Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by relevance for query terintegrasi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query terintegrasi. Sort by date Show all posts

Sistem Informasi Terintegrasi

Kebutuhan informasi dewasa ini semakin meningkat, kemudahan dalam mengakses informasi mutlak diperlukan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumen yang membutuhkan. Tuntutan pelayanan informasi dan pengelolahan informasi secara terintegrasi menjadi sangat penting di setiap lembaga, termasuk di sekolah.
Pengolahan data secara tradisional menjadi tidak efektif karena semakin banyak data yang harus diolah dan tuntutan dalam kemudahan mengakses suatu data atau informasi yang dibutuhkan.
Pelayanan informasi secara online maupun offline dengan sistem terintegrasi akan meningkatkan kinerja dan dapat meningkatkan pelayanan informasi yang lebih baik di mana informasi dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja tanpa terbatas ruang dan waktu.
Sistem informasi terintegrasi yang dapat mengakomodasikan kebutuhan – kebutuhan sistem informasi secara spesifik untuk bagian- bagian yang ada dalam sekolah, terdiri dari bermacam – macam modul yang disediakan untuk berbagai kebutuhan, dari modul untuk pendaftaran sampai modul untuk proses distribusi dan tentunya pendataan kepegawaian yang sangat berguna bagi sekolah untuk mengintegrasikan dengan Dapodik.
Dilatar belakangi kasus diatas, diperlukan suatu sistem aplikasi yang mendukung kegiatan sekolah mulai dari pendaftaran siswa baru, proses KBM, pendaftaran ulang siswa lama, proses layanan perpustakaan, pendataan guru dan karyawan,rekrutmen guru dan karyawan dan data siswa yang bertujuan untuk mempermudah pengaksesan informasi dan mengefisiensikan waktu.
Pengolahan data dengan database mutlak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan akan pengolahan data yang lebih baik dan kemudahan pengaksesan data yang lebih cepat. Hal ini sangat menguntungkan karena dapat menguruangi data rangkap dan memudahkan dalam pencarian data.
Dengan adanya layanan informasi dan pendaftaran secara online ini, kegiatan mengantre dan menunggu giliran saat mendaftar baik siswa baru maupun siswa lama yang menghabiskan banyak waktu dapat dihindari. karena dapat dilakukan dimana saja untuk melakukan akses pendaftaran.Seharusnya pemenuhan terhadap data kepegawaian untuk keperluan Dapodik juga tinggal mengakses pada data yang telah ada.


Read More »
31 July | 0komentar

Rencana Hasil Kerja (RHK) Pada Perencanaan Kinerja


Kemendikbudristek merilis fitur Pengelolaan kinerja di PMM pada tanggl 19 Desember 2023. Guru dan kepala sekolah diharapkan dapat mulai melakukan perencanaan kinerja melalui aplikasi PMM pada bulan Januari 2024 guru dan kepala sekolah akan melakukan perencanan kinerja melalui aplikasi PMM. Kemendikbud ristek melakukan transformasi pengelolaan kinerja dengan menyediakan fitur pengelolaan kinerja di PMM yang praktis, relevan dan lebih berdampak pada murid tentunya, dengan menyediakan 8 indikator yang terintegrasi Rapor Pendidikan. 
Dengan hadirnya fitur pengelolaan kinerja di PMM yang sudah terintegrasi BKN,, guru dan kepala sekolah semakin mudah dalam perencaaan kinerjanya. Dengan ini guru hanya perlu mengisi perencanaan kinerja di PMM dan sudah terintegrasi dengan aplikasi kinerja BKN.
Fitur kinerja PMM diklaim mudah diakses atau user friendly, dengan daftar indikator peningkatan kinerja yang sudah disediakan dan bisa dipilih sesuai dengan indikator raport pendidikan yang perlu ditingkatkan sehingga sangat relevan dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan berorientasi pada peserta didik.
Dalam 1 semester guru hanya perlu mengumpulkan minimal 32 poin utuk memenuhi ekspektasi atasan. Point tersebut dalam bentuk Rencana Hasil Kerja (RHK). Berikut RHK yang bisa dipilih :
  1. Menjadi peserta berbagi praktik baik yang diselenggarakan komunitas belajar yang dibuktikan dengan adanya sertifikat (4 poin) 
  2. Menjadi partisipan atau peserta seminar, lokakarya, konferensi, symposium, atau studi banding di bidang Pendidikan ( 4 poin) 
  3. Menjadi peserta coaching atau mentoring pengembangan kompetensi oleh guru, pengawas atau kepala sekolah ( 4 poin) 
  4. Menjadi penelaah aksi nyata sejawat yang dilakukan guru/ kepala sekolah (6 poin) 
  5. Menjadi penelaah cerita praktik baik yang dihasilkan guru/ kepala sekolah ( 6 poin) 
  6. Menjadi penelaah perangkat ajar di PMM (6 poin) 
  7. Menjadi peserta pelatihan mandiri (8 poin ) 
  8. Menjadi partisipan observasi praktik pembelajaran bersama sejawat (8 poin) 
  9. Menjadi narasumber berbagi praktik baik terkait implementasi kurikulum merdeka dan PBD (8 poin)
  10. Menjadi peserta kegiatan pelatihan atau bimtek terkait pendidikan kebudayaan riset dan teknologi (8 poin) 
  11. Menjadi peraih penghargaan terhadap kompetensi atau kinerja dalam berbagai wadah atau ajang (12 poin) 
  12. Menjadi penyusun cerita praktik baik yang dapat dibagikan kepada guru/ kepala sekolah atau sekolah lain (12 poin) 
  13. Menjadi penyusun kumpulan konten unggulan yang dapat dibagikan kepada guru dan/atau kepala sekolah lain; 
  14. Menjadi peran sebagai coach, mentor, fasilitator atau pengajar praktik dalam pengembangan kompetensi guru/ kepala sekolah atau pengawas (12 poin) 
  15. Menjadi peserta magang pada dunia kerja/ bidang lain yang relevan (24 poin) 
  16. Menjadi penyusun perangkat ajar yang dapat dibagikan kepada guru/ kepala sekolah (24 poin) 
  17. Menjadi penggerak komunitas belajar dengan mengadakan minimal 3 kegiatan berbagi praktik baik (36 poin) 
  18. Menjadi peserta program diklat jangka pendek /menengah pada bidang kepemimpinan atau tehnis yang relevan seperti Pendidikan guru penggerak atau pelatihan manajemen kepala sekolah (128 poin)

Read More »
23 January | 0komentar

Guru Olahraga dalam Denyut Teaching Factory

Pemisahan fisik antara guru kejuruan dan guru umum sering kali membuat mata pelajaran umum, seperti Olahraga, terkesan "terpisah" dari core bisnis SMK. Namun, dalam konteks TeFa di mana siswa diibaratkan bekerja di industri nyata, peran guru Olahraga sangat krusial, dan sinergi ini hanya bisa tercipta dengan mudah melalui ruang guru bersama. 

Skenario Proyek TeFa: 
Jurusan Teknik Otomotif (TO) Produk TeFa: Pelayanan bengkel otomotif dan pengembangan prototyping suku cadang. 

1. Kolaborasi dalam Aspek K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) 
Di bengkel industri, kebugaran fisik dan kesadaran ergonomi adalah faktor penentu keselamatan kerja. 


 ðŸ—£️ Keterangan: 
Berkat ruang guru yang menyatu, Guru TO dan Guru PJOK dapat bertemu spontan untuk menyusun "Protokol Kebugaran Harian Bengkel" yang terintegrasi langsung dalam jam praktik. Guru Olahraga bahkan bisa membuat poster panduan stretching yang dipasang di area workshop.

2. Kolaborasi dalam Aspek Soft Skill: 
Disiplin dan Mentalitas AtletTeFa menuntut disiplin waktu, etika kerja, dan mentalitas pantang menyerah—kualitas yang sangat ditekankan dalam olahraga.

🗣️ Keterangan: 
Guru PJOK berkoordinasi dengan Guru Produktif untuk memasukkan poin penilaian soft skill seperti "Resiliensi Proyek" atau "Komunikasi Tim Efektif" ke dalam rubrik asesmen berbasis proyek.

3. Kolaborasi Kesehatan Sekolah (UKS) 
Terintegrasi IndustriLingkungan industri harus menjamin kesehatan pekerjanya. Peran UKS yang biasanya digerakkan oleh guru PJOK menjadi sangat relevan.
  • Guru PJOK dapat berkolaborasi dengan guru kejuruan untuk memastikan standar higienitas dan sanitasi di area produksi TeFa sesuai dengan standar kesehatan industri.
  • Merancang program edukasi kesehatan kerja, seperti pencegahan paparan bahan kimia berbahaya atau penanganan kelelahan kronis (burnout), yang langsung kontekstual dengan jurusan masing-masing.
TambahanPenyatuan ruang guru di SMKN 1 Bukateja telah meniadakan batasan fisik, yang pada gilirannya menghancurkan sekat-sekat isolasi pedagogis. Kolaborasi Guru Olahraga dalam TeFa membuktikan bahwa mata pelajaran umum bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi vital yang menyiapkan siswa agar tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga sehat, bugar, dan bermental baja siap menghadapi kerasnya dunia kerja.Ruang guru yang bersatu telah menjadi hub kolaborasi, tempat ide-ide lintas disiplin berputar cepat, menciptakan perencanaan yang benar-benar terintegrasi demi kesuksesan Teaching Factory.

Read More »
07 November | 0komentar

Saatnya Mengoptimalkan Databased Kepegawaian Sekolah

Pengisian data manual yang terus berulang setiap tahun cukup sampai disini, bahela Rek
Akhir-akhir ini guru sering disibukan dengan pendataan pengisian biodata dan upgrade biodata baik secara manual ataupun online (melalui Siap Padamu Negeri),Pemutahiran data PNS (manual) dan permintaan data oleh Tata Usaha untuk dapodik(online).Seringnya pengisian data ke semua model jenis permintaan pendataan ini yang pasti bertujuan sama mengetahui biodata terkini terkait dengan data statis dan data nonstatis (pendidikan,diklat,pangkat/golongan dll).
Di saat makin berkembangnya teknologi pendataan berbasis databased ini menjadi heran dan makin menyimpulkan bahwa pelaksanaan pendataan berbasis databased makin menjadi sulit atau bahkan tidak akan terlaksana.Karena setiap waktu guru/pegawai selalui dimintai data yang berkaitan dengan hal-hal yang sebenarnya bisa didapat melalui sebuah bank data...databased.
Fungsi databased sebagai membantu kelancaran pengolahan data,penyimpanan data dan pengaksesan informasi yang aksestable (dengan cepat dan tepat).Data yang ada tersimpan secara teratur sehingga mengakses dan pengolahannya akan lebih mudah.Tidak seperti sekarang ini,setiap ada instansi yang minta pendataan/biodata atau dan lain-lain.guru dibagikan sederet isian yang sebenarnya telah/pernah diisi sebelumnya.
Keuntungan databased kepegawaian:
1. Informasi tersaji secara cepat,tepat dan akurat
2. Hemat waktu pengimputan data
3. Mempercepat proses pencarian data
4. Laporan data kepegawaian yang dibutuhkan cepat dan mudah


Read More »
13 October | 0komentar

Pembelajaran Beraksentuasi Industri


Di tengah tuntutan pendidikan vokasi yang semakin ketat untuk menghasilkan lulusan siap kerja, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ditantang untuk merevolusi proses pembelajarannya. SMKN 1 Bukateja, sebagai salah satu sekolah unggulan yang mengedepankan model Teaching Factory (TeFa), mengambil langkah berani dan strategis: menyatukan ruang guru kejuruan dan guru mata pelajaran umum (normatif/adaptif) dalam satu ruangan terpusat per jurusan.
Keputusan ini bukanlah sekadar penataan ulang furnitur, melainkan sebuah transformasi kultural yang bertujuan mendobrak sekat-sekat tradisional antara disiplin ilmu, demi mencapai satu tujuan utama: menciptakan kolaborasi pembelajaran yang utuh dan terintegrasi, terutama dalam mendukung TeFa dan Asesmen Berbasis Proyek.
Memecah sekat ruang kerja guru kejuruan dan umum dalam satu konsentrasi keahlian/jurusan adalah investasi strategis untuk:

1. Mempermudah Koordinasi Real-Time dan Spontan
Sebelumnya, pertemuan antara guru kejuruan (Produktif) dan guru umum (seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sejarah, Olahraga, dan lain-lain) sering kali harus dijadwalkan secara formal, memakan waktu dan birokrasi. 
✅ Dengan ruang guru terpusat, koordinasi menjadi spontan dan organik. Guru Bahasa Inggris dapat langsung mendekati guru Produktif Busana untuk mendiskusikan kosa kata teknis yang relevan dengan industri garmen yang akan digunakan siswa dalam presentasi produk TeFa mereka. Guru Sejarah dapat berdiskusi cepat mengenai latar belakang budaya suatu desain yang sedang dikerjakan di proyek Busana.

2. Menguatkan Intervensi Mata Pelajaran Umum dalam TeFa
Prinsip TeFa adalah pembelajaran berbasis produksi/jasa yang meniru suasana industri. Dalam industri nyata, seorang teknisi juga harus mampu berkomunikasi, membuat laporan, dan bernegosiasi.
Dengan kolaborasi yang terjalin erat, guru mata pelajaran umum didorong untuk:
Integrasi Konten: Guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris merancang tugas yang relevan dengan proyek TeFa (misalnya, membuat business plan, menyusun Standard Operating Procedure/SOP, atau presentasi produk dalam Bahasa Inggris).
Asesmen Terpadu: Mereka berkontribusi dalam penilaian keterampilan non-teknis siswa yang esensial dalam proyek, seperti komunikasi tim, etika kerja (Pendidikan Karakter), dan pemecahan masalah (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam).

3. Sukses Asesmen Berbasis Proyek yang Holistik
Asesmen berbasis proyek dan Teaching Factory menuntut penilaian yang holistik, tidak hanya menguji kemampuan teknis (hard skill), tetapi juga keterampilan lunak (soft skill).
Melalui ruang guru bersama, guru dari berbagai bidang dapat:
  • Perencanaan Kolaboratif: Secara rutin, guru-guru dalam satu jurusan (misalnya, Teknik Otomotif) dapat duduk bersama membuat perencanaan yang kolaboratif. Guru Produktif menentukan output proyek, sementara guru umum merancang intervensi dan penilaian terhadap aspek literasi, numerasi, hingga sejarah perkembangan teknologi yang terkait.
  • Standarisasi Penilaian: Menyepakati kriteria penilaian (rubrik) yang komprehensif, di mana guru kejuruan menilai kualitas produk, dan guru umum menilai kualitas laporan, presentasi, dan kerja sama tim.
📈 Menciptakan Ekosistem Pembelajaran yang Relevan
Penataan ruang guru SMKN 1 Bukateja ini bukan hanya tentang efisiensi ruang, melainkan tentang efisiensi pikiran dan sinergi pedagogis. Ia menciptakan budaya kerja yang "tidak ada guru umum dan guru kejuruan, yang ada adalah tim guru untuk satu konsentrasi keahlian."
Langkah ini menunjukkan komitmen sekolah vokasi untuk:
  • Memperkuat Konteks: Memastikan bahwa mata pelajaran umum tidak lagi terasa terpisah dari realitas dunia kerja, melainkan menjadi alat pendukung vital bagi keberhasilan siswa di industri.
  • Mewujudkan Link and Match Internal: Mencerminkan semangat link and match dengan industri, di mana kolaborasi lintas disiplin adalah kunci sukses tim kerja di dunia nyata.
Dengan ruang guru yang kini menyatu, SMKN 1 Bukateja telah meletakkan fondasi yang kokoh untuk memastikan bahwa Teaching Factory dan Asesmen Berbasis Proyek yang mereka jalankan bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga lulusan yang terintegrasi, terampil, dan mampu bersinergi di dunia kerja yang sesungguhnya.

Read More »
06 November | 0komentar

Classpoint Inklude PPT

Media pembelajaran sebagai sebuah keniscayaan bagi guru. Media sebagai pengantar bagi guru agar peserta didik mudah dalam mencerna materi. Media sebagai alat bantu mengajar bagi guru untuk menyampaikan materi pengajaran, meningkatkan kreatifitas peserta didik dan meningkatkan perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran. Menggunakan media peserta didik akan termotivasi untuk belajar, mendorong peserta didik menulis, berbicara dan berimajinasi semakin terangsang. Melalui media pembelajaran dapat membuat proses belajar mengajar lebih efektif dan efisien serta terjalin hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik. Selain itu, media dapat mengatasi kebosanan belajar di kelas. 
Pada jaman kini sebuah media dituntut untuk menyesuaikan dengan perkembangan jaman dan eranya. Anak-anak memiliki kesenangan terhadap media yang interaktif. Di era digital, guru harus mampu mengoptimalkan peralatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai media pembelajaran. Untuk mempermudah dalam menggunakan TIK guru dapat mengikuti pelatihan, baik secara langsung atau online. 
Penggunaan media khususnya pada Pembelajaran digital merupakan suatu sistem yang dapat memfasilitasi peserta didik agar mampu belajar dengan lebih luas, lebih banyak, dan bervariasi. Materi pembelajaran yang dipelajari lebih bervariasi, tidak hanya dalam bentuk verbal, melainkan lebih bervariasi seperti teks, visual, audio, dan gerak. Dalam hal ini dapat membuat kelas menjadi menyenangkan, dan membuat peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran. 
Dalam proses pembelajaran tak terkecuali pembelajaran Biologi, kehadiran media pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, meningkatkan motivasi, dan memberikan rangsangan tersendiri (Azhar, 2010: 15). 
Salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran yang sangat interaktif adalah yaitu Classpoint. Classpoint merupakan suatu aplikasi yang bisa dimanfaatkan oleh guru untuk membuat kuis dalam proses belajar-mengajar, serta peserta didik dapat menjawab pertanyaan yang lebih menarik dengan adanya soal multiple choice, short answer, word cloud, slide drawing, mode kompetisi, dan masih banyak lagi (Jeklin, 2021). 
Aplikasi Classpoint dapat diunduh pada halaman website resmi aplikasi ini di https://classpoint.io. Untuk bisa mengunduh aplikasi ini, komputer minimal Windows 7 dengan aplikasi Microsoft Office minimal tahun 2013. Aplikasi Classpoint akan terintegrasi dengan powerpoint (PPt). 
Pada Classpoint terdapat kode kelas yang nantinya akan digunakan peserta didik untuk login. Penggunaan Classpoint dapat secara cepat dalam memeriksa hasil kuis. Kemudian Classpoint juga memberikan sejumlah fitur untuk membuat materi pembelajaran yang menarik. Dengan menggunakan Classpoint guru dapat menambahkan slide yang berisikan untuk menambahkan foto, sehingga menjadikan peserta didik lebih tertarik dalam mengikuti kegiatan belajar. 
Media pembelajaran Classpoint memiliki kelebihan yaitu soal-soal yang disajikan memiliki batasan waktu, peserta didik diajarkan utuk berpikir secara tepat dan cepat dalam mengerjakan soal yang ada pada Classpoint. Selain itu, peserta didik dapat diberi peringkat secara otomatis. Dalam hal ini Classpoint dapat terintegrasi dengan platform konferensi video seperti Google Meet dan Zoom. Dengan demikian, media presentasi Classpoint ini bisa menarik perhatian peserta didik sehingga dapat memfokuskan dirinya dan memotivasi dirinya sendiri untuk belajar dengan suasana yang menyenangkan sehingga membuat peserta didikmelakukan usaha belajar yang berakibat meningkatnya hasil belajar mereka.

Read More »
28 July | 0komentar

Tentang BIM (Building Information Modeling)


Building Information Modelling (BIM) sebagai salah satu menjawab era revolusi industri 4.0 di bidang industri konstruksi. BIM merupakan seperangkat teknologi, proses kebijakan yang seluruh prosesnya berjalan secara terintegrasi dalam sebuah model digital, yang kemudian diterjemahkan sebagai gambar tiga dimensi. Hanifah (2016) menyatakan bahwa kesadaran (awareness) untuk menggunakan dan memanfaatkan Building Information Modelling (BIM), khususnya pada akademisi dan praktisi di bidang Arsitektur pada saat ini cukup tinggi namun tingkat penggunaanya masih rendah. 

Padahal pemerintah sangat mengapresiasi pelaku konstruksi yang menjadi pionir dalam melakukan setiap proyek pekerjaannya menggunakan BIM (https://www.pu.go.id/berita/view/14977). 
Beberapa keunggulan BIM seperti dijelaskan oleh Berlian et, al (2016) dari M. Agphin Ramadhan bahwa penggunaan aplikasi dengan konsep BIM dapat mempercepat waktu perencanaan proyek sebesar ±50%, BIM mengurangi kebutuhan SDM sebesar 26,66%, dan menghemat pengeluaran biaya personil sebesar 52,25% dibandingkan dengan menggunakan aplikasi konvensional. Selain itu menurut Liang (2015) nilai tambah yang dihasilkan oleh BIM yaitu kegiatan proyek dan kinerja proyek memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan proyek konstruksi. 

Penggunaan teknologi Building Information Modeling (BIM), sangat membantu sekali dalam hal proses pelaksanaan proyek, karena user dengan sangat mudah mengetahui kondisi bentuk jadi proyek tersebut tanpa bingung membayangkan hasilnya. Pemodelan 3D yang dihasilkan dapat dijadikan bahan diskusi oleh seluruh tim proyek untuk dapat memutuskan metode pelaksanaan /kerja yang akan diambil (Amir, 2017). Sejalan dengan hal tersebut Christian (2016) menyatakan aplikasi berbasis BIM dalam merancang sebuah bangunan dapat mempermudah proses analisis desain. 
Pembuatan model arsitektur dapat sekaligus digunakan untuk pemodelan analisis struktur yang dapat digunakan yang dapat digunakan untuk menganalisis gaya dalam dan kebutuhan penulangan. Setelah melalui proses yang terintegrasi, model akhir yang dibuat memiliki semua informasi yang terdiri dari: denah arsitektur, struktur, hingga pembesian tulangan dengan output volume secara otomatis. Jayadi dan Riantini (2019) menambahkan salah satu manfaatBIM adalah meningkatkan kualitas komunikasi yang dapat secara positif memengaruhi fase perencanaan waktu pembangunan infrastruktur, yang merupakan salah satu aspek terpenting dalam proses bisnis kontraktor.


Read More »
13 December | 0komentar

Koneksi Antar Materi Modul 2.2 CGP

 



Pembelajaran Sosial-Emosional


Perasaan kesal, marah, stress dan cemas sebagai seorang pendidik/guru kita tentu pernah atau bahkan sering kita hadapi karena perilaku murid atau mendapat tugas tambahan dari kepala sekolah. Ketika menghadapi situasi tersebut, bagaimana kita menghadapinya ? Siswa yang kita bimbing pun sering menghadapi masalah serupa ; tidak fokus, Jenuh, stress, cemas dan marah ketika berada dalam pembelajaran. Murid-murid juga mengalami situasi yang sama. Dihadapkan dengan berbagai tantangan untuk dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan Tugas yang harus diselesaikan, dengan jumlah mapel yang banyak. Baik tugas-tugas akademik, maupun tugas lain misalkan ekstrakurikuler dan tugas pengurus osis, bahkan mereka juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan fisik, hubungan dengan teman sebaya, mencapai kemandirian dan tanggung jawab diri dalam keluarga dan masyarakat, menyiapkan rencana studi dan karir dikehidupan nyata.
Menghadapi berbagai situasi dan tantangan yang kompleks ini, baik pendidik maupun murid membutuhkan berbagai bekal pengetahuan, sikap dan keterampilan agar dapat mengelola kehidupan personal maupun sosialnya. Pembelajaran di sekolah harus dapat mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, baik aspek kognitif, fisik, sosial dan emosional.

Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah hal yang sangat penting. Pembelajaran ini berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam.dan menyelesaikan masalahDan tentunya untuk mengajarkan menjadi orang yang berkarakter baik.PSE memberikan keseimbangan pada individu dan mengembangkan kompetensi personal yang dibutuhkan untuk dapat menjadi sukses.

Bagaimana kita sebagai pendidik dapat menggabungkan itu semua dalam pembelajaran sehingga anak-anak dapat belajar menempatkan diri secara efektif dalam konteks lingkungan dan dunia. Pembelajaran sosial-emosional adalah tentang pengalaman apa yang akan dialami siswa, apa yang dipelajari siswa dan bagaimana guru mengajar.Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaboratif untuk anak dan orang dewasa memperoleh dan menerapkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional


Pembelajaran Sosial-Emosional


Pembelajaran sosial dan emosional menurut kerangka CASEL bertujuan untuk mengembangkan 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE), di antaranya adalah:
  1. Memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri)
  2.  Menetapkan dan mencapai tujuan positif (manajemen diri)
  3. Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)
  4. Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi)
  5. Membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Bagaimana Penerapan PSE di sekolah dan kelas ? PSE dapat dilaksankan di sekolah dengan cara :
1. Rutin ( diluar waktu belajar sekolah )
2. Terintegrasi dalam pembelajaran
3. Protokol ( sesuai dengan budaya atau aturan sekolah )
Kompetensi Sosial - Emosional dapat dilaksanakan di kelas dengan teknik STOP. Teknik ini bisa dilaksnakan untuk melatih kompetensi kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial dan keterampilan berelasi.




Keterkaitan Modul dengan Materi Sebelumnya


Filosofi KHD , Nilai dan Peran Guru Penggerak

Dengan memiliki keterampilan sosial- emosional dalam pembelajran berarti kita sudah mnerapkan filosofi pendiidkan Kihajar dewantara yaitu pendtingnya pembelajaran budi pekerti bagi murid, agar bisa memperoleh kebahagiaan setinggi-tingginya sbagai warga masyarakat. seperti dalam tulisannya : ' “Pendidikan Budi Pekerti berarti pembelajaran tentang batin dan lahir. Pembelajaran batin bersumber pada “Tri Sakti”, yaitu: cipta (pikiran), rasa, dan karsa (kemauan), sedangkan pembelajaran lahir yang akan menghasilkan tenaga/perbuatan. Pembelajaran budi pekerti adalah pembelajaran jiwa manusia secara holistik. Hasil dari pembelajaran budi pekerti adalah bersatunya budi (gerak pikiran, perasaan, kemauan) sehingga menimbulkan tenaga (pekerti). Kebersihan budi adalah bersatunya cipta, rasa, dan karsa yang terwujud dalam tajamnya pikiran, halusnya rasa, kuatnya kemauan yang membawa pada kebijaksanaan.” Dengan KSE guru dapat menuntun murid untuk menuntun segala kodrat alam dan kodrat zaman yang ada pada anak sehingga mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setingii-tingginya sebagai individu dan anggota masayarakat.

Peran dan Nilai Guru Penggerak

Pembelajaran sosial emosional dpat menumbuhkan peran dan nilai guru penggerak dalam mewujudkan proses pembelajaran yang berpusat kepada murid. Dengan PSE guru dapat mengelola emosinya sehingga proses pembelajaran yang berpusat pada musrid akan berjalan dengan seimbang . Guru dapat mencipatakan 'well being" ekosistem pendidikan di sekolah, sehingga pembelajaran akan menjadi nyaman, sehat dan membahagian bagi murid.

 Visi Guru Penggerak dan Budaya Positif

Guru harus mmapu menggunakan segala kekutan dan potensi yang ada untuk mengembangkan budaya positif di sekolah. Maka dengan PSE guru dapat mengenali dan memahami emosi masing- masing yang sedang dirasakan sehingga mampu mengontrol diri dan dapat menerapkan disiplin positif secara baik sesuai dengan kesadaran diri (self awarness). Bila hal itu tercapai maka murid dengan kesadaran penuh (mindfulness) menerapkan budaya positif tersebut.

Pembelajaran Berdiferensiasi



Pembelajaran Berdiferensiasi Kompetensi Sosial-Emosional (KSE) murid berkembang, maka aspek akademik merekapun berkembang. Hal ini selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi, yaitu serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.

Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya. Dukungan di sini bisa berupa kesiapan sosial emosional mereka untuk mengikuti pembelajaran, serta bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar mereka.Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar). ke-3 komponen ini disebut dengan kebutuhan belajar murid.


KESIMPULAN



Jika guru menerapka PSE di sekolah maka akan menjadi budaya postif . Budaya postif tersebut diharapkan bisa mendorong pemenuhan kebutuhan belajar murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.Dan akhirnya pembelajaran akan dilaksankan sesuai dengan kebutuhan murid ( Pembejaran berdiferensiasi)


SUKSES DAN BAHAGIA



Read More »
20 November | 0komentar

Modul Yang Terintegrasi Antara Mapel Umum dan Mapel Kejuruan


Perubahan kurikulum SMK/MAK diawali dengan penataan ulang Spektrum Keahlian SMK/MAK. Spektrum Keahlian adalah daftar bidang dan program keahlian SMK yang disusun berdasarkan kebutuhan dunia kerja yang meliputi: dunia usaha, dunia industri, badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, instansi pemerintah atau lembaga lainnya serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya. Spektrum Keahlian SMK/MAK merupakan acuan penyusunan struktur kurikulum serta pembukaan dan penyelenggaraan bidang dan program keahlian pada SMK/MAK. Setiap program keahlian terdiri atas minimum 1 (satu) konsentrasi keahlian. Konsentrasi keahlian diselenggarakan dalam program 3 (tiga) tahun atau program 4 (empat) tahun diatur lebih lanjut dalam keputusan pemimpin unit utama yang membidangi kurikulum, asesmen, dan perbukuan. 
Mengacu pada KEPMEN No. 262/M/2022 Perubahan No.56 tentang struktur kurikulum pendidikan menengah kejuruan untuk mengklasifikasikan mata pelajaran-matapelajaran B.Inggris dan Matematika ke dalam kelompok mata pelajaran Kejuruan. 
Kurikulum di SMK disesuaikan dengan perkembangan dunia kerja agar lulusan yang dihasilkan sesuai dengan harapan. Kompetensi lulusan yang berkaitan dengan kemampuan kerja di bidang tertentu ditentukan oleh kurikulum di SMK. Kemampuan kompetensi kejuruan lulusan diperoleh melalui kurikulum di program produktif dengan didasari oleh nilai-nilai pada program normatif dan dasar keilmuan pada program adaptif (Purwana, 2010). Konteks dalam pembelajaran SMK merupakan integrasi sifat dasar subjek kejuruan, keadaan dimana pembelajaran berlangsung, tujuan dan outcome yang diinginkan yang disesuaikan dengan spesifikasi dari kualifikasi, kejuruan, sifat dasar peserta didik dan bagaimana gaya belajar peserta didik (Nalarita dan Listiawan, 2018). Hal ini didukung hasil penelitian (Ariyani et al., 2019) yang menyatakan bahwa pembelajaran kimia yang sesuai dengan kebutuhan keahlian peserta didik akan bermakna. Pembelajaran kimia akan efektif dan bermakna di SMK maka diperlukan bahan ajar sebagai sarana belajar peserta didik. Sarana belajar yang merupakan salah satu penunjang terlaksananya proses pembelajaran yang efektif adalah penggunaan bahan ajar (Nalarita dan Listiawan, 2018).

Read More »
05 December | 0komentar

Mengubah Absensi Manual Menjadi Digital dengan Teknologi Pengenalan Wajah

Presensi berbasis Pengenalan Wajah

Saat ini, SMK Negeri 1 Bukateja telah mengadopsi sebuah terobosan inovatif dalam administrasi sekolah dengan menerapkan sistem e-presensi verifikasi wajah berbasis Android. Langkah ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk mewujudkan administrasi yang paperless, efisien, dan modern. Dengan sistem ini, seluruh proses absensi siswa kini terintegrasi secara digital, mengurangi penggunaan kertas, dan meningkatkan akurasi data.
Sebelumnya, pencatatan presensi siswa dilakukan secara manual, yang sering kali memakan waktu dan berpotensi menimbulkan kesalahan data. Kini, dengan sistem e-presensi, prosesnya menjadi jauh lebih cepat dan akurat. Siswa hanya perlu menggunakan ponsel Android mereka untuk melakukan verifikasi wajah saat tiba di sekolah dan saat pulang. Teknologi pengenalan wajah memastikan bahwa setiap presensi benar-benar dilakukan oleh siswa yang bersangkutan, sehingga tidak ada lagi praktik titip absen atau manipulasi data.
Sistem ini tidak hanya mencatat waktu masuk dan pulang, tetapi juga secara otomatis merekam setiap detail presensi siswa dalam basis data digital. Guru dan staf tata usaha dapat memantau data kehadiran secara real-time melalui dasbor yang terpusat. Hal ini mempermudah proses rekapitulasi absensi bulanan atau semesteran, yang sebelumnya memerlukan banyak waktu dan tenaga.
Selain e-presensi, SMK Negeri 1 Bukateja juga mengoptimalkan administrasi paperless melalui sebuah aplikasi bernama SISTER, yang dapat diakses melalui alamat www.sister.smkn1bukateja.sch.id. Aplikasi ini berfungsi sebagai pusat administrasi terpadu yang tidak hanya menangani presensi, tetapi juga perizinan siswa. Siswa yang tidak dapat hadir karena alasan sakit atau keperluan lainnya kini tidak perlu lagi membawa surat fisik. Cukup dengan mengunggah surat izin atau surat keterangan sakit melalui aplikasi SISTER, izin mereka akan langsung terverifikasi oleh pihak sekolah. Proses ini tidak hanya mempermudah siswa dan orang tua, tetapi juga memastikan bahwa semua dokumen perizinan tersimpan dengan aman secara digital dan mudah diakses oleh pihak sekolah kapan pun diperlukan. 
Penerapan sistem e-presensi dan aplikasi SISTER ini membawa berbagai manfaat signifikan bagi seluruh warga sekolah: 
  • Efisiensi Waktu dan Tenaga: Mengurangi beban kerja administrasi yang sebelumnya bersifat manual, sehingga staf dapat fokus pada tugas-tugas lain yang lebih strategis. 
  • Akurasi Data: Teknologi verifikasi wajah dan sistem digital menghilangkan potensi kesalahan manusia dan manipulasi data presensi. 
  • Ramah Lingkungan: Pengurangan penggunaan kertas secara drastis mendukung inisiatif sekolah untuk menjadi institusi yang lebih ramah lingkungan. 
  • Transparansi Informasi: Data kehadiran dan perizinan dapat diakses dengan mudah, memberikan transparansi bagi siswa, orang tua, dan guru. 
Dengan langkah-langkah inovatif ini, SMK Negeri 1 Bukateja tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga mendidik siswa untuk beradaptasi dengan teknologi digital, mempersiapkan mereka untuk dunia kerja yang semakin modern.

Read More »
14 August | 0komentar

Nilai-Nilai Kemanuasiaan : Kebajikan Universal




Sekolah adalah 'institusi moral' yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Seorang pemimpin di sekolah tersebut akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. 
Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. 
Nilai- nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti 
Keadilan, 
Tanggung Jawab, 
Kejujuran, Bersyukur, 
Lurus Hati, 
Berprinsip, 
Integritas, 
Kasih Sayang, 
Rajin, 
Komitmen, 
Percaya Diri, 
Kesabaran, dll

Seorang pemimpin di sekolah akan menghadapi situasi dimana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal. Keputusan- keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. 
Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip- prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. 

Nilai kebajikan yang paling menarik menurut saya adalah Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup ⟮Lifelong Guidelines and Life Skills). Lifelong Guidelines and Life Skills ini merupakan nilai kebajikan universal yang sangat berguna dan telah diterapkan di lingkungan sekolah, meskipun tidak secara tersurat. Karena penerapan nilai-nilai kebajikan dilakukan secara implisit, terintegrasi dalam setiap kegiatan sekolah. Dalam kegiatan pembelajaran dan pengambilan keputusan, nilai kebajikan Lifelong Guidelines and Life Skills telah diterapkan. 
Lifelong Guidelines and Life Skills ini tidak hanya penting sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan, tetapi juga sangat penting sebagai bekal murid dalam meenjalani kehidupan setelah tamat. Nilai kebajikan ini terlihat pada keseharian murid, interaksi antar murid, interaksi antara murid dengan guru, kegiatan pembelajaran, praktik kerja lapangan, praktikum kejuruan, organisasi kesiswaan, dan kegiatan sosial.

Read More »
22 October | 0komentar

Belajar dari Project Nyata

Kelas Blok EBK 13–17 April 2026: Proyek Analisa Harga Satuan Rumah Tipe 21

Kelas Blok EBK: Proyek Nyata Analisa Harga Satuan Pekerjaan Rumah Tipe 21 (13–17 April 2026)

Siswa SMK mengerjakan analisa harga satuan pekerjaan rumah tipe 21 pada kelas blok EBK

Pembelajaran tidak lagi sekadar teori di dalam kelas. Melalui Kelas Blok Mata Pelajaran EBK (Estimasi Biaya Konstruksi), siswa diajak untuk terjun langsung dalam pengalaman belajar berbasis proyek yang aplikatif dan relevan dengan dunia kerja. Untuk memahami dasar-dasarnya, siswa juga telah mempelajari pengertian AHSP dan RAB dalam konstruksi .

Pada tanggal 13 s.d. 17 April 2026, kegiatan kelas blok dilaksanakan dengan fokus utama pada Project Work Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) untuk pembangunan rumah tipe 21. Kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk mengasah keterampilan teknis sekaligus kemampuan berpikir kritis dalam bidang konstruksi.

Belajar dari Proyek Nyata

Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep, tetapi langsung mempraktikkan proses penyusunan analisa harga satuan pekerjaan secara sistematis. Sebelumnya, siswa juga telah berlatih melalui contoh analisa harga satuan pekerjaan bangunan .

  • Mengidentifikasi item pekerjaan konstruksi
  • Menghitung kebutuhan bahan dan tenaga kerja
  • Menentukan koefisien pekerjaan
  • Menyusun analisa harga satuan berdasarkan standar yang berlaku

Rumah tipe 21 dipilih sebagai objek proyek karena merupakan tipe hunian sederhana yang umum dibangun di masyarakat. Proses ini terintegrasi dengan penyusunan RAB (Rencana Anggaran Biaya) rumah tinggal .

Meningkatkan Kompetensi dan Kesiapan Kerja

Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk memiliki kompetensi sebagai berikut:

  • Memahami struktur penyusunan RAB
  • Mampu menghitung biaya pekerjaan secara akurat
  • Terbiasa bekerja dalam tim proyek
  • Memiliki tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan

Pembelajaran ini juga diperkuat dengan materi sebelumnya seperti analisa harga upah tenaga kerja (OH) dalam konstruksi.

Penutup

Kelas Blok EBK pada tanggal 13–17 April 2026 menjadi bukti bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam pengalaman nyata. Untuk memperdalam pemahaman, siswa juga dapat membaca artikel EBK lainnya di blog ini .


Read More »
16 April | 0komentar

Perpustakaan Digital, In Action Now

Dijaman yang serba digital seperti sekarang, pengintegrasion semua komponen menjadi sebuah keniscayaan. Pada sebuah kantor dibutuhkan integrasi yang menyeluruh terhadap semua data akan mempermudah akses dari setiap bagian. Pun demikian dilembaga pendidikan, sekolah. 
Pada institusi sekolah integrasi mulai dari penerimaan peserta didik hingga pada penilaian dapat dilakukan secara integrasi. Pengintegrasian data ini dilakukan secara digital pada databased.
Penyusunan databased yang terintegrasi kali ini adalah pada proses peminjaman buku di perpustakaan. Peminjaman buku dilakukan dengan melakukan pemesanan terlebih dahulu secara online dengan tenggang waktu dari pemesanan ke pengambilan selama 24 jam dengan melakukan scancard di perpustakaan. 
Secara otomatis setelah melakukan scancard maka akan masuk kedalam database identifikasi nama, judul buku, masa pinjam dan jika keterlambatan pengembalian secara otomatis akan terscan pada database sejumlah rupiah kali berapa hari keterlambatannya. Prosesnya dapat dilihat flowchat di bawah ini. 
flowchart di atas, mengingatkan kembali bahwa login menggunakan PIN saat mendaftar pertama kali di Penerimaan Peserta Didik Baru, sama dengan login di blogger,gmail,google+ menggunakan 1 akun.
Setelah login dilakukan proses (loading) jika benar maka data masuk pada database pemesanan (reservasi). Sebaliknya jika password salah maka dilakukan proses awal(login). 
Setelah melakukan pemesanan, pada hari berikut/waktu setelah itu melakukan scancard (kartu ini juga multi fungsi sebagai kartu siswa,ATM dsb) dengan waktu max 24 jam dari pemesanan. Setelah melakukan scancard maka otomatis masuk database peminjaman (sudah tertera saat pemimjaman, jenis buku, judul, waktu peminjaman) siswa langsung mendapatkan buku yang dipinjam.
Jika pengembalian melampau tenggang waktu yang ditetapkan maka akan mendapatkan denda.Diberitahukan melalui Email, atau dapat disetting dengan HP.
Terimakasih semoga bermanfaat.

Read More »
24 October | 0komentar

Elemen-Elemen Bangunan Dalam Revit (Family)

Desain Gedung Pertemuan IBI Banjarnegara

Perkembangan industri memasuki tahapan pada revolusi industri 4.1. Teknologi makin berkembang. Demikian juga pada penerapan, teknlogi Komputer dalam bidang desain konstruksi/bangunan/desain. Aplikasi-aplikasi untuk merencana/mendesain gambar berkembang pesat mengikuti kebutuhan manusia yang memerlukan kecepatan dan akurasi. 
Konsep desain yang dirancang makin menuntuk keakuratan dan informasi yang detail. Tentunya dengan tahapan yang makin simple/singkat. Demikian yang ditawarkan oleh aplikasi perangkat lunak untuk mendesain yang makin berkembang yaitu Revit
Pada aplikasi revit ini disajikan semua Properties yang berkaitan dengan elemen-elemen bagian struktur. Baca lebih lanjut di sini. Sistem informasi yang mencakup semua terkait dengan elemen yang ada didesain tersebut dikenal dengan BIM (Building Information Modelling). Building Information Modeling, dengan cara ini kesalahan dalam mendisain bisa ditekan seminim mungkin,konsep Building Information Modeling ini telah digagas sejak tahun 1987 oleh Graphisoft yang mengeluarkan Versi Archicad 3.1.

Tahun 2002 aplikasi Revit telah diluncurkan oleh Autodesk dengan konsep BIM, yang telah menyatukan dalam satu kesatuan desain yang mencakup informasi secara terintegrasi dalam satu gambar desain perencanaan. Integrasi desain ini mencakup gambar perspektif, tampak, potongan, detail, Foto Rendering dan perhitungan BQ (Bill Of Quantity).
Penggunaan aplikasi Revit makin dilirik oleh para Arsitek, Drafter,Arsitek,Engineer untuk menyelesaikan perencanaan desainnya. Terdapat banyak perbedaan penggunaan Software Revit dengan software drafting yang sudah digunakan oleh dunia desain yaitu AutoCad. Diantaranya adalah dengan membuat garis model yang telah didefinisikan sebagai elemen bangunan seperti dinding,lantai, pintu dan lainya lengkap dengan informasi properties (selain jarak,tinggi,luas ini yang ada di AutoCAD) jika di Revit lengkap dengan materialnya, strukturnya, kekuatannya dan perhitungan Volumenya (BQ). 
Revit telah membagi kategori elemen-elemen utama bangunan yaitu: Dinding,lantai,atap,dan bukaan, sehingga kita tidak bisa membuat model elemen bangunan dengan “Sembarangan” seperti lantai dibuat dengan definisi sebagai atap ataupun dengan yang lainnya,artinya kita membuat design harus sesuai dengan kategorinya. 

Elemen-elemen bangunan dalam Revit disebut Family,dan kemudian dibagi 3 kategori diantaranya: 
  • View (Denah & Perspektif) 
  • Model (ditampilkan 2 dimensi & 3 dimensi) 
  • Notasi gambar (ditampilkan 2 dimensi & 3 dimensi)
Informasi dari elemen-elemen struktur digunakan sebagai patokan dalam perhitungan RAB.



Read More »
19 December | 0komentar

Indikator Mutu, Sistem Penjaminan Mutu Internal

Mutu pendidikan dasar dan menengah adalah tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) di sekolah. Mutu pendidikan di sekolah cenderung tidak ada peningkatan tanpa diiringi dengan penjaminan mutu pendidikan oleh sekolah.
Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) adalah sistem penjaminan mutu yang berlaku/berada di dalam satuan pendidikan dan dijalankan oleh seluruh komponen satuan pendidikan Penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah merupakan mekanisme yang sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa seluruh proses penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu dan aturan yang ditetapkan.
Acuan Mutu Penjaminan mutu pendidikan mengacu pada standar sesuai peraturan yang berlaku. Acuan utama adalah Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang telah ditetapkan sebagai kriteria minimal yang ha-rus dipenuhi oleh satuan pendidikan dan penyelenggara pendidikan.

Standar Nasional Pendidikan terdiri atas:
  1. Standar Kompetensi Lulusan 
  2. Standar Isi 
  3. Standar Proses 
  4. Standar Penilaian 
  5. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan 
  6. Standar Pengelolaan 
  7. Standar Sarana dan Prasarana 
  8. Standar Pembiayaan 


Kedelapan standar tersebut membentuk rangkaian input, proses, dan output. Standar Kompetensi Lulusan merupakan output dalam rangkaian tersebut dan akan terpenuhi apabila input terpenuhi sepenuhnya dan proses berjalan dengan baik. Standar yang menjadi input dan proses dideskripsi-kan dalam bentuk hubungan sebab-akibat dengan output. Standar dijabarkan dalam bentuk indi-kator mutu untuk mempermudah kegiatan pemetaan mutu dalam penjaminan mutu pendidikan.

DOWNLOAD INDIKATOR MUTU

Sistem penjaminan mutu pendidikan di sekolah dibagi menjadi lima tahapan yaitu :
Pemetaan Mutu
Pemetaan mutu dilaksanakan dengan menggunakan dokumen evaluasi diri yang di dalamnya termasuk instrumen evaluasi diri dengan mengacu kepada Standar Nasional pendidikan (SNP) sebagai standar minimal dalam penyelenggaran pendidikan. Hasil pemetaan mutu selanjutnya dapat dijadikan acuan dalam menetapkan visi, misi dan kebijakan sekolah dalam melakukan peningkatan mutu pendidikan.

Penyusunan rencana peningkatan mutu
Berdasarkan hasil pemetaan mutu pendidikan yang telah dicapai (sebagai baseline) selanjutnya dilakukan penyusunan rencana peningkatan mutu pendidikan yang dituangkan dalam dokumen perencanaan, pengembangan sekolah dan rencana aksi.

Implementasi rencana peningkatan mutu
Implementasi rencana peningkatan mutu selama periode tertentu (semester atau tahun ajaran). 

Evaluasi/audit internal
Evaluasi/audit secara internal untuk memastikan bahwa pelaksanaan peningkatan mutu berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Laporan hasil evaluasi adalah pemenuhan 8 SNP, hasil implementasi dan rencana aksi.

Penetapan standar mutu pendidikan. 
Penetapan standar mutu baru yang lebih tinggi apabila capaian sekolah telah memenuhi minimal sesuai SNP. Dengan demikian penerapan sistem penjaminan mutu bukanlah hanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sesuai SNP namun mendorong terciptanya budaya mutu pendidikan dimana semua komponen di sekolah memiliki jiwa pembelajar dan selalu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan zaman.

Read More »
11 October | 0komentar

Metode Pembelajaran Field Trip


Field trip dapat diartikan sebagai kunjungan atau karyawisata. Field trip bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajaran dengan melihat kenyataan. Karena itu dikatakan metode field trip, yaitu cara mengajar yang dilakukan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, dan sebagainya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Syaiful Sagala bahwa field trip adalah pesiar yang dilakukan oleh para peserta didik untuk melengkapi pengalaman belajar tertentu dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah.
Dengan field trip sebagai metode belajar mengajar, anak didik di bawah bimbingan guru mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan maksud untuk belajar. Metode field trip mempunyai beberapa kebaikan, antara lain: (1) anak didik dapat mengamati kenyataan kenyataan yang beragam dari dekat; (2) anak didik dapat menghayati pengalaman-pengalaman baru dengan mencoba turut serta di dalam suatu kegiatan; (3) anak didik dapat menjawab masalah-masalah atau pertanyaanpertanyaan dengan melihat, mendengar, mencoba, atau membuktikan secara langsung; (4) anak didik dapat memperoleh informasi dengan jalan mengadakan wawancara atau mendengarkan ceramah yang diberikan on the spor; dan (5) anak didik dapat mempelajari sesuatu secara internal dan komprehensif (Syaiful Sagala, 2006: 215).

Keunggulan metode field trip menurut Roestiyah N.K. (2008: 87) antara lain sebagai berikut:
a. siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan petugas pada objek karya wisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka;
b. siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun secara kelompok dan dihayati secara langsung yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka;
c. siswa dalam kesempatan ini dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi; dan
d. siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi dengan objek yang ditinjau itu.


A. Implementasi Metode Field Trip dalam Pembelajaran

Pada Kompetensi Kejuruan sangat berhubungan sekali karena siswa akan melihat langsung praktik pelaksanaan di DuDi (Dunia Usaha- Dunia Industri). Di Mapel sastra juga sangat mengena misal pada kompetensi menulis puisi. Metode ini dapat menggugah siswa dalam berekspresi yang dituangkan dalam puisi dengan cara siswa mengamati suatu objek, misalnya saja objek alam yang berupa pohon beringin seperti puisinya Sutan Takdir Alisyahbana yang berjudul Pohon Beringin. Dalam puisi karangan Sutan Takdir Alisjahbana tersebut dilukiskan tentang keadaan luar dari pohon beringin. dikutip dari https://thabaart.blogspot.com/.
Jadi, bagaimana bentuk pohon beringin itu dapat ditulis menjadi puisi dengan menggunakan kata-kata puisi. Setelah itu, siswa dapat mempraktikkannya dengan melakukan di luar kelas, yaitu mengamati objek secara langsung.
Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:

1. Langkah Persiapan
Ada beberapa prosedur yang harus ditempuh pada langkah persiapan ini adalah:
a. guru menentukan tujuan yang diharapkan dicapai oleh para siswa, dan siswa diberitahu tujuan dari pembelajaran tersebut agar siswa mengerti tujuan yang akan dilakukannya; 
b. menentukan objek yang akan diamati.
Dalam hal ini, guru menentukan objek yang sekiranya cocok untuk pembelajaran menulis puisi; dan
c. menentukan cara belajar siswa dalam mengamati objek.

2. Langkah Pelaksanaan
Pada langkah ini, guru mengajak siswa ke luar kelas untuk mendekatkan siswa pada objek (konteks) nyata yang akan dijadikan puisi. Siswa mengamati objek secara langsung, kemudian siswa mencoba mengungkapkan apa yang dilihat dan dirasakan. Setelah itu, perasaan atau objek yang dilihatnya dituangkan dalam bahasa puitis. 

3. Tindak Lanjut
Setelah melakukan pengamatan objek dan mengerjakan apa yang ditugaskan oleh guru, yaitu menulis puisi dengan metode field trip, maka siswa diharapkan untuk kembali ke kelas. Setelah itu, guru mencoba melihat hasil dari yang dilakukan siswa dengan melihat hasil puisi yang telah dituliskan oleh siswa, kemudian dikoreksi dan dibahas bersama-sama.

Disarikan dari berbagai Sumber.

Read More »
11 June | 0komentar

Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam

 Materi Pembelajaran Mendalam




Pendidikan terus berkembang, dan di era yang serba cepat ini, tuntutan terhadap kualitas lulusan semakin tinggi. Bukan hanya sekadar menguasai materi, lulusan kini diharapkan memiliki kompetensi holistik yang relevan dengan tantangan masa depan. Di sinilah konsep pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi krusial. Pembelajaran mendalam adalah pendekatan yang mendorong peserta didik untuk tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami konsep secara mendalam, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan pengetahuannya dalam konteks nyata. Artikel ini akan membahas berbagai dimensi penting dalam kerangka pembelajaran mendalam.

Dimensi Profil Lulusan
Profil lulusan dalam kerangka pembelajaran mendalam jauh melampaui sekadar nilai akademis. Ada beberapa dimensi kunci yang menjadi fokus, yaitu: Penguasaan Konsep Mendalam: Lulusan tidak hanya tahu "apa", tetapi juga "mengapa" dan "bagaimana". Mereka mampu menjelaskan konsep-konsep kompleks dengan bahasa mereka sendiri dan menghubungkannya dengan berbagai ide. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah: Lulusan mampu menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, mengidentifikasi masalah, dan merumuskan solusi inovatif. Mereka tidak takut menghadapi tantangan dan mampu mencari berbagai perspektif. Kolaborasi dan Komunikasi Efektif: Di dunia yang semakin terhubung, kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi secara efektif adalah fundamental. Lulusan diharapkan mampu berinteraksi, berbagi ide, dan membangun konsensus dengan beragam individu. Kreativitas dan Inovasi: Lulusan didorong untuk berpikir di luar kotak, menghasilkan ide-ide baru, dan menerapkan solusi kreatif untuk masalah yang ada. Mereka tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga menciptakan. Karakter dan Kewarganegaraan Global: Pembelajaran mendalam juga menekankan pada pengembangan integritas, empati, ketahanan, dan tanggung jawab sosial. Lulusan diharapkan menjadi warga negara yang sadar dan berkontribusi positif bagi masyarakat global. Literasi Digital dan Belajar Sepanjang Hayat: Di era informasi, kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dan terus belajar sepanjang hidup adalah suatu keharusan. Lulusan diharapkan proaktif dalam mengembangkan diri dan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Prinsip Pembelajaran
Untuk mencapai profil lulusan yang diinginkan, pembelajaran mendalam didasarkan pada beberapa prinsip utama: Fokus pada Makna dan Relevansi: Pembelajaran harus bermakna dan relevan bagi peserta didik. Mereka harus melihat hubungan antara apa yang mereka pelajari dengan kehidupan mereka dan dunia nyata. Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik: Peserta didik bukan objek pasif, melainkan aktor aktif dalam proses pembelajaran. Mereka didorong untuk mengambil kepemilikan atas pembelajaran mereka sendiri. Penekanan pada Pemahaman Konseptual: Bukan sekadar menghafal fakta, tetapi membangun pemahaman yang kokoh tentang konsep-konsep dasar dan hubungan di antaranya. Pembelajaran Berbasis Proyek dan Masalah Nyata: Peserta didik terlibat dalam proyek-proyek yang menantang dan memecahkan masalah-masalah nyata, yang menuntut mereka untuk mengaplikasikan berbagai pengetahuan dan keterampilan. Lingkungan Belajar yang Mendukung Eksplorasi dan Risiko: Guru menciptakan suasana yang aman di mana peserta didik merasa nyaman untuk bertanya, bereksperimen, dan bahkan membuat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Umpan Balik yang Konstruktif dan Berkelanjutan: Umpan balik tidak hanya tentang nilai, tetapi juga tentang memberikan arahan yang jelas untuk perbaikan dan pengembangan.

Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar dalam kerangka pembelajaran mendalam dirancang untuk memfasilitasi pencapaian profil lulusan dan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran. Ini mencakup: Pembelajaran Kolaboratif: Peserta didik sering bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah, melakukan proyek, dan saling belajar. Pembelajaran Berbasis Inkuiri: Peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan, menyelidiki, dan menemukan jawaban sendiri, daripada hanya menerima informasi dari guru. Pemanfaatan Teknologi untuk Pembelajaran Aktif: Teknologi digunakan sebagai alat untuk eksplorasi, kreasi, dan kolaborasi, bukan hanya sebagai sumber informasi pasif. Asesmen Formatif yang Berkelanjutan: Asesmen tidak hanya untuk menilai hasil akhir, tetapi juga untuk memantau kemajuan peserta didik dan memberikan umpan balik yang relevan selama proses pembelajaran. Koneksi dengan Dunia Luar: Pembelajaran dihubungkan dengan komunitas, industri, dan isu-isu global melalui kunjungan lapangan, narasumber ahli, atau proyek-proyek yang melibatkan pihak eksternal. Ruang untuk Refleksi dan Metakognisi: Peserta didik diajak untuk merenungkan proses belajar mereka sendiri, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, serta merencanakan langkah selanjutnya.

Kerangka Pembelajaran (Struktur Implementasi)
Kerangka pembelajaran mendalam tidak hanya berhenti pada filosofi, tetapi juga membutuhkan struktur implementasi yang jelas. Ini bisa mencakup: Desain Kurikulum yang Fleksibel dan Terintegrasi: Kurikulum dirancang untuk memungkinkan koneksi antar-mata pelajaran dan memberikan ruang bagi pembelajaran yang berpusat pada minat peserta didik. Pengembangan Profesional Guru yang Berkelanjutan: Guru membutuhkan pelatihan dan dukungan untuk mengembangkan kapasitas mereka dalam memfasilitasi pembelajaran mendalam. Lingkungan Fisik yang Mendukung: Ruang kelas dan fasilitas lainnya dirancang untuk memfasilitasi kolaborasi, eksplorasi, dan kreativitas. Kemitraan dengan Orang Tua dan Komunitas: Orang tua dan komunitas menjadi mitra dalam mendukung proses pembelajaran mendalam, menciptakan ekosistem yang terpadu. Sistem Asesmen yang Komprehensif: Mengukur tidak hanya pengetahuan, tetapi juga keterampilan, sikap, dan karakter sesuai dengan dimensi profil lulusan. Ini bisa melibatkan portofolio, proyek, dan observasi. Budaya Sekolah yang Inovatif: Seluruh ekosistem sekolah mendorong eksperimen, pembelajaran dari kesalahan, dan suasana yang mendukung pertumbuhan bagi semua warganya. Dengan mengimplementasikan kerangka pembelajaran mendalam secara komprehensif, institusi pendidikan dapat menciptakan lingkungan yang memberdayakan peserta didik untuk menjadi individu yang kompeten, berdaya saing, dan siap menghadapi kompleksitas dunia abad ke-21. Ini bukan hanya tentang mengisi kepala dengan informasi, tetapi juga tentang membentuk pribadi yang mampu berpikir, berkreasi, berkolaborasi, dan berkontribusi secara bermakna.

Read More »
23 June | 0komentar

Kecerdasan Artifisial: Meniru Pikiran Manusia dan Evolusinya

Kecerdasan Artifisial (KA) bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan cabang ilmu komputer yang berkembang pesat dengan tujuan utama mengembangkan sistem yang mampu meniru perilaku dan proses berpikir manusia. Kemampuannya yang terus meluas telah mengubah berbagai aspek kehidupan kita, dari cara kita bekerja hingga berinteraksi.
Menurut artikel "What is Artificial Intelligence?" dari IBM Cloud Learn (2021), KA mencakup beberapa kemampuan krusial, yaitu pengambilan keputusan, pemahaman bahasa natural, dan pengenalan pola. Semua kemampuan ini didukung oleh algoritma pembelajaran yang terus-menerus disempurnakan.

Perjalanan Evolusi Kecerdasan Artifisial
Sejarah perkembangan Kecerdasan Artifisial (KA) adalah cerminan dari kemajuan teknologi komputasi dan pemahaman kita tentang bagaimana mesin dapat "belajar". IBM menguraikan perjalanan KA melalui beberapa fase penting: Era Simbolik: Pada era awal komputasi, Kecerdasan Artifisial (KA) didominasi oleh sistem berbasis aturan (rule-based systems). Logika simbolik menjadi fondasi pengambilan keputusan. Sistem ini bekerja dengan serangkaian aturan "jika-maka" yang telah diprogram secara eksplisit oleh manusia. Contohnya adalah sistem pakar yang digunakan untuk diagnosis medis atau konfigurasi perangkat keras. Meskipun terbatas, era ini meletakkan dasar bagi pengembangan Kecerdasan Artifisial (KA).
Pembelajaran Mesin (Machine Learning): Seiring berjalannya waktu, fokus Kecerdasan Artifisial (KA) beralih ke algoritma yang dapat belajar dari data tanpa pemrograman eksplisit. Ini adalah terobosan besar. Daripada diberitahu setiap aturan, mesin "diajarkan" untuk mengidentifikasi pola dan membuat prediksi berdasarkan data yang mereka lihat. Algoritma seperti regresi, klasifikasi, dan clustering menjadi populer, memungkinkan KA untuk menangani masalah yang lebih kompleks dan dinamis.
Deep Learning: Saat ini, kita berada di puncak evolusi Kecerdasan Artifisial (KA) dengan era Deep Learning. Ini adalah sub-bidang dari machine learning yang menggunakan jaringan saraf tiruan (neural networks) yang mendalam, atau berlapis-lapis. Lonjakan kemampuan deep learning didorong oleh tiga faktor utama: peningkatan drastis daya komputasi, ketersediaan big data dalam skala besar, dan pengembangan algoritma yang lebih efisien. Deep learning telah merevolusi bidang-bidang seperti pengenalan gambar, pemrosesan bahasa alami, dan bahkan menciptakan konten.
Dampak dan Masa Depan Kecerdasan Artifisial (KA).
Evolusi Kecerdasan Artifisial (KA) dari sistem berbasis aturan sederhana hingga model deep learning yang canggih telah membuka pintu bagi inovasi yang tak terhitung jumlahnya. Dari asisten virtual di ponsel kita hingga sistem otonom di kendaraan, Kecerdasan Artifisial (KA) telah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuannya untuk memproses dan menganalisis data dalam skala besar telah mengubah industri, meningkatkan efisiensi, dan menciptakan peluang baru.
Ke depannya, perkembangan Kecerdasan Artifisial (KA) diperkirakan akan terus berakselerasi. Dengan penelitian yang berkelanjutan dalam etika Kecerdasan Artifisial (KA), interpretasi model, dan interaksi manusia-AI yang lebih alami, potensi Kecerdasan Artifisial (KA) untuk terus meniru dan bahkan melampaui kemampuan kognitif manusia akan menjadi salah satu pendorong utama kemajuan teknologi.

Read More »
08 July | 0komentar