Read More »
Tantangan Guru Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Ruang Kelas
Read More »
Aplikasi Presentasi Gamma dan Canva
Dalam era digital ini, presentasi tidak lagi hanya sekadar slide teks. Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), Anda dapat membuat presentasi yang memukau dan efektif dalam waktu singkat. Dua platform populer yang mengintegrasikan AI untuk pembuatan presentasi adalah Gamma dan Canva. Mari kita selami fitur-fiturnya dan cara menggunakannya.
- Magic Design (Fitur AI): Anda bisa mengetikkan deskripsi presentasi yang diinginkan, dan Magic Design akan menyarankan template desain lengkap dengan teks dan gambar.
- Ribuan Template Profesional: Canva memiliki koleksi template presentasi yang sangat luas untuk berbagai mata pelajaran dan gaya.
- Pustaka Media Luas: Akses ke jutaan foto, ilustrasi, ikon, video, dan elemen grafis. Drag-and-Drop Editor: Antarmuka yang sangat intuitif memudahkan penyesuaian desain.
- Fitur Brand Kit (untuk versi Pro): Menjaga konsistensi branding sekolah atau mata pelajaran.
- Kolaborasi Real-time: Memungkinkan Anda dan rekan guru atau siswa untuk bekerja bersama pada satu presentasi.
- Perekam Presentasi (Canva Presentations): Anda bisa merekam diri Anda menjelaskan slide, cocok untuk pembelajaran asinkron.
- Background Remover (Fitur AI): Menghapus latar belakang gambar dengan cepat.
- Text to Image (Fitur AI): Membuat gambar dari deskripsi teks.
Read More »
Memaksimalkan Pengajaran dengan ChatGPT
![]() |
| Peserta Diklat kelas B |
- Mengidentifikasi fitur-fitur aplikasi Chat Bot
- Menggunakan aplikasi Chat Bot
![]() |
| Kelompok A |
- Akses Situs Resmi: Kunjungi tautan resmi di https://chat.openai.com. Bapak/Ibu bisa masuk menggunakan akun Google (Gmail) agar lebih praktis.
- Berikan Perintah (Prompt): Di kolom bagian bawah, ketikkan apa yang Bapak/Ibu butuhkan. Gunakan bahasa Indonesia yang jelas.
- Evaluasi Jawaban: ChatGPT akan memberikan respon secara instan. Baca kembali hasilnya, lalu sesuaikan atau edit sesuai dengan kurikulum dan kondisi siswa di sekolah.
- Tanya Lebih Lanjut: Jika jawaban kurang lengkap, Bapak/Ibu bisa membalasnya seperti sedang mengobrol, misalnya: "Bisa tolong buatkan versinya yang lebih sederhana untuk anak kelas 4 SD?"
- Bapak/Ibu bisa menggunakan ChatGPT untuk berbagai kebutuhan praktis, seperti:
- Membuat Soal Ujian: "Buatkan 10 soal pilihan ganda tentang siklus air untuk kelas 5 SD beserta kunci jawabannya."
- Menyusun Ide Proyek: "Berikan ide proyek berkelompok yang seru untuk materi sejarah perjuangan kemerdekaan."
- Menyusun RPP: "Bantu saya membuat draf RPP satu lembar untuk materi Pancasila."
- Verifikasi Data: ChatGPT terkadang bisa memberikan informasi yang kurang akurat. Selalu cek kembali fakta sejarah atau rumus yang diberikan.
- Sentuhan Manusia: ChatGPT memberikan data, tapi Bapak/Ibu yang memberikan empati dan pemahaman karakter kepada siswa.
Read More »
Ringkasan Regulasi Baru : Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025
| Pembina Upacara |
Tidak Ada Perubahan Kurikulum
Pendekatan Pembelajaran Mendalam
Penambahan Mata Pelajaran Pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial
Profil Lulusan
- Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Kewargaan
- Penalaran kritis
- Kreativitas
- Kolaborasi
- Kemandirian
- Kesehatan
- Komunikasi
Perubahan Kokurikuler
Read More »
Pendidikan yang Kita Inginkan: Bukan Hanya Mengakses, tapi Memahami
Fenomena yang sering kita lihat adalah pergeseran budaya belajar menjadi serba instan. Anak-anak terbiasa mendapatkan jawaban secara cepat tanpa perlu melalui proses berpikir yang mendalam. Alih-alih merenungkan suatu masalah, mereka cenderung mencari "solusi" di internet. Alih-alih membaca buku untuk memahami suatu konsep, mereka lebih memilih menonton video ringkasan yang durasinya hanya beberapa menit.
Tentu saja, konten-konten singkat ini bisa menjadi alat bantu yang berguna. Namun, jika ini menjadi satu-satunya cara belajar, kita perlu khawatir. Proses belajar yang hanya berfokus pada kecepatan dan ringkasan dapat mengikis kemampuan mereka untuk berpikir kritis dan berefleksi. Kemampuan untuk menganalisis informasi, membedakan fakta dan opini, serta menyusun argumen yang logis menjadi tumpul. Mereka menjadi konsumen pengetahuan, bukan produsennya.
Ketika sebuah tugas sekolah bisa diselesaikan dengan "copy-paste" dari internet, lalu di mana letak pengalaman belajar yang berharga? Pengalaman untuk berjuang memahami suatu materi, berdiskusi dengan teman, atau menemukan solusi setelah melalui serangkaian kesalahan adalah hal yang justru membentuk karakter dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang otentik. Proses jatuh-bangun inilah yang memberikan makna dan kekuatan pada pengetahuan yang mereka peroleh.
Pendidikan yang Kita Inginkan: Bukan Hanya Mengakses, tapi Memahami
Lalu, apakah ini jenis pendidikan yang ingin terus kita pertahankan? Pendidikan yang menghasilkan generasi yang pintar menghafal tapi miskin nalar? Atau kita menginginkan generasi yang mampu beradaptasi dengan kompleksitas dunia, memiliki empati, dan mampu memberikan solusi kreatif untuk masalah yang dihadapi?
Pendidikan di era digital tidak boleh lagi hanya berfokus pada penyaluran informasi. Peran guru dan orang tua harus bergeser dari sekadar penyedia informasi menjadi fasilitator dan pembimbing. Kita perlu mengajak anak-anak untuk bertanya, "mengapa," bukan hanya "apa." Kita perlu menantang mereka untuk berdebat, bukan sekadar menerima. Kita harus menciptakan ruang di mana mereka merasa aman untuk bereksperimen, membuat kesalahan, dan belajar dari sana.
Penting bagi kita untuk:
Membiasakan diskusi dan refleksi. Ajak anak untuk memproses informasi yang mereka dapatkan. Tanyakan pendapat mereka, minta mereka untuk menjelaskan alasannya, dan ajak mereka melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang.
Mengembangkan proyek berbasis minat. Berikan mereka tugas yang menuntut penelitian mendalam, analisis, dan kreativitas. Ini akan mendorong mereka untuk melakukan lebih dari sekadar mencari jawaban instan.
Menumbuhkan rasa ingin tahu yang otentik. Dorong mereka untuk bertanya, mencari tahu lebih dalam, dan berani untuk tidak tahu jawabannya. Ini adalah fondasi dari setiap penemuan dan inovasi.
Di tangan kita, ada tanggung jawab besar untuk membimbing anak-anak agar dapat memanfaatkan kekayaan informasi global tanpa kehilangan esensi dari proses belajar yang bermakna. Kita tidak bisa mencegah mereka untuk mengakses dunia, tapi kita bisa membantu mereka untuk memahaminya. Mari kita ciptakan pendidikan yang menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana, kritis, dan reflektif.
Read More »
Ketika Pendidikan Bertemu Teknologi: Kawan atau Lawan?
Read More »
Membangun Kemitraan Efektif dengan Kecerdasan Artifisial
Mengenali dan Menerapkan Perangkat AI untuk Pemanfaatan Umum dan Khusus
Memilih Perangkat AI yang Tepat untuk Berkolaborasi
Menerapkan Kolaborasi dengan Perangkat AI untuk Menyelesaikan Tugas Spesifik
Menganalisis Model, Metode, dan Pendekatan Pembelajaran yang Tepat untuk Mengintegrasikan AI dalam Proses Pembelajaran
Read More »
Karakteristik Mapel KKA: Membangun Masa Depan Berbasis Etika dan Konteks
Read More »
Berpikir Komputasional dan Pemanfaatan Teknologi (Mapel KKA)
- a) Dekomposisi: Memecah masalah besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mudah dikelola. Bayangkan Anda ingin membangun rumah; Anda tidak langsung membangun semuanya, melainkan membaginya menjadi pondasi, dinding, atap, dan seterusnya.
- b) Pengenalan Pola: Mengidentifikasi kesamaan, tren, atau pola dalam data atau masalah yang berbeda. Jika Anda menyadari bahwa beberapa masalah memiliki pola yang sama, Anda bisa menggunakan solusi yang sama untuk menyelesaikannya.
- c) Abstraksi: Menyaring informasi yang tidak relevan dan fokus pada detail yang penting. Ini seperti membuat peta — Anda tidak perlu melihat setiap pohon atau batu, hanya jalan utama dan penanda penting.
- d) Algoritma: Mengembangkan langkah-langkah atau instruksi yang jelas dan berurutan untuk memecahkan masalah atau mencapai suatu tujuan. Ini adalah "resep" untuk menyelesaikan tugas. Dengan menguasai berpikir komputasional, kita tidak hanya menjadi pemecah masalah yang lebih baik, tetapi juga lebih adaptif dalam menghadapi tantangan di berbagai aspek kehidupan, dari pekerjaan hingga kehidupan sehari-hari.
Read More »
Rasional Mapel Koding dan Kecerdasan Artifisial
Read More »
Mapel Koding dan Kecerdasan Artifisial
Indonesia telah menetapkan fokus pada pengembangan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif untuk menghadapi tantangan global, termasuk di bidang digital, melalui Undang-Undang No. 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Kemampuan digital sangat penting di era Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0, di mana teknologi seperti Kecerdasan Artifisial (KA), mahadata, dan Internet of Things (IoT) semakin banyak digunakan di berbagai sektor.
Read More »
Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam
Dimensi Profil Lulusan
Prinsip Pembelajaran
Pengalaman Belajar
Kerangka Pembelajaran (Struktur Implementasi)
Read More »
Berpikir Jernih di Tengah Badai Informasi
- Mengidentifikasi kebutuhan informasi: Mampu merumuskan pertanyaan yang jelas dan menentukan jenis informasi yang dibutuhkan.
- Menemukan informasi: Mahir menggunakan berbagai sumber informasi secara efektif dan efisien, termasuk mesin pencari, basis data, dan perpustakaan digital.
- Mengevaluasi informasi: Mampu menilai kredibilitas, akurasi, relevansi, dan bias dari berbagai sumber informasi.
- Mengorganisir dan mensintesis informasi: Mampu mengolah informasi yang diperoleh dari berbagai sumber dan merangkainya menjadi pemahaman yang komprehensif.
- Menggunakan informasi secara etis: Memahami isu-isu hak cipta, privasi, dan plagiarisme, serta mampu menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
- Pendidikan: Sistem pendidikan harus dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan literasi informasi sejak dini. Kurikulum perlu memasukkan pembelajaran tentang evaluasi sumber informasi, analisis argumen, dan identifikasi bias.
- Keluarga: Orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan kebiasaan membaca, berdiskusi, dan mempertanyakan informasi kepada anak-anak mereka. Media Massa: Media massa memiliki tanggung jawab untuk menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan mendalam, serta memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya literasi informasi.
- Platform Digital: Platform media sosial dan penyedia informasi daring perlu mengambil langkah-langkah proaktif untuk memerangi penyebaran disinformasi dan mempromosikan konten yang berkualitas. Algoritma yang digunakan perlu mempertimbangkan aspek kredibilitas dan akurasi informasi.
- Masyarakat Sipil: Organisasi masyarakat sipil dapat berperan dalam mengedukasi masyarakat tentang literasi informasi melalui berbagai program dan kegiatan. Individu: Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan literasi informasi secara mandiri.
Read More »
Kelas Maya Bukan Kelas "Mayeng-Mayeng"
Read More »
















.jpg)


