalahgunaan narkotika dan menjaga diri dari pergaulan negatif. c. Pembinaan Dasar-dasar Bencana dan Pertolongan Pertama: Materi ini meliputi pengetahuan dasar tentang penanggulangan bencana dan keterampilan pertolongan pertama. Hal ini penting agar peserta didik siap menghadapi situasi darurat dengan tenang dan sigap.
4. Penguatan Kesadaran Bela Negara
a. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara: Guru harus mengajarkan pentingnya cinta tanah air, penghormatan terhadap lambang negara, dan semangat nasionalisme. Kesadaran berbangsa dan bernegara ini penting untuk membangun rasa kebanggaan dan tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia. b. Tiga Dosa Besar Pendidikan: Peserta didik harus diberi pemahaman tentang tiga dosa besar dalam pendidikan, yaitu perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi. Pengenalan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua.
5. Pengenalan Budaya Daerah
Guru dan peserta didik harus memahami dan menghargai kebudayaan lokal di daerahnya termasuk bahasa, kesenian, dan adat istiadat. Pengenalan budaya ini penting untuk menjaga kearifan lokal dan memperkaya wawasan peserta didik tentang keberagaman budaya. [ permen no 6 tahun 2023]
6. Literasi Digital dan Literasi Keuangan
Literasi Digital: Materi ini mencakup penggunaan teknologi informasi secara bijak dan bertanggung jawab, serta pemahaman tentang keamanan digital Literasi digital ini penting di era teknologi untuk menghindari dampak negatif dari penggunaan internet dan media sosial. Literasi Keuangan: Peserta didik harus dibekali dengan pengetahuan dasar tentang pengelolaan keuangan, seperti menabung, membuat anggaran, dan mengelola uang saku. Literasi keuangan ini penting untuk membentuk kebiasaan finansial yang baik sejak dini.

Read More »
17 July | 0komentar

3.1.a.4.1. Eksplorasi Konsep - Forum Diskusi Modul 3.1 Kasus 1

Eksplorasi Konsep Forum Diskusi Modul 3.1 Kasus 1


Kasus 1 :
Pak Frans merupakan guru matematika di SMP Karunia. Pak Frans dikenal sebagai guru yang rajin, ramah, penyabar, dan disukai murid-muridnya. Suatu hari ia sedang mengajar di kelas 8A, guru piket tergopoh-gopoh tiba di depan kelasnya dan mengatakan ada ayahnya Andreas, salah satu murid di kelas 8A di ruang tamu sekolah. Guru piket mengatakan pada pak Frans bahwa ayahnya Andreas ingin menjemput Andreas dan memintanya untuk membantunya bekerja di ladang. Ia juga mengatakan bahwa ayah Andreas datang sambil marah-marah bahkan mengacung-acungkan parang. Pak Frans pun memanggil Andreas dan mengatakan bahwa ia dijemput ayahnya pulang. Andreas langsung memohon sambil menangis agar Pak Frans tidak mengizinkan ia pulang bersama ayahnya. Andreas berkata ia ingin belajar di sekolah dan ia takut dimarah-marahi oleh ayahnya bila membantu ayahnya di ladang, bila melakukan kesalahan sedikit saja. Pak Frans bimbang, antara memenuhi permintaan Andreas atau tidak. Dalam situasi dan kondisi seperti itu, akhirnya Pak Frans memutuskan untuk membawa Andreas ke ruang kepala sekolah, dan meminta saran dari kepala sekolah. Bila Anda adalah kepala sekolahnya, saran apa yang akan anda berikan pada Pak Frans, dan apa alasannya?

  1. Paradigma yang terjadi pada kasus tersebut adalah keadilan lawan rasa kasihan,dan nilai-nilai yang saling bertentangan dalam kasus tersebut adalah tanggung jawab dan kedisiplinan 
  2. Dalam situasi kasus tersebut tidak ada unsur pelanggaran hukum.Namun terdapat pelanggaran hak asasi manusia tentang pendidikan seperti yang dialami Andreas dalam kasus tersebut "masih sekolah namun dijemput ayahnya untuk membantunya bekerja diladang." 
  3. Dalam kasus tersebut terdapat pelanggaran peraturan atau kode etika profesi yaitu Ayah andreas datang kesekolah dengan marah-marah,mengacungkan parang untuk mengajak Andreas pulang. Sebagai wali murid seharusnya ayahnya Adreas tidak melakukan hal tersebut,jika berkunjung ke sekolah harus dengan baik dan sopan serta Ketika berbicara dengan guru harus dengan tutur kata yang sopan tentang maksud dan tujuannya datang kesekolah. 
  4. Menurut saya situasi yang salah dalam kasus tersebut adalah:Menjemput anak belum waktunya pulang,datang ke sekolah dengan marah-marah dan mengacungkan parang,serta tidak memberikan anak waktu untuk belajar ,namun dipaksa untuk membantunya bekerja,padahal anak tersebut dalan keadaan masih belajar. Jika keputusan saya ini akan diviralkan saya siap dan tidak mempermasalahkan hal itu, karna keputusan yang saya ambil memiliki latar belakang yang baik. 
  5. Dalam situasi ini keputusan yang akan diambil oleh panutan saya/idola saya adalah akan melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan 
  6. Menurut pemikiran saya,melihat karakter dari ayahnya andreas,untuk solusi permasalahan kasus ini bisa juga dengan melakukan musyawarah dengan ayahnya andreas untuk mencari solusi atas permasalahan andreas atau dengan melakukan kegiatan "Choaching dengan Alur Tirta"dimana pemasalahan tersebut berasal dari coachee (ayah Andreas) yang tidak mengizinkan anaknya untuk belajar namun disuruh membantunya bekerja,dan solusinya juga dari coachee itu sendiri. 
  7. Keputusan yang saya ambil atas permasalahan tersebut adalah: Mengajak ayahnya andreas bermusyawarah untuk mengizinkan andreas belajar terlebih dahulu sampai waktu pulang sekolah, Mengizinkan andreas untuk kembali belajar dikelas.
  8. Menanamkan kepada andreas sikap sayang dan rasa hormat terhadap orang tuanya. 
  9. Prinsip yang saya gunakan adalah Berpikir Berbasis peraturan karena untuk membuat suatu keputusan harus berdasarkan peraturan yang dibuat.Seorang guru itu adalah orang yang berani mengajar dengan tidak berhenti belajar

  1. Jika Situasinya adalah dilema etika, paradigma yang terjadi adalah Rasa Keadilan lawan Rasa Kasihan (justice vs mercy). Nilai nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut adalah nilai kejujuran dan nilai kasih sayang 
  2. Ada unsur pelanggaran hukum pada situasi tersebut karena Ibu Dani menyalahgunakan penggunaan uang MKKS 
  3. Ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut (uji regulasi) karena sebagai bendahara seyogyanya dia dapat mengemban amanah yang diberikan dengan melaksanakan tugas sesuai tupoksi bendahara dengan sebaik baiknya.
  4. Berdasarkan perasaan dan intuisi saya, ada yang salah dalam situasi berikut yaitu perbuatan Ibu Dani tidak sesuai dengan kepercayaan yang diemban dan tupoksinya sebagai bendahara 
  5. Saya merasa agak tidak nyaman ketika keputusan saya dipublikasikan di media cetak/ elektronik dan atau menjadi viral di media sosial, hal itu terjadi karena menurut saya situasi ini juga cenderung merupakan bujukan moral dimana perbuatan ibu Dani bertentangan dengan aturan yang berlaku selaku Beliau sebagai Bendahara. 
  6. Menurut saya keputusan yang saya ambil juga akan sama dengan keputusan panutan saya yaitu kepala sekolah saya 
  7. Sebuah penyelesaian kreatif yang mungkin dapat saya ambil dan tidak terfikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini adalah mungkin saya akan merekomendasikan kepada ibu Dina untuk mengajukan pinjaman ke pihak ketiga semisal bank untuk mengganti dana MKKS yang telah dipakai, sehingga Ibu Dina akan terhindar dari bujukan moral yang ada dan tidak melanggar peraturan, dan pertanggung jawabannya sebagai bendahara MKKS 
  8. Keputusan yang saya ambil adalah saya akan mengadakan diskusi dengan paradigma coaching dengan ibu dina, saya juga akan memberi tenggat waktu kepada ibu Dina maksimal 3 hari sebelum rapat Evaluasi uang tersebut sudah tersedia dengan cara tadi mengajukan pinjaman kepada pihak ketiga secara legal. Jika ibu dina tidak bisa memenuhinya maka saya akan menceritakan apa adanya ketika rapat evaluasi dan meminta saran dan pertimbangan dalam rapat akan hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan hal tersebut 
  9. Prinsip yang saya gunakan adalah Berpikir Berbasis Peraturan (Rule -Based Thinking), dengan perpedoman pada aturan aturan yang harus dipegang ketika seseorang diberikan tanggung jawab sehingga melekat hak dan kewajibannya akan posisinya tersebut.

Kasus 2: 
Ibu Azizah adalah kepala sekolah SMP Tunas Bangsa. Ia adalah seorang kepala sekolah yang memiliki integritas dan komitmen yang tinggi. Ia memiliki hubungan profesional yang baik dengan Ibu Dani, Kepala SMA Nusantara. Mereka seringkali berkomunikasi dan bekerjasama sehubungan dengan program-program pendidikan baik di sekolah Ibu Azizah sendiri maupun sekolah Ibu Dani. Baru-baru ini Ibu Azizah terpilih menjadi ketua MKKS-Musyawarah Kerja Kepala Sekolah. Ibu Dani pun terpilih menjadi bendahara MKKS. Awalnya semua program MKKS dibawah kepemimpinan Ibu Azizah berjalan dengan baik sampai pada saatnya diadakan rapat evaluasi semester 1, dimana Ibu Azizah harus memberikan laporan pada Dewan Pembina MKKS, termasuk laporan keuangan. Ibu Azizah pun meminta laporan keuangan pada bendahara yaitu Ibu Dani. Dua minggu sebelum rapat evaluasi, Ibu Azizah pun sibuk mempersiapkan dokumen-dokumen laporan yang dibutuhkan, termasuk dokumen yang berhubungan dengan keuangan. Ia pun menghubungi Ibu Dani, saat itulah Ibu Azizah mengetahui bahwa selama ini Ibu Dani menggunakan sebagian uang MKKS untuk pengobatan putrinya yang sedang sakit dan memerlukan pengobatan yang mahal. Ibu Dani berjanji bahwa uang tersebut akan segera digantikan sebelum rapat evaluasi tiba. Ibu Azizah sebetulnya ragu akan hal tersebut mengingat jumlah uang yang cukup besar. Namun Ibu Dani meminta Ibu Azizah untuk berjanji untuk tidak memberitahu siapapun tentang tindakannya. Apa yang akan dilakukan Anda bila berada di posisi Ibu Azizah, dan mengapa?

1. Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi pada situasi tersebut? Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut? 
Paradigma rasa keadilan dan rasa belas kasihan, nilai yang bertentangan nilai keadilan dan belas kasihan. 
2. Apakah ada unsur pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? (Uji legal). Ada pelanggaran hukum, yaitu menggunakan uang dalam jumlah banyak tanpa ijin dan tidak sesuai dengan kepentingannya, maka dalam kasus ini adalah terkait dilema etika atau benar vs benar adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi keduanya benar namun bertentangan dalam mengambil sebuah keputusan 
3.  Apakah ada pelanggaran peraturan / kode etik profesi dalam kasus tersebut? (Uji regulasi). 
Ada pelanggaran kode etik, karena menggunakan uang untuk kepentingan pribadi. 
4. Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi). Ada uji intuisi dalam kasus ini yang salah adalah Bu Dani karena menggunakan uang tanpa ijin untuk kepentingan pribadi bukan organisasi. 
5. Apa yang Anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di media cetak/elektronik atau menjadi viral di media sosial? Apakah Anda merasa nyaman? tidak nyaman karena secara pribadi akan memperburuk citra bu Dani selaku pribadi dan pejabat publik, dan juga memperburuk citra organisasi MKKS. 
6. Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini? Menurut saya dengan melakukan dialog dengan baik dan secara kekeluargaan agar dapat menyelesaikan problem keuangan sehingga pada saat waktunya pelaporan semua sudah terkendali dan normal. 
7. Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma)? Menyarankan Bu Dani untuk menyekesaikan keuangan MKKS, kalau mengalamai kesulitan bekerja sama dengan Koperasi atau Bank untuk diberikan pinjaman lunak kepada Bu Dani agar persoalan keuangan MKKS dapat terselesaikan. 
8. Apa keputusan yang Anda ambil?keputusan yang diambil dengan melakukan diskusi coaching bahwa Bu Dani harus lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan organisasi MKKS, untuk berkonsultasi dulu sebelum bertindak agar tidak menimbulkan permasalahan. 
9. Prinsip mana yang Anda gunakan, dan mengapa? Prinsip yang saya gunakan yaitu prinsip berpikir berbasis peraturan (Rule Based Thinking) ,agar Bu Dani untuk amanah dan hati-hati dalam mengelola keuangan organisasi MKKS .
1. Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi pada situasi tersebut? Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut? 
Paradigma rasa keadilan dan rasa belas kasihan, nilai yang bertentangan nilai keadilan dan belas kasihan. 
2. Apakah ada unsur pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? (Uji legal). Ada pelanggaran hukum, yaitu pengancaman dengan membawa senjata tajam kesekolah dan kekerasan anak suruh bekerja dan dimarahi ketika berbuat salah maka dalam kasus ini, benar lawan salah (bujukan moral) 
3. Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut? (Uji regulasi). Tidak ada pelanggaran kode etik dan juga tidak ada delima etika. 
4. Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi). Ada uji intuisi dalam kasus ini yang salah adalah orangtua andreas melakukan pengancaman dan mengeksploitasi anak dan sering memarahinya 
5.Apa yang Anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di media cetak/elektronik atau menjadi viral di media sosial? Apakah Anda merasa nyaman?tidak nyaman karena masih menghargai andreas dan orangtuanya, apabila sampai viral dan hal ini juga bisa memperburuk citra sekolah. 
6. Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini? Menurut saya dengan melakukan dialog dengan orang tua andreas dengan mengedepankan sosial emosional sebagai pemimpin yaitu meredam emosi orangtua andreas. Lalu diajak komunikasi membahas tentang permasalahan kenapa harus membantu bekerja. 
7. Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma)? Mengajak orang tua andreas untuk konsultasi ke tenaga ahli tentang hak-hak anak 
8. Apa keputusan yang Anda ambil?keputusan yang diambil dengan melakukan diskusi coaching bahwa dengan membawa senjata tajam, memarahi anak merupakan bentuk pelanggaran hukum karena tugas anak belajar, dan membantu orang tua setelah pulang sekolah. 
9. Prinsip mana yang Anda gunakan, dan mengapa? Prinsip yang saya gunakan yaitu prinsip berpikir berbasis peraturan (Rule Based Thinking) , agar orang tua andreas dapat mengikuti peraturan karena dalam kasus tersebut saat jam belajar anak.
Sejak pandemi covid-19 melanda dunia, seluruh lini kehidupan manusia terpengaruh, tidak terkecuali dunia pendidikan. Proses belajar mengajar beralih dilakukan dengan cara daring. Dunia bisnis secara keseluruhan juga terkena imbasnya. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan berkurang pendapatannya. Hal ini membuat beberapa orangtua murid memindahkan sekolah anak-anaknya ke sekolah yang lebih murah atau menunda menyekolahkan anak-anaknya, terutama di jenjang pendidikan usia dini atau taman kanak-kanak. Banyak TK dan Kelompok Bermain yang menjadi kekurangan murid, tak terkecuali TK dan Taman Bermain Pelangi. Jumlah murid yang telah mendaftar untuk tahun ajaran depan menurun drastis bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kepala sekolah, Ibu Marina, pun harus membuat keputusan yang sulit dalam hal pengelolaan anggaran sumber daya manusia. Dengan turunnya jumlah murid, yayasan menetapkan 5 dari 10 gurunya perlu diberhentikan, agar biaya operasional bulanan sekolah tetap aman dan agar institusi tetap dapat bertahan dalam masa pandemi. Dalam hati kecilnya, sangat berat bagi Ibu Marina untuk melakukan ini, ia tidak tega membayangkan beberapa gurunya akan kehilangan pekerjaan, apalagi di masa-masa sulit pandemi ini. Namun ia juga paham bahwa ia bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dari TK dan Kelompok Bermain yang ia pimpin agar tetap dapat bertahan. Ia pun perlu mengurangi jumlah karyawan agar tetap mampu membayar gaji mereka. Bila Anda berada dalam posisi Ibu Marina, apa yang akan Anda lakukan? Karyawan mana yang akan anda berhentikan, kriteria apa yang akan Anda gunakan? Apa alasannya?

  1. Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi pada situasi tersebut? Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut? 
  2. mengenai jangka pendek dan jangka panjang Apakah ada unsur pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? (Uji legal). didalam situasi tersebut tidak ada pelanggaran hanya fokus pada kasih sayang dan kemajuan sekolah 
  3. Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut? (Uji regulasi). tidak ada pelanggaran kode etik, karena semua terjadi sebabnya adalah kondisi yang memaksa hal tersebut.
  4. Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi). menjadi kepala sekolah dengan pengambilan langkah tersebut mungkin menjadi hal yang sangat dilema, akan tetapi harus ditentukan dan diputuskan segara . 
  5. Apa yang Anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di media cetak/elektronik atau menjadi viral di media sosial? Apakah Anda merasa nyaman? tidak berpengaruh kepada apapun, dan pastinya masyarakat akan memahamainya 
  6. Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini? menentukan dan mengkomunikasikan dengan hati hati dan hati, 
  7. Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma)? mengkolaborasikan kasus dan peluang, untuk mencarikan soluasi demi keberpihakan kepada semua, akan tetapi tentunya harus mengutamakan keberpihakan kepada murid 
  8. Apa keputusan yang Anda ambil? menganalisis kemampuan sekolah dan menentukan guru yang memenuhi kualifikasi, dan harus siap menentukan guru sesuai kemampuan. 
  9. Prinsip mana yang Anda gunakan, dan mengapa? pada peraturan dan hasil akhir

Read More »
17 June | 2komentar

Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

Sumber Daya Budaya

Pada koneksi antar materi di Modul 3.2, membuat koneksi materi dari modul-modul sebelumnya dan diminta kesimpulan. Pada koneksi antar materi di modul ini dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan sebgai berikut: 


Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan 'Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya' dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah!

Sumber daya sebagai suatu komunitas sekolah adalah suatu kesatuan yang tidak bisa berdiri sendiri. Dalam pengelolaan sumber daya oleh Pemimpin Pembelajaran dalam pemanfaatan pada aset-aset sekolah yang dimiliki dikelola dengan baik oleh seorang pemimpin pembelajaran. Pemanfaatan sumber daya yang ada di sekolah menjadi modal utama dalam membangun kekuatan atau potensi dalam ruang lingkup warga sekolah, lingkungan dan masyarakat, yang bermuara pada kebermanfaatan bagi peserta didik. Sebagai sebuah ekosistem di sekolah sumber daya yang ada saling berhubungan/ interaksi atau hubungan timbal balik atau saling ketergantungan antara komponen dalam ekosistem, yaitu dalam hal ini adalah komponen biotik yaitu unsur yang hidup dan komponen abiotik, yaitu unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup) ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya, seperti hubungan antara Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua dan Masyarakat sekitar sekolah. Sedangkan faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah: Keuangan dan Sarana dan prasarana termasuk media pembelajaran dan sarana teknologi informasi.
Aset Manusia dan Lingkungan

Melalui pemetaan kekuatan atau potensi sumber daya yang ada di sekolah, sebagai pemimpin pembelajaran harus dapat mengimpelementasikan kekuatan tersebut melalui konsep 7 modal utama yang terdapat di sekolah, yakni 1. Modal Manusia, 2. Modal Fisik, 3. Modal Sosial, 4. Modal Finansial, 5. Modal Politik, 6. Modal Lingkungan/ Alam, 7. Modal Agama dan budaya. Pengelolaan 7 oleh pemimpin pembelajaran menjadi modal utama sebagai kekuatan sekolah. Pemimpin pembelajaran juga harus dapat memanfaatkan pendekatan berfikir dalam pengelolaan asset, diantaranya Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking) akan melihat dengan cara pandang negatif. memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja, dan pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah memusatkan pikiran pada kekuatan positif, pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.


Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.

Pengelolaan sumber daya yang tepat dan dapat mendorong pada proses pembelajaran dikelas menjadi lebih berkualitas merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya yang ada di sekolah. Contoh : guru sebagai salah satu modal tentu akan berkorelasi langsung pada peningkatan PBM yang berkualitas jika sekolah mempunyai jadwal bagi guru-guru untuk mengembangkan kompetensinya melalui diklat. Dengan terupgradenya pengetahuan guru menyesuaikan dengan perkembangan kekinian pada materi sesuai dengan bidangnya tentu akan tertranfer knowledge tersebut pada siswa. Pengelolaan modal lingkungan dipadu dengan modal fisik akan berkorelasi dengan peningkatan proses KBM. Lingkungan sekolah yang kondusif dari segi sosial maupun politik akan menciptakan proses belajar yang menyenangkan bagi peserta didik. Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) yang dapat menitikberatkan pada kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, yang dijadikan sebagai kekuatan untuk maju dan berkembang. Sehingga sekolah dalam memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mendorong pada proses pembelajaran dikelas menjadi lebih berkualitas, maka sekolah dapat menerapkan model pengembangan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA), yaitu 7 modol/aset utama ini merupakan salah satu alat yang dapat membantu menemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah dan ketujuh aset ini dapat saling beririsan satu sama lain, dan contoh 7 Modal Utama, antara lain : Modal Manusia Modal manusia tersebut terdiri dari kepala sekolah, pengawas, guru, orag tua, dan murid serta ketenaga kependidikan seperti tata usaha, penjaga sekolah. Dengan mengelolaan modal ini melalui pengembangan kompetensi sebagai contoh pada dalam satu sekolah terdapat guru selalu yang selalui mengupgrade pengetahuan melalui diklat atau media yang lainnya. Terdapat tranfer pengetahuan kekinian terhadap siswa. Menggali potensi dalam bidang akademik untuk mengikuti perlombaan. Modal Sosial Pemanfaatan modal sosial dalam hal ini dapat melalui kerjasama dengan MGMP tingkat sekolah maupun MGMP antar sekolah untuk meningkatkan kompetensi sekolah. Kerjasama dengan Puskesmas untuk meningkatkan mutu kesehatan di sekolah
Modal Fisik Modal fisik yang terdapat disekolah adalah bangunan dan sarana prasarana yang dapat dimanfaatkkan sesuai dengan bentuk dan pemanfaatanya, misalnya laboratorium komputer dapat dimanfaatkan untuk belajar mengenai TIK dll. Modal Lingkungan/Alam Lingkungan / alam yang ada disekitar sekolah merupakan modal yang sangat berharga untuk menciptakan pembelajaran yang menyenagkan, seperti memanfaatkan lingkungan menjadi area apotik hidup dan dapat dimanfaatkan untuk belajar tentang obat dan pemanfaatanya. Modal Financial Modal finansial menjadi sangat perlu dipertimbangkan, karena untuk mewujdukan pembelajaran yang berkualitas perlunya adanya perencanaan yang matang, seperti pembuatan rencana kerja yang diimbangi dengan rencana anggaran biayanya yang mendukung untuk keberlangsungan proses pembelajaran manjadi lebih berkulitas. Modal Politik Dalam modal politik ini merupakan kerjasama dengan pihak luar, seperti dukungan dari Kodim Purbalingga terhadap program kedisiplinan dengan mendukung program kegiatan Pendidikan berkarakter. Kerjasama dengan Polsek berkaitan dengan budaya lalulintas. Bekerjasama MOU dengan Indusri pasangan. Modal Agama dan Budaya Modal Agama dan Budaya untuk membantu proses pembelajaran menjadi lebih berkualitas yakni, dengan adanya warga sekolah dan lingkungan religius, adanya tokoh agama baik dari lingkungan sekolah maupun lingkungan sekitar, dan terlibat aktif dalam komunitas keagamaan dan budaya daerah setempat. Misalnya menyelenggarakan program sekolah yang menunjang peningkatan budaya positif berupa budaya industri dan pendidikan karakter, dan menyelenggearakan kegiatan keagamaan dengan melibatkan tokoh agama disekitarnya.

Aset Budaya Displin

Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.






Keterkaitan modul 3.2 dengan modul 1.1 yaitu Nilai Filosofi Ki Hadjar Dewantara 
Ki Hajar Dewantara melalui filosiofinya yang mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan,bahwa pendidikan merupakan kegiatan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Pemanfaatan asset kekuatan guru dan siswa sehingga guru sebagai pemimpin pembelajaran harus dapat melakukan proses pembelajaran yang menyenangkan, dan berpihak pada murid, karena murid bukanlah kertas kosong, namun setiap murid memilki potensi yang berbeda-beda, dan tugas kita sebagai guru hanya menuntun dan menebalkan potensi yang sudah mereka miliki. 



Nilai dan Peran Guru Penggerak 
Guru sebagai pendidik merupakan bagian dari 7 modal utama, yaitu sebagai modal manusia, dalam hal ini guru sebegai pemimpin pembelajaran nilai dan peran yang sagat penting dalam proses belajar dikelasnya, sehingga ilai-nilai mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan berpihak pada murid harus dijadikan landasan dalam terciptanya pebelajar yang sesuai dengan profil pelajar pancasila. Dan guru juga harus dapat berperan dalam membangun sinergi dilingkungan sekolah sebagai pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, serta mewujudkan kepemimpinan murid, dengan nilai dan peran guru secara aktif, maka akan menciptakan generasi unggu dengan memanfaatan modal utama untuk menggali potensi murid-muridnya.
 
Visi Guru Penggerak 
Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus memilki Visi guru penggerak yang berbasis IA (Inkuiri Apresiatif) melalui alur BAGJA. Pada konsep terebut dapat juga digunakan sebagai pengelolaan sumber daya yang ada disekolah. Bahwa Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi, landasan berpikir, yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya, baik dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan.
Budaya Positif
Sebagai salah satu asset bentuk kekuatan, Budaya positif dilingkungan sekolah merupakan budaya yang mendukung segala bentuk perkembangan murid, 

Murid dan guru peraih juara sebagai Aset
dengan tujuan memanusikan manusia dengan menerapkan disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, sehingga akan menghasilkan out put dari peserta didik yang memilki karakter kuat dimasa depan. Misalnya dengan melakukan resitusi akan menciptakan peserta didik yang memilki karakter positif dimasa depannya.


 Pembelajaran Diferensiasi


Pembelajaran berdiferensiasi adalah sebuah cara dalam pembelajaran yang sangat berpihak kepada siswa, sesuai dengan kesiapan belajar siswa dan profil belajar siswa yang berbeda sesuai dengan keunikannya. Sebelum melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru harus sudah melaksakanan pemetaan terhadap minat belajar siswa. Dalam proses pembelajaran berdifrensiasi akan sangat dapat terwujud, jika pemanfaatan sumber daya yang ada disekolah seperti guru dan murid, seta modal lingkungan, modal fisik dan yang lainnya dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Pembelajaran Sosial dan Emosional
Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan strategi atau cara seorang pemimpin pembelajaran dalam melakukan kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah, yang menenkankan pada keterampilan dan pengelolaan mengenai aspek-aspek sosial emosional. Teknik mindfulness juga dapat dijadikan strategi bagaimana acara mengelola sumber daya manusia, yakni murid sehingga melalui tahap tersebut potensi kecerdasan sosial emosional anak bisa berkembang optimal.

Coaching
Coaching merupakan sebuah strategi atau acara seorang pemimpin pembelajaran untuk melakukan pengembangan kekuatan diri pada diri anak dengan menuntun, mendampingi anak, untuk menggali potensi anak dan memaksimalkannya. Pada proses Coachee memberikan kesempatan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir pada diri anak, yang didalamnya terdapat Caach sebagai pengembangan kekuatan dan potensi pada coachee sebagai lawan bicara.


Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab

Sebagai pemimpin pembelajaran dalam prosesnya akan selalu berhadapan dengan dua situasi yakni, dilema etika dan bujukan moral yang dituntut pada pengembilan keptusan. Sebagai pemimpin pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang baik, diharapkan pada pengambilan keputusan tersebut dengan mengedepankan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi seluruh elemen yang terlibat didalamnya,yaitu dengan langkah-langkah pengambilan keputusan berdasarakn 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Prinsip tersebut sanat penting karena hal ini sangat terkait dengan pengelolaan sumber daya yang ada disekolah.

Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.
Sebelum belajar modul 3.2 mengenai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya. Dalam pngambilan keputusan lebih banyak berpikir pada kekurangan, hal menyebabkan tidak jarang perasaan yang timbul adalah, perasaan yang pesimis, negatif sehingga berakhir dengan kegagalan. Dengan mempelajari modul 3.2 ini, sudut pandang mengenai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya ini menjadi berubah, karena ternyata seorang pemimpin harusnya selalu mengedanpan pola pikir berbasis kekuatan/aseet, sehingga hal tesebut membuat kita akan berpikir postif dengan memanfaatkan sumber daya atau aset yang ada disekelilingya.

Read More »
18 February | 0komentar