Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts sorted by date for query Kurikulum. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query Kurikulum. Sort by relevance Show all posts

Saatnya Loading Makna

Sebagai seorang pendidik di SMK, pernah menelorkan 4 buku yang ber ISBN, buku-buku teknis dan literasi digital, serta bagian dari keluarga besar SMKN 1 Bukateja, saya sering merenung tentang hakikat sejati dari apa yang kita sebut "pendidikan". Apakah ia sekadar transfer ilmu, hafalan teori, atau pencapaian angka-angka di atas kertas? Sebuah kalimat selalu membayang-bayangi setiap langkah pengabdian saya: “Jika sekolah gagal membuat anak merasa hidupnya bermakna, maka setinggi apa pun nilainya, kita sedang mencetak kehampaan.” Kalimat ini bukan sekadar kutipan, melainkan sebuah alarm yang terus berbunyi di benak saya. Ia mengingatkan bahwa di balik kurikulum yang padat, di balik target kompetensi yang harus dicapai, ada jiwa-jiwa muda yang mencari makna. Jika kita abai akan pencarian itu, maka kita, para pendidik, secara tidak sadar sedang meracuni masa depan dengan kecerdasan yang hampa. 

Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Kemanusiaan 
Di kelas Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), saya tidak hanya mengajarkan siswa cara menghitung volume RAB, merancang denah, atau memahami rangka atap baja ringan. Di balik setiap rumus dan sketsa, saya selalu mencoba menanamkan pertanyaan: Untuk apa semua ini? Siapa yang akan diuntungkan dari bangunan yang kalian desain? Bagaimana karya kalian bisa memberi manfaat bagi sesama? 
Buku-buku yang saya tulis, seperti "Mudah Berhitung Volume RAB dengan Media Visual Maket" atau "Mengenal Rangka Atap Baja Ringan", lahir dari keresahan ini. Saya ingin bukan hanya sekadar memberi alat (ilmu teknis), tetapi juga membekali mereka dengan visi bahwa setiap goresan pensil di atas kertas adalah langkah awal menuju pembangunan yang bertanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat. Demikian pula dengan "Pembelajaran Berbasis Media Digital Blog". Ini bukan hanya tentang mengajarkan teknologi, tapi tentang bagaimana siswa bisa menemukan suara mereka, membangun portofolio yang bermakna, dan mengaktualisasikan diri sebagai individu yang relevan di era digital. 
Karena pendidikan, pada intinya, bukan soal apa yang anak hafal, tetapi siapa mereka saat dunia membutuhkan. Dunia tidak butuh sekadar penghafal rumus Pythagoras, melainkan problem solver yang berintegritas. Dunia tidak butuh penemu yang egois, melainkan inovator yang peduli. Dunia tidak butuh pembangun gedung pencakar langit yang rapuh etika, melainkan arsitek peradaban yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. 
Sebagai seorang guru yang juga aktif menulis, saya meyakini bahwa pendidikan adalah jembatan menuju kehidupan yang bermakna. Tugas kita, para pendidik, adalah menjadi pemandu bagi anak-anak untuk menemukan "api" di dalam diri mereka, untuk memahami bahwa setiap ilmu yang mereka serap adalah bekal untuk berkontribusi. Mungkin kita tidak akan selalu melihat buah dari benih yang kita tanam. Namun, keyakinan bahwa kita sedang membentuk generasi yang utuh generasi yang tidak hanya cerdas tapi juga punya hati dan tujuan adalah bahan bakar abadi bagi setiap guru. Mari kita pastikan, bahwa di setiap nilai yang mereka raih, ada makna hidup yang terukir. Di setiap langkah kaki mereka keluar dari gerbang sekolah, ada bekal kemanusiaan yang akan mereka bawa untuk menjawab panggilan dunia. Karena masa depan Indonesia, sejatinya, ada di tangan mereka yang tidak hanya pintar, tapi juga merasa hidupnya bermakna.

Read More »
06 February | 0komentar

Pendidikan Bukan Soal Hari Ini Saja

Saat kita berdiri di depan kelas, memegang spidol, atau membimbing jemari siswa merakit maket bangunan, mengajari membuat kurva S, seringkali kita terjebak dalam pikiran "jangka pendek". Kita berpikir tentang bagaimana materi hari ini selesai, bagaimana ujian besok lancar, atau bagaimana nilai raport semester ini tuntas. Namun, jika kita menarik napas lebih dalam dan melihat lebih jauh, sesungguhnya tugas kita jauh lebih besar dari sekadar kurikulum. Pendidikan bukan soal apa yang terjadi di dalam ruang kelas hari ini saja, tetapi tentang bagaimana wajah Indonesia di masa depan. 

Siswa Kita Adalah Arsitek Peradaban 
Setiap anak yang duduk di bangku SMK hari ini, mereka yang sedang bergelut dengan rumus RAB atau detail rangka atap baja ringan, adalah orang-orang yang kelak akan membangun gedung-gedung di negeri ini. Mereka adalah orang-orang yang akan mengambil keputusan penting, yang akan memimpin keluarga, dan yang akan menentukan arah ekonomi bangsa. 
Jika hari ini kita hanya mengajar mereka cara menghitung RAB tanpa mengajarkan kejujuran, maka masa depan Indonesia akan dipenuhi oleh orang pintar yang culas. Jika hari ini kita hanya mengajar mereka teknis bangunan tanpa mengajarkan tanggung jawab, maka masa depan kita akan dipenuhi oleh infrastruktur yang rapuh.

Menanam Pohon yang Mungkin Tak Pernah Kita Nikmati Buahnya 
Mendidik adalah pekerjaan menanam pohon. Seringkali, kita sebagai guru tidak akan pernah sempat duduk di bawah rindang daunnya atau mencicipi manis buahnya. Hasil dari pendidikan yang kita berikan hari ini mungkin baru akan terlihat 10, 20, atau 30 tahun lagi. Namun, di situlah letak kemuliaannya. Kita sedang menitipkan nilai-nilai, karakter, dan semangat pantang menyerah kepada generasi yang akan memegang kendali Indonesia saat kita sudah purna tugas. Pendidikan Sebagai Investasi Peradaban Pendidikan yang visioner adalah pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman. 
Di era digital ini, kita tidak hanya mencetak tukang, tetapi mencetak inovator. Kita tidak hanya mencetak pekerja, tetapi mencetak pemimpin yang adaptif. Wajah Indonesia di tahun 2045, saat kita merayakan Indonesia Emas, ditentukan oleh interaksi antara kita dan siswa kita di pagi hari ini. 
Apakah kita menginspirasi mereka? 
Apakah kita memberi mereka ruang untuk bermimpi? 
Ataukah kita justru memadamkan binar mata mereka dengan tumpukan tugas yang tanpa makna? 

Setiap siswa sebagai "pesan" yang kita kirimkan ke masa depan, pesan tentang kerja keras, integritas, dan cinta pada tanah air, sebagai sebuah instruksi yang kita berikan hari ini adalah goresan tinta pada sketsa besar wajah Indonesia di masa depan. Mari kita lukis dengan penuh cinta dan kesungguhan.

Read More »
05 February | 0komentar

Kembali ke Akar: Menggugat Makna di Balik Angka dan Nilai

Dalam dunia pendidikan yang semakin bising dengan tuntutan kurikulum, administrasi, dan skor ujian, kita seringkali kehilangan arah. Kita terjebak dalam rutinitas "mentransfer materi" tanpa sempat bertanya: Sebenarnya, apa yang sedang kita bangun dalam diri anak-anak kita? Mari kita sejenak berhenti dan menggunakan First Principle Thinking, sebuah cara berpikir dari dasar untuk membedah esensi pendidikan kita hari ini. Ada satu prinsip dasar yang harus kita sadari: “Jika sekolah gagal membuat anak merasa hidupnya bermakna, maka setinggi apa pun nilainya, kita sedang mencetak kehampaan.

"Pabrik" Kehampaan 
Kita sering membanggakan nilai raport yang tinggi, kelulusan 100%, atau sertifikat kompetensi yang berderet. Namun, jika di balik angka-angka itu ada anak yang tidak tahu untuk apa dia hidup, anak yang merasa dirinya hanyalah sekadar angka di buku absen, maka sesungguhnya kita sedang gagal. Pendidikan yang hanya berfokus pada hafalan dan kepatuhan tanpa makna hanyalah sebuah proses mekanis. Kita tidak sedang mendidik manusia; kita sedang memprogram robot. Dampaknya? Kita melihat generasi yang cerdas secara kognitif, namun rapuh secara mental dan kehilangan empati. Mereka memiliki "alat" (skill), tapi tidak memiliki "tujuan" (purpose). 
Kita harus berani mengakui bahwa dunia luar tidak akan bertanya berapa nilai ulangan harian kita sepuluh tahun yang lalu. Dunia tidak butuh anak yang hanya mampu menghafal rumus tanpa tahu cara menggunakannya untuk memecahkan masalah kemanusiaan. Sebab, pendidikan bukan soal apa yang anak hafal, tetapi SIAPA mereka saat dunia membutuhkan. Saat dunia dilanda krisis, yang kita butuhkan bukanlah penghafal teks, melainkan manusia yang memiliki: 
Integritas: Siapa mereka saat tidak ada yang melihat? 
Resiliensi: Bagaimana mereka bangkit saat gagal? 
Kasih Sayang: Bagaimana mereka memperlakukan sesama yang sedang kesulitan? 
Tugas Kita: 
Menghidupkan Makna Sebagai guru, tugas utama kita bukan sekadar menghabiskan bab dalam buku paket. Tugas kita adalah membantu setiap anak menemukan "api" di dalam dirinya. Menunjukkan bahwa apa yang mereka pelajari di lab DPIB, di depan komputer, atau di ruang kelas, memiliki kaitan erat dengan peran mereka di masyarakat nanti. 
Sekolah harus menjadi tempat di mana anak merasa berarti. Tempat di mana mereka sadar bahwa kehadiran mereka di dunia ini membawa sebuah misi penting. 
Mari kita kembali ke prinsip dasar itu. Jangan biarkan ruang kelas kita menjadi pabrik kehampaan yang dingin. Mari kita bangun koneksi, hadirkan makna, dan bantu mereka menjadi manusia yang utuh. Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak dilihat dari daftar nilai di meja kantor, melainkan dari binar mata anak didik yang merasa hidupnya berharga dan siap memberikan karya terbaiknya bagi dunia.
Referensi : grup WA GSM Kab.Purbalingga

Read More »
03 February | 0komentar

Koneksi Sebelum Instruksi

Gambar by AI
Masalah utama di kelas kita seringkali bukan pada teknik atau metode mengajar. Bukan pula sepenuhnya salah anak-anak. Masalahnya ada pada konektivitas. Sebagai pendidik, kita adalah sumber energi belajar. Jika energi di dalam diri kita rendah, redup, atau bahkan kosong, maka jangan heran jika anak-anak di depan kita ikut meredup. Ing Ngarso Sung Tulodho apa yang ada di depan, itulah yang menjadi teladan. 
Energi kita mengalir ke mereka. Bonding (membangun koneksi) bukanlah sesi yang berlebihan atau sekadar basa-basi. Bonding adalah tentang membangun konektivitas: 
  • Hadir secara utuh: Bukan hanya raga yang di kelas, tapi pikiran dan hati juga ada di sana. 
  • Menyapa sebagai manusia: Mengenali mereka bukan sebagai nomor absen, tapi sebagai individu yang punya rasa. 
  • Menciptakan ruang aman: Ruang di mana mereka merasa nyaman untuk berpendapat tanpa takut salah. 
  • Buat anak termotivasi: sekali-kali tunjukan prestasi kita sebagai guru/ anggota masyarakat.

Koneksi Sebelum Instruksi 
Ilmu akan menemukan jalannya sendiri jika koneksi sudah terbentuk. Tanpa koneksi, instruksi sehebat apa pun hanya akan memantul di dinding kelas. Mari kita coba mengubah pendekatan kita. Hadirkan diri kita sepenuhnya sebelum menghadirkan materi. Bangun koneksi yang tulus sebelum memberikan instruksi yang kaku. Ketika jembatan hati sudah terbangun, pelan-pelan kita akan melihat perubahan itu: 
  • Wajah anak-anak yang mulai "hidup". 
  • Mata yang kembali bersinar karena merasa diperhatikan. 
  • Kelas yang kembali "bernapas" dan dinamis. 
Menjadi guru berarti siap untuk belajar dua kali lipat. Dan pelajaran terberat sekaligus terpenting yang harus kita pelajari bukanlah materi pelajaran kita, melainkan belajar menghadirkan diri. Karena pada akhirnya, guru yang hebat tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi mengajar manusia melalui kehadiran yang bermakna.

"Bagaimana cara memulai bonding jika waktu kita terbatas oleh kurikulum?" Jawabannya adalah konsistensi, bukan durasi. Coba luangkan 3 menit pertama sebelum membuka buku teks dengan langkah-langkah ini: 
  • Menyapa dengan Mata dan Nama (1 Menit) Jangan masuk kelas sambil menunduk melihat HP atau buku absen. Berdirilah di depan, tatap mata mereka satu per satu dengan senyum tulus. Sebut beberapa nama secara acak dan tanyakan kabar spesifik (misal: "Gimana pertandingan futsalmu kemarin, Andi?"). Ini membuat mereka merasa "terlihat". 
  • Cek Suasana Hati / "Check-in" (1 Menit) Gunakan teknik sederhana seperti Emoji Check-in. Mintalah mereka menunjukkan jempol ke atas jika merasa semangat, jempol ke samping jika biasa saja, atau jempol ke bawah jika sedang lelah/sedih. Ini adalah cara cepat untuk memvalidasi perasaan mereka sebelum dipaksa berpikir keras. 
  • Hadirkan Cerita Singkat atau Tebakan (1 Menit) Bagikan satu cerita singkat tentang apa yang Bapak alami pagi ini atau berikan satu teka-teki receh. Tujuannya adalah memecah kekakuan dan memicu tawa kecil. Tawa adalah cara tercepat untuk membuka "pintu" otak yang tertutup. 
Ingatlah prinsip ini: "Connection before Content" (Koneksi sebelum Materi). Jika jembatan hatinya sudah terbangun, maka materi sesulit apa pun akan lebih mudah diseberangkan.

Read More »
31 January | 0komentar

Blog Sebagai "Lemari Digital"

Bagi banyak rekan pendidik, blog sering kali dianggap sebagai "lemari digital" tempat praktis untuk menyimpan RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam), Lembar Kerja (LK) dan berkas perangkat ajar lainnya agar mudah diakses saat akreditasi atau supervisi. Namun, jika kita melihat lebih jauh ke dalam esensi pengabdian, blog memiliki potensi yang jauh lebih besar. Blog adalah kanvas kosong yang menunggu kita untuk melukiskan jati diri dan jejak langkah kita sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran mendalam.

1. Blog sebagai Rekam Jejak Literasi
Perjalanan saya mengenal blog dari "nol kecil" pada tahun 2011 hingga memenangkan berbagai lomba media website tingkat provinsi membuktikan bahwa blog adalah saksi bisu pertumbuhan profesional kita. Blog bukan sekadar tempat menyimpan file, melainkan bukti nyata dari slogan "Guru Menulis Itu Memberi Kejutan!". Di sana, kita tidak hanya membagikan materi, tetapi juga gagasan dan refleksi yang tidak ditemukan dalam buku teks mana pun.
2. Melukis Jati Diri di Ruang Digital
Sebagai pendidik yang mendalami bidang Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), saya menyadari bahwa mengajar adalah sebuah seni. Melalui blog www.sarastiana.com, saya melukiskan pemikiran-pemikiran tentang manajemen pendidikan, perencanaan gedung, hingga pengalaman sebagai Guru Penggerak. Ini adalah bentuk aktualisasi diri: sebuah ruang di mana identitas kita sebagai ahli di bidangnya dan sebagai pembelajar sepanjang hayat (long-life learner) terpampang nyata.

3. Wadah Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Pembelajaran mendalam terjadi ketika seorang guru berani melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan di kelas. Blog memfasilitasi hal ini melalui artikel-artikel reflektif, seperti: 
  • Bagaimana media visual maket membantu siswa menghitung RAB secara lebih intuitif. 
  • Bagaimana pemanfaatan media digital blog dapat meningkatkan keterlibatan siswa. 
  • Bagaimana pengalaman mendampingi rekan sejawat sebagai Pengajar Praktik memperkaya perspektif kita tentang kepemimpinan pembelajaran.
4. Dari Berbagi Menjadi Menginspirasi
Ketika blog dikelola dengan hati, ia bertransformasi dari sekadar media penyimpanan menjadi media inspirasi. Prestasi-prestasi yang saya raih, mulai dari Juara Blog Guru hingga lulus S2 di UGM dengan program beasiswa tugas belajar. kategori "Lulus Amat Baik" pada Program Guru Penggerak, didokumentasikan bukan untuk kesombongan, melainkan untuk memberi semangat kepada rekan guru lainnya bahwa kita semua memiliki ruang untuk bersinar.
Berhenti menjadikannya sekadar gudang penyimpanan file yang kaku. Mulailah menjadikannya sebagai kanvas tempat kita menorehkan tinta emas pengabdian. Biarlah dunia mengenal siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan bagaimana cara kita mendidik, melalui jejak digital.
Sebab pada akhirnya, perangkat ajar bisa berganti kurikulum, namun narasi pengabdian yang kita tulis di blog akan abadi menginspirasi generasi yang akan datang.Sharing Knowledge.

Read More »
29 January | 0komentar

Mengubah Lelah Menjadi Tulisan: Aktualisasi Diri Menyehatkan Mental.


Dalam era digital yang demikian membuat bising, setiap orang membutuhkan "rumah" untuk pulang. Bukan rumah fisik, melainkan ruang digital di mana suara, ide, dan karya kita bisa menetap dan bertumbuh. Bagi saya, rumah itu adalah Blog.
Mengubah lelah menjadi tulisan adalah bentuk aktualisasi diri yang menyehatkan mental. Banyak yang menganggap blog hanyalah media untuk sharing informasi atau sekadar pengganti mading sekolah. Namun, jika kita menyelami lebih dalam seperti perjalanan saya sejak belajar "nol kecil" dari Master Blog Pak Hermawan di tahun 2011 hingga kini, blog memiliki fungsi yang jauh lebih luhur: sebagai alat Aktualisasi Diri.

Apa itu Aktualisasi Diri Melalui Blog? 
Abraham Maslow menempatkan aktualisasi diri pada puncak tertinggi kebutuhan manusia. Ini adalah momen di mana seseorang bisa mengembangkan seluruh potensi dan minatnya. Melalui blog www.sarastiana.com, saya menemukan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan proses "menemukan diri". Sekarang terbantu dengan AI dari Gemini dan ChatGPT

1. Blog Sebagai Laboratorium Kreativitas 
Di blog, tidak ada batasan kurikulum yang kaku. Sebagai guru DPIB (Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan), saya bisa mengekspresikan sisi arsitektural saya melalui tulisan tentang 1001 desain rumah, sekaligus menuangkan pemikiran manajemen hasil pendidikan S2 di UGM. Blog memfasilitasi "multipotensi" kita untuk muncul ke permukaan. 

2. Rekam Jejak (Digital Portfolio) 
Aktualisasi diri berkaitan erat dengan pengakuan atas kompetensi. Blog menjadi saksi bisu perjalanan saya: dari memenangkan Juara III Lomba Blog Guru tahun 2011 hingga Juara II Media Ajar Website tahun 2015. Dengan mendokumentasikan prestasi dan karya tulis di blog, kita sedang membangun otoritas diri di mata dunia. 

3. Media Katarsis dan Ekspresi Emosional 
Tugas sebagai pendidik terutama dengan tanggung jawab sebagai Kurikulum atau Guru Penggerak dan sekarang di SPMI tentu melelahkan. Blog menjadi media ekspresi di mana kita bisa menumpahkan keresahan, ide-ide segar tentang pendidikan, hingga refleksi diri. Mengubah lelah menjadi tulisan adalah bentuk aktualisasi diri yang menyehatkan mental.

Saya selalu percaya bahwa "Guru menulis itu bukan biasa", sebagaimana judul karya tulis saya di Majalah Swara tahun 2010 terbitan VEDC Bandung. Menulis di blog memaksa kita untuk terus belajar (long-life learner). Ketika kita menulis, kita sedang mengikat ilmu. Dan ketika tulisan itu dibaca serta bermanfaat bagi orang lain, di situlah puncak kebermaknaan kita sebagai manusia. bentuk dari sharing knowlegde. 
Jangan menunggu menjadi "ahli" untuk mulai mengekspresikan diri. Mulailah dari apa yang kita cintai. Jika saya yang awalnya tidak tahu apa-apa bisa meraih juara lewat blog, Bapak dan Ibu juga pasti bisa. Mari jadikan blog bukan hanya sebagai tempat menyimpan file perangkat ajar, tapi sebagai kanvas untuk melukis jejak pengabdian dan jati diri kita sebagai pendidik yang merdeka.

Read More »
25 January | 0komentar

Menata Ulang Arah di Tengah Lelah Titik Lelah yang Menjauhkan

Dalam perjalanan panjang pendidikan di Indonesia, guru sering kali merasa seperti berjalan di dalam labirin administratif yang tak berujung. Tuntutan kurikulum yang terus berganti, beban dokumen yang menumpuk, hingga ekspektasi sosial yang berat, kerap kali menjadi beban yang melelahkan.
Tanpa disadari, rutinitas ini justru perlahan menjauhkan kita dari alasan paling dasar mengapa kita dulu memilih untuk mendidik: Cinta kepada ilmu dan kasih sayang kepada murid.

Menata Ulang Arah: Bukan Sekadar Mengajar, Tapi Mendidik
Lelah itu manusiawi, namun terjebak dalam kelelahan yang mematikan idealisme adalah sebuah kerugian. Saat ini adalah momentum yang tepat bagi kita untuk berhenti sejenak dan melakukan "refleksi radikal".
Menata ulang arah bukan berarti mengganti tujuan, melainkan membersihkan jalan yang tertutup semak belukar birokrasi. Kita perlu bertanya kembali pada hati kecil kita: Apakah hari ini saya sudah benar-benar menyentuh jiwa murid saya, atau hanya sekadar menggugurkan kewajiban di depan kelas?

Menemukan Kembali Kedaulatan dan Kebermaknaan
Seorang guru yang berdaulat adalah guru yang tidak membiarkan dirinya didikte sepenuhnya oleh keadaan. Kedaulatan guru lahir ketika kita: Memiliki Otoritas di Kelas: Menjadikan ruang kelas sebagai taman belajar yang merdeka, bukan penjara hafalan. Menemukan Pengharapan: Percaya bahwa sekecil apa pun ilmu yang kita tanam, ia akan tumbuh menjadi pohon kebaikan di masa depan. Merasakan Kebermaknaan: Menyadari bahwa senyum keberhasilan seorang murid adalah "gaji" yang tidak bisa dinilai dengan angka.

Kembali ke Marwah Pendidik
Mari kita ambil kembali kedaulatan kita. Mari kita tata kembali arah kompas pendidikan kita menuju kebermaknaan. Guru yang hebat bukan ia yang mampu menyelesaikan semua laporan tepat waktu dengan sempurna, melainkan ia yang tetap mampu menyalakan api harapan di mata murid-muridnya, meskipun ia sendiri sedang berjalan di tengah tuntutan yang melelahkan. Sebab, di tangan guru yang berdaulat, masa depan bangsa ini diletakkan.

Read More »
25 January | 0komentar

Jika Cinta Adalah Bahan Bakar, Apa yang Kita Nyalakan di Kelas?

Keluhan tentang murid yang sulit diatur atau motivasi yang rendah seringkali menjadi "menu utama" obrolan kita. Agar tidak terjebak dalam rasa gagal, berikut adalah langkah praktis untuk reinvent yourself dan mengubah kelelahan menjadi energi cinta: 

1. Ubah Narasi: "Guru & Murid vs Masalah" 
Seringkali kita merasa kelelahan karena memposisikan diri melawan murid (Guru vs Murid). Cobalah geser sudut pandang Anda. Saat ada murid bermasalah, posisikan Anda dan murid tersebut berada` di tim yang sama untuk melawan masalahnya. 
Prakteknya: Alih-alih berkata "Kamu nakal sekali," cobalah "Ada masalah apa yang buat kamu sulit fokus hari ini? Ayo kita cari solusinya bareng-bareng." 

2. Terapkan "Pintu Keluar Emosional" 
Guru adalah profesi yang memikirkan murid sampai ke tempat tidur. Untuk menjaga kesehatan mental, buatlah batasan tegas. 
Prakteknya: Saat Anda memutar kunci pintu rumah atau melangkahi gerbang sekolah saat pulang, katakan pada diri sendiri: "Tugas profesional saya selesai di sini. Sekarang waktunya saya menjadi diri saya sendiri." Jangan biarkan sisa masalah di kelas mencuri waktu istirahat Anda. 

3. Cari "Bahan Bakar" di Luar Angka Rapor 
Jika indikator keberhasilan Anda hanya angka di raport, Anda akan mudah kecewa. Carilah kemenangan-kemenangan kecil yang berbasis kasih sayang. 
Prakteknya: Catat satu hal baik yang dilakukan murid setiap hari, sekecil apa pun itu (misalnya: seorang murid yang biasanya terlambat, hari ini datang tepat waktu). Energi cinta tumbuh dari apresiasi terhadap proses, bukan cuma hasil akhir. 

4. Rutinitas "Self-Check" (Bertanya pada Diri Sendiri) 
Jangan menunggu orang lain bertanya "Kamu nggak apa-apa?". Jadilah sahabat bagi diri sendiri. Prakteknya: Luangkan 5 menit sebelum masuk kelas untuk bernafas dalam dan bertanya: "Apa tujuan saya masuk kelas hari ini? Apakah sekadar menggugurkan kewajiban, atau ingin menanamkan satu kebaikan?" Mengingat kembali moral value akan mengubah kualitas energi Anda. 

5. Fokus pada Apa yang Bisa Dikendalikan 
Banyak stres muncul karena kita ingin mengubah sesuatu yang di luar kendali kita (seperti latar belakang keluarga murid atau kebijakan kurikulum). 
Prakteknya: Fokuslah pada respon Anda terhadap masalah. Menurut teori Hawkins, saat kita merespon dengan cinta dan penerimaan, masalah tidak lagi menjadi musuh, tapi menjadi sarana kita untuk bertumbuh sebagai manusia yang lebih bijak. 
Mengajar memang bukan hanya soal metode, tapi soal apa yang kita "nyalakan" di hati mereka. Jika bahan bakar kita adalah cinta, maka langkah kita akan terasa lebih ringan, meski beban di pundak tetap sama.

Read More »
01 January | 0komentar

Ruang Paling Penting untuk Mengajar Itu Bernama Rumah

25 Ramadhan 1446H, Shodaqoh Pendaftaran Haji Untuk 3 Anak Kami

Di sekolah, gelar saya adalah Guru. Tugasnya jelas: mentransfer hard skill dan karakter (softskill) agar siswa siap menghadapi kerasnya dunia industri. Sebagai guru SMK, saya terbiasa bicara soal target, efisiensi, dan kompetensi. Tapi belakangan, saya tersadar akan satu hal yang fundamental. Ternyata, laboratorium pendidikan yang paling nyata, paling sulit, sekaligus paling krusial, bukanlah ruang kelas atau bengkel praktik, melainkan ruang tamu dan meja makan di rumah sendiri. 
Rumah kami adalah "sekolah kecil" yang unik. Istri saya juga seorang guru, yang artinya kami berdua adalah praktisi pendidikan. Namun, mendidik anak kandung sendiri ternyata jauh lebih menantang daripada menghadapi satu kelas berisi 36 siswa. 

Tiga Anak, Tiga Fase, Satu Pelajaran 
Melihat ketiga anak kami tumbuh adalah seperti melihat kurikulum kehidupan yang berjalan secara paralel: 
Si Sulung yang Sudah Bekerja: 
Ia adalah "produk" yang sudah terjun ke dunia nyata. Melalui dia, saya belajar bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya soal ia bekerja di mana, tapi bagaimana ia menjaga integritas dan etika di tengah tekanan profesional. 

Anak Kedua, Mahasiswa Arsitektur: 
Dari dia, saya belajar soal proses. Arsitektur mengajarkan presisi dan ketahanan mental saat harus "begadang" demi sebuah rancangan. Di sini, peran saya bukan lagi instruktur, melainkan pendukung yang memastikan fondasi mentalnya tetap kokoh. 

Si Bungsu, Kelas XII SMA: 
Ini adalah fase kritis. Masa depan sedang di depan mata. Dari dia, saya belajar untuk lebih banyak mendengar daripada mendikte. Mengarahkan anak di kelas XII tidak bisa lagi memakai sistem "perintah", melainkan harus lewat "pendekatan personal". 

Menurunkan Oktaf di Balik Pintu Rumah 
Ada sebuah ironi yang sering menghampiri kami para guru. Di sekolah, kata-kata kami tertata, halus, dan penuh kesabaran. Namun saat pulang, menghadapi anak yang asyik dengan gadget atau sulit dibangunkan saat subuh, nada bicara seringkali naik beberapa oktaf. Saya sering mengingatkan diri sendiri: "Anak-anakmu bukan robot yang bisa di-input algoritma perintah." 
Jari kita seringkali lebih sakti untuk menunjuk daripada merangkul. Padahal, pendidikan di rumah bukan soal instruksi, tapi soal koneksi. 

Rumah: Tempat Belajar yang Sesungguhnya 
Sebagai pasangan guru, saya dan istri sering berdiskusi bahwa profesi kami tidak berhenti saat bel pulang sekolah berbunyi. Rumah adalah sekolah yang tidak mengenal kata libur. Di rumah, kita tidak hanya mengajar tentang mata pelajaran, tapi tentang nilai kehidupan (moral value). Jika di sekolah kita mengejar angka rapor, di rumah kita mengejar "angka" kebermaknaan. Kita belajar bahwa: Mengajar itu bukan cuma soal metode, tapi seni menumbuhkan cinta. Anak tidak butuh banyak tekanan, mereka butuh ruang dan tantangan yang tepat. Cara bicara yang berubah bisa membuka potensi anak yang selama ini terpendam. 
Pada akhirnya, saya sadar. Sejauh apa pun saya mengajar di sekolah, ruang paling penting untuk saya tetaplah bernama RUMAH. Karena di sanalah, saya bukan hanya sedang membentuk masa depan siswa, tapi sedang membentuk sejarah hidup anak-anak saya sendiri. Ternyata, untuk menjadi guru yang baik di sekolah, saya harus bersedia menjadi "murid" yang baik di rumah yang selalu mau belajar memahami hati anak-anaknya.

Read More »
31 December | 0komentar

Refleksi Guru SMK: Menghidupkan Link and Match Melalui PBL dan Teaching Factory

Di penghujung semester gasal ini, aku mencoba berhenti sejenak untuk melakukan refleksi. Sebagai guru SMK, keseharianku lekat dengan target kompetensi, praktik kejuruan, serta tuntutan link and match dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Namun di tengah berbagai program tersebut, aku mulai bertanya pada diri sendiri: sejauh mana pembelajaran yang kulaksanakan benar-benar mencerminkan dunia kerja yang akan dihadapi peserta didik?
Selama bertahun-tahun, aku meyakini bahwa kedisiplinan, ketepatan prosedur, dan kepatuhan terhadap standar kerja adalah fondasi utama pendidikan vokasi. Nilai-nilai ini memang menjadi ruh industri. Namun ketika berhadapan dengan Generasi Z dan Generasi Alpha, aku menyadari bahwa pendekatan instruksional semata tidak lagi cukup. Mereka membutuhkan konteks, makna, dan keterlibatan langsung dalam proses belajar.
Peserta didik SMK hari ini tumbuh di dunia yang bergerak cepat, ditandai oleh digitalisasi dan perubahan teknologi yang masif. Dunia kerja berada dalam situasi TUNA (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity). Oleh karena itu, industri tidak hanya menuntut lulusan yang terampil secara teknis, tetapi juga individu yang adaptif, mampu bekerja sama, serta siap belajar sepanjang hayat.
Kesadaran ini mendorongku untuk lebih serius menerapkan pembelajaran berbasis industri, salah satunya melalui Project Based Learning (PBL). Dalam beberapa mata pelajaran kejuruan, aku mulai merancang proyek yang menyerupai permasalahan nyata di industri. Peserta didik tidak lagi sekadar menyelesaikan tugas praktik, tetapi diminta mengerjakan proyek secara berkelompok, mulai dari perencanaan, pembagian peran, pelaksanaan, hingga evaluasi hasil kerja. Di sini, mereka belajar tidak hanya tentang keterampilan teknis, tetapi juga komunikasi, tanggung jawab, dan manajemen waktu—kompetensi yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.
Selain PBL, konsep Teaching Factory (TeFa) menjadi pengalaman pembelajaran yang sangat bermakna. Melalui TeFa, bengkel dan ruang praktik di sekolah diposisikan sebagai miniatur industri. Peserta didik dilibatkan dalam proses kerja berbasis pesanan atau standar industri, dengan alur kerja yang menyerupai kondisi nyata di lapangan. Aku melihat bagaimana peserta didik menjadi lebih serius, lebih disiplin, dan lebih bertanggung jawab ketika hasil kerjanya tidak hanya dinilai oleh guru, tetapi juga harus memenuhi standar kualitas tertentu.
Dalam proses tersebut, peranku sebagai guru pun mengalami pergeseran. Aku tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pengawas mutu. Peserta didik diberi ruang untuk berdiskusi, mencoba, bahkan melakukan kesalahan, lalu memperbaikinya. Justru dari proses itulah sikap kerja dan etos profesional mulai terbentuk.
Pengalaman menerapkan PBL dan Teaching Factory menyadarkanku bahwa link and match bukan sekadar kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri di atas kertas. Link and match harus hidup di ruang kelas dan bengkel praktik, tercermin dalam cara belajar, cara bekerja, dan cara berpikir peserta didik.
Refleksi ini menegaskan bahwa pendidikan SMK tidak cukup hanya menyiapkan lulusan yang “siap kerja” secara teknis, tetapi juga siap beradaptasi dengan perubahan dunia industri. Ketika guru bersedia belajar kembali, membuka diri terhadap pendekatan baru, dan memahami karakter generasi peserta didik, maka pembelajaran vokasi akan menjadi lebih relevan dan bermakna.
Menjadi guru SMK hari ini berarti menjadi penghubung antara sekolah dan dunia industri, antara generasi muda dan masa depan mereka. Dan untuk menjalankan peran itu, aku pun terus belajar—sebab guru yang bertumbuh adalah guru yang mampu menyiapkan peserta didik untuk dunia yang terus berubah.
#GuruSMK #VokasiKuat #TeachingFactory #LinkAndMatch #RefleksiGuru #PendidikanIndonesia #SMKBisaSMKHebat

Read More »
30 December | 0komentar

Tantangan Guru Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Ruang Kelas

Perkembangan zaman membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, terutama terkait karakteristik peserta didik. Di penghujung semester gasal ini, refleksi terhadap praktik pembelajaran menjadi penting, khususnya dalam menyikapi kehadiran Generasi Z dan Generasi Alpha yang kini mendominasi ruang kelas.
Bagi guru generasi sebelumnya, pengalaman mengajar sering kali menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai karakter murid. Jam terbang yang panjang membentuk intuisi pedagogik: mengenali murid pendiam, murid aktif, hingga murid dengan perilaku menantang. Namun, pola-pola yang selama ini dianggap mapan ternyata tidak selalu relevan ketika berhadapan dengan generasi baru peserta didik.
Perubahan Karakter Peserta Didik
Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam konteks sosial dan teknologi yang sangat berbeda. Mereka lahir dan berkembang di era digital, di mana informasi mudah diakses, komunikasi berlangsung cepat, dan batas ruang serta waktu semakin kabur. Kondisi ini membentuk cara berpikir, cara belajar, dan cara memaknai pendidikan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka tidak sekadar membawa perangkat digital ke dalam kelas, tetapi juga membawa perspektif baru terhadap proses belajar. Fleksibilitas sering kali menjadi ciri utama mereka. Namun, fleksibilitas ini bukan berarti tanpa arah. Justru, Generasi Z dan Alpha cenderung menghargai pembelajaran yang memiliki tujuan jelas, relevan dengan kehidupan, serta memberikan makna bagi perkembangan diri mereka.

Konteks Dunia TUNA dan Implikasinya bagi Pendidikan
Peserta didik saat ini tumbuh dalam dunia yang dapat digambarkan dengan istilah TUNA (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity). Dunia yang penuh ketidakpastian, perubahan cepat, kebaruan, dan ambiguitas ini memengaruhi orientasi belajar mereka. Fokus tidak lagi semata pada capaian nilai akademik, tetapi juga pada pertumbuhan personal, kesejahteraan mental, dan relevansi pembelajaran dengan realitas kehidupan.
Jika generasi sebelumnya lebih menekankan pada kepatuhan terhadap aturan atau panduan yang baku, Generasi Z cenderung menampilkan pola berpikir yang lebih eksploratif dan kreatif. Pola ini terkadang dipersepsikan sebagai ketidakteraturan, padahal sesungguhnya merupakan bentuk pencarian jati diri dan cara belajar yang sesuai dengan zamannya.

Peran Guru dalam Lanskap Pedagogik Baru
Dalam konteks ini, peran guru mengalami pergeseran. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai sumber utama pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator, pendamping, dan mitra belajar. Pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting dibandingkan instruksi satu arah.
Hal ini tidak berarti metode pembelajaran lama keliru. Setiap pendekatan memiliki relevansi sesuai dengan konteks zamannya. Namun, pendidikan bersifat dinamis. Kelas bukanlah ruang statis, melainkan ruang hidup yang terus berubah mengikuti perkembangan peserta didik dan lingkungan sosialnya.

Refleksi dan Arah Pengembangan Profesional Guru
Kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberlangsungan peran guru di era ini. Guru yang efektif adalah guru yang bersedia terus belajar, merefleksikan praktik pembelajarannya, dan menyesuaikan pendekatan pedagogik dengan karakter peserta didik.
Perubahan dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau teknologi, tetapi juga oleh kesiapan mental dan sikap profesional guru. Ketika guru membuka diri untuk memahami generasi baru, mengembangkan empati, dan menggeser cara pandang, maka proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan kontekstual.
Dengan demikian, tantangan menghadapi Generasi Z dan Alpha sejatinya bukan hambatan, melainkan peluang untuk menumbuhkan praktik pendidikan yang lebih relevan, humanis, dan berorientasi pada masa depan.

Read More »
29 December | 0komentar

Prompt dengan Struktur 5S (Set the scene, be Specific, Simplify your language, Structure the output, Share feedback)


Pernahkah Anda mencoba menggunakan ChatGPT atau Gemini untuk membuat soal ujian atau modul ajar, tapi hasilnya malah "ngawur" atau terlalu umum? Rasanya jadi lebih lama memperbaiki hasil AI daripada bikin sendiri dari nol, ya?
Nah, kuncinya bukan di AI-nya, tapi di Prompt (instruksi) yang kita berikan. Agar AI bekerja maksimal membantu tugas administrasi kita, yuk gunakan teknik 5S yang sangat sederhana ini:

1. Set the Scene (Tentukan Perannya) 
Bayangkan AI adalah asisten baru Anda. Anda harus memberi tahu dia harus menjadi siapa. Jangan langsung minta soal, tapi beri dia "topi" jabatan. Contoh: "Anda adalah seorang guru penggerak yang ahli dalam menyusun kurikulum Merdeka untuk jenjang SD." 

2. Be Specific (Jadilah Spesifik) 
Jangan memberi instruksi yang mengambang. Beri tahu AI secara detail apa yang Anda butuhkan: mata pelajaran apa, kelas berapa, dan topiknya apa. Contoh: "Buatkan 5 soal pilihan ganda tentang siklus air untuk kelas 5 SD, lengkap dengan kunci jawabannya." 

3. Simplify Your Language (Sederhanakan Bahasa) 
Gunakan kalimat perintah yang jelas dan tidak bertele-tele. Hindari kalimat yang bermakna ganda agar AI tidak bingung. Contoh: Daripada bilang "Saya ingin sesuatu yang menarik buat anak-anak," lebih baik bilang "Gunakan analogi memasak di dapur untuk menjelaskan perubahan wujud benda." 

4. Structure the Output (Atur Bentuk Hasilnya) 
Bapak/Ibu ingin hasilnya berbentuk apa? Tabel? Daftar poin? Atau naskah pidato? Beri tahu AI formatnya agar Anda tinggal copy-paste. Contoh: "Sajikan dalam bentuk tabel yang berisi kolom: Nomor, Soal, Pilihan A-D, dan Kunci Jawaban." 

5. Share Feedback (Beri Masukan) 
Kalau hasilnya kurang sreg, jangan menyerah! Ajak AI berdiskusi. Anda bisa minta dia memperbaiki bagian yang kurang pas. 
Contoh: "Bagus, tapi soal nomor 3 terlalu sulit untuk anak kelas 5. Tolong ganti bahasanya jadi lebih sederhana." 

Dengan teknik 5S, AI bukan lagi musuh atau barang rumit, tapi jadi "asisten pribadi" yang bikin waktu istirahat kita lebih panjang. Mari kita mulai berkreasi dengan teknologi tanpa kehilangan jati diri sebagai pendidik!

Read More »
22 December | 0komentar

Memaksimalkan Pengajaran dengan ChatGPT

Peserta Diklat kelas B

Baru saja menyelesaikan Diklat Fasilitator Pembelajaran Digital Menengah di BPSDMD Semarang (17-18 Desember 2025), saya merasa ada banyak ilmu 'daging' yang sayang jika hanya disimpan sendiri. Artikel kali ini akan mengulas poin-poin utama dari diklat tersebut, mulai dari cara menyusun konten digital yang menarik hingga tips menjadi fasilitator yang komunikatif bersama Mbak Astrid (saya panggil Mbak karena masih sangat muda) di ruang kelas virtual maupun hybrid. dimulai di hari pertama kegiatan membahas tentang :
  • Mengidentifikasi fitur-fitur aplikasi Chat Bot 
  • Menggunakan aplikasi Chat Bot
Pada pembahasan kali ini terkait dengan salah satu aplikasi chat bot dengan nama ChatGPT.
Di era digital ini, teknologi terus berkembang pesat, menghadirkan berbagai alat inovatif yang dapat membantu kita dalam proses belajar mengajar. Salah satunya adalah ChatGPT, sebuah aplikasi chatbot berbasis kecerdasan buatan yang tengah menjadi perbincangan hangat. ChatGPT bukanlah sekadar "robot" penjawab pertanyaan. Ia adalah asisten virtual cerdas yang mampu memahami, memproses, dan menghasilkan teks layaknya manusia. Bagi dunia pendidikan, khususnya para guru, 
ChatGPT menawarkan potensi luar biasa untuk meningkatkan efisiensi, kreativitas, dan kualitas pengajaran kita.
Banyak yang mengira ChatGPT akan menggantikan peran guru, padahal kenyataannya justru sebaliknya. ChatGPT adalah "asisten super" yang bisa membantu Bapak/Ibu menyiapkan materi berkualitas dalam waktu singkat, sehingga Bapak/Ibu memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa.


Apa itu ChatGPT? 
ChatGPT adalah model bahasa besar yang dikembangkan oleh OpenAI. Ia mampu menjawab pertanyaan, membuat teks kreatif (seperti puisi atau naskah drama), merangkum materi, hingga membantu menyusun rencana pembelajaran (RPP) hanya melalui percakapan teks sederhana.
Kelompok A


Alur Penggunaan ChatGPT untuk Guru Bagi Bapak/Ibu yang baru ingin mencoba, berikut adalah alur mudahnya: 
  1. Akses Situs Resmi: Kunjungi tautan resmi di https://chat.openai.com. Bapak/Ibu bisa masuk menggunakan akun Google (Gmail) agar lebih praktis. 
  2. Berikan Perintah (Prompt): Di kolom bagian bawah, ketikkan apa yang Bapak/Ibu butuhkan. Gunakan bahasa Indonesia yang jelas. 
  3. Evaluasi Jawaban: ChatGPT akan memberikan respon secara instan. Baca kembali hasilnya, lalu sesuaikan atau edit sesuai dengan kurikulum dan kondisi siswa di sekolah. 
  4. Tanya Lebih Lanjut: Jika jawaban kurang lengkap, Bapak/Ibu bisa membalasnya seperti sedang mengobrol, misalnya: "Bisa tolong buatkan versinya yang lebih sederhana untuk anak kelas 4 SD?"

Contoh Penerapan di Ruang Kelas 
  • Bapak/Ibu bisa menggunakan ChatGPT untuk berbagai kebutuhan praktis, seperti: 
  • Membuat Soal Ujian: "Buatkan 10 soal pilihan ganda tentang siklus air untuk kelas 5 SD beserta kunci jawabannya." 
  • Menyusun Ide Proyek: "Berikan ide proyek berkelompok yang seru untuk materi sejarah perjuangan kemerdekaan." 
  • Menyusun RPP: "Bantu saya membuat draf RPP satu lembar untuk materi Pancasila." 


Visualisasi: Guru dan Teknologi AI 
Penggunaan ChatGPT sangat cocok dilakukan saat Bapak/Ibu sedang merencanakan materi di meja guru atau saat memberikan tutorial singkat kepada siswa di depan kelas menggunakan layar proyektor.
Tips Penting untuk Guru Walaupun ChatGPT sangat pintar, ingatlah bahwa Bapak/Ibu adalah kendali utamanya. 
  • Verifikasi Data: ChatGPT terkadang bisa memberikan informasi yang kurang akurat. Selalu cek kembali fakta sejarah atau rumus yang diberikan. 
  • Sentuhan Manusia: ChatGPT memberikan data, tapi Bapak/Ibu yang memberikan empati dan pemahaman karakter kepada siswa.
Artikel berikutnya di hari kedua.

Read More »
20 December | 0komentar

Ketika Rapor Berbicara Kesiapan Profesional, Bukan Sekadar Nilai Akademik

Pendidikan modern menuntut tidak hanya penguasaan teori, tetapi juga kesiapan praktik. Untuk menjawab tantangan ini, Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS) dapat diubah dari sekadar ujian tulis menjadi sebuah proyek kolaborasi yang mengintegrasikan berbagai kompetensi yang relevan dengan dunia kerja nyata. 
SMKN 1 Bukateja menyelenggarakan kegiatan ini pada tanggal 1 s.d. 5 Desember 2025. Program ASAS berbasis proyek ini dirancang untuk mensimulasikan proses rekrutmen pekerjaan, memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang tahapan yang akan mereka hadapi setelah lulus. Akumulasi dari nilai proyek ini tidak hanya mengukur capaian akademik, tetapi juga kesiapan profesional siswa, menjadi bagian integral dari nilai akhir (raport). 

Komponen Utama Proyek Kolaborasi Proyek ini mengharuskan siswa untuk melalui serangkaian simulasi rekrutmen yang membutuhkan kerja sama tim, keterampilan teknis, dan kematangan personal.

1. Tes Fisik dan Screening Kesehatan 
Tujuan: Mensimulasikan persyaratan dasar fisik dan kesehatan yang sering diminta oleh perusahaan, terutama untuk bidang pekerjaan yang membutuhkan kondisi prima. Aktivitas: Melibatkan pengukuran kebugaran dasar (misalnya, sit-up, push-up, atau lari singkat) dan simulasi pengecekan kesehatan sederhana (tinggi, berat, tekanan darah). Penilaian: Fokus pada kedisiplinan, kepatuhan prosedur, dan usaha maksimal, bukan semata-mata pada hasil fisik yang sempurna. 


2. Psikotes 
Tujuan: Mengenalkan siswa pada alat ukur potensi dan kepribadian yang digunakan dalam rekrutmen. Aktivitas: Siswa mengikuti simulasi psikotes (misalnya, tes bakat, minat, atau kepribadian dasar). Penilaian: Penilaian lebih difokuskan pada pemahaman instruksi, manajemen waktu pengerjaan, dan analisis hasil (misalnya, merefleksikan hasil tes dalam konteks karir). 

3. Pembuatan Surat Lamaran Kerja dan CV 
Tujuan: Mengembangkan keterampilan komunikasi tertulis profesional dan kemampuan membuat dokumen marketing diri yang efektif. Aktivitas: Siswa menyusun Surat Lamaran Kerja yang ditujukan pada posisi fiktif (atau nyata) dan membuat Curriculum Vitae (CV) yang menyoroti prestasi, keterampilan, dan pengalaman mereka. Penilaian: Fokus pada struktur penulisan formal, ketepatan tata bahasa, relevansi isi dengan posisi yang dilamar, dan desain/format CV yang profesional. 

4. Wawancara Kerja 
Tujuan: Memberikan kesempatan praktik komunikasi lisan, personal branding, dan penanganan pertanyaan sulit. Aktivitas: Siswa menjalani simulasi Wawancara Kerja yang dilakukan oleh guru atau profesional yang diundang, bertindak sebagai pewawancara. Penilaian: Meliputi kepercayaan diri, kebersihan dan kerapian penampilan, kemampuan menjelaskan diri dan motivasi, serta keterampilan menjawab pertanyaan secara logis dan terstruktur. 
Manfaat Program bagi Siswa ASAS berbasis proyek kolaborasi ini menawarkan manfaat transformatif yang melampaui kurikulum biasa: 
  • Relevansi Praktis: Siswa secara langsung mengalami proses seleksi kerja, mengurangi kecanggungan dan meningkatkan kesiapan mental mereka saat memasuki dunia kerja atau melanjutkan studi. 
  • Pengembangan Keterampilan Soft Skill: Proyek ini secara inheren melatih kolaborasi, komunikasi, pemecahan masalah, dan manajemen waktu. 
  • Refleksi Diri dan Karir: Melalui psikotes dan pembuatan CV/lamaran, siswa didorong untuk mengenal potensi diri dan mengidentifikasi jalur karir yang sesuai. 
  • Penilaian Holistik: Nilai akhir mencerminkan spektrum kompetensi yang luas dari kemampuan fisik hingga keterampilan dokumentasi profesional menawarkan gambaran yang lebih utuh tentang kesiapan siswa. 

Dengan mengintegrasikan komponen-komponen ini, ASAS berbasis proyek kolaborasi tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi sebagai jembatan penting yang menghubungkan pendidikan formal dengan tuntutan profesional di masa depan.

Read More »
10 December | 0komentar

Memahami Ektra,Ko dan Intrakurikuler

IntraKurikuler :
Kegiatan yang dilakukan dalam jam pelajaran dan merupakan kegiatan inti dari kurikulum sekolah
Contoh:
Kegiatan di ruang kelas
wawasan kebangsaan
upacara
kegiatan keagamaan
KoKurikuler:
Kegiatan pendukung pembelajaran intrakurikuler bersifat penguatan dan pengayaan materi. Berupa project
Contoh:
Field Study(study Lapangan),
outbond,study tour
bakti sosial,karya tulis
proyek karya siswa
Ektrakurikuler: Kegiatan diluar jam pelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan minat,bakat dan potensi siswa Contoh: Pramuka paskibraka paduan suara PMR Pencinta Alam Teater KIR Tari renang Club Bahasa dll

Read More »
27 November | 0komentar

Kerangka FIRST dan Peran Baru Guru dalam Kegiatan Kokurikuler


Kokurikuler dalam pembelajaran mendalam adalah kegiatan penguatan dan pendalaman materi yang dilakukan di luar jam pelajaran intrakurikuler untuk mengembangkan karakter dan kompetensi siswa secara utuh. Kegiatan ini dirancang untuk memperkaya pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan seperti studi lapangan, proyek riset, atau kegiatan seni budaya, dan memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret serta bermakna di kehidupan nyata.
Kegiatan ko-kurikuler mampu mendukung pembudayaan deep learning melalui keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar yang kontekstual, reflektif, dan bermakna. Temuan ini selaras dengan pandangan Bahgat et al. (2017)yang menekankan pentingnya transformasi peran guru dalam menciptakan pengalaman belajar aktif dan mendalam melalui kerangka FIRST (Feedback, Interactivity, Reflection, Support, and Transfer). Dalam kegiatan ko-kurikuler, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi,tetapi sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Hal ini juga diperkuat oleh Jiang (2022),yang menekankan bahwa deep learning memerlukan keterlibatan kognitif yang tinggi dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan secara fleksibel dalam berbagai konteks. Kegiatan ko-kurikuler di SMKN 1 Bukateja memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan ini melalui pendekatan pembelajaran yang otentik dan kolaboratif.
Indikator mind, meaning, dan joy yang muncul dalam kegiatan ko-kurikuler juga memperkuat pembelajaran yang menyeluruh secara kognitif, afektif, dan sosial. Hal ini sejalan dengan konsep deep meaningful learning yang dijelaskan oleh Mystakidis (2021), yang menekankan pentingnya keterkaitan antara pengetahuan, emosi, dan pengalaman dalam menciptakan pemahaman yang mendalam. Selain itu, kegiatan yang memunculkan antusiasme dan kepuasan belajar, seperti seni tari dan eksperimen dalam klub sains, sesuai dengan prinsip joyful learning yang dikaitkan dengan teori psikologi positif (Biswas-Diener & Dean, 2007). Aspek mindfulness yang tampak dalam refleksi diri siswa selama kegiatan pramuka dan diskusi ilmiah juga mendukung temuan Shapiro et al. (2006) serta Brown et al. (2007), yang menunjukkan bahwa keterlibatan sadar dalam proses belajar berdampak positif terhadap pemahaman dan kesejahteraan siswa. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat temuan Nabila et al. (2025) bahwa pendekatan deep learning dalam pembelajaran sains di sekolah tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga menumbuhkan sikap aktif, kreatif, dan reflektif pada peserta didik.

Tantangan Kokurikuler

Tantangan Deskripsi Solusi
   
1. Keterbatasan sumber daya dan fasilitas    
   
Keterbatasan waktu, fasilitas, dan ruang yang memadai untuk   melaksanakan kegiatan kokurikuler secara optimal.    
   
Peningkatan pelatihan berkelanjutan untuk guru terkait integrasi deep   learning dalam kegiatan kokurikuler.    
   
2. Kurangnya pelatihan guru dalam deep learning    
   
Guru kurang siap dalam mengintegrasikan deep learning dalam setiap   kegiatan kokurikuler   
   
Memberikan pelatihan berkelanjutan yang lebih terstruktur tentang   pembudayaan deep learning dalam kegiatan kokurikuler.   
   
3. Kesulitan   siswa dalam mengaitkan kegiatan kokurikuler dengan pembelajaran mendalam   
   
Siswa sering kali lebih fokus pada pencapaian tujuan sesaat tanpa   mengaitkan dengan pembelajaran mendalam   
   
Pengelolaan kegiatan kokurikuler yang lebih terstruktur dan berbasis   refleksi, serta penguatan hubungan teori dengan pengalaman nyata.   
   
4. Resistensi   terhadap perubahan metode pembelajaran   
   
Guru dan orang tua masih merasa ragu terhadap efektivitas metode deep   learning dalam pendidikan dasar.   
   
Meningkatkan kesadaran dan pemahaman orang tua serta guru tentang   manfaat deep learning melalui komunikasi dan sosialisasi yang lebih intens.   


Perlunya peningkatan pada pelaksanaan kokurikuler ini perlu ada seperti peningkatan pelatihan guru dan pengelolaan kegiatan kokurikuler yang lebih terstruktur, juga mencerminkan hasil penelitian  Misalnya, Hendrianty et al. (2024) menyarankan pentingnya pengembangan pola pikir deep learning di kalangan guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. 
Demikian pula, Kemendikbud RI (2016) menggarisbawahi pentingnya integrasi kompetensi abad ke-21 dalam kurikulum, yang juga tercermin dalam usulan penelitian ini untuk memperkuat kesadaran di kalangan orang tua dan pihak sekolah mengenai pentingnya deep learning dalam pembelajaran. Dengan demikian, penelitian ini memperkuat literatur yang ada mengenai perlunya perubahan dalam pendekatan pembelajaran untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Read More »
14 November | 0komentar

Pembelajaran Kolaboratif Mapel Penjaskes dalam Project Perencanaan Rumah Type 36.




Pembelajaran kolaboratif dalam proyek perencanaan Rumah Type 36 memungkinkan Penjaskes keluar dari persepsi sempit sebagai mata pelajaran non-akademis. Ia bertransformasi menjadi disiplin ilmu yang esensial dalam menentukan kualitas hidup penghuni rumah. Dengan memadukan prinsip-prinsip kesehatan fisik, mental, dan lingkungan, Penjaskes membantu siswa menciptakan produk yang berkelanjutan, fungsional, dan humanis, memenuhi tantangan perumahan di era modern.

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) mendorong siswa untuk memecahkan masalah kompleks dunia nyata melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu. Dalam proyek perencanaan Rumah Type 36, Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (Penjaskes) memiliki peran integral yang melampaui sekadar aktivitas fisik.

Integrasi Penjaskes dan Perencanaan Rumah
Proyek perencanaan Rumah Type 36—yang fokus pada efisiensi ruang dan fungsionalitas—memberikan peluang unik bagi Penjaskes untuk berkontribusi pada aspek kesehatan dan kenyamanan hunian secara holistik. Peran Penjaskes mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang relevan dengan perencanaan rumah sehat.
Aspek Kesehatan Lingkungan dan Ruang: 
Penjaskes berfokus pada kesehatan dan kebugaran penghuni. Dalam proyek ini, siswa dapat menganalisis kebutuhan ruang untuk aktivitas fisik dasar, sirkulasi udara yang optimal, dan pencahayaan alami yang memadai dalam desain rumah minimalis.
Contoh Produk: Menentukan standar minimal luas ruang untuk stretching atau aktivitas ringan dalam kamar tidur/ruang keluarga.
Ergonomi dan Keamanan
Konsep ergonomi (ilmu tentang penyesuaian lingkungan kerja/hidup dengan manusia) sangat relevan. Penjaskes dapat memandu analisis penempatan perabotan dan desain tata letak yang aman untuk menghindari cedera.
Contoh Produk: Merencanakan tata letak dapur dan kamar mandi yang meminimalkan risiko tergelincir atau kecelakaan, termasuk pertimbangan untuk lansia atau anak kecil.
Kebutuhan Ruang untuk Kebugaran
Meskipun Rumah Type 36 terbatas, Penjaskes dapat mendorong pemikiran kreatif tentang zona kebugaran/relaksasi minimalis.
Contoh Produk: Mendesain area multifungsi (misalnya carport yang dapat diubah menjadi ruang senam sederhana, atau balkon kecil untuk yoga/berjemur).
Promosi Hidup Sehat: 
Kolaborasi ini dapat menghasilkan panduan atau rekomendasi tentang gaya hidup sehat yang didukung oleh desain rumah yang mereka buat.
Contoh Produk: Menyusun daftar material yang mendukung kualitas udara dalam ruangan (misalnya cat low-VOC) atau sistem ventilasi silang (cross-ventilation).

Keterampilan yang Dikembangkan Melalui Proyek

Melalui proyek ini, peran Penjaskes juga diperkuat dalam pengembangan karakter dan keterampilan lunak (soft skills) siswa, sejalan dengan tujuan Kurikulum Merdeka yang menekankan Profil Lulusan:
  • Kerja Sama Tim (Kolaborasi): Aktivitas proyek menuntut komunikasi dan pembagian tugas yang efektif, yang merupakan inti dari Penjaskes (misalnya dalam olahraga beregu). 
  • Berpikir Kritis: Siswa harus menganalisis data (misalnya standar minimum kesehatan ruang, kebutuhan luas perorangan) untuk membuat keputusan desain. 
  • Kreativitas dan Inovasi: Menciptakan solusi desain yang sehat dan fungsional di lahan terbatas memerlukan inovasi yang tinggi, mengintegrasikan keterbatasan fisik dengan kebutuhan kesehatan. 
  • Tanggung Jawab: Siswa belajar bertanggung jawab atas kontribusi mereka terhadap kualitas akhir proyek, memastikan produk perencanaan tidak hanya indah, tetapi juga layak huni dan menyehatkan.



Read More »
07 November | 0komentar

Sinergi Lintas Mapel di Proyek Rumah Minimalis Tipe 36 DPIB SMKN 1 Bukateja


Integrasi ruang guru di SMKN 1 Bukateja telah membuahkan hasil nyata dalam proyek pembelajaran. Ambil contoh Program Konsentrasi Keahlian Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) yang sedang mengerjakan proyek Perencanaan Rumah Minimalis Tipe 36
Proyek ini, yang merupakan implementasi dari Teaching Factory (TeFa) berbasis jasa desain, membutuhkan kontribusi tidak hanya dari guru kejuruan, tetapi juga dari guru mata pelajaran umum. Berikut adalah ilustrasi bagaimana guru dari berbagai bidang berkolaborasi secara terpadu dalam satu ruangan, memastikan proyek ini menghasilkan kompetensi yang holistik:

1. Guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris: Aspek Dokumentasi dan Komunikasi Bisnis
Di dunia profesional, sebuah desain tidak akan lengkap tanpa presentasi dan dokumen yang persuasif. 

Mata Pelajaran

Peran Kolaborasi dalam Proyek

Output Siswa

Bahasa Indonesia

Merancang rubrik penilaian untuk penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Proyek (LPJ) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Fokus pada struktur bahasa yang baku, kohesif, dan efektif.

Laporan Proyek yang profesional dan tata bahasa yang tepat dalam dokumen teknis.

Bahasa Inggris

Melatih siswa untuk melakukan presentasi desain (mock-up client meeting) menggunakan Bahasa Inggris yang efektif. Fokus pada istilah-istilah arsitektur dan negosiasi.

Presentasi desain yang meyakinkan di hadapan 'klien' (guru/industri) menggunakan Bahasa Inggris.


2. Guru Sejarah dan Seni Budaya: Filosofi Desain dan Konteks Lokal 
Rumah minimalis bukan hanya soal bentuk, tapi juga konteks. Kolaborasi ini memastikan desain siswa memiliki nilai historis dan budaya yang kuat. 

Mata Pelajaran

Peran Kolaborasi dalam Proyek

Output Siswa

Sejarah

Meminta siswa melakukan studi singkat mengenai sejarah arsitektur perumahan di Indonesia (misalnya, pengaruh kolonial, post-modern, atau desain tropis minimalis).

Bagian narasi desain yang mencantumkan justifikasi historis dan budaya dari pemilihan konsep desain.

Seni Budaya

Menilai aspek estetika, komposisi warna, dan penataan ruang (tata letak) pada gambar kerja dan rendering 3D, memastikan keselarasan visual yang artistik.

Desain yang tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika dan keselarasan visual yang tinggi.


3. Guru Olahraga dan Kesehatan (PJOK): Ergonomi dan Kesehatan Bangunan
Inilah kolaborasi yang sering terlewatkan namun krusial dalam desain bangunan. Peran guru PJOK sangat penting dalam memastikan aspek kenyamanan dan kesehatan penghuni.

Mata Pelajaran

Peran Kolaborasi dalam Proyek

Output Siswa

PJOK (Olahraga & Kesehatan)

Mengintervensi perencanaan dalam aspek Ergonomi dan Kesehatan Bangunan. Guru PJOK menilai apakah tata letak ruangan, pencahayaan alami, dan sirkulasi udara sudah mendukung kesehatan fisik dan mental penghuni.

Perencanaan yang dilengkapi narasi tentang Aspek Kenyamanan dan Kesehatan, termasuk perhitungan minimal ruang gerak di dapur/kamar mandi (Ergonomi) dan rasio ventilasi (Kesehatan Bangunan).




💡 Dampak Integrasi: Kompetensi Holistik
Penyatuan ruang guru per jurusan di SMKN 1 Bukateja mengubah dinamika kerja. Pertanyaan dari guru kejuruan tentang "Bagaimana siswa bisa menyusun laporan teknis yang baik?" kini dapat langsung dijawab dengan "Mari kita masukkan rubrik tata bahasa dan struktur laporan di sesi Bahasa Indonesia minggu ini."

  • Produk Relevan: Proyek Rumah Tipe 36 yang dihasilkan siswa menjadi lebih relevan dan bernilai jual, karena tidak hanya unggul secara teknis (gambar kerja), tetapi juga kuat secara presentasi, dokumentasi, dan memperhatikan aspek kesehatan/ergonomi.
  • Guru sebagai Tim: Guru tidak lagi merasa bekerja sendiri, melainkan sebagai sebuah tim konsentrasi keahlian yang berkolaborasi untuk membesarkan jurusan.

Melalui sinergi ini, SMKN 1 Bukateja membuktikan bahwa keberhasilan Teaching Factory tidak hanya ditentukan oleh mesin dan peralatan canggih, tetapi juga oleh kualitas kolaborasi dan perencanaan kurikulum yang terpadu di antara semua elemen pendidik.Apakah ada mata pelajaran umum lain yang ingin Anda eksplorasi perannya dalam proyek ini, misalnya Matematika atau PPKN?

Read More »
06 November | 0komentar